Soyoung memutuskan untuk berangkat lebih pagi hari ini. Bisa dilihat, gadis itu sudah duduk manis membaca buku di kursi bis saat jarum jam menunjukkan angka setengah tujuh pagi.

Bis baru akan berangkat meninggalkan halte ketika tiba-tiba saja seseorang masuk, persis sesaat sebelum pintu bis ditutup.

"Hei"

Soyoung menoleh, "H-hei, Jun".

Jun lalu duduk begitu saja di seberang kursi yang diduduki Soyoung.

"Kau berangkat sepagi ini?", tanya Soyoung berusaha memecah kekakuan.

Jun mengangguk.

"Apa kau sudah sarapan?"

Jun mengangguk lagi.

"Kenapa tidak tersenyum?"

Kali ini Jun menoleh, "Maaf?"

"Tersenyumlah. Wajahmu itu…ah, sudahlah", Soyoung memotong ucapannya begitu saja, kemudian kembali memfokuskan diri pada buku di pangkuannya.

Kemudian bis mulai berjalan maju.

"Kenapa kau selalu mengomentari wajahku, sih?", Jun balik bertanya, ia nampak agak kesal sepertinya.

Soyoung mengabaikannya.

'Dug! Dug! Dug!'

Soyoung menghela nafas kesal, "Ah, pasti dia lagi", gumamnya.

Jun mengerutkan kening bingung, matanya menoleh ke arah jendela, mencari pelaku yang menggedor-gedor tubuh bis yang sedang melaju.

Bis akhirnya berhenti, membiarkan sang pelaku naik ke dalam dengan nafas terengah.

"Ahjussi! Kenapa kau selalu berangkat sepagi itu, sih? Bukankah sudah ku minta untuk menungguku?", keluhnya.

"Yak! Aku sudah mengatakan padamu untuk tiba di halte pukul 06.35 pagi. Lebih dari jam itu, aku akan meninggalkanmu!", omel sang Supir, "Lagipula, kenapa kau tidak menerima kenyataan saja sih? Ikut saja bis berikutnya. Kau kan tinggal menunggu 10 menit".

"Aish, ahjussi, kau seharusnya bersyukur karna memiliki pelanggan tetap sepertiku", jawabnya tak mau kalah.

"Yak! Kwon Soonyoung! Duduklah, sana! Kau hanya akan membuat bis ini berhenti lebih lama di pinggir jalan"

Kwon Soonyoung, lelaki yang tadi menggedor badan bis agar berhenti tadi menoleh lalu tersenyum lebar.

"Selamat pagi, Im Soyouuuung~!", sapa lelaki bermata 10:10 super sipit itu pada Soyoung.

Yang disapa hanya mendecakkan lidahnya kesal.

"Hei"

Jun mengangkat tangannya, menyambut tangan Soonyoung yang mengajaknya ber-high five, "Hei juga", jawabnya.

"Kau pasti sudah akrab dengan Soyoung. Kau sebangku dengannya, kan?", Soonyoung memukul pelan bahu Jun dengan kepalan tangannya.

Dengan sedikit meringis, lelaki Cina yang duduk disamping Soyoung itu mengangguk tanpa mengucap sepatah katapun.

Soonyoung terkekeh, "Baguslah. Ku harap penyesalanmu tidak datang terlambat karena mengenalnya".

"Yak! Kwon Soonyoung!"

Soonyoung tertawa lebih keras sekarang, "Aku bahkan menyesal mengenalmu, hahaha"

"Aku lebih menyesal lagi kalau begitu"

"Hyun Ae lebih menyesal"

"Mati saja sana, kau, Soonyoung!"

"Aku tidak rela penggemarku menangisiku, hahaha"

"Penggemar apa? Heol."

"Kau tidak tahu? Penggemarku banyak sekali"

"Aku tidak peduli"

"Mereka bahkan selalu memberiku semangat saat aku bermain basket"

"Kubilang, aku tidak peduli"

"Ah, aku tahu. Kau ingin bergabung menjadi fansku, kan?"

"Yak!"

Dan lagi-lagi, Soonyoung hanya tertawa.

"Jun?"

Jun menoleh ke gadis di sebelahnya.

"Kenapa diam saja?", tanya Soyoung.

