Chapter 2: Mission
.
.
Disclaimer: NARUTO by Masashi Kishimoto
Genre: Romance
Rate: T
Summary: Kau suka mawar?/ Ya./ Kenapa?/ Mawar itu indah dengan warnanya yang semerah darah./ Mawar merah ya, bagaimana kalau kuberi bunga mawar yang spesial untukmu?/ Apa maksudmu?/ Kau akan tau nanti/ CANON/ ItaKonan/
Pairing: Itachi x Konan
Warning: OOC, typo, EYD berantakan(?)
.
.
.
.
' Mind '
" Talk "
.
.
.
.
Don't like, don't read
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
Itachi berjalan pelan menyusuri lorong-lorong di markas Akatsuki, tempat yang sudah 5 tahun ini menjadi rumahnya. Panggilan dari sang leaderlah yang membuatnya ada disini, berjalan melewati lorong-lorong di markas ini menuju ruangan sang leader.
Itachi berhenti didepan sebuah pintu kayu yang besar dan kokoh bewarna cokelat tua. Ia mengetuk pintu kayu tersebut.
Tok.. tok..
"Masuk." Sahut suara dari dalam.
Ceklek..
Kriett..
Itachi menbuka pintu kayu itu dan mulai melangkahkan kakinya ke dalam. Disana ia dapat melihat sang leader, Pain sedang duduk di kursi kebesarannya. Dihadapannya berdiri seorang gadis berambut biru pendek sebahu yang memunggungi pintu masuk.
Itachi berdiri tepat di depan meja Pain dan disamping Konan, gadis berambut biru itu. "Ada apa leader?" tanyanya to the point.
"Aku ada misi untukmu. Kau siap?" sahut Pain.
"Ya."
"Baiklah, tapi berhubung Kisame sedang punya misi sendiri bersama Deidara dan Sasori maka kau tidak akan bersamanya kali ini." Ujar Pain.
Itachi mengangguk singkat.
"Sebagai gantinya kau akan menjalankannya bersama Konan." Lanjut Pain.
Itachi memandang Konan yang ada disampingnya sejenak hingga ia kembali mengalihkan pandangannya kearah Pain. "Baiklah."
"Misi kalian adalah menyusup ke desa Kumogakure dan mencuri gulungan rahasia milik mereka." Jelas Pain.
Konan mengangkat alisnya. "Gulungan rahasia?" tanyanya.
Pain mengangguk singkat. "Ya. Gulungan itu berisi jurus-jurus terlarang yang akan berguna untuk tujuan Akatsuki kedepannya."
"Apa kami harus membawa yang aslinya?" tanya Itachi.
"Tidak perlu kalian hanya perlu menyalinnya." Sahut Pain.
"Tapi bukankah itu berbahaya?" tanya Konan.
"Ya, memang sedikit berbahaya dan merepotkan. Akan tetapi itu akan mengelabui mereka apabila kalian tertangkap, karena mereka tidak kehilangan gulungannya, tetapi kita tetap mendapatkan jurus terlarangnya." Sahut Pain.
"Ya, benar." Ujar Itachi.
Konan menghela napas. "Baiklah."
"Apa ciri-ciri gulungannya?" tanya Itachi.
"Gulungan itu bewarna merah pekat dengan corak bewarna biru tua." Sahut Pain.
Itachi dan Konan mengangguk mengerti.
"Baiklah jika sudah jelas. Aku mau kalian berangkat besok." Ujar Pain.
"Baik." Sahut Itachi dan Konan bersamaan.
"Kalau begitu saya permisi." Ujar Itachi.
"Ya." Sahut Pain.
Itachi berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan Pain.
Blam..
.
.
.
.
Esoknya Itachi dan Konan berangkat menjalankan misi dari Pain tersebut. Mereka berjalan melintasi hutan dalam keheningan. Hanya ada suara hewan-hewan kecil dihutan yang menemani perjalanan mereka. Tak ada seorangpun yang hendak memulai percakapan hingga akhirnya sore menjelang dan mereka baru sampai setengah perjalanan.
