Naruko tertawa ceria dengan semburat merah menghiasi pipinya yang berwarna tak putih gadis-gadis Eropa. Gadis mana yang tak bahagia setelah mendengar perkataan cinta dari pemuda yang dicintainya. Sepintas Naruko merasa dirinya tak berbeda dengan gadis belia lainnya, namun kenyataan pahit datang menghampirinya.
Tak ada gadis belia lain yang menghawatirkan kekasihnya akan terbunuh saat melakukan misi berbahaya.
Langkah-langkah lebar gadis itu semakin memendek saat melihat kakak kembarnya yang baru saja kembali dari misinya tampak digotong beberapa ahli medis sekolah, lambungnya dengan cepat terasa asam.
"NII-CHAN!" teriaknya sambil berlari mendekati kakak kembarnya. "Apa yang terjadi?! Apa lukanya parah?!" dia bertanya dengan nada tinggi saat dilihatnya jas yang membalut tubuh kakaknya sudah dipenuhi genangan darah yang meresap. Bau anyir segera menyerbu indra penciumannya, tidak salah lagi, ini darah Naruto.
"Cuma luka kecil." Jawab si pirang jabrik itu sambil memamerkan senyum lima jari yang menjadi ciri khasnya. "Kau tak perlu khawatir Naru-chan." Tambahnya.
"Ya, luka kecil. Sebuah sayatan sedalam tiga centi dan sepanjang dua puluh dua centi di lengan kiri memang sebuah luka kecil." Seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun berkomentar sinis, rambut coklat pendeknya sedikit menutupi wajah manis miliknya saat gadis bernamakan Angevin Malverick itu membalut lengan Naruto dengan perban panjang. "Setelah ini datanglah ke ruang perawatan. Kau harus menjahit luka itu sebelum terinfeksi."
"Haruskah?" tanya si pirang itu malas.
"Harus." Balas Angevin tak kalah keras kepalanya, "Atau kau ingin aku memanggilkan Signora Berlusconi untuk mengurusmu?"
Naruto menelan ludah terpaksa, daripada harus dirawat oleh nenek pirang galak itu dia pasti lebih senang berhadapan dengan pembunuh berantai gila. "Aku akan datang. Pasti." Katanya yakin. Dia membuang muka sambil menggerutu pelan, menyesali kecerobohannya karena sampai terluka segala. Saat itulah matanya menangkap sosok gadis dengan rambut berwarna Indigo indah sedang berlari ke arahnya dengan raut wajah khawatir,
Jika biasanya dia akan senang saat momen itu terjadi, kali ini dia hanya mengalihkan pandangan matanya saja. Tak ingin menatap langsung iris lavender gadis prancis itu.
"Naruto, êtes-vous d'accord? " tanyanya sambil mengamati tubuh pemuda yang walau dalam keadaan sakit tetap terlihat tinggi di hadapannya. Tangannya meraba pelan perban yang membalut lengan Naruto dengan perasaan sayang. "Sebenarnya siapa yang kau hadapi, Naruto. Pourquoi te caches-tu de moi?"
"Tak ada apapun, Iolanthe." Jawab pemuda itu sambil membuang wajah. Lalu dia memutuskan untuk menatap Angevin saja. "Aku akan ke ruang perawatan sekarang saja, Angevin. Kurasa lukaku sudah menimbulkan nanah."
Gadis berambut coklat itu hanya memutar matanya saja, tak mengerti akan keadaan sepasang kekasih di hadapannya, "Kurasa belum separah itu. Tapi terserah kau saja." Kata gadis itu sambil memapah Naruto menjauh.
Iolanthe tampak sedikit syok atas perlakuan Naruto yang acuh tak acuh padanya. "Naruko, ce qui est de ma faute?" tanyanya pada gadis yang memiliki fisik persisi dengan kekasihnya.
