"Apa? Kamu mau meminang anak saudagar matre itu? Tidak usah! Lagipula kekayaan kita takkan habis dimakan tujuh turunan."/

kekayaan apanya, buat beli pamflet aja nggak sanggup

, gumam Naruto.

Disclaimer :

Naruto

© Masashi Kishimoto

Genre :

Humor, Parody, Drama.

Pairing :

SasuNaru/NaruSasu

Warning :

mengandung unsur shonen ai, kadar ke-gajean yang tinggi desertai ketidaknyambungan, ada pula zat-zat senyawa Bolywood, OOC parah.

AN: author lagi seneng banget, soalnya berhasil dapet lagunya anime kekkaishi akai ito yang full version! Uhuy! Setelah dua tahun lebih mencari~ akhirnya dapat juga. #abaikan


"Kucing?" Kata Sasuke datar, ia mendapati peliharaannya –kucing, anjing, kambing, atau apalah- dipeluk oleh seorang pemuda dengan wajah yang familiar baginya. Pemuda berambut blonde acak-acakan, Sasuke langsung mengetahui pemuda itu adalah si pangeran yang baru saja bermimpi basah. Sasuke berjalan mendekati sang pangeran, "kembalikan kucingku." Ujarnya datar, sambil menatap pangeran dengan tatapan tajam, setajam golok yang baru saja diasah.

Naruto yang tadinya sempat tercengang karena bertemu orang yang mirip dengan gadis yang dicarinya langsung mengernyit. "Kucing? Apa yang kau maksud anak anjing ini?" Tanyanya kepada Sasuke.

Sasuke memutar bola matanya, "dasar dobe, anak TK saja tahu kalau yang kau gendong itu kambing." Ia melipat kedua tangannya di depan dada, berpose ala model majalah aneka (aneka satwa).

Naruto menggaruk belakang kepalanya. Mungkin pikirannya masih kalut karena gagal kawin, sehingga matanya menjadi sedikit rabun, bisa-bisanya ia mengira makhluk di dekapannya ini adalah anjing. "Tadi kau memanggilnya kucing?" Kini si 'kambing' menjilat pipi Naruto dengan ganas.

"Hn." Jawab si pelit omong, untung Sasuke tidak menjawab pakai bahasa isyarat. Kalau menjawab pakai bahasa isyarat bisa berabe.

Ah, rasa-rasanya Naruto pernah dengar kata-kata seperti itu, tapi dimana ya?

"Hoo… nama yang unik." Naruto manggut-manggut mengiyakan, padahal dalam hati ia mencaci 'cih, dasar nggak kreatif, kenapa kambing imut kayak begini dinamain kucing? Bukannya Alejandro atau Roberto. Atau paling enggak dinamain Sahrukhan, siapa tahu nanti dia ikut terangkat derajatnya karena kesamaan nama dengan pemain film India.' Tangan Sasuke terulur untuk mengambil kambingnya dari dekapan Naruto. Naruto pun dengan pasrah mengembalikan kepada sang pemilik. Setelah si kambig kembali, Sasuke buru-buru berbalik dan melangkah ke arah yang berlawanan dengan Naruto. Sasuke sungguh tidak ingin mempunyai urusan yang lebih panjang dengan pangeran.

"Ng, ano. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Naruto takut-takut, ia memainkan kedua ujung-ujung jari telunjuknya. Kegiatan itu terus berlangsung sampai Naruto melihat pundak pemuda di depannya sedikit bergoyang. Sasuke memutar balik badannya, mempertemukan pandangan mereka. Naruto merasa jantungnya berdebar halus ketika melihat paras tampan orang itu. Tidak salah lagi! Pasti dialah si pemilik Sandal Swallow!

"Mungkin…." Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Hal ini membuat hati Naruto yang tadinya bersedih, berubah drastis menjadi berbunga-bunga. Ada berkahnya juga ia gagal membeli pamflet.

"Um, kalau aku boleh bertanya lagi," pemuda berambut blonde itu nyengir. "Apa kau–pemilik–um–benda pusaka ini?" Naruto mengeluarkan benda yang katanya 'pusaka' dari saku celananya. Sebuah Sandal Swallow kumal dengan tali penahan yang sudah hampir putus ditampakkan oleh sang pangeran. Kemudian ia menyerahkan sandal pusaka itu ke tangan Sasuke.