Itachi mengedarkan pandangan kesekelilingnya hingga ia menemukan sebuah gua yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. "Mungkin kita bisa bermalam disana." Ujar Itachi sambil menunjuk kearah gua yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Konan mengangguk singkat. "Ya.
Merekapun berjalan memasuki gua tersebut.
"Istirahatlah, aku akan mencari ikan." Ujar Itachi yang dbalas anggukan singkat oleh Konan.
Itachi melepas jubahnya, mengambil sebuah botol dan beranjak meninggalkan gua, bermaksud mencari sungai. Ia kembali berjalan menerobos lebatnya hutan hingga akhirnya ia mendengar sebuah suara.
Zrasshhh..
'Air terjun.' Batinnya. Itachi berjalan mendekati sumber suara yang ia dengar hingga akhirnya sampai di depan sebuah air terjun dengan sungai yang mengalir dibawahnya. 'Ketemu.' Batinnya.
Itachi berjongkok dipinggir sungai dan membasuh wajahnya dengan air sungai yang jernih itu lalu meminum sedikit airnya. 'Segarnya.' Batin Itachi sambil mengisi botol yang dibawanya dengan air sungai.
Itachi kembali berdiri, ia menyiapkan beberapa kunainya untuk menagkap ikan yang akan dimakannya bersama Konan. Ia menunggu hingga ada ikan yang meloncat dari air.
Jleb..
Dan ia mengarahkan kunainya tepat sasaran mengenai ikan tersebut.
Setelah dirasa cukup ia melepas sepatu ninjanya dan masuk kedalam air, mengumpulkan ikan-ikannya yang telah ditangkapnya. 'sepertinya ini cukup.' Batin Itachi sambil memakai kembali sepatu ninjanya. Ia berjalan kembali ke gua sambil membawa 5 ekor ikan dan sebotol air di tangannya.
.
.
.
.
Hari sudah gelap saat Itachi tiba di gua, disana Konan sedang menyiapkan api unggun untuk membakar ikan. Itachi menghampiri Konan dan duduk disebelahnya.
"Kau sudah sampai?" tanya Konan.
"Ya." Sahut Itachi sambil menusukkan ikan-ikan yang dibawanya denga sebuah ranting kayu, setelah selesai ia menyerahkan ikan-ikan itu kepada Konan untuk kemudian dibakar.
Konan mulai membakar ikan-ikan itu hingga matang. "Ini. Makanlah." Ujarnya sambil menyodorkan ikan yang sudah matang kepada Itachi.
Itachi menerima ikan tersebut. "Terima kasih." Ujarnya.
Mereka makan dalam keheninggan hingga acara makan mereka selesai. Itachi membereskan sisa-sisa makanan mereka. "Tidurlah." Ujarnya kepada Konan.
Konan hanya mengangguk singkat. "Lalu, kau sendiri?" tanya Konan.
"Aku akan berjaga." Sahut Itachi.
"Em.. baiklah." Konan hendak membaringkan tubuhnya saat tiba-tiba Itachi menginterupsi.
"Tunggu." Ujar Itachi.
Konan mengangkat alisnya bingung.
"Pakai ini untuk alas tidurmu." Ujar Itachi sambil memberikan jubah Akatsuki miliknya.
"Nanti jubahmu... " ucapan Konan terhenti.
"Tak apa, pakailah. Lantai gua ini dingin." Sahut Itachi yang kini sudah duduk di salah satu sisi gua, menyandar di dinding gua.
"Baiklah." Ujar Konan pasrah dan menggunakan jubah Itachi sebagai alas tidurnya. "Terima kasih, Itachi." Ujar Konan pelan.
"Hn."
.
.
.
.
