yeah, akhirnya selesai chapter 3, maaf agak lama buat nyelesain chapter ini karena selain panjang juga karena kesibukan saya yang sangat padet jadi ga bisa fokus buat nyelesain chapter ke 3 ini, oke silahkan dinikmati fanficnya !
Hari ini adalah festival budaya, kelasku membuat acara café untuk acara hari ini, sebenarnya aku tidak mau berpartisipasi untuk acara acara seperti ini, tetapi ayano berkata jika aku tidak berpartisipasi dalam acara ini, maka dia pun tidak akan ikut, tahun lalu ayano adalah salah satu pelayan yang yang membuat café kelas kami sangat ramai, yah jadi sebenarnya harus bagaimana lagi, aku terpaksa harus ikut berpartisipasi dalam acara ini.
Aku ditempatkan di shift berbeda dengan ayano, yah, aku menjaga dari jam 09.00 sampai jam 12.00 sementara ayano dari jam 12.00 sampai jam 03.00, pagi harinya ayano mengirim pesan padaku bahwa dia akan datang sekitar jam 11, untuk apa dia mengatakan hal itu, lagi pula aku tidak peduli dia akan datang jam berapa pun.
Aku mulai mengganti pakaianku dengan pakaian khusus untuk café dikelas kami, café kelas kami cukup ramai didatangi pengunjung, aku mendapatkan pekerjaan mengiris sayur sayuran kali ini, ini agak merepotkan memang, tapi akan kulakukan sebisa ku.
Aku terus mengiris sayur sayuran sebisaku, seharusnya pekerjaan seperti ini dilakukan oleh wanita, walaupun aku selalu mendapatkan hasil yang baik dalam tes ku, tetapi dalam hal ini aku tidak yakin dengan hasil irisanku ini.
"hey, shintaro-kun coba berikan pisaunya kepadaku."
Seseorang mengatakan hal itu sambil menyentuh pundaku dari belakang
"eh ? kau sudah datang ? bukankah kau akan datang jam 11 ?"
"aku tahu kau tidak terlalu bagus dalam pekerjaan hal ini, jadi biarkanlah aku datang lebih awal untuk membantumu oke ?"
"terserah lah.."
Walaupun ayano selalu mendapatkan hasil yang buruk dalam tes akademik, namun dia unggul dalam hal hal seperti ini, yah itu kebalikannya dariku.
Lalu dia mengambil pisau dari tanganku dan melanjutkan pekerjaanku, tak lama kemudian 2 perempuan di kelasku menghampiri kami
"ayano kau sudah disini ? bukankah shift mu dimulai jam 12 ya ? lalu kenapa kau menggantikan posisi shintaro ?"
"aku hanya membantunya, lagi pula tidak apa apa kan aku datang lebih awal ?"
"oh oke baiklah kalau begitu"
Lalu kedua teman sekelasku itu pergi menjauh meninggalkan kami berdua, terlihat mereka sedang berbisik satu sama lain, walau samar samar, tetapi suara mereka cukup terdengar oleh telingaku.
"dia selalu melakukan itu terhadap shintaro, apa kau tahu hubungan mereka ?"
"entahlah, kukira mereka seperti berpacaran bukan ?"
"mana mungkin ! ayano tidak mungkin menyukai laki laki seperti shintaro"
'tapi kau lihat kenyataannya bukan …"
Suara mereka semakin menjauh dan tidak terdengar lagi olehku, mendengar kata kata mereka tadi kukira aku pun mereasa aneh jika seorang gadis ceria seperti dia dapat menyukaiku. Ya kurasa itu juga hal yang tidak mungkin, tetapi kalau begitu yang mereka maksud bisa saja aku tidak menarik dikalangan wanita ?
"menjengkelkan"
"hm ? ada apa shintaro-kun ?"
Seketika ayano membalikan wajahnya saat aku mengatakan hal itu.
"ah tidak, lupakan saja."
Lalu ayano pun kembali mengiris ngiris sayuranya, keheningan terjadi saat itu, tetapi tak berapa lama ayano pun membuka pembicaraan kembali.
