Disclaimer: Naruto adalah mahakarya Masashi Kishimoto.
Bab III
Kegagalan
.
.
Naruto tampak mengerutkan dahinya ketika membaca lembaran kertas di depannya. Terkadang ia heran, kenapa tumpukan kertas ini tidak pernah berkurang meski ia terus-menerus mengerjakannya. Pada waktu-waktu seperti inilah ia akhirnya paham, mengapa Nenek Tsunade dulu suka melarikan diri dari kantornya ini. Awal-awal sewaktu pria pirang itu baru menjabat, ide untuk melarikan diri tampak menarik, tetapi ia tidak bisa melakukannya. Bukan berarti kekuatan dan kecepatannya di bawah Hokage kelima, tetapi lebih kepada kemampuan tangan kanan mereka berbeda. Setiap kali Naruto memiliki keinginan untuk melarikan diri, Shikamaru seperti sudah bisa memprediksinya, dan dengan jurus bayangannya, pria berambut hitam itu akan mengikat Naruto pada tempatnya. Pada akhirnya, Hokage ketujuh itu akan menyerah, dan duduk diam mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya.
Naruto menghela nafas panjang, lalu bertopang dagu. Dirinya kembali mencoba membaca baris demi baris lembaran kertas di depannya, tetapi konsentrasinya kembali buyar. Baru tiga hari Hinata pergi dalam misi, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun. Ia melirik ke arah tempat bekal yang ada di mejanya. Mewakili ibunya, Himawari bangun lebih awal setiap harinya untuk membuatkan bekal dirinya dan kakaknya. Bukannya ia tidak berterimakasih ataupun tidak senang dengan perhatian yang diberikan anak perempuannya, tetapi rasa masakan anak perempuan yang baru belajar, dengan rasa masakan istrinya yang telah berpengalaman, jauh berbeda.
Ia menatap lagi dua onigiri yang masih tersisa di tempat bekal itu. Mengapa onigiri bisa terasa manis? Ia ingat bahwa anak perempuannya itu menyukai makanan manis, seperti ibunya, tapi ini 'kan nasi. Pria itu menghela nafasnya lagi. Beberapa tahun terakhir ini, ide untuk makan ramen instan sudah hampir tidak ada di kepalanya lagi. Apa untuk kali ini saja ia meminta salah seorang bawahannya untuk membelikan ramen instan?
Suara pintu kantor yang dibuka membuyarkan lamunannya, dan ia segera mendongak dengan wajah penuh harap, untuk melihat siapa yang masuk. Wajahnya kembali berkerut setelah melihat Shikamarulah yang masuk, dan bukan orang yang ditunggunya.
"Kenapa dengan mukamu itu, Naruto?" tanya orang yang menjadi tangan kanannya itu dengan nada sedikit mengejek.
"Tidak apa-apa. Hanya kalau melihat wajahmu, yang tampak adalah tumpukan pekerjaan. Tidakkah kau lihat bahwa kertas-kertas ini belum berkurang sedikitpun?" jawab pria pirang itu dengan nada kesal.
"Hmm? Apa ini? Seorang pria dewasa merajuk ditinggal istrinya?" tambah Shikamaru dengan tersenyum jahil.
"Siapa yang merajuk?!" Naruto bertanya dengan wajah bersemu merah, lalu menambahkan, "Ini wajah stress, tahu!"
"Hahahaha… sekarang kau tahu rasanya ditinggal berhari-hari, 'kan? Cobalah kau pikirkan perasaan Hinata atau anak-anakmu yang selalu kau tinggal berhari-hari," ucap Shikamaru lagi.
"Dan salah siapa sehingga aku terus terkurung di kantor ini?" jawab Naruto tidak mau kalah.
"Hei….. aku 'kan sudah menawarkan beberapa solusi agar kau bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluargamu," sanggah rekannya itu.
"Seluruh penduruk desa ini juga keluargaku sekarang. Aku harus berusaha yang terbaik sehingga semuanya merasa bahagia dan terperhatikan," jawabnya dengan nada serius.
"Tidakkah Hinata, Boruto, dan Himawari juga bagian dari penduduk desa?"
