Chapter 3 [Final]
Summary : "Inilah akhir dari takdirku.. Dan inilah yang terbaik.." / "bolehkah sekali saja kau bilang bahwa kau mencintaiku?" / "Selamat tinggal, semua.." Kaisoo. Mind to RnR? Thank you~
Warning : Masih pemula. Jd mohon maaf atas segala keanehan yang terkandung(?) dalam ff ini. Juga typo yang bertebaran sepertinya. Dan jangan lupakan OOC. Karena saya gak tau sifat asli mereka~
Disclaimer : saya cuma minjem nama mereka kok :)
.
JAAHH~ ini dia chap 3 nya~ Happy reading, all :)
.
.
Kai melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan dan melihat Luhan dan Kris tengah terduduk di sebuah kursi tak jauh dengannya. Menundukkan kepala mereka dalam diam. Kembali membuat firasat yang tak mengenakkan di benaknya.
"Hai, hyungdeul." Sapanya. Membuat kedua orang itu menoleh.
"Oh, hai, Kai." Balas Luhan yang diikuti senyum sapaan dari Kris.
"Kemana saja kalian? Hyungdeul dan Sehun jarang sekali menjengukku." Ujar Kai sambil memanyunkan kedua bibrinya. Membuat kedua hyungnya tersenyum tipis.
"Yah.. Biasalah, Kai. Masalah waktu comeback dan fans yang susah di atur." Ujar Luhan sambil terseyum maklum. Kris hanya diam mendengarkan. Tak lama keheningan menyita.
"Jadi.. Apa ang akan biarakan hari ini?" tanya Kai, memecah keheningan. Luhan menatap Kris, lalu tersenyum sendu yang diikuti anggukan oleh Kris. Sementara Kai menatap mereka bingung.
"… Ini...soal Kyungsoo." Ujar Kris pelan. Membuat Kai mengerutkan keningnya. Ia tau ini bukan pertanda yang baik.
"Ada apa dengan Kyungsoo hyung?"
"… Kyungsoo…"
Mau tak mau ia harus siap.
"Kembali koma.."
Brukk
"KAI!"
"KIM JONGIN!"
—Kaisoo—
Tao memasuki kamar inap Kyungsoo dengan pelan. Diikuti Baekhyun dan Sehun yang mengekor di belakangnya. Kemudian mereka berdiri di kedua sisi ranjang. Menatap Kyungsoo—yang terihat tenang— miris. Betapa sulit kehidupan Kyungsoo selama ini. Dari awal, bahkan sebelum mereka debut, begitu banyak kisah yang sangat tak menyenangkan, yang bahkan baru saja mereka ketahui. Teman macam apa mereka. Mereka terasa seperti orang jahat jadinya.
Sehun meraih tangan Kyungsoo. Lalu mengusapnya pelan. "Bagaimana kabarmu hari ini, hyung? Kapan kau akan bangun dan kembali memasak untuk kami, hyung? Aku lapar. Hehehe.." ucap Sehun sambil tersenyum kecil. Matanya kini menatap wajah kyungsoo yang terlihat begitu damai.
"Lay hyung kadang suka lupa memasak sarapan untuk kami. Lagipula.." suara Sehun sedikit tercekat, "aku rindu masakanmu, hyung."
"Benar bukan, hyungdeul?" tanyanya kini pada Baekhyun dan Tao yang tengah menahan tangis dalam diam. Mereka hanya menatap wajah Kyungsoo. Tak kuat untuk bersuara. Bahkan hanya mengangguk kecil saja tak bisa. Terlalu kaku.
Sehun tersenyum lembut. "Makanya, hyung. Bangunlah.. Kami semua menunggumu di sini.."
—Kaisoo—
Pintu putih itu terbuka, dan keluarlah seseorang berbaju putih sambil membenarkan seragamnya yang sedikit berantakan. Secara otomatis membuat Kris dan Luhan berdiri tegak.
"Bagaimana keadaanya, dok?" tanya Kris tanpa basa-basi. Dokter itu menatap Kris dan Luhan bergantian.
"Pasien hanya kurang beristirahat. Mungkin saja tidurnya tak teratur sehingga pasien langsung drop ketika mendapati sesuatu hal yang buruk." Ucap sang dokter. Membuat mereka langsung menghembuskan nafas lega. Pasalnya mereka terlalu panik sehingga dengan segan segera membawa Kai ke rumah sakit. Bahkan Kris berani membentak para polisi itu. Dan Luhan menyaksikan bagaimana Kris bersumpah serapah pada polisi itu dalam bahasa China.
