Chapter 3 sekalian update!


DISCLAIMER :

YOICHI TAKAHASHI

PAIRING :

Misugi X Yayoi slight many pairing

Warning :

OOCnes (terutama Misugi), abal, gaje

CHAPTER 3 :

::TRIPLE DATE?::


PREVIOUS :

Obrolan tiga cowok cakep dari tim junior Jepang, Jun, Tsubasa dan Matsuyama tentang masalah perasaan. Dan itu tidak membuahkan hasil yang baik, malah membuat jantung Jun kumat lagi. Ishizaki yang melihat ada sesuatu yang aneh dengan mereka segera lapor kepada Sanae. Apakah yang akan terjadi selanjutnya.

LET'S START THE STORY…

Setelah selesai sarapan..

"Tsubasa…!" panggil Sanae.

"Matsuyama…!" panggil Yoshiko.

Kedua makhluk kurang tidur itu segera berbalik, tampang mereka benar-benar terlihat lesu. Sanae dan Yoshiko yang melihat pasangannya tampak lesu begitu langsung menghampiri keduanya.

"Kalian kenapa?" Tanya Sanae khawatir. Kemudian menepuk-nepuk pipi Tsubasa agar sadar.

"Kami tak apa-apa," jawab Matsuyama sambil memegang kepalanya yang pening. Yoshiko segera menyuruhnya duduk.

"Sebenarnya ada apa?" Yoshiko penasaran.

"Ehm, itu. Tadi malam Jun kambuh penyakitnya. Makanya kami jadi seperti ini," ujar Tsubasa setelah dapat menguasai keadaan.

"Ceritakan secara detil," pinta Sanae. Akhirnya dengan kekuatan mereka seadanya, Tsubasa dan Matsuyama menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sanae dan Yoshiko mendengarkannya dengan serius.

"Jadi begitu ya," gumam Yoshiko setelah selesai mendengar cerita dua mantan kapten tim sepakbola itu.

"Hm.." Sanae malah terlihat berpikir setelah mendengar cerita itu.

"Aha!" Pada akhirnya kedua gadis itu sepertinya menemukan ide. Kemudian keduanya berpandangan dan saling nyengir. Sementara itu Tsubasa dan Matsuyama malah kebingungan dengan sikap mereka.

"Ada apa?" Tanya Matsuyama penasaran.

"Kami punya ide yang bagus!" teriak mereka bersamaan. Membuat Tsubasa dan Matsuyama terperangah.

"Memangnya apa itu?" Tanya Tsubasa cengo.

"TRIPLE DATE!" keduanya berteriak bersamaan lagi. Kali ini sukses membuat lorong itu bergetar.

"Bi..bisa kecilkan suara kalian?" pinta Matsuyama memelas sambil menutup telinganya.

"Ups!" Keduanya kali ini sama-sama membekap muiut mereka. *Author : kok mereka kompak banget gitu ya ==a*

Sementara itu Tsubasa dan Matsuyama malah semakin bingung. Mungkin karena kondisi mereka yang sedang tidak baik. Lama mereka dalam diam dan akhirnya.

"Kalau begitu kami pergi dulu ya," lanjut Tsubasa sambil menatap Matsuyama mengacuhkan apa yang dua gadis itu katakan tentang Triple Date. Matsuyama kemudian mengangguk. Mungkin dengan latihan rasa kantuknya akan hilang. Tetapi pemuda itu segera ditarik oleh Sanae.

"Dengarkan kami!" sentaknya.

"Iya. Kami belum selesai!" tambah Yoshiko ikut-ikut menarik Matsuyama.

Tsubasa dan Matsuyama terlihat linglung, tetapi mereka memilih tetap tinggal dan mendengarkan.

"Bagaimana menurut kalian?" Tanya Yoshiko meminta pendapat.

"Hah? Bagaimana apanya?" Tanya Matsuyama jadi lola kayak Tsubasa. Sanae hanya bisa menepuk dahi, sedangkan Yoshiko mendengus kesal.