"Tentu saja. Karenanya hanya dengan bekerja maksimal, maka mereka dan semuanya akan hidup bahagia. Hinata dan anak-anakku sangat paham akan hal itu, dan mereka mendukungku," jawab Hokage itu dengan mantap. Shikamaru hanya menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.
Setelah melihat bahwa ahli strategi itu sudah tidak ingin melanjutkan topik tentang 'membagi waktu dan prioritas' yang entah mengapa sering sekali diungkit-ungkitnya belakangan ini, Naruto kemudian bertanya, "Apakah sudah ada kabar dari tim pelacak?"
"Belum," jawab pria berambut hitam itu, "Tetapi tugas untuk melacak sesuatu yang tidak tampak, memang bukanlah hal yang mudah. Karenanya, hanya kepada tiga orang itu, dengan kemampuan dan pengalaman merekalah, aku menaruh harapan besar," tambahnya sambil menerawang melalui jendela kantor Hokage.
Naruto mengikuti pandangan temannya itu. Sambil mengamati hutan di kejahuan pria itu berbisik pelan, "Hinata…"
.
.
Bulan bungkuk menyinari langit tanpa bintang malam itu. Langkah-langkah kaki terdengar berlari cepat, melompat-lompat di antara dahan-dahan pohon. Tampak tiga bayangan yang melesat beriringan dengan kecepatan tinggi. Bayangan yang paling depan tampak memberikan signal dengan tangannya, dan salah satu bayangan kemudian tiba-tiba melesat ke arah kiri, sementara dua bayangan lain segera turun ke antara semak-semak.
Dengan nafas tersengal-sengal, Hinata segera mengeluarkan gulungan pesan darurat, menuliskan dengan cepat beberapa kalimat singkat, dan membuat beberapa segel tangan. Untaian kalimat itu segera berubah bentuk menjadi seekor burung dan kemudian terbang menghilang di langit malam, sedangkan gulungan yang telah dipakai kemudian berubah menjadi abu. Bunyi rumput diinjak di belakangnya, membuat wanita itu segera berbalik dengan kunai terhunus, tetapi kemudian ia turunkan kembali setelah melihat wajah Ro.
"Hinata-dono, ini burung elang yang kau minta," ujarnya sambil menunjukkan burung elang muda yang meronta-ronta dalam ikatan di tangan pria berbadan besar itu.
Hinata lalu melirik ke arah rekan wanitanya, dan mengangguk. Dengan cepat Yuki mengambil burung itu, sedikit mengubah penampilan elang itu, memasangkan kantung kecil berlambang Konoha pada kakinya, dan kemudian segera melepaskan kembali.
"Aku tidak mengerti, mengapa posisi kita bisa diketahui musuh?" tanya Yuki setelah melepaskan burung itu, dan melirik ke arah Ro, yang menjawabnya dengan angkatan bahu.
"Aku merasakan firasat buruk," jawab Hinata, "Aku harap pesan kita dapat diterima oleh Hokage," tambahnya. "Naruto-kun, situasinya ternyata lebih rumit dari yang telah diperkirakan Shikamaru" ujarnya dalam hati.
Ia kemudian berkata kepada rekan satu timnya, "Sekarang prioritas kita adalah kembali ke desa dengan selamat. Sebisa-bisanya kita menghindari kontak fisik," istri Hokage itu menatap ke arah Ro sambil memberikan perintah lanjutan, "Ro, ubahlah cakra kita sampai tidak terlihat. Aku akan memandu dengan menggunakan byakugan-ku, tetapi tetaplah siaga seandainya kita tidak bisa menghindar."
Wanita itu mengabaikan wajah bingung yang ditampilkan kedua rekannya. Ya, seharusnya dengan byakugan, mereka dapat menghindari pertemuan dengan musuh. Akan tetapi, dalam kasus ini, ada yang berhasil menghalangi pandangan byakugannya. Hal yang kemungkinan, meskipun Hinata enggan mengakuinya, hanya dapat dilakukan oleh pengguna byakugan lain. Adanya kemungkinan pengkhianat dalam klan Hyuga membuat hatinya sangat tidak senang.