"Mungkin anda bisa menjenguknya sekarang. Pasien di pindahkan ke ruang 1401." Ujar dokter itu lagi sebelum akhirnya meninggalkan kedua pemuda China itu. Mereka membungkuk salam sebelum akhirnya dokter itu pergi.
"Kajja."
—Kaisoo—
Suasana kamar inap Kyungsoo malam itu terasa sangat sepi. Seolah tak ada kehidupan di sana. Tak lama, pintu kamar tersebut terbuka secara perlahan. Menampakkan sebuah bayangan seseorang yang melangkah masuk—setelah ia menutup pintu bertuliskan 1204 itu dalam diam—. Seolah tak ingin membuat sekecil suara pun terdengar dan menganggu sang penghuni kamar tersebut.
Bayangan itu berjalan mendekat ke arah ranjang Kyungsoo. Mengamati wajah imut nan manis itu sambil tersenyum lembut. Kemudian ia mengulurkan tangannya, menyuntuk permukaan pipi Kyungsoo dan mengusapnya lembut. Kemudian tangannya beralih mengenggam tangan Kyungsoo. Menggengganmnya erat. Mengelusnya tak kalah lembut.
"Kau terlihat lebih kurus.." gumam orang itu.
"….."
"Apa kabarmu? Bukalah matamu. Aku disini.."
"….."
"Bukalah.. Aku disini.."
"….."
"Jongin...di sini."
—Kaisoo—
"KIM JONGIN MENGHILANG!" sebuah teriakkan terdengar nyaring di suatu lorong rumah sakit. Diikuti dengan teriakan lain yang tak kalah keras.
"CARI DIA SEKARANG!"
Brak!
"Sialan kau, Kim Jongin." Geram Kris. Kemudian menatap member lain dengan mata berkilat.
"Cari Kim Jongin hingga kepelosok. Luhan, kau ikut denganku." Perintah Kris. Semua mengangguk pelan. Sedikit takut melihat Kris sekarang. Namun, Baekhyun nampak sedikit keberatan.
"Kris hyung. Bolehkan aku hanya menjaga Kyungsoo di rumah sakit?" tanyanya lemas. Membuat Kris menghela nafas berat. Menetralkan emosinya yang meluap. Lalu mengangguk.
"Ayo!"
—Kaisoo—
Baekhyun melangkahkan kakinya di sepanjang koridor dengan kosong. Seolah-olah ia seorang idiot yang berjalan dengan otak zombie. Terlihat gila. Langkahnya terhenti. Lalu dengan malas ia menghadap pada ruang 1204 ini. Ia menghela nafas berat. Lalu membukanya dengan pelan. Ia kembali menghela nafas berat ketika melihat sesosok orang yang tengah tertidur di sisi ranjang Kyungsoo. Menumpukan kepalanya diantara kedua lengannya.
"Aish.. Bocah ini.."
.
"Begitu.. Hah.. Baiklah. Terima kasih, Baek." Kris kmbali menghela nafas berat yang kesekian kalinya. Di belakangnya, Luhan menatapnya ingin tau.
"Ada apa, Kris?" tanya namja berjulukan rusa itu.
"Sepertinya kita membutuhkan bantuan dari ayahmu, Lu."
—Kaisoo—
"Yak! Kim Jongin! Ireona!" Baekhyun menggncang-guncangkan badan Kai dengan brutal. Membuat sang empu terganggu dan dengan berat hati membuka matanya.
"Eunghh.. Hoaaamm…" Kai melenguh pelan. Mengusap wajahnya kasar. Lalu menoleh PADA Baehun sambil menyipit.
"Siapa sih.." ia mengusek matanya malas. Sementara Baekyun menatapnya sangar.
"Malaikat pencabut nyawa. Gak lah." Ucapnya dengan ketus.
"… Oh. Kau. Hai, Byun." Sapanya. Masih setengah sadar. Hamper tertidur lagi.
Bletak!
"Cuci mukamu dulu, bocah. Lalu kembali dan beri aku penjelasa. SEKARANG!" perintahnya telak. Kembali memberikan penekanan di akhir katanya. Sementara Kai hanya mengangguk asal, lalu melangkah menuju kamar mandi seperti orang mabuk.
Tak lama, Kai kembali lalu mendudukan badannya pada sebuah sofa yang tak jauh dari ranjang. Menatap Baekhyun yang kini berdiri di hadapannya sambil berdecak pinggang.
