Disclaimer : Saya bukan pemilik Axis Power Hetalia, yang dibuat oleh Himaruya Hidekaz. Begitu juga karakter Hetalianya, Belanda/Netherlands/オランダ. Indonesia belum muncul di Hetalia dan aku berharap dia segera muncul secepatnya. Dalam cerita ini, Indonesia adalah perempuan.

.

.

Author Note : Lama tak berjumpa, tepatnya hampir satu setengah tahun dan itu sangat memalukan. Beribu-ribu minta maaf aku tak update ceritanya, meski aku membaca review kalian bahwa kalian menyukai ceritaku dan minta diteruskan. Kuakui, kedua tokoh ini mempunyai sejarah manis pahit dan mereka pasangan yang menarik untuk ditulis serta dieksplor. Seandainya Indonesia sudah 'official' dalam komik Hetalia, aku tak ragu berkata aku mendukung pasangan ini. Mereka ini nampaknya sudah terikat satu sama lain dan memberikan warna tersendiri dalam diri mereka satu sama lain.

Akhir kata, selamat membaca!


A Big, Warm Hands : Tangan Besar yang Hangat

.

.

.

Tahu berapa banyak tentara mati dari pihak aku Indie? Tahu berapa banyak? 15.000 ORANG INDIEE! 8.000 TENTARA EROPA DAN 7.000 ORANG PRIBUMI MATI KARENA PERANG BODOH INI!" teriakan Netherlands menggema mengisi seluruh rumah dimana hanya kita berdua, termasuk Satria dan Little Bunny. Aku yang mendengar jumlah tentara yang mati dari pihak Netherlands cukup kaget.

"15..."

"15.000 RIBU TENTARA! Separuhnya adalah orang Eropa!" kata Netherlands yang masih memegang bahuku dan menggeram marah. "Kamu pikir itu jumlah sedikit? ITU JUMLAH YANG SANGAT BANYAK!" Aku meringis kesakitan karena Netherlands namun ia tak peduli dengan erangan sakitku. "Apa kamu pikir aku suka dengan semua ini? TIDAK INDIE BAHKAN AKU MEMBENCINYA!" teriak Netherlands lebih kencang dari sebelumnya. "BANYAK UANG YANG HARUS DIKELUARKAN!"

"Apa di kepala kamu hanya berpikir uang saja? Bahkan perang yang banyak menghabiskan nyawa orang tak berdosa kau kaitkan dengan uang?!" aku teriak membalas ucapan Netherlands bahkan mendorong Netherlands cukup keras hingga tangan dia lepas dari pundakku.

"Kamu pikir aku orang yang hanya memikirkan uang saja? Kamu pikir aku seperti itu? Aku ini manusia Indie, mempunyai perasaan dan pikiran." Netherlands mengepalkan tangannya dan ia membanting meja cukup keras hingga barang-barang di atas meja sedikit melompat. "Coba kamu bayangkan bila di posisiku, coba bayangkan rasanya. Harus mematuhi permintaan Gubernur Jenderal yang kadang tak kusetujui, membeli budak-budak Afrika dan memisahkan mereka dengan keluarganya selamanya, membunuh orang-orang tak berdosa, perang diutamakan daripada perdamaian atau gencatan." Netherlands menggeritik giginya, menggigit bibir bawahnya dan tubuh dia gemetar mengingat semua kejadian pahit yang harus dia alami demi kemajuan negaranya.

"Kakak..." aku perlahan maju ingin memegang tangannya, memberi hiburan tapi saat tanganku berusaha menggapainya, ia menolaknya keras.

"Bayangkan bila kamu di posisiku. Apa kamu sanggup? SANGGUP KAMU DI POSISIKU?!" Amarah Netherlands bercampur dengan kesedihan yang baru kali ini aku lihat. Wajah dia emosional namun kulihat mata dia sedikit berkaca-kaca, berusaha menahan tangis dengan berpegangan pada ujung meja. Perlahan aku mendekati dia, ditolak lagi.

"Melihat wajah para budak yang menaruh dendam padaku, wajah mayat-mayat yang bergelimpangan darah akibat tanganku, wajah tipu muslihat para gubernur jenderal. Terkadang aku ingin mati karena tak kuat menanggung lagi, sebagai manusia ini lebih menyakitkan daripada luka fisik." Netherlands menunduk dalam, wajah dia tenggelam, napasnya tak teratur, tubuhnya bergetar dan kayu ujung meja yang dipegang Netherlands mulai patah. Mendengar semua kata-kata Netherlands membuatku merasa seperti orang bodoh. Rasa sakit dia tiga kali lipat lebih parah dibandingkan aku. Meski begitu, aku yang sudah sakit hati mempunyai ide untuk menghilangkan perasaan sakit ini secara singkat.

"Kakak, tolong bunuh aku sekarang..." kataku seraya memohon padanya, seperti meminta suatu barang yang susah dikabulkan.

"Apa?"

"Tolong bunuh aku, kak..." aku memohon dan kembali menangis. Aku menatap dia buram karena air mata dan melihat wajah Netherlands syok meminta aku membunuhnya. "Aku mohon bunuh aku kakak, supaya aku tak merasakan sakit ini lagi. Lebih baik aku mati daripada menanggung sakit ini..." Aku menunduk dengan mengontrol napasku yang sudah tak beraturan. Kepalan tanganku memutih karena rasa dingin angin hujan.

"Itu yang kamu inginkan? Mati?" kata Netherlands dingin dan aku bisa mendengar suara pedang yang dia ambil mejanya, pedang perak kerajaan Belanda. Aku melihat kilatan pedang Netherlands yang dikeluarkan dia, jantungku mulai berdegup kencang dan napasku memendek. Nampaknya aku akan mati sekarang. Satria mulai langsung berdiri di depanku, menggeram keras siap menyerang Netherlands sambil memasang kuda-kuda.

"Satria, sudah cukup... Ini permintaanku..." kataku menarik dia ke belakang, berusaha tak menghalangi Netherlands yang sudah bersiap diri. Aku melihat Little Bunny menarik-narik celana Netherlands dengan gigi mungilnya, meminta dia jangan membunuhku bahkan ia hampir merobek ujung celana Netherlands. Merasa ada penganggu, Netherlands menarik Little Bunny dan melempar dia ke sofa seperti melempar bola.

"Kamu serius ingin mati sekarang? Tak peduli dengan orang-orang sekitarmu?" Netherlands bertanya balik dan ujung pedang dia menyeret lantai, suaranya seakan menjadi lagu pengiring kematianku ini. "Yakin kamu sudah siap?"

"Ya..." jawabku lemas dan mulai menutup mata, siap untuk mati dipenggal oleh Netherlands. Napasku terburu-buru dan rasa takut mulai menghampiriku karena aku akan mati, mungkin sekarang. Mati dipenggal Netherlands, hidup-hidup. Aku mendengar bukan suara pedang yang siap diayunkan, tapi pedang yang dilempar keras ke lantai.

"Kamu bukan mau mati, kamu hanya ingin melarikan diri." jawab Netherlands sambil melempar pedangnya ke samping kemudian menarikku berdiri cukup keras tak peduli aku jatuh dan berjalan cepat sambil menarikku. Aku takut sekali melihat Netherlands seperti ini karena dibawa entah kemana. Kita berhenti di ruang tengah lalu Netherlands membuka pintu dengan paksa, diikuti Satria dan Little Bunny.

"KENAPA KALIAN IKUT? KELUAR! SEKARANG!" raung Netherlands dan tak segan ia mendorong keras Satria juga melempar Little Bunny keluar yang pas mendarat di atas kepala Satria. Sebelum mereka menyusul masuk lagi, Netherlands langsung menutup pintu dengan membantingnya. Suaranya bahkan menggema sampai aula rumah dan beberapa prajurit serta pembantu lain di rumah yang melewati ruang tengah ketakutan.

"Sekarang hanya kita berdua saja, tak ada pengganggu lagi." Jawab Netherlands dan ia mulai melepas jaket beserta syal bergarisnya, melemparnya ke samping pas mendarat di sofa. Aku sontak kaget melihat Netherlands melepas jaket beserta syalnya hingga ia hanya mengenakan kemeja putihnya. Perlahan aku lari ke pintu tapi Netherlands menarik tanganku hingga kita berhadapan satu sama lain.

"Sebelum kau pergi, kamu harus mendengarkan penjelasanku hingga selesai." Netherlands memegang lenganku cukup keras dan aku sedikit meringis kesakitan. Dia mengatur emosinya dahulu, mengusap kepalanya hingga rambut depan dia jatuh berantakan di dahinya. Netherlands menatap langit kamar, menggigit bibir bawahnya dan ia mulai siap berbicara denganku.

"Kamu tahu kalau aku dijajah oleh Spanyol dari aku kecil, bersama adik-adikku, Belgium dan Luxembourg." Sesaat Netherlands berhenti bicara dan kulihat muka dia sedikit emosi bila menyinggung masa lalu dia yang dijajah Spanyol. "Sekarang, aku sedang dalam masa perang dengan Spanyol sebab aku ingin merdeka dari dia dengan melakukan pemberontakan. Aku meminta bantuan dengan Inggris, Kerajaan Turki Usmani bahkan Perancis. Bila dihitung dari awal aku melakukan pemberontakan nampaknya aku akan berperang hingga satu abad."

"Netherlands..."

"Aku ingin negaraku merdeka dan menjadi negara maju, setara dengan Inggris yang dijuluki 'matahari tak pernah tenggelam'. Aku seharusnya tak bilang padamu Indie, tapi hasil sumber daya alammu membantu biaya perang aku dengan Spanyol. Mungkin lebih tepatnya kekayaan alammu membantu aku untuk merdeka."

"Apa?" kataku tak percaya dari yang baru saja diucapkan Netherlands.

"Kupikir demi kemerdekaan, mereka pasti akan melakukannya dengan jalan yang benar, nyatanya tidak. Mereka menipu kamu dan rakyat pribumi, mengambil untung dengan monopoli serta pembantaian besar-besaran. Aku protes kenapa harus dengan cara ini, apa tak ada cara lain kemudian mereka berkata yang membuat aku tak bisa protes kembali. Mereka berkata 'Ini demi merdeka dari Spanyol dan masa depan kemerdekaan kita', aku tak bisa melawan karena aku adalah harapan mereka untuk merdeka.

