AMAZING FATE
Chanbaek
Slight Krisbaek, Hunhan, Kaisoo
GS!
.
.
Baekhyun telah terjerat kedalam manik kelam yang mampu menyita seluruh indra miliknya. Pria itu terlarang untuk Baekhyun. namun, siapa yang menyangka takdir yang dituliskan Tuhan?
.
.
Desclaimer : Semua tercipta dari imajinasi absurb. Namun, tokoh tetap milik yang memiliki. Jika ada cerita, tokoh, setting, dll yang sama itu suatu kebetulan.
.
JIKA ANDA TIDAK SUKA DENGAN FF INI ATAU PAIRING INI ATAU GENDER DARI TOKOH TOLONG TIDAK USAH DIBACA
.
MARI SALING MENGHARGAI SATU SAMA LAIN!
.
Selamat membaca^^
.
Gemerlap bintang bertebar di hamparan langit luas, bercorak putih dan kuning menghias gelapnya sang malam berpadu dengan sinar lembut sang rembulan. Berharap mendapat segerombol bintang yang membentuk sebuah inspirasi yang mampu tertuang dalam sebuah kanvas putih yang telah ku siapkan. Namun sayang, semakin lama aku menatap sang langit beserta permaisuri dan selirnya, diriku semakin tenggelam dalam keindahan dan melupakan kanvas putih yang berdiri tegak di depanku. Mungkin, belum saatnya aku menorehkan sebuah karya.
Dalam ingatan yang mengambang, setitik ingatan tentang sebuah amplop merah terselip sekejap. "Astaga, aku melupakan amplop itu." Dengan gerakan terburu, langkah kakiku segera beranjak meninggalkan balkon dan memasuki kamar.
Amplop berwarna merah maroon itu membuatku kembali bertanya, siapa gerangan yang meletakkan amplop ini? Apakah amplop ini untukku? Atau mungkin bukan? Entahlah.
Dengan gerakan pasti, ku tarik keluar tiga carik kertas yang terlipat rapi dengan warna berbeda itu. Ku letakkan ketiga kertas itu berjejer dengan urutan kertas putih gading, putih bersih, buram, lalu amplop merah maroon itu.
"Kertas yang mana dulu yang harus ku buka?"
Guratan bekas pensil tertembus di kertas putih bersih, dengan rasa penasaran yang tinggi ku raih kertas itu. Membolak-balik lipatan kertas itu, mungkin akan menemukan sesuatu tulisan atau inisial pengirim? Tapi tak ada. Secara perlahan ku buka lipatan kertas itu dan melihat isi yang tertoreh di dalamnya
"Sketsa milikku?"
Kerutan didahiku semakin bertambah, siapa yang repot-repot memasukkan sketsaku di dalam amplop? Seperti surat cinta saja.
Untuk yang selanjutnya ku raih lipatan kertas buram, "Apa ini hanya kerjaan orang iseng?" Bahuku mengedik, jemariku tetap bergerak untuk membuka lipatan kertas buram itu.
"Kosong?"
Aku membolak-balik kertas itu dan ku amati dengan teliti, "Sial, aku dikerjai?" Namun, coretan putih dan guratan aneh dari permukaan kertas itu membuat dahiku mengerut. "Aneh." Ku letakkan kembali kertas buram itu dan ku raih kertas berwarna putih gading. Ku buka pula lipatan kertas itu. Namun—, "Sial, kosong lagi?"
"Hanya membuang waktu." Ku tinggalkan lembaran-lembaran kosong itu di atas tempat tidur tanpa berniat merapikan atau membuangnya. Dengan perasaan sebal, langkah kakiku kembali menuju ke arah balkon untuk menatap sang langit kembali. Mungkin saat ini waktunya menorehkan sebuah karya?
Atau mungkin tidak?
-o0o-o0o-o0o-
Menorehkan sebuah karya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sungguh melelahkan. Namun, kuakui sangat menyenangkan. Ku letakkan kembali berkakas dan lukisan yang telah terselesaikan di tempat yang telah ku sediakan di lemari penyimpanan.
Meletakkan kembali berkakas dan lukisan tak membutuhkan waktu berjam-jam sehingga saat ini aku telah bersiap mematikan lampu utama dan beranjak tidur.
Titik-titik putih dengan sinar cat neon berwarna kuning berpadu warna hitam dan biru dongker yang ku hias di langit kamar terlihat seakan langit malam yang barusaja ku saksikan. Dalam hitungan detik setelah mematikan lampu, kedua kakiku melangkah pelan menuju tempat tidur.