"Jadi.. Apa yang kau lakukan di sini, Tuan Kim?" tanya Baekhyun sambil menyipitkan matanya. Kai hanya menatap Baekhyun malas.
"Menjenguk." Jawabnya singkat. Baekhyun mengepalkan tangannya. Sebuah urat tiba-tiba muncul di dahinya. Namun ia kembali menghela nafas barat. Mencoba menetralkan emosinya pada bocah di depannya.
"Apa kau tak sadar Tuan Kim, masa tahananmu belum berakhir. Dan kenapa kau ada di sini?"
"Toh, hanya seminggu lagi. Bukan masalah." Ujar Kai cuek. Lalu bangkit dan kembali duduk di sebelah Kyungsoo. Kembali mengamati Kyungsoo.
"Hah.. Sudahlah.. Lupakan saja."
—Kaisoo—
Kris dan Luhan membungkuk hampir bersamaan. Kemudian Kris menjabat seseorang yang lebih tua di depannya sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, tuan Xi." Ujarnya sopan. Kemudian Luhan memeluk orang itu erat. Namun sekilas.
"Terima kasih, ayah."
Tuan Xi tertawa pelan, "kalau begitu baguslah. Kalian 'kan teman Luhan, anggap saja seperti paman sendiri, oke?"
"Tentu, tuan Xi."
—Kaisoo—
—Kyungsoo pov
Aku berjalan si sepanjang jalan putih yang bahkan tak terlihat apapun di sekitarnya. Semuanya hanya putih. Aku bahkan tak tau sudah seberapa jauh aku melangkah dari tempat asalku. Mungkin saja bukan jika aku hanya berputar-putar di tempatku saja.
Yah.. Biarlah..
Aku kembali berjalan secara sembarang. Tak lama aku melihat sebuah portal yang lumayan besar terbuka. Memperlihatkan sebuah padang rerumputan yang sangat indah dari tempatku berdiri. Aku hanya bisa terkagum sambil menyapu seluruh isi taman dengan kedua mataku. Berbagai macam tanaman hias tersaji di sini. Mempercantik taman kecil ini. Kemudian mataku menemukan sebuah kursi taman lumayan panjang di depan sebuah pohon besar yang tak jauh dari tempatku berada. Ku baringkan tubuhku di sana. Menghilangkan sedikit rasa lelah yang mengganggu.
Menyenangkan sekali. Sudah lama tak seperti ini..
Tapi, ini dimana ya?
Ah, nikmati sajalah..
—Kyungsoo pov
.
Kyungsoo membaringkan badannya, lalu menutup kedua matanya. Menikmati semilir angin yang menemani tidur siangnya —atau apalah itu. Melambaikan seluruh pikirannya. Membuat rambutnya menari pelan.
Tak lama, ia merasakan kehadiran orang lain. Kyungsoo membuka matanya perlahan. Sedikit menyipit—entah kenapa terlalu banyak cahaya di belakang orang itu.
"Sudah bangun, Princess?"
Deg..
Kyungsoo membuka matanya lebar-lebar. Sial. Ia baru sadar jika orang di depannya adalah Kim Jongin. Kyungsoo secara reflek langsung terduduk begitu manyadari wajah Kai begitu dekat dengannya.
"K-Kai..?" Kyungsoo menatap Kai gugup. Sedikit takut untuk alasan tertentu. Sementara Kai hanya tersenyum tipis. Lalu mendudukkan dirinya di sebelah Kyungsoo. Kyungsoo menatapnya aneh. Kai tertawa pelan.
"Wae? Aku 'kan memang Kai. Kau tak lupa 'kan, Soo hyung?"
Oh.. Sial.. Ini benar-benar pertama kalinya ia mendengar Kai memanggilnya dengan sebutan begitu manis. Wajah Kyungsoo memerah padam. Dan—apa tadi? Princess? Rasanya ingin menyelam di laut sedalam yang ia bisa.
Kai bergeser mendekati Kyungsoo. Melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Kyungsoo, lalu menautkan jarinya dengan Kyungsoo dengan tangannya yang lain. Membuat seluruh badan Kyungsoo kaku. Dan kembali membuat wajah Kyungsoo memanas.
"K-Kai.." Kyungsoo menoleh pada Kai dengan ragu. Sementara Kai menatap wajahnya dengan bingung.
"Ya?"
Sial. Bahkan wajahnya terlihat tenang sekali.
