Title : Wound Inside

Disclaimer : Inspirasi dan plot dasar berasal dari Manga Sho-Ai Lovely Sick karya Ohmine Shouko. Karakter yang digunakan milik diri mereka masing-masing dan FF ini merupakan karya saya.

Cast : DBSK Members

Pairing : Yunjae

Rate : T

Genre : Romance (dengan unsur-unsur tambahan yang berbeda pada chapter-chapternya)

Warning : Yaoi dan karena perbedaan umur yang cukup jauh, mungkin iya dan mungkin tidak mengandung unsur pedophil

A/N : Lovely Sick hanya sebagai inspirasi dan plot dasar dari FF ini tanpa ada maksud menjiplak. Setiap komentar, review, saran dan ide cerita untuk FF ini sangat saya hargai. Happy Reading, ne~

Summary : Kim Jaejoong, bocah berumur 17 tahun yang diselamatkan dan diadopsi oleh Jung Yunho, seorang dokter muda 5 tahun lalu dari sebuah kecelakaan maut. Kehilangan kedua orangtua membuat kepribadian periang Jaejoong berubah 180 derajat. Ketus, pendiam, penyendiri dan egois berkebalikan dengan Jung Yunho yang kalem, ceria serta ramah. Walaupun begitu Yunho tetap mencintainya, lebih dari apapun.

[NOTE]

Jung Yunho – 27 tahun

Kim Jaejoong – 17 tahun

2. Brown Chocolate

Jaejoong sudah mengatakan dia tidak mau sekolah lagi. Titik.

Yunho sudah menyetujuinya, dengan terpaksa. Demi kebaikan bocah yang disayanginya itu. Agar dia tidak perlu melihat manik bayi Jaejoong terpaku menatapnya seakan dia telah menyakiti sosok itu dengan dalam. Tidak, Yunho tentu saja tidak pernah tahan melihat ekspresi sakit—terluka—dalam wajah itu, terlebih jika itu karena keputusannya. Apalagi jika harus melihat air mata. Maka Jaejoong menang dengan mudah malam itu. Ya, malam itu.

Matahari yang mulai menyembul dari ufuk timur merengsak masuk dari celah-celah gorden. Menimpa dua sosok yang terbalut dengan selimut tebal. Warnanya tidak kuning cerah, lebih pada putih pucat oleh awan kelabu yang berarak menutupi matahari. Bunyi alarm yang nyaring menggubris tidur sang dokter muda, membuatnya terbangun sembari mematikan alarmnya.

"Boo... ayo bangun," Yunho bukan pribadi yang susah bangun. Layaknya tempaan seorang dokter, dia terbiasa dibangunkan secara tiba-tiba dan harus siaga saat itu juga. Dengan sedikit renggangan tubuh pemilik mata musang itu telah kembali segar, berbeda dengan Jaejoong yang masih terlelap di sisinya.

"Kajja...kajja..." menarik tubuh Jaejoong yang masih terlelap hingga terduduk. Memegangi kedua tangan Jaejoong agar tak kembali merebahkan tubuhnya ke kasur. Membangunkan Jaejoong tidak pernah mudah. Itulah kenapa Yunho memasang alarm mereka jauh lebih pagi dari kebanyakan orang karena sebagian besar kebutuhan pagi Jaejoong akan dilakukan Yunho saat yang bersangkutan masih setengah tak sadar.

"Yunnie... ngantuk... " rengek Jaejoong menggeliat minta dilepaskan. Jengkel terganggu oleh Yunho, dia tidak tidur cukup tadi malam.

Menghela nafas panjang, mungkin dia memang harus menyerah tentang membuat Jaejoong sekolah. Tapi itu terlalu sia-sia, pikirnya masam. Terlebih jika mengingat fakta yang kini muncul dihadapannya, hasil jerih payahnya, fakta yang entah kenapa terasa kelu di lidahnya tiap kali dia ingin menyampaikannya pada Jaejoong.

"Kau harus mandi, kau harus ke sekolah," sekalipun Yunho telah mengiyakan kehendak Jaejoong malam tadi, dia masih penasaran apakah Jaejoong mengingat ucapannya semalam—yang diucapkan saat bocah kecilnya itu setengah mengantuk.