Sinar mentari mulai menampakkan dirinya dan menyinari bumi, burung-burung berkicauan mengiringi suasana pagi yang indah ini. "Engh.." Konan mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya. "Sudah pagi ya." Gumamnya parau. Konan bangkik dari posisi berbaringnya dan mengedarkan pandangannya kesekeliling, mencari partner misinya kali ini.
"Itachi." Ujar Konan yang masih mengedarkan pandangannya karena partner yang dicarinya tak ada dimanapun.
Tap.. tap..
"Sudah bangun?" tanya sebuah suara dari arah mulut gua.
Konan mengalihkan pandangannya ke asal suara dan mendapati partnernya disana. "Itachi. Darimana saja?" tanyanya.
Itachi berjalan ke arah Konan dan duduk disampingnya. "Tadi aku mencari ini." Ujarnya sambil meletakan 4 buah apel dihadapan Konan. "Makanlah, setelah ini kita lanjutkan perjalanan." Lanjut Itachi sambil mengibaskan jubahnya, membersihkannya dari debu.
Konan mengambil satu buah apel dan menggigitnya. "Kau tidak makan?" tanyanya.
Itachi memakai kembali jubah Akatsukinya. "Aku sudah makan tadi dihutan." Sahutnya.
"Oh." Konan melanjutkan acara makannya
Setelah makan mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke desa Kumogakure.
.
.
.
.
Hari sudah menjelang malam saat Itachi dan Konan sudah sampai di desa Kumogakure. Mereka menyamar dan berbaur dengan penduduk desa agar tidak mudah dikenali dan mempermudah tugas mereka. Kini mereka sedang mengawasi kantor Raikage dan menunggu saat yang tepat untuk menyusup kesana.
"Ayo, penjagaan mereka mulai melonggar." Ujar Itachi pada Konan yang ada dibelakangnya.
"Ya." Sahut Konan.
Mereka berjalan perlahan dan menyusup kedalam kantor Raikage. Mereka terus berjalan melewati lorong-lorong yang sudah mulai sepi karena sudah lewat tengah malam. Itachi berhenti didepan sebuah pintu dan mulai membukanya.
Ceklek..
Pintu terbuka dan menampilkan sebuah ruangan yang penuh dengan berkas-berkas dan gulungan-gulungan yang tersusun rapi. 'Binggo.'
Itachi memberi isyarat kepada Konan untuk mengikutinya. Itachi dan Konan mulai memasuki ruangan penuh berkas itu.
"Kita bagi tugas." Ujar Itachi yang dibalas anggukan oleh Konan. "Aku akan cari disisi timur dan kamu cari disisi barat." Ujar Itachi mengarahkan.
"Baik." Sahut Konan.
Mereka mulai menelusuri rak-rak berisi berkas dan gulungan itu denga teliti dari satu berkas ke berkas lain dari satu gulungan ke gulungan lain. Konan hendak membuka sebuah lemari kecil yang ia temukan disudut ruangan.
Ceklek..
'Sial, terkunci.' Batin Konan sambil menarik kenop pintu lemari kecil itu.
Konan melepas jepit rambutnya dan memasukkannya kelubang kunci. Ia memutar-mutar jepit rambut miliknya didalam lubang kunci di lemari itu.
Ceklek..
'Berhasil' batin Konan.
Kriett..
Konan membuka pintu lemari keci itu perlahan. Saat pintu terbuka sepenuhnya Konan mulai menelusuri isi lemari itu. 'Ketemu' batinnya senang sambil menarik sebuah gulungan bewarna merah pekat dengan corak bewarna biru tua dan membukanya.
"Itachi." Panggil Konan pelan.
Itachi menoleh kearah partnernya itu dan menghampirinya.
"Aku menemukannya." Ujar Konan sambil menyerahkan gulungan itu kepada Itachi.
