Oke, yuri minta maaf karena keterlambatan meng-update. minggu ini yuri mulai kuliah lagi, dan jadwal kuliahku bisa dibilang jadi sedikit, tapi jadi padet juga. makanya gada waktu buat nulis kelanjutan nih fict.
Thanks to:
magenta-alleth, OhhunnyEKA, Markonah, uzumaki julianti- san, anychan, Chooteisha Yori, nona fergie, Aurora Borealix, endrafauzan46, heryanilinda, Sansami no Yue, Lily Purple Lily, Namikaze Uzumaki Hendrix Ngawi, dan Guest (siapapun engkau)
CLASS DREAM chapter 3
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Story: purely mine 'AcaAzuka Yuri'
pair: Sakura & Naruto
Warning: AU, very OOC, typos/misstypos, Dark Ino, more friendship, little romance, school life fict, kata yang membingungkan, ide pasaran, konflik yang terlalu ringan, dan kecerobohan lainnya
Summary: "Dan kau membuatnya mati!"/"Sebenarnya aku sangat iri padamu,"/BRUKK "Naruto!"/"Oh! Jangan-jangan karena kau berada dekat dengan Sakura!"/"Aku akan selalu menemanimu, di sini. Maka ke sinilah jika kau kesepian. Saat itu, aku akan berusaha untuk ada di sini juga."/"Terima kasih, Naruto."
Enjoy reading~
"Sakura," suara itu begitu kecil di pendengaran Sakura, bahkan terdengar seperti desahan. Semua emosi saat memanggil nama itu terpancar jelas. Begitu… kecewa.
"Kenapa?" suara itu kembali terdengar olehnya namun lebih lirih dari yang sebelumnya. "Kenapa kau keluar? Tak mau melihat dia yang sudah takkan tertawa bersama kita lagi di dalam sana?" Sakura hanya diam saja, saat ini ia berada di tengah jalan gang kecil yang sepi, rumah Sai yang terlihat ramai akan orang-orang namun sebenarnya hanya kesunyian yang ada tak jauh dari ujung jalanan ini. Sakura memang tidak ingin melihat orang itu. Ia masih tak percaya dengan apa yang di hadapinya saat ini, kenyataan bahwa sahabat terbaiknya kini telah tiada. Ia tak sanggup melihatnya untuk terakhir kalinya. Ia tak ingin bayangan terakhir yang akan selalu dikenang olehnya adalah wajah dingin nan pucat tak bernyawa itu. Tidak. Sakura tak mau. Akhirnya ia hanya bergeleng pelan.
Melihat Sakura hanya bergeleng, rasa kekesalan yang telah cukup lama gadis Yamanaka itu tahan kini mulai menjalar kembali. "Kenapa kau lakukan ini padanya ..tidak, kenapa kau lakukan ini padaku?" Gadis itu menunduk. Poni blonde panjangnya menutupi wajahnya yang tak terbaca.
"Padahal, aku percaya padamu. Tapi kenapa?" Ia perlahan maju mendekati Sakura.
Sakura tetap berdiri mematung. Ia paham apa yang dimaksudkan Ino. Tapi ini sungguh hanya kesalahpahaman. Sepertinya satu-satunya cara adalah Sakura harus menjelaskannya pada Ino. Ia menatap sahabatnya nanar. "I-Ino… A-aku-"
"KENAPA, HAH?!"
Sakura sontak mundur beberapa langkah. Ia sungguh terkejut dengan sahabatnya yang tiba-tiba sangat marah. Urutan kalimat penjelasan yang tadi ingin dikatakannya pun hilang begitu saja dari pikirannya. Kalau sudah begini, ia tak tahu bagaimana menghentikan kesalahpahaman ini. Tiba-tiba pikirannya sulit untuk berpikir. Sahabatnya itu, bagaimana Sakura menghentikan kemarahannya yang seakan telah meledak itu?
"A-aku.. sama sekali tidak bermaksud begitu, Ino. Aku-"
"Kau membunuhnya!"
"Ino…" Sakura mulai menangis. Terisak begitu keras. Membuatnya sulit meskipun hanya untuk bernafas. Kenapa Ino berkata seperti itu padanya? "Kenapa kau bilang begitu? Tidak, Aku.."
"Kau jelas membunuhnya! Kau membuatnya menuruti apa yang kau katakan, menuruti apa yang kau inginkan, menurutimu ke mana saja kau akan pergi. Dan kau membuatnya mati!" teriak Ino marah.