"Uung," mata bulat itu terbuka sedikit—sayu, tampak jelas masih mengantuk. "Joongie gak mau sekolah." Nadanya mengalun terseret-seret, membuat nada kesalnya justru terdengar imut. Tertawa pelan, dimainkannya tubuh Jaejoongie ke kanan dan ke kiri, mengganggu tidurnya.

"Jaejoong benar-benar tidak suka sekolah?" Mengajak Jaejoong yang masih setengah terlelap mengobrol adalah salah satu hobi tak terelakkan seorang Jung Yunho. Aah! Mana mungkin dia tahan untuk tidak bermain-main dengan Jaejoong yang mengguman-gumam imut saat menjawab pertanyaannya? Jaejoong yang sedang tidur adalah salah satu kesempatan untuk orang yang dicintainya itu berekspresi layaknya seorang remaja.

Ah tidak, anak-anak tepatnya.

"Ani... Joongie tidak suka pergi ke sekolah," gumam Jaejoong dengan nada kanak-kanak.

"Ne, lalu kenapa BooJae-nya Yunnie tidak suka pergi sekolah?"

Menguap lebar, membuka matanya yang tadi menutup lagi, "Gak ada yang suka Joongie, Yunnie..."

Berjengit kecil, alisnya naik sedikit, "Masa gak ada? Sama sekali tidak ada?"

Dari percakapan mereka tadi malam dapat ditangkapnya Jaejoong tidak terlalu menyukai sekolahnya. Atau mungkin efek dari kejadian di sekolahnya yang lama membuat bocah pecinta gajah itu mensugesti dirinya kalau tidak ada seorangpun yang akan mencintainya. Yunho tidak mengada-ngada, dia mengerti betul jalan pikir Jaejoong yang pesimistis dan berpikiran negatif.

"Um... mungkin ada," menguap kecil sambil mengacungkan jari telunjuknya, "Satu..."

Senyum merekah di wajah Yunho—senyum licik yang amat sangat jarang diperlihatkannya di depan Jaejoong. Percayalah bahwa dalam 5 tahun mereka hidup bersama, Yunho sering memperalat Jaejoong agar mengikuti kemauannya saat yang bersangkutan dalam kondisi seperti ini. Tentu saja bukan sesuatu yang buruk, dokter muda itu terlalu cinta pada sosok remaja di depannya ini untuk memikirkan satu pun hal buruk.

"Ada satu ya? Bagus dong... Namanya siapa?" Sembari mengendong Jaejoong di pundaknya, Yunho beranjak menuju kamar mandi dan mengisi bathtube dengan air hangat. Didudukkannya Jaejoong pada kursi yang memang sejak awal Yunho letakkan di sana, untuk membantu Jaejoong jika sewaktu-waktu dia tidak ada. Dilepasnya satu per satu kancing piyama Jaejoong.

"Namanya Kim Junsu," gumam Jaejoong mengantuk, dengan mata yang masih setengah terpejam—sayu.

"Junsu-ssi baik?" pancing Yunho lagi, kali ini merendam tubuh yang notabene lebih kecil dari dirinya itu ke dalam bak mandi dan menyabuninya.

"Baik... " Jawab Jaejoong yang kini sedang dibilas tubuhnya. Sebagian besar mandi paginya jarang dia ingat, mengingat Jaejoong bukan morning person. "Dia tidak berhenti mengikuti ku sepanjang hari." Dan saat dia benar-benar sadar dia pasti sudah duduk di meja makan dengan aroma masakan yang menggoda.

"Wah..." senyum yang sama kembali terbentuk di wajah Yunho. "Kalau begitu Junsu mungkin menunggumu hari ini?"

"Umm..." mengerang lembut, merasa terdistraksi oleh goncangan ringan saat Yunho menurunkan tubuhnya di pinggir kasur. "Mungkin," dan sebuah jawaban yang membuat seringai yang sama merebak pada wajah musang itu.

"Nah, jadi Joongie harus berangkat sekolah ya?"

Anggukan kecil malaikat mengantuknya dan sebuah tepukan lembut di kepala sebelum Yunho beranjak mengambil seragam Jaejoong.

xXx

Dia tidak kuat.

Yunho baru saja meringis untuk yang ketiga kalinya saat melihat tatapan marah pada manik Jaejoong. Yah, jujur saja cara dia menipu bocah itu untuk berangkat sekolah amat sangat kekanakan dan tentu saja tidak legal. Tidak bicara tentang hukum, tapi kata orang yang tengah berada di alam mimpi itu tentu saja tidak sah. Yah, yang dianggap sah-sah saja oleh Yunho.