Viola, Sandal Swallow milik ayah!' batin Sasuke kegirangan. Ia merebut sandal itu dari tangan Naruto dengan tangan kirinya, karena tangan yang lain dipakai untuk menggendong Si Kucing. "Iya, ini punyaku, makasih sudah Kau–-," suara Sasuke mengecil. Mampus, rasanya Sasuke ingin minum baygon lalu pura-pura mati. Dengan mudahnya ia keceplosan dan membuka jati dirinya hanya karena pancingan sepasang Sandal Swallow.

What the hell?

Naruto sumringah, -dengan spontan- langsung sujud syukur sambil membaca sholawat karena keberhasilannya menemukan sang 'putri' -ralat- mungkin 'putra'? "Kau, gadis yang waktu itu 'kan?"

Sasuke sempat punya ide untuk pura-pura pingsan, biar terbentur tanah atau batu, lalu bilang kalau lupa ingatan. Atau menceburkan diri ke sungai, membiarkan tubuhnya terbawa arus, dan menghilang dari hadapan si blonde ini. Namun semua pikiran aneh itu segera ditepisnya, "mu-mu-mu-mungkin kau salah orang." Sasuke hendak beranjak dari tempat ia berdiri sekarang, namun urung karena tangan Naruto menahannya.

"Kau adalah orang yang kucari! Ikutlah denganku ke istana!" Pinta Naruto dengan tampang-tampang–kebelet-ngelamar.

"Kau yakin?" Sasuke tersenyum sinis, "bisa saja aku hanya mirip dengan orang yang Kau cari. Sku punya alibi, saat itu aku sedang membaca komik di kamar. Mana mungkin aku bisa pergi ke pesta dansa, Pangeran?" Kata Sasuke bergaya ala tersangka di anime Detective Conan.

"Ha?" Pangeran Naruto membuka mulutnya lebar-lebar.

"Jangan berekspresi seperti itu, sudah kubilang, aku bukan putri yang kau car–UADOO." Tiba-tiba seorang lebih tepatnya sebuah –atau seekor? entahlah- menendang belakang kepala Sasuke hingga yang bersangkutan nyusruk mencium tanah.

"Dasar baka! Ternyata klien ane benar-benar dobe!" sesuatu yang tadi menendang Sasuke ternyata adalah si peri fujoshi, Haruno Sakura. Ia menggulung lengan piyama kebesarannya, "Entetau nggak sih, secara nggak langsungEntengaku ke pangeran kalo Ente 'si putri' yang meninggalkan Sandal Swallow itu! Nggak bisa banget Ente jaga alibi!" kata Sakura geram.

Ah… iya, ya. Sasuke mendadak sadar, setelah kram otak berkepanjangan.

"Sas, Ente nggak pernah baca buku Sherlock Homles, ya?" kata Sakura sambil berkacak pinggang.

"Ngg, ano… bukannya yang benar itu; Sherlock Holmes?" sela Naruto.

Sakura langsung memberi death glare 'diam lo' pada Naruto. "Ente nggak pernah baca komik Conan atau Detective School Q?" Sakura mencoba mengalihkan pembicaraannya setelah kejadian salah eja tadi.

Sasuke menggeleng pelan.

"Tsk, Ente nggak pernah nonton animenya?" Tanya Sakura lagi.

Sasuke menggeleng lagi. "Ente tau 'kan, sehari-hari ane cuma disuruh bersih-bersih mulu sama si gigi hiu?" Entah sejak kapan Sasuke mulai memakai bahasa ane-ente ?

"Miris banget hidup Ente, Sasuke. Ane sih sehari-hari nongkrongin cyber12 buat download anime. Lain waktu bakal ane kasih deh file nya." Di rasa-rasa, kok sepertinya obrolan mereka sudah mulai out of topic, ya?

Oke, back to story.

Naruto merendahkan badannya, ia duduk bertumpu pada sebelah lututnya. Tangan kanannya meraih kaki kanan Sasuke, kemudian memasangkan sebuah Sandal Swallow warna biru yang diyakini sebagai satu-satunya benda pusaka yang mampu menguak kebenaran sang putri pencuri hati pangeran. Mengapa Naruto memakaikannya dari kaki kanan dulu? Karena ia teringat pesan guru TK-nya yang selalu mewanti-wanti dirinya 'Anak-anak, kalau pakai sepatu, dari kaki yang bagus dulu; kaki kanan. Kalau dari kaki kiri, tidak disayang Allah.'

