Galerians, in.

A/N: Nothing to say. Ada banjir motivasi, jadi hamba nulis lagi.

(Tolong jangan sampai lupa membaca A/N di akhir chapter! SANGAT PENTING!)

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of romance for those who read.

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Goes Working

Part 2

(The Reunion of The Sun and The Venus)

Di tengah sebuah komplek perumahan yang padat bangunan, sekelompok anak-anak sedang mencari tempat untuk bermain bola yang baru mereka beli dengan uang patungan. Tak seberapa lama, mereka mendapati sebuah tanah kosong yang sangat cocok untuk tujuan mereka. Tanpa banyak ba-bi-bu, keenam bocah itu langsung menghambur ke dalam lapangan... atau setidaknya begitulah niat mereka sebelumnya. Karena tepat sebelum kaki mereka menapak tanah kosong itu, tiba-tiba saja langkah keenam bocah itu berhenti, dan mata mereka tiba-tiba saja kosong. Tak seberapa lama, mereka tiba-tiba saja tersentak seperti orang yang baru saja terbangun dari lamunan, sebelum berlari menjauhi tanah kosong itu sambil mengoceh riang soal di mana mereka bisa main dengan bola baru mereka. Tak satupun ada yang ingat tentang tempat yang tadi mereka temukan, mereka bahkan seperti tidak tahu kalau di situ ada tanah kosong.

Ini bukan cerita misteri, apalagi cerita hantu. Karena jika hanya menggunakan panca indera manusia biasa, takkan ada satupun orang yang bisa melihat lapisan tipis dan halus yang melingkupi tanah kosong itu. Bagi mereka yang mengetahuinya, lapisan ini adalah sebuah lapisan genjutsu yang berguna mengusir orang awam, sekaligus menyembunyikan sebuah bangunan di baliknya.

Rumah itu mungkin terlihat normal, tak ada bedanya dengan rumah orang Jepang pada umumnya, namun sesungguhnya tempat itu adalah satu dari sekian banyak tempat penyembuhan dan pengobatan bagi para shinobi yang terluka. Hidup seorang shinobi adalah kehidupan penuh bahaya dimana luka-luka adalah pemandangan sehari-hari, dan karena kaum shinobi harus menjaga kerahasiaan mereka dari khalayak ramai. Mereka tak bisa masuk rumah sakit biasa karena hal itu bisa menarik kecurigaan pada diri mereka, dan itu adalah sebuah resiko yang tak bisa mereka ambil.

Lalu apa yang membuat rumah ini begitu spesial? Karena dalam rumah inilah seorang shinobi berambut pirang sedang menjalani pengobatan.

Tak sampai sepuluh menit berlalu sebelum Naruto keluar dari rumah tersebut dengan wajah sedikit meringis karena menahan sakit, yang tak susah diduga penyebabnya karena sekujur tubuh remaja itu dibungkus perban. Baju seragam sekolahnya penuh bekas potongan dan bagian tangan kanannya pun robek seluruhnya. Seakan luka luar masih belum cukup menyiksa, tulang rusuknya yang baru saja patah dan belum sembuh sepenuhnya pun masih saja nyeri.

Dia merasa berat mengakui, akan tetapi luka-luka yang ia derita sekarang adalah bukti bahwa dia telah kalah telak dari musuh bebuyutannya. Lagi.

Si pirang itu menghembus napas berat, sebelum suara dari rumah yang baru ditinggalkannya membuat Naruto menoleh. Di sana, sambil menyandarkan sisi tubuhnya ke daun pintu, seorang wanita dengan rambut hitam pendek memandanginya dengan sebuah senyum halus.

"Jangan murung dong. Menurutku kalah sekali dua kali itu wajar-wajar saja."

Naruto hanya mendengus kesal. "Bukan hanya 'sekali dua kali', Shizune-neechan. Sampai hari ini aku belum pernah menang sekalipun."

"Jangan terlalu dipikirkan. Kalau dia mudah dikalahkan, dia tak pantas menyandang nama Uchiha." Shizune melanjutkan. "Lagipula, kau juga tidak akan senang kalau kau menang mudah kan? Paling tidak sekarang kau takkan malas berlatih."

Shizune menghembuskan napas sambil terus memerhatikan wajah berkumis kembar tiga cemberut yang sudah mulai cerah walau sedikit itu. Memang susah menghibur bocah ini kalau dia sudah terlanjur kesal. Dia memutar otak sebentar untuk mencari cara lain, tapi menyerah setelah beberapa saat karena dia sendiri sudah lelah karena bekerja seharian. Toh si pirang di depannya ini biasanya akan ceria lagi walaupun dibiarkan saja.