Namun, mataku mengernyit ketika melihat tiga kertas yang ku serakkan di atas tempat tidurku tadi saat ini memiliki coretan-coretan seperti tulisan dan gambar. Dengan gerakan terburu ku sambar kertas buram yang menjadi objek pertama yang mampu menyita perhatianku.
"Astaga, ini."
Mulutku membulat ketika sketsa wajah dan badanku tertoreh indah di kertas ini. Aku tak menyangka jika ternyata kertas buram ini tak kosong. Ku amati betapa detail guratan-guratan wajahku di kertas ini, lekuk tubuhku yang entah mengapa tergambar dengan sangat indah dan emm—seksi, apalagi dengan ukuran payudara yang emm—besar. Sangat realis.
Ku raba kedua tonjolan yang berada di dadaku, "Hell, apakah payudaraku sebesar itu?" Tak henti-hentinya lidahku berdecak kagum dengan karya yang ku pegang saat ini. Siapa gerangan yang menggambar diriku dengan begitu indah dan sempurna?
"Tak mungkin bukan jika Mr. Kim yang menggambarnya?" tubuhku tiba-tiba bergidik ngeri, jijik, dan geli ketika bayangan Mr. Kim menggambar wajahku serta tubuhku sedetail ini. Dengan cepat ku tepis pikiran aneh itu. "Tak mungkin. Hih."
Ku letakkan kembali kertas buram itu, dan saat ini kedua mataku tertuju ke kertas putih gading yangmana sebuah tulisan timbul dipermukaan kertas itu. "Bermodal sekali orang yang memberiku amplop ini." Membeli tinta yang hanya timbul di kegelapan setelah terkena cahaya itu sangatlah mahal. Apalagi tinta tersebut tak dapat ditorehkan disembarang kertas.
Kedua mataku memicing ketika melihat tulisan yang berada di kertas putih gading ini
Ich habe mich in dich verliebt
Hah?
Entah sudah berapa kali dahiku mengerut tak mengerti hari ini, "Mengapa tak menggunakan bahasa ibu saja? Mengapa harus menggunakan bahasa asing? Aku kan tak mengerti." keluhku
Lagi-lagi aku membolak-balikkan kertas yang ku pegang. Berharap ada arti atau tulisan lain yang dapat ku mengerti. Namun sayang, hanya tulisan dengan bahasa asing itu yang tertera.
"Sudahlah, anggap saja orang iseng yang menghamburkan uang."
-o0o-o0o-o0o-
Sinar mentari telah menelusup di setiap inci permukaan bumi, "Sial, aku terlambat." Kakiku mencoba untuk berlari sekuat tenaga untuk mencapai kelas. Tanpa peduli caci maki mahasiswa lain yang tertabrak. Sungguh aku tak memiliki waktu lagi untuk meminta maaf.
Sungguh, aku tak menyangka isi amplop merah maroon itu mampu mengusikku sedemikian rupa. Sial sekali aku harus berlari-lari seperti ini karena rasa penasaran akan pengirim amplop itu. Meskipun aku berusaha untuk melupakannya.
"Hhh, h..hampir sampai." Nafasku memburu. Kaki-kakiku masih tetap berlari tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun, karena kelasku hanya kurang satu belokan lagi
Namun sayang—
Duak
Brak
Bukan tepat waktu mencapai kelas yang kudapatkan melainkan jatuh terjengkang ke belakang karena menubruk pintu kelas yang tiba-tiba terbuka
"Astagaa, ssshh.. ." kedua tanganku sibuk mengusap dahi dan pinggangku.
"Baekhyun?" Suara berat khas kaum adam menggema di telingaku.
Aku terdiam. Pergerakan tubuhku membeku. Detak jantungku bertalu begitu cepat. Aku sangat mengenal suara ini. Sangat amat mengenal
"Kau tak apa?"
Hanya anggukan saja yang mampu ku berikan. Pria itu berjongkok di depanku dan mengulurkan tangannya untuk mencoba membantuku, "Aku bisa berdiri sendiri." Akhirnya, suaraku telah kembali terisi.
"Tak apa, aku akan membantumu." Telapak tangan besar yang dulu pernah membuat seluruh tubuhku merasakan getaran hangat ketika kulit kami bersentuhan. Namun, saat ini terasa hambar dan menjijikan. Dengan terpaksa aku menerima bantuan yang Yifan berikan. Karena saat ini, pinggangku terasa akan patah kapan saja.