"Byakugan!" bisiknya. Pembuluh darah di sekitar pelipisnya menimbul, dan ia pun mulai memindai kondisi sekitarnya. Di depan mereka terbentang padang rumput kira-kira 1 kilometer persegi luasnya. Apabila melintasi padang rumput itu, mereka dapat lebih cepat tiba ke desa tetapi risiko posisi mereka terpantau pengejar lebih besar. Di sisi padang rumput itu ada deretan pohon, lebih aman, tetapi membutuhkan waktu dua sampai tiga kali lebih lama. Hinata memperluas jangkauan pandangannya. Ia pun menemukan 3-4 cakra yang sedang berpacu ke arah mereka kira-kira empat kilometer jauhnya. Wanita itu memerhatikan bahwa putaran cakra para pengejarnya itu tampak tidak normal. Istri Hokage itu menimbang-nimbang pilihannya dengan singkat. Dengan kondisi pengejar yang semakin mendekat, waktu menjadi hal yang krusial. Akhirnya ia memutuskan, "Ke arah sini!" perintahnya, dan mereka bertiga pun melesat bersama.
Belum jauh mereka berlari melewati padang rumput, tiba-tiba Hinata mengangkat tangannya, memberikan signal agar mereka berhenti. Sekitar 40an shinobi telah mengepung mereka. Wanita itu melepaskan kekuatan byakugan-nya, dan dahinya mengerenyit bingung.
Bagaimana bisa?
"Wah… wah…. Rupa-rupanya salah satu tikus pengganggu adalah orang penting," ucap salah satu shinobi lawan dengan nada congkaknya. Pemuda itu pun tampil ke depan, dan dengan bantuan cahaya rembulan, Hinata mengenalinya.
"Ryu?" ucapnya dengan mata terbelalak.
"Suatu kehormatan dapat bertemu Anda di sini, Hinata-sama," jawab pemuda berambut hitam panjang yang diikat ekor kuda itu, "Tetapi, sepertinya Anda sudah melihat hal-hal yang tidak seharusnya diketahui," ucapnya lagi sambil menyeringai. Ia menunjukkan bangkai 'burung elang pembawa pesan' yang kemudian dijatuhkannya ke tanah. " .ck….. Cerita tentang apa yang Anda lihat, tidak boleh sampai meninggalkan tempat ini," ucapnya dengan nada penuh ancaman.
"Mengapa seorang Hyuga, bisa ikut terlibat dalam kegiatan seperti ini?" tanya wanita itu sambil tetap menjaga ekspresi wajahnya tetap datar.
"Mengapa? Hahahaha….. Seharusnya Anda bisa menanyakan pada suami Anda, bukan?"
"Maksudnya?"
"Kita ini shinobi!" jawab pemuda itu dengan tatapan tajam, "Kita ini manusia dengan kekuatan istimewa! Mengapa kita harus tunduk pada penguasa bodoh tanpa kekuatan? Mereka menginjak kepala kita dengan seenaknya! Ya, mereka itu! Dengan perut tambun, dengan keserakahannya, dengan sombongnya! Padahal mereka bisa apa?! Kedamaian antar negara ini datang melalui tetesan darah para Shinobi! Lalu seenaknya mereka bisa membungkam kita untuk menurut di bawah kakinya? Kitalah yang seharusnya memimpin dunia ini!" jelasnya lagi dengan panjang lebar dan berapi-api.
Hinata melirik sebentar ke arah Ro dan melihat bahwa pria itu menyadari adanya kemiripan masalah dasar yang dihadapi mereka kali ini, dengan misi pria itu dulu. Wanita itu kembali memusatkan perhatiannya pada pemuda Hyuga di depannya. Melihat bahwa kata-kata yang dilontarkan pemuda itu mendapatkan persetujuan dari belasan shinobi-shinobi muda lain di sekeliling mereka, ia dapat menyimpulkan bahwa ada yang mencekoki anak-anak ini dengan doktrin negatif dan kebanggaan semu masa perang.