"Netherlands..." aku kehabisan kata-kata tak tahu apa yang harus kukomentari mendengar penjelasan dia.

"Aku meminta pada gubernur jenderal De Kock, lebih baik kita sudahi perang ini. Sudah cukup, banyak orang mati dan keuangan kita sudah semakin menipis hanya karena perang ini tapi dia tak peduli dan memilih tetap melanjutkan perang ini bahkan ia sampai membeli budak di Ghana dalam jumlah besar akibat kita kekurangan tentara Eropa." Netherlands menjelaskan panjang lebar hingga ia sendiri kehabisan kata-kata untuk meyakinkan aku. "Semua ini terjadi hanya karena perang."

"Cukup…" aku tak ingin mendengar lagi, sudah muak rasanya.

"Mereka dikontrak selama dua belas tahun atau lebih, harga satu kepala seratus F dan totalnya ada tiga ribu tentara belanda hitam." Muka Netherlands terlihat kacau mengingat berapa banyak mereka mengeluarkan uang hanya untuk membeli budak-budak Afrika demi perang ini.

"Netherlands…" jawabku pelan dan aku ingin ia segera menghentikan pembicaraan dia. Mendengar suara dia yang begitu rapuh dan sedih membuatku merasa seperti orang egois, tak mau melihat dan mendengar sudut pandang orang lain, hanya diriku sendiri yang kupentingkan.

"Kalau mau jujur, aku sangat membenci perbuatan mereka kali ini. Banyak uang keluar percuma dan selama perang, aku merasa menjadi orang terjahat di muka bumi ini. Aku memisahkan para 'belanda hitam' dengan keluarga mereka, melukai rakyat pribumi yang tak berdosa, membohongi kamu hanya demi kemerdekaan dan harga diri negaraku." Suara Netherlands sedikit bergetar.

Aku yang mendengar seluruh penjelasan Netherlands merasa kesal dan marah pada diriku sendiri karena tak pernah mendengar atau membayangkan posisi dia. Kenapa aku hanya memikirkan diriku sendiri? Aku tahu sebagai negara seharusnya aku memikirkan diriku sendiri dan berusaha menjadi yang terbaik. Seharusnya, meskipun bangsa eropa datang dengan tujuan berdagang dan niat jahat sekalipun aku tak boleh berubah menjadi orang lain.

Lebih tepatnya, aku berubah menjadi orang lain, bukan diriku sendiri. Semenjak kedatangan bangsa Eropa, semuanya berubah total. Sebelumnya kita tak ada masalah dengan mereka yang bertujuan untuk berdagang. Perlahan tujuan mereka berubah, dari berdagang hingga ingin menguasai sumber daya alam kami. Tak heran bila sikap rakyat berubah dari ramah menjadi benci karena perlakuan jahat para pemimpin Belanda sebab perbuatan mereka layak dibenci.

Namun, aku diingatkan bahwa apa pun yang terjadi, jangan sampai kamu berubah menjadi orang lain. Bila aku adalah orang yang mengedepankan perdamaian dengan diplomasi dan negosiasi, maka perjuangkan. Matilah sebagai dirimu sendiri, bukan orang lain. Jangan sampai kau berubah menjadi orang yang selalu mengedepankan perang sebagai jalan keluar, perang adalah hal yang terburuk karena perang membunuh banyak orang tak berdosa.

Masih larut dalam kesedihan, aku menelan ludah dengan napas sesak dan berjalan ke arah Netherlands, sedikit memeluknya dengan menyandarkan kepalaku di dadanya. Netherlands hanya diam tak membalas namun ia membiarkan aku memeluknya. "Apa tak ada cara lain Netherlands? Apa tidak ada..."

"Tidak ada, meski aku sudah mencarinya..." Netherlands menunduk sedih sambil menggenggam tangan dinginku yang gemetaran. "Maaf Indie... Maaf..."

Ternyata memang tak ada jalan untuk berdamai antara kita berdua. Sebelum aku membalas Netherlands, tiba-tiba napasku sesak, pandangan sekelilingku menjadi gelap dan badan menjadi lemas. Aku bisa melihat Netherlands langsung memelukku, memanggil namaku berulang kali dan dalam sekejap semuanya menjadi gelap dan sunyi.

.

.


"Ada penangkapan nak, penangkapan."

"Pangeran keraton…"

"Dia akan segera diasingkan."

"Kita ditipu, mereka licik…

"Itu bukan perundingan! Itu hanya siasat Belanda untuk menangkap Pangeran! Mereka licik dan tak punya belas kasihan!"

"Kita ditipu..."

"Jangan pernah biarkan... sampai kapan pun... jangan pernah biarkan orang kulit putih itu menguasai tanah kita dan menguasai kamu, bahkan memilikimu."

" Jangan sampai Belanda menguasai dan memilikimu nak..."

"Janji...?"

Mataku langsung terbuka lebar mengingat semua kejadian tadi siang saat penangkapan Pangeran Diponegoro. Semuanya aku ingat. Dari ucapan, nada marah dan sedih, tangisan para rakyat dan lain-lain. Napasku memburu begitu aku membuka mataku lebih jelas. Aku ada di kamarku dan Satria ada samping, memainkan tanganku seperti memainkan bola rajut. Tak hanya itu, Little Bunny ada di atas kepalaku, mendekatkan dirinya ke wajahku. Kelinci berbulu coklat muda bertelinga panjang Netherlands ini selalu khawatir bila aku jatuh sakit karena tuan dia langsung panik dan khawatir setengah mati meski Netherlands tak pernah menunjukkannya. Netherlands memang pandai menyembunyikan emosinya.

Aku mengelus punggung Little Bunny kemudian kepala Satria memastikan mereka kalau aku tidak apa-apa. "Aku tak apa-apa…." Kuelus kepala dia lagi dan merasakan Little Bunny langsung mendekat ke aku sampai melihat tangan besar dengan jari panjang memegang dahiku. Tangan yang berbau asap rokok, tinta namun hangat sekali. Tangan itu membelaiku dari dahi, pipi, dan rambutku perlahan seperti ibu membelai anaknya. Aku menutup mataku untuk merasakan kehangatan tangan itu lebih lama bahkan tak ingin pergi dariku.

"Siapa..." tanyaku lemas tak berdaya.

"Kamu sudah sadar sepertinya…" jawab lelaki berambut pirang coklat itu. Mataku masih buram namun aku mengenali suara itu. Suara yang cukup berat, serius, bicara apa adanya, langsung ke inti pembicaraan, dan tanpa basa-basi. Bukan suara yang membuatku sadar orang itu Netherlands, tapi tangan dia. Cara dia mengelus aku dengan lembut, membelaiku perlahan, bau tinta dan asap rokok, jari panjang dia yang sedikit kasar.

Tangan ini. Aku rindu tangan itu, tangan besar dan hangat itu. Sudah berapa lama? Aku pernah merasakan tangan hangat ini. Tangan besar dengan jari-jari panjang dan sedikit kasar. Putih pucat tapi rasanya hangat dan lembut. Ada bau asap dan tinta dari tangannya. Caranya membelai kepala, rambut dan wajahku membuatku merasa damai.

"Indie... bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" Netherlands kembali bertanya memastikan keadaanku sambil memegang dahiku, demam atau tidak. Aku tidak menanggapi serius pertanyaan Netherlands bahkan tidak menjawabnya. Aku terbuai dan kembali ke masa kecilku, berusaha mengingat kembali tangan hangat itu. Tangan yang memelukku dan membelai kepalaku hingga aku tertidur. Aku ingin merasakannya lagi, lebih dekat dan dekat hingga merasakan hangatnya tangan itu.

Aku berusaha duduk dan Netherlands melihatku bangun. Dia langsung mendorongku pelan, kembali berbaring di tempat tidur bahkan menyelimutiku. "Indie, lebih baik kamu tetap berbaring. Kamu masih belum begitu sehat..."

Aku tak peduli dan tetap bangun, mendorong selimut menjauh dariku dan meminta Satria membantuku duduk. Satria melompat ke belakang, membantuku bangun dengan kepala dia, sampai aku duduk dan ia kembali ke bawah lantai yang diikuti Little Bunny dengan melompat ke atas kepala Satria. Aku tak peduli kesehatan aku sekarang, yang aku inginkan adalah tangan hangat Netherlands dan berusaha mengingatnya lagi. Tangan yang selalu menenangkan aku dan membuatku merasa aman, juga merasakan kehangatan dan kelembutan Netherlands yang tak pernah dia tunjukkan. Tanpa ragu, setelah aku duduk, aku mendekat kepada Netherlands yang sedikit kesal karena aku tak menuruti kata dia tapi langsung terdiam melihat aku yang menyentuh tangan dia, menggenggamnya erat dan tanpa pikir panjang langsung memeluk erat dia.

"Indie…" Netherlands cukup kaget melihat aku yang memeluk dia tanpa ragu. Aku memeluk dia dan menyandarkan kepalaku di dada bidangnya mencium aroma dia, aroma bunga tulip serta embun. Aku menutup mata dimana ingatan pikiranku berusaha kembali ke masa kecilku. Sesaat aku merasakan tangan besar dan hangat Netherlands mengelus kepalaku dan membelainya perlahan. Netherlands menyentuh kepalaku, selalu tanpa henti dan ia lakukan dengan penuh kasih sayang.

"Kakak…"kataku dengan suara pelan dan semua ingatan memori dan tubuhku kembali muncul. Kata orang ingatan tubuh itu lebih ingatan tubuh lebih kuat daripada ingatan pikiran.

"Kau sudah merasa enakan Indie?" kata dia menangkup wajahku di telapak tangannya dan ia mulai mengukur demamku dengan memegang dahiku. "Kamu demam karena kamu kehujanan saat pulang tadi."

Ya, benar. Ini yang aku cari dan aku inginkan. Sentuhan hangat ini.