Sakura tak mau kalah, "Aku tidak melakukan itu! Itu kecelakaan!" teriak Sakura, berusaha menyamakan tinggi suara dengan Ino.
"Ya, tapi ia kecelakaaan karena ikut kau ke perbatasan Suna. Itulah yang terjadi!"
"Aku pergi bersamanya ke perbatasan Suna bukan karena aku mau!"
Ino tertawa. "Sakura, aku tahu dirimu! Kau jelas begitu ingin pergi ke sana!"
Sakura terpancing rasa kesal juga, "Kalau begitu, kau tak tahu tentang aku! Aku selalu ingin ke sana, namun alasan yang membuatku belum pernah pergi sebelumnya, kau tak pernah tahu itu!"
"Oh, lalu kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Aku jadi ragu apa kau menganggapku sebagai sahabatmu atau bukan-"
PLAKK
Sakura kaget ketika tanpa sadar tangan kanannya dengan sendiri bergerak menampar pipi kiri Ino. Ia agak menyesali perbuatannya barusan. Namun rasanya ia juga tak berniat meminta maaf pada Ino karena Sakura rasa, Ino pantas mendapatkannya dengan apa yang ia katakan barusan.
"Ino, sadarlah! Saat ini kau bukanlah dirimu yang kukenal selama ini." pinta Sakura lirih.
Ino masih tertunduk ke kanan. Pipi kirinya agak memerah. Tamparan Sakura barusan cukup keras juga rupanya. Tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit pada lubang di hatinya.
"Seharusnya, aku yang mengatakan itu. Kenapa kau tak sadar?" gumam Ino pelan. Membuat Sakura bingung.
"Apa maksudmu? Aku-"
"Kau tahu Sakura? Inilah diriku yang sesungguhnya," sela Ino.
Sakura menggeleng. "Bukan. Ino yang ku kenal takan pernah mengatakan hal semacam itu-"
"Sebenarnya aku sangat iri padamu," sela Ino lagi. Membuat Sakura akhirnya diam mendengarkan.
"Kau selalu diperhatikan mereka berdua, dan aku hanya terus berada di sampingmu melihat itu. Aku sudah menceritakan padamu rahasiaku, tapi kau tak pernah menganggap itu serius dan terus mmbuatku iri dan cemburu padamu. Aku hanya bisa bersabar. Namun setelah kau menamparku, aku akhirnya menyadari bahwa sebenarnya kau tak pernah manganggapku sahabat spesialmu."
Sakura melebarkan matanya. Ia tak pernah tidak menganggap Ino sebagai sahabatnya, ia juga tidak pernah bermaksud untuk membuat Ino cemburu. Justru sebaliknya. Kini ia benar-benar menyesal ia telah menampar Ino.
PLAKKK
Ino membalas tamparan Sakura dengan lebih keras.
"Kukatakan padamu, ini terakhir kalinya bagimu untuk menyentuhku, dan bagiku untuk menyentuhmu. Melihatmu membuatku muak. Kau terlalu menjijikkan. Enyahlah kau, Sakura!" Setelah menampar Sakura, Ino mendorong Sakura ke belakang dan menabrak tiang listrik lalu jatuh terduduk.
"INO!" Suara teriakan baritone yang cukup keras merambat sampai telinga Ino dan Sakura. Sasuke berlari menghampiri ke tempat mereka dari arah rumah Sai.
Ino kembali menatap Sakura. "Tak ada lagi kata sahabat di antara kita, dan tak ada kata teman lagi bagimu. Lihat saja." Setelah mengatakan itu, Ino berlari berlainan arah dengan datangnya Sasuke dan meninggalkan Sakura sebelum Sasuke sampai di tempat mereka.
Sasuke menghampiri Sakura dan berjongkok di depannya. Nafasnya agak memburu.
"Kau tidak apa-apa, Sakura?" Tanya Sasuke khawatir. Setelah melihat Sakura mengangguk, Sasuke kembali memfokuskan pandangan pada Ino yang sudah jauh berlari membelakangi mereka. "Sial, ia pergi. Aku akan mengejarnya."
Sakura buru-buru menghentikan Sasuke. "Jangan. Biarkan dia sendiri. Aku yakin ia begitu karena ia sedang bersedih saat ini. Aku mengerti perasaannya. Jadi, jangan kejar dia."