"apa aku harus bicara?"

"Ah, gadis ini pasti mengganggumu ya? Maafkan dia, ya. Dia memang berisik sekali", tukas Soonyoung yang kemudian langsung dibalas dengan pukulan di perutnya. Pelakunya tentu saja Soyoung yang sedang marah, siapa lagi?

Jun menggeleng, "Tidak, kok"

"Omong-omong nanti sore, kita ada latihan di lapangan. Kau ikut, kan?"

"Tentu"

"Kau berlatih dimana?"

"Gadis bodoh, tentu saja di lapangan dekat rumah kita. Lapangan yang berada persis ditengah titik temu Blok A, B, C, dan D"

"Oh, yang itu..", gumam Soyoung membulatkan bibirnya

Kemudian bis berhenti.

"ah, kupikir aku akan duduk di depanmu saja. Orang-orang sudah mulai berdatangan", Soonyoung berucap sambil mendudukkan dirinya di sebuah kursi.

Soyoung tak menanggapi ucapan Soonyoung.

Beberapa orang mulai masuk, menaiki bis dan mencari posisi duduk yang nyaman. Sejumlah siswa berusaha menyapa Soyoung meski sekedar mengucap selamat pagi. Tapi Soyoung sendiri tak menoleh, matanya menatap wajah Jun yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Gadis itu sedikit berkedip gugup saat Jun menoleh, memergoki Soyoung yang tengah menatapnya dalam.

"Hei"

Soyoung menengadahkan pandangannya, matanya langsung membulat kaget ketika melihat sosok yang menyapanya.

"Apa maumu?"

Mata Jun beralih pada sosok Soonyoung yang tiba-tiba berdiri menahan bahu seseorang yang sedang berjalan mendekati Soyoung. Eh, tunggu. Kalau Jun tidak salah, dia laki-laki yang kemarin, kan? Kalau tidak salah, namanya…

"Hei, kita bertemu lagi", sapanya pada Jun.

Jun menganggukkan kepalanya sopan. Bibirnya tetap tak mengeluarkan sepatah apapun.

"Aku bertanya padamu, Tuan Kim", Soonyoung mendorong bahu lelaki itu sedikit. Nada bicaranya terdengar sedikit menggertak tajam.

"Santailah sedikit, Soonyoung-ah", jawab si lelaki terkekeh sinis, tangannya menepis lengan Soonyoung dari bahunya, kemudian kembali menatap Jun, "Aku belum mengenalmu. Siapa namamu?"

"Wen Junhui"

"Baiklah, Junhui.."

"Panggil saja Jun", ucap Jun menukas ucapan lelaki itu.

Si lelaki tertawa, "Baiklah, Jun. Perkenalkan, aku Kim Mingyu. Kekasih dari gadis yang duduk di sebelahmu, Im Soyoung".

Dan ucapan lelaki itu sukses membuat mata Soyoung mendelik kesal.

"Kekasih siapa, katamu?"

"Kekasihmu"

"Bodoh"

Kali ini Soonyoung benar-benar mendorong dada Mingyu menjauh dari kursi Jun juga Soyoung, "Ini masih terlalu pagi. Pergilah, jangan mengganggu siapapun lagi"

"Mengganggu?", desis Mingyu dengan senyum sinisnya, "Aku tak mengganggu siapapun. Aku hanya akan berangkat sekolah".

"Sekolah?"

Baik Jun, Soyoung, Mingyu, maupun Soonyoung menoleh ke suara seorang gadis yang baru saja memasuki bis.

"H-Hyun Ae?", panggil Soyoung tergagap.

Mingyu menghela nafas, ekspresinya nampak sedikit kesal, "Iya, aku kembali sekolah"

"Dimana?"

"Sekolahmu"

"B-benarkah itu, Ming?"

"Jangan panggil aku begitu lagi, Bodoh"

"Yak!", Bentak Soonyoung.

Mingyu menepis lengan Soonyoung untuk yang kesekian kalinya, "Aku ingin duduk", katanya, lalu kakinya melangkah ke sudut belakang bis meninggalkan seseorang yang menatapnya dengan sedikit takut.

.

.

.

.

.

.

.

.