"Aku akan ambil termometer dahulu dan baskom berisi air panas..." sebelum Netherlands berdiri aku langsung menarik tangan dia, membuat dia kembali duduk. Netherlands bingung apa yang terjadi padaku, seketika dia melihat aku yang menarik dia mendekat padaku dan memeluk dia. "Indie, apa yang kamu lakukan?!" Netherlands kaget dan mata hijau dia melebar dengan pipi bersemu merah, melihat aku yang agresif memeluk dia tanpa alasan yang jelas.

"Ik mis broer handen…." Aku tiba-tiba mengatakannya jelas tanpa ragu, masih memeluk dia. "Aku suka tangan kakak, tangan hangat kakak meski itu bernoda…" saat aku mengatakan 'bernoda' tubuhku bergetar dan mataku buram karena air mata. Tangan yang dipakai untuk menjajah dan noda darah yang dia tumpahkan selama berperang dan menjajah.

"Indie…"Suara Netherlands terdengar sedikit terbata-bata, mungkin cukup kaget mendengar pengakuanku. "Indie…

"Ik mis je, Broer…"

"Eh?"

"Aku rindu kakak. Sangat… Rindu semua hal tentang kakak." Kataku sambil menegakkan kepalaku, menatap Netherlands lurus. "Semua yang kamu lakukan padaku..." tanpa rasa malu aku mencium pipi dia seperti yang aku lakukan saat kecil dan mencium ujung bibirnya. Netherlands langsung diam membisu bahkan tubuh dia berhenti, kaget melihat aku mencium dia tanpa ragu.

"Kakak... aku sayang kakak... sangat sayang..."

"Indie..."

"Kakak..." kataku perlahan mulai mengantuk lagi, selain itu badanku mulai terasa sakit. Netherlands membaringkanku kembali sambil menarik selimut hingga leherku.

"Sekarang tidurlah… Kamu butuh istirahat cukup… Besok kau libur…" jawab Netherlands sambil mengelus punggung dan kepalaku pelan. Kemudian dia mengecup kepala dan dahiku, seperti dulu sebelum aku tidur, ucapan selamat tidur. Aku kembali terlelap dalam kegelapan yang sunyi senyap.

.

.


Aku terbangun sekitar pagi, jam dua atau tiga pagi. Suara jangkrik di kebun yang merdu disambung dengan suara serangga lainnya membentuk harmoni indah. Aku turun dari tempat tidur dan melihat Satria tiduran di samping kiri, tidur terlelap. Aku berusaha bangun dengan tak membangunkan Satria tapi gagal karena mata dia langsung terbuka mendengar suara tempat tidur ketika aku turun dari kasur.

Satria turun dari tempat tidur, memutar hingga ia berhadapan denganku. Dia meletakkan kepalanya di atas pangkuanku dan aku mengusap kepalanya. Aku melihat sekeliling ruangan tidak ada Little Bunny, nampaknya ia bergabung bersama majikannya. Bagaimana aku bisa ada disini, di kamar dengan lap basah di dahiku? Mataku bertemu Satria seakan bertanya Satria apa terjadi sesuatu dan ia mengangguk.

Aku menaruh kain lap basah di samping dan ingat bahwa aku pingsan dan Netherlands membawaku ke kamar tidur. Aku sempat bangun dan melakukan hal tak pantas pada Netherlands. Bagus sekali, kamu membuat malu dirimu sendiri bahkan di depan atasanmu. Dia pasti akan bertanya langsung padamu kenapa kamu melakukan hal senonoh itu? Lebih baik kamu minta maaf secepatnya atas perbuatan memalukan itu.

"Satria, kamu tahu dimana Netherlands sekarang?" kataku turun dari kasur, membungkus diriku dengan selimut coklat muda. Satria menggeleng kepalanya tapi ia berjalan membukakan pintu untukku, memberi tanda bahwa Netherlands ada diluar. Aku keluar mencari Netherlands dengan Satria yang mencium aroma Netherlands untuk mengetahui dimana dia sekarang. Kadang bila aku tak tahu dimana Netherlands atau Little Bunny, aku mengandalkan penciuman Satria untuk mencari mereka.

Rumah cukup gelap karena lampu dalam rumah tak dinyalakan, entah kenapa dibiarkan gelap gulita. Aku mengambil lampu minyak di meja seberang kamar yang sudah berisikan minyak dan menyalakannya. Sambil memegang erat selimut di sekitar badan dengan tangan kiri, aku mencari Netherlands bersama Satria. Setidaknya aku bisa sedikit melihat ruangan gelap ini karena lampu minyak tua ini.

Aku berjalan pelan-pelan berusaha tak menyenggol benda sekitar sedangkan Satria santai berjalan mencari Netherlands dan Little Bunny. Wajar saja sebab dia harimau, bisa melihat tajam dalam kegelapan disertai penciuman yang tajam. Aku memegang lampu minyak yang posisinya setara dengan dadaku. Cahaya lampu minyak hanya mencapai sekitar lima centimeter dan cukup remang.

Seketika, Satria berhenti di depan pintu setelah belokan kedua kiri, tepat dekat ruang kerja Netherlands. Apa Netherlands ada di dalam ruang kerjanya? Ruang kerja dia cukup gelap bahkan tak ada suara sama sekali. Tanganku mendekati kenob pintu hingga selimut aku tertarik ke samping, digigit oleh Satria yang menyuruh aku pindah ke ruangan sebelah, kamar Netherlands.

Aku melihat cahaya mengintip dari sela pintu kamarnya yang tak tertutup rapat dan bisa kudengar suara Netherlands. Aku mengintip dibalik pintu, melihat Netherlands duduk di kasur, berbicara di telepon. Netherlands hanya memakai kemeja putih yang tiga kancing dari atas sudah dibuka, lengan kemeja digulung hingga ke siku, dan rambut depannya jatuh.

"Kamu ingin merdeka sekarang?" Kata Netherlands mengusap kepalanya dengan suara pelan. "Apa ini ada hubungannya dengan kerakusan pemimpin aku hingga kamu memilih merdeka?" Netherlands berhenti sesaat mendengar percakapan berikutnya kemudian mata dia sedikit melebar dan alisnya berkerut. "Dia juga ingin lepas dariku?" siku dia bersandar pada lututnya. "Apa karena aku sudah mulai bangkrut kalian menggunakan kesempatan ini untuk merdeka?"

Dengan siapa dia berbicara di telepon? Apa dia sedang berbicara dengan Gubernur Jenderal atau dengan salah satu pimpinan tentara dia? Aku sedikit mendekat, menempelkan telingaku mendengarkan percakapan Netherlands di telepon dengan seseorang. Sesuatu menarikku dari bawah, tak begitu kuat tapi cukup membuatku kaget. Binatang kecil dengan bulu coklat muda dan telinga panjang menarik-narik ujung selimutku dengan tangannya. Little Bunny senang aku sudah sadar dan tanpa ragu, ia menarik-narik ujung selimut dengan gigi mungilnya menuju kamar Netherlands.

"Jangan…" kataku pelan berusaha mengusir Little Bunny dan tak sengaja sikuku menyenggol vas bunga menimbulkan suara gesekan vas dengan meja kaca.

"Siapa?" tanya Netherlands berdiri menyudahi pembicaraan di telepon. Aku seketika kaget dan mundur selangkah ke sudut luar pintu, menyatu dengan kegelapan tapi Little Bunny keluar mengejarku dan menahan aku dengan menggigit ujung kain rok batikku. Saat Little Bunny keluar dari kamar, pintu kamar Netherlands sedikit terbuka lebar dan cahaya kamar dia membuat kegelapan di sekitarku sirna dalam sekejap.

"Indie?" tanya Netherlands melihat aku yang berjongkok, melepaskan mulut Little Bunny dari rokku. Satria bersembunyi di belakangku namun ia tetap waspada pada Netherlands dengan sedikit geraman.

"Aku…" aku masih dalam posisi berjongkok, tanganku melepas mulut Little Bunny dari rokku kemudian berdiri tanpa menatap Netherlands, memalingkan muka. Setelah kejadian yang terjadi tadi sore dan pertengkaran yang terjadi antara kita, aku merasa tak pantas menatap dia, namun aku merasa puas mengeluarkan semua kekesalanku pada Netherlands selama ini.

"Masuklah…" kata Netherlands berbalik badan membuka pintu kamarnya lebar, mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarnya.

"Nampaknya aku tak pantas untuk…" pelan-pelan aku mundur dan meninggalkan Netherlands meski Little Bunny protes.

"Masuk saja, ada yang harus kita bicarakan Indie…" Netherlands menarikku paksa masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Satria di belakangku. Aku diam terpaku di dalam kamar, melihat kamar Netherlands yang tak begitu luas dan sempit tapi sangat rapih untuk seorang pria.

"Duduklah…" kata Netherlands menyiapkan cangkir untuk minum. "Kopi atau teh?" tanya Netherlands tanpa membalikkan wajahnya.

"Teh…" kataku singkat dan duduk di sofa coklat muda yang berseberangan dengan meja kerjanya. Aku melepas selimutku dan membungkus kakiku yang sedikit kedinginan. Little Bunny melompat-lompat di bawah, meminta aku mengangkatnya ke atas. Setelah kuangkat, Little Bunny langsung mendekat ke arahku, mencari kehangatan dengan membentuk bola. Aku angkat dia ke atas dan kubungkus dengan selimut di atas pangkuanku sedangkan Satria hanya tiduran di samping sofa.

"Dia cukup khawatir melihat kamu pingsan dan demam, kadang dia pergi ke kamar kamu, memastikan apa kamu sudah sadar atau belum." Netherlands meletakkan cangkir berisi teh hangat yang diberi madu serta beberapa kue kering, kasstangels dan nasstart. Aku bergeser sedikit memberi ruang untuk Netherlands agar dia bisa duduk di sampingku. Netherlands duduk dan ia meletakkan bantal sofa diantara kita, seakan menjaga jarak denganku. Tak ada kalimat keluar dari mulut kita, tanganku memainkan telinga Little Bunny dan Netherlands minum kopi, wajah dia bercampur dengan berbagai emosi yang tak bisa kubaca.

"Maaf…" Netherlands berkata pelan, menunduk melihat cangkir berisi kopinya.

"Apa?" kataku kurang mendengar apa yang baru saja dia katakan.

