Title : A New Life
Chapter 3 : New Family (Our Lil Brother)
Author : Initial D
Cast :
- Wu Yifan a.k.a Kris [22]
- Zhang Yixing a.k.a Lay [21]
- Huang Zitao [20]
- Kim Minseok [18]
- Jung Daeryong [23]
- Jung Soryong [23]
- and others
Rating : K+ to the M
Genre : Action, Family, Romance, Hurt/Comfort, Crime [not sure]
Warning : YAOI fanfiction, boy's love, typo merajalela(?), OOC, don't bash, don't like don't read..
Don't CTRL+A - CTRL+ C - CTRL+V ..
Don't be plagiarism..
- HAPPY READING -
« Preview Chapter 2 :
"Hey Minseok, kau sudah tahu kamarmu?" Tanya Yixing. Minseok menggeleng pelan. "Kau akan satu kamar dengan Zitao okay, ayo ganti pakaian dan makan malam segera siap," ucap Yixing. Minseok mengangguk sebelum Yixing berlalu menuruni tangga berlapis kayu itu. Pemuda Kim di sana menghela napasnya.
"Kenapa harus bersama dengan Zitao?"
Chapter 3
"Minseok," panggil Zitao. Pemuda bertubuh tinggi itu berdiri di ambang pintu kamarnya dengan sebuah map folder di tangannya. "Kemarilah," ucapnya. Minseok mengangguk agak kikuk. Entah mengapa kedua bagian pipinya terasa memanas ketika melihat lengan atletis Zitao yang terekspos. "Ayolah," Minseok kembali mengangguk walau ia mulai menundukkan wajahnya. Apa yang terjadi dengannya? Dengan langkah yang sedikit ragu ia mulai melangkah ke tempat Zitao berada.
.
- Zitao's room
"Permisi," ucap Minseok sopan sementara Zitao mengangkat sebelah alisnya.
"Masuklah, jangan sungkan, ini juga kamarmu," ucap Zitao terdengar datar dengan mata yang terfokus pada sebuah data di genggamannya. Kini ia terduduk di sebuah kursi yang berseberangan dengan ranjang miliknya. Salah satu tangan Zitao mengisyaratkan agar Minseok duduk di ranjangnya. "Posisikanlah dirimu senyaman mungkin," ucapnya.
"Terima kasih," dengan perlahan Minseok melepas backpacknya sebelum mendudukkan dirinya di tepi ranjang berukuran queen-size itu. Entah mengapa keadaan berubah diam. Zitao masih sibuk dengan datanya sementara Minseok tengah bergulat dengan pikirannya.
"Jadi," buka Zitao setelah sekian lama terdiam. "Aku akan menyebutkan beberapa data yang kami peroleh tentangmu, dan tolong beritahu aku jika data itu salah," ucap Zitao. Minseok mengangguk.
"Baiklah,"
"Okay, aku akan mulai sekarang," ucap Zitao. "Namamu Kim Minseok, anak dari Kim Jaejoong yang sekarang telah menginjak usia delapan belas tahun. Setelah ayahmu tiada, kau memutuskan untuk menuntaskan pendidikanmu sebelum akhirnya bekerja di salah satu toko bunga di dekat tempat tinggal seseorang bernama Park Yoochun, dan-"
"Maaf," potong Minseok.
"Ya?"
"Soal bekerja, aku sudah memulainya ketika ayahku masih hidup," ralat Minseok. Zitao mengangguk.
"Baiklah, aku lanjutkan," Zitao menatap Minseok sekilas. "Dan Tuan Park bekerja sebagai pengacara," ucap Zitao. "Ketika kau masih berusia sepuluh tahun, kau mempunyai berat badan yang sangat berlebihan?" Lanjut Zitao dengan nada yang terkesan bertanya. Minseok menatapnya dengan pipi yang bersemu, malu. "Kau menyukai bunga lavender dan sangat suka sekali makan," Zitao terdiam. "Mungkin itu sebabnya berat badanmu berlebih," tanggap Zitao acuh.
"Ya! Tidak! Itu karena ayah suka memasak dan aku harus memakannya," elak Minseok dengan pipi yang terlihat menggembung. Zitao melirik ke arahnya sebelum terkekeh dalam hati.