"Triple Date tadi!" tegas Sanae.

"Owh, Triple Date itu?" Tanya Matsuyama. "Ide gila," cetusnya santai.

"Iya kan Tsubasa?" tambahnya lagi untuk meminta dukungan. Tsubasa hanya mengangguk karena dia juga tidak tertarik. Masa' pergi kencan tiga orang? Apa kata dunia? Batinnya dalam hati.

Segera saja aura membunuh keluar dari dua orang gadis di depan mereka itu.

~XXX~

Kojiro sedang melatih tendangan macannya di tempat yang sepi. Dia berusaha menciptakan jurus baru untuk memperkuat kemampuannya.

Lalu tanpa sengaja bola itu tertendang jauh melewati pohon-pohon dan menyerempet sesuatu.

"Kyaa!" Terdengar suara teriakan dari jauh. Kojiro segera melihat itu dan didapatinya seorang gadis berambut coklat kemerahan panjang sedang terduduk. Di sisi lain tempat itu tampaklah bola yang di tendangnya tadi sedang menggelinding.

"Aoba. Kau tidak apa-apa?" Tanya Kojiro panik.

"Eh, tidak apa-apa kok Hyuga," jawab Yayoi berusaha tersenyum. Tetapi saat dia bangkit malah limbung karena kakinya terkilir.

"Kau terkilir? Biar aku bantu!" ujarnya sambil memapah gadis itu.

"Tidak, terima kasih Hyuga. Aku bisa sendiri!" elak Yayoi. Tanpa ba-bi-bu langsung saja Kojiro menggendong Yayoi. Dengan ini sukses membuat wajah gadis manis itu terasa panas.

~XXX~

Kita beralih ke tempat Jun.

Jun duduk di depan tempat latihan sambil memikirkan perkataan dua sahabatnya tadi malam.

"Cinta ya?" gumamnya. "Mungkin benar, tapi aku masih tak mengerti," lanjut pemuda itu sambil menerawang menatap langit.

Setelah lama melakukan pekerjaan tidak berguna itu, akhirnya Jun memutuskan untuk ke tempat Yayoi saja. Dia belum minta maaf atas perubahan sikapnya kemarin yang tidak wajar.

Dengan langkah pasti Jun melangkah ke kamar Yayoi. Tetapi saat tiba di depan kamar gadis itu dia mendengar sebuah erangan kecil. Dan dikenalinya sebagai suara mantan manajernya itu. Cepat-cepat Jun menuju pintu dan membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci itu. Pemandangan apa yang ada di depan matanya membuat jantungnya serasa mau kambuh lagi.

"Aduh, sakit," rintih Yayoi.

"Tahan sedikit ya," ujar Kojiro.

Jun berdiri mematung di tempat. Pikirannya tiba-tiba kosong.

Yayoi yang baru menyadari kaptennya datang itu hanya bisa nyengir. Kojiro malah merasakan ada aura aneh yang terpancar dari diri Jun.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" teriak Jun sukses membuat seluruh dinding kamar itu bergetar.

"Eh?" Yayoi terkejut. Dan hendak menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tetapi kelihatannya Jun sudah gelap mata. Langsung saja Jun memegang kerah baju Kojiro dan menyeret pemuda itu keluar. Apa yang akan dilakukan Jun?

"Ka.. Kapten kenapa?" Tanya Yayoi panik. "Kok, tiba-tiba marah ya?" tambahnya lagi. Kemudian gadis itu mencoba bangkit walau meski harus dengan menahan sakit di kakinya. Setidaknya kondisinya lebih baik karena Kojiro telah mengobatinya tadi.

~XXX~

"Apa yang kau lakukan!" Sekali lagi Jun melontarkan pertanyaan itu dengan nada membentak.

"Aku tidak sedang apa-apa kok," jawab Kojiro cuek. Dan saat Jun mau membalas kata-kata Kojiro itu tiba-tiba ada yang menyela mereka.

