TITTLE : Because Of…

SUMMARY : Kris dan Chanyeol. Keduanya adalah seorang psyco yang hidup bersama di satu rumah sakit jiwa. Kris yang tidak bisa bersahabat dengan siapapun terlihat akrab bersama Chanyeol. Tanpa Kris sadari, Chanyeol mempunyai rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Itulah penyebab utama ia masuk rumah sakit jiwa ini. Apa rahasia itu?

LENGTH : CHAPTERED

MAIN CAST :

- Wu Yi Fan a.k.a Kris

- Park Chanyeol

- Byun Baekhyun (genderswitch)

OTHER CAST :

- Xi Luhan (genderswitch)

- Kim Minseok a.k.a Xiumin (genderswitch)

- Kim Jongdae a.k.a Chen

- Kim Junmyeon a.k.a Suho

- Oh Sehun

RATED : T

DESCLAIMER : All cast belong to God. But, this story is mine.

WARNING : OOC, TYPO BERTEBARAN, BAHASA ANEH, SEDIKIT MEMBINGUNGKAN.

SAY NO TO BASH

DON'T LIKE DON'T READ!

HAPPY READING :)

"Chanyeol, aku harus memberi tau sesuatu padamu." Di depan Baekhyun terduduk dua namja tampan dan tinggi sedang menatap bingung ke arahnya. Baekhyun menatap serius kearah Chanyeol seolah-olah mengabaikan Kris yang duduk disebelah Chanyeol. Baekhyun tidak suka mengatakan ini, tapi ia harus mengatakannya.

"Apa itu?" Chanyeol menatap Baekhyun. Sepertinya sesuatu yang buruk akan diucapkan Baekhyun.

"hm.. aku tidak suka mengatakan ini sebenarnya. Tapi kalian harus dipisahkan." Baekhyun menundukkan kepalanya. "Tidak mungkin untuk satu kamar terdapat dua pasien yang sensitif. Itu akan sangat menyulitkan dan berbahaya. Chanyeol akan dipindahkan ke kamar Jongdae, dan teman kamar Jongdae -Suho- akan pindah ke kamar ini." Tambah Baekhyun. Baekhyun kembali menunduk menatap lantai yang sangat berdebu. Sudah beberapa hari ia tidak menyapu kamar ini, karena jadwalnya bukan disini dan mungkin ada perawat yang tidak melaksanakan tugasnya karena takut dengan dua pasien sensitif ini. Tentu saja semua gossip buruk di dapatkan Chanyeol dengan cepat.

"Ah, begitu. Ya sudah, aku…" Belum selesai Chanyeol membalas perkataan Baekhyun, Kris menyela ucapan Chanyeol dengan suara lantangnya.

"Tidak! Aku tidak mau! Apa salahnya? Apa yang berbahaya? Pindahkan dia atau aku akan membunuh orang yang akan menggantikannya!" Wajah Kris memerah menahan amarah yang belum sepenuhnya keluar. Chanyeol hanya melihat ke arah Kris dengan tatapan kosong. Baekhyun melongo dengan wajah tak percaya. 'Kris kenapa? Bahkan dia tidak mau jauh dari Chanyeol. Apa ini? Pernahkah Kris begini dalam hidupnya? Bukankah Kris orang yang tak peduli dengan siapapun?' Baekhyun bertanya dalam hati. Sungguh ini sangat aneh. Sangat diluar perkiraan. Baekhyun pikir Chanyeol yang tak akan bisa meninggalkan Kris. Ternyata salah.

"Hmm.. Kris, baiklah. Aku akan mempertimbangkan ini lagi. Jangan terlalu dipikirkan kata-kataku tadi. Maafkan aku." Baekhyun keluar kamar dengan perasaan campur aduk. Gelisah, bingung, kaget, dan tidak tau mau melakukan apa.

.

"Luhan, aku tak tau harus bagaimana lagi. Mereka tak bisa dipisahkan." Baekhyun menatap lesu Luhan yang sedari tadi sedang sibuk menyapu lantai ruang perawat. Mendengar kalimat yang diucapkan Baekhyun, Luhan mengangkat kepalanya dengan bingung.