Sakura yakin, besok pasti Ino akan kembali seperti semula. Dan besok di sekolah, Sakura harus mengatakan penjelasannya pada Ino tentang alasan Ia dan Sai yang pergi ke perbatasan Suna. Agar semua kesalahpahaman ini selesai secepatnya. Dan mereka kembali bersahabat seperti dulu lagi.
.
.
.
.
"Sakura!" bisik seseorang terdengar di telinga Sakura.
Sakura membuka matanya perlahan, Ia lihat ada siluet gadis yang sepertinya Ia kenal. Matanya mengerjap beberapa kali hingga Ia benar-benar mengenali siapa yang memanggilnya.
"Hinata?"
"I-itu, Rin-sensei sudah masuk sejak beberapa menit yang lalu. Syukurlah ka-kau tidak ketahuan sedang tertidur tadi." Hinata menunjuk ke depan kelas.
Sakura dengan cepat duduk dengan tegap dan memusatkan pandangan di depan kelas. Benar, Ibu guru Rin sedang menulis sesuatu di mejanya. Mungkin Ia sedang mengoreksi sebagian lembaran kertas ujian yang belum diselesaikannya.
"Terima kasih," ujar Sakura pada Hinata.
Hinata hanya mengangguk lemah.
Melihat guru Rin yang masih berkutat pada lembaran kertas di meja dan suasana kelas yang mulai berisik, Sakura mengalihkan pandangan dan menatap jendela. Dada Sakura bergemuruh. Ia tak menyangka akan memimpikan tentang hari itu lagi. Hari di mana ikatan persahabatannya putus. Dan yang ia katakan pada Sasuke, tak terbukti adanya. Bukannya ia menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Ino, tetapi malah ia mendapatkan yang paling terburuk dari apa yang terburuk.
Entah bagaimana cara Ino melakukannya, tapi hanya dengan satu hari saja, semua teman-temannya yang lain di sekolah mulai menjauhinya. Dan esoknya, Ino dengan terang-terangan memberitahu semua murid di kelas kalau dirinya yang telah membuat Sai meninggal dan melarang siapapun berbicara dengannya bila mereka tak mau bernasib sial seperti Sai.
Sakura menghela napasnya, "Padahal, aku lakukan itu demi kau… Ino."
Pada akhirnya, Sakura merasa bahwa persahabatan mereka sudah tak terselamatkan lagi. Siapapun yang berada dekat dengannya, akan diancam dan ditindas oleh Ino. Ino sendiri pun selalu mengacuhkannya dan tak menganggapnya ada. Sakura sendiri memang tidak ditindas secara fisik, tapi dengan cara begini sudah cukup membuatnya tersakiti begitu dalam. Kesepian, begitu menyakitkan.
.
.
.
.
.
Naruto duduk dengan bosan di tempatnya. Setelah guru Rin selesai membagikan kertas ujian yang sudah dinilai dan menyuruh murid yang mendapatkan nilai di bawah 60 untuk mengerjakan tugas remedial menulis karangan Bahasa Inggris, ia pun pergi entah ke mana. Untungnya Naruto jago di bidang mata pelajaran itu, jadi tentu saja saat ini ia tak mengerjakan tugas remedial itu. Tapi sekarang ia merasa bosan.
Pandangannya menelusuri seluruh isi kelas. Rupanya, banyak teman-temannya yang remedial juga. Naruto melirik Sahabat di sampingnya yang diam membaca buku. Ah, melihat orang yang membaca buku malah makin membuatnya semakin bosan saja. Matanya kembali berkelana ke arah murid-murid yang lain. Dan matanya pun bertubruk pada murid yang bersurai merah muda, Sakura.
Naruto mengerutkan alisnya. Ia heran kenapa tiap ada kesempatan, Sakura selalu saja melihat ke luar jendela dan berlama-lama memandangi luar. Apa di bawah sana, di lapangan sekolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya? Atau seseorang? Tapi sepertinya ia bukan melihat ke lapangan sekolah, apa mungkin ia sedang melamun lagi?
Naruto terus melihat Sakura. Hanya melihat, dan tidak melakukan apapun. Letak tempat duduk Naruto memang di belakang Sakura, lebih tepatnya meja kedua di belakang meja Hinata. Jadi yang terlihat oleh Naruto hanya rambut merah mudanya dan wajah bagian kirinya saja. Naruto ingin tahu, apa sebenarnya yang dipikirkan gadis itu ketika melamun. Di kelas ia diam terus, padahal tadi pagi di atap rasanya ia cukup seperti tipe gadis yang ramah, periang dan juga agak mudah marah, tentu saja.
