MASK
.
.
.
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Author – Maji D'tenshi
.
.
.
OOC, TYPO, BAD EYD and AU .-.
.
.
Imayoshi memandang salah satu bawahannya dalam diam. Kaca mata yang tidak ada mlorot-melorotnya itu dia naikkan dengan segera, berusaha mengalihkan wajah binggung Sakurai yang memandangnya takut-takut. Kikikan geli dari si surai raven semakin membuatnya penasaran.
Aomine Daiki, masih 26 Tahun. Tampan, kaya, berotot, dengan sejuta penghargaan. Diusianya sekarang dia sudah masuk dalam golongan orang-orang mapan, namun bukan itu sebab seorang Imayoshi Souichi memperhatikannya lekat-lekat.
Bukan karena kulitnya yang agak patut untuk dipertanyakan, bukan pula karena seringaian mesum yang selalu terukir diwajahnya dan yang pasti bukan juga karena majalah porno yang selalu dibawahnya. Bukan karena itu semua Imayoshi memperhatikannya, toh bagi Imayoshi itu urusan Aomine sendiri, asal kerjanya benar tak masalah baginya.
Semua berawal dari 20 menit yang lalu, masih basah diingatan Imayoshi bagaimana wajah Aomine yang baru tiba dikantor kala itu. Kusam dan tak bercahaya? Bukan! Kalau itu sih sudah biasa. Kalian pernah nonton anime pasti tau bagaimana rupa seorang yang nyawanya seperti lepas dari tubuh, itu yang terjadi pada Aomine 20 menit lalu. Wajahnya pucat, tak bersemangat dengan bibir agak terbuka dan asap putih keluar dari bibirnya seolah nyawanya sudah melayang-layang diudara. Ini bukan musim dingin bung! Jadi, tak mungkin dia mengelurkan uap dari bibir karena kedinginan.
Seperti sebuah monolog terkenal dari cartoon buatan Amerika yang pernah ditonton Imayoshi, semua berubah saat negara api menyerang, dan harusnya sih begitu. Namun hal tersebut tidak terjadi pada Aomine, baginya semua berubah saat dering ponselnya berbunyi, dan dari situlah awal Imayoshi memandangnya lekat.
"Ehem.." suara deheman membuat tiga kepala menoleh secara serentak.
"Tcih, Wakamatsu."
Dahinya yang tadi berdehem itu berkedut, tangannya sudah terkepal untuk menonjok kouhai yang tidak punya sopan santun tersebut.
"Sa-sabar Waka-matsu-senpai." Sakurai agak kewalahan menghentikan pergerakkan Wakamatsu yang menggila sambil mengomel mengenai posisinya sebagai kouhai dan berbagai macam tetek begek lainnya yang membuat Sakurai ikutan bengek mendadak.
"Ya, ampun. Kalian ini ribut terus, ku rasa sebentar lagi gedung ini akan runtuh jika kalian terus menerus disini," ujar pria berbadan besar yang baru masuk ruangan dengan membawa setumpuk dokument penting –kelihatannya.
"Salahkan babon pucat itu, dia terus-terusan berteriak seperti anggota dewan yang tidak ada hasilnya," cibir Aomine sambil menunjuk Wakamatsu dengan jari tengahnya.
"Apa kau bilang! Siapa yang kau panggil babon pucat bangsatttt!" kali ini Imayoshi turun tangan kala melihat Sakurai yang tampak pening mendadak mendengar teriakan membahana Wakamatsu.
"Yare~ yare~" Imayoshi tersenyum melihat penampakan kantornya yang kacau. Tak masalah toh ini jauh lebih baik dari saat Kisedai minus Aomine disini.
Imayoshi masih ingat bertapa menyeramkannya suasana gedung ini dulu.
Murasakibara Atsushi dan serakkan bungkus snaknya, Kuroko Tetsuya dan sedotan vanilla shakenya beserta kemampuannya yang hilang-tampak, Kise Ryouta dan keceriaan –keberisikannya yang tiada tanding, Midorima Shintarou dan ramalannya, dan tentu saja sang pimpinan Akashi Seijurou dengan kemutlakan dan iklan pembersih kewanitaan absolut. Jangan tanya bagaimana Imayoshi bisa tau iklan itu, terima kasih pada pamflet dijalanan dan gerakan anti kangker serviks.
Drrrt
Suara getaran ponsel kembali membawa Imayoshi pada kenyataan.
Iris gelapnya dapat melihat wajah dim Aomine yang tiba-tiba menghangat tanpa sebab.
"Sebenarnya sejak tadi aku penasaran, siapa sih yang kau hubungi itu Aomine?" pertanyaan Imayoshi bagai angin lalu ditelinga Aomine. Buktinya dia sama sekali tak menyahut dan lebih asik memainkan ponsel pintarnya dari pada menjawab pertanyaan Imayoshi.
"Imayoshi-senpai…" panggil Sakurai tidak tega. Ya, melihat sang pimpinan meringkuk dipojok ruangan dengan hawa-hawa mendung tentu bukan pemandangan yang bagus.