"Maaf Indie, atas perbuatanku. Seharusnya aku berkata jujur tentang perundingan itu…" masih tak menatap wajahku, Netherlands menatap lurus ke jendela. "Semalam, aku berniat ingin memberitahumu tapi melihat kau yang begitu yakin perundingan akan berhasil, aku mengurungkannya." Jawab Netherlands pelan, memutari cangkir kopinya dan diketuk-ketuk dengan jari telunjuknya.

"Kenapa kamu mengurungkannya?" kataku menatap Netherlands yang tetap menatap ke depan.

"Aku…" tangan kiri Netherlands mengusap rambut depannya dan menarik napas dalam kemudian mengeluarkannya lagi. "Aku terbelah dengan dua pilihan." Kata Netherlands meletakkan cangkirnya di atas meja.

"Maksudmu?" kataku tak mengerti.

"Aku terbelah dengan dua pilihan, sebagai manusia dan sebagai personifikasi negara. Sebagai manusia, aku tak setuju dengan rencana para gubernur jenderal, berkata ingin melakukan perundingan damai namun akhirnya menangkap Pangeran Diponegoro dengan menipu dia. Seharusnya mereka menepati janji, namun mereka ingkar dan aku sangat kesal atas perbuatan kotor mereka." Netherlands menyeruput kopinya hingga tetes terakhir dan ia kembali tertunduk.

"Apa kamu…"

"Selamanya aku tak setuju dengan perbuatan mereka kepada rakyat pribumi. Perlakuan mereka kepada pribumi mengingatkan aku bagaimana Spanyol menjajah aku beserta adik-adikku, Belgium dan Luxembourg. Terkadang aku ingin memberontak dan berkata 'tidak', 'kalian salah', dan 'aku tak setuju' tapi aku tak bisa karena aku adalah sebuah negara. Sebagai negara, aku harus memperlihatkan kepada mereka bahwa aku adalah pemimpin mereka dan membela apa yang mereka lakukan selama demi kepentingan dan kemajuan negaraku. Bila aku melawan, sama saja aku tak setia dan menginginkan kemunduran." Netherlands bercerita panjang lebar kegundahan hatinya. Ini pertama kalinya aku mendengar Netherlands menceritakan keresahan hatinya dibalik wajah seriusnya.

"Aku juga…" kataku pelan, mengambil teh madu, melihat bayanganku sendiri. "Aku bernasib sama denganmu." jawabku sambil menyeruput teh madu.

"Kita tak sama, Indie. Kamu dijajah olehku sudah pantas kamu dan rakyatmu membenci kami yang sudah memperlakukan kalian semena-mena."

"Bukan…" aku memotong Netherlands, memainkan jari telunjukku di ujung cangkir. "Aku juga merasa terbelah, sebagai manusia dan sebagai personifikasi negara. Sebagai manusia, aku percaya tidak semua orang Belanda itu jahat. Ada beberapa yang baik dan tidak tahu soal penjajahan, mereka hanya ditugaskan kesini untuk bekerja. Aku tak setuju bila rakyatku berkata kaum eropa adalah makhluk barbar dan berdarah dingin. Aku tak setuju bila rakyat menginginkan perang dan mengesampingkan gencatan senjata atau jalur diplomasi." Kataku pelan dan Netherlands mendengarkannya seksama. "Tapi, sebagai negara aku tak setuju akan penjajahan yang dilakukan kalian terhadap kami. Ini tanah kita, kampung kita, dan kalian hanyalah pendatang dengan maksud mengambil hak milik kita. Rakyat berkoar menyatakan perang terhadap kalian."

"Intinya kamu tak ingin terlihat lemah di hadapan rakyat kamu bukan?"

"Ya, benar…" kataku mengangguk pelan. "Aku tak ingin terlihat lemah di hadapan mereka, sebab aku adalah harapan mereka. Kau juga, Netherlands?"

Netherlands diam seribu bahasa, namun kulihat kepala dia mengangguk pelan, setuju dengan pendapatku. "Menurutmu, apa kita melakukan hal yang benar? Untuk rakyat kita sendiri?"

"Aku tak tahu mana yang benar dan salah Netherlands…" jawabku pasrah dan kepalaku bersandar pada sikuku. Aku menekan kepalaku dengan kedua tanganku, hingga rambutku sedikit berantakan. Aku merasakan tangan Netherlands mengusap kepalaku, berusaha menghibur aku yang biasa dia lakukan kepadaku. Aku mengangkat kedua kakiku ke atas sofa, memeluknya dengan kedua tanganku dan daguku bersandar di atasnya.

Masih mengusap kepalaku, perlahan jari telunjuknya menaruh rambutku di belakang telinga, menelusuri tanganku. Kepalaku bergerak ke kanan, bertemu mata hijau zamrud Netherlands dengan rambut depannya yang jatuh di dahinya. Dia terlihat sangat berbeda dan aku lebih suka penampilan dia sekarang ini, lebih kalem dan mudah didekati.

"Kamu sudah besar…" kata Netherlands sedikit mendekat ke arahku dan tangan dia berdiam di atas kepalaku. "Dulu, kepala kamu lebih kecil dibanding telapak tanganku, sekarang besar kepalamu sudah sama dengan telapak tanganku." Netherlands mengusap kepalaku lagi dan membelai rambutku.

"Kau juga mulai berubah. Pertama kali aku bertemu, kamu sangat susah didekati namun sekarang kamu sedikit demi sedikit aku mudah mendekatimu." Kataku senyum kecil dan meletakkan tanganku bersamaan dengan tangan Netherlands di pipiku meski tangan dia masih lebih besar dibandingkan aku.

"Apa menurutmu begitu?" Netherlands bertanya balik, nampaknya dia tak sadar dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.

"Awal pertama kali kita bertemu, kamu sangat susah untuk tersenyum. Perlahan-lahan kamu mulai tersenyum, bahkan tertawa." Kataku menatap Netherlands dimana dia terdiam sesaat, menatapku diam. Netherlands mendekat kepadaku, tangan dia menangkup wajahku, menunduk dan wajah dia perlahan mendekat kepadaku. Tahu apa yang akan Netherlands lakukan padaku, aku menutup kedua mataku hingga merasakan bibir dia menempel dengan bibirku.

Ciuman kita berupa bibir bertemu bibir, tidak melibatkan lidah. Bukan ciuman dalam seperti dalam cerita novel romantis atau sepasang kekasih, ciuman antara aku dan dia terasa lembut. Aku merasakan tangan Netherlands perlahan ada di punggungku, menarikku lebih dekat, memelukku. Tanganku memeluk badannya dan nampaknya diantara kita tidak ingin berhenti.

Tiba-tiba aku merasakan bahwa aku berbaring di sofa sementara Netherlands berada di atasku, masih melumat bibirku. Beberapa menit kemudian, kita saling menarik diri karena kehabisan napas dan menatap tanpa sepatah kata apa pun. Tanganku bergerak menelusuri garis mukanya hingga rambut dia yang jatuh di dahinya. Tangan Netherlands bergerak menuju pipi merahku karena ciuman dia.

"Kakak…" tanyaku pelan bangun dari sofa, duduk berhadapan dengan Netherlands juga memposisikan dirinya untuk duduk.

"Apa Indie?"

"Apa… tak ada… jalan lain?" aku bertanya pada Netherlands pelan, menyandarkan kepalaku di bahunya dengan suara sedikit bergetar.

"Maksudmu?" Netherlands bingung dan ia membelai kepalaku kemudian mengangkat wajahku dengan penglihatanku sedikit kabur karena air mata. Jari panjang dia menghapus air mataku yang mulai jatuh.

"Kita… saling…" aku menutup kedua mataku dan air mataku kembali jatuh, semakin deras. Lidahku tak kuat mengatakan kalimat yang aku benci, dimana suatu saat akan terjadi diantara kita. Tuhan, aku berharap semoga tak terjadi di antara kita "saling membenci… berperang…" aku sesegukan dan membuka mataku yang semakin kabur karena air mata. Aku melihat mata hijau Netherlands terlihat sedih menangkup wajahku dengan telapak tangan besar hangatnya itu. Napas dia sedikit tak teratur, berusaha tetap tenang dan mengontrol emosinya. Netherlands menutup matanya erat.

"Indie… sudah…" Netherlands menyela berusaha menyudahi pembicaraan kita. Suara dia pelan seperti angin yang berlalu.

"Aku tak mau kita saling membenci kakak…"

"Cukup…" Netherlands memalingkan mukanya meski tangan dia menggenggam erat tanganku. Satria berjalan mendekati kita dan ia duduk dekat sofa, ikut merasakan kesedihan. Little Bunny mendekat dan ia menyandarkan kepala dia ke kaki Netherlands, menghibur tuannya yang sedang sedih dengan memejamkan mata, sedikit terisak.

"Tolong … aku tak ingin kita saling bertempur…" tangisku kembali pecah dan mengisi ruangan sepi ini dengan tangisanku.

"Indie…" Netherlands menarik aku ke arahnya dan memelukku erat. Aku memeluk dia balik sambil melingkarkan lenganku di badannya sementara dia memeluk badanku sehingga aku tenggelam dalam dekapan dia. Netherlands mengelus punggungku, atas dan bawah berulang kali, tidak mengatakan apa pun. Dalam ruangan, hanya suara isak tangisku dan suara serangga diluar seakan menghibur kita. Hujan yang sebelumnya berhenti kembali turun, gerimis. Antara kita berdua, tak ada yang saling melepaskan bahkan kalau bisa, kita ingin tetap seperti ini dalam waktu lama.

Aku merasakan Netherlands membelai rambutku, sesekali memainkan rambutku dengan jemari putih panjangnya. Aku menutup mata menikmati belaian jari Netherlands di rambutku, menenangkan aku yang menangis. Selama aku menikmati belaian dia, aku mendengar suara tertawa kecil dia.

"Apa ada sesuatu yang lucu?" aku bertanya pada Netherlands yang tersenyum sementara jari dia menelusuri bibirku yang sedikit kering. Tangan dia menuju kepalaku, mengusap lembut seperti yang dilakukan orang tua kepada anak mereka. Aku bisa merasakan hangat dari tangan besarnya. Ketika kecil, Netherlands selalu mengusap kepalaku dan membelai rambutku. Aku bahkan membandingkan tangan besar dia dengan tangan mungilku saat itu. Itu adalah memori favoritku.

