Is This Madness?
By: two-one kf
Disclaimer:
Kedua mahakarya ini bukan punyaku. Juga cameo dari karya lain yang mungkin nongol.
Kalau aku yang buat Dxd, aku pasti sudah ngedesain main charanya berdasarkan diriku yang sederhana ini.
Warning:
Harem (pair Narurias dan Narukeno tidak akan ada di Fic ane)
Perverted!Naruto
Troll!Naruto
Typo!
Bahasa gaul!
Ecchi!
Sinopsis:
Penghuni SMA Kuoh itu bermacam-macam, dari iblis seksi sampai gadis kucing yang mo ~ e banget.
Ada juga yang terkenal karena kemesuman dan kejahilannya yang tingkat dewa itu.
Dia adalah...
XxxX
Chapter 3
Rock to the Beat!
We are Allied Shinobi Forces!
...
...
Glek.
Naruto menelan ludahnya saat melihat apa yang ada di depannya.
Di atas kasurnya, Mittelt sudah menunggunya dengan posisi yang mendebarkan.
Pakaian gothic yang dipakainya tidak menutupi tubuhnya dengan sempurna, kerahnya terbuka lebar menampakkan pundak Mittelt yang sangat mulus dan sedikit belahan dadanya. Perut langsingnya juga terpamerkan.
Dalam posisi yang benar benar 18+ itu, AC di kamar Naruto malah mati, akibatnya Mittelt berkeringat karena hawa kamar yang agak panas sehingga pakaian yang dipakainya menjiplak ketat ke tubuh lolinya.
Mata Naruto menikmati pemandangan indah di depannya, rok Mittelt yang sedikit tersingkap memperlihatkan dua paha menakjubkan miliknya.
Dan ditambah dengan tatapan mata sayu dari wajah 'polos' Mittelt yang sekarang dibingkai oleh mahkota pirang yang dia biarkan terurai.
Perlahan tapi pasti, celana Naruto makin terasa sempit.
"..."
"O-onii-chan..." desah Mittelt perlahan secara sensual.
Mata biru laut Naruto bertatapan dengan iris yang berwarna sama dengannya.
"Lakukan sekarang..." pinta Mittelt.
"Fufufufu~"
Sekarang, celana Naruto benar-benar sesak.
X WARNING! LEMON! X
"Ahnn ~ Onii-chan ~ Ah! Ah! Ah!" teriak Mittelt.
"Mi-Mittelt!"
"Ha-hai, Onii-chan! Lebih cepat! Lebih cepat! Ah! Ah! Ah!"
Mittelt terus mendesah dengan nikmat, desahan-desahan erotis itu menggema di kamar Naruto. Sementara itu si pemilik kamar sedang menekan dengan keras dan Mittelt makin mendesah hebat.
"AH! AH! AH!"
Kasur berukuran king size berwarna oranye terus berdecit karena gaya yang diterima sangat hebat, untungnya kasur itu adalah jenis yang paling berkualitas, jika tidak pasti sudah patah daritadi.
Sementara itu, sang Fallen Angel memejamkan matanya dengan rona merah yang terlihat jelas. Selama ini, Mittelt belum pernah melakukan hal ini, walaupun dia adalah Fallen Angel yang notabene seorang malaikat yang jatuh karena salah satu tujuh dosa besar.
Tapi, Mittelt masih seorang gadis.
Dan Naruto Uzumaki, cowok berambut pirang yang menangkapnya dan menjadi masternya adalah pengalaman pertama baginya.
"Mittelt! Aku akan lebih cepat lagi!"
"AH-KYA!"
...
...
...
KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK!
Eh?
X NGGAK DENG! INI BUKAN LEMON! X
SIAPA YANG TARUH LEMON BUSUK DISINI!
Adegan diatas ternyata bukanlah adegan Lemon! Seseorang telah menukar Lemon author dengan Lemon busuk!
Naruto dengan penuh nafsu menekan tombol kameranya secepat mungkin, dalam satu menit Naruto sudah menekan sebanyak 60 kali.
Naruto benar benar bersemangat, di dalam pikirannya Naruto berusaha mengukir pemandangan indah yang terpampang jelas dengan kualitas HD di kamarnya sekarang.
'Yosh! Kalau begini terus, aku akan lebih sering telat bayar tagihan, hehehe ~' Batin Naruto dengan seringai mesum tercetak di wajahnya. Tangan kirinya berusaha menahan mimisan hebat yang membanjiri hidungnya tapi gagal.
Sementara itu, si gadis Fallen Angel itu menaikkan roknya dengan tangan kirinya sehingga celana dalam hitamnya bisa terlihat sedikit ditambah dengan seringai menantang yang tidak cocok dengan tubuh lolinya.
Bahkan menara Eiffel saat malam bulan purnama saja kalah indah.
'Muke gile!'
KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK! KLIK!
"Mittelt-chan! Aktingmu benar benar mengagumkan!"
Naruto masih terus bersemangat memotret Mittelt.
"Mittelt-chan, perlihatkan oppai imutmu!"
"MANA SUDI!"
Di dalam hatinya Mittelt hanya mendesah pasrah terus berpose untuk Naruto.
Ngomong ngomong, bagaimana kejadian ini bisa terjadi?
|Flashback: beberapa saat sebelumnya|
"Etto... Namaku Mittelt, salam kenal"
Mittelt sedang duduk dikelilingi oleh tiga orang yang sekarang jadi pelindungnya, mereka berempat ada di ruang utama mansion.
Dari kiri ke kanan ketiga orang itu adalah, Haku, Naruto dan Kakashi yang sedari tadi masih memegangi sebuah kabel kecil yang terhubung ke pusat listrik mansion raksasa itu.
Asal kalian tahu, Naruto masih belum bayar tagihan.
Mittelt sudah membuat keputusannya, dan setelah beristirahat untuk memulihkan dirinya, Naruto memanggil Mittelt ke ruang utama Mansion.
Sekarang sudah malam dan jam dinding menunjukkan pukul delapan.
"...Jadi, kesukaanku adalah... menyiksa orang... yang kubenci... kalian berdua... Mimpiku... kabur dari sini..." kata Mittelt ketus sambil melipat tangannya didepan dada imutnya.
Karena usulan Naruto, mereka semua harus memperkenalkan diri masing masing biar lebih oke.
"Yey!" kata Naruto sambil bertepuk tangan, sayangnya daritadi dia tidak memperhatikan Mittelt, malahan membaca manga keren (baca: dewasa) yang disembunyikan di bawah meja.