Soonyoung melempar bola sekali lagi ke arah ring, yang tentu saja berakhir dengan erangan kesal dari mulutnya.

"Aaargh! Kenapa hari ini sulit sekali mencetak angka satupun?!", teriaknya.

"Itu karna emosimu hari ini sedang buruk"

"Apa senampak itu?"

Jun mengangguk.

"Argh! Menyebalkan! Itu pasti karna kehadiran laki-laki sialan itu!"

Jun tak menanggapi, tangannya sibuk mendribble bola kuning tak jauh dari posisi Soonyoung berdiri.

Lapangan kali ini nampak agak sepi, mengingat ini sudah melewati jam latihan mereka, dan tentu saja, sebagian besar anggota tim basket sudah meninggalkan lapangan.

"Kenapa juga dia harus sekolah disini, sih?!"

Dan kali ini Jun merasa perlu menanggapi omelan sahabat barunya.

"Memangnya kau ada masalah apa, sih dengannya?"

Soonyoung menoleh, "Yak! Masalah apa katamu?! Dia itu menyebalkan! Dia egois! Semua orang juga tahu kalau orang itu menyebalkan!"

"Aish, tenanglah. Aku hanya bertanya, tidak perlu berteriak seperti itu. Lagipula, aku kan murid pindahan, kau ingat? Aku tak tahu apapun.", balas Jun.

"Mian", ucap Soonyoung, bibirnya masih bergumam kesal, "Itu kisah masa lalu", kakinya melangkah ke pinggir lapangan, tangannya meraih botol minuman isotonik dari bangku pemain dengan kasar dan meneguk isinya begitu saja.

"Antara siapa?"

"Rumit"

Sedetik kemudian, Jun bisa melihat gurat penyesalan muncul dibalik ekspresi marah Soonyoung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau akan memutuskan hubungan ini begitu saja, Ming?"

"Tidak perlu berlebihan. Simpan saja tangisanmu itu"

"Kenapa harus dia? Diluar sana masih ada gadis lain, kan?"

"Awalnya, aku hanya ingin menyingkirkanmu"

"A-apa?!"

"Tapi kemudian, aku sadar kalau gadis itu cukup menarik. Aku harus mendapatkannya"

"Bagaimana mungkin kau semudah itu melupakan cinta kita?"

"Cinta? Cih! Sejak awal, aku memang tak mencintaimu"

"Ming!"

"Hentikan itu, Drama Queen. Jangan buat aku seolah telah melakukan hal buruk padamu"

"Lalu apa arti aku selama ini bagimu?"

"Entahlah, Pelampiasan? Hm, atau mungkin sekarang lebih tepat kusebut sebagai….

Sampah"

.

.

.

.

.

.

"Sendirian?"

Soyoung menoleh, lidahnya langsung berdecak kesal begitu melihat sosok yang memanggilnya, "Pergilah".

"Kenapa? Perpustakaan ini terbuka untuk umum, kan?"

Soyoung berdecak lagi, kali ini lebih keras, "Setidaknya cari tempat lain untuk duduk, Kim Mingyu"

Mingyu mengusap rambutnya yang dihiasi warna navy blue itu perlahan, "Kau grogi?"

"Tak sudi"

"Kau semakin cantik saat malu seperti ini"

"Heol"

"Siapa lelaki itu?"

"Siapa?"

Mingyu menyeringai kecil, memamerkan gigi taring yang menyelinap muncul dari balik bibir kemerahannya yang tipis, "Wen Junhui"

"Apa urusanmu?"

"Aku kekasihmu, nona Im"

"Mimpi saja sana!", tukas Soyoung. Kali ini, nada suaranya sedikit naik, menimbulkan semacam gema di ruang perpustakaan.

"Ssst!", seorang Ahjussi tua penjaga perpustakaan memberi tanda bagi Soyoung untuk menurunkan suaranya, yang tentu saja diiringi dengan kikikan dari Mingyu.

Soyoung hanya mengangguk kecil pada teguran Ahjussi tadi sambil merengut.

"Jadi?", tanya Mingyu lagi setelah sang penjaga kembali mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

"Apa lagi?"

"Dia siapa?"