"Aku tidak ke rumah sakit hari ini," tandas Jaejoong dingin saat membuka pintu. Membuat sang dokter melebarkan bola matanya.

"Eh? Tapi kau ada terapi hari ini?" sedikit seruan. Yunho paling tidak suka dia tidak mengikuti terapinya.

"Ya itu kan salahnya Yunnie," Jaejoong melirik dari sudut matanya. Tampak jelas menyalahkan. "Aku mau pergi dengan teman sekolahku." Oh dan jangan lupakan nada alot dalam kata teman itu.

Satu lagi ringisan muncul pada wajah tampan Dokter Jung itu. Ini bukan pertama kali dan sungguh telah berkali-kali hingga familiar dalam ingatannya. Tapi Jaejoong yang tengah marah—bukan ngambek—sungguh hal yang paling susah dia taklukkan. Lagian biasanya Jaejoong tidak semarah ini, maniknya yang biasa hanya berkilat dingin kini mengernyit.

Mengerikan, sungguh.

"Err, Joongie..." Jaejoong menoleh, memandangnya dengan tatapan kesal yang kentara. "Nanti...aku jemput jam berapa?"

Hanya satu tatapan beku yang menusuk maniknya dalam saat Jaejoong memandangnya dalam sedetik yang lama. "Jangan jemput aku."

Oh, shit... He's got the karma.

xXx

Sesungguh Jaejoong benar-benar pergi. Sekalipun itu di luar rencana, tapi dia memang tidak punya acara lain. Sedangkan si pecinta gajah itu sendiri masih tak ingin melihat wajah sang dokter barang waktu dekat, minimal hingga malam ini sajalah. Maka ketika Junsu mengajaknya makan siang di luar dan pergi ke toko baju sebentar, dia menyanggupinya.

Lagian kalau begitu Yunnie benar-benar tidak menemukannya.

Maniknya berkelana dari satu gedung dan gedung tinggi lainnya. Pusat-pusat berbelanjaan dengan plang warna warni dan tentu saja berbagai pamflet tersebar. Dia—sungguh—jarang pergi ke tempat semacam ini, bisa dihitung dengan lima jari. Sekali dengan teman-temannya—yang hanya menganggapnya angin lalu dalam acara mereka, dua kali dengan Yunnie dan sekarang dengan Junsu. Well, sungguh dia berharap dalam hati agar semua berjalan aman-aman saja.

Setelah beberapa kali debat—yang lebih banyak dilakukan secara monolog oleh Junsu—bocah lumba-lumba itu mengajaknya masuk ke sebuah toko baju di ujung tikungan. Tidak ada yang spesial, hanya deretan rak-rak tinggi di sepanjang dinding, gantungan besi dan tentu saja semua pakaian. Matanya berkelana dari tempat dia duduk—mengistirahatkan kakinya yang bekerja cukup keras sesorean ini—menyusuri deretan baju, celana panjang beberapa kemeja dan syal.

Lalu teringat Yunho

Kalau tidak ingat dia sedang marah dengan Yunnie-bearnya, Jaejoong pasti sudah membelikan satu untuk sang dokter bedah. Yang warna coklat tua, akan terlihat serasi dengan coat panjang Yunho yang dia belikan beberapa bulan lalu. Tapi bibir merah cherrynya kini saling menggigit, tipikal tiap kali sosok manis itu bimbang. Dia ingin membelikan satu untuk Yunho, tapi tanpa membuat laki-laki yang beda 10 tahun darinya itu menganggap kalau masalah hari ini adalah perkara mudah—kalau dia cuman ngambek.

Dia memang marah. Jengkel lebih tepatnya, amat jengkel pada Yunho. Mungkin tidak terlalu, yah... Jaejoong sadar bahwa sebagian besar rasa kesalnya lebih dia tujukan pada dirinya sendiri ketimbang Yunho. Dan dia sendiri tahu bahwa mengekspresikan emosi tidak pernah menjadi sesuatu yang mudah baginya. Saat rasa putus asanya pada garis maksimum, dia marah.

Dan mereka telah melewati masa 5 tahun yang sulit untuk saling mengerti. Menyadari bahwa Yunho tidak mengerti apa yang dia rasakan, apa yang bernaung dalam otak pesimistis paranoid miliknya karena mereka berbeda. Yunho bukan dirinya dan tentu saja dokter beda itu hanya seorang dokter—dan bukan seorang paranormal yang bisa membaca pikirannya—demi tuhan, Jaejoong mengerti itu.