'Kalau pas, berarti dia memang putriku!' Naruto sedikit tersentak setelah sandal swallow tersebut berhasil dipasangkan. "Kok kegedean?" tanyanya polos, berarti dia bukan orang 'itu' dong. Jeritnya dalam hati penuh kekecewaan.

"Kakimu kok menyusut begini? Kelamaan dikeringin, ya?" Tanyanya lagi. Entah mengapa sekelebat bayangan tentang film Spongebob yang bajunya jadi kecil semua akibat terlalu banyak dikeringkan muncul di benak Sasuke.

"Kau pikir kakiku di laundry? " Dahi Sasuke berkedut. "Memang sandal ini milik bapak ane, jelas aja kegedean."

"Oooh, iya, ya." Naruto manggut-manggut. Kalimat Naruto seolah menutup upacara pemasangan Sandal Swallow yang sakral ini.

"Nah, pangeran. Berhubung sekarang Ente nemuin orang yang Ente cari, buruan deh nikahin dia. Jangan lupa sebar undangan ke rumah ane ya." Si peri fujo kemudian melenggang pergi, meninggalkan para tokoh utama di fiksi ini hanya berdua...

... Berdua saja.

Kemudian Naruto menatap sang terkasih yang akhirnya dia temukan tanpa harus mengarungi samudra atau empang sebelah istana, ia tersenyum simpul ketika pandangan mereka bertemu. Dengan gerakan pelan, Naruto mencoba meraih jemari Sasuke kemudian menggenggamnya. Sasuke sedikit kaget merasakan kehangatan mengalir dari ujung jarinya, namun entah mengapa ia merasa senang ketika Naruto melakukan ini. Dunia serasa milik mereka berdua. Sungguh saat-saat yang indah dan menyenangkan. Kalau ini film India, pasti sekarang Sasuke dan Naruto sudah nyanyi diiringi tarian beberapa dancers. 'Dil Mera Le Gayi Loot Ke… Chori Chori Chupke Chupke...'

"Oya, aku belum tahu siapa namamu." Tanya Naruto ketika mereka sudah berjalan sampai pada persimpangan.

"Aku, Sasuke… Uchiha Sasuke."


Cinderella

By

Pearl Jeevas

Hope you like it!


"Pakndo, hamba sudah menemukan pujaan hati hamba." Kata Naruto ketika ia sedang menghadap di singgasana ayahnya. "Aku ingin meminangnya, Pakndo." Kalimat yang diucapkan Naruto terkesan begitu yakin dan mantab. Wajar saja, karena dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia nggak sabar untuk segera kawin.

Minato memandang Naruto sejenak,"oya? Baguslah kalau begitu, pakndo tidak usah repot-repot lagi membeli pamflet. Kerja bagus, Nak! Kau mampu menghemat kas dapur kita." Dasar bapak-bapak pelit, Naruto mengutuk bapaknya sendiri.

Naruto celingak-celinguk sebentar, memastikan tidak ada Bundonya disekitar situ. Setelah dirasa aman, ia berkata pada Minato, "Terimakasih, Pakndo. Ano- kapan Pakndo sudi untuk datang melamarnya?" dengan suara pelan.

"Sekarang saja, aku tak mau membuang waktu lagi." Minato beranjak dari singgasananya.

Naruto terlonjak, setengah kaget, setengah senang, setengah tidak percaya. Jika ditotal hasilnya adalah satu setengah. "Hai'! Hamba senang sekali, Pakndo…."

Minato tersenyum simpul, kemudian ia memerintahkan pengawal yang berada di pojok ruangan untuk menyiapkan kendaraan. "Pengawal, siapkan pintu kemana saja!" perintah Minato kontan membuat pengawal, dan Naruto terbengong.

"Pak… pakndo, me-mangnya ada pintu kemana saja? Mengapa kita tidak naik kereta kuda saja?" Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Kalau kita naik kereta kuda, perjalanannya pasti lama sekali. Kalau kita tetap naik kereta kuda, fiksi ini nggak selesai-selesai dong. Memang sih, harusnya pintu kemana saja itu hanya sebatas khayalan. Wong ini Cuma fiksi, sudahlah, nurut saja sama pakndo."