Anak-anak yang lahir setelah masa perang ini seharusnya tidak menyimpan rasa dendam. Di satu sisi, mereka juga tidak tahu betapa mengerikannya masa-masa perang, dan betapa menyakitkannya rasa kehilangan dan rasa kebencian yang terus membetuk lingkaran tak berujung. Naruto-kun berhasil menghentikan lingkaran setan itu, dengan perjuangan yang tidak mudah, dan memastikan agar anak-anak ini dapat tumbuh dengan aman dan nyaman. Seharusnya. Akan tetapi, siapapun dalang yang ada di balik kejadian ini, sepertinya amat memahami dan berhasil memanipulasi psikologis anak-anak remaja, yang kebanyakan masih dalam masa-masa pencarian jati diri.
"Dan aku….. Aku akan memastikan klan Hyuga sebagai yang terkuat, menjadi pempimpin dari semuanya!" ucapnya lagi dengan mata berkilat.
Mata Hinata menyipit, "Hyuga tidak serendah itu!" Emosinya sempat sedikit tersulut karena kepicikan pola pikir pemuda di depannya ini. Sejak awal, tiap anggota klan selalu mendapatkan penjelasan bahwa sebagai Klan terkuat bukan berarti harus memimpin di depan, dan secara membabi buta menjatuhkan atau menekan yang lain dengan kekuatan. Klan terhormat Hyuga, sejak dulu selalu menyokong dan bersumpah setia mendukung Hokage yang terpilih, yang pada akhirnya mendukung pemerintahan negara Hi yang sah.
Tunggu sebentar, sepertinya ada maksud lain dari kata-kata pemuda ini.
"Memang tidak," seringai Ryu, "Karenanya, sebuah keputusan yang tepat bahwa Anda yang lemah ini, disingkirkan dari posisi sebagai penerus klan."
"Jaga bicaramu, bocah!" Ro membentak dengan marah. Hinata harus mencengkeram pergelangan tangan pria itu untuk mencegahnya melesat maju dan kemudian jatuh dalam jebakan pemuda di depannya ini. Sudut bibir wanita keturunan Hyuga itu sedikit tertarik ke atas. Ryu Hyuga ini cerdas juga dalam memainkan emosi lawan rupanya. Memang sangat berbakat. Karenanya, ia berjanji dalam hati, bahwa pemuda itu harus bisa ditarik pulang hidup-hidup untuk dididik ulang.
"Cih! Gagal ya," wajah Ryu berubah kesal. Ia lalu menggerakkan tangannya, dan tanah berumput di hadapan mereka sebagian berubah menjadi 4 shinobi muda dengan badan yang kekar dan berotot.
Genjutsu? Bukan, ini kemampuan yang lain.
Yuki dan Ro yang berada di belakang Hinata tampak terperanjat. Ya, setelah jurus apapun itu namanya terlepas, mereka sekarang dapat melihat bahwa sebenarnya lawan mereka total tidak lebih dari 10 orang. Tetapi, melihat 4 diantaranya sudah memiliki tubuh yang aneh, tidak tertutup kemungkinan sisanya juga memiliki kekuatan yang sama misteriusnya. Rangkaian kejadian yang akhir-akhir ini terjadi, tidak pernah menyisakan satu pun penyintas yang bertahan hidup. Artinya, kondisi mereka saat ini sangat genting.
Ketiga Jonin itu bersiap-siap untuk melawan. Byakugan Hinata sudah kembali aktif, dan saat ini dirinya sedang memilah, lawan mana yang bisa dilumpuhkan dengan sekali serangan. Ia pun mulai mengumpulkan cakra di ujung-ujung tangannya.
Kanan.
Dua orang.
Tanpa menunggu aba-aba, Hinata melemparkan jarum cakra padat ke arah pusat cakra kedua orang sasarannya.
GUSRAKH!
Badan dua orang shinobi muda itu terlempar ke belakang begitu terkena jarum cakra secara presisi. Segera aliran cakra mereka terkunci seluruhnya, dan mereka pun roboh.