"oya shintaro-kun, sehabis pekerjaan kita selesai, bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah hantu di pojokan lorong sana."
"apakah kita akan tepat waktu ? pekerjaanmu selesai jam 3 sore, sementara saat itu juga festival budaya hari ini berakhir"
"hm tidak bisa ya ? yasudah"
Beberapa saat kemudian datang seorang perempuan menghampiri kami
"ayano apa yang kau lakukan ? sekarang sudah masuk shiftmu, bukankah kau bekerja di bagian pelayanan ?"
"eh ?"
Ayano menoleh melihat ponselnya, terlihat diponselnya menunjukan pukul 12.10
"oke oke, dimana aku bisa mendapatkan pakaian pelayanku ?"
"kau bisa mengambilnya dibelakang, oya berikan pisaunya kepadaku, aku bekerja dibagian pengirisan sekarang.."
"oh baiklah"
Ayano lalu pergi kebelakang untuk mengganti pakaian, sementara aku hanya duduk dibelakang teman sekelasku yang sedang mengiris sayuran.
"shintaro, mengapa tadi ayano yang mengerjakan pekerjaanmu ?" dia mengatakan hal itu sambil mengiris sayuran
"dia yang menawarkan diri untuk pekerjaan itu."
"begitu ya, sebenarnya kau sangat beruntung sekali memiliki ayano disisimu.."
"apa maksudmu ?"
"maksudku, jika aku jadi kau kurasa aku akan memutuskan untuk menikahinya."
"hei tunggu, kau ini adalah wanita."
"ya, makanya aku tidak bisa menikahinya."
"kulihat dia selalu membantumu, tetapi aku belum pernah melihat kau membantunya.."
"eh ?"
"maksudku, dia selalu ada untuk membantumu, tapi apakah kau membantunya saat dia menangis ?"
"menangis ? aku tidak pernah melihatnya menangis."
"aku pernah melihat beberapa kali dia menangis di kelas saat sekolah telah kosong, namun saat aku menyapanya dia langsung menghapus air matanya dan memberikan senyuman seperti tidak terjadi apa apa, kurasa kau mungkin mengapa dia menangis ? aku sudah memergokinya beberapa kali menangis seperti itu."
"entahlah, aku tidak tahu, aku tidak pernah melihatnya menangis."
"ah begitu ya, kurasa kau harus lebih memperhatikannya, hati wanita sangat rapuh loh."
"ah ya, kurasa.."
Semua orang pasti mempunyai masalah, dan kurasa tidak baik pula jika orang itu tidak ingin membicarakan masalahnya, ya lebih baik aku pura pura tidak mengetahui saja tentang hal ini.
Tiba tiba ada seseorang yang memanggilku dari belakang
"shintaro-kun !"
Aku langsung berbalik kearah belakang dan melihat seorang gadis yang begitu manis dengan pakaian pelayannya
"hei, lihat lihat apakah aku cocok memakai ini ?"
Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan itu, aku hanya menatap ayano yang begitu manis dengan pakaian pelayannya, tampaknya ayano memiringkan wajahnya seperti kebingungan
"shintaro-kun ? ada apa ?"
Seketika kata kata itu membuatku sadar saat sebelumnya aku membatu karena melihat ayano, kurasa wajahku langsung memerah, karenanya ku palingkan wajahku ke lantai dan menutup bagian pipi dan mulut dengan tangan kiriku.
"ah, ya itu terlihat bagus untukmu.."
aku tidak pernah sepanik ini seumur hidupku, sepertinya reaksi yang ku berikan terlalu berlebihan.
"benarkah ? terimakasih ! aku akan bekerja sekarang,lalu apa yang akan kau lakukan sekarang shintaro-kun ?"
"aku akan berjalan jalan keluar sebentar, kurasa aku akan menunggumu sampai pekerjaanmu selesai, lalu setelah itu kita bisa pulang bersama bukan ?"
Mendengar hal itu ayano mengerutkan dahinya dan menempelkan tangannya di keningku, sontak itu membuatku agak kaget.