"Mengapa hari ini aku sangat sial?" batinku menjerit frustasi. Sungguh, suasana hatiku semakin dongkol saja, bertemu mantan disaat dan dalam keadaan yang tak tepat.
"Ku antar ke kelasmu, Ok?"
Dengan cepat ku gelengkan kepalaku untuk menolak tawaran Yifan, "Tak perlu aku akan—" ucapanku terjeda sedikit ketika melihat Chanyeol melangkah melewati kami, "Ke kelas bersama Chanyeol." Tambahku dengan volume yang cukup membuat Chanyeol menoleh kearah ku dan Yifan
Tatapan bingung terlihat di kedua manik Chanyeol ketika ia mendengar namanya disebut olehku. Meskipun begitu, tak perlu waktu lama untuk membuat Chanyeol mengerti keadaanku. Aku sangat bersyukur Chanyeol cukup tanggap dengan kode yang ku berikan, "O..oh ya. B..Baekhyun akan bersamaku." Entah mengapa aku mampu merasakan tatapan tajam terlontar dari dua manik Yifan ketika mendengar kalimat persetujuan yang Chanyeol berikan. Namun sepertinya tatapan itu tak berarti sama sekali kepada Chanyeol.
"Aku cukup bersyukur Chanyeol tak mengabaikan dan meninggalkanku bersama Yifan." Batinku penuh rasa syukur
Tubuh jangkung Chanyeol berjalan ke arahku, "B..bisakah kau melepas rangkulanmu dari p..pinggang Baekhyun?" Lantunan suara berat dan dalam mengalun lembut di telingaku. Aku akui selain karyanya, aku juga sangat tertarik dengan suara berat Chanyeol. Begitu dalam dan emm—seksi
"Kau memerintahku, Park?" nada dingin dan menusuk terlontar dari bibir Yifan dengan cepat.
Aku terdiam ketika tatapan Chanyeol terasa aneh dan berbeda. Aku merasa dia begitu marah, bahkan saat ini kepalanya menunduk dengan tubuh bergetar.
Namun aku salah—
"Siapa dirimu yang berani memerintahku, nerd?" Aku tau jika Yifan merupakan tipe orang yang emosional. Namun, aku juga melupakan fakta jika selama ini Park Chanyeol selalu menjadi bulan-bulanan Yifan dan siswa yang berkuasa di kampus ini sebelum Yifan berkata, "Tak cukupkah selama ini siksaanmu, Park?"
—Chanyeol ketakutan
"Astaga, aku melupakannya." Batinku panik. Ancaman Yifan tidaklah main-main, aku sudah cukup melihat selama ini Chanyeol hanya diam ketika pukulan-pukulan menghantam wajah dan sekujur tubuhnya ketika ia menolak perintah yang diberikan siswa lain.
Selama ini aku hanya diam, karena aku berpikir itu semua urusan laki-laki dan juga bukan urusanku sama sekali, meskipun tak jarang rasa kasihan menyelimutiku. Namun, kali ini keadaan berbeda. Aku harus bertindak sebelum Yifan melancarkan pukulan ke wajah Chanyeol. Sial, Chanyeol berada dalam posisi ini karena diriku
Bugh
Aku menyikut perut Yifan cukup kuat hingga membuat tubuhnya menekuk dan merintih perih. Tubuhku terhuyung kearah Chanyeol, karena rangkulan Yifan terlepas begitu saja. Sungguh, sialan. Pinggangku masih terasa sakit dan nyeri.
Seperkian detik aku merasakan tubuh Chanyeol menegang ketika telapak tanganku menapak di dada—yang ternyata keras dan berotot—nya, "Maaf, pinggangku sakit." Aku melihat Chanyeol mengangguk
"Ayo—" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, rengkuhan lengan Chanyeol melingkup tengkuk dan kedua lututku. Tanpa sadar, bibirku memekik karena kaget.
Tak memedulikan suara Yifan yang berteriak-teriak, Chanyeol terus membopongku dan berjalan lurus.
"C..Chan aku bisa berjalan sendiri."
Chanyeol tetap terdiam dan menatap lorong sepi yang kami lewati, "Chan, kelas kita bukan—"
Chanyeol menunduk dan menatap kearahku. Tanpa sadar aku tenggelam ke dalam manik kelam Chanyeol yang terbingkai kacamata bundar yang selalu menghiasi wajahnya. Entah mengapa aku merasa familiar dengan obsidian Chanyeol.