"Hmm, baiklah, cukup sekian data yang kudapat," aku Zitao. Ia meletakkan map folder yang ia genggam tadi ke dalam sebuah lemari yang berada di dekatnya. "Dan ah iya," mulai Zitao. "Mulai sekarang, namamu adalah Xiumin Wu,"
"Huh?" Minseok membenturkan alisnya. "Kenapa namaku harus berubah? Aku suka nama pemberian orangtuaku," ucap Minseok. Zitao menghela napasnya pelan sebelum menatap kedua bola mata Minseok dalam.
"Baiklah, aku akan memberimu penjelasan singkat tentang ini,"
"Baiklah, jelaskan padaku,"
"Jika kau terus memakai nama Korea-mu itu, aku yakin hidupmu tak akan lama," mata almond Minseok membulat.
"Mwoya! Kenapa kau bicara seperti itu?!" Minseok mendengus.
"Sederhana Kim Minseok, pihak lawan akan dengan mudah mendapat informasi tentangmu melalui informan handal yang mereka punya. Kuharap kau bisa mengerti Minseok," Minseok melipat kedua lengannya di depan dada. "Jika kau terus memakai namamu itu, percuma saja Kris membawamu ke negara ini untuk pelarianmu," pemuda Kim itu mulai menggigit bibir bawahnya pelan.
"Tao, Kris Hyung berjanji untuk menjagaku, jadi-"
"Ah, tentang Kris. Aku tahu kau kecewa padanya karena kejadian dua tahun lalu, tapi tolong jangan manfaatkan kakakmu sebagai pengawal seperti itu, cobalah untuk menjaga dirimu sendiri Minseok," potong Zitao datar. "Setidaknya jangan terlalu bergantung pada Kris, ia belum tentu ada di saat kau membutuhkannya," lanjutnya. "Kau tahu? Yang kutangkap dari sikapmu terhadap Kris, kau masih sangat dingin padanya, cobalah mengakui orang itu sebagai kakakmu," Minseok terdiam. Ia mencoba merenungi tiap kalimat Zitao. "Ah, jika kau ingin tahu tentang kami, kami juga memakai fake identity sekarang ini, Yifan menggunakan Kris untuk menyamar, Yixing menggunakan Lay, dan dua orang kembar di bawah sana menggunakan Daeryong dan Soryong pada keseharian mereka," ucap Zitao. "Cobalah untuk bertahan seorang diri Minseok," pemuda berpipi gembil itu menunduk seraya menganggukkan kepalanya pelan.
"Jika teman-temanmu menggukan fake identity, kenapa kau tidak?" Tanya Minseok merasa tidak adil. Semua orang yang Minseok temui mempunyai fake identity, sementara Zitao?
"Aku punya," jawab Zitao tegas. "Namaku Edison Huang," lanjutnya. "Orang-orang di sekitar sini memanggilku Edi, jadi kau tak perlu khawatir tentang fake identity-ku," Zitao mulai bangkit dari duduknya. "Tolong mengertilah Minseok," kaki jenjang Zitao mulai melangkah, namun terhenti di ambang pintu. "Lebih baik kau mandi kemudian bersiaplah untuk makan malam, maaf jika aku sudah berkata kasar padamu," Zitao menutup pintu berwarna hitam pekat di sana kemudian menghilang di baliknya. Minseok menghembuskan napasnya kasar. Ia sadar jika hidupnya terasa lebih berbahaya dari sebelumnya. Sangat berbahaya.
.
.
- 20.05 pm
- Living room
Minseok telah selesai membersihkan dirinya sejak enam puluh lima menit lalu. Ia menguap ketika harus duduk menunggu makanan siap disajikan. Ia duduk menunggu dengan kepala yang ia letakkan di atas meja yang cukup bersar di tengah ruangan depan televisi. Lantai kayu yang ia duduki ternyata sangat nyaman untuk bermalasan seperti ini pikirnya.
Salah satu tangannya yang bebas tergerak mengusap sudut matanya yang berair karena kantuk. Zitao yang duduk berseberangan dengannya memutar bola mata hitamnya.
"Kau mengantuk?" Tanya pemuda Chinese itu datar dengan kedua indera pelihatnya yang terfokus pada acara televisi dengan bahasa Mandarin. Minseok sedikit merasa pusing mendengarnya.