"Aku berusaha mencari cara untuk menghibur kamu, tapi yang muncul adalah ingatan masa lalu antara kamu dan aku. Seketika aku ingin tertawa bila mengingatnya lagi."

"Memori antara kamu dan aku?"

"Nampaknya kamu sudah lupa, itu terjadi di hari ulang tahunku."

"Ulang tahun?"

"Iya, kamu minta aku untuk menggendongmu ketika aku sedang bekerja. Kamu sangat keras kepala hingga aku hampir hilang kesabaran dan saat kugendong, kamu menaruh sesuatu di atas kepalaku yaitu mahkota bunga yang kamu buat dari bunga-bunga dari taman belakang." Jari dia berhenti menelusuri wajahku dan mata hijau dia bertemu mata hitamku. "Itu adalah hadiah terindah yang pernah kudapatkan serta memori yang selalu kuingat."

Aku mengingat kembali hari ulang tahun Netherlands, membuatkan mahkota bunga untuknya. Entah apa yang terjadi, ingatan masa kecilku dengan mudah muncul dalam kepalaku. Tanganku bergerak menuju dahi Netherlands, menyentuh bekas lukanya di dahinya yang berbentuk garis lurus, mengusap rambutnya yang jatuh di dahinya.

"Aku ingat, ketika aku ingin memberi mahkota bunga untukmu, aku bersikeras ingin digendong hingga wajah kamu sedikit kesal." Tanganku berhenti di kepalanya, ketika aku menaruh mahkota bunga untuknya. "Apa yang kamu inginkan saat itu Netherlands?"

"Hal yang aku inginkan?" tanya Netherlands mendongak kepalaknya ke atas, melihat langit-langit dan Little Bunny mulai melompat ke atas sofa, mendekat ke Netherlands. "Aku tak tahu Indie…" katanya pelan, meletakkan kepalanya di bahuku, sementara aku mengusap rambut pirang coklatnya. Netherlands mengangkat kepalanya, menatapku dan hidung kita bersentuhan. Kulihat mata dia yang biasanya cukup dingin menatapku dengan hangat, mulut dia membentuk senyuman kecil dan kedua tangan dia membingkai wajahku.

"Apa tak ada yang kamu inginkan hingga saat ini?" tanyaku balik dengan pipi sedikit memanas, mungkin kemerahan disertai detak jantung yang tak karuan. Little Bunny berjalan ke arahku namun ditarik oleh Satria dengan mulutnya, merasa Little Bunny akan menganggu momen Netherlands dan aku.

"Aku hanya ingin bersamamu…" kemudian ia menutup mulutku dengan miliknya. Mendengar bahwa dia ingin bersamaku, perasaanku campur aduk. Aku seharusnya protes bahwa dia ingin bersamaku karena dia adalah penjajah, namun ada rasa senang ketika dia berkata ingin bersamaku. Orang-orang berkata aku harus membenci Netherlands, sebab dia adalah penjajah dan membuat rakyat menderita tapi aku tak bisa. Aku tak membenci Netherlands, namun yang kubenci adalah atasan dia yang menjajah negeriku ini.

Netherlands melepas bibirnya dariku dengan muka sedikit memerah, napas sedikit terengah. Masih menangkup pipiku, dia menatapku dalam-dalam. Tak peduli mukaku yang memerah, jantung berdebar kencang, dan bibir yang sedikit bengkak akibat ciuman, aku membalas tatapan matanya yang terlihat lembut namun sedih.

"Netherlands…" kataku berbisik, mengambil kedua tangannya dan meletakkannya di atas pangkuanku.

"Ya?" jawab dia pelan mengusap alis hitamku dengan kedua jempolnya.

"Suatu hari…" aku menekan tangannya sedikit keras dan menutup kedua mataku, "Aku tak tahu kapan akan terjadi…" aku menarik napas, membuka mataku dan menatap dia dalam-dalam. "akan datang hari kita akan membenci satu sama lain, bahkan keinginan untuk membunuh ada."

Kata 'membenci' dan 'membunuh' cukup membuat Netherlands kaget atau tepatnya, tak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan. Badan Netherlands sedikit mundur bahkan dia menarik tangannya dari pangkuanku namun kutahan. Alis dia sedikit naik karena kaget dan ragu dengan mata hijau sedikit melebar. "Apa maksudmu?" tanya dia dengan nada tak percaya akan ucapanku.

"Akan datang hari, aku tak tahu kapan akan terjadi." Kataku mengulang pernyataanku balik, "dimana kita saling membenci bahkan ingin membunuh satu sama lain."

"Sebisa mungkin aku tak akan membiarkan hal itu terjadi…" seru Netherlands memotong pembicaraanku.

"Mungkin kamu bisa, tapi bila kamu melihat semua kejadian yang terjadi saat ini. Apa kamu yakin kamu bisa menghindarinya? Bahkan aku sendiri tak yakin apa aku akan melakukannya padamu." kataku berbisik dengan suara serak. Seketika Netherlands langsung diam, memalingkan mukanya dariku mencari jawaban. Dia memenjamkan matanya sambil menarik napas dalam, perlahan mata dia membuka dengan tatapan kecewa.

"Kau benar…." Netherlands berbisik padaku dengan suara serak, membuat aku yakin kalau dia tak siap. "Pasti akan terjadi di antara kita, akibat perang dan penjajahan konyol ini." Netherlands mengusap rambutnya cukup kasar hingga rambutnya sedikit berantakan. "Kau sendiri bagaimana? Apa kamu siap menghadapinya?" katanya menatap balik padaku.

Nampaknya aku kehilangan suara untuk menjawab pertanyaan yang sama sekali tak bisa kujawab. Aku menundukkan kepala, menyandarkannya di dada bidang Netherlands. Aku bisa mencium aromanya, seperti toksin yang membuatku tertidur, memberikan aku rasa kedamaian dan ketenangan. Tak hanya itu, bau dia bagaikan bunga tulip yang bercampur dengan embun. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipi kananku.

"Kau menangis lagi…" kata Netherlands pelan, kemudian ia memelukku erat sambil mengelus kepalaku. Seharusnya aku tak menangis namun air mata berikutnya mulai jatuh di pipi kiriku. Aku terisak pelan dan memeluk erat Netherlands, tak peduli baju Netherlands mulai basah akibat air mataku. Aku mendengar Netherlands menggertakan giginya, mengelus punggungku yang naik turun.

"Aku tak siap…" kataku sembari menangis. Aku menghapus air mataku dengan punggung tanganku dan bibir Netherlands mendarat di kedua mataku berusaha menenangkan aku. "Jujur aku tak siap…" segukan semakin terdengar dan air mata kembali mengalir. Kepalaku menunduk dan air mata membasahi kain sofa dan aku mulai kesulitan bernapas.

Tanpa sepatah kata dan tahu apa yang harus dilakukan, Netherlands memelukku dan kubalas pelukannya tanpa ragu. Aku merasa sangat kecil dalam dekapan dia, melihat perbandingan tubuh dia dengan tubuhku jauh berbeda tapi aku merasa nyaman saja. Entah berapa lama kita terdiam dengan posisi seperti ini, namun yang kutahui tanpa sepatah kata apa pun, kita saling menghibur satu sama lain dengan cara kita sendiri.

"Sudah waktunya kamu kembali ke kamarmu. Akan kuantar." Netherlands menarik diri dan bangkit dari sofa. Ia mengambil gelas kecil berisi air putih dan minum hingga habis tak bersisa. Netherlands berdiri dan ia menarikku untuk berdiri namun aku bertahan di sofa, tak berdiri hanya memegang lengan Netherlands.

"Indie?" Netherlands berbalik melihatku tak berdiri, hanya memegang lengan dia. Pikiran aneh melintas di kepalaku yaitu hal yang ingin kulakukan bersama Netherlands sekarang ini. Untuk sesaat aku ragu, tapi aku katakan juga meski tak yakin Netherlands akan menuruti permintaanku kali ini.

"Bagaimana kalau kita tidur bersama, seperti dulu lagi?" kataku pelan menahan lengan Netherlands. Aku menatap Netherlands semoga saja ia mengabulkan apa yang aku mau, tapi bila ia tak mau tak masalah. Netherlands masih diam tanpa sepatah kata apa pun, lalu ia duduk di sampingku, mulai memegang tanganku.

"Kupikir ini bukan ide yang..."

"Hari ini saja, besok aku tak akan meminta lagi." Aku memohon padanya. Netherlands sedikit ragu akan permintaanku sebab dia juga khawatir bila dilihat bawahannya. Beberapa menit kemudian, ia duduk di sampingku dan menggenggam tanganku dengan sedikit senyum kecut.

"Baiklah, kalau itu maumu" katanya sederhana dan ia mulai melepas sepatu serta kaos kaki. Dalam hati, aku sedikit senang ia mengabulkan permohonanku dan menang. Aku bergeser memberi ruangan kepada Netherlands dengan posisi duduk. Setelah ia mulai berbaring, aku duduk menatap dia dari atas hingga bawah, tak menyangka bahwa dia memiliki kaki yang panjang.

"Kali ini apa?" tanya dia menatapku heran kenapa belum berbaring juga. "Katanya kamu ingin tidur."

"Kakimu sangat panjang, tak heran kamu begitu tinggi." Kataku masih takjub dengan panjang kaki Netherlands. "Bagaimana kalau aku ukur tinggi kamu?"

"Maksudmu, kau mau mengukur tinggiku dengan penggaris atau apa?"

"Hanya ukur dengan jengkal, kalau dengan penggaris aku harus bangun dari tempat tidur untuk mencari penggaris. Aku cukup malas melakukannya." Kataku mulai bergeser sedikit pas di samping Netherlands di bagian badannya. "Aku akan mengukurnya dengan jari-jariku saja."

"Tak tahu apa itu efektif, tapi terserah kau saja." Katanya datar dan ia mulai bersiap diri untuk diukur tinggi badannya olehku. "Bilang kalau kamu sudah siap"

"Sudah, tolong jangan bergerak." Kataku mulai meletakkan jari-jari dekat kepalanya. "Jangan bergerak, hanya sebentar saja." Kataku senyum memulai kegiatan ini. Apa tinggi badan Netherlands bertambah atau tetap seperti dulu?