"Hey, ada apa ini?" Lerai Matsuyama.

"Misugi, apa yang kau lakukan?" Tanya Tsubasa memisahkan Jun dari Kojiro. Sanae dan Yoshiko juga turut mendamaikan.

"Dia…!" Jun mengepalkan tangannya seperti hendak memukul.

Yayoi telah berdiri di ambang pintu. Dia berusaha berjalan meski dengan kaki agak diseret.

"Kapten kenapa sih?" tanyanya dengan nada kesal. Semua memandang ke arah gadis itu.

Sanae dan Yoshiko menghampiri sahabatnya itu. Dan membantunya berjalan.

"Kau kenapa Yayoi?" Tanya Sanae cemas.
"Kakimu terkilir ya?" tambah Yoshiko. Yayoi hanya mengangguk dan memberikan isyarat pada mereka berdua agar membawanya mendekati Jun dan Kojiro yang sedang hampir berkelahi itu.

Jun yang melihat Yayoi datang langsung melemparkan sebuah pertanyaan.

"Dia tadi mau macam-macam denganmu kan?" tuduh Jun. Membuat Yayoi sedikit mengangkat alisnya dan kemudian tersenyum sinis.

"Hyuga tadi itu hanya sedang membantu mengoleskan salep ke kakiku yang terkilir," jelas Yayoi. "Memangnya menurut kapten kami sedang apa?" sentak Yayoi. Membuat Jun bungkam.

"Dan Hyuga," ujar Yayoi mengalihkan pandangannya kepada Kojiro. "Terima kasih ya, sekarang aku sudah tidak apa-apa," tegas Yayoi sambil tersenyum. Kojiro pun jadi salah tingkah.

"Lebih baik aku kembali ke kamar." Yayoi berbalik. Dan meninggalkan Jun yang sedang diam seribu bahasa. Sementara Kojiro juga berinisiatif untuk kembali meneruskan latihannya.

Tsubasa, Matsuyama, Sanae dan Yoshiko hanya memandang mereka dengan tatapan menyelidik.

~XXX~

"Kau itu terlalu berlebihan Misugi!" sentak Tsubasa saat ketiganya sudah memasuki kamar.

"Ng? Tadi aku hanya sedang kalap," elak Jun.

"Huh, kau itu cemburuan sekali sih!" omel Matsuyama.

"Aku tidak cemburu kok!" bela Jun sambil membuat tanda silang dengan tangan di depan dada.

"Jangan bohong! Kelihatan sekali tadi," sahut Matsuyama lagi kemudian merebahkan diri di kasur. "Ah, sepertinya enak kalau tidur. Apalagi sekarang jam bebas," lanjutnya.

"Iya, dan sebaiknya kau harus bergerak cepat sebelum Yayoi benar-benar berpaling," tambah Tsubasa ikut-ikut merebahkan diri di kasur.

"Apa sih yang kalian bicarakan?" Misugi mencoba menepisnya.

"Hah, susah sekali bicara denganmu. Tsubasa kau jelaskan padanya saja." Matsuyama kemudian langsung memejamkan mata dan terlelap.

Tsubasa mengangguk kemudian merubah posisi jadi duduk bersila di kasur. Jun mengikutinya.

"Kau harus mengakuinya Jun!" tegas Tsubasa. Jun berpikir sebentar hendak menyangkal tapi hatinya berkata lain. Dan akhirnya dia menjawabnya jujur.

"Iya, memang benar sih," jawabnya agak ragu.

"Tuh, benar kan. Dan seharusnya kau minta maaf padanya, sepertinya dia marah padamu," lanjut Tsubasa.

"Sepertinya. Memang aku yang salah. Nanti aku akan minta maaf," jawab Jun lemas.

"Baguslah!" Angguk Tsubasa.

"Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" tanyanya pada Tsubasa.