"Aku tak tahu, Io. Tapi pasti ada hubungannya dengan misi kemarin." Jawabnya tak peduli, namun saat dilihatnya wajah Iolanthe mulai memucat menandakan bahwa dalam benak gadis itu mulai berkecamuk berbagai macam kemungkinan, Naruko menyesali jawabannya. "Mungkin dia hanya kecapaian saja. Istirahat semalam penuh pasti akan membuatnya segar seperti biasa." Tambahnya dengan nada sebiasa mungkin.
Iolanthe mengangguk. 'Pasti bukan itu, pasti ada yang lain. Mais quoi?'
.
.
.
"Pasti Nii-chan cerita padamu kan, Michael. Sekarang jelaskan padaku!" tuntut Naruko pada pemuda yang pagi ini tengah berjalan di sampingnya.
"Apa kau tahu kalau di pagi hari harusnya kau berkata 'Selamat pagi.' Atau 'Apa kabarmu?" balas pemmuda itu dingin.
"Ayolah Michael, aku tak tega melihat Io meratap sepanjang sore. Dia tampak terpukul sekali." Rengeknya sambil bergelanyut manja di lengan kekasihnya sambil memasang Puppy eyes yang selalu bisa meluruhkan dinding es yang dibangun seorang Michael Mckenzie.
"Aku sudah berjanji pada kakakmu untuk tak mengatakannya."
Naruto menggelembungkan pipinya kesal. "Aku juga sudah berjanji pada Io untuk menanyakannya padamu." Dusta gadis itu.
"Kau sudah menanyakannya. Jadi kau sudah memenuhi janjimu walaupun aku tak menjawabnya kan?"
"Anata wa totemo meiwaku shite iru!" teriak gadis itu marah. Dicubitnya lengan Michael gemas. "Aku juga mencemaskan Nii-chan, dia bersikap aneh sekali sejak pulang kemarin. Dia bahkan tak menyentuh ramen yang kubuatkan kemarin malam. Ini pasti ada hubungannya dengan Io kan?" katanya cepat.
Pertahanan Michael melemah, "Kau benar. Ini memang ada hubungannya dengan Delacroix." Katanya singkat.
"Kalau begitu apa?!"
"…"
"Michael, kumohon katakan padaku… aku tak mau hubungan Nii-chan dan Io semudah ini berakhir." Katanya sambil menutup wajahnya yang sudah mulai memucat. Dia membutuhkan kakaknya dan Io untuk meyakinkannya bahwa cinta adalah hal yang bisa diterima di sekolah laknat ini. Dia membutuhkan mereka untuk meyakinkannya bahwa hubungannya dengan Michael bukanlah sesuatu yang salah.
Pertahanan Michael runtuh seketika. Dipeluknya pundak gadis Jepang itu dengan lembut berusaha menenangkannya. Dia menghela nafas panjang. Butuh keberanian untuk mengatakan hal yang diminta Naruko. "Target Naruto yang terakhir adalah…"
"…Ayah kandung Iolanthe Delacroix."
.
.
.
Naruko menatap langit senja dengan perasaan kacau. Kata-kata Michael terbayang-bayang di otaknya.
FLASH BACK
"Target Naruto yang terakhir adalah…ayah kandung Iolanthe Delacroix."
"APA?!" jerit Naruko tak percaya. "Tidak mungkin! Nii-chan pasti menolak jika diberi misi seperti itu! Dia tak mungkin menerimanya! Dia tak mungkin melakukannya!"
Michael menghela nafas panjang, kesedihan tergurat jelas di wajah tampannya. "Tapi kenyataannya kami tak memiliki hak untuk menolak. Kami harus menerima semua misi yang diberikan pada kami."