"Sepertinya mood mu sedang bagus jika menyangkut ponsel mu sekarang," ujar Wakamatsu sambil menatap Aomine, sementara yang ditatap asik sendiri dengan dunianya "Whoi! Kalau ada orang ngomong dengerin kek!" lanjutnya berteriak kala melihat tak ada perubahan positif dari Aomine, yang kembali membuahkan Sakurai sebagai perelai.
"Ya, ampun~ kalian ini kekanakan sekali. lanjut kerja sana, Virgine Frost masih harus ditemukan!" perkataan Susa yang terasa menusuk setiap orang diruangan itu. Buktinya sekarang suasana ruangan itu tampak berwarna kelabu.
"Yare? Apa aku mengatakan hal yang salah?" tanyanya pada diri sendiri kala melihat begaimana keadaan rekan-rekannya sekarang. Sambil mengendikkan bahu Susa kembali pada dokument-dokumentnya yang menggunung.
"Aomine-san? Apa kau baik-baik saja?" tanya Sakurai kala melihat awan mendung disekitar Aomine adalah badai dengan efek petir yang menggelegar.
"Yeah, aku akan baik-baik saja jika mendapat petunjuk mengenai Virgine Frost atau paling tidak keberadaan mengenai joker lah," ujarnya dengan hembusan nafas lelah.
"Kalau tidak salah, Kise-san dulu pernah menemui seseorang dipasar gelap dekat dermaga," kata Sakurai tidak yakin.
Kening Aomine berkerut "Apa maksud mu dengan menemui seseorang?" Sakurai tampak mengkerut kala disentak oleh Aomine dengan suara yang tidak kira-kira.
"Kalau tidak salah, namanya Kasamatsu Yukio, broker bawah tanah yang ditemui oleh Kise." Aomine menatap Susa penuh selidik sebelum dia membuka mulut untuk bertanya,"Dia bisa kau temui jika kau berkeliling dermaga," lanjut Susa.
"Kenapa kalian tidak bilang dari kemarin-kemarin!" bentak Aomine sambil berlari keluar ruangannya setelah membawa kunci mobilnya.
"Ada apa dengan bocah sinting itu?" tanya Wakamatsu pada Sakurai dan Susa.
"Kami hanya bilang jika majalah kesukaannya sudah terbit kemarin," ujar Susa sambil tersenyum pada Wakamatsu.
"Ya, ampun. Bocah itu," ujar Imayoshi sambil mengurut dahi sabar.
.
.
To : J0K3R
From : SakusakuRyo
Dia sudah meluncur kesana, J0K3R-san. Maaf jika kami lama, mohon maafkan kami desu! Aku benar-benar minta maaf J0K3R-san sungguh kami tidak bermaksud begitu J0K3R-san, sumpah.
.
.
Aomine berdiri didepan sebuah tenda berwarna merah mencolok.
"Ah, halo tuan~ apa ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pria dengan rambut cepak yang disiir kesamping.
"Aku kemari mencari Kasamatsu Yukio, dan tentunya kau pasti tau kan dia dimana," ujar Aomine dengan wajah super seram hingga pria didepannya meneguk ludah terpaksa sebelum mengangguk mengiyakan.
Aomine hanya berbalut kaus ketat berwarna biru tua yang dibalut dengan jaket tebal. Celana berwarna coklat muda dengan banyak kantung yang telah pasti berisi berbagai senjata sebagai bawahan.
"Aomine Daiki, benar?"
Aomine tak tampak terkejut sedikit pun kala mendengar suara pria bermata biru menyapa indra pendengarannya.
Kakinya mantap menapaki lantai dibawahnya, mendekat dan duduk didepan pria itu.
"Kau?" tanya Aomine sambil menaikkan alis.
"Yang kau cari, Kasamatsu Yukio." Aomine menyeringai sebelum berujar, "Ku dengar Kise pernah mencari mu."
"Kise Ryouta, ya?" Aomine tak tau mengapa namun tiba-tiba saja tenda yang mereka tempati terasa sangat panas seolah di neraka.
"Ehem, maaf. Kami memang pernah bertemu namun hanya beberapa saat saat dia menanyakan mengenai J0K3R." Aomine sedikit tertarik dengan itu.
"Tapi sayang sekali, aku tak punya info apapun mengenai dia," lanjutnya sambil bersendekap dan menyender pada kursi.
Aomine mencoba berfikir, sejujurnya dia agak sanksi jika pria didepannya ini tidak tau mengenai J0K3R namun dia memutuskan untuk diam.
"Lantas, apa yang kau ketahui mengenai Virgine Frost?" tanya Aomine sambil menyodorkan cek diatas meja.
"Sebuah permata yang ditemukan direruntuhan Maya," balas Kasamatsu tak kalah sengit.
"Kurasa kau tak sebodoh itu untuk tau apa maksud ku sebenarnya," sua Aomine sambil berdecak sebal.
"Dan siapa kau berani berkata seolah menghina ku!" Kasamatsu bangkit dari kursinya, sementara Aomine malah bersandar pada kursi miliknya.
"Kau sangat tau apa maksud ku, Kasamatsu Yukio. Virgine Frost hilang beberapa hari lalu dan itu dikarenakan ulah J0K3R, dan kau," tunjuk Aomine pada Yukio "Adalah broker bawah tanah dan informan yang pasti tau megenai J0K3R dan keberadaannya," lanjut Aomine sambil menodong Kasamatsu dengan revolver.
