Disclaimer : All cast aren't mine.

Length : Chaptered Drabble

Cast : Wu Yifan/Kris, GS!Wu Joonmyon/Suho, GS!Do Kyungsoo

Pair : Krisho

Warning : OOC, Fluff gagal, Yaoi, genderswitch.

Mengucapkan Selamat Membaca~

.

Mr. Wu!

Chapter 3 – Cemburu, eh, Nyonya Wu?

.

.

Jari telunjuk Joonmyeon masih berputar di atas pinggiran cangkir susu coklatnya. Matanya terus menatap ke luar jendela yang dihiasi butiran bening air langit, mencoba menemukan sosok Yifan dalam kerumunan orang yang saling berebut mencari peneduh dari tetesan hujan diluar.

Bosan.

Joonmyeon menggerakkan telunjuknya, mengukir kata diatas kaca yang berembun.

Kenapa lama sekali?

Yifan kau menyebalkan.

"Joon?"

Saat hendak menulis baris keempatnya Joonmyeon dikagetkan oleh kehadiran Yifan yang sudah –tidak lagi— ia harapkan. Ia tersenyum hambar, tidak semanis dan setulus biasanya.

"Sudah lama?" Yifan mengambil duduk dihadapannya. Kemudian membuka buku menu, memilih, lalu menyampaikannya pada pelayan yang berdiri disamping meja mereka, sudah siap dengan note ditangannya.

Sedikit menggeleng, Joonmyeon kembali menatap air langit yang terus menimpa bumi diluar sana.

Bahkan tanpa melihat ataupun mendengar, Joonmyeon akan tahu apa yang akan dipesan Yifan. Bahkan ketika Yifan terlihat berfikir lama, Joonmyeon akan tahu bagaimana akhirnya.

Kopi hitam yang mengepul asapnya, dan sepotong cheese cake dengan madu diatasnya. Joonmyeon selalu suka dengan selera Yifan. Walaupun terlihat sederhana, tetapi bahkan memiliki keseimbangan didalamnya. Yifan seolah menyamankan rasa pahit kopi dengan manisnya cake dilidahnya. Membiarkan indra perasanya itu mengecap rasa yang kaya. Tidak selalu manis, tidak melulu pahit.

Kini Joonmyeon bertanya pada dirinya sendiri. Yifan yang berpakaian asal sesuai keinginannya dan terlihat dingin, sedang dirinya yang selalu ingin terlihat rapi dan menyenangkan. Ia berfikir lagi, apakah ia dipilih oleh pria itu hanya sebagai penyeimbang, pelengkap, ataukah sebuah kebutuhan?

Ia tidak mau hanya dianggap sebagai penetral kehidupan –hanya sebagai tambahan agar terlihat seimbang. Ia ingin dianggap ada untuknya sendiri. Ia ingin dilihat sebagai dirinya sendiri.

"Joon?"

"Hm?" Tersenyum lemah, Joonmyeon menatap iris hitam itu—dan bahkan rasanya ia ingin menangis.

"Kau kenapa? Ada masalah di kantor?"

Joonmyeon tahu suaminya khawatir padanya. Hanya, ia takut akan diberi kenyamanan sesaat. Ia tidak akan terlena, sehingga ketika Yifan memang tidak benar-benar menginginkannya, ia akan pergi dengan sedikit luka—tidak akan terlalu dalam, jadi akan mudah untuk menghilangkan bekasnya.

Joonmyeon menggeleng lagi. Tatapannya beralih pada cairan coklat dicangkirnya, mencari-cari sesuatu yang bisa menenangkannya—sesuatu selain mata Yifan. "Hanya sedang berfikir." Jemarinya menangkup cangkir dihadapannya, mencari sisa kehangatan dari coklat panas yang bahkan sekarang sudah dingin—selain pada genggaman tangan besar pria itu. "Tentang kita, tentang apa arti diriku bagimu."

Alis tebal pria itu terangkat. Tanda Yifan sedang tidak mengerti apa yang wanitanya katakan. Ah, bahkan gesture tubuh pria itu sudah ia hafal diluar kepala.