"Eum.. Bisakah kau.. Bergeser sedikit? Aneh rasanya.." ujar Kyungsoo sedikit ragu. Membuatnya terlihat polos. Kai tertawa. Melepaskan kontak fisik mereka, lalu mencubit pipi gembul itu pelan.
"Hahahaa~ So cute~"
—Kaisoo—
Sehun memasuki kamar inap Kyungsoo. Menghampiri Kai yang sedang menatap keluar jendela dalam diam. Di tepuknya pudak Kai, lalu ikut berdiri di sebelah Kai. Ikut memandangi pemandangan sekitar rumah sakit.
"Jadi.. Ada perkembangan?" tanya Sehun. Tetap menatap keluar jendela.
Di sebelahnya, Kai menggeleng pelan, "Tidak. Tak ada.."
Sehun tertegun, "Jujur, aku penasaran kenapa Dio hyung kembali koma.."
Kai tersenyum miris. "Yah.. Aku pun begitu.."
—Kaisoo—
"Hyung.. Sini." Kai menepuk kedua pahanya. Member isyarat pada Kyungsoo untuk duduk di pangkuannya. Kyungsoo yang sebenarnya ingin duduk di sebelahnya saja—setidaknya tidak terlalu intim menurutnya—, akhirnya duduk di pangkuan Kai juga. Kai dengan seenaknya menarik pinggangnya. Membuatnya berakhir menjadi seperti ini.
Kyungsoo hanya bisa tertunduk ketika Kai merengkuhnya. Memeluknya dari belakang. Tak jauh beda seperti apa yang ia lakukan sebelumnya. Yah, mungkin yang membedakan hanya mereka kini terduduk di bawah sebuah pohon.
"... Kai?"
"Biarkan seperti ini.. Sebentar saja.." Kai menyembunyikan wajahnya di antara rambut Kyungsoo sambil memejamkan matanya. Menikmati seluruh rasa nyaman yang terasa luar biasamenurutnya. Dan Kyungsoo hanya bisa menghela nafas dan menerima.
Suasana kembali hening.
"Kai.." panggil Kyungsoo kembali. Kai membuka kedua matanya lalu merenggangkan dekapannya.
"Hm?"
Kyungsoo bangkit dari duduknya. Menatap nanar keseluruh sisi taman. Di ikuti Kai yang berdiri di belakangnya.
"Maukah kau berjanji sesuatu?"
"Tentang apa?"
"Walaupun aku membuat kesalahan yang fatal di masa lalumu.." Kyungsoo terdiam sejenak. "Maukah kau tetap bersamaku?"
Kai terkekeh pelan. Kemudian membalikkan badan Kyungsoo, mengecup dahi Kyungsoo agak lama. Lalu tersenyum lembut. "Sadarlah, hyung. Jika memang aku tak ingin karena masa lalu, kenapa sekarang aku melakukan semua ini padamu?" ujar Kai. "Lagipula, aku juga salah karena telah menyakitimu selama ini. Jadi, bolehkah sekarang aku yang meminta satu permintaan juga?"
"A-apa?"
"Kembalilah kepadaku. Kita bangun masa depan kita dari awal. Aku berjanji akan selalu bersamamu. Menjagamu. Menjadi orang yang sangat berarti di hidupmu... Boleh?"
Kedua mata Kyungsoo membulat sempurna. Ia mengerti sekarang.
"Terima kasih, Kai." Kyungsoo memeluk Kai erat. Kai menepuk puncak kepala Kyungsoo pelan. Senyum bahagia terlukis indah pada kedua wajah itu.
"Hyung.." panggil Kai. Kyungsoo menoleh dengan berbinar. "Ya?"
"Bolehkah sekali saja kau bilang bahwa kau mencintaiku?" Kyungsoo hanya tertawa kecil. Lalu berlari meninggalkan Kai.
"Selamat tinggal, Kai.." Kyungsoo menoleh sambil melambaikan tangannya.
"Selamat tinggal, semua.." ujarnya lagi. Member salam pada seluruh makhluk hidup di sana. Terdegar sedikit absurd memang. "Aku akan kembali lagi setelah aku mati." Kai hanya tersenyum tipis sambil melihat Kyungsoo yang semakin menjauh.
"SARANGHAE, KIM JONGIN!"
Senyum Kai semakin melebar. Tangannya tergerak berdecak pinggang. Sedikit tak menyangka Kyungsoo akan berteriak seperti itu.
"Nado, hyung."
.