Terkejut dengan serangan yang tiba-tiba, empat shinobi muda di sekitar mereka yang sudah mengaktifkan kekuatan anehnya, langsung menerjang maju dan segera dihadang oleh Yuki dan Ro. Shinobi yang lain tampak mulai mengaktifkan kekuatan masing-masing. Hinata sendiri langsung melaju ke arah Ryu, sambil melemparkan jarum cakra, bermaksud melumpuhkan pemuda itu. Akan tetapi, sama-sama telah mengaktifkan byakugannya, dengan mudah Ryu menghindari jarum cakra tersebut. Laju Hinata terhenti. Ia harus menghindari pukulan mematikan yang diarahkan ke kepalanya, dengan menunduk dan memutar badannya ke arah samping kiri bawah tubuh penyerangnya.
"HAKKE KUSHO!" serunya, sambil melontarkan udara padat dari telapak tangan kanannya. Tetapi, di luar dugaan, jangankan terpental seperti yang ia harapkan, tubuh penyerangnya itu bahkan tidak bergeser satu sentimeterpun. Wanita itupun berguling ke arah luar menghindari pukulan lawannya, yang menghantam tanah dan membuat lubang besar di situ.
"Okeeyy….. kekuatan anak-anak ini jelas mematikan," pikirnya dalam hati. Adrenalin terpompa ke seluruh tubuhnya, dan Hinata mengatur aliran cakranya. Wanita itu mengkalkukasi tiap-tiap langkah di kepalanya. Sebisa-bisanya, ia hendak meminimalisir terjadinya korban jiwa. Tentu saja, ia sendiri juga harus tiba di rumahnya dengan selamat, karena ia punya janji yang harus dipenuhi.
Dengan tekad yang berkobar di dadanya, Hinata maju menerjang para shinobi muda itu.
.
.
Naruto membuka pintu rumahnya dan berseru, "Ayah pulang!"
"Selamat datang kembali, Hokage-sama," ucap seorang wanita berambut hitam panjang yang kebetulan sedang berada di selasar rumahnya. Sepertinya ia sedang membersihkan tempat penyimpanan sepatu.
Naruto menatap wanita itu, lalu membalas sapaanya, "Ah! Ao, terimakasih banyak atas bantuannya. Maaf kami merepotkanmu."
Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Sama sekali tidak merepotkan, Hokage-sama. Saya merasa terhormat dipercaya untuk mengurus anak-anak, dan rumah Anda serta Hinata-sama."
Pria berambut pirang itu terkekeh dan menggaruk kepalanya. Setelah selama ini, dirinya terkadang masih merasa jengah dengan segala formalitas yang diperlihatkan oleh para pelayan keluarga Hyuga. Yah, apa mau dikata, istrinya 'kan memang turunan ningrat.
Tidak berapa lama, Himawari berlari keluar dari ruang keluarga dan segera menyambutnya dengan gembira, "Selamat datang kembali, Ayah!" ucapnya. Sementara Boruto hanya memunculkan kepalanya untuk menatap sebentar sosok 'ayahnya', lalu mendengus, "Hmph…..Kagebunshin. Setiap hari yang pulang hanya kagebunshin."
"Boruto…..," klon Naruto ber-sweat drop, lalu menatap mata anak perempuannya yang menatapnya dengan mata penuh tanda tanya. Klon Naruto itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil terkekeh pelan, "Maaf, Hima, Ayah masih ada hal yang harus dikerjakan di kantor."
Sesaat, Himawari menunjukkan sorot mata kecewa, tetapi segera dihilangkannya. Ia pun menggeleng kuat-kuat sebelum menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Apakah Ayah mau kubuatkan cemilan malam?"
Mata klon Naruto berkaca-kaca secara komikal, ia pun mendekap Himawari sambil menempelkan pipinya pada pipi anaknya itu, "Uuhh…. Kau memang baik dan manis sekali, Hima….. persis ibumu…."
"Aduuh… Ayaaahh….." jawab Himawari sambil memeluk klon ayahnya itu.
"Hmph…. Hei Ayah bodoh, apa sudah ada kabar dari Ibu?" Boruto bertanya dengan ketus, masih dari posisinya di ambang pembatas ruang keluarga dan selasar.
