Previously on Can You Do It?...

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Sakito. Sakito pun mengalihkan pandangannya, mencoba mencari siapa yang menepuk pundaknya tadi. Dan ia begitu terkejut ketika melihat sosok Ruka tersenyum di belakangnya.

"Belum saatnya bagimu untuk mati…," ucap Ruka pelan.

* * *

Page 3 – Our Sacrifices…

"Waktumu masih panjang. Pergilah, lanjutkan tugasmu…"

Sakito masih tertegun dengan apa yang baru dialaminya. Akhirnya ia bisa melihat sosok sahabatnya lagi. Begitu inginnya Sakito meminta maaf. Ruka benar, ia memang egois. Bahkan karena keegoisannya itulah Ruka menjadi korban. Sebenarnya ia ingin menangis ketika melihat wajah Ruka yang begitu teduh, namun entah mengapa wajah teduh Ruka sama sekali tak mengisyaratkan kesedihan, melainkan seolah berkata, "Kau tidak salah."

Sakito pun bangkit. Tubuhnya seolah menerima sebuah nyawa baru. Nyawa Ruka. Ditariknya keluar pedang keperakan pemberian ayahnya itu, dan akhirnya ia pun melangkah lagi, memasuki menara Takashima yang nantinya akan menjadi tempat penentu takdir klan Sakaguchi.

Menang, atau mati…

Sementara itu Ruki telah sampai di ruangan yang sama saat sebelum ia meninggalkan Uruha tadi. Dilihatnya Uruha yang sedang menyiapkan seekor burung elang pembawa pesan. Itu adalah elang khusus yang akan dipakai Uruha sebagai pembawa pesan kepada prajurit yang bertugas meledakkan bendungan pada tengah hari nanti. Namun yang membuat Ruki heran, mengapa elang itu akan dilepaskan sekarang? Padahal tengah hari masih beberapa jam lagi.

"Uruha-sama? Kau akan melepasnya sekarang?"

"Ya. Memang kenapa?" tanya Uruha balik.

"Bukankah ini terlalu cepat? Kalau bendungan itu meledak sebelum waktunya, semua orang yang sedang berperang disana akan mati. Termasuk prajurit kita!"

"Lalu kenapa, Ruki!?"

"Kenapa!? Apa kau ingin membunuh mereka semua!?"

"Mereka kan sudah melakukan apa yang menjadi tugas mereka. Toh, tak salah kan jika mereka berkorban sedikit untuk Takashima!?"

"Berkorban untuk Takashima, katamu!? Kau itu memang tak lebih dari seorang pembunuh!!"

Kata-kata Ruki itu lantas membuat Uruha murka. Ia pun membalikkan badannya dan dengan cepat ia mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggungnya. Tanpa segan-segan Uruha lantas menusukkan pisau itu ke perut Ruki.

"Berisik!!"

"Akkkhh!!!" Ruki jatuh tersungkur ke lantai. Tangannya memegangi perutnya yang berlumuran darah. Rasa sakit yang amat sangat pun mulai menjalari seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang sama seperti yang dialami Sakito. "I-Ini… R-Racunku…!?"

"Ha-ha-ha. Terimakasih kau pernah memberiku pisau yang berlumur racun itu. Kau pernah bilang padaku, racun di pisau itu akan membunuh dalam tiga hari. Dan hebatnya lagi, kau tak membuat penawar untuk racun yang satu itu." Uruha terkekeh. "Tragis sekali, bukan? Seorang pembuat racun mati karena racunnya sendiri!"

"K-Kurang… ajar k-kau!!" umpat Ruki. Nafasnya mulai tersengal.

Uruha tak menjawab. Ia membalikkan badannya lagi dan menghadap ke jendela sambil mengelus kepala elangnya itu. "Nah, burung yang cantik, pergilah ke bendungan. Sampaikan salamku pada…"

"Tidak secepat itu!!" Tiba-tiba Sakito pun muncul dari balik daun pintu dengan pedang yang teracung. Ia memang masih ngos-ngosan, namun ia terlihat segar. "Akhirnya aku benar-benar bertemu dengan sang pemimpin Takashima."

"Oh, jadi kau rupanya. Sakaguchi Takahiro, eh? Ternyata benar yang dikatakan orang-orang kalau kau itu memang kuat. Bisa-bisanya kau sampai kemari."

"Cih. Yang membuatku bisa sampai kemari itu karena aku begitu ingin membunuhmu!"