"hei hei, ada apa kau tiba tiba menyentuh keningku ?"
"tidak, kukira kau agak sedikit sakit hari ini, kau terlihat begitu baik hari ini shintaro-kun !"
Dia mengatakan hal itu dengan senyum dan wajah yang memerah, lalu dia berbalik dan berlari kecil untuk mulai melayani pelanggan.
"lihat bukan ? kau harus lebih bersikap baik kepadanya, itu saja sudah membuatnya senang kok."
"aku tidak peduli jika dia senang atau tidak.."
"yah, kau selalu saja seperti itu ya.."
"ah, sudah cukup aku akan pergi.."
"yasudah, nikmati festival budaya ini ya.."
"yo !"
Aku sedikit berputar putar didaerah sekolah untuk mencari beberapa hal yang mungkin menarik, tapi tak ada satupun yang membuatku tertarik disini, aku pun memutuskan untuk pergi ke atap dan melamun seperti biasa, beberapa puluh menit ku habiskan hanya untuk melihat awan yang terus bergerak, tak terasa sudah 45 menit aku berada disini, aku pun memutuskan untuk kembali ke café, yah lagi pula café kelas kami berada di dekat lorong menuju atap, jadi aku tidak perlu membuang buang tenaga untuk pergi kesana.
Saat aku menuruni tangga menuju ke café, terdengar suara dua orang wanita yang sedang berbicara, seketika aku pun menghentikan langkahku.
"hei lihat kan café kelas kita menjadi ramai saat ayano menjadi pelayan.."
"ya, kau tahu akua agak kasihan terhadapnya yang terus terusan dicuekin shintaro.."
"eh ? memangnya kenapa dengan ayano dan shintaro ?"
"tidak, kurasa keperibadian mereka sungguh sangat berbeda, padahal kalau ayano bersama dengan pria yang lebih baik, kurasa itu tidak akan terlalu merepotkannya."
"bukankah mereka memang tidak berpacaran ?"
"etto bukan maksudku menjurus untuk mengatakan hal itu, tetapi terlalu banyak waktu yang dia buang bersama shintaro, padahal jika aku menjadi ayano kurasa aku akan berteman dengan pria yang memiliki sifat yang lebih baik
"alasan itu bisa dimengerti, hei lihat lihat kenapa café kita jadi seramai itu ? oh hei ITU DIA ! ayo kita juga kesana untuk mendapatkan foto bersama."
Kedua wanita itu tiba tiba pergi menuju arah café kelas kami, aku memikirkan hal yang tadi mereka katakan, sebenarnya untuk apa ayano terus ada bersamaku ? kurasa aku tidak pernah melakukan apa apa untuk membuatnya bahagia, aku hanya bisa mengeluarkan kata kata kasar dari mulutku yang selalu membuatnya murung.
Tiba tiba ada getaran yang berasal dari saku ku. Sontak hal itu membuatku kaget, aku langsung merogoh sakuku dan mengambil handphoneku, didalamnya terlihat ada sms yang baru saja sampai.
From : Ayano tateyama
Subject: -
Text:
Shintaro-kun ! ayano kesini ! ada masalah besar !
Setelah kubaca pesan itu aku sejenak berfikir ada sebenarnya, aku langsung melangkahkan kakiku dan berjalan agak cepat menuju ke ruangan café, dari kejauhan sudah terlihat banyak sekali orang berkerumunan disana, kurasa memang ada masalah disana, aku pun mempercepat langkah kakiku.
Setelah aku mendekat terdengar suara orang orang itu mendengar nama seseorang yang tidak asing bagiku.
"MOMO-CHAN !"
"MOMO-CHAN !"
"MOMO-CHAN !"
Terdengar nama itu disebut sebut oleh gerombolan pengunjung dan siswa yang menggerombol didepan pintu café, tidak salah lagi kalau momo sedang berapa disini, tetapi aku tidak bisa melihatnya karena terlalu banyak orang berhimpitan didepan pintu masuk, tak lama kemudian ada seseorang yang menepuk pundaku.
