CHAPTER III
Hermione's POV
Oke. Jadi, aku terpilih sebagai pemenang dalam Turnamen Astoburvis bersama Malfoy. Oke. That's OK. Well, maybe OK. OK?
Ck! Tentu saja oke. Aku bisa mempercayainya. Toh, aku dan Harry lah yang membuatnya terbebas dari tuntutan. Well, mungkin aku bisa mencoba mempecayainya.
Hei! Tak semudah itu memberikan kepercayaan kepada orang lain. Contohnya, aku baru memberikan kepercayaanku pada Harry dan Ron setelah insiden Troll di tahun pertama. Jadi, pasti akan butuh waktu cukup lama untuk mempercayai Malfoy sepenuhnya. Apalagi mengingat sejarah kelam kami dulu.
Tapi, itu bukanlah hal terpenting sekarang. Yang terpenting adalah memikirkan tentang tantangan pertama. Dan reaksi seisi Hogwarts terhadap Malfoy. Apakah mereka akan mengejeknya? Mungkin teman-teman Gryffindor ku akan membuat pin untuk membalas kelakuan Malfoy pada Harry dulu.
Tetapi, itu juga tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah, aku telah menjadi siswi biasa. Jubahku terasa hampa tanpa lencan ketua murid yang baru menggantung disana selama tiga minggu. Mungkin aku akan tercatat sebagai ketua murid dengan masa jabatan terpendek di buku Hogwarts : a History cetakan terbaru.
Omong-omong soal ketua murid, Harry benar-benar memilih Ginny untuk menggantikanku. Dia gila. Kalau Profesor McGonagall tahu maksud terselubungnya, beliau pasti akan memperlakukan Harry dengan cara Snape memperlakukannya.
"Granger! Oi!" panggil Malfoy sambil berlari kecil kearahku. Aku baru akan menuju ruang—atau asrama—pemenang untuk wawancara dan pemeriksaan tongkat.
"Kau akan keruang pemenang, 'kan?" tanya Malfoy yang kujawab dengan anggukan. "Kalau begitu, kau tak keberatan kalau kita kesana bersama?"
"Tentu."
Sepanjang perjalanan, terdengar bisik-bisik dan lirikan bahkan pelototan maut yang diarahkan kepada Malfoy. Aku tahu dia ingin bersama denganku karena tak tahan dengan perlakuan orang-orang padanya. Sebelum terpilih saja sudah diperlakukan dengan buruk, apa lagi setelah terpilih. Orang-orang memperlakukannya seolah dia virus, kecuali para Slytherin yang membangga-banggakannya.
"Mione?! Kenapa kau berjalan dengannya?" sentak Ron yang tiba-tiba sudah berada didepanku bersama Harry.
"Memangnya kenapa?" tanyaku bingung. Harusnya Ron sudah tahu kenapa aku berjalan dengan Malfoy, karena sepagian ini aku sudah mengatakan padanya kalau pagi ini aku harus melakukan wawancara pemenang.
"Memangnya kenapa?! Kau harusnya tahu, 'Mione! Dia itu musuh, Hermione! Musuh! Apa kau lupa?!" teriak Ron dengan wajah yang sudah memerah sempurna.
"Ron, tenangkan dirimu," ucapku setenang mungkin agar Ron juga ikut tenang. Akan sangat memalukan kalau dua pemenang Hogwarts ditemukan sedang bertengkar dengan ketua murid dan prefek ditengah lorong yang ramai.
"Tenang?! Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Hermione?! Seharusnya kau terpilih denganku! Bukan Malfoy! Dan kalaupun kau terpilih dengan Malfoy, kau tak seharusnya bersikap setenang ini! Kau harusnya waspada! Dia musuh, Hermione! Musuh!" racau Ron sambil menarik tangan kiri Malfoy dan menaikkan lengannya bajunya, menampakkan luka bekas dark mark, kemudian melepaskannya dengan lagak jijik. "Lihat?! Dialah yang membunuh Dumbledore!"
"Ron! Tenangkan dirimu! Apa kau tak malu bertengkar disini?!" balasku masih mencoba menjadi setenang mungkin. Bagus, Ronald, sekarang orang-orang mulai melihat kearah kita.
"Tidak! Kau harus mengundurkan diri, Hermione! Kau tak boleh bersama Malfoy lama-lama."
"Hentikan, Ronald! Kau bertingkah sangat kekanakan! Kau sendiri tahu kalau nama yang keluar dari Piala Api mau tak mau harus menjalani kompetisi! Apa kau tak belajar dari pengalaman?!" sekarang aku mulai terpancing.