"Oh ya!? Buktikan!" Uruha menarik keluar pedangnya. Dan dua pangeran itu saling bertatapan.

Akhirnya takdir akan segera ditentukan.

* * *

BRUAAAKK!!

Sakito terlempar ke ujung ruangan. Punggungnya menghantam sebuah meja hingga hancur. Darah pun telah mengalir dari banyak bagian tubuhnya. Lengannya, pundaknya, dan bahkan sekarang darah itupun keluar dari mulutnya. Hal yang sama pun terjadi pada Uruha. Tangan kirinya sudah sepenuhnya luka berat, tak bisa dipakai bertarung lagi. Tapi Uruha tetap saja agresif melancarkan serangannya.

Uruha pun kembali menyerang lagi. Ia berlari menuju Sakito yang tengah kelelahan dan sulit bergerak. Diacungkannya pedang di tangan kanannya itu dan…

"Akkhhhh!!!" Sakito meringis kesakitan. Bahu kanannya tertusuk pedang Uruha. Namun Sakito tak kehabisan akal. Ia nekad memegang mata pedang Uruha dengan tangannya untuk mendorong pedang itu keluar. Darah segar pun mengucur dari telapak tangan Sakito. "Gyaaaaahh!!"

Dan setelah berjuang sekuat tenaga, akhirnya pedang itu terlepas. Kedua pria itu sama-sama sudah kehabisan tenaga––khususnya Sakito. Dan Sakito tak menyia-nyiakan tenaganya yang terakhir itu. Ia pun bangkit lagi. Namun tiba-tiba…

Braak!

Tubuh Sakito justru roboh karena terlampau dipaksakan. Uruha yang melihatnya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia langsung mengambil kembali pedangnya yang sempat terjatuh dan kemudian ia lantas berjalan mendekati Sakito.

"Heh! Bangun!" ucap Uruha. Pria itu pun menarik paksa tubuh Sakito untuk bangun. "Kau bilang ingin membunuhku, Baka!" Uruha mengangkat pedangnya. Diarahkannya pedang itu ke perut Sakito. "Kali ini… kau akan benar-benar mati, Sakito!"

"Payah! Kau payah!"

Lagi. Suara yang sama seperti saat Sakito hampir mati terngiang kembali. Dan pandangan Sakito pun berubah jadi putih lagi.

"Ruka? Kaukah itu?"

"Ya. Siapa lagi? Cepat habisi Uruha, kalau tidak kau akan mati!"

"Ah, kurasa tak apa kalau aku mati, Ruka. Aku sudah tidak bisa bertarung lagi." ucap Sakito pasrah.

"Itu artinya kau menyia-nyiakan perjuangan teman-temanmu! Padahal Ni~ya, Yomi, dan Hitsugi sudah mengorbankan nyawa mereka demi kau! Tapi apa balasanmu!? Kau malah menyia-nyiakan itu semua!"

Seketika kata-kata Ruka barusan membuat Sakito terenyak. Benar apa yang dikatakan Ruka. Jika dia menyerah sekarang, maka semuanya akan percuma. "Lagipula aku tidak akan tenang kalau Sakaguchi belum menang…," tambah Ruka.

Sakito terdiam sejenak. Batinnya berusaha mencerna kata-kata Ruka barusan. "Kurasa kau benar, Ruka. Maaf, aku bodoh sekali."

"Sudahlah. Sekarang bertarunglah lagi, Prajurit! Nasib seluruh anggota klan tergantung padamu!"

"Ruka, tunggu! Jangan pergi dulu!"

"Apa lagi!?"

"Terimakasih."

"MATI KAU, SAKITO!!!"

Suara Uruha yang menggelegar itu menyadarkan kembali Sakito. Dengan cepat Sakito mengangkat kembali pedangnya.

Zrrsssskkk!!

* * *

"AARRRRGGHHH!!" Uruha meringis kesakitan ketika pedang Sakito menusuk perutnya. Dan hal yang sama pun terjadi pada Sakito. Perut sebelah kirinya tertusuk pedang, namun tak separah Uruha.

Braakk!

Sakito dan Uruha sama-sama roboh. Tubuh mereka berdua pun sama-sama dipenuhi darah, khususnya Uruha. begitu banyak darah yang mengucur dari tubuhnya.

"A-Aku tak ingin mati… d-disini! Arrghh!! SIAL KAU, SAKITOOO!!!" umpat Uruha.