Pria yang sejak awal berdiri dibelakang Aomine pun tak kalah panas.
"Cukup, Moriyama. Jangan buat ini jadi lebih buruk," ujar Kasamatsu.
Iris sebening lautan itu menatap Aomine sekilas sebelum akhirnya menatap jam yang tergantung dipenyanggah tenda.
"Arah jam 8 dari sini, 30 menit lagi. Pergilah ke toko souvenir bernama Fishing Man. Mereka mengadakan pelelangan barang disana, Virgine Frost ada disana- hei! Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara hoi!"
"Tsk, si bodoh itu! Bisa mampus kita dibunuh oleh J0K3R," raung Moriyama sambil bangkit dari jatuhnya karena didorong oleh tubuh Aomine.
Kasamatsu membungkuk untuk mengambil sebuah cek yang nyaris terjatuh "Ya, akan kita pikirkan cara melarikan diri dari J0K3R sambil jalan. Yang penting kita kaya mendadak sekarang~" Moriyama menatap Kasamatsu yang tampak berbinar tak jauh didepannya.
"Apa itu berarti aku bisa main perempuan sepuasku?" tanya Moriyama sambil mengibaskan poni.
Kasamatsu memutar bola matanya bosan sebelum berucap, "Ya, ya terserah pada mu. asal jangan kau kibaskan poni mu kemana-mana baunya membuat pencemaran udara bodoh!" dan sebuah tendangan menghantam punggung Moriyama telak hingga dia berguling-guling tak tentu arah.
.
.
To : J0k3r
From : KasaBro
Disini selesai J0K3R, Aomine melesat kesana.
.
.
Aomine berlari sekut tenaganya, matanya nyalang menatap kiri dan kanan. Otaknya terasa pusing diajak berfikir dan berlari bersamaa.
Derap langkah kaki dibelakangnya membuat Aomine mau tak mau memaksa masuk kelautan manusia yang asik bercengkrama.
"Hosh-hosh-hosh- fiuh~ hampir saja," ujar Aomine sambil menyeka keringat yang mengucur dari dahinya sebelum akhirnya dia bersandar pada bantalan kursi yang empuk yang didudukinya secara acak.
"Ao…mine?" panggil seseorang disebelah Aomine tak yakin.
Dengan segera Aomine mengambil sebuah pisau kecil sebelum akhirnya menoleh dan meletakkan pisau itu dengan cepat pada leher orang yang memanggilnya tersebut.
"Eh? Kagami?" Aomine melotot kala melihat siapa yang dia serang.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kagami pada Aomine setelah dia menurunkan pisaunya.
"Uh itu~ ya, tugas. Kau tau lah~" nada main-main milik Aomine membuat Kagami menatapnya lekat sebelum diam tak bersua.
Suara berisik dari belakang menyita perhatian Kagami, dengan segera Kagami menolehkan kepala kebelakang namun dicegah oleh tangan dim yang membawa kepalanya menghadap sepasang iris gelap.
"A-aomine?" panggil Kagami agak kaget.
Aomine diam tak menjawab, sejujurnya dia takut jika Kagami melihat kebelakang. Ya, beberapa orang berseragam tampak mencari keberadaannya.
Melihat Aomine yang sibuk dengan lamunannya Kagami memutuskan untuk menolehkan kepalanya lagi kebelakang.
Set
"Jangan, jangan lihat," ujar Aomine, yang hanya membuahkan tanda tanya besar pagi Kagami.
"Kenapa tidak boleh?" tanyanya pada pria didepannya.
Aomine tak bersua membuat Kagami memutar bola mata bosan sebelum dengan cepat memutar lehernya kebelakang.
Irisnya melebar melihat beberapa pria yang diketahuinya sebagai penjaga pelelangan ini.
Kagami Taiga, pemilik Taiger Pumpkin tak mungkin tak tau mengenai dunia malam Jepang dan isinya.
Kagami melirik Aomine yang menatapnya lurus dnegan wajah campur aduk.
"Pffft- ada apa dengan wajah mu? tegang sekali." Aomine tampak merengut dengan wajah bersungut-sungut saat melihat Kagami menahan tawa didepannya, walau harus Aomine akui Kagami tampak sangat menawan dengan kemeja kotak-kotak berwarna abu dan celana jeans biru tua.
"Kenapa?" pertanyaan Kagami membuyarkan pikiran Aomine.
"Tidak."
Aomine tampak begitu tegang kala melihat Kagami –tidak lebih tepatnya belakang Kagami.
Kagami dapat melihat beberapa pria yang sedang mencari Aomine dari pantulan mata pria itu.
Aomine bahkan tak sadar jika saat ini Kagami merepatkan tubuhnya dengan tubuh Aomine.
Cup
Kecupan pelan dibuat Kagami saat dia merasa sebal karena keberadaannya diacuhkan oleh Aomine.
"A-pa yang kau lakukan?" desis Aomine dengan terbata.
"Mencium mu," ujar Kagami polos sambil menatap mata Aomine.
