Satu hal yang akan Momo lakukan disaat ia tidak bisa menekan perasaan kesal maupun rasa gundahnya—menenggelamkan dirinya dengan berbagai kesibukan. Bukan menjadi rahasia lagi untuk orang lain perlu menyadari keganjilan pada diri gadis itu, karena tentu saja segalanya akan berubah menjadi aneh tatkala mereka melihat Hinamori Momo—seorang gadis periang—berubah menjadi gadis yang bahkan untuk tersenyum-pun sulit. Semua masalah itu bermuara pada satu hal, pernikahan Kakak sepupunya—Kurosaki Ichigo.

Gadis itu bukannya tidak menyetujuinya, ia justru sangat menginginkan ikatan sakral tersebut terlaksana lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Masalahnya adalah: ia harus pergi ke sana bersama dengan Hisagi Shuuhei. Sungguh Momo merasa dunia runtuh saat ia mendengar dari mulut laki-laki yang pernah ia cintai tersebut bahwa mereka berdua akan mendatangi hari pernikahan Ichigo bersama-sama. Ingin sekali rasanya ia mengutuk agar pemuda menyebalkan tersebut lenyap dari muka bumi tanpa bekas. Oh, sungguh, ia berjanji tidak akan pernah menikah dengan siapapun bila itu terjadi. Tunggu, itu terdengar berlebihan! Ah, tapi tak apalah, asalkan itu terjadi tentu semuanya bukan masalah lagi. Nah, justru karena itu masalahnya, bagaimana mungkin ia dapat menghilang tanpa bekas di bumi ini? Permintaan mustahil, bukan?

Gadis berambut coklat-tua tersebut terlalu larut dalam kesendiriannya—bahkan ia tidak menyadari bahwa pemuda yang sedari tadi dalam pikirannya tersebut sudah berada tepat dibelakangnya. Sentuhan lembut dipundaknya itulah yang membuatnya kembali ke dunia nyata—membuatnya menatap balik sang pelaku—namun sentuhan itupula yang sangat dibencinya.

"Kau selalu seperti ini," ucapan lirih pemuda itu membuat ucapan yang hendak Momo lontarkan batal seketika. "Kalau kau memang memiliki masalah, jangan bersikap seolah kau bisa menyelesaikannya sendiri. Berbagilah bersamaku, Momo. Aku di sini untuk hal itu, bukan?"

Gadis itu diam—entah karena tidak mau menjawab atau tidak bisa menjawab. Mata hazelnya yang menenangkan hanya memandang lekat-lekat mata pemuda berambut hitam dihadapannya. Mata itu masih sama seperti dulu, namun gadis itu tahu ada banyak perubahan dari setiap sinar yang dipancarkannya. Wajah yang dulu masih terlihat kekanakan sekarang sudah bertransformasi menjadi wajah pria dewasa, laki-laki yang matang. Pemuda itu berubah. Shuuhei Hisagi sudah berubah menjadi pria yang matang, baik secara fisik maupun mentalnya. Ya, tanpa perlu diberitahu, Momo sudah tahu bahwa banyak yang pemuda itu lakukan hingga mentalnya kini juga turut berubah menjadi lebih dewasa.

"Kenapa diam, Momo?"

Momo menghela nafasnya—sekaligus mengutuk dirinya yang barusaja sempat terjerat akan pesona Shuuhei. "Bukan urusanmu. Itu semua adalah hakku, mau menceritakannya atau tidak, semuanya bukan kepentinganmu."

"Aku tunanganmu," suaranya terdengar tegas kali ini.

Momo tersenyum meremehkan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Calon. Jangan lupa untuk menyelipkan kata tersebut, Shuuhei!"

Nada sinis yang terdengar dari suara Momo hendak membuat emosi pemuda tersebut meledak. Namun dengan sekuat tenaga, ia berusaha menahannya. Bukannya tidak tahu—justru Hisagi Shuuhei sangat tahu alasan atas tindakan Momo sekarang terhadapnya. Semua karena ulahnya, dan ia memang patut diperlakukan seperti ini. Shuuhei kembali menatap dalam mata hazel gadis tersebut, "satu jam lagi kau sudah harus selesai."