"Sudahlah. Kalau kau berteriak begitu malah akan mempercepat kematianmu, Uruha. Terima saja… KAU KALAH!!" ucap Sakito seraya ia membangkitkan tubuhnya.

"HA-HA-HA-HA!! Tidak… Tidak akan kubiarkan yang lainnya hidup!" Tiba-tiba Uruha mulai meracau. Sesaat kemudian ia masih sempat untuk menyeret tubuhnya ke dekat jendela untuk membuka pintu sangkar elangnya. Dilepasnya elang itu dan terukirlah sebuah senyuman kepuasan di wajah Uruha. "HA-HA-HA-HA!!"

"Apa yang kaulakukan!!?"

"Terlambat! Terlambat, Sakito! Elang itu akan sampai… dalam lima belas menit! Ughk!" ucap Uruha terbata. Darah segar mulai mengucur lagi dari mulutnya. "Dan saat itu tiba… maka bendungan itu akan… meledak… sesu… ai… rencana… ku…" Uruha pun mengucapkan kata-katanya yang terakhir sebelum akhirnya nafasnya benar-benar terhenti. Ia tewas. Kehabisan darah, seperti yang diduga oleh Sakito.

"Sakito-san," panggil Ruki yang masih tersungkur di lantai. "Masih ada cara menyelamatkan orang-orang itu."

Sakito terdiam sejenak. Dilihatnya pria yang kini tengah menatapnya dengan tatapan kosong. Ruki… Dialah orang yang hampir membunuh Sakito. Ruki adalah musuhnya. Namun entah mengapa, Sakito melihat ada sebuah kebaikan dalam paras Ruki, sehingga rasa percaya pun muncul dalam hati Sakito.

"Benarkah itu?"

"Ya. Kalau aku bisa mencapai daerah peperangan dalam tujuh menit, mereka semua pasti bisa terselamatkan."

"Tapi jaraknya terlalu jauh. Kau tidak akan bisa kembali," ujar Sakito. "Kau pasti akan mati tenggelam."

"Tak apa," jawabnya. "Lagipula aku memang akan mati dalam tiga hari. Aku juga ingin menebus kesalahanku yang telah mengabdi pada orang yang salah. Karena itulah…"

"…pergilah dan damaikan konflik antara Sakaguchi dan Takashima," pinta Ruki. Wajahnya yang penuh kedamaian itu benar-benar membuat Sakito tak bisa berkata apa-apa lagi. Sakito pun mengangguk dan lantas berterimakasih pada Ruki.

Dan sesaat kemudian Sakito pun pergi meninggalkan Ruki.

* * *

Akhirnya Sakito berhasil keluar dari menara Takashima, tentunya dengan luka di sekujur tubuhnya. Kini hanya satu tujuannya, yaitu wilayah Sakaguchi. Dan orang pertama yang harus ditemuinya adalah Neeyu. Sakito teringat akan janjinya bahwa ia akan kembali. Karena itulah ia memacu kakinya secepat yang ia bisa. Namun ketika ia sampai di ambang pintu gerbang, sosok seorang gadis terlihat di kedua bola matanya. Sosok seorang gadis yang telah menghilang.

Ayu Sakaguchi.

Gadis itu berdiri menatap Sakito. Sakito pun balas menatapnya. Tak ada kata-kata sampai akhirnya Sakito mendekatinya.

"Akhirnya aku menemukanmu. Kembalilah, Neeyu membutuhkanmu!"

"Aku tak bisa kembali," jawab gadis itu. "Aku sudah berjanji demi Ruka akan sepenuhnya berpihak pada Takashima."

"Apa maksudmu!? Kau tetap Sakaguchi! Dan…"

"…dan aku sudah terlanjur membencimu!" selaknya. Matanya pun berkaca-kaca dan mulai meneteskan air mata. "Memangnya kaupikir aku bisa hidup dibalik bayang-bayangmu!?" bentaknya. "Rasanya sakit, Oniichan! Sakit!"

"Kukira kau akan memaafkanku…"

"Tidak. Itu sulit. Dan aku minta tolong untuk yang terakhir kalinya, berikan ini pada Neeyu." Ayu pun mendekati Sakito dan memberikan pedangnya. "Aku ingin kakakku menjadi seorang wanita yang kuat. Aku ingin dia menggantikan posisiku karena… aku harus berakhir disini."

"Apa maksudmu!?"

"Aku melihat elang milik Uruha. Aku akan ke wilayah peperangan untuk memperingatkan orang-orang desa kalau bendungan akan diledakkan. Aku tahu Ruki ada didalam menara ini, karena itulah aku akan pergi dengannya."