"Oi! Perhatikan aku!"
Naruto melirik sebentar ke arah Mittelt, "Aku bisa lihat pantsu hitammu dari sini."
"KYA!"
"Jangan bertingkah sok polos kayak gitu! Aku tahu kamu punya jiwa mesum yang mendalam!"
"Enggak!"
"Lalu, kenapa saat pertama kali kita bertemu, kamu membiarkanku mengintip rokmu!"
"I-itu..."
"Ha! Ngomong-ngomong, Azazel masih berkeliling mencari kelompok kecil kalian."
Glek
Mittelt menelan ludahnya ngeri mengingat tampang si pimpinan Gregori yang pernah mengidap chuunibyou itu.
"Oh ya, siapa selanjutnya? Sensei mau duluan?"
"Baiklah, seingatku namaku itu Kakashi Hatake. Sebentar..." Kakashi merogoh saku celananya dan mengambil dompet cokelatnya.
Dengan tampang datar dan pandangan kosong, Kakashi mengambil KTPnya dari salah satu saku dompet dan melihatnya.
"Lahir di... ini tertulis di mana sih? Oh ya, RS. Hutan Gembira. Umur? Maaf Mittelt, kamu terlalu muda untukku."
"HAH!"
Kakashi menghiraukan Mittelt dan melanjutkan pengenalannya, "Aku tidak punya keinginan untuk memberitahumu yang apa kusukai dan tidak kusukai... Mimpi... hmm... Hobi... aku punya banyak hobi."
Krik krik krik.
"Tolong hiraukan dia Mittelt-san, enggak usah dibilang pun sudah ketahuan apa hobinya. Ngomong ngomong, namaku Haku, yang kusukai Naruto-sama... yang tidak kusukai orang yang memusuhi Naruto-sama... Mimpiku membantu Naruto-sama meraih impiannya... Hobi membuat patung es."
'Semuanya tentang Naruto...' pikir Mittelt sweatdrop menanggapi pengakuan Haku. 'Sebenarnya, dia ini cowok atau cewek sih?'
'Kamu tahu Mittelt-chan? Sebenarnya aku juga belum tahu sih, di KTPnya saja jenis kelaminnya diberi sensor hitam.'
'GAH! Bagaimana kau bisa masuk pikiranku!'
'Hehehe, tentunya karena kamu memikirkan diriku yang handsome ini Mittelt-chan ~'
Mittelt menatap tajam penuh emosi ke arah Naruto yang membalas tatapannya dengan senyuman riang sambil melambaikan tangan.
"Sekarang giliranku! Yosh! Namaku Naruto Uzumaki. Kesukaanku ada banyak, yaitu Yuri Party, Ramen, Yuri Party, Imouto, Ramen, Imouto, Keluargaku, Imouto, Temanku, dan sekarang Kamu~..."
Perkataan Naruto yang tidak 'disengaja' itu sukses membuat Mittelt blushing.
"Yang tidak kusukai, fangirls yang terlalu ganas, Hiatusnya Yuri Party, tiga menit saat menunggu ramen instan matang, PR yang tidak ada habisnya. Masalah hobi, membaca, berimajinasi, bermain bersama imouto kesayanganku. Mimpiku, untuk saat ini membaca Yuri Party Golden Edition."
Setelah itu entah kenapa susasana jadi hening. Semuanya sibuk dengan urusan masing masing, Kakashi masih berdiri dipojokan dengan ekspresi aneh sambil memegang seutas kabel, dia masih jadi PLTK.
Haku duduk termenung sambil menjilat es krim rasa blueberry, memikirkan tentang Naruto-samanya. Kalau Naruto sendiri masih asyik dengan masterpiece yang dibacanya.
Jadi, Mittelt angkat bicara membahas sesuatu "Kalau begitu boleh aku tahu siapa rajanya disini?"
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Kakashi menaikkan satu alisnya yang masih kelihatan, sementara itu Naruto dan Haku berhenti dari aktivitas mereka masing masing dan ikut mendengarkan.
"Kalian iblis kan? pastinya yang kumaksud itu sistem terkenal kalian."
"Oh itu. Kami bertiga sama sama raja." Kata Naruto santai, dia sudah selesai membaca manganya dan mulai membaca yang baru, kali ini judulnya 'Tuangkan cokelat panas di tubuhku!' dan sama seperti yang satunya, ada stempel unyu unyu 18+nya.
"?"
"Lebih tepatnya kami bertiga sama sama raja karena tidak terikat oleh suatu sistem." Lanjut Haku.
"Kami bertiga cuma tiga orang 'biasa' yang sering bertemu dan akhirnya membuat grup sendiri." Tambah Kakashi.
"Ngomong-ngomong, seperti yang dikatakan Sensei, kami bertiga bukan iblis lo." Naruto memberitahu Mittelt setelah menutup manganya.
"Eh? Tapi yang kemarin... aku tidak merasakan aura manusia dari kalian, jadi aku pikir kalian ini iblis reinkarnasi yang masih baru."
"Huh, iblis reinkarnasi? Itu menghina namanya, kami tidak akan bisa dijadikan budak begitu saja tahu!" teriak Naruto berapi-api.
"Aura kami yang kau rasakan kemarin adalah efek dari penghalang yang Naruto pasang, penghalang itu menekan aura kami seminimal mungkin." Jelas Kakashi.
"Lagipula, siapa yang butuh iblis kalau mau punya 'Peerage'"
"...Apa maksudmu?"
"Yang dimaksud Naruto-sama adalah, kami punya cara lain untuk membuat... 'Peerage' kami sendiri tanpa memerlukan sistem milik para iblis."
"Yup, lebih jelasnya tanya Kakashi-sensei, soalnya yang membuat sistem ini."
Sambil masih menerangi ruangan, Kakashi membuka mulutnya yang ditutupi masker, "Sebelum itu, sebutan untuk punya kita bukan 'Peerage' tapi 'Force'. Sistem yang kubuat ini membuat kontrak yang kusebut 'Link' tanpa harus merubah atau mereinkarnasi seseorang."
"Cara kerjanya simpel, pengguna harus mencampurkan 'identitas' mereka dan membuat Link dari campuran tersebut. Yang paling mudah adalah dengan memakai cairan tubuh karena mengandung 'identitas' yang dibutuhkan dari tubuh makhluk hidup."
"Karena harus mencampur cairan tubuh, cara paling mudah adalah dengan mencampur darah. Walaupun ada cara lain seperti bercium atau melakukan hubungan seksual." Kakashi menjelaskan aturan main yang digunakan sistemnya.