"Aku tidak ingin pergi kemanapun bersamamu," tolaknya mentah-mentah.

"Terserah kau saja. Itu bila kau memang tidak ingin melihat pernikahan Kakak sepupumu."

Matanya membelalak kaget. "Kau bercanda?"

"Aku serius," sahutnya. "Kau saja yang selalu begini. Menyendiri dengan duniamu sampai melupakan semuanya—bahkan hari pernikahan Kakakmu pun ikut kau lupakan. Periksalah kalender, maka kau akan tahu, apakah aku bercanda atau tidak. Cepat, satu jam lagi kita akan check-in!"

.

.

.

.

.

Bleach © Tite Kubo

.

.

Sequel Between You and Me

.

.

Only Your Love

.

.

.

.

.

Gadis itu berdiri di depan cermin besar yang menampilkan seluruh bagian dirinya. Ia terlihat cantik dan anggun dalam balutan gaun putih panjangnya. Ya, hari ini adalah hari pernikahannya dengan lelaki yang dicintainya, Ichigo Kurosaki. Benar sekali, tepat dua minggu yang lalu—saat dimana ia mengetahui kenyataannya bahwa ia adalah anak dari Byakuya Kuchiki— Ichigo melamarnya dengan tiba-tiba. Dan tentu saja kalian mengetahui apa jawabannya, bukan?

Tepat! Rukia menerimanya. Gadis itu tanpa ragu memeluk Ichigo—membuat pemuda itu hampir saja terjengkang akibat ulahnya. Tapi ia tidak memarahinya, justru pemuda itu turut memeluk tubuh mungil Rukia sambil mengelus rambut hitam sebahunya.

Dan di sinilah dirinya berada, menunggu dipanggil untuk menjadi sang bintang utama pesta. Gadis itu masih saja menatap bayangannya di depan cermin. Tampak sesekali ia merapikan juntaian putih panjang yang sengaja disematkan di kepalanya—yang menutupi sebagian besar rambut belakangnya serta menyisakan pinggiran rambutnya dan poni nakalnya.

Suara pintu yang sedikit berderit membuatnya mengalihkan pandangan untuk melihat siapa yang barusaja membuka pintu kamarnya. Ia menatap sosok laki-laki berambut hitam panjang berdiri di depan pintu kamarnya. "A—ayah," ucap Rukia dengan nada sedikit terbata. Mungkin perlu diakui, kalau dia masih belum terbiasa memanggil Byakuya dengan sebutan ayah.

Gadis itu menatap cermin sebentar sebelum berjalan menghampiri ayahnya untuk melangkah menuju tempat pesta diselenggarakan—di lantai bawah rumahnya, rumah milik Ichigo tepatnya. Mereka memang sengaja tidak menyewa gedung untuk pesta pernikahan mereka, karena mereka lebih memilih menyelenggarakannya di tempat yang menjadi kenangan besar bagi mereka berdua.

Rukia berjalan menuruni tangga sembari mengapitkan lengannya dengan lengan milik Byakuya. Ia sedikit menarik bagian depan gaunnya—agar memudahkannya untuk melangkah. Matanya berkelana mencari sosok pendampingnya, Ichigo Kurosaki, dan ia menemukan pemuda itu sedang menatapnya penuh decakan kekaguman.

Mereka sudah sampai ditangga terbawah sebelum mereka kembali melanjutkan langkah mereka untuk berjalan mendekati sang pengantin pria. Sementara Ichigo mulai membiarkan kakinya melangkah mendekati Rukia. Kemudian, Byakuya melepaskan tangan Rukia—yang pada mulanya menggelayut di lengannya, lalu menyerahkan putri semata-wayangnya pada lelaki berambut jingga yang berdiri berhadapan dengannya. Setelah itu, mereka melangkahkan kaki mereka menuju sebuah altar—dimana altar tersebut akan menjadi tempat bersejarah bagi mereka untuk saling berikrar hidup bersama selamanya dalam keadaan dan kondisi apapun.

Dan setelah ikrar diucapkan di depan semua orang, teriakan membahanapun meluncur dari bibir orang-orang yang saling berhadapan dengan mereka semua—teriakan turut berbahagia. Setelah itu mereka melanjutkan acara yang berlangsung dengan berpesta sesuai dengan apa yang telah disediakan dan direncanakan.