Aomine mendesis tak suka. Well, tidak sepenuhnya benar sih, namun ini keadaan genting dan si bodoh berambut merah ini main kissu-kissu dirinya, memang kalau dia tengang si kunyuk satu ini mau tanggung jawab apa? Mengingat apa yang mereka lakukan minggu lalu Aomine sanksi jika Kagami ini tipe yang bertanggung jawab.
Aomine hampir saja akan berdiri dan kabur dari tempatnya berada jika kedua pundaknya tidak ditekan dengan kuat hingga dia merasa pantatnya tertanam dikursi.
"Ap-" sentakkannya terpotong saat bibirnya dilahap bulat-bulat oleh bibir peach didepannya. Iris birunya terbelalak tak percaya.
Aomine menggeram frustasi, terima kasih pada pria bernama kecil Taiga itu yang sudah dengan seenak jidatnya duduk diatas pahanya, hingga Aomine dapat merasakan miliknya yang terasa mengetat.
'Apa yang harus kulakukannn?' teriaknya dalam hati frustasi.
Bibir Kagami terlalu sayang jika diabaikan namun nyawanya sedang terancam sekarang. Terima kasih pada kebodohannya yang mengakar hingga dia langsung tancap menerobos lewat depan dan bukan belakang tadi.
Cahaya temaram lampu diatasnya tak membuat semua lebih baik, Kagami bahkan terlihat lebih cantik saat tubuhnya tertimpa keremangan cahaya. Hanya panggung didepan sana sebagai panggung utama pelelangan saja yang memiliki cahaya cukup terang.
Kagami makin berani untuk menjilat bibir Aomine dia bahkan menggerak gerakkan pinggulnya sensul.
'Bangsattttttt!' raung Aomine sebelum akhirnya dia memutuskan untuk memeluk pinggang Kagami dan ikut menggerakkan pinggul.
'Aku takkan kalah dengan mu brengsek!' maki Aomine dialam bawah sadarnya.
Aomine mulai bergerak maju untuk membalas serangan Kagami.
Lidahnya memasuki teritori mulut Kagami sebelum meliuk dan mengelus bagian dalam pipinya "Eeeegh~" leguhan nikmat dari Kagami membangkitkan serigai kejam Aomine.
'Lihat saja akan ku buat kau mabuk akan diri ku!' janji Aomine dalam hati.
Pantat bulat Kagami diemas kuat oleh Aomine dari luar celana jeansnya hingga tanpa sadar Kagami terpekik dalam ciuman mereka.
Kagami sama sekali tak keberatan toh milik mereka saling bergesekkan dibawah sana.
Tangan yang lebih putih merayap untuk meremas surai biru tua didepannya, sementara kepalanya agak dimiringkan mencoba mendapat rasa lebih dari Aomine.
Lidah mereka saling membelit hingga hisapan-hisapan kuat yang mampu membuat mereka menggerang singkat.
Elusan lembut dipunggungnya mampu membuat yang rambut merah menggeliat dan menggesekkan tubuhnya pada bagian depan Aomine, sebagai penanda minta lebih.
Panas terasa dipantat Kagami, sebuah tangan merayap dan mengelusnya dari dalam. Kagami memajukan dadanya sementara pantatnya didorong kebelakangkan agar Aomine bisa lebih leluasa merasai setiap inchi tubuhnya.
Mata mereka saling melihat lawan bermainnya, kilatan yang tak pernah dirasakan Aomine hadir kala melihat iris Kagami yang tampak lebih indah dari dekat.
Silva yang saling mereka lempar dari mulut kemulut tampak menetes sebelum tegukkan penuh semangat terlihat dilakukan Kagami. Bibirnya dihisap dan Kagami tak keberatan, dia malah semakin asik menempel erat pada Aomine.
"Eghhh~"
Kagami membawa tubuhnya menjauh kala merasakan sebuah jari panjang menerobos masuk liangnya.
"Kau suka?" tanya Aomine erotis.
"Aaagh~"
Aomine menyeringai saat menyadari jika Kagami hanya bisa mendesah saat ini.
Ya, kedua tangannya bergerak dibawah untuk melonggarkan lubangnya. Dua jari telunjuk dari masing-masing tangannya berada diliang hangat milik Kagami.
"A-ao~" desahnya manja.
"Well, dua jari takkan cukup sayang~" Aomine dapat melihat wajah Kagami memerah.
"U-ugh…Aomineee~"
Pelukan kembali tercipta saat Aomine mendekatkan tubuhnya dan menciumi leher jenjang milik Kagami. Aomine dapat mengira jika dunia Kagami terasa berputar sekarang.
Hisapan-hisapan kecil sebagai hadiah dilehernya serta gigitan tajam gigi taringnya berbuahkan lenguhan nikmat Kagami, yang Aomine akui cukup sexy.
Kedua tangannya yang bekerja untuk melebarkan lubang Kagami terasa begitu nikmat. Terang saja didalam terasa hangat begitu juga dengan suhu tubuh Kagami membuat Aomine semakin tak sabar untuk segera memasukkan miliknya.
"Ehem"
"Eh?" pekik keduanya bersamaan.
'Kayaknya aku pernah mengalami ini sebelumnya,' batin Aomine dengan wajah dongkol.