"Gampang saja. Kami punya acara bagus," jawab Tsubasa sambil tersenyum misterius. Dan Tsubasa membisikkan sesuatu padanya. Setelah mendengar itu tampak ekspresi keterkejutan di raut mukanya.

"Kau harus melakukannya. Mengerti!" tegas Tsubasa.

"Ng, akan kucoba."

Akhirnya setelah berpikir lebih jauh Jun pun memutuskan untuk pergi ke kamar Yayoi lagi.

~XXX~

"Kapten?" Tanya Yayoi sambil berdiri di ambang pintu kamarnya. "Ada apa ini?" tukasnya dengan nada agak ketus.

"Ehm, itu. Bagaimana dengan kakimu?" tanyanya.

"Owh, ini. Sudah tidak apa-apa kok. Ternyata salep untuk cedera itu benar-benar manjur," jawabnya enteng.

"Syukurlah," desis Jun sambil mengelus dada.

"Iya," sahut Yayoi singkat.

"Apa aku boleh masuk?" tawar Jun. Dia merasa tidak nyaman bicara sambil berdiri di lorong hotel. Akhirnya setelah berpikir Yayoi pun mengijinkannya.

"Baiklah, kapten masuk saja. Aku pesankan jus jeruk ya," lanjut Yayoi kemudian menelepon pihak hotel. Jun hanya mengikutinya. Dan keduanya duduk di beranda hotel sambil menikmati keramaian kota Paris di siang hari dari ketinggian sambil menikmati jus jeruk yang menyegarkan.

Lama mereka diam dan akhirnya Jun memulai untuk bicara.

"Yayoi.." panggilnya. Langsung saja gadis itu menoleh menatap kaptennya.

"Aku, minta maaf soal yang kemarin dan tadi ya," ujar Jun tulus. Yayoi sedikit tertegun.

"Tidak apa-apa kok," sahutnya pelan. Jun agak sedikit lega.

"Dan maaf juga karena sudah berpikir macam-macam tadi," tambah Jun kelihatan sekali ada ekspresi penyesalan di wajahnya.

Yayoi menatap lekat kaptennya itu, dan tiba-tiba sebuah kata meluncur tak terduga dari mulutnya, "Kapten percaya padaku kan?"

Jun langsung mendongakkan kepalanya. Menatap gadis itu. Kejujuran terpancar dari balik matanya yang indah.

"Aku akan mempercayaimu," tegas Jun. Yayoi akhirnya tersenyum mendengar jawaban kaptennya itu.

Suasana kembali sepi. Keduanya saling diam. Dan akhirnya Jun memutuskan untuk bicara lagi.

"Ng, besok ada acara. Aku diajak Tsubasa dan Matsuyama. Katanya harus berpasangan. Maukah kau ikut dan menjadi pasanganku Yayoi?" Tanya Jun agak bimbang. Yayoi langsung tersedak jusnya. Jun panik dan menenangkan gadis itu.

"Ka..Kapten serius mengajakku?" tanyanya masih kaget.

"Iya!" jawab Jun mantap.

"Baiklah kalau begitu," sahut Yayoi sambil tersipu.

Kemudian setelah lama berbincang, Jun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

Setelah Jun pergi, Yayoi langsung menepuk-nepuk pipinya sendiri.

"Ini bukan mimpi kan?" tanyanya pada diri sendiri.

"Secara tidak langsung ini seperti ajakan kencan!" jeritnya karena begitu senangnya.

"Hey, kau kenapa Yayoi?" Tanya Yoshiko sambil meletakkan barang belanjaannya di meja.

"Aneh," balas Sanae yang juga masuk sambil membawa beberapa buah kantong plastik. Mereka berdua baru saja pergi belanja untuk keperluan latihan.

"Hehe, tidak apa-apa," cengir Yayoi sambil menerawang menatap langit-langit kamar dengan tersenyum-senyum tidak jelas. Sanae dan Yoshiko hanya menggeleng tak mengerti.

-TO BE CONTINUED-

Please review^^…