"Sudahlah, pergi sana. Kau belum lupa Tsunade-sama memanggilmu kan?"

Naruto tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil sebelum melompat ke atas atap dan mulai melesat ke arah tengah kota di mana tujuannya berada.

~•~

Berbeda dengan rumah sakit khusus shinobi yang baru ia kunjungi, Rumah Utama adalah sebuah tempat yang tidak dilapisi oleh lapisan genjutsu. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa walaupun memakai kata 'rumah', Rumah Utama sebenarnya adalah sebuah kompleks seluas lima hektar dengan bangunan-bangunan yang megahnya mampu membuat mata siapapun terbelalak. Lapisan genjutsu tak diperlukan karena keberadaan tempat ini memang tak dirahasiakan, karena nama klan Senju adalah nama yang mengilhami rasa hormat dan segan hampir di seantero dunia. Dari luar, klan Senju adalah multi-konglomerat dengan kekayaan dan pengaruh yang tak bisa diremehkan; bahkan sudah jadi kabar lama bahwa klan Senju juga bergerak di balik tirai politik dan seringkali ikut mempengaruhi setiap keputusan yang diambil oleh pemerintahan Jepang.

Di gerbang depan Rumah Utama inilah sekarang seorang Naruto Uzumaki berdiri dengan wajah heran. Karena dia tiba-tiba saja dicekal oleh para penjaga gerbang yang mengenakan hakama hitam dengan pedang terselip di pinggang mereka. Sebuah hal yang sangat jarang terjadi.

"Siapa namamu dan apa urusanmu di sini?"

'Ah, orang baru ya...' dia bergumam dalam hati. "Namaku Naruto Uzumaki, dan aku kemari memenuhi panggilan Godaime."

Salah satu penjaga yang memakai topeng bermotif wajah hewan itu diam sebentar sebelum menatap rekannya, lalu mendengus, "Uzumaki? Nama klan rendahan dari mana itu?"

Dahi Naruto berkerut ketika mendengar suara yang kasar dengan nada meremehkan itu. Ketika ia mendengar kedua penjaga itu mulai tertawa, tangannya mengepal begitu kuat sampai buku tangannya memutih karena amarah yang mulai terbakar dalam hatinya. Namun dia menahan diri karena membuat masalah di tempat hanya akan merugikannya.

Namun pikiran Naruto serta-merta teralihkan ketika sebentuk tinju yang besarnya beberapa kali lipat ukuran normal tiba-tiba saja menghantam penjaga tak sopan itu, membuat tubuhnya melayang dan menghantam dinding semen dengan suara derak keras.

Si penjaga satunya langsung menghunuskan pedangnya pada sang penyerang, tapi dengan tergesa-gesa menyarungkannya kembali setelah sadar siapa yang dihadapinya. "A-Akimichi-sama!" dia segera membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat. Karena setidaknya dia tahu bahwa melawan Chouji Akimichi adalah sebuah hal yang pasti akan mengirimnya ke dunia selanjutnya.

"Chouji," sebuah suara tenang, bahkan hampir terdengar seperti malas-malasan, terdengar memberi peringatan halus pada sahabatnya. Tinju raksasa yang terlihat sangat berbahaya itu segera menyusut ke ukuran semula, walau wajah sang pemilik masih merah menahan marah. "Jangan bikin rusuh dong. Merepotkan saja."

"Naruto!" satu-satunya orang yang berambut pirang di tempat itu tersentak kaget. "Kenapa kau mau-mau saja dihina , hah!"

Naruto menggaruk kepalanya, "Aku hanya nggak mau merepotkan Baa-chan..."

Ekspresi terkejut langsung terpasang di wajah Chouji sementara Shikamaru hanya mengangkat sebelah alisnya. Dia memang tahu tentang masalah yang sekarang dihadapi salah satu sahabatnya itu, terutama karena topik itu sudah menjadi rahasia umum di Rumah Utama. "Kau datang karena dia memanggilmu kan? Kalau begitu, ayo, biar kami temani."

Naruto melempar pandangan penuh terima kasih pada kedua temannya itu sambil melangkah masuk melalui rumah utama. Chouji segera mengikutinya, namun Shikamaru tak beranjak untuk beberapa saat.

Dia benci melakukan ini, terutama karena dia malas, tapi kadang ada orang-orang yang pantas menerima hukuman.

Ketika dia yakin kalau kedua temannya sudah cukup jauh, dia bergerak mendekati si penjaga yang masih sadar dan dengan gerakan tiba-tiba, mencekal kerahnya. "Kau."