Mittelt blushing saat mendengar dua cara terakhir, "Lalu apa kalian sudah membuat Link?"
"Aku sudah membuat Link dengan Naruto-sama, tentunya dengan cara melalui darah."
"Ya, ini tanda kalau kami sudah 'terhubung'." Naruto membuka kaos oranyenya dan memperlihatkan tato naga raksasa di dadanya.
"Jadi bentuk Link seperti itu ya?"
"Tapi wujud Link juga berbeda untuk setiap orang, Link Naruto-sama berbentuk rubah."
"Dalam Link juga terdapat perintah seperti apa Link yang akan dibuat. Untuk Naruto dan Haku, Link mereka adalah Partner Link dan Haku bertindak sebagai tangan kanan Naruto. Ngomong-ngomong, kalau dilihat dari besar tanda Link-nya, kurasa aku akan merubah sedikit sistemnya." Kata Kakashi.
"Eh memangnya kenapa dengan ini Sensei?"
"Kalau kau membuat banyak Link, otomatis tato baru akan muncul kan? Nanti tubuhmu akan dipenuhi tato semua dong, mau?"
"...Benar juga."
"Oh ya, apa nama sistem ini?" tanya Mittelt pada Kakashi.
"Apa ya? Aku belum memberinya nama... tunggu, aku tahu. Namanya adalah... Emperor of Mercury System."
"Emperor of Mercury? Bagus juga, aku setuju denganmu Sensei, namanya benar benar cocok."
"Kenapa cocok?" tanya Mittelt bingung.
"Arti spiritual dari Merkurius adalah angka empat dan dalam kartu tarot, nomor empat major arcana adalah The Emperor." Haku menjawab pertanyaan Mittelt dengan senyuman kecil mengingat alasan penamaan sistem itu.
"Ditambah lagi anggota kita ada empat orang." Lanjut Naruto.
"Empat orang? Siapa yang keempat?" Mittelt kembali bertanya, dia tahu kalau yang dimaksud Naruto bukan dirinya karena dia baru saja bergabung tadi.
"Anggota keempat kami namanya ******" jawab Naruto.
"Hah!? Aku tidak dengar! Ulangi lagi!" Pinta Mittelt sambil menaruh tangannya di samping telinga.
"Aku bilang ******"
"Siapa itu ******!?"
"Namanya ******! Dia ya ******!"
"Kalau ngomong jangan disensor dong! Sensor tuh pikiranmu!"
"Bukan aku yang memberi sensor! Lagipula pikiranku bersih kok! (bohong)" kata Naruto sewot.
"Sudah sud-" Kata Kakashi hendak melerai mereka berdua.
"DIAM KAU!"
Nyali Kakashi langsung menciut lagi.
"Etto... Naruto-sama bukannya ada hal penting yang harus anda pikirkan?"
"APA!?" bentak Naruto pada Haku karena masih terbawa emosi.
"Eh? Eh?... hiks... Naruto-sama... hiks..."
'GAWAT!'
Naruto hendak meminta bantuan Kakashi, tapi Kakashi malah memalingkan wajahnya dan bersiul innocent.
"Fuu~ fuuu~ fuuu~"
'...Sensei!' Teriak Naruto di batinnya.
'Ogah, salah siapa tadi membentak gurumu.' Balas Kakashi juga di dalam hatinya.
'Oke oke aku minta maaf, sekarang bisa tolong bantu aku!?' Entah kenapa, Naruto bisa mengerti apa yang dipikirkan Kakashi.
'Dia kan tangan kananmu.'
"Hiks... Hiks... aku... aku sudah tidak diperlukan lagi oleh Naruto-sama..."
"Ah! Maaf Haku! Aku tidak bermaksud membentakmu! Lagipula, aku masih membutuhkanmu!"
"Be-benarkah?"
"IYA!"
"A-arigatou... Naruto-sama." Kata Haku sambil mengelap air matanya dan terseyum tulus pada tuannya, entah kenapa ada efek bunga-bunga di belakang Haku.
'Geh! Moe overload!'
'Ada apa dengan drama geje ini?...' pikir Mittelt.
"Me-memangnya, tadi mau bilang apa?"
"...Ah! PLN."
"..."
"..."
"BENAR JUGA! Ini masalah serius! Kita harus segera mengatasinya!"
Naruto segera melupakan Mittelt dan langsung menyulap seting tempat menjadi semacam ruang pengadilan. Dia berdiri di meja paling ujung, dengan pakaian seragam merah dan kacamata bulat.
"Palu!? Mana palu!?"
"Silahkan Naruto-sama."
"Terima kasih."
Tok tok!
Naruto mengetukkan palu yang dia pegang, dengan berdehem sok-sokan dia mulai bicara seperti orang penting.
"Jadi... kawan kawanku, kita memiliki masalah super gawat disini... tidak perlu dijelaskan lagi kuyakin kalian semua tahu apa masalahnya kan?"
Mengangguk.
"Ya... PLN ngambek dan nggak mau membagi listriknya ke kita! Tidak ada listrik, tidak ada internet! Aku tidak akan bisa download eroge lagi! Ah salah! Yang kumaksud pelajaran, ya pelajaran!" Naruto cepat cepat mengganti ucapannya yang paling akhir.
'Dia bilang eroge tadi...' pikir Mittelt deadpanned.
"Cara agar PLN mau membagikan listriknya lagi adalah dengan uang! Dan karena kita sedang krisis finansial, KITA HARUS BEKERJA!" lanjut Naruto berapi api. Dengan tangan terkepal di udara dan cahaya lampu yang pas sekali menyorotnya.
"Yeah!"
Mittelt terdiam saja menyaksikan penyelesaian masalah secara (tidak) profesional didepannya. 'Inikah yang dilakukan para 'Emperor'?'
Tiba tiba saja, pikiran Mittelt kembali pada saat Naruto berseru keras, entah kenapa di kepalanya Naruto terlihat sangat berkarisma.
Blush.
'Tunggu Mittelt! Kenapa malah berpikiran seperti itu!'
Sementara Mittelt sedang menangani perang batin di kepalanya, ketiga pahlawan kita sedang sibuk berpikir.
"Bagaimana kalau kita... menjual manga-manga kita? Tunggu Kakashi! Bagaimana bisa kau mengusulkan ide seburuk itu! Kakashi kau bodoh!" Kakashi menampar-nampar pipinya sendiri karena mengusulkan ide yang sangat buruk (menurutnya).