"Shintaro-kun !"
Aku pun berbalik dan melihat ayano dengan baju pelayannya tampak dengan wajah yang panik sekali.
"hei apa yang terjadi ?"
"adikmu.. aku aku ah pokoknya bagaimana cara menghilangkan kerumunan itu dari adikmu !"
" hei hei tenangkanlah dirimu, tunggu tunggu sebentar.."
Aku tidak pernah melihat ayano sepanik ini, dia sangat terlihat cemas akan keselamatan adiku. Aku berfikir beberapa saat cara untuk menerobos kerumunan itu, tetapi sikap panik ayano itu membuatku tidak bisa berfikir.
"Onee-san ?"
Tiba tiba ada 3 orang anak seumuran dengan adiku yang masih memakai seragam sekolah mengatakan hal itu kepada ayano, ayano yang tampak kebingungan tiba tiba membalikan wajahnya.
"Kousuke, shuuya, Tsubomi ! ah TSUBOMI !"
Ayano memegang bahu anak yang berambut hijau itu dengan kedua tangannya, wajahnya seperti menemukan titik terang didalam kebingungan yang sedang dia alami.
"onee-san tunggu ada apa ?"
"kau bisa melakukannya bukan ? ayolah tolong lakukan hal itu sekali saja ! ini keadaan darurat !"
"apa maksudmu nee-san ?"
"kau lihat kerumunan itu bukan ? apakah kau bisa menyelamatkan gadis berambut kuning itu untuku tsubomi ? kumohon !"
Aku melihat pemandangan itu seakan aku tidak mengerti apa yang ayano katakan, sebenarnya bergantung pada orang lain yang lebih muda apa lagi dia seorang gadis itu bukanlah hal yang tepat, lalu apa yang dia maksud kekuatan ? hei ini bukanlah sebuah permainan kukira, jadi apa yang dimaksud oleh ayano barusan ?
"hm, baiklah tunggu sebentar.."
Kemudian anak itu berjalan mendekati gerombolan itu, dia mulai masuk kedalamnya dan beberapa saat kemudian dia membawa momo keluar bersamanya.
"aku sudah membawanya nee-san !"
"terima kasih tsubomi ! tampaknya kita tidak bisa terus diam disini, ayo kita bergegas keatap, lagi pula disana sepi bukan ?"
"hm, baiklah.."
Tak lama kemudian kami semua telah berada diatap, ternyata penyebab momo berada disni karena dia memgirimkan pesan kepada ayano dia bilang ingin melihat festival budaya di sekolah ku, tetapi aku tidak pernah memperbolehkan dia untuk datang kesini, maka dari itu ayano bilang tidak apa apa datang ke sekolah asalkan aku tidak mengetahuinya.
"yah , bukannya aku tidak memperbolehkanmu datang kesini, tetapi kau lihatkan apa yang terjadi jika kau ada di tempat yang ramai ? kau ini adalah seorang idola kau harusnya mengerti kau akan selalu menjadi pusat perhatian.."
Aku menceramahi momo yang duduk di bangku yang berada diatap sekolah, namun tampaknya ayano agak terganggu dengan kata kataku yang ku keluarkan terhadap momo, dia pun mendatangiku dengan ekspresi yang terlihat serius.
"shintaro-kun, bisakah kau lebih lembut padanya ? dia ini adikmu bukan ? kau selalu melakukan hal itu, bahkan terhadapku.."
Mendengar hal itu aku mulai menyadari apa yang sebenarnya aku lakukan, orang orang tidak nyaman berada didekatku mungkin karena sikapku ini, ayano baru pertama kali mengatakan hal itu dihadapan ku, kurasa, jika terus menerus seperti ini bahkan ayano pun bisa berhenti berteman dengaku karena sifatku ini.
"kau benar ayano-san ! tolong rubahlah sifat kakaku yang bodoh ini.."
"eh, kau pun tidak harus berkata seperti itu, aku selalu ada disamping kakakmu benar ? aku bisa menegurnya jika dia berbuat kesalahan.."