"Ya, ada apa?" Aomine dapat mendengar suara polos Kagami sementara dia memilih untuk menunduk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kagami. Perbuatan bejatnya pada lubang Kagami tertutupi oleh kemeja Kagami yang panjang hingga mereka hanya terlihat sedang duduk berpangkuan sambil ciuman. Toh ruang pelelangan tersebut sangat remang jika tak ingin dibilang tak berpencahayaan memadai kecuali dipanggung utama yang terang benderang.
"Ah, maaf mengganggu kegiatan kalian," ujar salah satu dari mereka tidak enak.
"Tak masalah, jadi ada apa?" balas Kagami tenang.
"Kami mencari seorang penyusup, apa Kagami-san tau?"
"Uh?" Kagami tampak mengkerutkan dahi sebelum membuat pose berfikir yang lucu menurut Aomine.
"Tidak,"jawaban Kagami membuat beberapa orang penjaga itu menatap pria dibawahnya.
"Ah, maaf kurang ajar. Boleh saya tau siapa yang bersama Anda itu? Sewaktu Anda datang tadi kami tidak lihat adanya orang lain," tutur penjaga itu.
Aomine berkeringat dingin sekarang untung ada Kagami yang mau mengelus punggungnya.
"Dia? Dia teman kencan ku, didepan tadi aku sudah bilangkan, kalian saja yang lupa."
"Uh? Benarkah? Ma~ jika begitu kami mohon maaf. Permisi,"pamitnya sebelum berlalu.
"Kau bilang begitu?" Aomine sendiri pun tk mengerti mengapa dia menggeram dan tampak marah begini. Mungkin karena perkataan Kagami yang seolah menunjukkan jika dia menunggu seseorang dan yang pasti bukan Aomine mengingat jika Aomine tak pernah memberi taunya jika akan kemari.
"Tidak, aku bohong." Kepala Aomine dibawa untuk sejajar dengan Kagami. Mata mereka bertubrukkan sebelum akhirnya Kagami memejamkan mata hendak menciumnya.
"Kau bohong," kata Aomine sebelum dia memalingkan wajahnya.
Kagami membuka matanya untuk melihat wajah Aomine yang tampak terluka.
"Apa maksud mu? aku tidak bohong," yakin Kagami pada Aomine.
"Lalu? Bagaimana mereka bisa langsung percaya begitu!" bentak Aomine sambil melepas tangannya pada lubang Kagami.
Kagami terkiki geli sebelum memeluk tubuh besar yang berotak kecil –mungkin didepannya.
"Aku pengusaha club malam, sudah wajar mereka percaya. Kan ini dunia yang ku masuki." Suara Kagami tardengar seolah berbisik membuat Aomine tanpa sadar mengelus surai Kagami dan balik memeluknya.
"Maaf, aku tak tau."
"Tak masalah, lagi pula pemilik Fishing Man sering mengundang ku kemari, karena itu aku bisa dapat banyak tiket soalnya aku tak selalu bisa datang." Kagami mengeluarkan tiket dari kantung celana jeansnya dibelakang yang membuat milik mereka kembali bergesekkan. Aomine tau Kagami sengaja bergerak begitu dan Aomine akui dia tidak keberatan.
"Kau lihat?" tanya Kagami dengan sedikit mendesah.
Aomine dapat melihat ada cukup banyak tiket yang digigit dimulut Kagami.
"Hem, aku melihatnya."
"Agh-" desah Kagami kala pantatnya ditampar tak begitu keras oleh Aomine hingga bagisn pribadi mereka kembali bergesekkan.
"Kau ingin disini atau ditoilet?" tanya Aomine dengan suara bergetar menahan hasrat.
"Disini saja, ditoilet bau," ujar Kagami sambil mengerucutkan bibir.
"Pfft- baik-baik." Aomine mencium pipi Kagami yang sedikit digembungkannya sebelum melahap bibir tersebut.
"Aomine~" panggil manja Kagami.
"Ya?"
"Ayo~" alis Kagami menyatu dan matanya tampak memohon.
"Kau yakin? Ini tempat umum Kagami, terlalu terbuka. Siapapun bisa melihat mu saat kau naik-turun nanti."
Kagami tampak mengerucutkan bibir ngambek kala Aomine mengatakan hal itu.
Malu? Yang benar saja Kagami tidak punya urat malu tau! Eh? Salah! Maksudnya yang kemarin saja Kagami tidak malu mengapa yang sekarang harus malu.
"Yang kemarin itu sepi Taiga," tutur Aomine dengan lembut sebelum akhirnya memeluk yang lebih pendek darinya.
"Jika kau mau disini ya, apa daya aku untuk menolak." Aomine dapat mendengar jika Kagami mendengus sebelum akhirnya dia mencium Aomine singkat dibibir.
"Mau memberi ku kehangatan dari rongga mu yang ini?" tanya Aomine sambil menyentuh dagu Kagami, jemarinya yang panjang masuk dan meliuk-luk bersama dengan lidah Kagami
"Aaaahuwaaaa~" suara Kagami yang terdengar bersamaan dengan liurnya yang menempel pada jemari Aomine.
"Kau tampak saangt bersemangat Taiger."
Kagami menarik jemari Aomine keluar dari mulutnya.
Liur Kagami jatuh dan menetes dari jari Aomine.