Yang membuatnya makin kesal dia justru semakin tidak bisa mengungkapkan rasa ketakutan yang bernaung dalam imajinasinya.

Disadarinya pikirannya telah melayang saat Junsu berteriak dari ujung butik padanya, mungkin sudah beberapa kali. Alisnya naik sedikit sekalipun ekspresinya wajahnya tetap tak berubah dan entah bagaimana Junsu tahu dia sedang bertanya apa secara non-verbal.

"Lebih bagus biru atau hitam?"

Oh, dan di saat yang sama juga dia melihat Yunho. Tepat satu garis lurus dengannya, terpisah dua lapis kaca, dua ruang trotoar dan satu jalan besar. Duduk di sebuah restoran, bersama seorang wanita berambut coklat tua gelombang yang kini tengah mencium bibir Yunho—dalam.

xXx

"Rasanya masih sama," dengan sebuah senyum yang mengulum manis di wajah gadis itu, Yunho hanya bisa menyunggingkan sedikit ujung bibirnya terpaksa. Manik gelapnya merefleksikan gestur yang amat dia kenal, bahkan hapal. Gadis di depannya itu memang tidak pernah berubah, masih Go Ahra yang dia kenal. Teguh dan dewasa, pasti akan tiap langkahnya, gadis tempat dia melabuhkan cintanya nyaris selama 7 tahun.

Dulu.

Tapi kini hubungannya dengan Ahra hanya sebatas teman masa kecil yang saling kenal luar-dalam. Sudah enam tahun pula sejak terakhir kali dia bertemu sosok itu. Hubungan mereka berakhir dengan mudah, damai dan tanpa cek-cok. Senyum monoton yang sama menghiasi wajahnya saat gadis itu melangkah kaki masuk ke ruang tunggu penerbangan. Melanjutkan cita-citanya sebagai designer di New York sana.

Awalnya Yunho yakin dia pasti akan patah hati. Tapi lewat dua bulan sejak Ahra pergi dia mulai ragu apakah dia benar-benar cintah gadis itu. Tidak ada patah hati, rindu atau bahkan merasa kehilangan. Hidupnya masih sama datarnya seperti riak air di danau, tanpa arus, statis. Dan sekarang toh sedalam apapun Ahra menciumnya desiran itu tetap tak ada—memang tidak pernah ada.

"Laki-laki di Amerika tidak seperti di sini, apalagi sepertimu. Mereka gombal tapi tidak setia," dengus keluhan beriring terdengar bersamaan Go Ahra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Aku merindukanmu." Senyuman lebar dan sedikit kedipan mata dari gadis berambut coklat bergelombang itu membuat Yunho setidaknya menyunggingnya sedikit senyum—senyum monoton yang sama dengan yang selalu dia berikan untuk Ahra enam tahun lalu.

Dia hapal setiap gestur Ahra—gadis itu adalah cinta pertamanya sejak dia masih SD kelas 3. Bahkan saat dia mencondongkan tubuhnya, bertumpu pada pinggiran meja dan menopang dagu. Tersenyum padanya, sosok itu memang cantik—manis bahkan. Tapi semuanya tetap bukan apa-apa. Perasaannya pada Go Ahra tidak bisa dibanding sebutir pasirpun dengan perasaannya pada Jaejoong. Dan kini semuanya terasa jelas.

Go Ahra kembali mencondongkan tubuhnya lebih rapat, hendak menghapus jarak yang hanya sekian senti bersisa. Tapi ciuman yang pertama dia biarkan itu tidak akan punya kelanjutan. Beranjak berdiri dari kursinya, membiarkan cinta pertamanya—teman masa kecilnya—itu hanya mendongak memandangnya, dengan kerjapan bingung di mata.

"Yunho..."

"Aku harus pergi Ahra," senyum tipikal tanpa ekspresi terbentuk di sana, "Sungguh senang sekali bisa bertemu denganmu lagi."

Dilihatnya bingung bertumpu pada pandangan mata Ahra, tapi bahkan perasaan bersalah pun tidak ada di sana. Dia tidak akan menyalahkan Go Ahra, sekalipun gadis yang lebih tua setahun darinya itu yang memutuskan dirinya 6 tahun lalu. Dia salah karena membiarkan dirinya mengira dia mencintai Go Ahra dan juga membiarkan pemilik marga Go itu mengira sebaliknya.