"Kenapa? Bagaimana bisa?" Luhan sama sekali tak terpikir kalau mereka berdua tak dapat dipisahkan. Bahkan Luhan berpikir akan susah mempersatukan mereka. Kenapa lagi ini? Ah. Psycho bodoh itu memang tak dapat di perkirakan. "Apakah Chanyeol terlalu menyukai anak laki-laki kasar itu?" Luhan melanjutkan kalimatnya.

"Tidak. Justru sebaliknya. Kris yang tidak mau Chanyeol pergi. Bahkan Chanyeol menerima perkataanku, namun Kris menyela dan mengamuk berkata bahwa kalau Chanyeol pindah, orang yang menggantikan Chanyeol akan dibunuh. Ah, Luhan. Aku sungguh tak sanggup dengan manusia itu." Baekhyun menghembuskan nafas berat.

"Hmm.. ini keajaiban. Kalau memang begitu, kenapa harus khawatir? Itu berarti mereka tidak akan saling menyakiti kan? Apalagi kalau Kris yang tidak ingin Chanyeol pergi. Aku yakin mereka akan baik-baik saja." pendapat Kris ada benarnya juga, namun Baekhyun tetap saja gelisah dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain.

"Itu memang benar. Tapi, aku takut kalau terus begini, mereka akan berontak bersamaan. Jika mereka menyusun rencana di dalam sana, kita tak bisa berbuat apa-apa. Dua orang psycho –apalagi psycho sensitif- akan sangat sulit dilawan. Mereka tidak segan-segan membunuh, kau tau?" Baekhyun yang memikirkan kalimatnya sendiri saja merinding, apalagi Luhan?

"Tenang saja. itukan hanya pendapatmu. Tidak mungkin terjadi. Percaya saja padaku."

.

"Kenapa kau tidak mau aku pindah ke kamar lain?" Pertanyaan Chanyeol tepat pada sasaran. Kris yang mendapat pertanyaan Chanyeol hanya gelagapan tak tau mau berbicara apa.

"hmm.. bukan begitu. Beberapa hari yang lalu, kau yang bilang sendiri. Kau suka dengan kamar ini. aku ingin membelamu supaya terus disini. Apakah aku salah?" Kris membuat alasan yang cukup masuk akal. Yah, setidaknya psycho parah seperti Chanyeol akan percaya dengan mudah perkataan seperti itu.

"Oh, kau benar." Chanyeol menatap kosong melihat ke celah-celah dinding yang retak. Sepertinya rumah sakit ini sudah lama sekali dibangun. "Sudah berapa lama kau tinggal disini?" Chanyeol membuka percakapan baru.

"Sekitar 3 tahun. Semenjak adikku meninggal." Chanyeol menatap mata Kris dengan pandangan prihatin. Yah, walaupun Chanyeol tidak tahu rasa sedih yang dialami Kris seperti apa, tapi ia tau bagaimana cara 'berwajah prihatin'.

"Begitukah? Kemudian, mengapa kau menjadi tinggal disini?" Chanyeol kembali bertanya kepada Kris dengan tampang polosnya.

"Setelah adikku meninggal, orangtuaku tak menganggapku anak mereka lagi karena mereka mengira aku yang membunuhnya. Aku menjadi stress dan tak tahu apa yang harus aku lakukan di dunia ini. Satu-satunya alasan aku hidup hanya karena dia. Namun dia tega meninggalkanku di dunia keparat ini. Dan aku berjanji, jika aku bertemu dengan pembunuh adikku, aku akan mencabik-cabik tubuhnya!" di kalimat terakhir Kris mengeluarkan seluruh emosinya. Wajahnya merah dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sangat merindukan Sehun, satu-satunya manusia yang menyayanginya.

"kenapa kau begitu? Kau seharusnya dengan mudah melupakan adikmu itu. Dia akan bahagia kalau kau melupakannya." Chanyeol berkata seolah-olah pernah merasakan sakit yang sama.