"Hm... gimana kalau Naruto-sama menulis buku?" usul Haku setelah ingat kalau majikannya punya imajinasi dewa. Saking dewanya, dia bisa mendapatkan pandangan tembus pakaian hanya dari imajinasinya saja!
"Menulis? Bukan ide buruk. Hei Sensei, Sensei kan bisa menggambar, jadi ilustrator saja deh."
"Benar juga. Sayangnya Naruto, pekerjaan seperti itu tidak akan langsung menghasilkan uang kan? Butuh waktu beberapa hari."
"Kakashi ada benarnya, jadi apa yang harus kita kerjakan?"
"HMMMMMM!"
Ketiga orang itu sibuk mencari cara mendapatkan uang secepatnya. Entah karena apa, secara bersamaan pandangan mereka bertiga jatuh pada Mittelt yang masih ber-blushing ria dan ngomong sendiri.
"Sensei... Haku..."
"Ya/Ya, Naruto-sama?"
"Apa kalian berdua berpikiran sama denganku?"
"Naruto-sama, sepertinya kita bertiga berpikiran sama..."
"Ya, kurasa Haku benar..."
"KHUKHUKHUKHU~"
Mendadak, Mittelt merinding dan merasakan sesuatu yang buruk akan menimpanya saat dia mendapati ketiga orang penghuni mansion memandanginya dengan ekspresi aneh.
|Flashback end|
Pagi hari menyingsing, minggu pagi yang tenang harus dirusak dengan suara aneh dari satu mansion di kota Kuoh, padahal masih jam tujuh tapi penghuninya sudah berbuat geje.
"HEHEHEHE~"
Naruto sedang memeriksa hasil jepretannya tadi malam bersama guru mesumnya, Kakashi. Mereka berdua jongkok di pojokan sambil melihat-lihat foto Mittelt.
"Kau memang hebat Naruto! Sebagai gurumu, aku benar-benar bangga!" kata Kakashi memberikan applause-nya.
"Aku juga, Kakashi-sensei! Aku sangat senang menjadi muridmu!"
"HEHEHE~"
"Hah ~ Dasar, mereka berdua ini..." Haku cuma bisa pasrah melihat tingkah tuannya dan gurunya yang sama sama mesum.
Benar benar kombo yang mengerikan.
'Padahal, dulu tidak seperti ini...'
"Oh, Mittelt-san, mau kemana?" tanya Haku saat melihat Mittelt hendak keluar mansion.
"Aku mau berbelanja, kalian menculikku tanpa membawakan pakaian gantiku kan."
"Ah benar juga, sebenarnya adegan penculikanmu itu diluar rencana awal. Ngomong-ngomong, aku ikut, persediaan bahan makanan kami sudah mulai menipis."
Jadi, mereka berdua meninggalkan pasangan guru dan murid mesum yang masih ketawa geje di rumah sendirian/berduaan.
| Perjalanan pulang bersama Haku dan Mittelt |
Setelah mendapatkan apa yang dicari yang kira-kira membutuhkan waktu tiga jam, pasalnya Mittelt itu perempuan, jadi butuh waktu lama untuk mencari pakaian. Mereka berdua segera pulang. Di perjalanan, Mittelt sesekali mencuri pandang ke arah Haku yang sedang ngemut es krim rasa blueberry.
"Ada apa Mittelt-san?"
"Tidak, tidak ada apa-apa. Cuma penasaran saja."
"Penasaran? Tentang apa?"
"Bagaimana kamu bisa tahan dengan mereka? Soalnya, kulihat cuma kamu yang normal. Ugh! Mereka berdua benar-benar menguji kesabaranku." Kata Mittelt kesal.
"..." Haku terdiam sebentar sambil menikmati es krim favoritnya.
"Mungkin, memang benar mereka berdua itu mesum, tapi... setiap orang itu mesum kan? Yang jadi masalah adalah seberapa besar kadar kemesuman mereka. Ngomong-ngomong, bukannya Mittelt-san juga mesum?" tanya Haku balik sambil tersenyum jahil.
"Eh? Nggak kok!"
"Jangan bohong, desahanmu tadi malam yang sangat dijiwai itu sukses membuat Kakashi pingsan lo. Aku yang ada di kamar saja masih bisa mendengarnya."
"Hawawa!"
"Coba saja kalau mansion itu tidak diberi segel penahan suara, seluruh komplek mungkin bisa mendengar desahanmu itu." Kata Haku sambil tertawa ringan.
Wajah Mittelt makin memerah membayangkan semua orang mendengar apa yang dilakukannya bersama Naruto tadi malam.
"Yah sudahlah, ayo pulang."
Mittelt hanya mengangguk menyembunyikan pipinya yang masih blushing dan meneruskan perjalanan pulang bersama Haku.
| Mansion Uzumaki |
Sesampainya mereka di mansion, mereka mendapati mansion kosong dengan secarik kertas di ruang utama yang tertulis.
"Kami pergi menjual foto kemarin malam
By. Naruto & Kakashi"
...
"Mereka benar-benar akan menjual fotoku..."
|Dengan Naruto dan Kakashi |
Mobil mahal Kakashi melesat lincah di jalanan Kuoh yang mulai padat. Si pengemudi memakai pakaian trademarknya, setelan jas berwarna hitam. Jam di tangannya menunjukkan pukul 10 pagi.
Disamping kursi pengemudi, murid Kakashi duduk sambil memainkan smartphonenya. Sama seperti gurunya, dia memakai jaket oranye yang menjadi ciri khasnya.
"Apa kita sudah sampai Sensei?"
"Belum."
"Apa kita sudah sampai Sensei?"
"...Belum."
"Apa kita sudah sampai Sensei?"
"...Belum."
"Apa-
"BELUM! Sekarang bisa nggak kau diam Naruto! Aku sedang konsentrasi nih!"
"Maaf Sensei." Naruto meminta maaf pada Kakashi dengan senyuman jahil terpampang jelas di wajahnya.
Kakashi menghiraukannya dan melanjutkan menyetir saat lampu lalu lintas kembali hijau.
"Hei Sensei."
"Apa!"
"Jangan temperamental begitu dong, aku kan belum bicara. Aku cuma mau tanya."
"Apa itu?"
"Apa kita sudah sampai Sensei?"
"Mau kusetrum wahai muridku?"
"Cuma bercanda. Kali ini aku serius, apa yang akan kita lakukan pada para burung pengganggu itu?"
"...Tidak ada."
"Sama sekali?"