"Apa?! Aku kekanak-kanakan?! Kau lah yang kekanakan, Hermione!"
"Tidak! Kau yang kekanakan! Apa kau akan selalu bersikap seperti ini saat sahabatmu terpilih oleh Piala Api?! Dulu Harry, sekarang aku! Kau yang kekanakan, Ronald Weasley!" teriakku yang sekarang sudah tak terkendali.
"Jadi, kau menganggapku seperti itu?! Oke! Mulai detik ini, kita break! Silahkan fokus pada kompetisi konyolmu!" Demi kucir jenggot Merlin, Dumbledore, dan penyihir berjeggot panjang lainnya! Ron sangat kekanakan!
"Kau tak bisa memutuskan seenaknya, Ronald! Dan ini bukanlah kompetisi konyol! Bahkan sebelumnya kau sangat terobsesi untuk ikut!"
"Terserah kau! Dan, ya! Aku bisa memutuskan seenaknya! Mulai detik ini, aku, Ronald Weasley memutuskan untuk break denganmu, Hermione Granger!" dengan itu, Ron pergi dengan dramatis diikuti Harry yang dari tadi hanya menonton dengan Malfoy.
Tanpa mempedulikan keadaan sekitar yang terhenti seakan tengah terkena time pause, tapi dengan pandangan berpindah-pindah antara aku dan Ron yang sekarang sedang meninggalkanku dengan dramatis layaknya sedang menonton pertandingan tenis, aku langsung berjalan kearah tujuan awal.
"Granger. Hei! Tunggu!" panggil Malfoy. Oh, sepertinya aku tak sengaja meninggalkannya ditengah-tengah kerumunan massa yang sedang sangat membencinya.
Tak lama kemudian, Malfoy sudah mensejajariku. Kami berjalan dalam keheningan yang canggung, lebih dari tadi, sebelum Ron datang.
"Err, Granger. Aku minta maaf. Karena aku, kau jadi putus dengan pacarmu," ucapnya hati-hati.
"Tak perlu meminta maaf, toh bukan salahmu juga. Ini hanya karena Ron yang terlalu kekanak-kanakan. Dia sudah sering begitu. Biarkan saja. Palingan seminggu lagi dia akan kembali padaku. Ya, dia itu sangat kekanakan. Childish!" gerutuku. Oh, astaga! Aku terlalu banyak bicara tentang hal pribadi pada Malfoy. Uuh! Dasar mulut tak terkontrol.
"Oh, em, well…" 'kan… Gara-gara mulut tak terkontrok ku keadaan jadi makin canggung.
"Sudahlah. Lupakan saja."
Dan setelah itu, suasana malah jadi makin canggung. Bagus.
Untungnya, kami tinggal melewati lorong terkhir dan sampailah diruang pemenang.
Kamilah yang terakhir datang. Didalam sana sangat ramai. Delapan kepala sekolah, Mr. Ollivander, dan pria berbaju hijau tua dengan pena bulu dan perkamen panjang ditangannya, yang kuduga adalah seorang wartawan, serta sekumpulan orang yang kuduga adalah tim yang akan mengabadikan kami.
Belum lagi alat-alat pemotretan dunia muggle yang dipadukan dengan kamera sihir—yang katanya membuat gambarnya menjadi berwarna—alat make up, dan alat-alat aneh lainnya.
Padahal menurut cerita Harry, wawancaranya dulu saat Turnamen Triwizard tak serumit ini. Malah terkesan begitu santai. Apalagi mengingat wawancara pribadi Harry dengan Rita Skeeter.
"Miss Granger. Silahkan kesebelah sana untuk didandani. Dan Mr. Malfoy, silahkan kesana untuk dirapikan," apa?! Didandani?! Demi seprai bolong Merlin!
Aku segera melangkah kearah yang ditunjuk Profesor McGonagall, dimana para pemenang perempuan lainnya sedang didandani. Kenapa harus dandan? Toh kami tak akan menjadi sampul majalah. Atau iya? Yah, setidaknya kami tak perlu memakai kostum aneh.
Pemotretan berjalan lancar. Mulai dari pengambilan foto pemenang putri, pemenang putra, seluruh pemenang, seluruh pemenang dengan para kepala sekolah, pemenang dari tiap sekolah dengan kepala sekolahnya, kedua pemenang dari tiap sekolah, sampai foto tiap pemenang.
