"Pergilah ke toko dan belilah semua barang yang berada di dalam daftar ini."

Baru saja Eren keluar dari lumbung yang kata ayahnya itu adalah laboratorium penemuannya. Dan sekarang suara orang yang dimaksud terdengar lagi dari belakang Eren. Dengan malasnya, Eren membalikkan badannya untuk menemukan sosok sang ayah bersama Lucas.

"Kau berniat untuk memperbaikinya? Dia bukan mainanmu," sergah Lucas. Eren yang melihatnya bergumam kecil, seperti mengucapkan bahwa dia adalah mainan ayahnya. Buktinya sang ayah menyimpannya.

"Ya, tapi dia itu penting."

Eren memerhatikan kedua lelaki itu yang bahkan tidak menyadari Eren dan berjalan melewatinya begitu saja. Kedua sahabat lama itu berjalan menuju ke mobil Mini Cooper milik Lucas.

"Jika ia penting, untuk siapa?" Tanya Lucas. "Kau tidak bisa menyimpannya dan bermain-main dengannya."

Eren sedikit terkekeh mendegarnya. Emangnya makhluk seperti dia bisa diajak bermain layaknya hewan peliharaan?

"Bisakah kau diam?"

"Sedang kulakukan," balas Lucas. "Tapi dia memukulku dengan tangan besinya. Jika dia menelanmu, aku dapat GTO itu." Lucas pun menunjukkan ke arah mobil yang ia maksud.

Eren pun menelan ludahnya. Ia mencoba membayangkan bagaimana makhluk itu menelan ayahnya. Dan justru yang berada di pikirannya adalah bagaimana para titan itu menelan teman-temannya. Dan ibunya.

Hei tunggu, yang berada di dalam pikirannya itu adalah mimpi kan? Kan?


Linkin Horizon

By Ambar Albatros

.

.

.

Part three: Ketahuan

Recent warning: Please watch TF4 before continue reading these, or you will be spoiled.

You like spoiling? Read this at your own risk.

.

.

.

.

"Jangan beritahu siapapun," larang Cade. "Kau paham?"

Wajah Eren yang semula horor, melunak ketika mendengar suara pintu mobil hitam bergaris putih milik Lucas ditutup oleh sang pemilik. Tetapi wajah itu tetap saja masih memperlihatkan ketakutan Eren di depan sang ayah.

"Eren? Kamu kenapa?" Tanya Cade.

"A-aku tidak apa apa." Eren menggelengkan kepalanya. Sungguh, mimpi itu bukanlah kisah film horor yang bagus.

Cade yang memperhatikan dengan seksama putranya itu kemudian menunjukkan wajah sumringah dan langsung menepuk-nepuk mobil Lucas. "Hei hei! Tunggu dulu."

Lucas yang baru saja menyalakan mesin mobilnya menggerutu. "Ada apa lagi sih?"

"Eren, sini."

Eren mendekati sang ayah kebingungan. Kenapa ayahnya ini tiba-tiba begitu sih?

"Ren." Cade menepuk pundak anaknya pelan. "Kamu temani dulu Lucas."

Baik Eren maupun Lucas menautkan kedua alis mereka. "Hah?"

Seakan tidak mengindahkan, Cade melanjutkan ucapannya. "Bantu dia mencari barang yang harus dibeli, dan jaga agar ia tidak memberitahukan soal ini kepada siapapun."

"Hei! Aku bukan anak-anak!"

Eren yang memandang ayahnya. Antara mau atau malas menanggapi, ia pun menganggukkan kepalanya.

"Bagus! Kau tidak seperti kakakmu yang kerjanya bersenang-senang saja." Cade menepuk kembali pundak Eren dan membukakan pintu penumpang.

Bisa begitu ya?


"Bisakah kau tidak menatapku dengan tatapan seperti itu?" pinta Lucas kepada Eren yang memandangnya dengan hawa membunuh "Kau menakutkanku, tahu!"

Eren tak menjawab. Wajahnya semakin menakutkan, dengan haw membunuh yang semakin membesar. Bahkan petugas kasir pun merinding sendiri saat menyodorkan barang pembelian mereka dengan uangnya.

"Eren…" Lucas, dengan takut-takut mengambil barang belanjaan mereka beserta kembaliannya, sambil memandang Eren yang semakin menakutkan.

"Kamu belum telepon kan?" tanyanya dengan nada suara yang dingin.

"Be-belum," jawab Lucas. Padahal ia berniat untuk menghubungi polisi setelah lepas dari pengawasan Eren yang benar-benar mengerikan. "Ta-tapi kenapa?"

"Kenapa apanya?" Pertanyaan dari Lucas berhasil membuat tatapan Eren melunak.