Mendengar momo dan ayano sedang berbicara tampaknya ketiga anak yang kukira adalah adik adiknya ayano mulai berbicara, diawali oleh anak yang berambut coklat, tampaknya dia ingin mengatakan sesuatu pada ayano
"etto, tunggu tunggu, onee-san, siapakah pria yang disampingmu itu ? apakah dia pacarmu ?"
"EEEH ?"
Sontak aku dan ayano kaget mendengar hal itu, wajah ayano tampak memerah dan kakinya tampak tidak teratur setelah mendengar hal itu.
"sh-shuuya ! itu tidak benar ! jangan mengatakan hal seperti itu, itu tidak terlalu sopan tau !"
"onee-san, aku mendengarnya dari kousuke loh.."
"EEH ? oi shuuya aku tidak pernah mengatakan hal itu terhadapmu ! jangan seret namaku atas kebohonganmu !"
"eh sudah sudah jangan bertengkar, kalian ini saudara, jadi tidak perlu bertengkar hanya karena hal seperti ini."
"hmm, tunggu tunggu sebentar, saat ayano-san berkunjung ke rumahku untuk menjenguk onii-chan aku tidak pernah menanyakan kalian berpacaran atau tidak bukan ? dan juga kurasa kalian begitu dekat layaknya seperti sepasang kekasih, dan juga jika kalian tidak berpacaran, mengapa kalian tidak berpacaran saja ?"
"EEEEH ?"
Mendengar hal itu sontak kami kaget sekali, bahkan aku tidak pernah menyangka kata kata itu keluar dari mulut adiku, wajah ayano tampak sangat memerah, dan aku pun bingung harus mengatakan apa, aku tidak ahli dalam masalah seperti ini.
"eeh momo, i-itu bukanlah pertanyaan yang harus kujawab bukan ? a-ayo lah lebih baik kita ganti topik pembicaraan ini."
"tetapi, apa pendapatmu ayano-san tentang onii-chan ? apakah kau menyukainya ?"
"EEH etto-"
Aku hanya bisa menatap wajah ayano yang sangat memerah dan ketika mata ayano menoleh kearahku aku pun hanya bisa memalingkan mata dan menatap lantai, tak bisa kupungkiri aku pun merasa agak aneh jika dihadapkan dengan situasi seperti ini.
"bagaimana ayano-san ?"
Ayano tampak sedikit kebingungan untuk menjawabnya, tetapi kali ini sepertinya dia mulai menarik napas untuk bersiap menjawabnya, aku agak kebingungan sekarang jika ayano bilang dia sebenarnya menyukaiku aku tidak tahu harus mengatakan apa setelah itu.
"huh, begini momo, bukankah tidak baik memaksakan cinta terhadap orang yang tidak kau sukai ? benarkan shintaro-kun ?"
"ah, terserah lah.."
Hati ku terasa pecah setelah mendengar hal itu, aku seperti dihadapkan pada jawaban yang diriku sendiri belum siap untuk menerimanya.
"hmm, jadi begitu ya, baiklah, tetapi kau berkata jujur kan akan terus menemani kakak ku ?"
"ya tentu saja ! eh eh aku lupa kalau aku ini sedang bekerja, aduh bagaimana ini, ya semuanya, lebih baik kita kembali kebawah saja, kurasa karena sebentar lagi festival budaya akan segera ditutup pengunjung akan lebih sedikit, momo kau juga bisa ikut kebawah juga."
Lalu kami berjalan menuju ke arah tangga, tiba tiba dari belakang momo menepuk punggu ku dan membisikan sesuatu.
"sabar ya onii-chan ! kau baru saja ditolak oleh seorang gadis fufufu…"
"ah berisik kau menjengkelkan.."
Aku tidak ingin mengingat hal itu lagi, biarkanlah hal itu berlalu dan hari hari biasa terus berjalan, sesaat aku melihat jam didalam ponsel ku, didalamnya menunjukan pukul 2:30, kukira kenapa aku harus mengatakan aku akan menunggunya sampai selesai bekerja jika begini jadinya, aku merasa menyesal telah mengatakan hal itu.