Naruko mengangguk pelan. Dia mengerti. Sangat mengerti malah. Baik kakaknya taupun kekasihnya adalah Hunter. Nyawa mereka selalu terancam. Sang maut selalu mengikut mereka dimanapun mereka berada, dia berkuda di belakang mobil yang akan membawa Hunter menjalankan misinya, dia melayang di samping Hellicopter saat para Hunter di dalamnya. Dia bahkan mengendap-endap di belakang mereka saat mereka berjalan di lorong-lorong gelap Rose Academi. Siap menjerat leher mereka dengan sabit raksasa yang selalu dibawanya.
"Nii-chan…saat ini pasti hatinya hancur. Dia telah membunuh calon mertuanya… kasihan Nii-chan." Gadis itu bergumam lirih sambil mencengkram dada kirinya yang mendadak terasa perih, perasaan kakaknya pasti lebih sakit daripada ini, batinnya miris. "Michael, apa yang harus kulakukan untuk Nii-chan?" dia bertanya.
"Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah berpura-pura tidak tahu." Pemuda itu menjawab. "Bersikaplah seperti biasa, jangan tunjukkan kalau kau tahu hal yang sebenarnya. Dengan cara itulah kita membangun hatinya lagi."
Naruko menganngguk, "Ya, aku mengerti."
FLASH BACK END
Langit sore yang berwarna lembayung membuatnya teringat pada Iolanthe. Mungkin karena memang itulah arti namanya. Dia meneteskan air mata saat berusaha menyelami perasaannya, perasaan kakaknya, Iolanthe dan tentu saja Michael.
"Jika aku harus membunuh orang yang disayangi Michael… apa dia akan membenciku ya…?" gumamnya tanpa sadar. Dipejamkannya mata Azuritte indahnya. Gejolak di hatinya serasa menggerogoti dan membunuhnya secara perlahan. Dia ingin menjerit dan memaki sekaligus pada Tuhan yang telah menjebak mereka dalam lingkaran setan. Kenapa mereka harus bertemu di sekolah ini? Mengapa tak di dunia luar sana? Mengapa semua ini harus terjadi pada mereka? Memangnya apa salah mereka?
Tanpa sadar matanya terpejam dan kesadaraannya berangsur menyebrang ke alam mimpi.
.
.
.
Seorang gadis remaja berambut pirang model Twintail tampak tengah bergembira berjalan-jalan di sebuah kota besar yang namanya sudah tersohor di seluruh dunia, New York. Seorang wanita berambut semerah darah datang menghampirinya dan menyentuh pundaknya pelan.
"Jangan sampai tersesat. Kota ini sangat luas, Naruko." Kata wanita itu sambil tersenyum lembut.
"Ya, Kaasan!" jawabnya riang.
"Naru-chan, kau benar-benar seperti anak kecil!" ejek kakak kembar sang gadis itu sambil tertawa terpingkal-pingkal. "Kau seperti belum pernah lihat kota besar saja! Benar-benar menggelikan!" tambahnya.
Gadis yang dipanggil Naruko itu hanya memajukan bibirnya kesal. "Aku bukan orang jenius seperti Nii-chan yang bisa pergi ke macam-macam kota karena pertukaran pelajar. Ini kan pertama kalinya aku pergi keluar dari Jepang yang membosankan, wajar jika aku senang kan?"
Pria berambut pirang yang sangat mirip dengannya tersenyum pelan sambil mengacak rambut pirang Naruko penuh sayang. "Kata siapa Naru-chan tidak jenius? Naru-chan sama jeniusnya dengan Naruto-kun hanya saja itu belum tampak."
"Ya, Tousan." Jawab gadis itu masam. "Tapi kapan kejeniusanku akan muncul seperti kata Tousan? Usiaku sudah tujuh belas tahun, tapi rasanya otakku tetap tak berkembang." Rengeknya pelan.
"Suatu saat pasti akan terlihat, Naru-chan."
"Tapi kapan?"
Pria itu tampak tersenyum pelan. "Kurasa sebentar lagi, saat itu semua orang pasti akan menyanjungkan namamu Uzumaki Naruko."
"Ya!"
