"Aku hamil."
Dua kata yang baru saja terlontar dari perempuan bermata emerald yang duduk tepat di hadapannya, seketika terasa bagaikan racun yang langsung membuat tubuhnya kaku seketika. Dua kata sederhana yang seharusnya membawa kebahagian bagi siapa pun, namun justru begitu mengejutkan dirinya hingga membuatnya mati rasa.
Hanya diam. Pria bermarga Uchiha tersebut hanya bisa menatap datar perempuan di hadapannya, namun akan tampak begitu jelas kegamangan pada matanya bila kau sudah mengenalnya dengan dekat.
Angin yang berhembus pelan pun, kala itu terasa cukup membuat pria tampan tersebut merasakan dingin yang terasa membekukannya.
"Aku tahu ini sangat begitu mengejutkan," wanita di hadapannya kembali membuka suaranya, sorot matanya nampak begitu sendu. "Kita bahkan baru berhubungan satu kali, tapi inilah kenyataannya, Sasuke-kun. Aku hamil, dan ini anakmu ... darah dagingmu."
Suara itu bercampur isak tangis.
Masih diam. Pria bernama Uchiha Sasuke tersebut sama sekali tak bersuara.
"Demi Tuhan, Sasuke-kun ... aku pun benar-benar tidak menginginkan hal ini, tapi aku mohon ... tolong jangan kau biarkan aku menanggung ini sendirian."
Air mata pun menetes perlahan. Matanya menatapnya penuh permohonan.
Namun, tak terdengar jawaban dari pria berambut raven tersebut. Hanya tarikan napas berat sajalah yang didapati wanita berambut merah muda itu.
"Sasuke-kun …."
Panggilan bernada putus asa pun terdengar, namun tetap belum cukup untuk membuat seorang Uchiha Sasuke membuka suaranya. Dan, hal itu pun membuat Sakura—nama wanita tersebut—akhirnya menangis tergugu, sama sekali tak mempedulikan para pengunjung lain yang memandang mereka penuh minat.
Namun, hari itu—tanpa diketahui seorang—pun menjadi hari yang sulit untuk seorang Uchiha Sasuke.
Naruto © Masashi Kishimoto Sensei
.
.
.
Siang hari yang terik, terasa begitu menyengat kulit, membuat Naruto menghela napas lemah. Melirik jam tangan bermerk yang melingkari pergelangan tangan kirinya, ibu satu anak tersebut kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Sudah cukup.
Terlalu lama dirinya dibuat menunggu. Rasa kesal pun sudah tak dapat dibendungnya lagi. Hampir dua jam Naruto menunggu dengan sabar. Duduk manis pada sebuah kursi panjang di taman umum Konoha. Namun, orang yang ditunggunya, sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya sedikit pun. Meraih ransel yang tergeletak di bawah kursi panjang yang sedari tadi didudukinya, dengan langkah yang menghentak kedua kaki jenjangnya pun digerakkan. Namun—
"NARUTO, TUNGGU!"
—sebuah teriakan dan suara langkah kaki yang berlari terdengar dari belakang tubuhnya, membuat wanita berpenampilan tomboy itu menghentikan langkah kedua kakinya.
"Hah ... hh ..." Mengatur napasnya yang memburu, sosok pria berambut putih keperakan dengan masker yang menutupi mulutnya meletakkan kedua tangannya di atas lutut. "Syukurlah kau masih di sini, Naruto," ungkapnya kemudian, setelah berhasil mengumpulkan napasnya.
Mendelikkan matanya kesal, Naruto mendengus pelan. "Kali ini apa lagi alasanmu? Tersesat di jalan bernama kehidupan, eh? Atau ... menolong nenek-nenek yang akan menyeberang jalan?" tanyanya beruntun, penuh akan sarkasme.
Terkekeh canggung, pria berusia dua tahun lebih tua dari wanita tersebut menggaruk kepalanya yang tak gagal. "Astaga, sepertinya aku benar-benar membuatmu menunggu lama."