Tentu saja kau familiar. Kau kan telah berulangkali bertatap mata dengan Park Chanyeol, Byun
Suara di kepalaku tiba-tiba menyeruak. Mau tak mau aku membenarkan suara itu.
"Kau lebih membutuhkan ruang kesehatan." Belum sempat aku membalas ucapan Chanyeol, tubuh padat dan keras Chanyeol telah mendorong pintu ruang kesehatan. Dengan perlahan ia membaringkanku di tempat tidur yang tersedia di ruang kesehatan.
"Aku akan meminta izin kepada professor, kau tak perlu khawatir. Beristirahatlah." Ucap Chanyeol ketika langkah kaki dokter kesehatan mulai terdengar mendekat.
Ku akui meskipun ia terlihat sangat kuno dan tak terawatt. Namun, kebaikan dan kelembutan yang ia pancarkan sangat membuatku nyaman.
Sial, apa standart priaku menurun?
Tidak mungkin. Semua itu pasti hanyalah simpati belaka
-o0o-o0o-o0o-
Dering handphone memaksaku untuk membuka mata. Aku tak berbohong ketika denyutan sakit masih terasa di dahiku yang benjol dan pinggangku yang membiru. Dengan terpaksa ku raih handphone yang terselip disaku celanaku
Luhan
Online
Byun!
Kau menghilang kemana?
Dengan gerakan yang cukup lambat, jemariku mulai mengetik pesan untuk membalas pop up milik Luhan
Baekhyun
Online
Di ruang kesehatan
Belum sempat ku letakkan handphoneku, pesan Luhan kembali masuk
Luhan
Online
Kau kenapa?!
Aku kesana
Tak perlu waktu lama, saat ini sosok Luhan telah berada di sampingku dengan raut khawatir yang berlebihan.
"Astaga, B. Dahimu." Entah gila atau sudah tak waras, jemari lentik Luhan menekan dahiku yang benjol dengan cukup kuat hingga membuatku memekik kesakitan
"Kau ingin mati, Lu?"
Mendengar pekikan dan ancaman dari bibirku membuat Luhan meringis kaget, "Sakit ya?"
"Pertanyaan gila." Sungguh, aku tak mengerti bagaimana bisa aku memiliki sahabat seperti Luhan
Setelah insiden memencet dahi, Luhan menatapku dengan tatapan menyelidik, "Mengapa kau bisa seperti ini?"
Dengan didahului helaan napas panjang, aku mulai menceritakan jika aku terlambat untuk bangun—tanpa menceritakan perihal amplop merah maroon, karena entah mengapa aku merasa aku tak perlu menceritakan hal itu—hingga berakhir terbaring di ruang kesehatan ini.
"Park Chanyeol? Siswa nerd yang karyanya luar biasa itu?" aku mengangguk mengiyakan ucapan Luhan
"Ohh, jadi ini alasan Yifan menghajar siswa dengan penampilan nerd itu tadi." Ucap Luhan setelah mendengar ceritaku, "Ternyata dia Park Chanyeol." Tambahnya
Sungguh aku terkejut mendengar penuturan Luhan. Sial, bagaimana mungkin aku melupakan jika Yifan tak akan melepaskan mangsanya sebelum selesai menghabisinya?
"Astaga! Lalu bagaimana keadaan Chanyeol, Lu?"
Luhan mengedikkan bahunya, "Aku tak begitu memerhatikan perkelahian itu, B. Aku terlalu fokus berjalan kesini. Namun, aku sempat melihat jika luka memar Chanyeol sangat banyak dan berdarah-darah."
"Oh God!" tanganku dengan sigap menghempas selimut yang menyelimuti tubuhku. Kakiku akan turun dari tempat tidur sebelum Luhan mengintrupsi kegiatanku, "Kau mau kemana?"
Aku menatap Luhan dengan pandang 'Kau-bertanya-aku-mau-kemana?'
Luhan menghembuskan napas perlahan, "Dengar, B. Jika kau mencari atau bahkan menemui Park Chanyeol, kau akan semakin membuat dirinya mendapat banyak masalah. Kau ingin melihat siswa tak berdaya seperti Park Chanyeol sekarat di rumah sakit?"