.
Kai terbangun dari mimpinya. Entah mengapa ia seperti mendengar seperti suara orang berteriak dan terlebih lagi suara Kyungsoo.
Dan juga...
Saranghae? Aku mencintaimu?
Benarkah?
Tiba-tiba sesuatu yang ia genggam bergerak. Kai mengalihkan pandangannya pada kedua tangannya.
Tak mungkin..
Ia kembali mengalihkan pandangannya pada wajah Kyungsoo. Dan seketika kedua matanya membulat.
"H-hyung..?"
"Eungh..."
"Kyungsoo hyung?"
"... Uh... Kai..?"
"H-hyung..."
"Aku... Kembali... Kai..."
—Kaisoo—
"Hyung.." Kai mengeratkan pelukannya pada namja di depannya. Merengkuh Kyungsoo lebih erat. Menyalurkan sejuta kerinduan pada namja manis di depannya ini. Kai pun tak lupa mengucapkan beribu terima kasih pada tuhan karena tak mengambil Kyungsoo-nya. Belahan jiwanya. Dialah yang ia cintai selama ini dan bodohnya ia baru menyadarinya sekarang.
Ia pasti akan menjaga Kyungsoo lebih baik lagi.
"Ya?" Kyungsoo berujar polos. Membuat Kai tidak bisa untuk tidak tersenyum sambil tetap menghirup aroma citrus yang keluar dari tubuh Kyungsoo sebanyak-banyaknya.
Tapi.. Tetap saja ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Terlalu sulit untuk dilupakannya. Mungkin begitu juga dengan Kyungsoo.
"Jujur.. Terkadang aku berfikir, apa aku pantas bersamamu. Menjagamu. Menjadi bagian dari hidupmu." Ujar Kai. Sedikit tercekat. "Pada kenyataannya aku sudah terlalu banyak menyakitimu selama ini."
Yah.. Semua adalah kesalahannya.
Kai tak bisa memungkiri jika apa yang telah ia lakukan sudah melewati batas. Dan ia kembali merutuki dirinya saat itu juga yang telah begitu egois. Ia merasa bodoh.
Namun, Kyungsoo malah melepas pelukannya. Kemudian membalikkan badannya. Menatap Kai sambil tersenyum lembut.
"Kadang aku berfikir, apakah aku pantas mendapatkan dirimu yang sempurna. Mendapatkan seluruh kasih sayangmu. Menjadi orang yang paling berharga dalam hidupmu." Ujar Kyungsoo. Tetap menatap kedua mata Kai intens. "Tapi, saat aku koma, Tuhan memberiku pilihan. Jalan menuju dua arah takdirku yang sama sekali berbeda. Saat itu aku sadar. Jika aku memilih mundur, aku akan sendiri. Tapi.."
Kyungsoo meletakkan kedua tangannya di masing-masing sisi wajah Kai. Mengecup pipi Kai sekilas. Lalu tersenyum lembut. "Jika aku lebih memilih bertahan, aku akan tetap bersama kalian. Bersamamu."
"H-hyung.."
"Daann.. saat itu juga aku tau. Aku tak boleh menyesalinya."
Kai hanya bisa menatap Kyungsoo kaget. Saat itu ia merasa seperti orang paling idiot dalam dunia yang egois ini.
"Jadi, tak usah khawatir. Semua rasa sakit yang kita telah rasakan akan terbalas dengan kebahagiaan yang tak terduga jika kita melaluinya dengan sabar."
Raut wajah Kai kini berubah. Senyuman lembut terlintas di kedua belah bibirnya. Membuatnya terlihat semakin tampan. Sialnya, Kyungsoo tersipu saat melihatnya.
"Begitu.." raut bahagia tercetak jelas di wajah tampannya. Membuat Kyungsoo ikut bahagia. "Baiklah.. Jika memang tuhan telah mentakdirkan kita, aku akan menjalaninya dengan lebih baik lagi. Aku akan menjadi seorang Kim Jongin yang akan membimbing sang nyonya Kim, Do Kyungsoo, menuju masa depan. " Kai berujar pelan. Membuat Kyungsoo sedikit tersipu, lalu tertawa kecil.
Kai meletakkan tangan kanannya di sisi wajah Kyungsoo, sementara tangan lain menggenggam erat tangan Kyungsoo. Menariknya perlahan. Mendekatkan kedua wajah mereka secara perlahan.
"Saranghae, hyung.."
"Nado saranghae, Jongin-ah."