Itachi menerima gulungan tersebut dan membukanya, ia lalu tersenyum tipis. "Kerja bagus Konan-san." Ujar Itachi. Ia mengeluarkan sebuah gulungan kosong. "Lebih baik cepat kita salin sebelum ketahuan." Ujar Itachi yang dibalas anggukan oleh Konan.
Mereka mulai menyalin semua isi gulungan itu dengan cepat dan teliti berusaha tidak mewatkan isi gulungan itu sedikitpun.
"Selesai." Ujar Konan sambil meletakan kembali gulungan itu kedalam lemari dan menutup rapat lemari kecil itu.
"Kita kembali." Ujar Itachi sambil menyimpan salinan gulungan itu kedalam tas ninjanya.
"Ya." Sahut Konan.
Mereka kembali berjalan mengendap-endap keluar dari kantor Rikage tanpa menimbulkan suara agar tidak ketahuan. Semuanya hampir berjalan lancar, tinggal beberapa lagi mereka akan melewati pintu keluar kantor Raikage. Tapi ternyata tidak semudah itu.
"HEI, SIAPA DISANA." Teriak seseorang dari arah ruang kantor.
Itachi dan Konan mengalihkan pandangan mereka ke asal suara. Disana, berdiri 5 orang shinobi Kumogakure yang mengepung mereka.
"Siapa kalian?" tanya salah seorang dari mereka.
Itachi dan Konan hanya terdiam dan memandang kelima shinobi itu dingin.
"Hei, JAWAB." Bentak Shinobi lainnya.
Itachi dan Konan saling berpandangan hingga akhirnya mereka saling menganggukan kepala sepakat.
Itachi membentuk segel dengan cepat. "Katon, Gokakyu no jutsu." Sebuah bola api besar menyambar kelima shinobi itu.
Lima shinobi Kumogakure itu sontak melompat , menghindari serangan bola api Itachi.
"Dimana mereka?" tanya salah seorang dari mereka saat tak menemukan keberadaan Itachi dan Konan disana.
"Disana." Sahut shinobi lainnya sambil menunjuk kearah Itachi dan Konan yang sudah berlari menjauh.
"KEJAR MEREKA."
Kelima shinobi itu kembali mengejar Itachi dan Konan.
.
.
Itachi dan Konan memancu langkah mereka dengan cepat, menghindari kejaran shinobi-shinobi Kumagakure yang mengejar mereka.
Tap.. tap..
'Sial.' Rutuk Konan.
Dihadapan merekan kini berdiri 4 orang shinobi yang menghadang mereka. Mereka terkepung, ditambah 5 shinobi yang kini sudah berhasi mengejar mereka. Dari hasil pengamatan Itachi kesembilan shinobi yang mengepung mereka semuanya setingkat jonin. 'Merepotkan.' Batin Itachi sambil menghela napasnya.
Kesembilan shinobi Kumogakure itu sudah memasang posisi siap bertarung, sementara Itachi dan Konan masih terdiam dengan pandangan dingin mereka.
Syatt..
Salah seorang dari mereka mulai berlari dan menghunuskan pedangnya kearah Itachi.
Tring..
Kunai beradu dengan pedang, Itachi berhasil menahan serangannya.
Syuutt..
Tiga shinobi lainnya mulai melemparkan beberapa shuriken kearah Itachi dan Konan..
Tring.. tringg.. tringg..
Yang berhasil dihalau Konan dengan kamishurikennya.
Syatt..
Tringg..
Sementara itu Itachi masih menghadapi seorang shinobi pengguna pedang itu. 'Sial, orang ini menghambat gerakanku. Kalau begitu..'
Sringgg..
"Sharingan" Itachi mengaktifkan sharingannya, membuat shinobi yang dilawannya terjatuh tidak sadarkan diri terkena serangan genjutsunya. Setelah pengguna pedang tadi Itachi telah berhasil melumpuhkan 4 lagi lawannya dengan menggunakan genjutsunya. 'Selesai 5 orang, tinggal 4 lagi. Konan.'