"Hya, benar." jawab Naruto seraya memicingkan matanya, "Dua jam, Kakashi," tambahnya dengan nada sinis.
Meraih kedua telapak tangan Naruto, Kakashi menatap lembut wanita berambut pirang yang tengah dilanda kesal tersebut. "Aku benar-benar minta maaf, Sayang. Pemotretan kali ini dilakukan oleh para model pemula. Kau tentu mengerti, bukan?"
Menghembuskan napasnya lemah, Naruto kemudian menganggukkan kepalanya. "Seharusnya kau mengabariku, Kakashi. Kau benar-benar membuatku kesal," ungkapnya dengan nada suara yang terdengar lebih tenang.
"Oke ...," Kakashi tersenyum di balik maskernya, "untuk mengurangi kekesalanmu, bagaimana kalau aku mengajakmu makan ramen?"
"Aku akan menguras isi dompetmu, kalau begitu."
Terkekeh ringan, tangan kanannya pun bergerak mengelus puncak kepala wanita bermata sapphire tersebut. "Memang selalu begitu, bukan? Isi dompetku selalu terkuras bila mengajakmu makan ramen."
Dan, sebuah gembungan pipi pun didapatinya dari sang Sutradara terkemuka tersebut.
.
.
.
Sarada tidak tahu kenapa. Tapi, kedua mata onyx di balik lensa kacamatanya terus saja terpaku pada seorang pemuda yang tengah memakan bekalnya di belakang sekolah, tepatnya di bawah pohon sakura yang belum memunculkan kelopak bunganya. Seperti terhipnotis, gadis bermarga Uchiha tersebut bahkan memperhatikan setiap detail gerakan membuka tutup mulut sang Pemuda berambut hitam jabrik tersebut.
Menyentuh permukaan dada kirinya dengan tangan kanan, gadis cantik itu merasakan detakan yang tak biasa di sana. Sarada juga merasakan kedua pipinya terasa memanas. Kenapa? Pertanyaan itu pun terus mendatangi, hingga memenuhi pemikirannya.
Mungkinkah?
Menggelengkan kepalanya berulang kali, guna mengenyahkan segala pemikiran—yang dirasanya—bodoh yang terlintas dalam benaknya, sebuah senyuman kecut pun tersungging pada wajah berkulit putihnya.
Tidak.
Terlalu cepat untuk menarik kesimpulan.
Lagipula ... semua itu tidak boleh, 'kan?
Siswi kelas dua SMA itu pun menengadahkan wajahnya ke atas langit, menatap nanar awan-awan putih yang nampak berarak. Rasa sakit yang tiba-tiba terasa menyesakkan dadanya, membuat gadis tersebut menggigit bibir bawahnya kuat-kuat—nyaris berdarah.
Menarik dan membuang napasnya perlahan—secara berulang kali, disenderkan punggungnya pada tembok bercat putih yang berada di belakangnya.
"Tsk ... kenapa nasibku begitu menyedihkan?" gumamnya pelan, kekehan pahit pun terdengar kemudian. "Tidak berguna."
.
.
Mengelap bibirnya dengan sapu tangan berwarna oranye yang baru saja diambilnya dari saku celananya, pemuda berusia kurang dari lima belas tahun itu pun merapikan kotak bekal makanan yang sudah habis isinya. Mengedarkan kedua mata beriris sapphire-nya ke seluruh penjuru, dahinya mengkerut seketika saat ekor matanya menangkap keberadaan seorang gadis berambut hitam yang berada cukup jauh dari dirinya.
Memicingkan matanya agar bisa mendapatkan penglihatan yang lebih jelas, decihan samar pun lolos dari bibir merah delima miliknya.
"Apa yang sedang dia lakukan?" tanyanya pelan, namun tak lama kedua bola matanya membelalak lebar saat gadis tersebut nampak merosot jatuh dari posisi berdirinya. Bangkit dari posisi duduknya, pemuda tersebut meraih tas ransel hitamnya, dan segera memacu langkahnya dengan cepat. Entah kenapa, ada perasaan khawatir saat melihat ketidakberdayaan yang nampak dari gadis tersebut.