Naruto berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan menghampiri meja Sakura. Saat ia berhenti di samping meja Sakura, barulah terlihat jelas wajah Sakura yang sedang melamun melihat ke luar jendela dan tak menyadari kedatangan Naruto. Naruto mengikuti arah pandang Sakura ke luar jendela. Lapangan sekolah kosong, tidak ada murid atau siapapun yang bisa dilihat selain tanah lapang yang gersang karena musim panas. Naruto pun memperhatikan Sakura kembali. Ia tersenyum jahil.
BRAK
Tindakan Naruto barusan yang menggebrak meja sukses membuat Sakura kaget bukan main. Meskipun gebrakan Naruto tadi itu tidak terlalu keras.
"Naruto! Kau mengagetkanku!" kaget Sakura. Ia agak jengkel pada Naruto.
Naruto hanya kembali nyengir. "Melamun terus itu tidak baik lho," komentarnya.
Sakura kembali melirik jendela, "Bukan urusanmu," gerutunya.
"Tentu saja itu urusanku, kita teman kan? Teman itu saling berbagi dan saling memperingatkan," jelas Naruto. Membuat Sakura kembali menoleh padanya dengan sedikit terbengong.
"Baiklah, kalau itu maumu. Aku tahu melamun itu tidak baik, tapi tadi aku tidak melamun kok, hanya memikirkan suatu hal," bela Sakura. Ia tahu ia memang melamun, tapi ngeles sedikit tak apa kan?
Jari-jari tangan kanan Naruto menyentuh dagunya seperti orang yang berpikir keras. "Hm, aku rasa itu sama saja deh,"
"Tentu saja beda! Melamun itu tidak berpikir!" sanggah Sakura.
Naruto akhirnya mengalah, ia tak terlalu mengerti juga apa yang dijelaskan Sakura. "Oke oke, kalau begitu." Naruto melihat jam tangan sport hitam di tangannya. "Ngomong-ngomong, ini sudah mau istirahat. Aku lapar nih, mau menemaniku ke kantin sekarang tidak?" ajak Naruto pada Sakura.
Sakura agak ragu. Rasanya itu bukan ide yang bagus, Naruto yang menghampirinya di saat-saat seperti ini saja, sudah membuatnya agak khawatir dengan teman-teman sekitar, terutama Ino. Tapi lebih dari itu, Ia juga sangat senang diajak oleh seseorang untuk sekedar makan siang bersama di sekolah. Tapi kekhawatiran ini pun tak bisa hilang begitu saja.
Kepala Sakura sedikit menoleh menuju ke arah tempat duduk Ino dan teman-temannya yang berada cukup jauh dari tempat duduknya. Mereka sedang mengerjakan tugas remedial, sepertinya mereka tidak tahu kalau Naruto saat ini sedang menghampirinya kembali. Kalau dia tahu, mungkin akan terjadi hal seperti kemarin.
"Maaf, Naruto." Sakura mencari kata-kata yang tepat untuk menolak ajakan Naruto "Aku senang, kau mengajakku ke kantin, tapi aku rasa itu bukan ide yang bagus."
Naruto terheran, "Lho,kalau kau senang ku ajak ke kantin, lalu kenapa itu tidak bagus?"
Sakura mendecak, sepertinya Naruto ini adalah tipe orang yang tak bisa baca situasi dan sedikit bodoh. Apa Sakura harus memperjelas alasannya? Sepertinya iya. Sakura lalu agak berbisik, "Baiklah Naruto, aku akan menjelaskannya padamu. Tapi sebelum itu, kau ke kantin saja duluan. Membeli makanan apa yang ingin kau makan. Aku bawa bekal, kutunggu kau di atap. Mengerti?"
Naruto mengernyit. Ia tampak tidak setuju dengan saran Sakura. "Kenapa tidak sama-sama saja sih?" tanya Naruto yang juga dengan agak berbisik.
Sakura menggeleng "Untuk sekarang, tidak bisa."