Sementara itu Konan terlihat terkepung oleh dua orang shinobi Kumogakure yang tersisa.
Syuutt.. syuuttt.. syuuttt...
Salah seorang dari mereka melempar puluhan shuriken kearah Konan. Sementara yang seorang lagi telah melilitkan benang cakra ditubuh Konan. Konan yang telah kehabisan cakranya tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia terjepit. Shuriken-shuriken itu semakin mendekat kearahnya siap menggoreskan luka di kulitnya. Konan memejamkan matanya pasrah.
Syuutt.. syutt.. syuutt..
Boff..
Ctak..
Konan merasakan ikatan benang cakra di tubuhnya melemah dan ia merasakan tubunhya terangkat.
.
.
Konan POV
Aku merasakan tubuhnku sedang diangkat dan digendong ala bridal style oleh seseorang dan aku merasa tubuhku yang sedang dibawa berlari dan melompati dahan-dahan pohon. Angin berhembus membelai wajahku, menghantarkan suatu aroma asing yang menghampiri indera penciumanku, 'Aroma hutan saat hujan. Menyejukkan.' Aku mulai membuka mataku, dan hal pertama yang kulihat adalah wajah rupawan partner misiku kali ini. 'Itachi?' batinku. 'Jadi aroma hutan saat hujan itu aroma tubuh Itachi?'.
Aku kembali menghadapkan wajahku keatas, tepatnya kearah Itachi. Wajahku seketika bersemu saat menyadari posisi kami dan wajah rupawan Itachi yang begitu dekat dengan wajahku. 'Tampan.' Batinku. 'Apa yang ku pikirkan?'.
Konan POV end
.
.
.
.
"Sial, mereka lari." Ujar salah seorang dari shinobi Kumogakure yang tersisa itu.
Tap.. tap..
Dua oramg shinobi Kumogakure menghampiri mereka.
"Bagaimana." Tanyanya.
"Mereka lari."
"Cih."
"Apa ada barang yang hilang dari kantor Raikage?"
"Tidak, sepertinya mereka belum sempat masuk."
"Baguslah."
"Ayo kembali."
"Ya."
.
.
.
.
Itachi berhenti di tepi sungai di tengah hutan yang sudah cukup jauh dari Kumogakure. Ia menurunkan Konan dari gendongannya. "Terima kasih." Ujar Konan pelan masih dengan pipinya yang bersemu merah.
"Hn." Sahut Itachi. "Kita sudah jauh dari Kumo dan sepertinya mereka sudah tak mengejar kita." Lanjut Itachi.
Konan menoleh kebelakang. "Ya."
Itachi mengedarkan pandangannya. "Kita bermalam disini." Ujar Itachi sambil melepas jubah Akatsukinya dan menyerahkannya kepada Konan. "Tidurlah."
Konan menerima jubah itu. " Ya." Sahutnya sambil membentangkan jubah Itachi dan berbaring diatasnya dan mulai memejamkan matanya.
Sementara itu Itachi juga membaringkan tubuhnya tak jauh dari Konan dan ikut memejamkan matanya.
.
.
.
.
Esoknya Itachi dan Konan kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka ke markas Akatsuki. Perjalanan mereka kali tidak terlalu membosankan seperti yang sebelumnya, karena kali ini mereka mengisi perjalanannya dengan obrolan ringan. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai disebuah sungai yang disekitarnya banyak ditumbuhi bunga mawar merah yang sangat indah. Mereka memutuskan untuk beristirahat disana.
Konan menghampiri pohon mawar itu. "Wah.. indahnya." Ujar Konan sambil memetik sebuah bunga mawar merah dan menyelipkan bunga itu dirambutnya. Konan menghampiri Itachi yang sedang duduk ditepi sungai.
"Kau suka mawar?" tanya Itachi tiba-tiba.