"Ck," decak Ichigo.

Gadis bermata violet itu menatap Ichigo melalui iris matanya. "Kenapa?"

"Aku tidak bisa membiarkan degupan jantungku berhenti berdebar semenjak tadi," ucapnya sambil menatap gadis itu.

"Mungkin karena kamu gugup dan—baru pertama kali!"

Ichigo menggelengkan kepalanya cepat. "Itu karena hari ini kamu terlihat sangat cantik, Rukia!"

Ucapan Ichigo dengan sukses membuat wajah gadis mungil itu merona. "Jangan merayuku, Ichigo!"

"Sudah terbiasa memanggilku Ichigo rupanya," sahut Ichigo sambil tersenyum senang.

"Itu karena kamu yang selalu memaksaku dan membuatku bosan mendengar celotehanmu yang memarahiku karena aku masih sering salah memanggilmu dengan sebutan kakak," jawabnya sambil menatap tamu-tamu yang mulai melangkahkan kaki mereka menuju tempat dirinya dan Ichigo duduk. Gadis itu menatap Ichigo—memberi tanda pada pemuda tersebut untuk bangun dari duduknya.

"Ayah harap semoga kalian berdua bahagia," ucap Isshin sembari menatap Ichigo dan Rukia bergantian. Pandangannya kemudian berhenti di Rukia. Lekat-lekat ia pandangi gadis yang pernah ia asuh selama sembilan-belas tahun lamanya. Ia tersenyum, "Pada akhirnya kau benar-benar menjadi putriku. Aku bahagia sekali rasanya, dan kurasa begitupula dengan yang Masaki rasakan kalau ia masih ada di sini."

Rukia tersenyum. Ia maju selangkah untuk menggapai tubuh tegap Isshin. "Aku juga bahagia karena aku masih menjadi putrimu dan putri ibu sampai saat ini!"

Laki-laki itu merengkuh tubuh mungil Rukia. "Berbahagialah selalu!" ucapnya sedikit berbisik di telinga Rukia.

Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka berdua melepaskan pelukan mereka. Kini Byakuya-lah yang berdiri di hadapan mereka—menggantikan posisi Isshin yang barusaja berlalu meninggalkan mereka.

"Kuharap kalian berdua hidup bahagia selamanya," ucapnya datar. "Dan untukmu, Kurosaki Ichigo! Aku tidak akan melepaskanmu kalau kau sampai membuat Rukia terluka," ancamnya sambil menatap Ichigo dengan mata hitam abu-abunya.

Ichigo hanya tersenyum kecil—begitupula dengan Rukia. Tanpa banyak kata, Byakuya berlalu meninggalkan mereka berdua. Gadis itu tersenyum sambil mengikuti langkah Byakuya yang kembali ditelan keramaian pesta.

"Hei," sapa seorang wanita berambut coklat-keemasan panjang diikuti lelaki berambut perak-keunguan di belakangnya.

"Rangiku," sahut Rukia.

"Astaga, tidak kusangka Tuhan benar-benar membiarkanmu menikah dengan Rukia, Ichigo!" ucap Gin sambil tersenyum menyeringai. "Aku kaget sekali waktu mendengar kabar bahwa kalian berdua ternyata bukan saudara kandung. Tidak kusangka kamu anak dari Byakuya Kuchiki, Rukia!"

Rukia tersenyum. "Aku juga tidak menyangka kalau aku benar-benar bisa menikah dengan Ichigo."

"Benar, aku juga tidak menyangka. Apalagi Byakuya mengumumkan di depan publik kalau kau adalah anaknya, terlebih lagi ia juga mengumumkan acara pernikahan kalian di waktu yang sama," sahut Rangiku.

"Bukankah tindakan yang dilakukannya benar?" Ichigo menimpali.

"Yah, kalau kupikir apa yang dilakukannya memang tepat!"

"Kalau begitu, selamat ya untuk kalian berdua!" ucap Rangiku.

"Terimakasih, Rangiku!" jawab Ichigo.

"Kepadaku tidak?" tanya Gin.