"Belum, tetapi tak perlu khawatir. Ibumu itu kuat sekali. Dia pasti akan baik-baik saja. Segera setelah menyelesaikan misinya, ia pasti akan pulang," jawabnya sambil tersenyum. Dalam hatinya, Hokage ketujuh ini mempertanyakan sejak kapan anak laki-lakinya memiliki gaya bicara seperti si bedebah Sasuke itu. Apakah karena ia terlalu lama menghabiskan waktu berlatih dengan rivalnya itu?
"Ya… ya… Hima, ayo kita segera tidur. Besok kau 'kan masuk sekolah pagi-pagi, " panggil sang kakak sambil mengulurkan tangannya.
"Yaaa…." Sang adik menurut perintah kakaknya, "Ayah, jangan lupa istirahat ya…." Ujarnya sambil memeluk klon Naruto, lalu berbalik pergi menyambut uluran tangan sang kakak.
"Ya! Tidur yang nyenyak ya kalian berdua….," ucap klon itu sambil melambaikan tangan. Lalu ia berbalik memandang Ao yang masih berada di sampingnya, "Maaf Ao, aku titip anak-anakku, ya."
"Tentu saja, Hokage-sama," jawab wanita itu singkat sambil membungkukan badannya.
Klon itu tersenyum sebelum menghilang dengan bunyi "POFF!"
Naruto yang sesungguhnya berhenti menulis sejenak ketika mendapatkan ingatan dari klon yang ia perintahkan untuk pulang ke rumahnya. Ia tersenyum puas, lalu melanjutkan pekerjaannya.
.
.
Cahaya dari bulan bungkuk yang bersinar tampak berusaha dengan susah payah menembus awan mendung malam hari itu. Ketika cahaya tersebut menyapu sebuah padang rumput, tampaklah sesosok manusia yang masih berusaha untuk berdiri di atas kedua kakinya.
"Uhuk… Uhukh…," darah segar tampak tersembur keluar dari mulut Hinata, sebelum akhirnya kedua tungkainya gagal menyangga berat badannya sendiri. Wanita itu pun jatuh tersungkur. Seluruh tubuhnya mati rasa. Cakranya habis tak bersisa. Nafasnya tidak beraturan. Paru-parunya terasa seperti terbakar. Setiap tarikan nafas terasa begitu menyakitkan. Meskipun demikian, segala sisa tenaganya tetap dikerahkan untuk menarik oksigen masuk ke dalam tubuhnya. Perlahan pandangannya semakin lama semakin gelap.
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus pulang.
Harus.
Wajah ceria Boruto dan Himawari melintas di depan matanya. Senyum sumringah Naruto menawarkan kehangatan yang amat dirindukannya.
Tetapi dengan tekad seperti apapun, wanita itu sudah tak sanggup lagi menggerakkan ujung-ujung jarinya sekalipun. Kesadarannya semakin berkurang, dan adanya sepasang kaki yang berjalan ke arahnya adalah hal terakhir yang ia lihat.
"Maafkan aku….. Naru…to…kun…," bisiknya pelan.
Lalu semuanya gelap.
.
.
"!" Naruto tiba-tiba terlonjak bangun. Matanya berkedip-kedip sambil memperhatikan keadaan sekitarnya. Butuh waktu satu sampai dua detik baginya untuk kemudian mengingat bahwa ia masih berada di kantornya, dan rupa-rupanya tertidur di atas meja kerjanya. Sambil melepaskan kertas yang menempel di sebelah pipinya, ia kembali melihat berkeliling. Pria itu yakin bahwa ia mendengar seseorang memanggil namanya. Dahinya berkerut ketika ia memandang ke luar jendela kantornya, ke arah bulan bungkuk yang berusaha bersinar menembus awan mendung malam itu.
Perasaan tidak enak apa ini?
"Oi, bocah!"
Tiba-tiba keadaan sekitarnya berubah, dan ia sudah berada di ruangan yang berbentuk seperti gorong-gorong air bawah tanah. Tempat tinggal Kurama.
"Kurama?"