"Aku juga ingin melupakannya, tapi aku tidak bisa. Sudahlah, lupakan saja." Selama ini, Kris sangat membenci nasihat. Namun ketika Chanyeol yang memberikannya nasihat, dia berpikir bahwa semua yang dikatakan Chanyeol benar dan tidak salah. "kalau kau? Apa alasanmu masuk rumah sakit ini?" Tanya Kris.

"Entahlah. Aku ingat, dari kamarku yang dulu aku diikat dan dimasukkan ke mobil. Kemudian setelah diperjalanan, semua ikatan yang ada di tubuhku dilepas. Mereka memberikan makanan-makanan enak padaku. Tentu saja aku senang! Sudah 3 tahun aku tersiksa karena jarang sekali mendapat makan, dan minum hanya jika tetanggaku berbaik hati." Chanyeol menarik napas siap melanjutkan kalimatnya. "Aku berpikir aku akan diantar ke tempat luar biasa dimana aku akan bahagia, dan ternyata benar. Aku ditempatkan disini. Di awal, aku tidak tau aku akan di apakan, dan seorang pria di dalam mobil berkata bahwa aku akan disembuhkan. Aku bahkan tidak tau aku sakit apa sehingga harus disembuhkan." Chanyeol menjelaskan panjang lebar dengan wajah antusias sambil menggerak-gerakkan tangannya. Terlihat sekali ia sangat bersemangat menjelaskannya.

"Bukankah itu pemaksaan?" Kris tak mengerti. Mengapa Chanyeol sampai harus diikat? Kris bahkan sama sekali tidak diikat, padahal Kris sangat memberontak saat itu.

"benarkah? Ah, ya sudahlah. Aku maafkan mereka." Chanyeol tersenyum. Senyum yang membuat Kris ikut tersenyum.

"Kau bodoh, Chanyeol." Kris masih tetap memasang senyumnya. "Aku menyukaimu."

.

Sepanjang malam, Kris hanya merenung sambil berbaring dikasurnya. Ia menyesali perkatannya yang sangat spontan itu. Apakah perkatan itu benar-benar dari hatinya? Ia tidak yakin. Namun, kalau itu bukan dari hatinya, dari mana asalnya?

'apa maksudnya itu? Kau menyukai wajahku? Ah, memang aku tampan, tapi lebih tampan kau, Kris.' Balasan Chanyeol terus terbayang oleh Kris. Iya bingung. Haruskah ia senang atau sedih karena balasan Chanyeol yang sangat bodoh ini.

Wajah Chanyeol sangat familiar diotaknya. Sangat familiar. Namun Kris tidak tahu dimana dan kapan ia pernah bertemu dengan Chanyeol. Yah, bisa dibilang déjà vu. Sebesar apapun usahanya untuk mengingat, tidak satupun petunjuk yang bisa dia dapatkan. Sebenarnya Kris sangat penasaran, ia ingin bertanya pada Chanyeol, namun apa yang akan di tanyanya? Bukankah Chanyeol memiliki otak yang lamban?

"Kris, kau sudah tidur?" tiba-tiba saja kamar terisi oleh suara Chanyeol. Kris ingin membalas pertanyaan temannya itu. Namun, kalimat Chanyeol ternyata berlanjut.

"Kau sudah tidur ya. Hm.. sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Sesuatu yang bahkan hanya aku yang tau. Aku tak memberitahumu karena aku tak tahu harus memulai dari mana." Chanyeol berhenti berbicara. Terdengar isakan. Chanyeol menangis. Tangisan yang sama sekali Kris tidak ketahui alasannya. Dia tak suka mendengar tangisan Chanyeol. Chanyeol sebenarnya kenapa? Ingin sekali Kris menanyakan hal itu. Tapi dia harus berpura-pura pura tertidur dan Chanyeol pasti akan melanjutkan kalimatnya.