Kryyuuuk . Naruto memeang perutnya. Ia mendecak. Sial, ia sudah sangat lapar sekarang. "Sudahlah, ayo ke kantin sama-sama saja!" Naruto menarik tangan Sakura dengan tegas dan berjalan menuju pintu kelas. Sakura kaget dan langsung mencoba melepas tangannya dari Naruto, namun tampaknya Naruto takkan membiarkannya lepas.
"Naruto! Lepaskan!" Bisik Sakura. Oh astaga, ia harap saat ini Ino tidak melihat mereka. Akhirnya Sakura hanya menunduk. Takut mengetahui bahwa teman sekelasnya melihat ke arahnya dan Naruto.
Naruto diam saja dan terus menarik Sakura hingga ke luar kelas. Kalau sudah lapar begini, ia benar-benar tak peduli dengan alasan apapun yang dikatakan Sakura.
.
.
.
.
Sayangnya, Ino melihat kejadian tadi. Ia mengepalkan tangannya dengan keras. Pulpen yang digenggamnya pun agak gemeretak. Tampaknya, Naruto tidak mendengarkan apa yang ia peringatkan kemarin. Ino dapat melihat betapa senangnya Sakura dari raut wajahnya, membuat Ino merasa jijik sendiri. Ino menatap Karin dan Tenten yang duduk tak jauh darinya.
"Karin, Tenten!" panggil Ino, yang dipanggil keduanya menengok ke arah Ino. Tidak ada cara lain.
"Kalian harus bantu aku!"
.
.
.
.
SLRUUUURP~
Naruto memakan ramen yang dibelinya dengan lahap. "Wah enaknya!"
Sakura hanya diam memperhatikan Naruto. Jus strawberry yang dibelinya masih penuh tak tersentuh olehnya sejak tadi. Ia sepertinya sedang memikirkan hal lain dengan serius. Ia melihat sekitarnya, untungnya di kantin ini masih sepi dan hanya ada beberapa orang yang tidak dikenalnya saja. Jika waktu istirahat tiba nanti, pasti tempat ini akan berubah ramai dan sesak.
"Kau tidak memesan makanan, Sakura-chan?" tanya Naruto, agak heran Sakura hanya terus menatapnya sambil diam.
Sakura menggeleng "Sudah kubilang, aku bawa bekal, jadi aku tidak memesan makanan."
"Terus kenapa kau tidak bawa saja bekalmu kemari?"
mendengar itu Sakura agak kesal juga, "Siapa suruh kau menarikku begitu saja tanpa memberiku kesempatan berhenti barang sebentar untuk mengambil bekalku, hah?" omel Sakura tanpa jeda.
Naruto menggaruk kepalanya, nyengir. "Oh, maaf deh."
Sakura menghela nafasnya, ia lalu mengambil jusnya dan mengaduknya perlahan dengan sedotan, "Sudahlah tidak apa-apa, aku juga masih belum lapar. Kau lanjutkan saja makanmu. Setelah kau selesai, ikut aku ke atap. Ada yang harus kujelaskan padamu."
Wajah Naruto agak serius sekarang, ia memperhatikan Sakura yang diam menunduk meminum jusnya. Sepertinya Naruto juga memikirkan sesuatu. "Baiklah, tunggu sebentar." Naruto kembali memakan ramennya.
.
.
.
.
Istirahat sudah tiba sejak 5 menit yang lalu, Sakura dan Naruto sedang berjalan di lorong kelas lantai satu. Mereka sedang menuju tangga di belokan pertama lorong ini. Naruto berjalan lebih dulu atas suruhan Sakura, sementara Sakura berjalan setengah meter di belakangnya. Naruto tidak menyadari bahwa ada bola sepak yang melayang menghampirinya.
DUKK
Naruto menahan nafasnya sesaat, terkaget. Nyaris saja bola itu mengenai kepalanya dan akhirnya mengenai dinding di sebelah kirinya. Kekagetan Naruto belum hilang tapi ia segera mengambil bola itu lalu mencari-cari ke arah lapangan dari mana bola itu berasal. Dan seorang siswa laki-laki menghampiri mereka berdua. Tampaknya adik kelas satu.
"Maaf, kami menendang bola nya terlalu keras," kata siswa pemuda itu.
Naruto menyerahkan bola ke pemuda itu, "Lain kali hati-hati, kalau kena kepala orang bagaimana?"
"Iya Senpai, maaf." Setelah bicara begitu, pemuda itu langsung berbalik dan kembali ke lapangan.