Jadi, jika ditambahkan, aku menjalani lima sesi pemotretan. Dan walaupun aku hanya duduk, tersenyum, dan berpose saja, tapi rasanya sangat melelahkan. Yang merasa senang dengan sesi pemotretan ini hanya pemenang Beauxbatons. Sementara yang lain terang-terangan mengeluh.
Belum lagi wawancaranya.
Untung saja bukan Rita Skeeter yang mewawancarai. Oh, dan omong-omong, ternyata dia benar-benar sudah meninggal karena kutukan Avada.
Tapi, tetap saja rasanya melelahkan. Apalagi, kami baru saja melakukan pemotretan yang menguras tenaga. Apalagi pertanyaan yang ditanyakan terkadang begitu Out Of Topic. Bukannya menanyakan tentang hal yang berhubungan dengan turnamen, malah menanyakan tentang kehidupan pribadi pemenang.
Yang paling parah adalah saat bagian Malfoy. Dia ditanyai apakah dia sudah menceritakan pada ibunya, yang dijawab belum sempat. Lalu wartawan berkacamata itu malah membicarakan ibu Malfoy yang sedang dikucilkan seluruh komunitas sihir, ayahnya yang berada di Azkaban, dan Malfoy sendiri yang sedang dimusuhi seisi Hogwarts. Tidak separah Rita Skeeter, memang, tapi tetap saja menjengkelkan.
Aku tak mau menceritakan wawancaraku dengannya. Sangat buruk. Apalagi pertanyaan—atau pernyataan—nya tentang status muggle-bornku.
Terakhir, pemeriksaan tongkat. Nampaknya, kali ini yang akan merasa lelah adalah Mr. Ollivander, karena kami tinggal duduk manis dan menyerahkan tongkat saat dipanggil.
"Mr. Malfoy?" pintanya. Malfoy segera berdiri, dan menyerahkan tongkatnya pada Mr. Ollivander.
"Ah, ini tongkat keduamu, bukan?" tanyanya. Oh, ya. Aku ingat. Tongkat pertama Malfoy kan dirampas Harry saat insiden di Malfoy Manor.
"Ya," jawab Malfoy singkat. Nampaknya dia sengaja tak mempedulikan tatapan penasaran semua orang yang kini tengah ditujukan padanya. Mungkin, dalam ruangan ini hanya aku dan Mr. Ollivander yang tahu alasannya.
"Dimana tongkat lamamu sekarang? Tidak rusak, 'kan?"
"Tongkat itu sekarang milik Potter," jawab Malfoy sambil meringis.
"Ah, aku mengerti. Rowan, urat jantung naga, tiga puluh tujuh senti, lentur. Sangat berbeda dari tongkat pertamamu, ya," dia memandang Malfoy yang mengangguk khidmat kemudian berteriak, "avis!"
Burung kecil keluar dari tongkat itu. Mr. Ollivander tersenyum puas kemudian menyerahkannya kembali pada Malfoy sambil berkata kalau tongkatnya sempurna.
"Miss Granger?" Nah, sekarang giliranku.
"Aku ingat ini. Kayu vine, tiga puluh lima senti, serabut naga. Dan lentur. Mari kita coba, Orchideus!" Dan keluarlah segerombol bunga anggek ditongkatku. Aku belum pernah mencoba itu, tapi anggrek itu tampak serasi dengan sulur-sulur ditongkatku.
"Sangat bagus. Tongkat ini sangat berguna, bukan," ucapnya sambil mengembalikan tongkatku.
"Ya. Tongkat ini menyelamatkan hidupku berkali-kali."
Mr. Ollivander tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Berikutnya, Miss Gesin?" pintanya pada pemenang perempuan Uagadou. "Oh, maaf. Aku lupa. Di Uagadou kalian tak menggunakan tongkat. Maaf. Tapi, bisakah kau tunjukkan sihir? Untuk mengecek kalau kemambuan sihir anda baik-baik saja."
Nievasta Gesin langsung mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah cangkir kosong, dan mengubahnya menjadi seekor hamster.
"Menakjubkan. Dan Tuan Sterk Edelman?" pintanya pada pemenang Uagadou yang lain.
Seperti Nievasta Gesin, rekannya itu juga melakukan transformasi. Ia mengubah hamster rekannya menjadi cangkir kembali.
"Menakjubkan! Uagadou memang terkenal sangat bagus dalam transformasi," ucap Mr. Ollivander sambil bertepuk tangan.
"Selanjutnya, ah, tolong, Miss Isamu?" Minami-san—dia memaksaku memanggilnya begitu—menyerahkan tongkatnya dengan semangat.