"Baiklah, lebih cepat lebih baik." Katanya dia yang mulai menutup mata, menarik napas panjang. Satu jengkal, dua jengkal, tiga jengkal, kuukur hingga mencapai ujung kakinya. Mataku membelakak lebar ketika mencapai ujung kaki dan totalnya adalah tujuh belas jengkal. Tinggi badan Netherlands bertambah sedikit dibandingkan ketika aku menghitung tinggi dia dahulu.

"Sudah selesai?" katanya bangkit dan ia melepas dua kancing dari atas, merasa cukup panas meski suasana dalam kamar sejuk karena hujan yang turun. "Apa tinggiku bertambah atau tidak?"

"Bertambah, nampaknya cukup banyak sih..." kataku dan mulai berbaring sebab permainan mengukur tinggi badan sudah selesai. Dengan posisi duduk sambil bersandar, Netherlands melihatku yang berbaring dan kurasakan tangan dia membelai kepalaku dengan jari-jarinya.

"Sebelum tidur, kau selalu mengukur tinggi badanku dan berkata suatu saat akan menyusul tinggi badanku walau kupikir itu mustahil." Netherlands memainkan rambut di dahiku dan perlahan jari dia turun, membelai pipiku serta merasakan bibirku tersenyum.

"Kau tak tidur?" kataku berbalik ke kanan, menghadapnya yang masih duduk bersandar pada papan tempat tidur.

"Nanti saja, lebih baik kamu dahulu baru aku menyusul." Katanya masih membelai kepalaku. Netherlands mulai berbaring di sampingku dengan menyandarkan kepalanya di lengan kirinya, masih menatapku yang belum tidur juga.

"Kau akan tetap disini?" kataku dengan sedikit pelan, rasa kantuk datang padahal aku sudah tidur cukup lama.

"Tentu, aku tak akan pergi." Katanya santai dan menguap, nampaknya ia sudah mengantuk seperti aku. "Katamu kau ingin kita tidur bersama seperti dulu bukan?"

"Ya, terima kasih..." kataku senang mengenang momen bahagia masa kecilku dahulu bersama Netherlands. Tanpa ragu, aku memeluk dia dan mendekatkan diriku kepadanya dan wajahku tepat pas di dadanya. Aku merasakan Netherlands cukup kaget dengan tindakan aku yang tak biasa ini. Beberapa menit, ia tak memberi respon atau protes hingga akhirnya Netherlands menarik pelan diriku lebih dekat kepadanya, berusaha membetulkan posisinya dengan meletakkan kepalaku di atas lengan dia. Aku bisa mendengar suara jantung Netherlands yang berdetak cukup kencang serta napas dia yang sedikit cepat.

"Perlu kunyanyikan lagu?" katanya menepuk-nepuk bahuku pelan seperti ibu menepuk pundak bayinya agar cepat tidur. Aku mendengar suara Netherlands menyanyikan lagu dengan bahasa ibunya.

"Boleh saja..." kataku mulai mengantuk akibat senandung lagu Netherlands. Tanganku bergerak ke arah punggungnya, merasakan hangatnya badan dia. Perlahan, aku memeluk balik Netherlands, menginginkan kehangatan dia yang selama in aku rindukan.

"Kakak..."

"Ya?"

"Jangan pergi… Tetaplah disini…" kataku pelan, menarik dia sedikit mendekat padaku dan aku menghirup aroma khas Netherlands. Bau bunga tulip dengan sedikit bau rumput segar.

"Ya… aku tak akan pergi... Aku janji..." katanya mengelus punggungku atas dan bawah, mencium kepalaku sembari memainkan rambut hitam panjangku. Aku merasakan tangan dia beristirahat di tanganku, menggenggamnya masih bersenandung untukku.

Yang aku tahu hanya tangan hangat dia yang selalu menenangkan aku dan membuatku merasa bahagia. Dia tak ingin aku pergi dan aku tak ingin berpisah dengannya, masih banyak yang ingin aku lakukan bersama Netherlands. Di saat seperti ini atau waktu seperti ini, rasanya mustahil bahkan tak mungkin terjadi di masa depan nanti.

.

.


Aku dibangunkan oleh sinar mentari yang mengintip dari gorden. Mataku perlahan terbuka dan merasakan seseorang memelukku erat, dekat sekali. Aku merasakan tangan hangat Netherlands memelukku erat dan kadang mengelus punggungku, memastikan aku tidur tenang. Netherlands masih tertidur lelap dan rambut depan dia jatuh tepat di depan matanya. Netherlands terlihat lebih muda bahkan manis bila ia membiarkan rambut depannnya jatuh.

Aku perlahan mendekat ke sampingnya sementara tangan dia masih memelukku, penasaran melihat dia sedang tidur. Aku membelai rambut dia ke arah samping hingga alis dan dahi dia terlihat. Alis pirang cukup tebal yang selalu membuat mata dia terlihat tajam. Tanganku bergerak ke atas, melihat garis luka dia yang berada di dahi. Aku selalu penasaran darimana dia mendapatkan luka ini dan dia tak pernah membicarakannya kepadaku. Umumnya orang selalu menyembunyikan bekas luka di anggota badannya dengan cara apa pun tapi Netherlands tidak, bahkan dia terang-terangan memperlihatkannya. Kalau aku adalah dia, pasti aku akan selalu menyembunyikan bekas luka di dahinya dengan poniku.

Tanganku bergerak sedikit ke bawah, ke bulu mata panjang dia yang berwarna pirang, membingkai bola mata hijau dia. Aku membelai muka dia pelan-pelan dan sadar kalau dia mempunyai garis rahang yang tegas. Umumnya rakyatku memiliki garis muka yang tak cukup tegas, wajah oval. Setelah garis mukanya, aku berpindah ke bibir dia yang tipis. Aku menelusuri garis bibirnya kemudian ke dagunya. Bibir ini yang selalu menciumiku baik di kening, bibir, dan...

Tunggu dulu, cium di bibir? Baiklah malam kemarin, kami agak sedikit... berciuman?

Oh Tuhan, membayangkannya saja sudah membuat jantungku lepas dan ingin sembunyi dalam lubang yang cukup dalam. Ingatan semalam langsung muncul dalam sekejap dan aku menutup kedua wajahku yang merah seperti tomat. Bagaimana aku akan bertatap muka dengan Netherlands? Bagi dia mungkin hal yang terjadi semalam biasa saja tapi bagiku ini sama sekali tidak biasa!

Sembari aku tenggelam dalam pikiran, Netherlands bangun dari tidurnya dengan rambut berantakan, rambut depannya jatuh di dahinya. Ia mengacak-acak rambutnya menguap lebar melihat sekelilingnya. Satria dan Little Bunny masih tertidur lelap di sofa meski matahari sudah membangunkan mereka namun mereka masih terlelap dalam mimpinya. Netherlands menatap ke samping, melihat aku yang tenggelam dalam pikiranku.

"Indie..." Netherlands memanggilku pelan namun aku tak mendengar. Merasa tak dibalas sapaannya, Netherlands mendekat kemudian ia mengusap kepalaku hingga aku sadar dia sudah bangun dari tidurnya. "Sudah bangun?" ia menangkupkan wajahku dengan kedua tangannya.

"Netherlands?!" kataku sedikit berteriak hingga Satria dan Little Bunny mulai membuka mata mereka, kembali ke dunia nyata melihat tuan mereka sudah bangun lebih awal.

"Kenapa? Seperti melihat hantu saja?" katanya datar dan ia menarikku ke arahnya, memelukku seperti semalam. Aku kaget dengan spontanitas Netherlands sekarang ini dan peliharaan kita mulai mendekat menaiki tempat tidur Netherlands. Aku merasakan tempat tidur Netherlands mulai sedikit menurun akibat Satria naik ke atas tempat tidur.

"Kau akan membuat tempat tidur Meneer patah Satria." Kataku mengelus kepalanya dan mencium hidungnya "Lebih baik kamu tetap di lantai saja." Tanganku sedikit mendorong badan Satria dan ia segera turun dari tempat tidur kemudian ia berbalik meletakkan kepalanya di atas kasur. Little Bunny melompat-lompat sekitar Netherlands hingga ia mendarat pas di pangkuan Netherlands.

"Kau seperti tak bertemu tuanmu dalam puluhan tahun Little Bunny." Kata Netherlands memainkan telinga panjangnya serta badannya yang gemetaran merasakan jari panjang tuannya membelai bulu putihnya. Pertama kalinya aku melihat Netherlands menunjukkan rasa sayang pada Little Bunny. Mungkin karena dia sedikit santai dan tak ada pekerjaan makanya dia terlihat santai dan bermain dengan Little Bunny. Tak habis pikir Netherlands yang terlihat dingin atau ketus mempunyai peliharaan kelinci yang manis, bertolak belakang dengan tuannya.

"Mungkin dia rindu ingin bermain dengan tuannya..." kataku turun dari tempat tidur. Melihat cahaya matahari sudah cukup tinggi sepertinya aku bangun kesiangan untuk bekerja. Aku mencari alas kaki tapi aku tertarik ke belakang mendarat di tempat tidur. Lengan kiri Netherlands memelukku, menarikku kembali ke tempat tidur. Baiklah, nampaknya Netherlands tak malu lagi menunjukkan rasa sukanya padaku.

"Santai saja... Hari ini waktu santai dan kamu tak perlu buru-buru" katanya dan aku bisa merasakan napasnya menggelitik telingaku. Mukaku merah seperti tomat, napas berhenti sesaat, dan jantungku berdebar tak karuan. Berusaha menenangkan diriku aku menutup mata dan menggenggam tangan Netherlands yang memeluk pinggangku dengan kedua tanganku. Sadar bahwa aku malu dengan sikap spontannya, Netherlands melepas pelukannya tapi ia membuat aku duduk di pangkuannya.

"Nampaknya kamu belum terbiasa dengan perlakuan seperti ini." Netherlands membelai kepalaku dan ia melepas genggaman tanganku pelan-pelan. "Padahal saat kecil, aku selalu melakukan hal seperti ini padamu dan kamu senang." katanya mencium dahi dan kedua mataku.