"Ya, sedikit," jawab Minseok terdengar malas. Kedua bola matanya ia arahkan ke arah tangga berada. Ia berharap jika makan malam segera datang.
"Sleepy-head," cibir Zitao. Minseok meliriknya sekilas sebelum mendengus.
"Bukan urusanmu Tuan Panda," Zitao hanya berdecih dengan tetap terfokus pada televisi.
"Zitao!" Suara seseorang menggema dari lantai satu.
"Ya?!" Sahut Zitao lantang.
"Tolong bawakan makanan dan minuman ini ke atas, Panda!" Ah itu Daeryong pikir Zitao.
"Baiklah," respon Zitao seraya bangkit dari duduknya. "Aku ke bawah," dan setelahnya, Minseok dapat melihat tubuh tinggi Zitao yang perlahan menghilang dari tangga.
.
Semua makanan telah siap di atas meja berbentuk persegi empat sama sisi di lantai dua. Dari keempat sisinya, tiga di antaranya terdapat masing-masing dua orang di sana. Yifan duduk bersebelahan dengan Yixing, Tao bersebelahan dengan Soryong, sementara Daeryong bersebelahan dengan Minseok.
Malam itu Daeryong hendak memimpin doa sebelum ia teringat sesuatu. Ia menatap masakan hasil kerja keras sang adik -Soryong- dengan teliti.
"Kita makan menggunakan apa?" Tanyanya aneh. Zitao menghembuskan napasnya kasar sebelum bangkit dari duduknya.
"Yeah, aku mengerti," tanpa perlu mendengar penjelasan apapun dari pemuda yang lebih tua darinya, Zitao segera melangkah menuruni tangga.
"Apa yang Tao lakukan?" Tanya Minseok menatap Daeryong.
"Alat makan, ia sedang mengambil alat makan," jawab Daeryong lembut.
"Kenapa harus Tao?" Tanyanya lagi. Namun kini bukan Daeryong yang menjawab, melainkan Soryong.
"Itu karena Zitao adalah yang paling muda di antara kami berempat,"
"Tapi Minseok lebih muda dua tahun dari Zitao," timpal Kris. Minseok menatap ketiganya heran.
"Kenapa bukan aku saja yang mengambil alat makannya?" Tanya Minseok lagi. Astaga. Nadanya sungguh menggemaskan menurut Soryong. Daeryong hendak menjawab, namun terlambat.
"Itu kurang masuk akal," itu suara Zitao. "Kau baru saja menginjakkan kakimu di sini sekitar dua jam lebih, dan kau ingin mengambil alat makan di dapur lusuh itu?"
"Ya!" Soryong berteriak protes.
"Sulit," Minseok menggembungkan pipinya. Ia kesal. Nada bicara Zitao tiba-tiba berubah sedingin ini padanya.
Tanpa sadar, keadaan berubah sunyi sebelum Zitao bangkit dari posisinya kemudian melangkah menuruni tangga.
Tak lama, pemuda Huang itu telah kembali membawa alat-alat makan yang diperlukan di genggaman tangannya.
"Aku hanya berusaha membantu," ucap Minseok tiba-tiba ketika sosok Zitao tertangkap pandangannya. Zitao hendak bersuara sebelum suara Yixing tiba-tiba menginterupsinya.
"Hey, hey, sudahlah, Zitao ayo cepat duduk dan Daeryong Ge, mulai doanya," Yixing berusaha menengahi.
Dengan pergerakan yang terlihat malas, Zitao mulai mendudukkan tubuhnya di sebelah Soryong.
"Ayo mulai," ucap Zitao setelah meletakkan alat makannya di atas meja.
.
Suasana makan malam perdana Minseok di Negeri Tirai Bambu itu tak terasa sudah setengah berjalan. Masakan dari beberapa mangkuk sajipun telah habis mereka santap. Tontonan televisi malam itu nampak tak terlalu membosankan sepertinya. Hampir semua orang di sana tertawa puas dengan acara komedi yang diputar, terkecuali Zitao. Ia hanya terdiam terlalu fokus pada acara makannya.