Suara isakan terhenti. Sepertinya Chanyeol akan memulai kalimatnya. Kris menutup matanya dan berpura-pura sehebat mungkin supaya Chanyeol tidak menyadari kalau dia masih terbangun. "Kris, sebenarnya aku tau kenapa aku masuk rumah sakit ini. Dan mungkin alasanku ini berbeda dari apa yang mereka semua ketahui. Yah, perawat itu mengira aku masuk rumah sakit ini karena aku melihat adegan pembunuhan mengerikan di depan mataku. Itu benar, dan ada alasan lain. Aku..."

.

"Baekhyun, bagaimana kalau kita langsung tanyakan saja pada Chanyeol tentang hal ini? Aku takut kalau dibiarkan terlalu lama, masalah ini semakin rumit. Aku tidak suka kalau kita harus terus mengada-ada." Minseok berbicara serius dengan Baekhyun.

"hm.. tapi menurutku, dia akan sangat sulit mengaku karena dia pikir kita tak perlu mengetahuinya."

"Baekhyun, kita tak punya cara lain. Sama sekali tak ada. Semua info sudah tertutup untuk masalah ini. Sepertinya Chanyeol sangat menutupinya dan hanya dia yang tau." Minseok menatap baekhyun tepat di manik matanya.

"Begitukah? Ya sudahlah. Lakukan saja sekarang." Baekhyun sedikit tidak yakin, namun memang hal ini harus dilakukan.

"Bawa dia ke ruang pemeriksaan." Minseok dengan cepat membalas perkataan Baekhyun.

"Kulihat dia sedikit takut dengan ruang pemeriksaan, aku akan bawa Chanyeol ke ruang perawat. Tolong kosongkan ruangan perawat dan aku harap hanya ada aku, Chanyeol, dan kau didalamnya." Baekhyun mengucapkannya seperti itu adalah keputusan terakhir dan tidak boleh ada komentar lain.

"Baiklah. Terserah padamu." Minseok membalas perkataan Baekhyun. Baekhyun berjalan menuju kamar Kris dan Chanyeol.

"Bolehkah aku masuk?" Baekhyun sudah sampai di depan pintu kamar mereka. Baekhyun mengetuk pintu dan tangannya siap menekan handle.

"Masuk saja." Chanyeol yang membalas perkataan Baekhyun. Baekhyun masuk dan mendadak ia merasa ada yang aneh. 'Jarang sekali mereka saling sibuk sendiri. Selama ini setiap aku membuka pintu, mereka selalu duduk berdekatan seperti sedang mengobrol. Mungkin mereka sedang ada masalah.' Pikir Baekhyun.

"Ayo, Chanyeol. Ikut aku. Kau akan menemui kepala perawat." Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol.

"Untuk apa?" Chanyeol menatap mata Baekhyun.

"Lihat saja nanti. Ehm, kenapa matamu bengkak, Chanyeol?" Baekhyun membalas menatap mata Chanyeol, kemudian mengalihkan pandangan matanya ke Kris. "Apakah karena Kris? Apakah Kris membuatmu menangis?" Kris yang mendengar kalimat itu langsung mengalihkan pandangannya dari atap kamar dan menatap tajam mata Baekhyun. Baekhyun tidak takut kali ini, entah apa alasannya.

"Tidak. Mataku terkena debu. Kamar ini banyak sekali debu sehingga mataku menjadi bengkak." Baekhyun mendengar jawaban Chanyeol dan menganggukkan kepala.

"oh, begitu. Ya sudah, ayo kita pergi." Baekhyun menarik tangan Chanyeol menuju ruangan perawat. Jaraknya memang tidak jauh, tidak memakan waktu banyak untuk sampai di ruang perawat.

Tidak terasa, mereka sudah sampai di depan pintu ruang perawat. Sepertinya Minseok sudah membersihkan ruangan ini dengan baik. Baekhyun membuka pintu dan terlihatlah di ruangan yang serba putih itu seorang Minseok terduduk dengan mata menatap kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Hai, Chanyeol. Kau masih mengingatku, kan? Ayo, duduk." Minseok menunjuk kursi di depannya. Chanyeol yang mengerti kalimat itu ditujukan padanya langsung duduk di kursi yang telah ditunjuk Minseok tadi.