"Kau tidak mengucapkan selamat, bodoh! Jadi, tidak ada ucapan terimakasih juga untukmu," ucap Rukia.

"Baiklah, selamat atas pernikahan kalian berdua. Semoga berbahagia selalu!"

"Terimakasih untukmu, Gin!"

Kemudian, mereka berdua pergi meninggalkan Ichigo dan Rukia—membiarkan tamu-tamu lain mengucapkan selamat untuk mereka berdua.

"Kuharap kalian berdua selalu bahagia," ucap seorang gadis bermata hazel.

"Ah, Momo!" pekik Rukia. Tanpa dikomando, gadis itu segera menghambur ke arah Momo—berusaha memeluknya demi melepas rindu.

"Kenapa baru datang sekarang?" tanya Rukia. Gadis itu menatap sepupunya—ralat, sepupu Ichigo, dengan wajah penasaran. Momo memang kembali ke Paris sehari sebelum pengumuman pernikahan Ichigo dan Rukia secara mendadak.

Momo tersenyum masam mendengar pertanyaan yang Rukia lontarkan. "Jangan salahkan waktu kedatanganku. Aku bisa saja datang dari dua atau bahkan tiga hari yang lalu, andai saja dia tidak memaksaku untuk pergi bersamanya."

"Dia?" kening gadis berambut hitam tersebut terlihat berkerut.

Barusaja Momo hendak menjawab siapa dia yang ia maksud, orang tersebut terlebih dahulu muncul dan berdiri dibelakangnya. Senyumnya yang lebar semakin menghiasi wajahnya yang tampan. "Selamat atas pernikahan kalian berdua," ucapnya dengan suara yang terdengar turut berbahagia.

Rukia mengalihkan pandangannya dan mendapati seorang laki-laki berambut hitam sedang tersenyum lebar ke arahnya dan Ichigo. Detik itupula ia menyadari siapa yang Momo maksud, dia—Shuuhei Hisagi, orang yang waktu itu Ichigo ceritakan padanya—adalah orang yang dulu meninggalkan Momo. Rukia sadar—sangat sadar malah—bahwa ia tak berhak membenci orang yang tidak pernah dikenalnya. Namun kali ini lain, orang inilah yang pernah membuat hancur hidup seorang Hinamori Momo, sepupu yang sangat Ichigo sayangi.

"Terima-kasih, Shuuhei," seru Ichigo sambil memberikan pelukan pada pemuda tersebut.

Shuuhei melepas pelukan Ichigo sebelum ia menolehkan kepalanya ke arah Momo, "tidak memberi pelukan pada Kakakmu?"

"Tidak perlu mengaturku," sahut Momo dengan nada dingin.

Shuuhei menghela nafasnya berat. "Bersikaplah lebih baik, Momo."

"Jen'aime pas[1]," ucapan itu mengakhiri perdebatan mereka berdua karena dengan langkah sigap, Momo terlebih dahulu meninggalkan Shuuhei bersama dengan Rukia beserta Kakaknya. Membiarkan mereka bertiga menatap dirinya dengan pandangan penasaran.

~x~x~x~x~x~

Momo membiarkan kakinya melangkah menjauhi gemerlap pesta pernikahan Kakaknya. Langit malam yang berhiaskan bintang mewarnai keindahan malam saat ini. Cantik adalah kata pertama yang terucap dari bibirnya saat dilihatnya taburan bintang benar-benar penuh menghiasi malam yang kelam. Gadis itu memilih untuk duduk disebuah kursi taman yang memang tersedia di sana. Suara hingar-bingar pesta di dalam terdengar samar dari tempatnya. Momo mendekap dirinya sendiri—bahkan dekapan itu semakin dipereratnya saat angin mulai menghembuskan tariannya.

Sebuah jas hitam dengan cepat menutupi tubuhnya yang memang hanya memakai gaun bertali spaghetti. Hal itu tentu saja membuatnya terkejut dan menundukkan kepalanya yang semula menengadah ke langit menjadi ke arah depan—membiarkan matanya menangkap sosok baik yang sudah merelakan jasnya untuk dikenakan olehnya.

"Toshiro," satu kata itu terucap tanpa bisa ditahan olehnya—bahkan mata hazelnya juga terlihat terkejut menatap pemuda yang berdiri dihadapannya.