Kala itu tawa Minseok mereda ketika siaran televisi tengah menayangkan jeda komersial. Ia hendak mengambil tempura udang di sebuah piring saji dekat Soryong, namun ia kalah cepat. Kedua pemuda di depannya, -Soryong dan Zitao- telah mendapatkan sepasang tempura udang yang kini telah lenyap dari tempatnya. Minseok mendesah.
TUK
Ia menatap mangkuk nasi miliknya berbinar. Tem-pu-ra-u-dang ada di mangkuk miliknya. Ia tersenyum mengalihkan pandangannya berusaha mencari siapa dermawan yang rela memberikan kudapan menggoyang lidah itu. Ia mencari seseorang itu. Ia menatap ke arah Kris dan Yixing yang masih tenang dengan sup ikan mereka, sementara Daeryong tengah sibuk dengan air mineralnya, di sisi lain, Soryong tengah berdebat dengan Zitao.
"Kenapa kau merebut tempura milikku?" Bisik Soryong pelan. Namun Minseok dapat mendengarnya. Zitao berdecih.
"Itu haknya, kau sudah memakannya terlalu banyak," balas Zitao malas. Soryong meraih air mineralnya sebelum kembali berbisik.
"Dia bisa mengambilnya sendiri," tambah Soryong. Zitao menatapnya sekilas.
"Tidak jika kau mengambilnya sekaligus," Soryong terdiam.
"Baiklah, fine, cepat ke bawah dan ambil beberapa baozi di sana," titah Soryong sebelum meminum airnya. Zitao menoleh ke arah Soryong.
"Kenapa harus aku?"
"Karena aku ingin, cepat," Zitao menggeram sebelum akhirnya mengalah kemudian menghilang ke lantai satu. Daeryong terkekeh.
"Dasar bocah Panda," gumam Daeryong pelan. Minseok kembali menatap mangkuk miliknya. Zitao mengambilkan tempura udang itu untuk Minseok. Wow. Minseok harus berterima kasih pada Zitao nanti. Dengan hati-hati Minseok meraih tempuranya kemudian memakannya dalam diam hingga tanpa sadar Zitao datang membawa sebuah piring berisi beberapa buah makanan berbentuk bulat berwarna putih menggemaskan. Minseok menatap makanan itu tanpa berkedip.
"Minseok," panggil Kris. Bagai terhipnotis, Minseok tak merespon. Daeryong menatap Minseok sekilas sebelum merangkul bahu sempit miliknya.
"Ya, Xiuxiu," itu suara Daeryong. Pemuda Chinese itu mengguncang bahunya pelan. "Cepat habiskan makananmu dan kau bisa mendapatkan baozi itu," ucap Daeryong tertawa pelan. Entah sadar atau tidak, Minseok mengangguk sebelum menuntaskan makan malamnya.
.
"Whoa! Aku kenyang!" Pekik Yixing senang. "Xiexie Soryong Gege," ucapnya hangat. Tangan kanannya tergerak mengusap perut ratanya perlahan. Ia menghembuskan napasnya pelan sebelum kembali bersuara. "Minseok, kau suka makan malamnya?" Tanya Yixing tersenyum lembut ke arah Minseok yang tengah meletakkan kepalanya di atas meja. Pemuda Kim itu menatap Yixing sekilas sebelum mengangguk.
"Sangat Ge," ungkap Minseok terkekeh pelan. Kris tersenyum melihatnya. Tubuh tingginya ia dudukkan tepat di sebelah adiknya. Tangan panjang Kris terulur mengusap surai sang adik pelan. Minseok menatap Kris yang masih sibuk dengan surai lavendernya kemudian tersenyum.
"Kau kenyang?" Tanya Kris. Minseok mengangguk sebelum menutup matanya. "Gosoklah gigimu sebelum tidur, ayo," Minseok kembali mengangguk sebelum menegakkan tubuhnya hendak bangkit dari posisinya.
"Ya! Belum ada yang boleh pergi dari sini sebelum mencicipi makanan penutup," ucap Soryong terdengar final. "Aku membuat baozi mini ini untuk menyambut kedatangan Baozi-Min!" Lanjutnya tersenyum lebar. Zitao yang duduk di sebelahnya menatapnya penuh tanya.
"Baozi-Min itu siapa?" Tanya Zitao malas. Soryong mendelik ke arahnya.