Wanita itu tersenyum kecil, namun pahit. "Apakah aku seperti rasa pahit yang menyeimbangkan manis, ataukah garam yang melengkapi masakan, atau makanan itu sendiri yang dibutuhkan manusia untuk terus bertahan hidup."

Bibir Yifan merengut, dahinya berkerut, sedang memikirkan apa jawaban yang tepat—pasalnya Joonmyeon terlihat sedang tidak dalam mood yang bagus. "Menurutku tidak ketiganya."

"Lalu?"

"Kaulah hidupku. Aku terlahir karena kau sudah ditakdirkan untuk menemaniku." Ia mengangkat dagu Joonmyeon, meminta bola mata itu menatap miliknya. "Aku hidup karena akan ada jantung yang berdetak untukku. Seperti itulah kau, Joon. Kau adalah jantungku, kau juga nafasku. Aku tidak akan ada kalau kau tidak dicipta."

Untuk sesaat Joonmyeon hanya menatap suaminya tanpa berkedip. Tapi langsung menolehkan wajahnya ke jendela lagi—wajah yang sudah dipenuhi semburat merah.

Yifan meraih jemari Joonmyeon yang menangkup cangkir susunya, kemudian membawanya ke dalam genggaman. Memberi rasa percaya, memberi rasa nyaman. "Jangan pernah meragukan cintaku lagi, Wu Joonmyeon."

Hanya anggukan kecil dari Joonmyeon, namun sudah bisa membuat Yifan percaya bahwa wanitanya ini tak akan meninggalkannya. Ia tahu wanitanya ini akan selalu mencintainya, begitu juga dirinya.

.

"Jadi, apa kau marah karena aku terlambat?"

Sebuah gelengan lagi. "Aku cuma sedikit bertanya-tanya kenapa kau terlambat, padahal kau bisa kesini tidak sampai sepuluh menit dengan berjalan kaki dari kantormu. Dan.." Joonmyeon terdiam, menimang apakah sebaiknya ia katakan atau tidak. "Kenapa kau berjalan bersama seorang perempuan.."

Yifan tersenyum. Jadi, Joonmyeon cemburu, eh? "Kau ingat saat aku ceritakan tentang Do Kyungsoo?"

"Gadis Korea itu?"

Sambil menyesap kopinya Yifan mengangguk. "Gadis itu pelupa sekali. Ia bahkan meninggalkan payungnya di taksi pagi tadi, tanpa tahu nomor polisi ataupun perusahaan mana. Aku hanya memberikannya tumpangan sampai kesini karena, yah, kau tahu, istriku selalu menyiapkan kotak makan siang dan sebuah payung sebelum aku berangkat kerja Setidaknya agar ia bisa pulang tanpa harus kedinginan karena pakaiannya basah."

Kepala itu mengangguk-angguk cepat, seolah meyakinkan Yifan bahwa ia percaya. Ia sendiri tidak pernah tahu kenapa istrinya ini begitu manis. Seolah memang sudah disiapkan untuk dirinya yang pahit.

"Jadi, hanya karena cemburu kau sampai meragukan kesungguhanku, Princess?"

Bibir wanita itu mengerucut lucu, "Aku tidak cemburu, Yi!"

Hanya malah semakin membuat Yifan terkekeh puas.

.

"Aku mau pesan strawberry cheese cake." Si pelayan kemudian beranjak dengan sopan.

Yifan mengacak rambut hitam istrinya, terlalu gemas pada wanita didepannya ini. Yifan sendiri heran bagaimana moodnya bisa berubah secepat itu. "Lapar setelah berfikir keras, hm?"

Joonmyeon merengut lagi. "Tidak, hanya sedang ingin memakan sesuatu. Kalau boleh aku malah mau mencincangmu menjadi adonan sup." Lihatlah, bahkan dia sudah mulai marah-marah lagi sekarang.