"Baekhyun, ayo duduk disebelahku. Sini." Chanyeol menarik tangan Baekhyun. Baekhyun tak mengikuti arah tarikan tangan itu. Dia tetap berdiri di tempat.

"Bagaimana caranya aku duduk? Tidak ada kursi lagi disini." Baekhyun mengerutkan kening. Chanyeol tersenyum mendengar perkataan Baekhyun itu. Sepertinya kali ini Minseok di abaikan.

"Aku juga tau kalau tak ada kursi lagi disini. Maksudku, kita berbagi tempat duduk saja. Kursi ini lumayan besar. Aku kasian kalau kau berdiri terus." Maksud Chanyeol 'kursi ini lumayan besar' sangat tidak bisa dipercaya. Itu hanya kursi kecil yang sangat pas untuk dipakai satu orang. Chanyeol kembali menarik lengan Baekhyun. Baekhyun tidak bisa menolak, dan terjadilah hal romantis yang sangat menyakitkan mata Minseok. Mereka berdua duduk di satu kursi kecil itu. Baekhyun ingin berdiri, namun Chanyeol tidak memperbolehkannya dan memaksa Baekhyun tetap duduk.

"Chanyeol, tak perlu melakukan itu. Aku akan ambilkan kursi lagi untuk Baekhyun. Bukankah sangat sempit?" Minseok yang sedari tadi tak dihiraukan mulai mengucapkan kalimat yang membuatnya ditatap sinis oleh Chanyeol.

"Darimana kau tau kalau ini sempit? Tidak! Ini tidak sempit. Biarkan saja dia duduk disini. Apa yang kau mau bicarakan padaku? Cepat beritahu aku. Tak perlu berbasa-basi." Baekhyun hanya diam. Saat ini waktunya Minseok yang berbicara pada Chanyeol. Baekhyun hanya menemani Chanyeol supaya dia tidak terlalu tegang. Dan kalian tau? Pinggang Baekhyun sakit sekali harus duduk sesempit ini. Sepertinya lebih baik kalau dia berdiri.

"Chanyeol, apakah kau senang tinggal disini?" Tanya Minseok mencairkan emosi Chanyeol yang sepertinya sudah diujung. Mungkin tadi Chanyeol menyuruh untuk tidak berbasa-basi, tapi itu tidak akan mungkin. Kalau Minseok terlalu to the point, yang ada Chanyeol langsung menolak tanpa pikir panjang.

"Tentu saja. Ada Kris dan Baekhyun, itu yang membuatku senang tinggal disini." Ucap Chanyeol sambil membuat lekukan kecil di bibirnya. Senyuman.

"Begitukah? Kemudian, apakah Kris baik padamu?" Minseok masih belum mengeluarkan inti percakapannya, masih berbasa-basi.

"Iya, dia cukup baik. Aku suka cara dia berbicara yang seperti tidak memperdulikan orang lain. Tapi, kenapa dia suka menyakiti orang lain, tapi denganku tidak?" Chanyeol berbicara sendiri.

"Sepertinya dia menyukaimu dalam arti sebenarnya." Minseok tersenyum tulus kali ini.

"Apa maksudmu 'menyukaimu dalam arti sebenarnya'? aku tak mengerti." Chanyeol mengerutkan keningnya.

"Hm.. seperti merasa ada yang hilang ketika kau pergi, merasa ada yang berubah ketika kau tak menyapanya, ikut merasakan sakit ketika kau disakiti, dan setiap hari selalu memikirkanmu. Seperti itulah." Chanyeol terdiam. Jadi.. apakah maksud Kris kemarin itu seperti ini? Chanyeol menyesal. Kenapa ia begitu bodoh? Kenapa Kris menyukainya?

"oh begitu." Hanya itu yang bisa Chanyeol ucapkan. Tatapan matanya benar-benar kosong.

"Chanyeol, apakah kau tau alasan kau masuk rumah sakit ini?" Minseok mulai mengganti topik pembicaraannya.