"Yah, selama mereka tidak menyerang kita, aku tidak berniat membuat serangan yang akan membuat fraksi lain tahu keberadaaan kita."
"Baiklah aku akan turuti nasihat Sensei, lagipula memang tujuan kita saat ini adalah bersikap 'normal' dan berusaha berada di bawah radar keluarga Gremory dan Sitri."
"Kalau begitu kenapa kau malah akrab dengan si putri Sitri?"
Naruto melirik guru berambut putihnya sambil menaikkan satu alis, "Tentu saja karena aku punya alasan. Itu untuk menghilangkan perhatian Gremory yang cukup keras kepala dariku, dan di hari pertama sekolah aku sengaja tersesat dan bertanya arah pada Sona-chan."
"Apa hubungannya dengan Gremory?"
"Secara logika, karena orang pertama yang kuajak bicara adalah dia dan entah kenapa kami bisa sekelas selama tiga tahun, kami berdua malah jadi akrab. Gremory tidak mungkin menawariku posisi karena aku sudah dekat dengan Sona-chan."
"Hm, itu ada benarnya. Tapi, ada kelemahannya, jika kau akrab dengan gadis itu, seharusnya dia sudah 'mengajakmu' kan? Kenapa sampai sekarang tidak?"
"Heh, apa yang diinginkan oleh seorang iblis dari manusia super biasa sepertiku sekarang ini? Dan kalaupun itu terjadi akan kupakai itu untuk menghancurkan niatnya."
"Itu baru namanya muridku, bisa merencanakan sebuah rencana hebat."
Keadaan mobil kembali sunyi, tidak ada yang tahu harus membahas apa jadi mereka berdua sibuk dengan aktivitas masing masing.
Naruto berkutat dengan smartphone-nya membuka situs internet yang sering jadi tempat refreshing-nya. Untuk menjaga 'Kesucian' fic, author tidak akan memberitahu situs apa yang diakses.
Tiba-tiba saja Naruto teringat niat awal mereka.
Diambilnya kertas amplop coklat berisikan foto-foto hasil jepretannya, dari tebal kertasnya bisa diketahui kalau foto yang disimpan disitu ada banyak.
Naruto mengambil kumpulan foto tersebut dari dalam amplop dengan hati-hati untuk mengantisipasi kerusakan pada mahakarya-nya.
"Hoi, Sensei. Mau kita jual dimana ini foto?" tanya Naruto setelah mengelap mulutnya, terpana melihat pose 'panas' di dalam foto.
"Benda kayak gitu nggak bisa dijual disembarang tempat kan?"
"Iya sih, kalau dijual besok di Tokyo gimana? Mumpung ada even semacam itu, foto ini bisa disamarkan jadi foto cosplay. Dan kita bisa mengambil foto-foto yang 'ehem' untuk kita sendiri dan jual foto yang lebih 'dingin'."
"Hehehe idemu bagus juga, kalau begitu akan kujual juga ke mantan muridku di kota sebelah, kebetulan dia juga seorang remaja yang mempelajari Erodo."
"Erodo? Hebat juga dia, ceritakan padaku seperti apa dia Sensei!" Pinta Naruto bersemangat untuk mengetahui sesama penganut Erodo.
"Baiklah. Dia bersekolah di Fumizuki Gakuen, aku pernah mengajarinya teknik ninja walaupun cuma sebentar, tapi dia menyerapnya seperti sebuah spons menyerap air. Dia bahkan mengkombinasikan teknik menyelinap itu untuk mengambil berbagai foto, salah satunya yang kuperlihatkan padamu minggu lalu, ingat?"
Mendengar cerita senseinya, Naruto kaget dan terbata-bata, "Tu-tunggu, jadi... jadi yang memotret pemandangan indah itu dia! Aku benar benar ingin bertemu dengannya!" kata Naruto bersemangat sambil membayangkan sebuah foto yang isinya seorang pria/wanita (gender tidak jelas) sedang memakai pakaian maid dan tersenyum kearah kamera.
"Dan dia juga rekan bisnis yang bagus. Dia pasti mengirimkan kopian hasil jepretannya padaku." Kata Kakashi tersenyum senang, lalu mobilnya memasuki jalanan yang ramai karena disitulah lokasi wisata Kuoh berada.
"Oh ya Naruto, kapan dia sampai ke sini?"
"Hm? Katanya kalau tidak ada halangan paling lambat sekitar lima hari. Apa sih yang membuatnya lama? Aku tahu kecepatan bukan permainannya tapi ini juga terlalu lama untuknya. Lagipula, aku tidak tahu apa yang akan terjadi apabila permainan sudah mulai duluan sebelum kita berkumpul jadi satu tim utuh."
"Tumben sekali kau khawatir Naruto, biasanya kau selalu ingin mendapat start lebih awal."
"Sensei, aku sudah besar tahu. Untuk game yang akan dimulai nanti, aku ingin kita bermain sebagai satu tim." Ujar Naruto.
"Ya benar juga sih, kelompok kita belum sempurna kalau masih tiga orang saja." Kata Kakashi menanggapi alasan muridnya.
Beberapa menit kemudian, mobil Kakashi berhenti di sebuah gedung restauran keluarga yang menjajakan makanan khas dari Jepang yaitu Sushi. Kakashi memakirkan mobilnya di pinggir jalan dan membuka pintunya. Setelan jas hitamnya yang agak kusut dia benahi.
"Inikan restauran keluarga yang terkenal itu. Apa yang akan kita lakukan disini Sensei?"
"Makan lah, memangnya mau ngapain lagi di restauran? Gara-gara bahan makanan kita tinggal sedikit dan Haku yang jago masak pergi entah kemana, kita nggak sarapan tadi pagi."
"Memangnya Sensei masih punya uang?"
"Tenang saja, aku kenal dengan pemilik restauran. Kita bisa makan sepuasnya... kuharap."
"YEA! Serius kan Sensei?!"
"Hm, ayo cepat, setelah itu kita masih harus cari uang."
"Oke~" Naruto melangkah dengan gembira menuju pintu restauran, perutnya sudah tidak sabar menerima makanan mewah dari restauran yang setara dengan bintang lima itu.
"Eits! Mau kemana kau Naruto?" tanya Kakashi menahan muridnya memasuki tempat makan berkelas tinggi itu.
"Eh? Bukannya kita mau makan? Katanya Sensei kenal dengan pemilik restauran?"
"Iya, tapi kita nggak masuk dari situ."
"Lalu?..."
"Lewat sini, ikuti aku."