"E-e-eh?" sang penjaga terbata-bata kebingungan. Suara dan wajah Shikamaru masih menunjukkan sikapnya yang malas-malasan, tapi ada kilatan aneh di mata pemuda berambut nenas itu yang membuat nyalinya ciut seketika.

"Akan kuperingatkan kau satu kali. Aku tak peduli namamu siapa, atau dari klan mana, tapi kalau sekali lagi kudengar kalian menghina sahabatku..." Shikamaru menggantung kalimatnya. Sang penjaga yang nama sebenarnya takkan pernah Shikamaru ketahui itu tiba-tiba merasakan ada yang merayap di tangan dan kakinya. Ketika sadar bahwa yang merayap itu berasal dari bayangan dari orang yang mencekalnya, dia hampir ngompol saking ketakutannya. "Akan kupatahkan tangan dan kakimu. Mengerti?"

Lelaki itu hanya mengangguk-angguk dengan sekuat tenaga sambil menahan air mata yang hampir mengalir akibat rasa takut yang luar biasa. Dia bahkan hampir tak sadar kalau Shikamaru sudah melepaskannya.

"Oh ya, sekadar info buat temanmu yang pingsan itu, tentang nama belakang Naruto yang sebenarnya," Shikamaru berhenti sebentar. "Pernah dengar nama Namikaze?"

Shikamaru tak perlu melihat menembus topeng porselen itu untuk tahu bahwa wajah sang penjaga kini pasti sudah berubah pucat pasi, dan asumsinya semakin diperkuat oleh tubuhnya yang tiba-tiba tegang dan kedua kakinya yang gemetaran. Dia sendiri kini berbalik dan mulai melangkah, berniat menyusul kedua temannya yang sudah duluan.

~•~

"Naruto!" seorang wanita pirang, namun warnanya lebih pucat dari rambut Naruto, menghampiri pemuda itu. "Kenapa kau lama sekali baru datang hm?"

"Biasa, ada sedikit urusan," sahut Naruto sambil nyengir lebar. "Jadi? Kenapa kau memanggilku, Tsunade-baachan?"

"Ah, soal itu..." Tsunade berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Bisakah kau datang ke ruanganku nanti? Aku masih ada pertemuan."

"Oke. Kapan?"

"Ehh, aku tidak yakin, tapi akan kuutus seseorang untuk memanggilmu kalau urusanku sudah selesai."

"Oke!"

Tsunade melangkah pergi, tapi tidak sebelum menghampiri Naruto dan mengacak-acak rambut pemuda yang sudah dianggapnya sebagai cucunya sendiri itu.

Naruto mengusap kepalanya sambil memasang wajah kesal, walau dia tak bisa menyangkal rasa senang yang menyusup dalam hatinya karena perlakuan sayang yang selalu dia terima dari wanita itu. Tak seberapa langkah, dia telah sampai kembali ke tempat Shikamaru dan Chouji menunggunya.

"Lho, kukira kalian sudah tak ada di sini lagi."

"Kami punya pertanyaan soal siang tadi," sahut Shikamaru. "Jadi?"

Wajah Naruto yang tadi sudah cerah tiba-tiba cemberut lagi. "...Aku kalah."

Ada senyap sejenak, "Hahahahaha!"

Naruto langsung mencak, "Oi, kenapa kau malah ketawa, gendut!"

Air muka Chouji langsung berubah 180 derajat. "Apa kau bilang?! Aku tidak gendut, cuma tulangku yang besar!"

"Gak ada bedanya dengan gendut, gendut!"

Sebelum pertengkaran kedua remaja itu semakin parah, Shikamaru tiba-tiba saja muncul dengan sebungkus keripik kentang di tangannya.

Kepala Chouji berputar begitu cepat sampai Naruto bersumpah dia mendengar tulang lehernya berderak.

"KERIPIK KENTANG!"

"Yosh, yosh..." Shikamaru memutar-mutar bungkusan makanan itu di atas kepalanya, mata Chouji mengikuti pergerakannya dengan napas mendengus dan liur menetes. Dengan satu putaran terakhir, Shikamaru melempar bungkusan itu ke ujung koridor. "Ambil!"

Naruto memerhatikan temannya yang gemuk melesat dan langsung melahap makanan kesukaannya itu dengan penuh nafsu. "Oi," dia ganti menatap Shikamaru. "Kenapa wajahmu terlihat puas begitu, setan!"

Shikamaru hanya mengangkat bahu. "Eh, sudah biasa," dia berbalik dan memberi Naruto pandangan datar. "Jadi kau kalah lagi."