"'Kenapa apanya?'?" Lucas sedikit berjengit mendengar nada suara Eren yang justru minta penjelasan dari pertanyaannya. "Kau kan menentang keinginan ayahmu untuk memeliharanya, lalu kenapa kau tidak mendukungku untuk melaporkannya kepada polisi?"

"Lucas, paman," sahut Eren. "Aku memang menentang ayah untuk memeliharanya, tapi bukan berarti aku bisa percaya seratus persen kepada polisi begitu saja. Aku merasa mereka akan membunuhnya. Apalagi dia saja sudah tidak berdaya di hadapan kita."

Petugas kasir yang sepertinya salah menangkap pembicaraan mereka itu menyela, "Apakah kalian pasangan homoseksual?"

"BUKAN!"


"Wawawawawa! Stop stop!"

Mobil yang memiliki papan selancar di atas kap mobilnya tersebut akhirnya berhenti dengan memutar di depan lumbung tersebut. Tidak persis, tentu saja.

Pintu pengemudi dan penumpang pun terbuka, terlihat Lucas dan Eren keluar dari masing masing pintu yang terbuka. Eren langsung berlari dan melabrak Lucas.

"Kenapa harus ngebut sih?" Eren mencengkram kerah baju Lucas.

"Hei hei, salahmu sendiri ikut." Lucas berusaha melepaskan kedua lengan Eren yang mencengkram kerah bajunya.

"Hei! Lama sekali kalian!" Seru Tessa yang sepertinya sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya. Eren melepaskan genggamannya dan memandang kakaknya tersebut.

"Eren daritadi memandangiku dengan tatapan yang mengerikan. Mana tadi ada yang mengira kami pasangan homo."

"Itu bukan salahku!" Sergah Eren. "Petugas kasir itu yang otaknya rada miring!"

"Lebih baik aku membawa ini saja daripada berurusan denganmu, Ren." Lucas mengambil barang yang diminta oleh Cade sebelumnya. Dan ia berjalan menuju lumbung lokasi pasien mereka berada.

"Ha! Aku juga tak ingin berurusan denganmu!" Eren langsung berbalik badan dan berjalan menuju ke dalam rumah.

Tessa yang melihat kejadian tersebut hanya bisa bergumam kecil.

"Terserah."

Eren melemparkan tubuhnya ke kasur, dan langsung menyambar handphone miliknya. Mengecek notifikasi Twitter yang tiba-tiba menggunung. Semuanya adalah notifikasi mention dari teman-teman sekelasnya. Mereka menanyakan kabar Eren, berharap agar dapat mengikuti acara prom night besok malam. Bukan hanya Twitter ternyata, seluruh akun media sosial miliknya berisi notifikasi teman-temannya. Tampaknya kehadiran seorang Eren Yeager dinantikan oleh teman-temannya.

Eren menghela napas panjang. Ia mengetik sesuatu di layar sentuh gadget tersebut dan berkicau di Twitter.

'Mungkin aku akan datang ke acara Prom Night, tapi sepertinya harus lihat kondisinya nih.'

Baru saja berkicau seperti itu, ia langsung dihujani berbagai ucapan syukur dari teman-temannya, termasuk sang ketua kelas, Mikasa Amamiya.

'Setidaknya aku masih punya harapan untuk melihatmu besok :) ErenYeager'

Mikasa? Pake emot? Tak bisa disangka ia menggunakan karakter seperti itu. Eren pikir Mikasa tidak akan pernah menggunakannya. Dia pernah bilang kalau menggunakan emoticon akan memboroskan karakter dalam menulis twit.

Tidak pernah ada yang menduganya.

Paling hanya rumor miring tentang Mikasa yang memendam rasa kepada Eren. Eren sendiri sih tidak yakin seratus persen akan gosip tersebut.

Eren membaca mention mereka satu-satu, dijawab juga satu-satu, meyakinkan mereka kalau itu hayalah masalah keluarga, dan lain-lainnya. Dia tidak menyebutkan soal truk usang itu sama sekali, ataupun tidak ada yang menyinggung soal alien di Chicago, jadi tak ada yang membuat Eren keceplosan.

Setidaknya sampai kakak kandungnya memanggil ayahnya.

Eren langsung mengintip melalui jendela. Ia dapat melihat helikopter dari kejauhan. Aneh, setidaknya ia tidak pernah membiarkan Lucas menelepon mereka. Ataukah?

Eren langsung menyambar telepon genggam miliknya. Dan langsung mengetikkan sebuah twit.

'Sepertinya aku harus merelakan diri untuk tidak menghadirinya. Masalah keluarga ini semakin menjadi-jadi.'

Eren langsung melemparnya ke atas kasurnya dan menuruni tangga.