"Tentu saja Xiumin. Panda, aish kau ini,"
"Hey, tapi kenapa Baozi-Min?" Tanyanya lagi. Daeryong yang baru saja keluar kamar mandi segera melangkah mendekat ke arah Zitao kemudian membungkam mulutnya.
"Baiklah, aku akan menjelaskan sesuatu pada kalian," buka Daeryong dengan telapak tangan yang masih setia berada di area wajah Zitao; walau Zitao berontak. "Aku membuat kesepakatan dengan Soryong kalau kami berdua, akan memanggil Xiumin dengan sebutan yang berbeda, aku akan memanggil Xiumin dengan Xiuxiu, sementara Soryong dengan Baozi-Min," jelas Daeryong terkekeh pelan.
"Kenapa kalian membedakannya?" Kini Kris mulai bersuara.
"Ah, itu sederhana, kami membuat sebutan itu agar mempermudah adik kecil kita ini dapat membedakan antara aku dan Soryong, simple yo!" Jawab Daeryong mendesis pelan ketika Zitao menggigit telapak tangannya. Kris mengangguk.
"Tak kusangka Gege memiliki ide yang cukup bagus," komentar Yixing tertawa pelan. Soryong menatapnya seraya tertawa bangga.
"Haha, tentu, itulah kami," timpal Soryong. "Kurasa, cukup pertanyaanmu dan ayo makan baozi ini," dengan pergerakan ragu, Yixing mulai meraih kudapan penutup itu dari piring saji. "Baozi-Min, ayo cicipi, itu buatanku," ucap Soryong menepuk dadanya senang.
"Baiklah," Minseok mengangguk sebelum meraih sebuah. Ia menatap kudapan menggemaskan itu menyeluruh. Lucu pikirnya. Zitao yang duduk berseberangan dengannya tertawa pelan. Minseok mengalihkan pandangannya. "Apa yang kau tertawakan?" Tanyanya dingin. Zitao menyeringai di sana.
"Kau seperti menatap pipimu sendiri," komentar Zitao. Kedua sisi pipi gembil Minseok menghangat.
"Ya! Tidak!" Protes Minseok kesal sebelum melahap baozinya. Pemuda Panda di seberangnya masih terkekeh sebelum berlalu menuju kamarnya.
"Kalau kalian sudah selesai, panggil aku," pesan Zitao. Soryong yang tengah meminum air mineralnya tersedak ringan.
"Baik!" Ia tahu apa artinya itu. Zitao akan mencuci piring kotor.
.
- Zitao's room [and Minseok]
- 22.05 pm
Minseok tengah merebahkan tubuh lelahnya di ranjang Zitao yang kini telah menjadi miliknya juga. Ia menguap kecil pertanda jika rasa kantuk mulai menderanya. Ia mengusap sudut matanya perlahan bertepatan ketika seseorang membuka pintu kamarnya perlahan.
"Hey Tao," sapa Minseok pelan. Zitao meliriknya sekilas sebelum menuju salah satu lemari di sudut kamar.
"Hey, Yo!" Balasnya sebelum membuka lemari berukuran sedang miliknya, kemudian meraih sebuah t-shirt tipis berwarna hitam tanpa lengan. Zitao mulai meloloskan t-shirt yang ia pakai sebelumnya kemudian melempar pakaian basah itu ke keranjang pakaian kotor.
"Ada apa dengan pakaianmu?" Tanya Minseok bangkit dari posisinya. Zitao kembali meliriknya sekilas sebelum memunggungi Minseok yang memandangnya penuh tanya.
"Tidak ada," jawab Zitao. "Kecelakaan kecil ketika Soryong menyiramku dengan air," Zitao berdecak pelan sebelum terkekeh.
"Ah begitu," Minseok hanya mengangguk sebelum membulatkan matanya. Kaget sepertinya. "Hey, apa itu yang ada di tengkukmu?" Minseok kembali bertanya dengan nada yang terdengar antusias dan penuh rasa ingin tahu. Zitao mengusap tengkuknya.
"Di mana?"
"Di tengkukmu,"
"Serangga?"
"Bukan," Zitao mengernyit.
"Apa yang kau lihat?" Tanyanya.
"Sebuah gambar berwarna hitam berbentuk jam pasir?"