"Pohon Cherry. Akan sangat bagus di musim dingin. Tiga puluh empat senti. Oh, intinya taring serpent. Dan cukup fleksibel," kemudian, Mr. Ollivander mengucapkan mantra yang membuat tongkat itu mengeluarkan hujan salju kecil, "sempurna. Dan Mr. Nakashima?"
"Ini juga pohon Cherry. Tiga puluh senti, lentur, intinya bulu sayap Pegasus. Sangat cocok untuk penerbang seperti anda," seperti sebelumnya, Mr. Ollivander mengucapkan mantra yang membuat tongkat itu mengeluarkan tali, "sangat bagus. Kau sering berlatih dengannya, rupanya. Selanjutnya, Miss Borage?"
Seorang gadis latin menyerahkan tongkatnya dengan hati-hati.
"Kayu Akasia. Tiga puluh satu senti, lentur. Intinya, rambut unicorn. Sangat cocok untuk membuat ramuan dan mengobati. Tak perlu kutes karena tongkat ini terasa berdesing, sangat bersemangat untuk membuat keajaiban. Well, Mr. Coelho?"
Kini yang maju adalah pemuda berkulit cokelat terbakar matahari dengan rambut hitam berantakan, persis Harry. Dia menyerahkan tongkatnya seperti sedang menyerahkan uang recehan kepada penjual.
"Kayu Chestnut. Tiga puluh dua senti. Intinya, cakar griffin, itu cukup langka. Dan, kaku. Oh, rupanya kau juga seorang penerbang," lalu dia mengucapkan mantra yang membuat tongkat itu mengeluarkan pesawat terbang kecil, "sangat bagus. Berikutnya, Mr. Xavier?"
Demi Merlin yang dulu pernah naksir Morgana padahal umur mereka terpaut jauh! Dia adalah pemuda paling tampan yang pernah kulihat. Rambutnya cokelat keemasan. Badannya ramping dengan tinggi sedang. Matanya berwarna hitam legam. Tulang pipinya tinggi, membuatnya terlihat semakin mempesona saat tersenyum. Bibirnya tipis dengan senyuman nakal yang kini tengah terpahat disana. Sementara pipinya merona, yang membuatnya terlihat sangat cute.
Kulihat gadis-gadis lain juga sedang terpesona dengan wajah tampannya—kecuali rekannya dari Beauxbatons—saat dia menyerahkan tongkatnya pada Mr. Ollivander.
"Kayu Spruce, sangat cocok dengan kepribadian anda, sepertinya. Dua puluh delapan senti, padat. Dan intinya… astaga… lagi-lagi, rambut Veela."
"Ya. Salah satu moyangku adalah Veela." Oh, pantas saja dia begitu mempesona.
Setelah mengetes tongkat si Tampan, Mr. Ollivander memanggil rekannya, Espѐrta Soleil yang tak kalah mempesona dari Fleur dan juga sama-sama berambut pirang.
"Ebony, dua puluh lima senti, intinya, bulu ekor unicorn, dan sangat fleksibel," kemudian, Mr. Ollivander mengucap mantra yang membuat tongkat itu mengeluarkan lonceng kecil yan tak berhenti berbunyi sampai Mr. Ollivander mengucap mantra penawarnya.
"Tak bercela. Berikutnya, ah, bagaimana kalau Miss Bryer?" begitu Natasha Bryer menyerahkan tongkatnya, Mr. Ollivander langsung memelintirnya dijari panjangnya. "Ah, tongkat ini mengingatkanku dengan seseorang. Dia juga seorang pemenang. Ash, tiga puluh senti, cukup lentur, dan terawatt dengan dangat baik. Bahkan inti tongkatnya juga sama, bulu ekor unicorn."
Mr. Ollivander mengucapkan mantra yang membuat tongkat itu mengeluarkan karangan bunga berwarna kuning. Sepertinya aku paham dengan siapa yang dimaksud.
"Mengesankan. Tongkat ini begitu setia padamu. Berikutnya, Mr. Barlow?"
"Ah, kayu Aspen. Dulu kakekku sering menggunakannya. Tiga puluh tiga senti, cukup melengkung. Intinya, pembuluh jantung naga," seperti sebelumnya, Mr. Ollivander mengeluarkan mantra yang membuat tongkat itu mengeluarkan percikan api yang berwarna-warni.