Naruto mengangkat sebelah alisnya sebelum menyahut, "Permisi." Detik berikutnya, dia sudah jongkok di sebuah sudut sambil bermuram durja dengan mata berkaca-kaca, lengkap dengan aura ungu kehitaman menaungi puncak kepalanya. "Aku juga ogah kalah melulu. Tapi kenapa semuanya senang sekali mengingatkanku?"

Shikamaru langsung menyesali kalimatnya tadi, "Sori, aku tidak bermaksud mengejek kekalahanmu." Bukannya jadi cerah, aura si pirang malah jadi makin kelam saja. "Oi, Naruto! Aku mau bicara serius nih!"

Naruto mengangkat wajahnya, dan baru kelihatan kalau dia sudah benar-benar menangis dengan hidung meler. "...Apa?"

"Tolong jangan beritahu Hokage-sama tentang ulah si Uchiha siang tadi."

"Hah? Kenapa?" tensi Naruto mendadak naik. "Kau lupa kalau dia hampir mencelakakan Chouji? Kenapa kau malah melindunginya?"

"Oi, dengarkan dulu," Shikamaru menarik napas panjang sambil melepaskan kalimat favoritnya ("Merepotkan saja"). "Bukannya aku melindunginya, oke? Aku tahu kalau kau marah, tapi kau tahu sendiri kan situasi antar klan makin memburuk? Tidak hanya masalah dengan klan Uchiha, hubungan antara klan Senju dan klan Hyuuga sudah makin merenggang saja. Keadaan kita sekarang bak telur diujung tanduk, salah satu langkah dan bam." Shikamaru mengepalkan tangannya di depan Naruto untuk memberi empasis.

"...Perang." Naruto melanjutkan dengan suara agak tercekat.

"Itu masalahnya. Dan kau tahu sendiri kalau melaporkan kejadian siang tadi sama sama menyiram api dengan bensin." Naruto tahu kalau Shikamaru sudah bicara serius, maka ucapannya pun tak boleh dipandang remeh. "Hokage-sama sudah berusaha sebisa mungkin untuk menetralisir keadaan ini, itulah sebabnya akhir-akhir Rumah Utama terlihat lengang."

Shikamaru melihat air muka Naruto berubah gundah, dan karena mereka adalah sahabat karib yang tumbuh bersama dari kecil, dia langsung tahu apa yang ada di kepala penuh rambut pirang jabrik itu.

"Dengar aku, walau aku mengatakan semua hal itu tadi, bukan berarti kita akan membiarkan hal ini begitu saja," kalimat Shikamaru langsung memberi efek positif pada Naruto. "Aku akan pergi membicarakan hal ini dengan Asuma-sensei, dan akan kukabari kau nanti, oke?"

Naruto mengangguk sebelum menepuk pundak Shikamaru, "Terima kasih. Aku tahu kau benci hal-hal yang merepotkan, tapi-"

"Ah, berisik," potong Shikamaru sambil menepis tangan Naruto. Tapi senyum tipis yang terpasang di wajahnya seakan berlawanan dengan kata-katanya. "Ini memang merepotkan, sangat merepotkan malah," dia berbalik dan mulai berjalan pergi. "Tapi aku dan Chouji akan lebih kerepotan lagi kalau kami harus melihat wajah murungmu itu."

Naruto hanya bisa terdiam sambil memandangi punggung sobatnya itu. Dia merasa ada sebongkah batu yang mengganjal di tenggorokannya. Dalam diam, dia mengirim syukur pada Tuhan karena setelah semua yang terjadi dalam kehidupannya, dia masih diberkahi teman yang bisa diandalkan.

~•~

Sepeninggal Shikamaru dan Chouji, Naruto melangkah keluar dari bangunan megah yang merupakan Kantor Hokage. Dia memandang berkeliling sebentar, sebelum menemukan apa yang ia cari.

Dia mendekati sebuah pohon, tangannya menyusuri batangnya dan menemukan bekas-bekas sayatan yang dulu sekali ia buat sendiri.

"Kaa-chan, lihat! Aku sudah makin tinggi!"

Seorang wanita dengan rambut merah panjang mendekatinya dengan senyum lebar. "Bagus, bagus! Kalau begini takkan lama lagi sampai kau jadi setinggi Kaa-chan, ttebane!"

Seorang pria pirang, dengan mata biru yang serupa dengan mata Naruto sendiri, menghampiri mereka. "Kurasa masih lama sampai dia bisa setinggi kau, Kushina."

Naruto mengelus bekas di pohon itu dengan seulas senyum sedih terpasang di wajahnya. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke depan, dan tertangkap oleh matanya rumput-rumput yang rebah sampai membentuk sebuah jalur.

