The Heirs

Chapters 3

Pair . NaruHina

Genre . Action . Romance

Rate . T

Disclaimer . Mashashi Kishimoto

Summary :

Kerajaan, Kekuasaan, Tahta,dapat membutakan siapa saja yang bergelar Pewaris.

Lalu bagaimana nasib kerajaan Api tanpa sang Pewaris./ Uzumaki Naruto mendapat tugas untuk melindungi tuan putri dari negara Air yang bersekolah di negara Api yaitu Hyuuga Hinata, tunangan pangeran Menma/Happy Reading!/DON'T LIKE DON'T READ!/

By Author Mitsuki HimeChan

Baturaja, 20 Oktober 2015

Sumatra Selatan

Naruto Hiroki ah maksudnya Naruto Umino ya karena mulai saat ini ia telah berganti marga karena telah diangkat menjadi anak oleh Iruka Umino.

Bagi seorang Naruto bangun pukul delapan pagi adalah kebiasaannya tapi itu tidak akan berlaku disini diapartemen Iruka karena bagi pemuda berumur dua puluh tahun itu waktu adalah uang dan ia sangat menghargai waktu.

Kini Iruka tampak kesal tapi kesalnya kali ini tertahan, mau marah? Tidak bisa bukan tidak bisa tapi yang dihadapinya saat ini adalah putra mahkota negara api yang tengah tidur dengan sangat nyaman dikasur empuknya.

Sakura dan Sasuke sudah bangun sejak pukul enam pagi dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka berbeda dengan Naruto.

"Bangunkan Naruto suruh mandi dan sarapan, aku tunggu sepuluh menit dari sekarang!" kata Iruka dengan tegas lalu keluar dari kamar menuju dapur.

"Huh." Sakura mendengus kesal.

"Woi rubah bangun!" seru Sasuke setengah berteriak sambil memukul Naruto dengan bantal guling yang tergeletak dilantai.

"Mmmmm..." Naruto bergumam tak jelas dan masih terlihat nyaman dengan tidurnya.

"Baka!" seru Sakura dengan kesal lalu melopat ketempat tidur dan menduduki punggung Naruto yang tidur dengan posisi tengkurap.

"Akh Sakura!" Naruto meringis kesakitan dan sudah menjadi kebiasaan juga kalau Sakura suka melompat dan duduk dipunggungnya jika ia tak mau bangun.

"Bangun Naruto! Apa kau mau dimarahi ayah! Eh maksudku paman Iruka! Ayo bangun baka!" Sakura berbicara dengan keras tepat ditelinga Naruto lalu beranjak berdiri dan turun dari ranjang Naruto sedangakan Naruto saat ini tengah mengelus telinganya karena sakit mendengar suara keras milik Sakura tepat ditelingannya.

"Cepat mandi dan kau harus ingat Naruto ini adalah rumah paman Iruka bukan panti disini jangan bermalas-malasan dan disini gak ada bunda Ayame yang akan memanjakan mu!" kata Sasuke dangan panjang lebar lalu keluar dari kamar diikuti Sakura yang berjalan dibelakang

Sasuke.

"Kau benar Sasuke." Kata Naruto dengan pelan.

Lima belas menit kemudian.

Naruto telah memasukki dapur dan duduk disamping Sasuke yang sedang memakan sarapan yang dimasak oleh Iruka.

"Ini sarapan mu Naruto." Iruka menyodorkan sepiring nasi goreng dengan telur dadar dan potongan sosis ayam dan segelas susu.

"Arigatou Jii-san." Kata Naruto dengan polosnya. Iruka tersenyum dan menjawab,

"Doitashimemashite." Lalu duduk dikursinya dan meminum kopi hitam miliknya.

"Naruto, kuharap kau selalu bangun pagi, untuk kali ini oke aku tak akan mempermasalahkannya tapi untuk seterusnya aku tak mau melihat mu bangun kesiangan lagi dan aku mau kalian semua disipilin waktu dan disiplin sikap." Kata Iruka dengan tegas.

"Baik paman aku mengerti." Naruto mengangguk.

"Bagus!" seru Iruka.

"Sasuke hari ini kita main apa?" Naruto bertanya disela makannya.

"Tidak tau." Jawab Sasuke lalu meminum susunya setelah menghabiskan nasi goreng miliknya.

"Kalian tidak bermain mulai hari ini tapi belajar." Kata Iruka setelah menghabiskan kopi hitam miliknya, kini pemuda berusia dua puluh tahun itu menatap ketiga anak angkatnya dengan serius bahkan Naruto berhenti memakan nasi gorengnya.

"Kami sekolah?" Sakura bertanya dengan antusias.