Eren membukaan pintu rumahnya untuk melihat beberapa mobil hitam berjalan menuju ke halaman rumahnya. Mobil mobil itu berbelok ketika ayahnya, Cade Yeager, berdiri menghalangi mereka. Dan berhenti secara menyebar.

Eren dapat melihat orang orang berjubah hitam dan menggunakan kacamata hitam keluar dari mobil mobil tersebut. Memang ini hal yang gila, tetapi Eren berjalan mendekati sang ayah sebelum terhenti dengan suara helikotper yang terdengar di atas kepalanya.

"Tuan Yeager, Aku James Savoy, agen federal." Seorang yang memiliki rambut yang hampir penuh dengan uban itu berbicara. "Aku dan anak buahku mencari truk. Truk yang usang."

Salah seorang anak buah si Savoy berjalan mendekati Tessa. Eren sedikit menggeram ke arah Lucas.

"Rumah yang bagus. Sayang sekali ini untuk dijual," si Savoy sialan itu tersenyum sinis kepada Cade.

"Oh, terima kasih. Kami tidak menjualnya," sahut sang kepala keluarga. Ia berjalan mendekati lawan bicaranya sambil memakai jaket cokelat mudanya. "Apakah itu truk yang anda cari?"

"Bukan itu." Raut wajah sang agen federal itu menjadi tegas. Seluruh keluarga Yeager tahu siapa yang dimaksud olehnya. Tentu saja, dia buruan negara kan?

"Tuan Yeager, kami menerima telepon dari orang yang mengkhawatirkan truk itu," lanjut si agen federal.

Eren mengepalkan kedua tangannya sambil menatap Lucas dengan hawa menakutkan. Lucas sendiri mengumpat kecil, tanpa mengetahui anak bungsu dari Cade Yager itu menatapinya.

"Bukankah kau yang meneleponnya?"

Eren sedikit menggerling ke arah salah satu agen yang berada di dekatnya.

"Aku khawatir kau menerobos ke tanahku tanpa ijin," bantah Cade. Savoy berdeham kecil. "Di Texas ada peraturan akan penerobos. Dan aku tidak tahu truk yang kau maksudkan itu."

Savoy tersenyum kecil sebelum menoleh ke arah Cade yang semakin mendekatinya. "Truk yang membunuh ribuan rakyat Amerika." Nada bicara dari si Savoy terlihat mengancam dan tertekan di waktu yang bersamaan. Kedua lelaki itu saling bertatapan satu sama lain.

Savoy menoleh ke arah yang lain. "Geledah tempat ini!"

Selagi anak buah Savoy yang lain bergerak untuk mengeledah tempat tersebut, Cade berujar "Apa maksudmu 'geledah tempat ini!'? Kau tidak punya surat penggeledahan."

Savoy menatap kembali sang kepala keluarga. "Wajahku ini adalah surat penggeledahanku."

Beberapa anak buah Savoy bergerak menuju lumbung dimana Lucas berjalan mundur sambil mengangkat kedua lengannya. "Tunggu, jika kalian menemukan truknya, kami akan mendapatkan uangknya, kan?"

Beberapa anak buah yang lain melemparkan sesuatu yang merupakan robot pengintai berbentuk seperti serangga terbang. Eren melihat beberapa anak buah yang mendekati lumbung masuk ke dalamnya. Eren berharap agar mereka tidak menemukan sosoknya.

Yang berada di dalam lumbung beberapa sudah keluar, tetapi sepertinya Eren tidak bisa bernapas lega karena ada salah satu anak buah mereka yang menunjuk ke arah drum yang berisi sesuatu.

"Tidak ada tanda apapun. Kami tak menemukannya," ujar ketua tim dari mereka yang masuk ke dalam lumbung.

"Sir!" seru yang tadi menunjuk ke dalam drum. "Kami menemukan misil aktif di dalam tong sampah."

Lucas dan Cade menoleh ke arah sang anak buah yang mengatakan hal tersebut. Bahkan Savoy menatap si anak buah dengan wajah tanpa ekspresi. Lucas kemudian memandang Cade kesal.

"Masih aktif?! Aku membuangnya ke tempat sampah! Kau bilang kalau roketnya sudah mati!" Sepertinya Lucas terbawa emosi sebelum sadar mereka dikepung oleh agen federal. "Aku bisa saja mati, kan?"

Cade yang sepertinya sudah tertekan kemudian berkata "Dengar, aku memang menemukan truk, oke?"

Savoy menanggapinya dengan anggukan kecil.

"Aku membawanya untuk mengambil suku cadang. Tadi malam aku menaruhnya di sini," Cade bergestur seperti ia memang menaruhnya di halaman rumah. "dan paginya dia menghilang. Aku tak tahu pergi kemana. Sumpah, hanya itu yang kutahu."