—Kaisoo—
"Kya~~" Tao dan Baekhyun memekik bersamaan sambil tetap memantau kegiatan Kai dan Kyungsoo dari jauh. Memekik layaknya fangirl yang bertemu dengan biasnya.
"Ge, mereka berciuman ya? Wah~" ujar Tao, terlihat sangat excited. Baekhyun di sampingnya ikut memekik tak kalah excited.
"Benar, Tao. Ah lucunya~ " Baekhyun dan Tao serempak memegangi kedua pipi mereka sambil berimajinasi. Mulai bergurau entah apa yang mereka pikirkan.
"Yah~ kira-kira kapan ya aku bertemu pasanganku?" gumam Baekhyun yang di amini oleh Tao. Sementara ember lain menatap mereka maklum.
Chen melirik jam yang melingkar manis di pergelangan lengannya. Kemudian meraih tangan Xiumin yang berdiri di sebelahnya.
"Ayo pulang, hyung." Chen menggenggam tangan Xiumin lembut. Menatap orang di sebelahnya sambil tersenyum manis. Lalu menariknya pergi. Sementara Xiumin hanya bisa mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya yang tengah merona hebat.
"Hyung~ ayo pergi~ Aku ingin bubble tea-ku~" Sehun mengapit lengan Luhan manja. Menariknya keluar. Menjauhi tempat tersebut. Luhan hanya bisa tersenyum maklum sambil menyamakan langkahnya dengan Sehun.
"Oke Oke. Baiklah.."
"Yeah~" Sehun segera menarik Luhan menjauh. Membuat yang lain menggelengkan kepalanya masing-masing. Dasar maknae..
Tapi baru beberapa meter, Sehun berhentidan membalikkan badannya. Begitu pula dengan Luhan.
"Appa~ Eomma~ Kami izin jalan-jalan, oke? Annyeong~" pamitnya pada Suho dan Lay. Sementara yang bersangkutan hanya bisa membatu di tempatnya. Kini, terlihat Chanyeol dan Kris mendekati Baekhyun dan Tao yang masih saja ber-day dreaming ria.
"Ekhem.. Apa..Seharusnya kita pulang juga?" tanya Suho, memecah keheningan diantara mereka. Lay tersentak lalu ikut berdeham.
"...Boleh.."
Suho tersenyum miring, "Kajja.. Chagi.." Suho meraih tangan Lay lalu menariknya menjauh. Membuat namja berdimple itu merona tak kalah hebar dari Xiumin.
"Yah~ kira-kira siapa ya ge?" gumam Tao. Masih saja. Kris mendekatinya lalu menarik Tao sambil bergumam, "Aku. Nah, sekarang kita pulang, ne, panda-ku.." Kris menarik tangan Tao menjauh.
"Yak! Ge! Aku ingin bermain bersama Baek ge~"
"Tidak bisa, Panda~" dan akhirnya mereka menghilang. Meninggalkan dua orang yang sedang dalam suasana awkward.
"Emm... Ingin pulang bersamaku?"tawar Chnyel sambil mengulurkan tangannya ragu. Sedikit takut namja manis di depannya menolak. Tapi, pada kenyatannya namja manis itu melah memeluk lengannya sambile terenyum jenaka. Kemudian menggenggam tangan besarnya erat.
"Tentu."
Saat itu juga Chanyeol merasa paling bahagia di dunia ini.
"Kajja.. Yeolli-ya~"
.
.
END
.
Akhirnya selesai~ ini dia final chapternya~ semoga tetep nungguin, ne :)
Kemarin saya udah niat mau apdet minggu lalu, eh ternyata ada kendala dateng, membuat saya harus mengulang engetik chap ini dengan waktu yang terbatas pula. Udah tugas.. ujian.. mabok deh saya mah #MAMAMTAH! Hahahahaa~ XD
Jujur, saya ngerasa ini aneh banget. Jadi maaf ya kalo kerasa absurd gimana gitu-_- saya juga gak bisa nulis panjang-panjang. Takutnya ngebosenin -_-a
For All, Thanks banget buat yang mau ngikutin ini ff. Mau yang cuma baca, ato numpang lewat doang. Aku ada karena kalian~ #aseeekkk tapi maaf gak bisa di sebutin. Saya gak bisa buka ffn di hp-_- Yah.. pokoknya makasih banget lah intinya.
Salam~ RichTeethYeol.
Akhir kata;
Mind to review? Jeongmal kamsahamnida, yeorobundeul~