"Bagus. Tapi, sebaiknya kau sering berlatih dengannya. Kau terlalu fokus membuat ramuan dan bermain Quidditch sehingga tak pernah menggunakan tongkatmu dan membuat kekuatannya agak tumpul. Berikutnya, Mr. Ragnvald."
Pemuda berperawakan seperti Viktor maju kedepan. Wajahnya tampak ramah—tak seperti siswa Durmstrang lainnya—dengan senyuman yang selalu bertengger dibibirnya. Rambutnya berwarna hitam legam dengan potongan yang tidak rapi, bahkan dibeberapa tempat terdapat bekas terbakar.
"Blackthorn, sangat cocok untuk duel. Dua puluh sembilan senti, bulu ekor Augurey, wah itu sudah jarang digunakan. Dan, kaku. Tak perlu kutes karena aku bisa merasakan kalau kau sering berlatih dengannya, sehingga membuat tongkat ini jauh lebih kuat dari saat kau membelinya. Berikutnya, Miss Vidar?"
Gadis berambut merah marun maju memberikan tongkatnya. Wajahnya penuh bintik-bintik. Hidungnya kecil dan mancung. Bibirnya merah merekah. Dan alisnya yang berwarna gelap cukup tebal. Matanya berwarna biru gelap dengan sorot dingin.
"Kayu Cedar. Dua puluh delapan senti, fleksibel. Intinya, rambut Manticore, sangat langka!" Mr. Ollivander mengucapkan mantra yang membuat bibit bunga di jendela membesar, bahkan sampai merekah. "Menakjubkan. Selanjutnya, Miss Kolenka?"
Evia kolenka maju kedepan untuk menyerahkan tongkatnya. Rambutnya hitam keriting. Wajahnya bulat dengan senyum canggung yang menghiasi wajahnya. Pipinya gembil dengan rona merah yang tampaknya sudah berada disana sejak dia terpilih.
"Kayu Maple, tiga puluh lima senti, dan keras. Intinya, ah, sengat Billywig. Apa kau mendapatkan tongkatmu di Australia?"
"Ya. Aku besar di Australia, Sir. Kami pindah ke Rusia karena pekerjaan ayah."
Mr. Ollivander menganggukan kepalanya, kemudian mengucapkan mantra yang membuat tongkat itu mengeluarkan burung yang bernyanyi dengan sangat indah. "Menakjubkan. Terakhir, Mr. Nikolaj."
"Sycamore, dua puluh lima senti, dan keras. Intinya, bulu ekor unicorn." Kali ini, mantra yang diucapkan Mr. Ollivander membuat tongkat itu mengeluarkan sulur-sulur anggur. "Sangat mengesankan."
Selesai sudah hari yang melelahkan ini. Para kepala sekolah meninggalkan ruangan setelah menasehati muridnya. Wartwan itu juga sudah meninggalkan ruangan sambil berbicara kepada dirinya sendiri tentang kehebatan beritanya nanti. Tukang potret dan asistennya pergi sambil berbincang-bincang tentang rencana mengirimkan foto kami ke Daily Prophet.
"Hei, mumpung kita sedang berkumpul disini, bagaimana kalau kita saling berkenalan?" ajak pemenang dari Castelobruxo, Pedro Coelho. "Oke. Aku saja yang mulai. Namaku Pedro Coelho. Aku dari Castelobruxo, Brazil. Hobiku adalah bermain Quiddtich," ucapnya memperkenalkan diri, walaupun tak ada yang mempersilahkannya.
"Benarkah? Aku juga suka Quidditch!" seru David Barlow yang tadi ditegur Mr. Ollivander karena tongkatnya kurang dilatih.
"Hei, aku juga suka Quidditch," teriak Hideo Nakashima tak mau kalah, "eh, Draco-san, kau juga suka Quidditch, kan?"
Dan sedetik kemudian, para cowok, baik yang bermain Quidditch maupun yang hanya suka tenggelam dalam pembicaraan tentang olahraga itu. Meninggalkan kami, para gadis, terpuruk kebosanan.
"Psst. Hai, bagaimana kalau kita mandi saja. Kita bisa mengobrol sambil berendam di Jacuzzi," ajak Evia Kolenka, yang langsung disetujui para gadis.
Tampaknya, kali ini memang akan terjalin persahabatan antar sekolah. Bukan hanya persaingan seperti sebelumnya. Dan semoga saja kompetisi ini akan berjalan dengan jujur. Tanpa kecurangan.
Daily Prophet.