"Kupikir... Kita masih bisa—" dengan nada ringan di dalamnya, Yunho memotong, "Aku telah menjalin hubungan dengan orang lain dan aku sangat mencintainya." Tidak ada yang perlu dia sembunyikan. Jika dunia bertanya padanya siapa yang dia suka, dengan lantang Yunho akan meneriakkan nama Jaejoong ke seluruh dunia, ke semua orang—yang tentu saja dia akan dibunuh Jaejoong setelah melakukan itu.

"Kuharap harimu menyenangkan, Ahra-ssi." Dan dengan kata itu dia pergi.

Xxx

Getaran kereta yang berjalan masih terasa sakit di kakinya. Baru lagi kemarin dia memaksakan diri dan sekarang menggenjot kaki-kakinya mengitari pusat perbelanjaan. Beberapa kali Junsu menawarkan istirahat, tapi dengan kondisi seramai itu nyaris semua bangku jalan penuh. Nafas menghela panjang, mengepul dalam hangatnya ruang sedangkan gambaran itu masih terngiang-ngiang dalam kepalanya.

Dia terkejut—tapi juga tidak. Lama telah dia memikirkan bahwa mungkin hal seperti ini pasti akan terjadi. Dia laki-laki dan Yunho juga sama, bagaimanapun dia tidak bodoh untuk tahu hubungan mereka tidak wajar, sering dikata menyalahi moral. Dan di luar itu selisih umur mereka satu dasawarsa, dia masih bocah yang menginjak remaja dan Yunho sudah dewasa. Suatu saat nanti sosok dokter murah senyum itu akan menikah dengan seorang yang cantik, memiliki anak dan hal-hal lainnya yang biasa terjadi dalam masyarakat. Sedangkan dia, mungkin selamanya dia akan tetap seperti ini, sama.

Perbedaan mereka begitu jauh, Yunho berkembang dan dia tidak.

Maniknya memandang pada sulaman syal yang akhirnya dia beli juga. Sekalipun mungkin tak akan pernah dia berikan pada Yunho. Atau mungkin nanti, saat mereka—Yunho dan siapapun gadis cantik yang dilihatnya tadi—menikah? Tawa justru meluncur dari bibirnya, bergetar dan baru dia sadari kalau pipinya sudah basah.

Dan sejak kapan tangannya gemetar?

Bibirnya terbuka, seakan ada sesuatu yang otaknya ingin katakan. Tapi tidak ada siapa-siapa di sini, Yunho belum pulang dan apartemen mereka sama sunyinya seperti kuburan saat sosok itu tak ada. Bagaimana jika nanti dia akan sendiri seperti? Tidak ada yang menunggunya dan tak ada seseorang yang bisa dia tunggu. Pikiran paranoid akut miliknya mulai merembes masuk tanpa pertahanan, membuat ketakutan menjadi nanar di matanya.

"Kumohon... berhenti," sugesti itu terlalu buruk untuk dapat dia tahan. Terlebih saat cerebralnya sendiri berkhianat memaki dirinya yang tak berguna, buruk dan hanya menjadi penghambat bagi Yunho. Saat seluruh memorinya membanjiri kepala bersamaan, fakta yang berceceran, rasa sakitnya dan bahkan memori saat mobil mereka menghantam truk kayu besar dengan kencang. Semuanya berulang-ulang dalam kepalanya.

Takut... Sakit...

xXx

Berulang kali dia menghubungi nomor telepon Jaejoong tapi hanya suara wanita dari operator yang menjawabnya. Dua kali pula dia mengecek seluruh sekolah Jaejoong, tapi sosok itu tidak ada di sana. Satu-satunya yang dia dapat bahwa BooJae-nya pergi bersama seseorang bernama Junsu sepulang sekolah.

Yang bisa dia harapkan adalah melihat sepatu Jaejoong di rak sepatu saat dia pulang. Degup jantungnya sudah begitu keras, sampai-sampai dia yakin kalau Jaejoong tidak ada di apartemen mereka, dia akan kena serangan jantung saking takutnya. Tapi sepatu hitam itu memang ada di sana, persis seperti bayangannya yang membuat nafasnya lega.

"Boo?" Melepas sepatunya asal, membiarkan pantofelnya berserakan di sana. Itu tidak penting, dia harus melihat wajah Jaejoong sesegera mungkin. Setidaknya demi kedamaian batinnya yang kini penuh adrenalin.