Kami pun menuruni tangga dan telah sampai di pertigaan lorong.
"baiklah nee-san kami pulang duluan, oya kami akan pergi ke toko kue yang biasa kau mampir, apakah kau ingin nitip beli sesuatu disana ?"
"hmp ! aku ingin cream cake saja.."
"baiklah.."
"aku juga sepertinya ingin pulang sekarang, ayano-san maafkan aku telah membuat keributan disekitar sini dan tolong jaga onii-chan baik baik.."
Momo mengatakan itu sambil membungkukan badan tanda berpamitan
"oke ! tapi sebagai gantinya ajak aku berkunjung lagi kerumahmu lain kali ya.."
"oke !"
"dah momo dah tsubomi, shuuya, kousuke.."
"dah…"
Ayano tampak sangat senang dengan hal ini sambil melambaikan tangan kearah mereka berempat.
"oya, ngomong ngomong, ketiga anak itu tadi.. itu adik adik mu ?"
"yap !"
"tapi, kurasa mereka tidak mirip denganmu.."
"ah, menurutmu begitu kah ?"
"ya, sudah lah lupakan saja hal itu, mari kita menuju café sekarang.."
"baiklah.."
Kami pun berjalan ke arah pojok lorong untuk menuju café, sekilas terlihat sebuah tempat yang cukup menyeramkan saat kami berjalan, tiba tiba aku mulai teringat pada sesuatu.
"hm, ayano bukankah pagi tadi kau bilang ingin pergi ke rumah hantu ?"
"ya benar, memangnya kenapa ?"
"apakah kau masih menginginkannya ? kalau mau, kita bisa pergi bersama sekarang, mumpung masih ada waktu.."
"eh, tapi tapi.. aku kan masih ada pekerjaan.."
"jadi, tidak mau ya ?"
Ayano sejenak tampak berfikir, dia seperti sedang mempertimbangkan apa yang akan dia pilih.
"baiklah ! aku mau shintaro-kun, tapi saat didalam tolong jangan tinggalkan aku ya ?"
"baiklah.."
Singkat cerita kami pun sudah masuk ke rumah hantu itu, ayano memegang lengan bajuku dengan erat, padahal kita baru saja masuk, ini membuatku agak sedikit khawatir tentang ayano.
"hei, apa kau baik baik saja ? kau ingin masuk tapi tampaknya kau pun tidak siap untuk hal ini."
"eh eh aku tidak apa apa shintaro-kun, aku hanya sedikit gugup saja.."
"ah, yasudah kalau begitu, lepaskan peganganmu dari lengan bajuku."
"uhm, yah maafkan tentang hal itu.."
Ayano pun melepaskan tangannya dari lengan bajuku, dan kamipun mulai berjalan pelan pelan, namun tak lama kemudian ada sesuatu yang menampakan diri disamping ayano, sontak ayano pun menjerit ketakutan.
"GYAAAAAA !"
Aku kaget bukan karena melihat sesuatu, tetapi jeritan ayano yang membuat jantungku hampir copot.
"hei hei ada apa ?"
"shintaro-kun itu itu.."
Wajahnya tampak sangat ketakutan sambil menunjuk ke arah bawah seakan ada sesuatu yang menakutkan disana, aku pun menoleh kebawah untuk melihat hantu seperti apa yang muncul dan menakut nakuti ayano.
"hei, sudahlah jangan terlalu cengeng, ini tidak seseram yang kau kira !"
"tapi kan tapi kan.."
"sudahlah, ayo kemarikan tanganmu.."
Ayano memiringkan kepalanya, tetapi aku langsung mengmbil tangan kirinya.
"nah ayo !"
Kami pun berlari untuk keluar dari sini, ayano terus menjerit sepanjang jalan, tidak tidak hanya ayano, sebenarnya aku pun adalah seorang penakut tetapi aku menahan jeritanku dengan mengigit lidahku, jadi aku bisa mengantisipasi sifatku yang "bukan penakut" dihadapan ayano.