"Ah," Zitao tertawa pelan sebelum memakai t-shirt bersihnya kemudian melangkah mendekat ke arah ranjang sebelum menjatuhkan tubuhnya kasar di sana.
"Itu apa?" Pertanyaan Minseok masih menggantung rupanya.
"Ah, kau benar," pemuda berdarah China itu menatap Minseok sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar. "Itu hanya sebuah tattoo, hourglass," jawabnya.
"Ah, benarkah? Kenapa kau membuat itu di sana?" Minseok kembali merebahkan tubuhnya tepat bersebelahan dengan Zitao sebelum menatap wajah tampannya.
"Soal itu, tidak ada alasan khusus," jawab Zitao. "Hourglass ini hanya sebagai pengingat untukku," lanjutnya.
"Pengingat? Maksudmu?"
"Yeah, terkadang aku sempat berpikir andai aku bisa memutar balik waktu, aku ingin kembali ke masa kecilku di mana aku berharap tumbuh lebih cepat dan segera membunuh orang itu," Zitao menyeringai kecil. "Orang yang telah membuangku ke jalanan, dan membunuh kakakku," Minseok menatapnya dalam.
"Jadi, kakakmu-"
"Dibunuh, sama seperti ayahmu dan Tuan Wu," potong Zitao. "Kau tahu? Hidupku hancur ketika aku tahu kakakku telah tiada, sama sepertimu," ucap Zitao. "Tapi, hidupku lebih hancur dari kehidupanmu Minseok, sejak menginjak usia sepuluh tahun, aku bertemu dengan seseorang yang memungutku dari jalanan dan menjadikanku anggota keluarganya," Zitao tersenyum kecil. "Semenjak itulah, aku mengenal dunia keras ini. Aku bahkan sudah lupa berapa banyak orang yang kubunuh semenjak itu," Minseok menatapnya tak percaya.
"Kau bohong?" Zitao menoleh ke arah Minseok sebelum menatap lurus ke bola matanya.
"Tatap mataku," titah Zitao. Entah mengapa, pemuda Kim itu menurut. Ia menatap dalam bola mata Zitao. "Apa kau melihat suatu kebohongan di sana?" Tanya Zitao. Minseok menggeleng.
"Tidak," jawab Minseok pelan. "Tapi aku melihat kegelapan di sana," ucap Minseok. "Dan kesepian," lanjutnya. Zitao terkekeh pelan sebelum salah satu tangannya yang bebas bergerak di sekitar wajah mulus Minseok.
"Wow, aku terkesan kau bisa melihat itu dalam sekali tatap," komentar Zitao. "Berbanding terbalik dengan milikmu yang cerah dan hangat, milikku sangat dingin menusuk," ucap Zitao. "Bola matamu indah," pujinya. Salah satu tangannya masih setia bergerak di sekitar wajah Minseok, tepatnya sebelah pipi gembil miliknya yang tiba-tiba merona samar. Apakah ia malu?
"O-omong kosong," gagapnya.
"Apakah aku berbo-" ucapannya terpotong karena sesuatu.
"Yifaaaanh," ah, itu suara Yixing.
"Shit!" Umpat Zitao geram. Ia menjaukan tangannya dari wajah Minseok sebelum meraih selimut tebal untuk menutupi telinga beserta wajahnya.
"Hey, kau dengar suara itu?" Tanya Minseok terdengar polos.
"Tidak," jawab Zitao singkat.
"Benarkah? Itu seperti suara erangan," ucap Minseok. Sial. Entah mengapa wajah Zitao memanas.
"Yi-faaannh! Ah!" Zitao menggigit bibir bawahnya pelan. Sungguh. Ia merutuk suara erangan Yixing yang kentara hingga memasuki kamarnya.
"Tao, suara itu lagi," oh astaga, Minseok tolong diam. Entah mengapa suara Minseok yang sedikit berbisik itu berhasil membangunkan sesuatu milik Zitao di bawah sana. Sial. Apakah Zitao sanggup?
"Mi-Minseok, t-tolong matikan lampunya," pinta Zitao pelan. Minseok mengangguk walau Zitao tidak mengetahuinya.
"Hmmm, baiklah,"
KLIK
PATS
Lampupun padam.
To be continued..
