Disclaimer : Oda-sensei..! Kemarin ada yang mengirimkan surat cinta padaku, apa itu Zoro? *dicekek readers ampe nyawa mau minggat dari tubuh ini* Chapapapapa.. Bercanda kok.

Summary : Zoro bersekolah di sekolah Allen! Bagaimana ia bisa menghadapi sekolah yang tak pernah dijamahinya ini?

PART 2 : "School? Oh my God!"

"Zoro, bangun!" Teriak suara seseorang dari dalam kalung.. Eh? Kalungnya?

Zoro membuka liontin kalungnya yang ternyata di dalamnya ada kaca dan melanjutkan kembali tidurnya. Ternyata Ace. Liontin kalung itu yang menghubungkan Ace dan Zoro, entah di surga ataupun di dunia sini. Tapi di dunia ini yang bisa melihat kalung itu hanya Zoro seorang.

"Zoro, bangun ahou!" Teriak Ace depresi menghadapi si raja tidur ini.

"Apa sih.. Ngapain gue disuruh bangun pagi- pagi.." Gumamnya masih dalam keadaan ½ tidur.

"Lo tuh bego atau apa ya? Sekolah, oi! Sekolah! Pintu lo udah digedor sama Allen dari ½ jam yang lalu!" Teriak Ace depresi dan frustasi.

"Sekolah..? Apaan tuh? Nama kue ya?" Tanyanya masih nggak sadar dan masih setengah tidur. Baru 5 menit kemudian (lama banget yah tuh otak) baru dia sadar. "Oh ya ampun! Gue lupa! Gimana nih?" Sontaknya panik dan keliling ranjangnya.

"Ah, bodoh! Pake baju lo!"

"Baju? Baju apa? Duh, katanya Allen masuknya jam 7! Ini udah jam setengah 7 lewat 20!~~" Teriaknya panik dan mencari bajunya. Ia melihat baju seragam dan langsung memakainya dengan buru- buru. Kemudian (tanpa mandi!) keluar ke ruang tamu dan menemukan pembokat, eh.. Pembantu Allen berkata padanya.

"Maaf, Tuan.. Non Allen sudah berangkat daritadi. Soalnya katanya Tuan lama banget dan dipanggil gak jawab- jawab." Ucapnya dan kemudian balik lagi. Mungkin ke tempatnya kerja.

"Wah! Gawat nih!" Ucapnya dengan frustasi dan kesal, Zoro masih memegang kalungnya dan ngomel- ngomel. "Al.. Allen udah gak ada, Portgas-san! Gimana nih?" Paniknya, "gue gak tahu jalan ke sekolahnya!"

Ace tertawa mengejek, "makanya jangan tidur terus, ahou! Nama sekolahnya Grand Line High School, cari sendiri!" Ucap Ace berselang dengan tawa membahak dan meninggalkan Zoro yhang penuh kepanikan..

Zoro mau tidak mau harus menghadapi aibnya yang tidak tahu dimana letak sekolahnya, plus buta arah.. zzzz..

-Love_Is_Amazing-

*Jam istirahat, jam 9 di Grand Line High School*

"Len, katanya ada anak baru.. Mana?" Tanya seorang gadis berambut oranye kepada Allen. Mungkin permasalahan Allen yang utama adalah Allen adalah seorang yang tertutup dan tidak mau cerita masalah dirinya dan merasa hanya akan merepotkan teman- temannya. Mungkin inilah yang harus Zoro hancurkan untuk membuat Allen tidak terus bersedih dan yang utamanya tidak jadi stress.

"Iya. Mestinya, tau tuh. Udah 2 jam gak nongol- nongol.." Ucapnya dengan kesal dan mereka berjalan e kantin." Ucapnya dengan nada kesal, tapi sekaligus khawatir, "jangan- jangan nyasar lagi.. Zoro kan buta arah.." Gumamnya berpikir.

"Kok lo tau?" Tanya gadis yang membaca novel.

"Iya. Dia kebo sih." Ucapnya dengan kesal dan memakan bakminya dengan putus asa.