Tanpa diperintah Kagami segera menciumi leher Aomine dan menjilatnya lalu turun hingga kedada bidang serta berlekuk milik Aomine. Kagami dapat merasakan tekstur kain yang dijilati olehnya, kaus tipis yang bahkan takkan mampu membendung liurnya untuk bersentuhan manja dengan kulit dim dibaliknya. Kagami sesekali memandang Aomine nakal sebelum menggigit-gigit kaos tersebut.
"Disini sudah tegang ne~"
"Moshi mos~ disini Kagami Taiga desu! Siapa disana?" Aomine terkikik sebelum akhirnya mengacak suarai Kagami pelan.
Kagami menjilati celana Aomine namun tak membukanya dia memilih untuk menggoda Aomine dengan memebri gigitan-gigitan kecil pada miliknya yang menengang dari luar celananya.
"Jangan main-main Taiga! Lakukan!" sentaknya sambil menjambak rambut merah-hitam, sementara pemiliknya malah tertawa penuh jenaka dengan frekuensi rendah.
"Jangan keras-keras, nanti yang lain bisa dengar." Kedipan mata Kagami membuat Aomine melotot.
Oh, Tuhan~
Bertapa santainya dia.
Kagami segera melepas kancing celana Aomine sebelum akhirnya membuka zippernya, underwear berwarna merah keorangean terlihat gelap dipencahayaan. Dengan satu tarikan penuh semangat iris Kagami sudah disapa halo oleh milik Aomine yang sudah berdiri.
"Ara? Kau sudah tak sabar menyapa ku, hem?" tanya Kagami pada milik Aomine sebelum tangan kirinya mulai menggenggam kejantanan tersebut.
Gerakkan ringan pada miliknya mampu membuat Aomine mendesis ringan. Suasana temaram lampu ruang pelelangan yang tak begitu terang menyamarkan kegiatan mereka.
"Baiklah para hadirin, akan saya buka pelelangan kali ini dengan patung dari dataran China yang sudah tersohor …"
Teriakan berdenggung dari atas panggung tak membuat Kagami mengalihkan perhatiannya dari milik Aomine, sementara yang memiliki diam menatap panggung walau tangan kirinya dengan bringas menjambak surai Kagami dan memaju mundurkan kepala tersebut.
"Ugh-eeegh~" Kagami terlihat menitikan air mata karena gerakan kasar Aomine pada rambutnya.
Tenggorokannya terasa sakit karena harus bertabrakkan dengan milik Aomine, beberapa kali dia tersedak namun tak dapat terbatuk karena gerakkan Aomine yang tak memperbolehkannya untuk sekedar berhenti. Nafas Kagami tak beraturan sementara lidahnya sebisa mungkin menjilat milik Aomine didalam mulutnya.
"Hisap Taiger," perintah Aomine dengan nada dingin. Kagami menurut dengan menghisap milik Aomine sebisanya dengan kuat.
Setelah banyak gerakkan maju mundur dikepalanya yang membuatnya pening akhirnya Aomine mengeluarkan cairannya yang kental tepat diwajah Kagami.
"Ugh…uhhhh…." Lenguh Kagami pelan, wajahnya memerah dengan mulut terbuka dan wajah penuh semen, belum lagi tubuhnya yang terlihat lelah karena melakukan blow job dengan tempo yang tidak singkat.
"Hanya segitu Taiga?" mendengar tantangan Aomine, Kagami pun bangkit. Mencoba memanjat tubuh tegap didepannya.
"Ugh…Ao~" panggilnya manja.
"Kau seperti kucing Taiga, kucing betina." Jilatan ditelinga Kagami membuat tubuhnya tegang.
Tangan dim Aomine dengan segera melucuti celana jeans Kagami sebelum akhirnya telapak tangannya bersentuhan langsung dengan kulit halus milik Kagami.
"Bukankah aku terlalu beruntung karena mendapat jack pot?" tanya Aomine sembari menjilat tengkuk Kagami.
"A-aku…"
"Kau punya kebiasaan buruk dengan tidak pernah memakai celana dalam."
"Aaaaagh~" erangan nikmat dikeluarkan Kagami saat merasakan milik Aomine menusuk lubangnya.
"Geez, didalam sepertinya sangat hangat dan ketat Taiga, padahal ini belum semua." Senyum remeh terukir saat mata Aomine menangkap diamnya Kagami sambil memejamkan mata.
Gerakkan tiba-tiba Aomine untuk memasukkan keseluruhan miliknya membuat Kagami terlonjak kaget. Hampir saja dia berteriak jika Aomine tidak membungkam mulut Kagami dengan bibirnya, sedangkan tangan Aomine berada dipinggang Kagami .
"Aku bergerak," ujar Aomine penuh penekanan.
"Ah…ugh…Aoo~"
"Daiki, Taiga. Panggil aku Daiki!" perintahnya sambil menggigit pundak Kagami dengan sepenuh hati hingga berdarah.
"Da-iki ah…da…ugh…" pinggang Kagami diputar pelan oleh tangan Aomine yang berhasil membuat Kagami lepas kontrol.