Mereka kembali berjalan seperti tadi, belokan tangga yang dimaksud sudah dekat. Naruto terus melirik ke Sakura yang menunduk dan tidak menyadari dari belokan tangga itu, ada seember air yang baru saja ditumpahkan ke lantai.
"WAAKH!"
BRUKK
Mata Sakura melebar. "Naruto!" Sakura menghampiri Naruto yang jatuh terpeleset dan membantunya berdiri. "Kau tidak apa-apa?"
Naruto meng-aduh "Ya, tidak apa-apa." Naruto memperhatikan lantai yang tiba-tiba becek dengan air. "Aku tadi tidak melihat ada air di sini deh," gumamnya.
"Kalau jalan itu hati-hati, liha-lihat sekitarmu!" omel Sakura. Ia melihat celana Naruto yang basah, "Naruto, celanamu basah."
Naruto melihat celananya, ia jatuh terduduk di atas air itu sih, "Ah, iya benar. Keringkan nanti di atap saja deh."
Mereka berdua akhirnya menaiki tangga. Karena waktu istirahat sudah tiba, ada beberapa murid yang berkumpul di tangga.
"EKH!"
BRUKKK
"Naruto!"
Sekali lagi, Naruto yang sudah sampai di ujung tangga lantai dua dan mau menaiki tangga menuju lantai tiga terjatuh tiba-tiba. Kini ia terjatuh ke depan, dan tubuh bagian depannya lah yang sekarang jadi korban.
"Naruto, kubilang hati-hati!"
"Ukh, dadaku dan daguku sakit." Naruto dibantu Sakura untuk berdiri lagi. Naruto mengelus dadanya sambil mencari penyebab ia bisa terjatuh lagi, dan ia menemukan kulit pisang tak jauh dari tempatnya terpeleset. Kenapa ada kulit pisang di lantai? Naruto menatap murid-murid yang berdiri di sekitar mereka.
"Kalian kenapa buang sampah sembarangan? Bahaya tahu!" omel Naruto pada murid-murid perempuan yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Jangan sembarangan menuduh!" bela satu gadis bercepol dua yang berdiri paling dekat dengannya.
"Iya, bukan kami yang membuangnya!" susul perempuan yang lain.
"Kalau bukan kalian yang membuangnya, kenapa tidak membantu buang sampah yang ada di hadapan kalian?" sepertinya Naruto agak marah karena efek terjatuh, dua kali malah.
"Kami tidak tahu kalau ada kulit pisang di sana!"
"Iya, tadi juga belum ada kulit pisang itu kok."
Naruto mengernyit, "Bagaimana mungkin kalian tidak melihatnya?"
Salah satu siswa perempuan yang berambut merah melihat Sakura yang berdiri di sebelah Naruto, "Oh! Jangan-jangan karena kau berada dekat dengan Sakura!" tuduhnya.
Yang lainnya pun mengiyakan dan menyetujui pendapat teman mereka. "Iya benar! Pasti karena dia!"
Naruto agak kaget mereka menuduh Sakura sembarangan. Sudah jelas tadi tidak mungkin karena ulah Sakura kan?
Akhirnya Naruto berteriak "Aku tidak percaya itu!" Naruto meraih tangan Sakura, "Ayo Sakura-chan!"
Sakura yang tadi hanya menyaksikan, kembali merasa seperti dejavu saja. Rasanya, hal ini pernah terjadi sebelumnya. Sakura memperhatikan Naruto yang agak berantakan.
"Naruto, berhenti!"
Namun Naruto tetap saja diam menggenggam tangan Sakura dan menaiki tangga.
"Naruto, berhenti sebentar!" pinta Sakura lagi. Ia berusaha menahan tubuhnya yang ditarik oleh Naruto.
Akhirnya Naruto berhenti dan menatap Sakura, namun tidak melepaskan genggamannya. "Ada apa, Sakura-chan?"
"Mereka benar. Kau terjatuh dua kali karena aku." Ujar Sakura pelan. "Dan mungkin kau akan jatuh lagi nanti."
Naruto menggelengkan kepalanya "Bagiku itu tidak logis! Dari tadi kau di belakangku, mana mungkin kau yang melakukannya!"
Sakura menatap Naruto, "Itu memang benar, tapi justru karena kau dekat dengankulah, kau jadi sial begini!"
Naruto mengerutkan alisnya, "Aku tidak mengerti."