"Bisa dibilang sekolah tapi juga bisa dibilang tidak sekolah." Jawab Iruka.

"Maksudnya?" tanya Sasuke tidak mengeti, walaupun usia Sasuke masih sembilan tahun tapi ia jenius dalam berbagai hal dan mudah peka dan mengerti setiap situasi yang sedang ia hadapi termasuk dengan situasi saat ini.

"Kalian sekolah tapi asrama kalian hanya boleh keluar sebulan sekali dan kalian pulang kerumah ku ini karena aku bertanggung jawab besar atas kalian." Kata Iruka.

"Asrama? Untuk apa?" Kini Naruto yang bertanya.

"Nanti kalian akan tahu." Sahut Iruka.

"Lalu hari ini ngapain?" tanya Sakura dengan bosan.

"Hari ini kalian ku ajak ke cafe ku yang baru saja akan ku buka hari ini lalu aku akan mengajak kalian keliling Konoha." Kata Iruka dengan semangat.

"Wah benarkah asik-asik." Kini Sakura terlihat lebih ceria dan dengan cepat menghabiskan nasi goreng dan susu.

"Naluto epat abiskan kita akan dalan-dalan!" kata Sakura disela mengunyah nasi.

"Iya-iya." Sahut Naruto dan melanjutkan makannya sedangkan Sasuke menggelengkan kepalanya. Sementara itu Iruka terseyum miris dengan apa yang akan dihadapi ketiga anak angkatnya, ia seperti melihat dirinya yang dulu saat seumuran mereka, polos, ceria, dan aktif tapi semua sifat itu harus dimusnahkan saat sang ayah membawanya masuk kedalam sebuah organisasi yang mengubah hidupnya.

'Aku akan selalu ada untuk kalian dan aku akan selalu menjadi rumah untuk kalian dan menjadi tempat kalian pulang, anak-anakku' batin Iruka dengan tulus

Seorang anak kecil berumur sembilan tahun tampak fokus disetiap gerakkan tubuh yang ia lakukan dan ia tak mau membuat gurunya marah jika gerakkannya salah, ya sejak tadi ia mempelajari beberapa gerakkan teknik beladiri.

"Cukup yang mulia! Cukup untuk latihan hari ini." Seru gurunya. Anak yang memiliki warna rambut merah pekat itu pun berhenti dan mulai mengatur nafasnya.

"Cukup untuk hari ini sebaiknya yang mulia istirahat, kalau begitu saya permisi." Katanya lagi lalu membungkukkan badan memberi hormat setelah itu keluar dari dojo.

Tak lama seorang pria paruh baya memasuki ruangan dojo, pria itu duduk disebuah kursi yang ada didekat pojok ruangan dan memperhatikan anak kecil didepannya yang tengah mengatur pernafasan.

"Kau harus terus berlatih yang keras karena kau adalah penerus kerajaan ini Gaara." Ujarnya dengan penuh penekanan.

"Ayahanda bagaimana kalau Menma masih hidup?" Gaara bertanya dan menatap ayahnya dengan serius.

"Aku akan membunuhnya."

"Kalau aku melindunginya?"

Pria itu terlihat marah dan kesal melihat tingkah putranya dan dengan cepat ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Gaara dengan marah.

"Ingatlah Gaara kau harus menjadi raja apapun yang terjadi!"

"Aku tidak akan menjadi raja meski Menma sudah mati, aku tidak akan menjadi RAJA!"

PLAK!

"Tutup mulut mu!" Gaara terdiam merasakan tamparan yang cukup keras dari ayahnya dan menatap sang ayah dengan penuh kebencian.

"Aku akan melakukan apapun agar kau bisa duduk disinggahsana negara Api dan kau harus bisa menyakiti siapapun yang ada disampingmu jika mereka ingin menyingkirkan mu! Ingat itu!" pria itupun pergi meninggalkan Gaara dengan penuh amarah sedangkan Gaara hanya terduduk dilantai dojo dan setetes air matanya turun membasahi pipinya yang merah akibat tamparan sang ayah.

"Aku hanya ingin hidup normal, punya ayah dan ibu yang menyayangiku dan memiliki saudara yang bisa ku ajak bercanda, bermain atau pertengkaran kecil seperti anak lainnya." Gaara berkata dengan pelan.

"Waaah cafe nya keren!" seru Sakura dengan senangnya setelah memasuki cafe yang bernuansa hijau bahkan dindingnya terdapat tumbuhan yang memiliki bunga yang berukuran kecil berwarna-warni yang hidup dan merambat.