"maksudmu?" Chanyeol kembali tak mengerti, lebih tepatnya berpura-pura tak mengerti.

"Kami mengira bahwa kau menjadi depresi karena melihat adegan pembunuhan. Namun, sepertinya kami salah. Jawaban hasil test-mu benar-benar berbeda dari pasien yang melihat adegan pembunuhan juga, contohnya Kris. Jawabanmu dengan Kris benar-benar berbeda."

"begitukah?" Chanyeol menjawab asal saja. Chanyeol benar-benar tidak berharap Minseok melanjutkan kalimatnya.

"Tolong beritahu kami, alasan lain itu apa." Minseok menatap serius kali ini. Mata Minseok benar-benar tertuju ke mata Chanyeol.

"Aku tak mengerti." Chanyeol bangkit berdiri, mencoba keluar dari ruangan ini. Baekhyun dengan cepat menahan tangan Chanyeol.

"Chanyeol tolong jelaskan kepada kami. Ini sangat kami butuhkan, Chanyeol." Minseok memaksa Chanyeol untuk mengatakannya. Benar-benar memaksa.

"AKU TIDAK MAU!" kalimat ini cukup membuat kedua perawat terdiam dengan tampang menyerah. Benar kata Baekhyun, ini akan sulit sekali.

"Chanyeol, tenanglah. Biarkan aku bicara dulu. Kalau kau tidak mau menjelaskan ini, aku tak akan merawatmu lagi." Baekhyun menarik napas, kemudian melanjutkan kalimatnya. "kalau kau melihat adegan pembunuhan, seseorang yang dibunuh itu diapakan oleh pembunuh?"

"Ditusuk saja." Chanyeol menjawab seadanya, tidak mungkin dia menolak menjawab. Ia akan kehilangan Baekhyun kalau ia tidak menjawab.

"Apa kau mengenal salah satu diantara mereka?" Baekhyun menyipitkan matanya. Sebenarnya, dia sudah banyak menduga-duga. Semoga saja salah satu dugaannya benar.

"Aku mengenal pembunuhnya." Chanyeol menutup matanya. Membayangkan kembali saat-saat itu. Saat ketika ia melihat begitu banyak darah di lantai. Saat ketika melihat sebilah pisau menancap di tubuh seseorang. Saat ketika dia melihat seseorang yang tak bernyawa tepat di depannya.

"Siapa dia?" Baekhyun menurunkan nada bicaranya. Dugaannya hampir mendekati jawaban Chanyeol.

"Dia.. Chanyeol. Aku sendiri."

###### Tekanan Batin Chanyeol (TBC)/END? ######

Fic ini real dari otak author, dan otak author real dari kepala author, dan kepala author real dari Tuhan.

Yang review makasih, yang follow gomawo, yang favorite jeongmal gomawo, yang follow/favorite author diaminkan masuk surga.

Yuhu.. pasti kalian udah pada tau ya endingnya gimana.. Author banyak banget ngasi kode sih. Sebelumnya Author mau konfirmasi lagi/?

Author ini masih kelas 2 SMP. Jadi tingkat imajinasi author masih rendah banget (apaan sih). Ini ff emang pendek banget ya, setiap Chapter rata2 Cuma 2k word.. itu diakibatkan karena author yang tidak bisa mengembangkan kalimat ketika menulis suatu fanfiction /plak. Maap kalo typo lagi typo lagi typo lagi. Manusia tidak ada yang sempurna/?

Maap kalo Chapter ini Chapter terjelek sepanjang masa. Kalimatnya juga berantakan banget. Oh ya, FANFICTION INI SELESAI DI CHAPTER DEPAN :)

Udah ah, Author lagi malas nyampah disini. Chap depan aja deh. Maaf untuk yang review, author nggak bisa bales. Mungkin kapan-kapan/?

Menerima keripik *eh kritik dan saran di kotak review. Menerima BASH di kotak amal.

MAKASIH UNTUK REVIEW, FOLLOW, FAVORITE NYA :)