"Kalau kau tidak ingin sial lagi, menjauhlah dariku. Akau jamin kau tidak akan terjatuh atau hampir terkena bola seperti tadi lagi."
Naruto agak kesal juga, "Kukatakan satu hal yang sudah kau dengar. Aku tidak percaya itu!"
Sakura terpaku. Naruto memang tidak peka. "Kau tidak sadar dengan apa yang baru saja terjadi!" tuduhnya.
"Tentu aku sadar! Tapi satu yang kuyakini, tidak ada yang bisa menjamin kalau aku tidak akan sial jika aku menjauh darimu!"
Mata Sakura melebar, ia tahu Naruto benar. Tapi apa yang dimaksudkannya itu berbeda. "Kau tidak mengerti maksudku Naruto, kau tidak bisa baca situasimu sekarang-"
"Justru karena itulah, kau harus menjelaskannya padaku, di atap, Sekarang!" potong Naruto cepat.
Sakura diam, Begitupun Naruto. Mereka saling bertatapan, nafas mereka agak terengah karena saling berkeras kepala tadi.
Tampaknya Sakura telah kalah dari perdebatan meraka kali ini. Ia menunduk, "Baiklah," gumamnya pelan.
Naruto mengangguk mantap, ia menarik kembali tangan Sakura dan menuntunnya menaiki tangga hingga sampai di pintu atap sekolah.
.
.
.
.
.
"Apa kau mengerti, Naruto?" Sakura memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Naruto di samping kirinya.
Naruto diam sejenak, ia memandang lurus ke depan. "Tapi kalau dia dalangnya, kenapa tadi kita tidak melihatnya?"
"Entahlah, aku tidak tahu." Sakura menerawang, "Tapi dulu, Ino sendirilah yang langsung melakukan hal seperti itu ke siapapun yang dekat denganku. Hanya saja, kini dia tidak menunjukkan dirinya terang-terangan. Karena ini pernah terjadi sebelumnya, jadi aku yakin kalau ini adalah rencananya."
"Karena itu, kau menyuruhku untuk menjauhimu?" Naruto menatap Sakura.
Sakura mengangguk.
Naruto berpikir, seandainya ia menjauhi Sakura, maka Sakura akan sendiri lagi, dan usaha Naruto jadi sia-sia saja. Tidak, ia tidak akan menyerah di sini! "Tidak, aku tidak akan menjauhimu cuma karena alasan itu! Aku tidak peduli jika aku akan terjatuh atau apapun yang membuatku merasa sial."
"Tapi kalau begitu, kau akan dikerjai terus olehnya! Aku tidak ingin kau-" Sakura menggantungkan kata-katanya.
Naruto diam menatap Sakura yang sepertinya mau menangis. "Apa kulaporkan saja pada Tsunade Baa-chan?"
Sakura tersentak "Tidak, jangan!"
"Memangnya kenapa? Dia kan sudah menindasmu secara tidak langsung."
"Mungkin ia memang sudah menindasku dan membuatku dijauhi. Tapi tetap saja, aku tak bisa membenci dirinya," jujur Sakura.
Naruto tersenyum kecil mendengar itu, "Baiklah, kalau kau tak ingin aku melaporkannya pada Baa-chan." Naruto memikirkan sesuatu yang sudah mengganjal pikirannya sejak awal. "Ano, bisa kau ceritakan kenapa Ino sampai membencimu seperti sekarang? Kudengar dari Sasuke, kalian dulu bersahabat."
Sakura mengerutkan alisya, "Aku tidak bisa mengakui kalau aku dan dia sekarang bukan sahabat, sampai kapanpun aku akan tetap menganggapnya sahabatku, meskipun ia membenciku." Sakura tersenyum simpul, "Aku tidak tahu pasti kenapa ia begitu membenciku. Karena itu, aku belum bisa cerita apa-apa sekarang, maaf."
Naruto agak kecewa, tapi ia mengerti perasaan Sakura sekarang. "Maaf kalau aku menanyakan hal itu."
"Tidak apa-apa, Naruto...Terima kasih ya,"
"Hm?"
"Terima kasih, karena kau mau menjadi temanku, aku senang. Tapi aku pun tidak ingin teman-teman yang kusayangi tersiksa karena aku. Mungkin kau tak peduli, tapi kumohon mengertilah aku yang tak sanggup untuk melihatmu dikerjai," terang Sakura perlahan sambil menatap lembut Naruto.