Konan mengalihkan pandanagannya kearah Itachi. "Ya." Ujar Konan sambil mengamati mawar yang barusan dipetiknya.
"Kenapa?" tanya Itachi.
Konan masih belum mau mengalihkan pandangannya dari mawar di genggamannya. "Mawar itu indah, dengan warnanya yang semerah darah"
"Mawar merah ya." Gumam Itachi pelan yang masih bisa didengar oleh Konan. "Bagaimana kalau kuberi bunga mawar yang spesial untukmu." Tawarnya.
Konan mengernyitkan alisnya bingung. "Apa maksudmu?" tanyanya.
Itachi tersenyum penuh arti. "Kau akan tau nanti." Ujarnya misterius.
Konan tak menyahuti ucapan Itachi. Mereka kembali terdiam, menikmati keindahan sore ini dalam diam.
.
.
.
.
Itachi dan Konan berlajan melewati koridor-koridor sepi dimarkas Akatsuki ini. Ya, mereka baru saja sampai di markas dan memutuskan untuk langsung menyerahkan laporan misi mereka kepada sang leader.
Tap..
Mereka berhenti didepan pintu ruangan Pain, Konan mengetuk pintu itu pelan.
Tok.. tok.
"Masuk." Ujar suara dari dalam.
Ceklek..
Itachi membuka pintu tersebut dan mulai melangkah masuk kedalam ruangan yang diikuti oleh Konan.
"Kalian sudah sampai." Ujar Pain.
"Ya." Sahut Itachi sambil menyerahkan salinan gulungan rahasia itu. "Ini gulungan rahasiannya."
Pain mengambil gulungan itu dam mulai membacanya. "Kerja bagus, Itachi, Konan." Ujar Pain setelah selesai membaca gulungan itu. "Baiklah, kalian boleh kembali ke kamar dan beristirahat."
"Kalau begitu kami permisi." Ujar Itachi yang kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan Pain diikuti oleh Konan.
Blam..
.
.
.
.
"Hei Itachi." Ujar Konan tiba-tiba saat mereka kembali berjalan melewati lorong-lorong menuju ke kamar.
"Hn." Sahut Itachi ambigu.
"Aku penasaran dengan mawar spesial yang kau maksud itu ." ujarnya.
Itachi tersenyum tipis. "Kalau begitu, akan kubawakan padamu. Tapi kau masih harus menunggu." Sahu Itachi sambil berjalan mendahului Konan dan masuk ke kamarnya.
Konan menatap punggung Itachi yang menghilang dibalik pintu. "Baiklah." Sahutnya pelan.
.
.
.
.
To be continued
.
.
.
.
A/N:
Hai.. saya kembali dengan fic Blue rose ini..
Untuk chapterini saya skip setting waktunya jadi 5 tahun kemudian dari chapter yang kemarin. Jadi usia Itachi 19 tahun, dan Konan 26 tahun.
Untuk adegan pertarungannya saya mohon maaf apabila adegannya kurang ngena, karena saya gak pandai bikin adegan pertarungan gitu.
Oke sekian aja dari saya semoga banyak yang suka sama fic ini ya, dan jangan lupa review.
.
.
.
.
Balasan review:
: Hehe.. iya, Konan dapet brondong nih..
Ini udah lanjut.. mampir lagi ya...
.
Sasshi Ken: Hehe.. Konan sengaja saya bikin OOC biar dia gak terlalu dingin gitu..
Makasih buat dukungannya Sasshi-san..
Mampir lagi ya..
.
.
.
.
Special thanks to:
Semua yang udah meluangkan waktunya untuk baca fic saya.
Semua yang udah ngefollow dan ngefave cerita saya
Maaf gak bisa ditulis satu-satu, tapi saya tetap berterima kasih banyak pada semuanya yang sudah mendukung fic ini..
.
.
.
.
Akhir kata
.
.
.
.
Review please
.
.