Suara keceplak halus dan desahan penuh nafsu dari Kagami terdengar menyapa telinga suka itu, Aomine suka bagaimana Kagami yang memeluknya dengan posesif sambil mendesahkan nama kecilnya, Aomine suka bagaimana Kagami bergerak tak nyaman dengan pandangan memohon kala dia melambatkan tempo hujamannya. Aomine suka, bagaimana harum tubuh Kagami yang tercampur dengan wangi tubuhnya, Aomine juga suka bagaimana rapat dan hangatnya lubang mungil Kagami yang menjepit dan meremat erat miliknya. Aomine suka, terlalu suka, hingga dia sampai pada tahap ketagihan.
"Aaaahhh~" desahan lebih keras dikeluarkan oleh Kagami saat Aomine dengan bringas menusuk lubangnya.
Kagami bahkan sudah hampir akan pingsan karena terlalu nikmat ditusuk Aomine.
Plak
"Hei, jangan tinggalkan aku sendiri," ujar Aomine sambil menampari pantat putih Kagami.
"Ugh, Daiki~ sakittt.." ujarnya pelan saat pantatnya terasa panas.
"Kalau begitu kau harus tetap terjaga karena aku masih ingin mendengar mu meneriakkan nama ku saat kau datang."
"Ugh…Da-iki~"
Hujaman penis Aomine benar-benar membuat Kagami merasa melayang. Lehernya yang terbuka dijilat dengan sensual sementara kemejanya dibuka kasar kemudian nipplenya dimainkan oleh kedua tangan Aomine. Cubitan dan pilinan didadanya membuat tubuh Kagami membusung kedepan sementara pantatnya didorongnya kebelakang.
Punggung mulusnya dirabai oleh Aomine dengan perlahan hingga berhenti ditulang ekornya. Jemari panjang itu dilesakkan masuk bersama dengan penis Aomine yang masih bekerja didalam.
Kagami merasa begitu menakjubkan kala Aomine menumbukkan miliknya dengan sekuat tenaga. Desahannya yang diperpelan –karena mereka masih ditempat umum terasa mencekiknya. Kagami pusing, ingin berteriak bertapa hebatnya Aomine namun apa daya mereka didalam ruang publik.
"Ugh, Daiki…aku ingin~" Kagami merengsek untuk lebih dekat dengan dada Aomine sebelum akhirnya memeluknya mesra.
Kemeja abunya terbuka dan menampakkan dadanya dengan nipple membusung dan leher jenjang penuh bercak kemerahan. Rambut merahnya acak-acakan hingga menutupi matanya membuat tangan Aomine dengan spontan terulur untuk menyisirnya kebelakang.
Tangan kiri Aomine menopang punggung Kagami sementara tangan kananya sibuk memompa dua bola kembar miliknya, sementara lubang Kagami masih asik dihujam penis Aomine.
"Kau sudah sampai batas mu?" pertanyaan Aomine berbuah desahan serta anggukkan ringan Kagami.
"Ok, keluarkan." Iris Kagami melebar saat merasakan sumbatan pada miliknya.
"Agh- Daiki….jangan…" Kagami bergerak-gerak tak nyaman. Bagaimana tidak walau Aomine tadi menyuruh untuk mengeluarkan namun jalan keluar spermanya disumbat dengan telunjuk Aomine.
"A-gh…Daikiii~" desahan Kagami makin tak terkontrol karena gerakkan acak Aomine. Perutnya terasa melilit dan miliknya seolah ingin meledak.
"Tolong…biarkan aku keluar….Agh~ eeeenghhh~"
"Bukankah aku sudah bilang keluarkan saja?" nada main-main Aomine membuat Kagami tak berkutik.
"Bagaimana? Kau menyumbatnya."
"Well, itu urusan mu." seringai Aomine menjadi awal hujaman miliknya yang kembali menguat.
"Agh-agh…ooogh~"
Kagami hanya bisa mendesah sambil sesekali terpekik. Kedua tangannya memeluk tubuh Aomine erat sebelum akhirnya.
Spurt~
Cairan hangat berersatu dengan geraman Aomine sebelum akhirnya sumpalan pada milik Kagami dilepaskannya.
"Eeeegh~" Kagami bergerak gerak-tak nyaman tapi akhirnya dia memilih untuk diam sambil memeluk tubuh Aomine.
Kagami terisak dengan air mata yang melelah tanpa sadar.
Elusan dipunggung Kagami tak membuatnya berhenti terisak pelan.
"Kau baik Taiga?"
Tak ada jawaban.
"Ok, maafkan aku. Aku sudah keterlaluan tadi," lanjutnya sebelum akhirnya membawa dagu Kagami agar wajahnya mendongak.
"Ugh" Kagami memalingkan wajah tak mau menatap Aomine, wajahnya memerah dengan mata yang sembab berlinangan air mata. Bibirnya bengkak dan nafasnya naik-turun agak memburu dengan senggukkan kecil.
"Kau sangat imut kalau ngambek."Tubuh Kagami dipeluk hingga kepala Aomine berada diceruk leher Kagami.
"Maaf, aku tau aku salah. Rasanya benar-benar berbeda saat bersama mu, aku jadi tak mau kau duluan terus meinggalkan ku," ujar Aomine tulus.
Kagami masih terisak walau sedikit lebih pelan. "Hei, dengar. Aku takkan mengulanginya lagi, ok! Aku janji." Dahi mereka disatukan Aomine. Kagami diam dengan bibir mengerucut sementara Aomine tersenyum saat melihat pipi Kagami yang memerah samar.