.
.
"Hhh ... hh ...," menarik napas dan membuangnya secara teratur, Sarada memijat keningnya yang terasa berdenyut nyeri. Air mata pun nampak menggenang pada pelupuk matanya.
Sakit.
Sesak.
Gadis itu terus meringis seraya mencengkram dada kirinya dengan sebelah tangannya yang bebas. Merasa semakin tak kuat menahan rasa sakit yang menyerang dirinya, gadis itu pun membenamkan wajahnya dan memeluk erat kedua lututnya.
Ingin menangis ... tapi, rasa enggan pun akhirnya membuat dirinya menahan diri. Ingin meminta pertolongan pun, Sarada tidak tahu harus memintanya pada siapa. Tidak ada seorang pun yang dapat diandalkan.
"Tou-sama ..."
Dan, hanya gumaman lirih tersebutlah yang akhirnya terlontar dari bibirnya.
"Kau tidak apa?"
Sebuah suara bernada datar tiba-tiba mengejutkannya, membuat Sarada mendongakkan wajahnya, dan seketika kedua mata di balik lensa kacamatanya membola.
Menma.
Terdiam, gadis bermarga Uchiha tersebut hanya menatap lekat pemuda berambut hitam jabrik yang dengan perlahan menjongkokkan diri di hadapannya.
"Kau tidak apa?"
Mengulang pertanyaannya kembali, pemuda yang baru saja dikenalnya beberapa jam lalu itu tiba-tiba meraih tangan kirinya.
"Denyut nadimu tidak beraturan," ucapnya pelan, tangannya nampak tengah memeriksa. "Sebaiknya aku membawamu ke UKS. Kau bisa bangun?"
Terpaku. Sarada masih belum menunjukkan reaksi apa pun. Kedua matanya hanya terpaku pada kedua mata beriris langit siang di hadapannya.
Sementara Menma, dia mendecih kesal ketika tak mendapat tanggapan apa pun dari gadis berkacamata yang telah membuatnya khawatir tersebut. Malas menunggu dan tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, pemuda bermarga Uzumaki itu pun segera mengangkat Sarada dan membawa gadis tersebut menuju UKS dengan gaya pengantin—mengabaikan pekikan tertahan dan keterkejutan dari sang gadis.
Melangkahkan kakinya mantap menulusuri lorong-lorong kelas, putra dari Namikaze-Uzumaki Naruto itu pun juga tak mempedulikan tatapan mata dan bisikan maupun perkataan yang terlontar dari orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan—juga mengabaikan perasaannya sendiri. Entahlah. Pemuda itu pun juga tak mengerti, tubuhnya terasa bergerak tanpa kendali dirinya sendiri. Yang jelas untuk sekarang, pemuda itu hanya ingin membawa gadis di dalam gendongannya segera sampai ke UKS.
.
.
.
Merasakan perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menghampiri dan terasa mengganggu dirinya, Uchiha Sasuke mengurungkan pergerakan tangannya yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Meletakkan kembali sendok tersebut ke dalam piring, pria bersurai raven tersebut mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela restoran yang tengah disinggahinya.
"Sarada, kau baik-baik saja, 'kan?" tanyanya pelan, nyaris berbisik.
"Kau baik-baik saja, Sasuke-kun?"
Sebuah suara bernada lembut yang sirat akan kekhawatiran, membuat sang Uchiha mengalihkan pandangannya ke arah seorang wanita bersurai merah panjang yang duduk tepat di seberang meja.
"Hn," jawabnya dengan gumaman datar dan seadanya, pria itu kemudian kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti.
Sedangkan wanita cantik itu hanya bisa tersenyum maklum, dan ikut kembali melanjutkan makannya.
"Karin," panggil Sasuke tiba-tiba.