Naruto manggut-manggut. Tak lama kemudian, pengawal yang tadi diperintahkan Minato menyiapkan kendaraan, datang dengan sebuah pintu berwarna merah muda. Minato mempersilahkan Naruto berdiri di depannya. Hal ini disambut dengan cengiran, Naruto melenggang menuju pintu merah muda tersebut. Mata biru laitnya menangkap beberapa baris tulisan di pintu itu. "Pintu Kemana Saja. How to use it , teriakkan tempat tujuan sebelum membuka pintu." Naruto menggaruk belakang kepalanya, lagi. "Jangan lupa kencangkan sabuk pengaman dan pastikan remnya tidak blong. Ngaco nih!"

Tak berpikir panjang lagi, Naruto segera meneriakkan 'Ke rumah Sasuke.' kemudian membuka pintunya. Naruto masuk kedalam pintu tersebut, disusul oleh Minato, setelah mengibaskan jubah sutra kerajaannya.

Dan mereka berdua pun menghilang di balik pintu, tanpa sadar dua pasang mata emerald menatapnya sambil berdzikir. 'Kuharap keputusan mereka tidak salah.'


.


Sementara itu, kediaman Sasuke.

"Sasukee! Kau belum menyapu halaman! Mau gue tabok ya?" Teriak Suigetsu sampai menghadirkan badai lokal di kawasan rumah Sasuke dan sekitarnya.

"Lo berani nabok gue, ha?" Balas Sasuke tak kalah garang sambil melemparkan sebuah kain pel berbau karbol ke arah Suigetsu. "Lo bosan hidup, ya?" Sasuke kemudian menatap sang papa uke dengan matanya yang berubah jadi merah- saringan, eh bukan sharingan maksudnya.

Suigetsu bergidik, "ampun Mas, nggak berani Mas." Kata Suigetsu sambil memegangi tangan kirinya tang entah mengapa jadi berdenyut-denyut sakit. Mungkin trauma akan dipatahkan lagi. Sasuke memandang angkuh pada sang papa. Suigetsu merasa dirinya mulai menciut karena di intimidasi oleh Sasuke. Ia beringsut sambil garuk-garuk gundukan tanah di pojok ruangan.

"Papa… Papa…." Karin berlari dari halaman luar dengan tergesa, napasnya memburu. "Papa… Papa Fugaku pulang!"

Beberapa detik kemudian Ino datang dengan tak kalah tergesa, "Papa… Papa pulang membawa oleh-oleh sebuah almari. Almari minta kunci, kunci minta tukang, tukang minta uang, uangnya dari raja. Raja minta istri, istri minta an–-"

"Cukup Ino, jangan malah nyanyi." Hardik Suigetsu cepat. Ia langsung bangkit dari pundungnya, tersenyum sinis sambil menyingsingkan lengan baju, "ayo kita sambut kedatangan Fugaku, hahahaha." Tak lupa dengan tawa laknat yang keluar dari bibir Suigetsu.

Dua gadis yang tadinya ribut sendiri langsung terdiam, atau lebih tepatnya cengo melihat papanya bergaya seakan dia adalah salah satu pasukan Kamikaze yang siap berperang. "Siap, kapten!" kata Ino dan Karin serempak, mereka ber-hormat-ria sambil menunjukkan cengiran lebar.

"Kalian bertiga, ikut aku. Dan kau Sasuke, jaga sikapmu ketika bertemu Fugaku." Suigetsu nampak menggurui Sasuke. sasuke berdecak kesal, namun pasrah saja ketika Suigetsu memerintahkan berjalan di belakangnya.


.


Ruang tamu kediaman Uchiha.

"Fuga-kun, selamat datang di rumah." Sapaan hangat dari Suigetsu kontan membuat Sasuke dan kedua saudara tirinya kebelet muntah. Pintar sekali si gigi hiu menyembunyikan topeng kejinya di hadapan Fugaku. Padahal biasanya kalau sedang kesurupan, Suigetsu suka makan ayam mentah. Lebih sering setalah dihajar Sasuke.

"Hn," Fugaku hanya menanggapinya dengan kata-kata trademark Uchiha.