Naruto mengikuti Kakashi memutari bangunan, mereka berdua berhenti di salah satu sisi restauran yang terdapat sebuah pintu kayu. Kakashi menengok ke kanan dan ke kiri melihat keadaan dan mengangkat tangan kanannya.
Tok tok!
Sementara Kakashi dengan entengnya mengetuk pintu, si murid menatap papan bertuliskan "Pintu Belakang" yang menempel tak berdosa di dinding. Matanya menyipit membaca tanda itu, 'Perasaanku mulai nggak enak nih...'
Kriet.
Pintu itu terbuka menampilkan sosok seorang yang cukup tua memakai seragam koki, dia adalah 'Head Chief' disitu sekaligus pemilik restauran. Matanya menatap tajam ke arah Naruto yang balas menatap.
Benih benih cinta tumbuh di antara mereka berdua...
Nggak.
"Ehem, Tsuyoshi, ini aku Kakashi."
Tsuyoshi tersentak dari lomba menatapnya bersama Naruto dan baru menyadari kalau Kakashi ada di depannya.
"Eh Kakashi? Kapan kau kesini?" tanyanya kebingungan.
"..." Kakashi tidak menjawab, sementara itu Naruto tertawa terguling guling di pojokan gara gara gurunya dikacangin, "Bwahahahahaha!"
'Kalo bukan temen gue, gue tonjok lu!'
"Ahahaha." Kakashi tertawa pahit menghadapi kenyataan bahwa hawa kehadirannya sangat sangat sering tidak disadari, tapi itu juga yang membuatnya sangat ditakuti.
"Jadi, apa yang bisa kubantu. Kedatanganmu kesini pasti ada maksudnya kan?"
"Jadi, begini..."
|Di dalam restauran|
Setelah Kakashi menjelaskan panjang lebar tentang keadaan finansial mereka yang memburuk, akhirnya Tsuyoshi mempersilakan teman lamanya itu masuk.
"Hap! Nyam nyam! Ham!" Kakashi dengan santainya menyantap hidangan yang diberikan secara gratis padanya.
"Sensei..."
"Hm? Apa?"
"...Ini makanan sisa kan?" tanya Naruto menatap piring didepannya.
"Iya, memang kenapa?" jawab Kakashi santai.
'Sudah kuduga perasaanku tadi nggak enak.'
"Sudahlah makan saja, lumayan kan bisa merasakan makanan sisa bintang lima."
"Hah... oke akan kumakan..."
X Beberapa saat kemudian X
"Uahh kenyangnya~"
Kedua pasangan guru dan murid itu tersenyum puas karena berhasil makan gratis walaupun cuma makanan sisa.
"Bagaimana makanannya Kakashi?" tanya Tsuyoshi sembari memasak di dapur.
"Enak seperti biasa." Jawab Kakashi sambil mengambil sisa makanan di mulutnya dengan tusuk gigi.
"Ahahaha terima kasih, datanglah berkunjung kapanpun kau mau."
"Hei Tsuyoshi-san, kenapa nggak menambahkan embel-embel restauran bintang lima di restauranmu ini? Makanannya benar benar enak, malahan jadi bintang enam juga nggak masalah."
"Ahahaha bisa saja kau nak. Nanti kalau restaurannya dapat bintang enam, polisinya bakal ngejar pakai tank dong, kan bahaya tuh ahahaha."
Ba dum tss.
'Dia main G*A juga ternyata' batin Naruto sweatdrop.
"Ngomong-ngomong Tsuyoshi, bagaimana aku bisa berterima kasih?"
"Tidak usah, itu kan gunanya teman." Tsuyoshi berkata jujur, asalkan itu temannya, bukan masalah buat Tsuyoshi.
"Makanya, aku mau membalasnya. Katakan saja, kalau kau perlu bantuan."
"Bantuan ya? Baiklah, sebenarnya aku ada sedikit masalah sih." Setelah memikirkan sebentar, akhirnya Tsuyoshi menuruti permintaan Kakashi. Tsuyoshi melepaskan topi chefnya lalu mengelap tangannya kemudian duduk di kursi.
"Masalah?" tanya Naruto tertarik.
"Kalian bisa main musik?"
"Kami sering nge-band kalau lagi senggang." Jawab Kakashi.
"Bagus, jadi begini. Sebenarnya, di restauranku ada sebuah band yang biasa tampil menghibur pelanggan. Mereka tidak bisa hadir hari ini karena mengikuti kontes diluar kota, aku jadi kasihan pada para pelanggan. Jadi, apa kalian berani mencoba? Aku juga akan membayar kalian."
'Ini restauran jepang kok ada band segala sih?' pikir Naruto lagi-lagi sweatdrop.
"Oi Tsuyoshi, niatku kan berterima kasih. Kenapa malah diberi uang?"
"Ahahaha, dari tampangmu yang melas itu bisa kutebak kau lagi bokek, makanya tadi kau minta makanan sisa kan."
'Wow, tepat sasaran.' Batin Naruto sambil menyikut senseinya, yang disikut memberinya deathglare.
"Tenang saja, uangnya akan kupotong sesuai harga makanan yang kau makan. Walaupun cuma makanan sisa sih."
"Tolong jangan ingatkan aku tentang hal itu Tsuyoshi-san." Kata Naruto deadpanned.
Akhir-akhir ini Naruto jadi lebih ekspresif.
"Oh ya, Tsuyoshi. Kau punya drum kan?"
"Tenang saja, ada satu set di belakang."
"Bagus! Kapan kami harus tampil?"
"Karena menghidangkan musik di siang hari kurang efektif, restauranku selalu mengadakan band di malam hari saat orang-orang datang untuk refreshing. Jadi, datanglah nanti sore jam lima-an."
Mendengar hal tersebut, pasangan guru dan murid itu saling bertatapan dan tersenyum menerima tantangan.
"Ayo Sensei!"
"Oke! aku pergi dulu Tsuyoshi!" teriak Kakashi dari balik pintu.
"Kutunggu penampilanmu! Nah, sekarang masih ada pelanggan, semuanya! Kembali bekerja!"
|Mansion Uzumaki|
Brak!
Kakashi dan Naruto mendobrak pintu kayu mahal mansion milik Naruto dan mendapati dua orang penghuni mansion sedang leyeh-leyeh.
"Haku! Kita dapat job!"
"Eh anda serius Naruto-sama?" tanya Haku terkejut, jarang-jarang mereka dapat job. Kalaupun ada, paling-paling disuruh menangkap kucing lepas atau mencabut rumput liar.