"Joongie?"

Tapi tidak ada sahutan dari manapun. Kamar, ruang tamu, nyaris seluruh ruang telah dia sisir tapi tak ada suara apapun. Maniknya nanar berkeliling, berharap Jaejoong ada di dekatnya dan hanya luput dari perhatiannya. Tapi nihil, hingga samar-samar didengarnya suara bilasan air toilet dari kamar mandi.

Pintunya terbuka, walau hanya sedikit celah. Dan Jaejoong memang ada di sana saat jemari besarnya mendorong pintu hingga benar-benar terbuka. BooJae ada di sana, dengan tubuh gemetar dan air mata mengalir deras di kedua pipinya. Jemari mungilnya mencengkram pinggiran kloset, sebelum kembali membungkuk di sana dan mengeluarkan isi perut yang sudah tak ada.

"B-boo? Ada apa?" Dapat dirasanya takut merayapi tulang belakangnya. Tapi suara Yunho terasa begitu jauh dalam telinganya.

"Jae? Jaejoong?!" Dia ingin bilang dia tidak apa-apa. Tapi semuanya terasa begitu sakit, mengerikan. Dan semuanya menjadi gelap. Terseret dalam arus mimpi buruknya sekalipun telah erat jarinya mencengkram tangan Yunho. Tenggelam dalam pikirannya sendiri yang menyiksa.

Tapi tangan itu tidak tergapai. Dan mungkin tidak akan pernah bisa dia gapai.

TBC

Saya tahu saya author yang suck banget TTATT

Dan saya sangat terharu masih ada yang mau ngereview ini FF padahal udah 3 bulan terlantar.

Tadinya saya gak niat nelantarin ini FF, tapi saya sibuk this and that sampe kena WB berat dan malah karena udah terlanjur lama gak publis merasa ini FF ya udah lha, gini aja... Tapi saya salah ;;A;;

I love this fandom and I would try my best to keep writing here, sekalipun cuman singkat, sekalipun gaje karena webe dan gak ada ide.

Thanks all~ Kalian bener-bener menggugah hasrat nulis saya lagi *terharu*

[Replies for Reviews]

Cho devi : Jae lumpuh kecelakaan, enaknya baca chap 1 aja. Pendek kok, cuman prolog. Dan Yunnie dokter ko-as yang dulu nanganin dia.

Orange Cassie : Iya, lumayan serius walau saya pengen nyelipin fluff di sini xDD

Shimsia63 : Yunnie itu dokter yang menangani Jaejoong saat kecelakaan, fell in love soalnya Eumma cantik *plak*

wulandarydesy : hehehe, ini udah di pake. Makasih buat sarannya. Um, bukan angst kok, sekalipun ada orang ketiga jatuhnya gak seperti yang dibayangkan *atau yang biasanya* xDD Thx buat idenya.

Naminra : secara hukum? Wali kok, secara gak umum... ehem... tahu kan? :D

Kimshippo : Iya, 10 tahun ^ ^ well, memang agak jauh... *tapi gak pedho kok, pas beberapa tahun yang lalu sih mungkin* #plak, tapi kan Yunppa tetep ganteng *halah*

-Laura Mochi- : Makasih buat commentnya a Idenya ditampung ya, dan thanks buat pujiannya, saya seneng pada suka gaya saya /

-Han-RJ- : Kalau orangtuanya Yunho nanti dulu ya, saya mau berpusat ke Yunjae dulu aja a tapi idenya tetep ditampung kok. Hu uh, Jeje memang minder =.=, lebih ke dirinya karena dia kayak 'gitu'.

Lee minji elf" : Bisa lagi ga ya~ oh, udah kok... udah jadi kekasih

Chan Nuriza : kejadiannya yang 5 tahun lalu, kalau beda umur 10 tahun, jadi Yunppa 27 sekarang.

Fatty-gyugyu : Hyaak, Author kembali. Maaf sangat lama (_ _)

Dongdonghae : Iya TTATT selanjutnya author akan berusaha ASAP, terus gampar aja saya biar cepet xDDD

Dan juga gak lupa THANKS A LOT buat desroschan, min neul rin, Julie Namikaze, NekYo, Rara, han gege, dindaR, noviuknow, dan para guest lain yang saya gak tahu namanya (_ _).