"Kebo? Maksud?"

"Iya! Masa gue bangunin kaga bangun- bangun! Terpaksa gue tinggal!" Umpatnya tanpa sadar. Allen memukul jidatnya sendiri. Ia keceplosan! Pasti Robin yang pinter itu bakal nanya..

"Dia tinggal serumah sama lo?" Tanya Robin dengan tenang. Tuh kan!

"Ngg.. Dia, dia.. So, sodara gue!" Ucapnya dengan gugup, "so, sodara jauh! Jauh banget!"

"Siapa namanya?" Tanya Nami ambisius.

"Zoro. Roronoa Zoro." Ucapnya tanpa sadar (lagi). Ukh!

"Cowok..?"

"ALLEN!"

Sebuah teriakan keras datang dari belakangnya. Jauh.. Allen berbalik. Sesosok laki- laki tinggi yang dikenalnya dengan cukup baik.

"Ih, siapa tuh.. Keren ya~~!"

"Kereeennn..~~! Ngapain dia teriakin Allen gitu ya..?"

Suara desis dan gumaman mengikuti setiap orang itu berjalan mendekati Allen. Zoro! Rupanya cowok, eh.. malaikat ini keren juga tuh, sampe banyak yang terpesona begitu.

Zoro datang dan langsung memarahi Allen, "heh! Lo kenapa ninggalin gue sih? Udah tau gue gak bisa baca arah! Lo lagi nambah penderitaan gue!" Omelnya keras- keras sehingga semua pandangan terpusat pada mereka.

"Eh, siapa suruh lo tidur udah kayak kebo! Gue udah ngetok pintu, sampe udah ngedor pintu lo, lo-nya malah masih santai ngedengkur ampe suara dengkuran lo keluar dari kamar! Masih lagi nyalahin gue, masih untung gue kasih tau alamat sama arah nih sekolah di meja tamu!" Teriak Allen tak kalah keras dan lebih kesal daripada Zoro.

"Tapi kan lo tau gue gak bisa baca arah! Kenapa lo ninggalin gue?" Protesnya kesal.

Allen berkacak pinggang, "udah bagus gue bantu!"

"Heh! Yang gak tau terima kasih tuh kan elo!" Teriaknya kembali

"Hei, kalian gimana sih. Ini udah masuk tau." Peringat Robin yang masih sibuk membaca novelnya. Mau tidak mau, mereka menghentikan pertengkaran mereka yang membuat semua anak di kantin berkata dengan satu inti.

"Mereka cocok ya!"

Lho..? Kok?

-Love_is_Amazing-

Pada pelajaran. Zoro menampakan wajah yang nggak enak dilihat. Manyun, lah, ngambek, lah.. Cemberut, lah.. Tentu saja, dia tidak tahu apa yang dijelaskan guru. Yah, kalau begitu ia melanjutkan tradisinya yang biasa ia lakukan di alamnya..

Tiba- tiba sebuah spidol mampir di kepalanya yang memiliki rambut hijau itu..

"Anak baru! Kamu ini malah tidur! Kamu seharusnya menyimak!" Tegas (sepertinya bukan tegas lagi..) guru yang berkepala aneh bagai serigala.

Zoro bangun dengan wajah innocent. Wajah tidak bersalah yang dipastikan akan membuat guru- guru di jagad raya ini pasti langsung terbakar kemarahan karena murid kurang ajar ini.. (memang kurang diajarin sih..) "Apa sih.." Gumamnya tidak jelas tanpa membaca kemarahan sang guru— Foxy-sensei.

"APANYA YANG 'APA SIH'? KAMU BENAR- BENAR TAK PUNYA SOPAN SANTUN YA?" Ucap Foxy-sensei dengan penuh amarah.

"Punya lah, Atama no bunkatsu-sensei (guru kepala belah).." Jawab Zoro dengan wajah santai dan tenang.

"Kau keterlaluan.." Derita Foxy-sensei dan membungkukan badannya di lantai dengan frustasi dan juga depresi. Kemudian ia bangun lagi dan kembali marah- marah, "kau anak mana sih? Tidak kenal sopan santun, hah?"