Kushina menggeleng pelan. "Itu masih akan makan waktu. Yang harus kita lakukan sekarang adalah… BELANJA!" teriaknya tak kalah heboh dengan putrinya. "Lihat Naru-chan! Di sana ada butik terkenal asal Prancis! La Etoile, ayo ke sana!" teriak wanita itu sambil menyeret Naruko masuk ke dalam toko yang dilihatnya.
"Buat apa ke New York kalau akhirnya belanja di Butik Prancis juga?" keluh Naruto, namun dia tetap mengikuti dua orang wanita itu masuk ke Toko La Etoile.
Dengan seribu saran dari ibunya, Naruko menjajal ratusan baju-baju barat yang puluhan di antaranya bahkan tak mungkin dipakai di negri sakura. Saat dia melirik ke arah kakaknya mencoba meminta bantuan untuk menghalau penyakit Shoping Holic ibunya kambuh lagi, dia melihat pemuda itu tengah mengobrol akrab dengan seorang gadis berambut Indigo yang tampaknya sedang kerja sambilan di sana.
'Dasar Nii-chan, nggak di Jepang, nggak di Amerika, sifat playboy-nya masih aja berjaya.' Cibir gadis itu dalam hati. Saat dia berbalik untuk mengganti pakaian yang dipakainya, tanpa sengaja gadis itu menabrak punggung seseorang."
"Ittai!" keluhnya saat hidungnya yang tak terlalu mancung terasa sedikit nyeri. Dan saat dia mendongak mencoba mencari tahu siapa orang yang telah mencelakakan hidungnya, wajahnya merona. "Go…gomen nasai…" gumamnya tak sadar saat menatap wajah tampan pria dihadapannya.
Pemuda berambut raven itu mengernyitkan alisnya bingung. "What did you say? Can you speak English?" tanyanya.
"Y…Yes" jawab gadis itu grogi.
Pemuda itu tersenyum lembut. "Are you from Asia? What is your name?"
"Yes. My name is Uzumaki Naruko." Jawab gadis itu sambil berusaha menyembunyikan semburat berwarna rubi yang merayapi pipinya.
"Hm, its a beautiful name. Introduce, I'm Michael Mckenzie. Nice to meet you, Naruko." Katanya sambil mengulurkan tangannya yang berwarna seputih salju.
"Nice to meet you too, Michael."
.
.
.
"Naru-chan, bangun! Kau bisa masuk angin kalau nekad tidur di sini." Tegur Naruto sambil menggoncang pelan tubuh mungil adik kembarnya.
"Hm…Naru-nii, aku di mana?" gumam gadis itu masih dengan setengah mengigau.
"Di halaman belakang Academi." Jawab Naruto sambil duduk di samping adiknya. "Tumben kau seceroboh ini, bagaimana jika kau diserang cowok lain?" tanyanya sambil mengambil sejumput rumput yang menempel di rambut pirang adiknya.
"Michael pasti marah kalau itu sampai terjadi." Katanya sambil mengusap mata pelan, ditatapnya langit yang sudah mulai berwarna kehitaman, entah kemana perginya warna lembayung lembut yang tadi memayungi dunia. Sebuah kekecewaan tampak tercermin di mata azurittenya "Ternyata itu hanya mimpi." Dia bergumam.
"Pasti mimpi yang indah ya?"
"Begitulah." Jawab gadis itu murung. "Bisa dibilang itu adalah impianku."
"Impian ya…" pemuda itu ikut bergumam. "Kalau impian, aku juga punya." Cerita pemuda itu.
"Pasti impian Nii-chan adalah menikah dengan Io dan membangun keluarga bahagia dengan banyak anak yang tampan dan cantik kan?" tebak Naruko asal.
"Itu juga." Kata Naruto sambil tertawa lebar, lalu dia terdiam sejenak. "Tapi impianku yang terbesar adalah aku ingin hidup normal, bersamamu, Kaasan dan Tousan." Katanya sedih. "Yah itu tinggal mimpi khayalan saja sih, Tousan kan sudah meninggal."