"Fuga-kun lelah? Aku akan siapkan air panas." Suigetsu memanis-maniskan suaranya. Dan entah mengapa Ino dan Karin langsung permisi meminta izin ke kamar mandi. Mungkin menuntaskan hasrat kebelet muntahnya.

"Hn," tetap dengan trademark kebanggaannya. Fugaku kemudian memandang anak(asli)nya, yang sedang duduk di kursi yang bersebrangan dengannya.

"Sebentar ya, Sayangku… kusiapkan air panas dulu." Suigetsu melenggang pergi, dan lagi-lagi terdengar suara 'hooeek' yang berasal dari kamar mandi. Sepertinya baik Ino maupun Karin makin sakit perut mendengar sang papa uke bermanis-manis seperti tadi.

Sekarang, hanya tinggal pasangan ayah-anak Uchiha (asli, bukan imitasi) duduk berdiam diri di ruang tamu. Ditemani kesunyian dan keheningan, tak ada sedikitpun getaran penghasil suara yang terdengar. Bahkan setiap nyamuk, kecoa, serangga yang lewat akan langsung kehilangan kesadaran dan mati mendadak karena kesunyian yang begitu mencekam. Fugaku menatap lurus pada Sasuke, hingga panangan mereka bertemu.

"Sasuke." Kata Fugaku dingin, dingin sekali. Mungkin bisa dibuat mendinginkan es krim agar tidak mencair.

"Ayah." Sasuke menjawab datar, dan tak kalah dingin. Entah mengapa sekarang semua kursi dan meja ikut membeku.

"Sasuke."

"Ayah."

"Sas… uke"

"Ay… yah"

"Sasuke, maaf…." Mengapa Fugaku jadi melankolis begini? Lagipula, fiksi ini 'kan bergenre humor-parody-drama, bukannya angst.

"…" Sasuke tak menjawab, ia hanya diam dengan tetap memandang sang papa.

"Maaf Ayah tidak bia menemukan action figure Buri Buri Zaemon pesananmu."

Kalau saja Sasuke bukan Uchiha yang cool, mungkin sekarang sekarang dia sudah terjungkal dari kursinya.

Oke, back to story.

"Sasuke. bagaimana kabarmu?" Tanya Fugaku pada anaknya. "Rasanya sudah lama kita tidak bertemu."

Sasuke mendengus, "Tentu Saja, karena Ayah selalu bekerja tanpa ingat anak." Ia melipat tangannya di depan dada, sesekali memutar bola matanya.

Fugaku memejamkan matanya, ia menghela napas sebelum berkata. "Aku kerja demi Kau, Sasuke." Oke, nampaknya pembicaraan keluarga yang sedikit berat akan dimulai beberapa saat lagi. "Dan lihatlah, sekarang aku sudah sukses, aku punya banyak cabang toko sembako. Walaupun banyak customers yang menggunakan layanan kasbon, hingga aku perlu menyewa tukang pukul untuk menagihnya." Fugaku merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Bagaimana hubunganmu dengan Suigetsu?" Sasuke jadi punya ide untuk melaporkan semua kejahatan Suigetsu yang seenak dahinya menyuruh-nyuruh Sasuke kerja romusha. Sasuke juga akan melaporkan pada Fugaku kalau Suigetsu hanya memberinya makan dengan nasi karak dalam terasi udang untuk makanannya sehari-hari.

"Dia bersikap sangat buru–-"

"SASUKEEE! AKU DATANG MELAMARMU." Kalimat Sasuke terpaksa terpotong oleh kehadiran seseorang secara tiba-tiba dari pintu aneh berwarna merah muda. Seorang pemuda berambut blonde bermata biru laut datang bersama pria berambut blonde bermata biru laut juga, Naruto dan Minato. Dahi Sasuke berkedut, mengapa mereka datang disaat yang tidak tepat sih. Menganggu pengakuannya.

"Wah, kebetulan sekali ada ayahmu di sini. Aku akan melamarmu, Sasuke, menikahlah denganku." Ujar Naruto ceria, kemudian Ia memandang Minato untuk segera memulai acara lamaran dadakan yang sebenarnya belum terencana.