Tak terasa pintu keluar sudah terlihat, kami pun berlari menuju pintu keluar dan…
"BAM !"
"GYAAAAAAA !"
Kami berdua berteriak sangat keras saat sesuatu mengagetkan kami saat sudah dekat dengan pintu keluar, ayano melepaskan peganganku dan berlari menuju pintu keluar, sementara aku yang tadinya terjatuh beusaha bangkit dan berlalri menuju pintu keluar..
"huh, huh , huh , …"
Kami pun tiba2 saling bertatapan mata satu sama lain, ayano tiba tiba tersenyum lalu kami pun tertawa secara bersamaan..
"aku baru melihat ekspresi ketakukan shintaro-kun tadi, itu sangat imut shintaro-kun !"
"hahaha, benarkah ? padahal kau adalah seorang penakut tapi kenapa kau ingin ke rumah hantu ?"
"eh, itu tidak benar ! aku ini pemberani kok ! cuman ya aku kurang persiapan aja tadi…."
'ah bohong !"
"eh benar kok shintaro-kun !"
Kami terus membicarakan hal itu sambil berjalan menuju café kami, terlihat beberapa teman kelas kami membereskan ruangan untuk kami pakai lagi besok, tiba tiba mereka melirik kearah kami.
"hei hei, ayano ! kemana saja kau ? kau hanya bekerja sebentar dan tiba tiba hilang begitu saja, kemana saja kau ini ?"
"hehe, maafkan aku , tadi aku ada sesuatu hal yang tidak biasa aku lewatkan, jadi ya… bagaimana jika aku akan menggantinya dengan bekerja 2 shift sekaligus besok, bagaimana ?"
'hmm, boleh saja, asal jangan ada bolos seperti hari ini lagi besok !"
"oke !"
"baiklah, sekarang ganti pakaianmu pelayanmu itu dengan pakaianmu semula!"
"baiklah !"
Ayano pun pergi ke belakang dan mengganti bajunya, singkat cerita setelah ayano berganti baju, kami pun pulang bersama.
"apakah kau tidak apa apa mengambil 2 shift untuk acara besok ?"
"tentu saja tidak apa apa shintaro-kun ! aku kan kuat, kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku, lagi pula menurutku ini konvensasi yang setimpal.."
"konvensasi ? apa maksudnya ?"
"maksudku, aku menghabiskan waktu denganmu itu adalah hal yang setimpal, mungkin bahkan harus lebih dari itu !"
"hei kau tidak perlu terlalu berlebihan"
"tentu saja aku tidak berlebihan ! kau bersikap sangat baik hari ini, ya.. walaupun kau agak sedikit jahat tadi terhadap momo, tetapi kau sangat mengerti perasaanku hari ini, untuk itu terima kasih shintaro-kun !"
Aku sedikit menaikan alisku dan membatu saat dia mengatakan hal itu, walaupun aku sudah lama mengenal ayano, tapi aku belum tahu apa apa tentang dirinya, aku tak menyangka diperlakukan biasa seperti ini sudah cukup untuk membuatnya senang.
"shintaro-kun ?"
"eh ? eeto bagaimana cara mengatakannya, selama ini kau selalu menemaniku, aku pun harus mengucapkan terimakasih atas hal itu.."
Ayano tersenyum saat aku megatakan hal itu, tak terasa warna langit menjadi oranye pekat, pertanda hari sudah mulai sore, kami pun berjalan menuju rumah sambil terus mengobrol tentang hal yang tadi kami lakukan, kurasa, aku menikmati hubungan kami yang hanya sebatas teman ini untuk terus berlanjut di hari hari berikutnya.
fiuuh, pasti pegel baca cerita garing yang saya buat, maaf saya kurang bisa ngedevelop karakter shintaro dengan baik, entah kenapa shintaro yang harusnya agak jutek jadi lebih perhatian oke deh buat chapter selanjutnya ini agak buat hati gak nyaman, selanjutnya ayano akan mendapatkan sebuah love latter dari seseorang, lalu bagaimana dengan reaksi shintaro akan hal itu ?