"Kau janji?" tutur Kagami memastikan sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
Kekanakan memang dan Aomine dengan sigap melahab jari telunjuk Kagami.
"Huwaku juwanji," balas Aomine dengan jemari Kagami masih dimulutnya. Pipi Kagami memerah sebelum mengangguk mengiyakan.
"Nah, kita memasuki acara puncak hadirin, kali ini kami akan melelang bintang utama kami. Permata Virgine Frost~" ucapan pembawa acara didepan sana membuat perhatian Aomine pada Kagami teralihkan.
"Pakai pakaian mu Taiga," desisnya dengan mata nyalang menghadap kepanggung.
Kagami menatap Aomine dengan wajah binggung namun tak membantah, toh tubuhnya terasa kedinginan juga.
.
.
Tangan Kagami ditarik oleh Aomine dengan tidak lembut, Kagami bahkan yakin jika nantinya akan berbekas kala dirumah. Kagami ingin bertanya tapi tak tau harus dari mana.
Kakinya terus dipacu untuk menyamakan langkah dengan Aomine. Beberapa tubuh bahkan merekalewati dengan paksa.
"Daiki?" panggil Kagami setelah mereka akhirnya sampai juga diluar dermaga.
"Masuk Taiga." Kagami menjerit kala tubuhnya didorong masuk kemobil berwarna hitam dengan paksa.
"Kita akan kemana?" tanya Kagami panik.
Kagami masih memperoses semua yang terjadi beberapa menit lalu jika kalian ingin tau.
"Entah, kita bisa kemana pun. Asal bukan disini sekarang," bakas Aomine sambil menginjak pedal gas. Kagami tak bertanya lagi.
Pemandangan lautan dari kaca mobil sedikit mengalihkan perhatian Kagami. Seingat Kagami, tadi Aomine mengajukan penawaran hingga akhirnya permata Virgine Frost tersebut dapat menjadi miliknya, namun seusai Aomine turun dari panggung setelah menyerahkan cek mata beriris merah Kagami melihat adanya banyak personel kepolisian yang tiba-tiba datang menerobos, kemudian dia diseret Aomine menjauh dari toko souvenir yang menjadi tempat pelelangan tersebut.
Dddrrrrttt
Kagami membuka ponselnya yang bergetar "Dari teman ku," ujar Kagami saat melihat Aomine meliriknya dengan tajam.
"Sungguh," tandasnya sambil tersenyum untuk kemudian melepas sit beltnya dan mencium pipi Aomine sekilas.
"Ya-ya, terserah," putus Aomine sembari kembali fokuspada jalanan didepannya.
.
.
Author : -pingsan-
Kagami : yare-yare~ padahal dia yang membuat fic ini kok malah dia yang pingsan –sweetdrop-
Aomine : sudah abaikan saja dia, pertama-tama kami mau mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada semua reviewer, follower dan favoer(?) serta semua yang sudah mau berkunjung di fic ini –burning-
Kagami : semangat sekali kau Aho?
Aomine : kan kita habis duet di extra game –little smile-
Kagami : -blusning-
Aomine : baik yang pertama ada banyak yang tanya arti 'Anata' itu apa benar? Kalau begitu tanya Kagami saja kan dia yang manggil –lirik Kagami-
Kagami : -blushing –pingsan –
Aomine : yare? Kok malah ikut author sih –sweetdrop- ya sudah akan aku jelaskan sebisa ku jadi 'Anata' itu artinya banyak salah satunya 'kamu' atau 'Anda' kalian bisa perhatikan kalau nonton anime secara cermat pasti banyak yang manggil anata untuk kata ganti 'kamu' walau tidak terlalu umum tapi beberapa juga nyebut 'Anata' itu sebagai sebutan 'Sayang'/'Sayangku' pada istri, suami atau anak kecil. Nah di chap sebelumnya kan Kagami jadi Geisha atau penghibur ingat penghibur loh ya! Bukan pelacur -_- nah karena Geisha itu uda ada sejak zaman dulu di Jepang jadi author ingin Kagami jadi sopan sopian begitu jadi Kagami manggilnya 'Anata-kun' yang sufix kalian pasti uda tau semua kan. Nah itulah artinya, lebih jelasnya kalian bisa cari di google soalnya aku gak pinter nerangin –garuk kepala-
Kagami : -bangun dari pingsan- nah bagi kalian yang merasa sudah review menggunakan akun silahkan cek PM kalian masing-masing, kami juga mengucapkan bayank-banyak terima kasih pada AoKagaKuroLover, suira seans , melani. , Kuro Zoka, stlvyesung, nana,dan Miss Chocoffee dan pada kalian semua yang sudah mau baca fic ini –little smile- ah dan buat suira seans mungkin kalau kamu baca ulang kamu bisa faham alurnya dan itu alur maju semua kalau ada flash back akan diberi tau authornya kalau gak kalian bisa cambukin authornya kok –ketawa sadis-
Aomine : -merinding Kagami- nah sekian dari kami! Semoga kalian tidak bosan! Sampai jumpa~
Kagami : bye-bye –lambaiin tangan-
.
.
TBC
.
.