"Selamat siang, saya Raja Minato saya disini berniat untuk memi– APA?" Senyum Minato memudar ketika melihat calon besannya. "Kamu! Tukang jual pamflet matrialistis!" Tiba-tiba kobaran api muncul mengelilingi Minato. Kobaran api itu nampaknya sudah siap ditembakkan. Tentu saja ditembakkan pada Fugaku, orang nomor satu dari daftar orang yang tidak ingin Minato temui sepanjang hidupnya. Apalagi jadi besan. Lebih baik menceburkan diri ke empang daripada besanan sama pria matre itu.

"Customer kere…." Sahut Fugaku datar, sepertinya ia sengaja menyiram bensin untuk lebih membuat bara api disekitar tubuh Minato makin berkorbar.

"Seenaknya kau menghina Raja! Dasar rakyat jelata!" Minato yang merasa terhina itu kemudian menyemburkan api dari mulutnya ala naga di film How To Train Your Dragon.

Dengan sigap Fugaku berkelit dan berhasil menghindari serangan brutal dari Minato.

Naruto yang merasa alur fiksi ini makin out of story, mencoba meredam suasana dengan berkata. "Pakndo… jadi melamar?"

"Apa? Kamu mau meminang anak saudagar matre itu? Tidak usah! Lagipula kekayaan kita takkan habis dimakan tujuh turunan." Leak di dalam tubuh Minato sudah mengamuk sepertinya.kekayaan apanya, buat beli pamflet aja nggak sanggup, gumam Naruto.

"Pokoknya pakndo nggak setuju, pankndo mau pulang sekarang. Dan jangan harap pangeran bisa menikah dengan anak orang nista ini." Minato melenggang pergi dengan langkah besar-besar. Ia menutup pintu kemana saja dengan kekuatan penuh, jika saja yang ditutup tadi bukanlah pintu sihir, mungkin sekarang sudah hancur lebur menyisakan engselnya saja.

Naruto mengetahui dirinya telah gagal kawin untuk kedua kalinya hanya bisa mematung. Gue gagal kawin lagi… gue gagal kawin lagi… Naruto pundung di pojokan.

Sasuke menghela napas, kejadian tadi terasa terlalu cepat, penuh ketiba-tibaan. Ia mendekati Naruto yang sedang mengorek tanah, menepuk pundaknya pelan, kemudian tersenyum tipis. Sejujurnya, Sasuke sedikit merasa sayang jika gagal kawin dengan Naruto.

Hanya merasa sayang, eh? Oke, Sasuke berbohong. Dirinya sangat amat menyesal. Ia memang baru bertemu Naruto dua kali, namun cukuplah untuk menebar benih-benih cinta.

Sasuke mendekatkan bibirnya ke depan telinga Naruto, dan berbisik. "Kalau tidak direstui, kita kawin lari saja."


To Be Continued


Saya masih nggak tau ini NS-SN! Masih gelap.

Chapter ini pendek? Iya! maafkan saya.

yap! nyelesein fict disaat saya setengah WB. bagaimana chapter ini? um, mungkin nggak terlalu banyak humornya, entahlah. chapter 4 akan di update bulan ini kok. Saya bener-bener menyudahi fict saya, saya mau hiatus dulu soalnya UAN semakin dekat. Kalaupun sudah aktif lagi, saya

mungkin

nggak mampir dulu ke FNI *nyengir*/ditabok.

Saya tau fic-fic buatan saya juga nggak bagus-bagus banget, buanyak typo, newbie banget deh. Baru-baru ini saya juga sadar, sepertinya saya nggak punya bakat nulis. Hiksu~

Lagian, setelah ini saya nggak bisa lagi nulis fict dengan bebas. Laptop n speedy saya dirampas, dikeluarin seminggu sekali. Huwee~ #deritaorang yang mau uan. Dan sepertinya saya juga bakal menggunakan waktu luang untuk menonton anime daripada ngetik fict.

Ada yang suka gundam seed? Kalau suka, sekali-kali mampirlah kesana untuk memberi saya bantuan review. Wakakak *promosi*. Saya sepertinya juga mau mendekam disana saja. Memang, fict disana cuma sedikit dan nggak sebagus-bagus di FNI, seenggaknya disana nggak ada yang ngejelek"in pairing yang dibenci.

Waduh, kok jadi curhat begini? Yosh, sekian… berilah saya sepiring review! Satu review dari anda = 1000 semangat untuk menulis xD

PS: yang nggak login… balesnya di chap depan… gomenasai!

Terimakasih sudah mau baca~