"Sepertinya sih..." kataku pelan dengan badan sedikit gemetaran serta panas karena ciuman Netherlands. Little Bunny yang sebelumnya di pangkuan Netherlands, sekarang ia ada di pangkuanku. "Aku masih belum terbiasa..."

"Apa karena kamu mulai beranjak dewasa sehingga kamu merasa malu?"

"Mungkin iya, aku juga mulai sedikit lupa bagaimana perlakuanmu padaku saat aku kecil." Kataku bersandar pada Netherlands dan memainkan telinga Little Bunny.

"Hmm, perlakuanku dulu adalah tanda rasa sayang antara kakak dan adik, namun karena kamu sudah mulai dewasa, bila aku memperlakukanmu seperti dahulu, maka pandangan orang sekitar seperti sepasang kekasih." Netherlands menangkup tanganku dan mengaitkannya. Tanpa sadar aku membalasnya dan tangan kita berkaitan. Kita diam tanpa mengatakan sepatah katapun, hanya menikmati waktu tenang itu. Aku tersentak oleh bunyi perut lapar dari perut Satria dibarengi Little Bunny. Tahu mereka belum sarapan, aku langsung melepas diri dari Netherlands.

"Aku akan menyiapkan sarapan untuk mereka..." kataku mencari alas kaki dibawah tempat tidur.

"Buatkan aku sarapan juga, yang mudah." Kata Netherlands berdiri mengacak-acak rambutnya. Ia membasuh mukanya dengan baskom berisi air dekat tempat tidur dan melapnya dengan handuk kecil putih yang digantung dekat baskom.

"Kau mau sarapan apa?" tanyaku membuka pintu kamar, menunggu Netherlands yang masih melap mukanya diikuti Satria dan Little Bunny yang sudah keluar dari kamar, menungguku.

"Kubilang yang mudah saja, apa pun yang kamu buat." Katanya berjalan ke arahku dengan handuk di atas kepalanya dengan sesekali mengeringkan rambutnya yang basah setelah mencuci mukanya.

"Bagaimana kalau roti dan secangkir kopi? Cukup?"

"Baiklah, kalau itu maumu." Netherlands berbungkuk mencium kedua pipi dan bibirku, beberapa detik. Ia langsung menuju kamar mandi dan begitu aku menutup pintu kamar. Aku menyandarkan dahiku di pintu menggenggam bajuku di bagian dada, masih berdebar akibat ciuman spontan Netherlands.

.

.


"Tunggu sebentar Satria... Little Bunny..." kataku membuka pintu dapur membiarkan mereka masuk lebih dulu. Mereka berlari-lari mengelilingi meja makan, kejar-kejaran seperti kucing dan tikus namun bedanya yang kejar-kejaran adalah seekor kelinci dengan harimau sumatera. Selesai dua putaran, mereka balik menghampiriku yang sedang mengambil piring, cangkir, serta sendok untuk sarapan pagi.

Aku sebenarnya hanya ingin membuat sarapan untuk Satria dan Little Bunny tapi Netherlands meminta sarapan jadi aku membuat sarapan saja sekalian untuk dia meski sudah cukup siang. Aku tak tahu harus membuat apa untuk sarapan karena biasanya aku bangun lebih pagi membuat sarapan seperti roti panggang atau kue. Akhirnya, aku membuat sarapan yang mudah yaitu bahan-bahannya sudah tersedia langsung. Roti jahe yang dibuat dua hari yang lalu, coklat, teacle (potongan gula merah yang cukup tebal), keju edam, serta margarin ditambah segelas kopi yang dicampur krim untuk Netherlands dan segelas teh merah untukku.

Mengganti taplak meja dengan yang baru serta vas berisi bunga segar, aku memotong beberapa potongan buah dan sayuran untuk Satria dan Little Bunny dengan mangkuk terpisah. Aku bisa merasakan Satria menaruh kakinya di meja dapur, melihat aku menyiapkan sarapan dia dan Little Bunny berusaha melompat ke meja dapur sebisa mungkin dengan lompatan mungilnya.

"Waktunya sarapan..." kataku membawa sarapan mereka di atas meja dapur. Untuk Satria aku taruh dekat kaki meja dan dengan patuhnya ia makan sarapan yang kusediakan untuknya. "Ups, ayo makan sarapanmu Little Bunny..." kataku mengangkat dia dari lantai, meletakkannya di atas meja makan dan mangkuk mungilnya berisi sarapan untuknya. Suara pintu dapur yang terbuka menggelitik telingaku dan kutengok Netherlands masuk dapur dengan rambut depannya masih sedikit basah, jatuh di dahinya. Ia memakai kemeja putih yang bagian lengannya digulung hingga siku serta kancing atasnya dibuka, sedikit memperlihatkan kulit putihnya dipadu dengan celana hitam panjang.

"Pagi" katanya datar dan duduk di kursi. "Akhir-akhir ini kamu semakin gendut Little Bunny." kata Netherlands membelai kepala Little Bunny yang sibuk makan namun sesaat ia bersandar pada belaian tangan tuannya dan melanjutkan makannya. "Pagi juga, harimau belang..." katanya melihat Satria sekilas tanpa belaian untuknya.

"Namanya Satria Netherlands, kamu sudah lama tinggal bersamanya dan belum hafal namanya." Kataku meletakkan kopi Netherlands di sampingnya beserta susu untuk kedua binatang peliharaan kita.

"Harus kukatakan padamu, Harimau itu tak begitu menyukaiku. Lebih tepatnya dia menjaga jarak denganku sebisa mungkin." Katannya sambil meneguk kopinya meilhat Satria yang sibuk makan kemudian sadar Netherlands melihatnya. Ia sedikit mengeram dan lanjut makan. Hubungan antara Netherlands dan Satria tak begitu baik meski Netherlands merawat dia bersamaku dari dia kecil. Mungkin Satria mulai menjaga jarak dengan Netherlands semenjak Gubernur Jenderal mulai memperlakukanku seperti budak bahkan aku hampir dipenjara karena Satria melukai tangan Gubernur Jenderal ketika mereka akan menangkapku, mengira aku mata-mata untuk para pemberontak.

"Dimana pipamu? Biasanya kamu sudah menghisapnya di pagi hari." Kataku duduk di seberang, mengoles margarin di roti jahe.

"Nampaknya rusak. Aku tak bisa menghisapnya seperti yang biasa aku lakukan, jadi aku harus membeli yang baru. Mungkin..." katanya menggigit rotinya kemudian dibarengi keju edam.

"Bisa diperbaiki tidak?"

"Bisa saja, tapi butuh waktu lama..." ia mengambil selembar roti lagi dari dalam lemari kemudian makan langsung tanpa olesan margarin. "Aku inginnya diperbaiki sebab itu pipa favoritku."

"Hmm, begitu ya..." kataku mengunyah roti jahe pelan-pelan dan hanyut dalam lamunanku. Ini waktu yang tepat, untuk memberitahukan Netherlands dan suasana sedang cukup baik, tidak seperti malam. Aku tahu ini berisiko bahkan sedikit gila sebagai kaum terjajah, tapi hanya ini satu-satu caranya agar aku maju.

"Ada lagi yang mau kau tanyakan?" kata Netherlands minum kopinya sementara mata hijaunya menatap mata hitam bulatku, menunggu.

"Tidak ada... Cuma mau bilang kalau kamu lebih baik beli pipa baru saja. Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu tak suka pipa hisap itu?" kataku kembali menggigit roti dengan gula merah.

"Awalnya aku berpikir seperti itu tapi aku mulai terbiasa dan bahan kayunya bagus serta tak berat. Yaa, aku perlahan menyukainya." Netherlands berdiri menyusun piring kotor dan cangkir kopinya yang sudah diminum habis. Masih mengunyah roti, aku berdiri dan mengulurkan tangan memberi tanda biar aku saja yang membereskan. "Tidak, biar aku saja. Kamu bisa sedikit bersantai hari ini..." katanya dan menaruhnya di tempat cuci piring. Netherlands kembali duduk di kursi dan meletakkan dagunya di telapak tangannya, memikirkan sesuatu. Biasanya setelah makan, ia mulai menghisap pipanya sekitar lima atau sepuluh menit.

Selesai sarapan, aku berdiri mengambil mangkuk sarapan Little Bunny yang sudah habis dan Netherlands memperhatikan kelincinya sedang minum susu. Aku membungkuk mengambil mangkuk sarapan dan susu Satria yang sudah habis dan meletakkannya di tempat cuci. Selama mencuci piring, aku sesekali melihat ke arah Satria duduk di sampingku, menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan bersenandung dengan suaranya. Aku ikut bersenandung bersamanya, menggoyangkan kepalaku dan senyum menikmati senandung kita. Little Bunny yang sudah menghabiskan susunya, ikut menggoyangkan kepalanya dan meloncat-loncat kecil di tempat. Tanpa sadar, aku terbawa suasana mulai mengayunkan tanganku dan tak menyadari Netherland berdiri di sampingku, menyerahkan mangkuk susu Little Bunny yang sudah kosong.

"Aku belum pernah mendengar lagu yang baru saja kamu senandungkan..." kata Netherlands menaruh mangkuk susu Little Bunny. "Lagu apa yang kamu senandungkan itu?"

"Tak ada, aku hanya menciptakannya sesuai irama. Yaa, memang kedengaran aneh tapi kita kadang menari-nari bila bersenandung." Kataku mengambil mangkuk dari Netherlands dan tak sengaja tanganku bersentuhan dengannya. Spontan aku segera menarik diri dan mengambil beberapa jarak dari Netherlands. Bukannya aku tak suka tapi aku merasa aneh dengan badanku, tepatnya aku malu dan jantungku mulai berdebar tak karuan padahal aku tak melakukan apa pun dengannya, hanya tangan kita tak sengaja bersentuhan.

"Maaf..." kataku dan mulai mencuci mangkuk Little Bunny dan Netherlands kembali duduk tanpa mengatakan apa pun. Aku melirik sekilas muka dia seakan tak peduli apa yang baru saja terjadi tapi dia melihat tangannya yang baru saja bersentuhan dengan tanganku. Bagus sekali, suasana sekarang mulai sedikit kaku dan nampaknya harus dicairkan dengan pembicaraan apa pun itu tapi aku tak tahu.