Naruko ikut terdiam, "Itu juga impianku."
Mereka menikmati hening yang datang menyelimuti mereka selama beberapa saat. Lalu saat dirasakannya bintang-bintang mulai merambat naik dia menggenggam tangan adik kembarnya sambil menariknya agar berdiri.
"Ayo kita kembali ke asrama, udara malam tak akan baik untuk kita." Gumam Naruto. Naruko hanya mengikutinya saja.
.
.
.
"Kalian dari mana saja?" tanya Michael dengan nada cemburu.
Naruko tertawa singkat, "Tak perlu khawatir Mr Mckenzie. Kami bukanlah inses, dan kau tahu itu kan?"
"Hn."
Dua orang Uzumaki dan seorang Mckenzie berjalan beriringan di sepanjang lorong asrama Rose Academi yang remang-remang, satu-satunya pencahayaan yag membantu mereka menatap depan adalah dari obor-obor yang dinyalakan dalam jarak yang cukup jauh. Jangan tanya soal listrik di sini. Kau bahkan tak dapat menemukan sebatang pensilpun di sini, hanya ada beberapa pena kuno yang tampaknya berasal dari Abad pertengahan.
"Menurut kalian apa makan malam hari ini. Entah mengapa aku lagi ingin makan Ramen malam ini."
"Tidak mungkin ada kan?"
"Huh, siapa yang menolak ramen buatanku kemarin coba?"
"Soalnya siapa tahu di dalam ramen itu ada racun atau semacamnya, sih. Jadi malas makannya. hahaha"
"Apa?! Nii-chan kejam sekali! Aku tahu aku tak terlalu pandai memasak, tapi itu kejam sekali!"
"Hahaha."
Percakapan yang terdengar biasa saja, tak ada maksud tersembunyi. Sangat normal.
Tiba-tiba…
BRUK!
"Ittai!" keluh Naruko saat dirasakan hidungnya menabrak sesuatu, atau seseorang. Dia mendongak mencoba melihat siapa korban yang telah ditrabaknya, dalam remang-remang cahaya obor dapat dilihatnya mata berwarna merah tajam dan rambut berwarna hitam gelap. Bulu kuduknya meremang, wajahnya memucat. "Go…gomen…" katanya ketakutan.
"Hati-hati saat melangkah, Miss Uzumaki." Tegur orang itu dengan suara dingin.
"Maafkan aku, Mr Lincoln…" gumam gadis itu dengan suara gemetar.
Namun orang itu tak memedulikannya, dilihatnya Michael yang berdiri di belakang gadis itu. "Mr Mckenzie, aku punya misi untukmu."
Naruko hanya dapat menatap mata kekasihnya memohon agar dia menolak, namun Michael hanya membuang muka, "Baik." Katanya sambil mengikuti Mr Lincoln menjauh dari si kembar Uzumaki.
Naruto menepuk pundak adiknya. "Sudahlah, dia orang yang kuat, aku yakin dia tak akan kenapa-napa." Hiburnya.
"Ya." Jawab Naruko pendek.
Andai saja Naruto melihat apa yang dilihat Naruko, andai saja dia melihat… sang maut mengendap-endap di belakang Michael, andai saja… andai saja…
.
.
.
TBC
Catatan:
*para tokoh
Angevin Malverick: Suzune (Prancis)
John Lincoln: coba tebak, siapa hayo… (Amerika)
*suku kata
êtes-vous d'accord? : apakah kamu baik-baik saja? (French)
Pourquoi te caches-tu de moi?: mengapa kau menyembunyikan itu dariku? (French)
ce qui est de ma faute?: Apa salahku? (French)
Mais quoi?: tapi apa? (French)
Anata wa totemo meiwaku shite iru!: Kau benar-benar menyebalkan! (Japanese)
Yang lainnya nggak perlu diartikan, kan?