Pemuda berambut putih itu tidak berbicara satu patah katapun. Ia lebih berinisiatif untuk duduk tepat di sebelah gadis berambut coklat-tua ini. Kepalanya turut ia tengadahkan ke arah angkasa malam yang menampilkan sejuta pesona bintang di sana. "Kapan kau kembali?"

Momo yang semula hanya diam saja mulai beralih kembali memandang Toshiro, "barusaja aku sampai."

Hening lagi untuk sesaat sebelum Toshiro kembali bertanya padanya, "bersama tunanganmu?"

Momo kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya—namun perasaan kesal tak luput juga keluar dari dirinya. "Dia bukan tunanganku, kami belum mengadakan pertukaran cincin—setidaknya belum sampai hari ini. Lagipula, siapa yang memberitahumu?"

Toshiro menurunkan kepalanya dan berbalik menatap Momo. "Siapapun dia, tidak penting, bukan?" pertanyaan Toshiro hanya bisa ditanggapi diam oleh Momo. Gadis itu mengakui bahwa yang dikatakan pemuda itu memang benar adanya. "Kau datang bersamanya?"

Gadis itu yakin, ucapan Toshiro lebih terdengar seperti pernyataan ketimbang pertanyaan—namun ia tetap menjawabnya meskipun enggan dengan menganggukkan kepalanya. "Kau benar, aku datang bersamanya."

"Dia terlihat baik," Toshiro menimbali ucapannya.

"Oh ya?" suara Momo mulai terdengar sarkatis kali ini. "Lalu apa pengaruhnya untukku kalau ia terlihat baik?"

Toshiro mengangkat kedua bahunya dengan bersamaan. "Kalian terlihat—ehm, cocok."

Momo mendengus kesal, "menurutku tidak."

Toshiro kembali membiarkan suasana hening kembali menyelimuti mereka. Matanya beserta mata Momo sama-sama memandang ke arah langit—membiarkan keindahan itu tergambar jelas di kedua manik mata mereka. Keindahan itu terlalu menjerat—bahkan Momo tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun saat Toshiro merubah posisi menyendernya. Gadis itu baru benar-benar melepaskan pandangannya saat ia mendengar Toshiro berkata, "kau cantik, Hinamori Momo."

Mata hazelnya bercahaya, sementara bibirnya membentuk senyuman manis yang membingkai wajahnya—membuat kecantikan pada dirinya semakin terlihat jelas. Gadis itu menatap Toshiro yang tertidur pulas sesaat setelah ia mengucapkan kalimat tersebut. Momo mengembalikan jas Toshiro dengan menyelimutinya pada tubuh pemuda tersebut sebelum ia mendekatkan wajahnya ke telinga pemuda tersebut dan berbisik lirih di sana, "te amo, Toshiro![2]"

Satu kata yang mewakili perasaannya terucap sudah. Ia memilih mengucapkan dalam bahasa Spanyol karena ia yakin Toshiro tidak mengetahui artinya. Pikiran naïf itu jelas tidak murni benar karena sesaat setelah gadis itu hendak melangkahkan kakinya dan meninggalkan Toshiro, sebuah tangan menahan gerakannya dan menariknya untuk masuk dalam dekapan pemuda berambut seputih salju tersebut.

"Yotambiénte quiero,Momo.[3]"

~x~x~x~x~x~

~x~x~To Be Continued~x~x~

~x~x~x~x~x~

Keterangan:

[1] Jen'aime pas; Aku tidak peduli

[2] Te amo, Toshiro; Aku cinta kamu, Toshiro!

[3] Yotambiénte quiero,Momo; Aku juga cinta kamu, Momo

Akhirnya saya selesai juga mengupdate fict ini. Sepertinya janji saya bisa saya penuhi dalam menargetkan bahwa chapter ini akan tamat paling tidak di chapter kelima. Mudah-mudahan ga ada hambatan ya, kawan…

Nah, untuk kali ini saya benar-benar sedang malas untuk berceloteh kepanjangan. Thanks a lot for you; edogawa Luffy, Violet-Yukko, and Chacha d'PeachyxSuika Lovers.

So, Mind to Review, guys?