"Itu sama saja artinya kau bunuh diri!"

"Biarlah aku tenggelam." Ayu pun membungkuk, memberikan penghormatannya. "Dan mati dalam tugas… bukanlah hal yang kutakutkan."

* * *

Entah sudah berapa banyak waktu terbuang. Sakito melanjutkan perjalanannya kembali menuju wilayahnya. Sementara Ayu dan Ruki berusaha secepat mungkin menuju wilayah peperangan. Ada banyak nyawa yang lebih penting dari nyawa mereka yang harus diselamatkan.

Mereka menerjang banyak jalan semampu yang mereka bisa. Terlebih karena Ayu harus memapah Ruki yang kesulitan berjalan karena pengaruh racun tadi. Dan tak lama kemudian, mereka sampai di tempat Yomi dan Hitsugi bertarung dengan Aoi, Reita, dan pasukan garis belakang. Tak ada satupun yang selamat. Mereka semua tewas tanpa terkecuali. Sungguh sebuah pemandangan yang mengejutkan bagi Ayu ketika melihat tubuh tak bernyawa dua rekannya. Dan begitu pula dengan Ruki yang melihat tubuh Aoi dan Ruki yang terkulai di tanah.

Namun tak ada yang bisa mereka lakukan lagi. Mereka pun melanjutkan perjalanan panjang mereka saat tiba-tiba sosok seorang gadis muncul menghalangi jalan mereka. Seorang gadis dari Takashima dengan paras yang mirip dengan Uruha.

"Maaf saja, tapi aku tak bisa membiarkan kalian lewat," ujar gadis itu.

"Sial," ucap Ruki. "Tak kusangka kita harus bertemu dia!"

"Memangnya siapa dia?" tanya Ayu heran.

"Dia Shirota-sama, putri kami. Dia itu adiknya Uruha, tapi ia terlalu dibutakan cintanya pada Uruha."

"Maksudmu?"

"Hubungan yang dilarang. Karena itulah Shirota-sama jarang sekali terlihat, karena ia memang sering pergi keluar wilayah Takashima. Dia sering menyendiri, tapi kemampuannya dalam bertarung terlalu hebat untuk ukuran seorang putri."

"Oh, kau itu gadis yang dipungut Kyon kan?" tanya Shirota dengan angkuhnya. "Sejujurnya dari pertama aku mendengar kabar tentang kedatanganmu, aku langsung tak menyukainya. Bagaimanapun, kau itu Sakaguchi dan…"

"Aku dan Ruki ingin pergi! Jangan halangi kami!"

"Cih. Gadis sepertimu memang seharusnya disingkirkan saja!" ucap Shirota kesal. Diambilnya sebilah pedang dari balik punggungnya. "Kalau kau ingin menggagalkan rencana Uruha, langkahi dulu mayatku!" teriak gadis itu saat tiba-tiba ia langsung menerjang Ayu.

Ptaaang!!

Dua pedang mereka saling menghantam satu sama lain. Pedang mereka saling bergesek ketika dua gadis itu sama-sama mengadu kekuatan masing-masing. Shirota terus menyerang Ayu dengan serangannya yang bertubi-tubi, sementara Ayu kesulitan untuk menyerang Shirota karena gadis itu memang terlampau hebat, persis seperti yang dikatakan Ruki.

"Hyaaaaaahh!!" Satu serangan lagi, sukses membuat Ayu tersungkur. "Sudahlah. Tak ada gunanya lagi kau melawanku," ujar Shirota. "Setelah ini, aku dan Uruha akan mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya! Takashima-lah yang akan berkuasa! Gyahahaha!!"

"Kau dan Uruha? Cih. Seharusnya kau tahu kalau kakakmu itu sudah tewas!"

"T-Tewas, katamu!!?"

Shirota terkejut setengah mati mendengar apa yang dikatakan Ayu barusan. Kata-kata itu seperti petir di siang bolong yang tepat menyambar dirinya. Ia berusaha untuk tak percaya, tapi kesungguhan di mata Ayu memaksanya untuk percaya.

Uruha tewas!? Tapi, oleh siapa!? batin Shirota. Kepalanya terlalu sakit untuk memikirkan semua itu. Tapi itu tidak mungkin, batinnya kembali berdebat. Satu-satunya orang yang sangat disayanginya, Uruha…

Dia sudah tiada…!?

To Be Continued……