"Anak yang tinggal di— Ng, rumah Allen!" Ceplos Zoro nggak tahu perasaan orang. Allen terkejut. Kurang ajar... Batin Allen dan mengutuk Zoro.

"Ohhh.. Rouxe-san.." Pandangan Foxy-sensei beralih kepada Allen, "jadi kau bersaudara dengan manusia kepala hijau itu?"

"Gue bukan manu—" Zoro tersentak atas keceplosannya dan menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Memang tak didengar Foxy- sensei yang menghadap Allen yang ada di bagian kiri kelas. Tapi mengundang kebingungan anak- anak yang lain.

"Ah? Saudara? Amit- amit gue punya sodara macam dia! Amit- amit tujuh turu—" Kini gantian Allen mengidap penyakit 'keceplosan' milik Zoro. Mereka dalam masalah besar.

"Kalau bukan saudara, lalu dia siapa kamu, Rouxe-san?" Teriak Foxy kesal, menggumpalkan amarah di atas kepalanya menjadi sebuah geledek kecil di kepalanya.

"Maaf- sensei.. Allen sedang sakit. Jangan dimarahi begitu. Dia pusing- pusing, demam, cacar air, panu, kudis, hepatitis, gagal ginjal—" Celetuk Nami memotong amarah Foxy-sensei. Allen malah menggerutu, alasannya sangat tidak masuk akal.

"Ohh.. Gitu ya Nami-chan.. Gak pa- pa deh kalau begitu.." Nada suara Foxy-sensei berubah. Rahasia umum kalau guru kepala belah ini suka sama Nami. Menjijikan. Foxy-sensei keluar seiring bunyi bell berdendang tanda 1 jam pelajaran berakhir, dengan mengedipkan mata kepada Nami. Nami senyum- senyum saja, dalam hati dia mau muntah darah.

Allen menghembuskan nafas pelan. "Syukur.." Desahnya dan menaruh pensil mekaniknya di meja. Ia melirik Zoro yang...

...

Tidur lagi.

"Dia bukan sodara lo kan?" Tanya Robin di tengah lamunan Allen. Allen terkejut dengan pertanyaan Robin yang sangat masuk akal.

Allen harus jujur. Percuma saja kalau ia berbohong pada gadis yang pintar ini. "Bener. Dia bukan sodara gue." Ucap Allen pendek melihat Robin yang asik dengan novelnya menunggu pelajaran guru selanjutnya. "Kalau bukan karena gue keceplosan, lo juga pasti udah tahu, Robin.."

Robin tertawa kecil. "Iya.."

Nami yang sedang membully sang ketua kelas yang sama dableknya dengan Zoro kembali ke mereka berdua dengan membawa ketua kelas. Monkey D. Luffy. "Jadi dia sebenarnya siapa?" Tanya Nami dengan menunjuk Zoro dengan dagu. Ternyata Nami mendengarnya sejak tadi.

"Penyelamatku.." Ucapnya pendek dan mendesah. Semua terkejut selain Luffy yang cengo dengan wajah yang bisa membuat ayam- ayam mati sekejap.

"Maksudnya?"

"Dia.." Allen mendesah dengan suara sendu, "dia nyelamatin gue dari kecelakaan.. Kecelakaan yang bikin gue gak masuk 4 hari. Sebenarnya gue ditabrak.." Ucapnya jujur. Tipe yang sangat menyayangi sahabat hingga tak ingin membebani kesedihannya pada sahabat.

Nami dan Robin diam. Kesal pada Allen. Allen juga terdiam. Sudah pasrah.

"Lo dari dulu gak mau jujur, Allen.." Ultimatum Nami diikuti anggukan kepala Robin yang akhirnya menutup novelnya dan menatap Allen. "Lo saking baiknya, lo malah membuat agar kita berpikir kalau lo gak punya masalah dan lo baik- baik aja." Sambungnya tegas.