Ucapan yang Luhan lontarkan membuatku tersadar, "Kau benar." Gumamku lirih, "Ini semua salahku, Lu. Seharusnya aku tak membawa-bawa dia saat berurusan dengan Yifan."
Luhan mengusap lenganku dengan pelan, "Bukan salahmu, B. Si tonggos itulah yang bersalah. Toh dia juga bukan siapa-siapamu lagi, tak patut juga dia masih merasa memilikimu."
"Lalu aku harus bagaimana? Aku merasa bersalah ke Chanyeol."
Luhan mengerutkan dahinya sebelum ia berkata, "Kau kirim pesan saja ke Chanyeol."
"Tapi aku tak memiliki nomor miliknya."
"Ya, minta saja ke orang yang memiliki nomor Chanyeol, B. Kau ini." gerutu Luhan
Aku termenung, "Tapi jika aku meminta nomor Chanyeol di siswa lain, beritanya pasti menyebar dan Chanyeol akan mendapat masalah lagi."
"Minta saja ke professor yang mengajar kalian berdua."
Mendengar usul Luhan membuatku terlonjak gembira hingga membuat ku melupakan pinggangku yang masih nyeri dan berakhir merintih kesakitan.
-o0o-o0o-o0o-
Gigitan-gigitan kecil di bibir bawahku menghiasi malamku saat ini. Bukan karena aku kelaparan hingga memakan bibirku sendiri. Tentu saja bukan, alasan konyol macam apa itu? Saat ini aku hanya merasa sangat gugup untuk menulis pesan ke Chanyeol. Well, setelah usulan Luhan dan jam kuliah ku telah usai, aku bergegas ke ruang dosen untuk menemui salah satu professor yang mengajar di kelasku dan Chanyeol. Dengan alasan kerja kelompok tentang tugas beliau, beliau memberikan nomor Chanyeol dengan mudah.
Namun, ternyata mengetik pesan ke Chanyeol tak semudah mendapatkan nomor miliknya
"Aku harus menulis seperti apa?" gumamku frustasi
Hai, Chanyeol. Aku Baekhyun, aku dengar kau dipukuli Yifan ya? aku minta maaf, ok?
Tidak.. tidak. Bisa-bisa dia salah paham jika dia membacanya dengan intonasi yang salah. Atau begini saja—
Hai, Chanyeol. Aku Byun Baekhyun. Lukamu bagaimana? Apakah perlu bantuan mengobatinya?
Hell, mengapa berasa murahan?
Ku gulingkan badanku berulang kali di atas tempat tidur, "Aish, mengapa aku seperti orang yang akan mengirim pesan ke orang yang disukai?"
Dengan tekat dan nekat yang telah terkumpul, jemariku mulai mengetik untuk mengirim pesan ke Chanyeol
Baekhyun
Online
Chanyeol?
Tak perlu cukup waktu lama, dering handphoneku pun berbunyi. Dengan cepat ku raih handphoneku. Namun ternyata—
Yifan
Online
Baek?
—Nama Yifan yang tertera. Sontak hal itu membuatku mengernyit heran, "Mengapa dia menghubungiku lagi?"
Belum sempat menulis balasan untuk pesan Yifan, handphoneku kembali bergetar dan menampilkan pesan baru
Chanyeol
Online
Siapa?
Mataku membulat ketika melihat pesan dari Chanyeol
Baekhyun
Online
Byun Baekhyun
Belum sempat aku keluar dari obrolan dengan Chanyeol, ia kembali membalas pesanku.
Chanyeol
Online
Ada apa, Byun?
Tak kusangka dia membalas pesan ku begitu cepat
Baekhyun
Online
Aku minta maaf, karena aku telah membuatmu berurusan dengan Yifan
Chanyeol
Online
Tak apa.
Membaca pesannya, membuatku menelan ludah susah payah, "Apakah Chanyeol marah?"
"Oh, yang benar saja, Byun. Bagaimana bisa dia tidak marah jika karena menolongmu dia menjadi babak belur penuh luka memar seperti itu?"
Aku menghela napas kasar sebelum membalas pesan Chanyeol
Baekhyun
Online
Kau tidak apa-apa?
"Astaga pertanyaan konyol macam apa itu, Byun? Orang dungu saja tau kalau luka memar parah tak bisa disebut 'tidak apa-apa'."
Chanyeol
Online
Tidak apa-apa. Kau tak perlu risau, aku sudah biasa menerima seperti ini
Baekhyun
Online
Maafkan aku, aku tak menyangka jika Yifan akan memukulimu. Sungguh.