Astoburvis Tournament
Anda semua pasti sudah mendengar tentang kompetisi internasional yang diadakan sebagai pengganti Turnamen Triwizard yang akan berlangsung di Hogwarts, bukan?
Turnamen itu diikuti oleh delapan sekolah, dengan dua orang pemenang dari masing-masing sekolah. Hadiah untuk pemenang turnamen ini tak main-main! Seribu Galleon untuk masing-masing pemenang, menang ataupun kalah. Dan satu juta Galleon untuk pasangan pemenang turnamen.
Menurut desas-desus yang beredar, dalam turnamen ini, akan ada empat tugas besar yang menunggu para peserta. Belum lagi serentetan tugas-tugas kecil yang mengikuti empat tugas utama. Dan asal anda tahu, turnamen ini jauh lebih berbahaya.
Jadi, kalau ada anggota keluarga anda yang terpilih sebagai pemenang, silahkan menyiapkan mental untuk kehilangan dari sekarang.
Bagi anda semua yan belum tahu, saya akan mengatakan siapa saja pemenang dari tiap sekolah. Hogwarts diwakili oleh Hermione Granger dan Draco Malfoy. Koldovstoretz diwakili Evia Kolenka dan Karp Nikolaj. Durmstrang diwakili oleh Adelina Vidar dan Steinar Ragnvald. Beauxbatons diwakili Espѐrta Soleil dan Abelard Xavier. Ilvermorny diwakili oleh Natasha Bryer dan David Barlow. Castelobruxo diwakili Cancatina Borage dan Pedro Coelho. Sementara Uagadou diwakili oleh Nievasta Gesin dan Sterk Edelman. Dan terakhir, Mahoutokoro, diwakili oleh Minami Isamu dan Hideo Nakashima.
Dan berikut ini adalah wawancara saya denga tiap pemenang.
1. Hogwarts. Draco Malfoy dan Hermione Granger.
Menurut mereka berdua, mereka sungguh tak menyangka akan terpilih. Draco Malfoy dengan sejarah kelamnya, dan Hermione Granger dengan status muggle-bornnya. Bahkan, mereka belum mengabari orang tua mereka. Hermione Granger beralasan bahwa dia tak memberitahu orang tuanya karena mereka toh tak akan mengerti karena mereka adala muggle. Dan Draco Malfoy belum memberitahu ibunya karena ingin memberikan kejutan padanya. Oh, sepertinya aku sudah merusak kejutan Draco malfoy untuk ibunya.
2. Beauxbatons, Abelard Xavier dan Espѐrta Soleil.
Dua remaja rupawan itu berkata bahwa mereka sangat bangga bisa ikut dalam turnamen ini. Mereka merasa sangat terhormat karena menjadi pemenang pertama Beauxbatons dalam sejarah Turnamen Astoburvis.
(Lanjutan halaman 24)
(Foto para pemenang halaman 30)
(Pendapat kementrian tentang turnamen halaman 60)
Tak mempedulikan lanjutan berita itu, aku langsung menuju halaman yang berisi foto kami.
Foto pertama adalah foto para pemenang dengan kepala sekolah. Disusul dengan foto seluruh pemenang. Dan seterusnya.
Oh, demi boneka Merlin kecil yang bernama Annabelle! Fotoku dengan Malfoy terlihat seperti foto pre-wedding! Aku duduk dikursi sementara Malfoy berdiri dibelakangku, dengan tangan kanannya berada dipundakku, dan kami sama-sama tersenyum ke kamera, kemudian saling menatap satu-sama lain. Uh! Dasar photographer jelek! Dia mencari masalah, rupanya!
Eh, tapi di foto itu, Malfoy terlihat sangat tampan. Lebih tampan dari Abelard Xavier. Dan senyumnya terlihat sangat tulus, bukan seringaian seperti biasa. Oh, astaga! Apa yang aku pikirkan?!
A/N
Fast update lagi~
Buat yang nanya apa ratednya ganti, iya, ratednya emang ganti. Rated M itu insiden. 'Kan saya pas mau edit summary, terrus entah bagaimana malah kepencet dari rated T ke M...
Buat yang tanya kok Draco-nya jadi melas banget, hehehe, saya emang suka Draco yang melas gitu... Kayak rapuh banget, butuh pelukan gitu, deh. Tambah ganteng! Kayak di HP : HBP yang pas Draco frustasi, euhh... Kasian banget, kayak butuh pelukan. pukpuk sini...
Buat Hermione Malfoy : Iya. Emang ada kok sekolah sihir di jepang. Cari aja di Pottermore.
Review please...