"Tentu saja! Kita akan nge-band di restauran temannya Kakashi-sensei. Segera persiapkan dirimu!"
"Siap, laksanakan!"
Mittelt menonton sambil menyeruput teh, melihat ketiga pelindungnya kalang kabut sendiri. Haku segera menuju kamarnya, Naruto berlarian mondar-mandir dari lantai satu ke basemen dan Kakashi malah sibuk membaca Icha-icha.
Karena bosan, Mittelt mengikuti Naruto memasuki kamar tempat dia berpose 'tidak dingin' tadi malam.
Naruto segera menghampiri sebuah benda yang diselimuti kain putih, "Ayo, kita akan bermain lagi." Kata Naruto sambil menarik kain putih yang menutupi benda itu.
Kain itu tersibak dan memperlihatkan apa yang ditutupinya, sebuah gitar putih dengan garis melengkung yang membentuk bentuk asap di sekujur badan gitar.
"Aku mengandalkanmu, Kage Bunshin."
"Ne, Onii-chan bisa main gitar?" tanya Mittelt penasaran, masih memakai sebutan 'Onii-chan'.
"Ng? Tentu saja bisa, kalau nggak buat apa aku menyimpan gitar disini? Tapi, akhir-akhir ini sudah lama nggak main sih." Kata Naruto sambil menghapus debu yang menumpuk tipis di gitar kesayangannya.
"Oi Naruto! Kau sudah siap!?"
"YA! Ayo Mittelt-chan, mau ikut?"
"Um."
|Skip! Jam 5 di Restauran|
Naruto, Haku dan Kakashi sudah berada di restauran Tsuyoshi untuk bersiap-siap.
"Oh kalian datang juga." Kata Tsuyoshi yang masuk dari belakang.
"Tentu saja kami datang, Tsuyoshi! Kami tidak pernah lari dari tantangan!"
"Bukannya ini karena nggak ada uang?"
"Sst! Nanti didengar orang lain!" bisik Kakashi panik sambil menutup mulut Haku.
Para koki yang ada di ruangan itu sweatdrop melihat kelakuan tidak elit Kakashi.
"Oh ya, perkenalkan mereka berdua adalah Haku dan Mittelt."
"Salam kenal."
"Senang bertemu dengan anda, Tsuyoshi-san. Saya yang akan menjadi drummer-nya." Kata Haku sopan.
Tsuyoshi tersenyum menimpali perkenalan mereka berdua. "Oke, sekarang kita punya waktu sampai jam tujuh. Kalian akan bermain sekitar dua jam, jadi, kira-kira sampai jam sembilan. Dan sekarang kita perlu mempersiapkan panggung terlebih dahulu."
"Eh? Jadi belum disiapin sama sekali dari tadi?" tanya Naruto.
"Yah karena yang biasanya manggung membawa semua peralatannya, apa boleh buat, harus disetting dari awal." Kata Tsuyoshi.
"Yosh! SEMUANYA AYO SEMANGAT!"
"OOOOOOH!"
|Skip! Live!|
Naruto, Haku dan Kakashi berdiri di atas panggung dengan alat musiknya masing-masing. Mata Naruto mengamati para pengunjung yang datang, berbeda dari yang tadi siang, pengunjung yang datang kebanyakan membawa teman atau anggota keluarga mereka.
Sebenarnya ini tidak seperti yang Naruto kira, awalnya dia pikir, begitu naik ke panggung mereka akan langsung jadi pusat perhatian tapi yang terjadi malah hanya segelintir orang saja yang memperhatikan dan kebanyakan adalah anak kecil yang penasaran.
Bagaimanapun juga panggung di tempat seperti restauran berbeda dengan panggung untuk konser, disini orang datang untuk makan bukan untuk menonton.
Dari balik pintu dapur, Tsuyoshi memberi mereka jempol.
"Good Luck!"
Remaja berambut kuning itu menengok ke kedua rekannya dan bertanya, "Kalian siap?"
"Heh, kayaknya seru." Jawab Kakashi sambil menyeringai dibalik maskernya.
"Tentu saja Naruto-sama." Balas Haku tenang.
Mendengar kedua jawaban yang memuaskan, Naruto mengatur posisi microphone agar pas dengan mulutnya. Dengan senyuman di wajahnya...
'Ok saatnya permainan dimulai!'
Naruto memberi sinyal pada Haku, manusia yang tidak jelas gendernya itu mengangguk dan mengetukkan stik drumnya sebagai penanda intro, "Tak-tak-tak!".
Kakashi segera memainkan bass-nya bersamaan dengan Naruto yang memetik gitar-nya dan mulai bernyanyi.
~Aqua Timez – Alones~
"Oreta awai tsubasa
Kimi wa sukoshi Aosugiru sora ni tsukareta dake sa
Mou dareka no tame jyanakute
Jibun no tame ni waratte ii yo~"
Naruto menyanyikan satu bait lagu dengan penuh semangat yang berhasil menarik perhatian beberapa pengunjung. Haku dan Kakashi tidak mau kalah, instrumen mereka berdua menyatu dan Naruto pun bersiap menyanyikan bait berikutnya.
"Izen to shite shinobiyoru kodoku
Uchigawa ni tomoru rousoku
Nigiwau ba ni gouka na shanderia to wa urahara ni"
"Tarinai kotoba no
Kubomi o nani de umetara ii n' darou
Mou wakaranai yo"
"Semete yume no naka de
Jiyuu ni oyogetara anna sora mo iranai no ni
Kinou made no koto o
Nuritsubusa nakute mo asu ni mukaeru no ni"
"Oreta awai tsubasa
Kimi wa sukoshi Aosugiru sora ni tsukareta dake sa
Mou dareka no tame ja nakute
Jibun no tame ni waratte ii yo"
Sang vokalis melirik beberapa pengunjung yang menghentikan sejenak aktivitas makan mereka dan sedikit terkejut karena melihat beberapa teman sekelasnya ada disana, yang kebanyakan perempuan.
Mereka semua juga kaget melihat teman mereka, Naruto, ada di panggung.
Sambil tersenyum iseng, Naruto mengedipkan mata kanannya pada mereka dan kembali bernyanyi.