Chanyeol hanya membaca pesan yang ku kirim. Meskipun telah beberapa menit berlalu, tak ada jawaban dari Chanyeol. Tanpa sadar, aku menghembuskan napas lelah. Sungguh, aku merasa amat bersalah kepada Chanyeol.
Baekhyun
Online
Maafkan aku, Chanyeol. Kau berhak marah kepadaku. Ini semua memang salahku
Lagi-lagi pesanku hanya dibaca Chanyeol. Ku letakkan handphoneku di meja tanpa berharap jika ada pesan yang masuk.
Ting tong
Suara bel menggema berulang kali, "Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?"
Ku langkahkan kakiku untuh melihat intercome, namun tak ada siapapun di depan pintu, "Bukan hantu kan ya?"
Belum sempat aku kembali melangkah ke dalam kamar, suara bel kembali menggema. Tanpa sadar, bulu romaku meremang. Pikiran negatif ku kemana-mana. Dengan cepat aku menuju ke pintu tanpa mempedulikan intercome yang tak menampilkan siapa-siapa itu.
Cklek
"Sial, benar-benar tidak ada orang?"
Kepalaku menengok kesana kemari. Namun, bukan seseorang yang ku dapat melainkan rangkaian tulip merah beserta amplop merah maroon.
Ku raih kedua benda itu, "Amplop merah lagi?"
Dengan cepat ku kunci pintu dan berlari ke kamar untuk melihat isi amplop merah ini. tak lupa ku matikan lampu utama tempat tidurku. Ku buka amplop itu dengan perlahan. Namun dahiku lagi-lagi mengerut heran, saat ini secarik kertas itu tak bertuliskan apa-apa. Tanpa sadar aku mendengus sebal.
"Benar-benar usil sekali orang ini."
Tak membutuhkan waktu lama, ku nyalakan kembali lampu utama kamarku. Namun—
"Sial." Umpatan spontan terlontar dari bibirku ketika membaca tulisan yang ada di kertas putih itu—yang mana hanya ditulis dengan tinta biasa
Keine Sorge
"Bahas asing lagi?"
TBC kan ya?
-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-
Note:
Maaf banget, updatenya lama :(
Okay, terimakasih untuk temen-temen yang sudah membaca, mereview, mem-follow atau mem-favorite. Aku sangat berterimakasih karena kalian mau meluangkan waktu untuk membaca ff ini.
Apakah ffnya tetap bikin penasaran? 0.0 Semoga semakin penasaran ya, maaf jika semakin absurb T.T
Mari kita saling menghargai, ya.
Fks24 ; syukur jika kamu suka ff ini, makasih ya^^
Azzuradeva : ini sudah panjang belum ya? hihihi, sabar ya ditunggu aja ya
rismaSbila : iya lanjut
keenz : si big boss siapa ya?hayo, jangan kemana-mana itu pikirannya. 0.0 ditunggu aja ya. hihihi, sabar^^
putrinurdianingsih3: iyakah? udah panjang kah? Hihi
Shellapcys18 : makasih, iya ini next, ditunggu aja ya ^^
Pinkeury : iya ini udah next ya, semoga smakin penasaran
Lightsaberyeol : hihi, iyakah? Ayo tanya ke bigboss aja yuk. Duh naena sama siapa nih? 0.0 udah panjang kah?
Hunhan1204 : tanyakan pada rumput yang bergoyang~ bercanda lho, ditunggu aja ya ^^
Hzianx : makasih, semoga masih keren^^
Rly : wkwkwk emang baekhyun mah sukanya gitu~
CB 6104 : karena yoo shijin ganteng. Wkwk
ChanBMine : wkwkwk, yuk tanya pada senandung rumput yang bergoyang,*bercandalho. Ditunggu aja ya
Babyeollie : iyakah? 0.0
Lee da rii : iya ini next ya ^^
Byun Sehyun : Yuk tanya ke big boss langsung yuk~ lol, iya ini lanjut ya^^
Fvirliani : hihi tenang, yifan pasti akan muncul ketika aku panggil pakek menyan. Lol. Wkwk iya ini lanjut ya, semoga tetep penasaran
Zenbaek : hehe gapapa dik *duh sksd akunya, lol. Hihi semakin penasaran ya^^. Semangat semangat
naomiRB : iya ini next ya^^