"Itu salah, Len.." Lanjut Nami lagi, "itu yang malah membuat kita marah sama lo! Lo anaknya terlalu baik, tapi malah membuat semuanya merasa nggak dipercaya! Bahkan hal kecil soal kecelakaan yang bisa aja merenggut nyawa lo, lo sembunyii dari kita semua!" Ucap Nami kesal.

Allen terdiam dan menunduk dengan diam.

"Lo nggak bisa jujur aja?" Tanya Nami setengah nadanya kesal dan marah, "kita ini sahabat! SAHABAT! Satu hati bergandengan erat! Apa lo nggak percaya sama kita? Atau—"

"Bukan." Potong Allen pendek dan menggadap mereka berdua lagi. "Gue bukan nggak percaya sama lo semua. Tapi gue gak bisa melibatkan kesedihan gue sama sahabat gue yang pasti juga punya masalah.." Ucap Allen pendek.

"Tapi kita berbagi kan? Kita kan sahabat, gue rasa masalah bisa kita share sama- sama, pasti akan jadi lebih ringan.. Kan?" Tanya Robin dan tersenyum.

Allen terkejut. "Itu bener.." Gumam Allen dan menatap Nami, "maaf.. Gue selama ini.." Mohonnya tanpa bisa melanjutkan perkataannya. Nami menyentuh bahu Allen pelan.

"Gak pa- pa. Asal lo janji bakal cerita sama kita." Senyum Nami dan diikuti anggukan Robin.

Allen tersenyum, "makasih ya.."

Mereka kemudian tersenyum bersama. Zoro sebenarnya tidak tidur, ia pakai sihir agar menguping pembicaraan Allen dan teman- temannya. Zoro tersenyum tanpa sadar.

"Hampir selesai.."

Batin Zoro malah bukan membuatnya senang sepertinya pada awal- awal. Malah muncul sesuatu yang aneh. Ia tak mengerti. Tapi ia tetap melanjutkan pekerjaannya menguping Allen.

"Ngomongin apa sih?" Tanya Luffy yang baru serius, diikuti anggota kelompok mereka yang lain, Usopp dan Sanji.

"YEE! TELAT!" Sontak Nami menjitak Luffy yang tidak menyimak, padahal Luffy ada di sebelah Nami dari tadi.

Allen tersenyum. Zoro tersenyum dengan sejuta pikirannya yang sulit ditebak kali ini.

-Love Is Amazing-

Ehem! Pojok SBS! –Heh?- SBS= Saya begitu sempurna! *Dihajar pake Gomu- Gomu No Jet Gatling*. Gak bercanda, ding! Pojok Review!

chichann : "Waags.. Ada fic OC lagi.. Ini AU ya? Saran, di summary bikin warningnya yah, soalnya biasanya readers ngeliatnya dari situ.. Tapi idenya keren.. Zoro jadi malaikat kah? Ngga kepikiran hwhw -"- Hehe aku cuma ngasi beberapa saran yg biasa aja, soalnya aku sendiri bukan author kok /gebukrame2/ Ayo lanjutin aku penasaran ^^"

Sang Author, Michi : "Iyo, iyo! Halo Chichann-sama! Maaf banget, deh! Saya benar- benar khilaf! (?) Saya udah edit semuanya, dan semuanya sudah di summary! Maafkan daku! *ala Bon-chan, ekh.. mr.2*. Jah, lo bukan author? Grrrr... !$^(*&^%$#!~!%! Terima serangan daku, Okama kempo! Kenangan langit musim dingin! (?) Hahahaha.. Okama stress inside! Oke deh, saya ngelanjutin untuk chichann-sama dan yang lainnya juga! Tunggu saja ya!"

Demon D. Dino : "Weitsss...! disini Ace sama zorro jadi malaikat gitu...?"

Michi : "Yoi, Yoi! Lebih tepatnya mereka adalah malaikat aneh yang kerjaannya adalah tidur! Yang satu emang beneran tukang tidur (Zoro), yang satu tidur disaat yang tidak tepat! (Ace)."

Makasih loh, Reviewnya! Please 4 the review, minna!