Telunjuk dan ibu jarinya sudah menjepit pipi milik istrinya. "Bukankah kau makan banyak sekali tadi pagi, Sayang? Lihatlah perutmu bahkan sudah buncit sekarang." Giliran tangannya yang lain mengelus pelan perut Joonmyeon—tersenyum bangga ketika merasakan sedikit pergerakan didalamnya.

"Bodoh! Mana ada ibu hamil yang perutnya tidak buncit?"

"Lihatlah, baby, ibumu pemarah sekali, ya?"

Joonmyeon semakin menekuk wajahnya. Sedangkan tawa Yifan malah terdengar penuh kemenangan, seolah bayi yang dikandung Joonmyeon mau saja sependapat dengannya.

Sang suami kembali meraih jemari Joonmyeon yang menganggur di atas meja, kemudian membawanya menuju bibirnya, memberi kecupan singkat.

"Kalau aku kurang, atau aku salah, katakan saja, Joon. Atau ketika ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu, aku siap mendengarkan."

Joonmyeon mengangguk. Matanya memejam, menikmati bagaimana bibir lembut suaminya menyentuh keningnya. Rasanya hangat didalam dada, walaupun kulitnya mengigil merasakan dinginnya hujan diluar.

Yifan kemudian berdiri, mengulurkan tangannya. "Ayo pulang."

Dengan sebuah senyuman hangat, Joonmyeon menyambutnya.

.

Joonmyeon tahu Yifan akan selalu melindunginya.

Yifan tahu Joonmyeon akan selamanya mencintainya.

Bahkan hanya dengan sebuah genggaman tangan, mereka tahu mereka saling memiliki satu sama lain.

.

"Yi, aku mau es krim."

Alis Yifan menanut. "Es krim? Saat hujan begini?"

"Ini keinginan bayinya, Yi. Ayo cepat!"

Yifan pasrah saja ketika genggaman Joonmyeon menariknya.

.

Yifan segera menutup payungnya begitu sudah sampai di depan halte bus yang penuh sesak orang berteduh. Sedang gadis didepannya sibuk membenarkan rambutnya yang sedikit terkena tetes hujan.

Ia kemudian membungkuk sopan. "Terima kasih, Sajangnim. Sampaikan salamku untuk Joonmyeon noona. Saya juga mohon maaf karena belum bisa menyapanya secara langsung. Semoga nanti persalinannya lancar." Katanya dalam bahasa Korea yang fasih.

Si pria mengangguk. "Tak apa, Kyung. Tapi kau harus belajar lagi supaya tidak menyulitkan dirimu sendiri." Yifan sendiri tampak lancar melafalkan kata dalam bahasa ibu istrinya itu.

Gadis itu terlihat malu-malu karena sedikit tak enak pada bossnya ini. Begitu Kyungsoo ikut masuk bersama orang-orang lain ke dalam bis, Yifan langsung berlari, tak mau terlambat menemui istrinya.

Kyungsoo memang baru satu minggu bekerja di perusahaannya. Ia juga belum terlalu mahir berucap mandarin. Makannya dia sedikit sulit berkomunikasi dengan teman kantornya.

Yifan sendiri sebenarnya sudah tak sabar bertemu istrinya, apalagi setelah ditahan hampir dua jam di rapat dewan direksi tadi. Ia tentu tak tega bila harus membiarkan Joonmyeon menunggu lebih lama hanya untuk mengantarkan gadis ini ke halte. Tapi ia juga tidak bisa diam saja melihat seorang gadis yang tidak bisa meminta tolong pada orang lain, berdiri menunggu hujan reda di depan kantor, kan? Lagipula haltenya juga tidak jauh dari kedai kopi langganannya.

-END-

Eh, entah kenapa jadinya begini. gara-gara hujan kali, ya. :|

Bagi yang sudah membaca dan berkenan memberikan review saya ucapkan terima kasih banyak. *bow*

Maaf kalo tidak sesuai dengan keinginan readers, ya, maafkan otak saya. Semoga feelnya dapet :3

Sekali lagi terima kasih sudah baca dan review *bow*