"Bagaimana ini baru saja ku buka dan untuk pelayan kurasa nanti mereka akan datang karena cafe ini akan mulai dibuka pukul sepuluh dan ini masih pukul delapan pagi." Kata Iruka.

Naruto melihat anak seusianya sedang berjalan didepan cafe dengan kedua orang tuanya sambil bergandengan tangan, mereka terlihat bahagia. Naruto menempelkan tangan kanannya didada dan mengenggam kuat. Iruka melihat tingkah Naruto dan ia mengerti akan apa yang dirasakan Naruto saat ini.

"Paman nanti kita mau keliling mana saja?" tanya Sasuke.

"Kemana saja." Jawab Iruka.

"Paman terima kasih ya." Sakura berojigi didepan Iruka.

"Iya Sakura sama-sama."

"Sasuke main yuk!" ajak Naruto.

"Ayo!" sahut Sasuke.

"Kalian mau main kemana hm?" tanya Iruka.

"Main disekitar sini." Jawab Naruto.

"Baiklah dibelakang cafe ini ada lorong kecil masuk aja kesana disana ada taman bermain." Kata Iruka.

"Ayo Sasuke Sakura kita main!" seru Naruto dengan semangat dan langsung keluar cafe sambil berlari.

"Jangan berlari Naruto!" seru Iruka.

"Ayo siapa yang terakhir akan mendapat hukuman!" seru Sasuke dan berlarii mengejar Naruto.

"A-apa kau bilang? Hei tunggu!" Sakura langsung mengejar Sasuke dengan cepat.

"Dasar." Iruka menggelengkan kepalanya.

Taklama beberapa tiga remaja cantik dan tiga remaja tampan yang usianya delapan belas sampai dua puluh tahun memasuki cafe dan menemui Iruka.

"Baiklah kalian sudah sampai sekarang aku akan membagi tugas kalian tapi sebelum itu ganti seragam kalian."

"Ha'i Iruka-sama!"seru mereka berbarengan.

Naruto berlari dengan kencang dan akhirnya sampai di taman kecil, sebuah taman bermain yang sepi, hanya sebuah tanah yang luas dihiasi rumput hijau dan sebuah pohon rindang yang terdapat di tengah-tengah tanah itu dan ayunan terbuat dari besi berada di dekat pohon dan dibelakang pohon ada pagar besi yang membatasi tanah itu dengan air laut.

"Waaaaah." Naruto mengitari tanah lapang itu di susul Sasuke yang mengejarnya dan juga Sakura yang baru saja sampai, Naruto, Sasuke dan Sakura bermain bersama, saling mengejar satu sama lain dan canda tawa menghiasi wajah lugu dan polos mereka.

Tanap mereka sadari dari atas pohon ada seorang anak laki-laki yang memiliki warna rambut merah pekat yang memperhatikan mereka bertiga, lalu ia pun melompat turun dari atas pohon dan menghapiri Naruto dkk.

"Hei kalian!" serunya dengan keras.

Naruto menoleh begitu juga Sasuke dan Sakura, mereka saling pandang.

"Siapa kau?" tanya Naruto.

"Aku? ah aku..." ia bingung ia harus menyebutkan nama apa.

"Aku ingin ikut bermain bersama kalian." ujarnya sambil terseyum.

"Oke tapi aku mau tau nama mu." kata Naruto.

"Namaku... emz kalian bisa panggil aku Ara." ujarnya.

"Ara? Ppfft ahahaha itukan nama perempuan kau lucu sekali!" sahut Sakura sambil tertawa.

"Hehehehe..." bocah laki-laki bernama Ara itu tertawa garing.

"Hm pembohong." desis Sasuke dengan sinis karena baginya mungkin Naruto dan Sakura bisa dibohongi tapi tidak dengannya.

"Bwahahahahaa.. baiklah ayo kita main sekarang kita main sama-sama." ajak Naruto dengan menahan tawanya karena geli dengan nama Ara.

Bocah dengan nama Ara itu tereyum lebar.. "Em." ia mengangguk dengan senangnya.

Dengan senangnya mereka berempat bermain bersama layaknya anak seusia mereka namun tanggung jawab yang akan sebentar lagi mereka tanggung cukup berat hingga mereka harus membuang waktu bermain mereka demi tugas yang tak mereka ingin namun printah orang yang lebih tua dari mereka tak bisa ditolak.

Akankah mereka harus terus bermain?

Mereka hanyalah anak-anak polos yang rindu akan belaian kasih sayang dari ayah dan ibu.

Akankah senyum kebehagian akan terus terpatri diwajah mereka dengan tulus atau hanya berpura-pura untuk tersenyum?

Mau tau kisah mereka lebih lanjut?

Baca terus The Heirs

Salam Hangat Mitsuki