Apakah lebih baik aku beritahu saja sekarang? Aku juga butuh topik pembicaraan untuk mencairkan suasana di sekitar yang mulai kaku. Aku memberi isyarat kepada Satria lewat mata, mengarahkan mataku keluar, taman. Sadar maksudku, Satria berdiri dan berjalan keluar tapi sebelumnya, dia menghampiri Little Bunny dan menariknya dengan mulutnya. Satria berjalan keluar dari dapur dengan Little Bunny yang dilempar ke atas dan mendarat pas di kepala dia. Netherlands sudah tahu kalau Satria akan mengajak Little Bunny bermain di taman. Baik, sekarang hanya kita berdua di dapur dan aku harus memulai pembicaraannya sebelum gangguan datang.

"Netherlands..." kataku bersandar di lemari, sedikit gugup dengan menggigit bibirku, sesekali menarik napas untuk menenangkan diri.

"Apa?" katanya berbalik dan menatapku. Netherlands sedikit membungkuk dengan meletakkan kedua lengannya di pahanya, menatapku dengan mata hijaunya, menunggu.

"Aku akan mengambilnya…"

"Apa?" kata Netherlands seakan tak percaya apa yang baru saja aku ucapkan.

"Aku terima tawaranmu, belajar di negaramu dengan yang lain. Aku juga ingin melihat dunia luar, diluar sana dan belajar hal baru darimu. Aku tahu orang-orang akan berpikir aku gila, aneh dan apa pun. Untukku, pendidikan penting bagiku sekarang." Aku jawab dengan jelas dengan dibuat santai. Aku sebenarnya sempat menolak karena aku berpikir lebih baik membantu rakyat tapi melihat banyak pemuda Hindia belajar ke Belanda dengan tujuan memerdekakan Indonesia, aku tergerak untuk mengikuti mereka. Mungkin disana aku bisa belajar banyak tentang politik, ekonomi, literatur, dan juga memperbanyak wawasan dengan bertemu para pelajar dari luar negeri lain.

"Apa ini ada hubungannya dengan mencari kemerdekaan?" tanya Netherlands lugas dan cepat. Memang orang Belanda atau Eropa terkadang bisa membaca pikiran kita atau bagaimana? Aku tak suka bila Netherlands bisa membaca pikiranku secara tepat.

"Aku hanya..." entah kenapa dia bisa membaca pikiran aku dengan cepat bahkan hampir menebak benar. Mencari kemerdekaan? Tidak benar. Aku mencari pengalaman dan pendidikan setinggi mungkin supaya aku bisa memajukan bangsaku dari kebodohan dan menambah banyak kaum pelajar Indonesia supaya mereka belajar berorganisasi, berpidato, menulis dan berbicara pintar tanpa dipengaruhi orang lain atau dicuci otak.

"Jangan lupa Indie, disini mungkin kamu diawasi olehku tapi disana kamu lebih diawasi." Netherlands berdiri dan berjalan ke arahku hingga ia berhenti tepat di depanku. Aku terjebak diantara dia dan lemari dapur.

"Aku tahu Netherlands, aku tahu!" kataku berbalik menatap dia sedikit kesal karena dia masih tak percaya padaku. "Aku akan berusaha tak mengecewakan kamu dan belajar sebaik mungkin karena kesempatan ini sangat langkah." Tentu saja, sedikit aku mengecewakan Netherlands, mungkin aku akan dikembalikan ke Batavia atau tepatnya, dipenjara bila aku membahayakan parlemen Belanda bila aku menyuarakan kemerdekaan atau membahas permasalahan penjajahan.

"Baguslah kalau begitu" Senyum Netherlands dan ia perlahan mendekat, melingkarkan lengan kanannya di pinggangku. Ia membungkuk dan menarik daguku mendekat ke arahnya.

"Apa yang kamu-"sebelum aku bertanya, Netherlands langsung mencium bibirku dan aku kaget tak tahu harus berbuat apa. Secara refleks, aku perlahan menutup kedua mataku, membalas ciumannya sambil memegang lengan panjang dia sementara dia menahan wajahku dengan jari panjang hangatnya. Tangan yang besar dan hangat, betapa aku merindukan tangan hangat ini. Tangan pucat, berjari panjang, dan hangat. Ingatan aku tentang tangan hangat Netherlands kembali terngiang.

Sebenarnya hanya ciuman singkat tapi entah kenapa kami tak mau saling melepaskan sampai aku menabrak dinding lemari, masih berciuman. Beberapa menit kemudian kita kehabisan napas dan melepaskan diri. Aku langsung membenamkan diriku ke dadanya yang bidang dan mukaku memerah karena malu dan merasa was- was, takut kalau seseorang melihat kita yang sedang berciuman layaknya sepasang kekasih. Kenyataannya kita bermusuhan, aku adalah koloni dan Netherlands adalah penjajah. Aku bisa merasakan jantung Netherlands juga berdetak kencang, mengatur napasnya dan membayangkan muka Netherlands memerah sambil mengusap muka dia berusaha menghilangkan muka merah dia setelah berciuman.

"Aku... akan menyiapkan piring dan kopi..." kataku berlalu, pergi menuju lemari mengambil piring dengan wajah merah serta jantung yang masih berdetak kencang tak beraturan dan aku masih mengatur napasku. "...Untuk cemilan hari ini..."

"Ya, kutunggu..." kata Netherlands kembali duduk di kursi. Satria dan Little Bunny kembali dari luar habis bermain, sadar bahwa waktu untuk makan cemilan sudah dekat. Little Bunny berusaha memanjat meja tapi akhirnya ia diangkat Netherlands dan ditaruh di atas meja tepat di hadapannya. Satria berguling-guling di lantai dekat pintu, diikuti dengan merenggangkan badannya. Setelah aku mengambil piring untuk cemilan beserta gelas, aku berhenti sesaat, memainkan pola gambar piring dengan jemariku.

Apakah aneh? Bila aku jatuh cinta dengan Netherlands, penjajah yang seharusnya dibenci tapi dicintai oleh koloninya. Sebenarnya, dibawah pemerintahan Netherlands sama sekali tak buruk. Kenyataannya, aku merasakan beberapa kegiatan yang aku lakukan dan habiskan bersama dia seperti pelajaran bahkan bimbingan. Aku banyak belajar tentang kopi, teh, hukum, perdagangan, keuangan bahkan yang penting adalah aku bisa membaca berbagai macam buku. Aku mengambil semua itu sebagai pelajaran dan mungkin berguna di masa depan. Aku juga bisa mengajarkan semua yang sudah aku pelajari kepada rakyatku agar mereka pintar dan tak mudah dibodohi.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan aku memastikan hal itu. Bukan berarti aku mau berpisah dari Netherlands tapi suatu saat pasti kita akan berpisah dan aku akan mandiri, mejadi negara bebas tanpa diatur siapapun, menentukan ingin menjadi apa negaraku di masa depan nanti. Aku yakin kita akan berpisah dan melepaskan diri dari Netherlands, tapi untuk saat ini aku ingin sedikit lama bersama dia dan berlalu seperti air mengalir.

Tak apa-apa bukan? Sedikit lebih lama lagi, belajar di Belanda, negara asalnya, semampu aku. Itu kesempatan emas bukan? Aku akan belajar giat dan begitu balik aku akan menyumbang ilmu yang sudah aku pelajari kepada rakyatku kemudian membuat mereka menjadi masyarakat mandiri dan pintar. Tak usah buru-buru untuk perang lagi namun walau aku membencinya, itu pasti akan datang di kemudian hari mungkin lebih parah daripada perang sebelumnya. Untuk sementara lebih baik gencatan senjata antara kita berdua.

Hari dimana kita berperang dan saling membunuh satu sama lain, meski aku tak bisa membayangkan dan membencinya, aku harus bersiap-siap. Terkadang aku berharap aku tak pernah lahir, kenapa aku harus berperang dengan dia? Kenapa aku harus bertemu dengan dia? Kenapa pertemuan kita berujung seperti ini? Kenapa aku harus mencintai Netherlands? Setelah apa yang dia lakukan untukku dari kecil hingga sekarang?

.

.

.

TBC


Akhirnya, chapter tiga selesai dan sekali lagi mohon maaf untuk update yang sangat telat. Tak update selama satu tahun lebih, rasanya keterlaluan sekali sebagai penulis dan sebagai tebusannya, aku menulis chapter tiga cukup panjang. Alasan aku tak update cukup lama adalah kuliah (akhirnya wisuda Desember ini) serta aku kehilangan ide cerita untuk menulis lanjutannya. Aku juga membaca ulang sejarah Perang Jawa serta revolusi Belanda karena aku kehilangan ide sama sekali.

Hal yang paling sulit menulis chapter ini adalah perasaan kedua tokoh, Indonesia dan Netherlands, sebagai manusia juga personifikasi negara. Sebagai negara, mereka adalah harapan bangsa, harga diri dan harus kuat. Namun sebagai manusia, mereka sudah lelah dan tak kuat untuk menanggung emosi masing-masing sebagai penjajah dan dijajah. Selama menulis dan membaca sejarah mereka, aku membayangkan bagaimana perasaan Netherlands yang merasa bersalah pada Indonesia serta beban di pundaknya. Tak hanya itu, perasaan Indonesia yang berkecamuk antara kesal dengan Netherlands juga merasa kasihan padanya.

Aku tak tahu apa sebaiknya selesai di chapter tiga atau lanjut saja. Sebelumnya, aku berencana hanya menulis tiga chapter tapi ternyata setelah kurombak ulang dari awal hingga akhir, endingnya jadi menggantung seperti ini dan bisa dilanjuti ceritanya. Tak hanya itu, konsep ceritanya semakin luas karena setelah Perang Diponegoro, lanjut ke Perang Paderi yang tahunnya tak begitu beda jauh. Selain Perang Paderi, aku bisa menulis kisah Netherlands sebab setelah Perang Jawa, Belgia dan Luksemburg ingin merdeka dari Belanda.

Aah, sebaiknya aku harus bagaimana ya?

Tolong berikan pendapat dan nasihat kalian mengenai chapter ini, Terima Kasih Banyak! :)