"Rettoukan to no wakai wa
Kantan ni wa kanawanaisa
Jiishiki no teppen ni suwaru
Kagami ga utsusu hanabira"
"Furishiboru you ni
Kogoreta ai wo sakende miru keredo
Modokashikute"
"Meguru toki no naka de
Kizuguchi wa yagate
Kasabuta ni kawatte iku"
"Kimi wa sore o matazu
Totemo utsukushiku
Totemo hakanage de"
"Hagare ochita ato no
Ubuge no you ni
Hi damari no naka de furueru inori
Ima wa muri ni dareka no koto wo
Ai sou to omowanakute ii no ni"
Naruto memainkan gitarnya dengan fingerstyle sendirian, menirukan suara instumental dari lagu aslinya. Tidak lama kemudian, Naruto mulai bernyanyi lagi.
"Toki ni kono sekai wa
Ue wo muite
Aruku ni wa sukoshi mabushii sugiru ne
Shizumu you ni
Me wo fuseru to
Kawaita chimen ga namida wo susuru"
"Why do we feel so alone anytime?
Subete wo uketomenakute ii yo
Why do we feel so alone anytime?
Koraeru koto dakedo
Yuuki ja nai!"
Musik penutup masih terus mengalun dari ketiga alat musik yang mereka mainkan, memperdengarkan skill masing-masing dalam bermain musik. Tidak lama kemudian, musik akhirnya berhenti dan mereka bertiga menjadi rileks.
Tanpa diduga, seluruh pengunjung bertepuk tangan yang membuat mereka bertiga terkejut karena sama sekali tidak menyangkanya.
"Wooho! Keren!"
"Hebat!"
"Amazing!"
Mereka saling berpandangan dan tersenyum mendengar berbagai pujian yang dilontarkan para pengunjung, Naruto meraih mikrophonenya dan berbicara melaluinya.
"Terima kasih, terima kasih sudah mau mendengarkan permainan kami." Katanya sambil tersenyum puas.
Lalu, salah seorang pengunjung bertanya sambil berteriak pada Naruto, "Woi Naruto! Aku tidak tahu kalau kau punya band! Apa nama band-mu?"
Naruto memindahkan perhatiannya pada seorang remaja laki laki dengan dandanan kasual yang ternyata adalah salah satu teman kelasnya.
"Eh?"
'Apa namanya?' batin Naruto, baru sadar kalau tadi mereka main tidak memikirkan kemungkinan ini akan terjadi.
Naruto segera menengok ke arah sensei dan sahabatnya, "Psst, apa nama band kita?"
"Entahlah, karena kau yang jadi vokalisnya, kenapa nggak kau saja yang menamainya Naruto."
"Asalkan Naruto-sama yang memutuskan, saya setuju."
'Kalian ini...' batin Naruto kesal kepada Kakashi, dia tidak bisa merasa kesal pada Haku karena dari tadi si 'Manusia yang tidak jelas gendernya' itu menatap ke arahnya dengan ekspresi innocent.
'Untugnya, aku sudah tahu apa nama bandnya'
Naruto kembali meraih microphonenya dan mengumumkan nama band mereka.
"Kami adalah... Allied Shinobi Forces!"
|Dua jam kemudian|
Naruto, Haku dan Kakashi berada di depan restauran Tsuyoshi yang sudah tutup, sementara itu si pemilik restauran sedang berbincang-bincang dengan Allied Shinobi Forces ditambah satu Loli Blonde.
Si Loli Blonde sendiri juga ikut-ikutan bekerja untuk mendapatkan uang saku sebagai seorang pelayan. Yang membuat banyak lelaki (Lolicon) terpesona.
"Luar biasa, penampilan kalian tadi hebat sekali. Kalian yakin belum pernah main band di panggung sebelumnya?" puji Tsuyoshi.
"Iya dong, makanya tadi kami merasa sedikit gugup. Tapi syukurlah bisa menjadi seperti ini, tadi itu pengalaman yang berharga." Jawab Naruto senang.
"Lain kali, jika band kami sedang tidak bisa tampil, akan kupastikan untuk mengundang kalian lagi. Oh ya, ini honor kalian. Terimalah." Kata Tsuyoshi menyodorkan sebuah amplop berisi uang pada Kakashi.
"Wah, terima kasih banyak Tsuyoshi! Kalau bukan karenamu, mungkin kami sudah mengemis di jalanan. Masa orang seganteng aku ngemis di jalan sih."
"Yang ada malah Sensei ditangkap Satpol PP terus dijeblosin ke penjara karena dianggap merusak pemandangan."
"Aku yang pegang uangnya lo."
"Maaf Sensei, aku hanya bercanda."
"Lebih baik begitu."
"Ahahaha, ya sudah. Aku pulang dulu ya, selamat malam." Pamit Tsuyoshi dan segera pulang ke rumahnya.
"Ya, selamat malam"
Saat keempat orang itu hendak masuk kedalam Mobil Kakashi, seseorang atau lebih tepatnya suara seseorang menghentikan mereka.
"Tunggu, Uzumaki-senpai!"
Yang merasa dirinya disebut segera menoleh, "Ng?"
Pemilik suara yang memanggil Naruto ternyata berasal dari seorang gadis dengan rambut medium berwarna pink kemerahan, gadis itu terlihat sekitar dua tahun lebih muda dari Naruto.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Naruto.
"Na-namaku Masami, aku juga bersekolah di SMA Kuoh kelas sepuluh, aku sudah sering melihat Senpai di sekolah. Ah! Aku punya permintaan untuk Senpai."
"Permintaan untukku?"
"Um."
"Baiklah, apa permintaanmu?"
"Etto... Tolong ajari aku cara bermain gitar!" Pinta Masami sambil berteriak menahan malu. Pipinya jadi semerah warna rambutnya.
"Eh?" kata Haku datar sedikit terkejut.
"Eeeh!?" kata Kakashi agak tinggi lumayan terkejut.
"EEEEHHHH!?" Kata Naruto sangat tinggi benar-benar terkejut.
"Kalian paduan suara ya?" tanya Mittelt datar.
|Tebece|
Akhirnya selesai juga~ setelah melewati masa masa suram karena banyak tugas, author bisa juga menyelesaikan chapter tiga dari "Daily Life Arc." ini.
Berterima kasihlah pada yuuiamh yang ngasih semangat.
Oh, baru keinget, lagu di chapter satu itu dari anime Binbougami ga episode 11 judulnya Fanservice Song.
Sistem EoM akan dijelaskan di chapter-chapter mendatang.
Dan siapakah orang keempat mereka?
Apa kemampuan Naruto?
Seperti apa wajah Kakashi?
Apa gender Haku yang sebenarnya?
Itu tidak perlu dijawab!
...
Oh well, see you next time!
two-one kf out!