"Naruto, jangan pergi sendirian, kalau kau tersesat bagaimana?"

"Tenang saja, Tou-chan!" dia menyahut dengan senyum lebar sebelum mulai menginjak-injak rumput di bawah kakinya yang kecil. "Lihat, kalau aku membuat bekas di rumput seperti ini, Tou-chan dan Kaa-chan pasti bisa menemukanku kan?!"

Seakan diperintah oleh makhluk yang tak terlihat, kedua kaki Naruto mulai melangkah sendiri mengikuti jalur rumput rebah itu. Dan dengan setiap langkah, memori-memori yang tersimpan jauh di dalam perbendaharaan kepalanya mulai mengapung ke permukaan. Momen saat ibunya mengomel karena Naruto terjatuh dan melukai lututnya, momen ketika ayahnya menjerit karena laba-laba yang Naruto lemparkan padanya, momen ketika ayahnya mencubit pipi Naruto sambil tersenyum lebar sedangkan ibunya tertawa melihat wajah anaknya...

Naruto bahkan tidak sadar kalau langkah kakinya telah membawa pemuda itu ke sebuah petak tanah kosong yang tidak ditumbuhi pohon.

Di sinilah tempatnya. Naruto bisa ingat ibunya yang tiba-tiba saja berteriak memanggil namanya, menyuruhnya lari dan bersembunyi. Dia bahkan seakan bisa melihat kembali bagaimana dia yang saat itu baru berusia 5 tahun jatuh terduduk karena kedua kakinya kehilangan tenaga.

Di depan mereka, seekor makhluk iblis raksasa, sembilan ekornya yang berkibas ganas seakan membawa kematian dan kehancuran dengan setiap goyangannya. Hal terakhir yang bisa Naruto ingat ketika itu adalah ayahnya yang mengeluarkan sebuah kunai bercabang tiga sebelum menyerbu sang iblis dan teriakan ibunya.

Semuanya menjadi kabur setelah itu.

Naruto mencengkeram dadanya yang kini begitu sesak, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang tak urun menetes jatuh mengaliri pipinya. Inilah kenapa dia tak pernah suka kembali ke Rumah Utama, karena memori menyakitkan yang dibangkitkan tempat ini tak pernah sekalipun gagal membuat hatinya seperti diiris sembilu.

Tetapi sebelum Naruto bisa tenggelam lebih jauh dalam kesedihannya, dia tersadar akan pemandangan aneh yang kini ada di hadapannya. Belasan, tidak, puluhan kunang-kunang tiba-tiba saja berkumpul di hamparan padang rumput kecil yang dipijaknya.

Mata Naruto melebar dengan kekaguman. Dia tak pernah sekalipun melihat kunang-kunang sebanyak ini, dan fakta bahwa mereka seperti berkumpul karena sesuatu membuat pemuda itu bertanya-tanya apa yang menyebabkan fenomena menakjubkan ini bisa terjadi.

Dia tak perlu kebingungan untuk waktu yang lama, karena Naruto sudah menemukan apa yang ia cari hanya dengan mengikuti arah para kunang-kunang itu terbang dan berbalik.

Dengan jarak tak lebih dari 20 langkah dari posisinya berdiri sekarang, seorang gadis terlihat sedang menari tanpa secercah pun kepedulian akan dunia di sekitarnya. Yukata tanpa motif berwarna biru malam yang tersandang tubuhnya nampak begitu kontras dengan rambut panjangnya yang berwarna merah menyala. Bulan yang sedari tadi bermain petak umpet di belakang awan pun seakan tak ingin melewatkan kesempatan ini, ia keluar dari persembunyiannya dan menyirami sang gadis dengan cahayanya.

Napas Naruto tercekat ketika melihat siraman sinar rembulan yang memantul dari rambutnya bagaikan membuat gadis itu sedang menari dengan kobaran bara, rambutnya yang bercahaya meliuk seperti jilatan api selagi ia memutar tubuhnya dengan gemulai yang cukup untuk menyebabkan kaki Naruto berubah jadi batu dan memutus saluran pernapasannya.

Rasa takjub Naruto tiba-tiba saja terganggu ketika gadis itu membuka matanya, dan mendadak berhenti menari setelah sadar kalau dia tidak sendirian.

Naruto, yang masih terpana dan sama sekali tidak berjalan otaknya, hanya bisa mengangkat sebelah tangan dan mencetuskan kata pertama yang muncul di kepalanya, "...Hai?"

To be Continued

Mari kita lihat apakah hamba bisa mempertahankan motivasi untuk menulis ini.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.