Savoy mendekatkan tangan kirinya ke earphone yang menggantung di telinganya. Kemudian ia berjalan mendekati Cade. "Tuan Yeager."

Cade yang berjalan itu menoleh ke arah Savoy. "Apa?"

"Permisi." Si agen federal itu membuka kacamata yang menutupi matanya. "Kau baru saja bilang 'dia'. Tangkap mereka!"

Kemudian para anak buahnya menjatuhkan para keluarga Yeager. Tentu saja mereka melawan, tak terkecuali Eren. Ia terlibat pergumulan kecil dengan seorang agen yang tadi berada di dekatnya. Eren berusaha melawan dengan teknik yang pernah diajarkan Annie Leonhart. Walaupun itu sebatas mimpi, setidaknya bisa diaplikasikan dalam kehidupan yang nyata ini. Sayang, Eren masih kalah dalam hal kekuatan. Agen tersebut berhasil melumpuhkan Eren, walaupun ia masih kesulitan dibanding oleh kawannya yang telah melumpuhkan Tessa dan Lucas dengan mudah. Bahkan Eren dapat melihat sang Ayah juga tersungkur tak berdaya menghadapi para agen agen keparat ini. Siapa sih yang mengendalikan mereka?

Kemudian anak buah Savoy yang menahan Tessa kemudian mendorong wanita malang tersebut hingga terjatuh. Savoy mengacungkan pistolnya ke arah Cade. Anak buahnya pun mengacungkan senjatanya ke arah Tessa

"Waktumu sepuluh detik. Dimana truk itu?"

"Kau mau menembak putriku?" Cade berusaha melepaskan jeratan dari para agen agen tersebut karena melihat Tessa yang diperlakukan kasar. Ayah mana yang tidak marah putrinya diacungkan senjata. Senjata api pula.

"Harus kulakukan."

Eren yang melihatnya langusng berusaha melepaskan diri. Hampir berdiri, tapi tetap saja ia kalah dalam hal kekuatan. Sang kakak juga berteriak minta tolong.

"Sudah kubilang semua yang kutahu! Dia sudah pergi!" Cade menatap robot pengintai yang mendekatinya. "Dia tadi berada di lumbung, aku bersumpah! Lepaskan putriku!"

"Dia tadi berada di dalam sana! Lepaskan putriku!"

Tampaknya semua yang diucapkan Cade tidak membuat Savoy bergeming. "Tujuh detik."

Cade sedari tadi bersumpah bahwa tadi dia berada di dalam sana. Meminta putrinya untuk dilepaskan, dan bersumpah untuk membunuh para agen itu jika Tessa tak dibebaskan. Eren hanya menggeram pasrah. Andai dia memiliki kekuatan untuk berubah menjadi titan sekarang.

Andai dia mempunyai kekuatan untuk melawan.

Terdengar suara tembakan peringatan dari agen yang berada di dekat kepala Cade.

"Waktumu dua detik," ingat si ubanan keparat itu.

"Tembak dia."

Bersambung…


Author Corner

AKHIRNYA UPDATE~

Maafkan Author yang sepertinya telat update bulan ini (-/\-) dan maaf juga membuat chapter ini menggantung (_/\_)

Pertama Author ingin mengungumkan kalau Author menjatah update fic ini per satu bulan. Jadi, harap bersabar karena sekolah tempat Author belajar adalah sekolah yang disiplin, plus pake K13. Banyak tugas harus kulakukan :"( tugas kelompok lagi :" (/jangan curhat)

Soal karakter SnK, sebenarnya Author akan memakai beberapa. Tapi selain Eren Yeager, nama keluarga mereka akan Author ganti, seperti Mikasa Ackerman yang author ganti jadi Mikasa Amamiya. Sebenarnya nama keluarga Amamiya berasal dari penyanyi opening 1 Akame ga Kill! Ide banget ya Author :P Di chapter 1 bahkan Author sudah memasukkan Mikasa dan Jean sebagai karakter yang numpang lewat .-.) apa kalian tidak merasa, Shielin dan Arc-kun?

Kalau kalian mau pesan karakter SnK yang lain lagi boleh kok ^^ Tapi karena Author berpegang teguh pada kisah TF:AoE, jadi tidak mungkin semua dimasukkan…

Dan soal peringatan dini itu… Author takutnya kalian marah-marah sama filmnya. Ga dikasih penjelasan lebih tentang *beberapa kata disensor, takut spoiling chapter berikutnya*. Begitulah, Author sebenarnya fan asli (?) Transformers. Jadi pas nonton, ngerasa kasihan, kenapa mau-maunya mereka membuat film yang penuh plot hole begini TwT Author tambal deh di fic ini.

Oke, apakah ada review? Saran? Atau kritik? Author tunggu dengan sabar loh ^^)/

I'm out~