"Apa urusanmu, sih? Jangan ikut campur!", Soyoung menutup bukunya kasar. Kesal karna quality timenya dalam membaca diganggu oleh makhluk berkulit kecoklatan itu.

Mingyu menopang dagunya dengan tangan, matanya menatap Soyoung intens, lalu berkata, "Aku hanya ingin tahu hubunganmu dengan laki-laki itu. Bukankah terakhir kali, kau bahkan tidak ada niat untuk menanggapi surat dari penggemarmu? Apalagi, laki-laki berambut pirang yang dulu. Hmm, biar ku ingat-ingat..namanya adalah…."

"Tutup mulutmu, Kim Mingyu. Kau tak punya hak apapun untuk membicarakannya. Lagipula, dia bukanlah penggemarku"

"Bagaimana mungkin dia bukan penggemarmu kalau dia selalu ada bersamamu tiap kali aku mau mendekatimu?", Mingyu menyeringai.

"Boleh ku ingatkan, bahwa kejadian itu sama sekali tak ada hubungannya dengan pertanyaan awalmu?", balas Soyoung sengit.

"Pertanyaan mana? Oh, tentang Junhui? Tentu saja ada. Dengar ya, setiap kali aku sedang berusaha mendekatimu, orang itu selalu muncul. Bahkan sekarang ini", kata Mingyu, dengan ekor matanya, ia melirik seseorang yang duduk tak jauh dari tempat mereka duduk. Disana ada Jun, duduk dengan tenang, membalik lembar demi lembar buku di hadapannya.

"Jun? Sejak kapan kau ada disana?", tanya Soyoung sedikit menaikkan volume suaranya, mengingat posisi duduknya cukup jauh dari tempat Jun.

Jun menurunkan buku dari wajahnya dan berpikir sejenak, "Sejak Mingyu belum duduk disampingmu", jawabnya, kemudian wajahnya kembali tenggelam dibalik tumpukan buku.

"Demi Tuhan, aku bahkan tak melihatnya", gumam Soyoung kembali menurukan volume suaranya.

"Sudah ku katakan, dia persis seperti laki-laki yang dulu itu"

"Hentikan pembicaraan itu, Kim Mingyu"

Mingyu terkekeh, "Jadi, sebenarnya dia siapa? Kau pasti hanya akan menolak dan mengabaikannya begitu saja, kan, seperti biasa? Kau pasti belum melupakanku?"

"Tak bisakah kau diam?"

"Jawab dulu pertanyaanku"

Soyoung menahan nafasnya saat Mingyu memajukan wajah ke arahnya. Laki-laki bertubuh tinggi itu menatap mata Soyoung dalam-dalam, dan kemudian bibirnya kembali bertanya, "Siapa dia, Im Soyoung?"

Mata Soyoung sempat terpejam begitu kuat seolah sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya, sedetik kemudian, mulutnya berucap,…

"Kekasihku"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tidak", Jun menepis tangan Soyoung yang sedang menggenggam lengannya, menahan Jun untuk melangkah lebih jauh dari halte bis.

"Ku mohon, Jun. Ini hanya sementara, kok", pinta Soyoung lebih memelas.

"Tetap tidak, maaf"

"Jun, tolonglah. Aku takkan meminta apapun darimu, jadi, bisakah kau menolongku sekali ini saja? Kumohon"

Jun menggeleng, "TI-DAK. Lagipula, itu kesalahanmu. Itu urusanmu untuk menyelesaikannya, tidak ada hubungannya denganku", katanya hendak kembali melangkah pergi.

Soyoung menarik ujung kemeja lelaki itu, "Jun.."

"Tidak"

"Kumohon"

"Tetap tidak"

"Sekali ini saja.."

"Tidak, Nona Soyoung"

"Akan kukenalkan kau pada pelatih klub renang wanita di sekolah"

"Apa? Tidak!"

"Eii, aku tahu semua orang menginginkannya. Pelatihnya cantik sekali, tubuhnya juga seksi. Terutama saat baru keluar dari kolam renang, ia sangat…."

"Yak! Im Soyoung! Hentikan itu! Aku bahkan tidak tertarik pada pelatih renang yang kau bicarakan"

Soyoung merengut putus asa, jemari yang semula menggenggam erat ujung kemeja Jun kini mulai mengendur.