Naruto diam sejenak. Kalau sudah dengar seperti itu, rasanya tidak ada cara lain. "Baiklah, untuk sementara aku tidak akan menegurmu atau mengajakmu bicara jika di kelas. Tapi tidak di sini." Sakura mengernyit bingung.
Naruto menatap Sakura intens, "Aku akan selalu menemanimu, di sini. Maka ke sinilah jika kau kesepian. Saat itu, aku akan berusaha untuk ada di sini juga."
DEG
Mendengar itu, Sakura rasanya ingin menangis, ia begitu terharu. Sungguh, Naruto begitu baik padanya. Untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat ajaib itu dalam hidupnya. Tak ada yang bisa ia balas kebaikan Naruto, selain ucapan yang entah sudah berapa kali ia lontarkan pada.
"Terima kasih, Naruto."
.
.
.
.
.
DUKK DUKK DUKK
Latihan inti sudah selesai dan hampir seluruh anggota sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi sang ketua masih saja terus berlatih dengan bola basketnya. Naruto yang hanya duduk memperhatikan sambil sedikit melamun akhirnya menyadari sesuatu. Ia berdiri dan berlari menghampiri Sasuke.
"Sasuke, aku butuh bantuanmu."
Sasuke menembak bola menuju ring dari tengah lapangan dan masuk. Sasuke menoleh ke Naruto, tak biasanya Naruto memanggilnya dengan nama selain 'Teme'. "Bantuan apa?"
Tapi sepertinya perhatian Naruto teralih, ia menatap kagum ring yang baru saja dimasuki bola basket yang dilemparkan Sasuke, "Oh, Three points! Kau memang hebat ketua!" Naruto menepuk punggung Sasuke beberapa kali.
"Oi, kau butuh bantuan apa dariku?" ulang Sasuke jengkel.
Naruto ingat lagi tujuannya menghampiri Sasuke. Ia menepuk jidatnya tanpa sadar, "Ah iya. Soal itu, semacam bantuan yang kubicarakan kemarin." Bantuan yang dimaksudkan Naruto adalah mengenai rencana penyatuan kelas yang dibicarakannya dengan Sasuke kemarin.
Sasuke mengerti bantuan apa yang dimaksud Naruto, "Hn. Katakan."
Naruto berpikir sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Begini, bisakah kau mendekati Ino, menjadi teman dekatnya, lalu mencari tahu alasan mengapa Ino begitu membenci Sakura secara tiba-tiba?"
Sasuke menatap Naruto heran dengan cepat. "Hah?"
Tampaknya Naruto salah pilih kata, "Ah, bukan seperti itu juga sih. Maksudku…"
"Tidak!" tolak Sasuke cepat. Ia berlari mengambil bola yang baru saja masuk ring itu.
"Ekh? Kenapa?"
"Kubilang tidak, ya tidak!"
Naruto merengut, "Katakan alasannya!"
Sasuke menatap Naruto dari ujung lapangan,"Aku tidak pernah berbicara lagi dengannya semenjak aku menceramahinya dulu."
Naruto mengerjapkan matanya, ia agak heran dengan apa yang Sasuke katakan barusan, mungkin ia menceramahi Ino sebagai kewajiban ketua kelas. Naruto kemudian berpikir lagi, "Lalu, aku harus bagaimana?"
"Dengan Shikamaru saja," usul Sasuke.
Naruto menatap Sasuke bingung.
"Rumahnya bersebelahan dengan rumah perempuan itu," tambah Sasuke. Ia lalu kembali mendribble bola basket. Membiarkan Naruto menyerap perkataan Sasuke barusan.
*To Be Continued*
makasih banyak buat readers yang udah menyempatkan diri untuk membaca fict yang makin lama merembet gajelas ini, dan juga makasih untuk mereview, memfave, dan memfollow fict ini, pokoknya kalian sungguh baik hati *lebay
balasan yang ga log in:
Guest: makasih udah review lagi, ia mereka di sini mulai dekat, tapi jadi banyak debat juga (ga konsisten nih). udah di update nih, revie lagi?
Ah ini sudah begitu larut, bahkan pagi. ngantuk udah 90%. ga perlu banyak omong dariku,
maaf kalo masih banyak typo dan tanda penulisan yang salah yang membuat kalian tak nyaman baca.
berkenan review? bentuk apapun akan ku terima. sampai jumpa chapter depan~