Naruto menatap Kurama dengan bingung. Jarang-jarang siluman rubah berekor sembilan ini memanggilnya secara tiba-tiba seperti ini. Ditambah lagi, kenapa rubah itu menampilkan wajah seperti berpikir keras seperti itu?
"Aku… tidak bisa merasakan cakra istrimu." (*)
"Huh? Maksudnya?"
"Yah….. sejak kau membagikan cakraku sewaktu perang dulu, kalau aku mau, aku bisa memfokuskan pikiran untuk merasakan kondisi orang-orang tertentu melalui cakraku yang tersisa di tubuh mereka. Dan baru saja, aku kehilangan cakraku yang ada di dalam tubuh gadis Hyuga itu," jelas rubah merah itu panjang lebar.
"Maksudmu…?" jantung Naruto berdegub kencang. Ia tidak mau mengatakan kemungkinan apa yang ada di pikirannya. Tetapi Kurama hanya mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Kurama… jangan bilang yang kau maksud…"
BRAK!
Suara keras pintu kantornya yang dibuka tiba-tiba, mengembalikan kesadaran Naruto ke tempat duduknya. Di ambang pintu berdiri Shikamaru dengan wajah pucat dan nafas tersengal-sengal. Rekan berambut hitamnya itu mencengkeram gulungan kertas yang terbuka.
Keringat dingin membasahi sekujur tubuh Naruto ketika ia menatap mata hitam di depannya itu.
"Hi-…. Hinata…"
Cukup satu kata itu saja. Naruto gelap mata.
Dengan segenap kekuatannya, ia bermaksud mengaktifkan mode biju dan melesat keluar dari jendela kantornya, tetapi ia tidak bisa bergerak.
"Lepaskan aku, Shikamaru," ancamnya.
Sulur-sulur bayangan hitam itu bergetar berusaha menahan Hokage ketujuh itu pada tempatnya.
"Tunggu dulu, Naruto….," ahli bayangan itu berusaha menenangkan Hokagenya.
"Lepaskan aku, atau aku akan memakai cara kasar!" bentaknya lagi.
"Baca dulu ini!" Shikamaru melempar gulungan itu ke mejanya.
Dengan cepat mata Naruto membaca kalimat-kalimat singkat itu. Tulisan tangan Hinata. Tetapi ia tidak dapat mencerna apa isinya. Yang ia simpulkan hanya satu.
Istrinya mungkin sudah…
"Lepaskan aku, Shikamaru!" bentaknya lagi, "Aku harus menolong Hinata!"
"Apa yang bisa kau lakukan di sana?!" bentak orang kepercayaannya itu, "Dinginkan kepalamu! Kau akan lebih berguna berada di sini!"
"Segala omonganmu selama ini?! Tentang prioritas dan keluarga?! Omong kosong apa itu?! Saat ini prioritasku cuma keselamatan Hinata! LEPASKAN AKU!" jerit Naruto yang sudah benar-benar marah. Warna matanya berubah merah, cakra biju mulai menyelimuti dirinya.
"Dan kau akan menyia-nyiakan apa yang sudah diusahakan Hinata dengan bertaruh nyawa! Saat ini, bersikaplah seperti HOKAGE!" bentak Shikamaru dengan tegas. Bulir-bulir keringat mulai membasahi dahinya, rupa-rupanya tenaganya sudah dikerahkan sampai pada batasnya.
Tangan Naruto bergetar dan mengepal begitu kuatnya sampai kuku-kukunya sendiri menghujam telapak tangannya. Akan tetapi, perlahan-lahan ia berhasil mengatur nafasnya, sampai warna matanya kembali menjadi biru. Pikirannya sangat kalut. Ia tidak bisa berpikir apapun. Dihempaskannya tubuhnya di kursi lalu ia menunduk, kedua tangannya mencengkeram rambut dan kepalanya sendiri.
"Aku harus bagaimana?" tanyanya lirih.
"Aku punya rencana…." Jawab Shikamaru sambil melepaskan jurus bayangannya.
.
.
(*) Ide ini terinspirasi dari fiksi karya Uzumaki Family yang berjudul: Mission with you. Dibaca ya… bagus lho