Mata Jun yang semula menatap kesal kini mulai melembut melihat reaksi gadis mungil dihadapannya. Dengan tangannya, ia meraih lengan Soyoung.

"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tiba-tiba memintaku untuk menjadi kekasih palsu untukmu?"

Soyoung mengerucutkan bibirnya, "Aku keceplosan menyebutmu sebagai kekasihku padanya tadi"

"KAU GILA? Kita bahkan baru saling mengenal selama beberapa minggu!"

"Iya! Iya! Aku tahu! Aku terpaksa mengucapkan itu! Ia mendesakku. Selain itu, apa kau tak mendengar percakapan kami di perpustakaan tadi?"

"Tidak. Apa maksudmu mendesak?"

"Aish, padahal kau duduk tak jauh dariku"

"Aku sedang membaca, Im Soyoung. Aku tak punya waktu untuk mendengarkan pembicaraan cinta orang lain"

Soyoung mendelik kesal, meski begitu, sebuah cerita tetap mengalir begitu saja dari bibirnya mengenai kejadian siang tadi di perpustakaan antara dia dan Mingyu.

"…Jadi, begitulah yang terjadi", Soyoung menutup ceritanya, matanya menatap Jun yang sedang mengacak rambutnya kasar dengan takut-takut.

"Lalu apa yang dia inginkan jika dia tahu bahwa kau bukan kekasihku?"

"Dia akan memaksaku menjadi kekasihnya"

"Apa buruknya? Dia tampan"

"Jika begitu, artinya ia akan menyakiti Hyun Ae lagi"

Jun menyerngit bingung pertanda tak faham.

"Kau takkan mengerti. Sudahlah", ucap Soyoung. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam, hatinya sungguh sudah merasa bahwa kejadian masa lalunya mereka bertiga, Hyun Ae, dan Mingyu (Mungkin berempat, ditambah Soonyoung) akan kembali terulang. Ia sudah gagal membujuk laki-laki dihadapannya untuk memohon pertolongan. Lagipula, toh itu memang kesalahannya. "Kau pulanglah, maaf telah menahanmu", Soyoung akhirnya melepas genggamannya dari ujung kemeja Jun.

Jun menghela nafasnya berat saat dilihatnya Soyoung membalik badannya dan hendak melangkah menjauh. Dengan sedikit berat hati, tangannya langsung menarik lengan Soyoung untuk kembali berbalik, "Baiklah", katanya, "Dengan satu syarat"

Mata kecil Soyoung yang semula sudah meredup kini langsung berbinar tak percaya, "Apapun itu!"

"Aku akan mengikuti audisi entertainmen dengan Soonyoung beberapa bulan lagi. Kau harus menjadi pelatih vokal pribadiku sampai saat itu"

Bibir Soyoung bergumam ragu, "Tapi suaraku tak sebagus itu.."

"Jangan merendah. Aku sudah mendengar nyanyianmu"

"Tapi.."

"Jadi pelatihku, atau jadi kekasih pria itu"

"Argh! Baiklah!", seru Soyoung kesal, "Berjanjilah padaku untuk tidak memberitahu siapapun tentang perjanjian ini", tambahnya lagi sambil mengacungkan jari kelingking ke arah lelaki didepannya.

Jun mengangkat bahunya, "Toh aku hanya menjadi kekasih palsumu. Tidak ada yang perlu diberitahu pada siapapun", jawabnya menyambut uluran jari Soyuong dengan kelingkingnya.

"Yaksokkhe"

"Yaksok", Jun menjawab.

.

"Omong-omong, sampai kapan aku harus menjadi kekasih palsumu?", tanya Jun saat mereka sudah duduk di bangku bis.

"Sampai Mingyu percaya dan menjauhiku"

"Bagaimana jika ia tidak percaya?"

"Kalau begitu sampai kita lulus. Nanti aku akan kuliah sejauh mungkin agar tak bisa ditemukan oleh siapapun, terutama Mingyu", ujar Soyoung yakin.

Jun terdiam, "Perjanjian itu hanya berlaku di sekolah, kan?"

Soyoung menggeleng kuat-kuat, "Diluar rumah. Setiap kali kau bertemu denganku"

Jun hanya memutar bola matanya malas.