"Ya?" menatap pria bermata onyx di hadapannya, Karin Uzumaki—nama wanita tersebut— mengulum senyumnya.
"Bagaimana menurutmu bila aku menceraikan Sakura?"
Terdiam cukup lama, wanita itu kembali mengulum senyumnya, namun kini nampak getir. "Aku akan sangat senang bila kau mewujudkannya, Sasuke-kun. Tapi—" iris mata indahnya menatap lekat sosok rupawan tersebut, "—semua tetap tak akan lagi sama, bahkan akan semakin rumit dan juga akan banyak pihak yang terluka pada nantinya. Kau tentu tak mungkin mengabaikan keberadaan Sara-chan, bukan?"
"..."
"Sasuke-kun ...," Karin menatap lekat Sasuke. "Dia selama ini sudah cukup menderita. Cukup dengan keberadaannya yang tak pernah dianggap ada oleh keluargamu dan juga karena keegoisan Sakura," meringis pelan, tangan kanannya bergerak memainkan permukaan gelas kaca berisi jus strawberry di atas meja sejenak, dan kemudian wanita tersebut kembali menatap Sasuke, "Saa-chan jangan kau buat semakin menderita, Sasuke-kun."
.
.
.
Mengubah posisinya yang tadinya tidur terlentang di atas tempat tidur menjadi duduk bersender pada kepala tempat tidur, Kyuubi menatap nyalang pria berambut raven yang saat ini tengah berdiri tepat di depan jendela kamarnya. "Kau memberitahu keberadaan kakakku pada si kepala ayam itu?" tanyanya sinis.
Membalikkan badannya dan menatap datar sang penanya, dengusan kasar pun terdengar. "Hn. Tidak semudah itu, Kyuu-chan. Tentunya Otoutou-ku yang bodoh itu harus diberi pelajaran, bukan?"
Menyilangkan kedua lengan di depan dada, pemuda berambut oranye kemerahan itu pun memutar bola matanya kemudian. "Apa pun yang saat ini kau rencanakan, Itachi ... aku tak akan berpikir dua kali untuk membunuhmu bila kakakku kembali menangis gara-gara si kepala ayam sialan itu," peringatnya tajam.
Tersenyum masam, Itachi pun kembali membalikkan badannya menghadap jendela. "Aku tidak akan menjanjikan hal yang tidak pasti padamu, tapi—" Itachi menjeda ucapannya untuk sejenak, "—aku pastikan Naruto dan keponakanku ... akan mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan semenjak dulu."
Mendengar pernyataan yang terlontar dari pria yang lebih tua darinya tersebut, Kyuubi pun mendengus dan tersenyum merendahkan.
Yang benar saja.
.
.
.
Meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, pria bersurai putih keperakan itu pun ikut melangkahkan kakinya bersama Naruto menuju pintu keluar kedai ramen yang mereka singgahi.
"Kau yakin tak perlu kuantar?" tanyanya kemudian, setelah mereka berdua sampai di samping mobil mereka masing-masing.
Menatap jengah pria di hadapannya, Naruto pun menganggukkan kepalanya malas. "Aku bawa mobil sendiri, Kakashi. Lagipula arah studiomu dengan lokasi yang akan kutinjau berbeda."
"Tapi aku bisa mengawalmu untuk sesaat," ujarnya bersikukuh.
Tersenyum geli, Naruto terkekeh pelan. "Kau memperlakukanku seperti anak-anak saja. Aku akan baik-baik saja."
Mendesah pelan, pria berprofesi sebagai photografer itu pun mengacak puncak kepala wanita di hadapannya, "Aku hanya mengkhawatirkanmu," ungkapnya pelan, "terlalu berisiko membiarkanmu sendiri di Konoha. Ditambah lagi ... aku tidak ingin kau bertemu dengannya."
Tertegun. Naruto kemudian memalingkan wajahnya saat pria tersebut tak lagi mengacak surai pirangnya, dan senyuman sendu pun terpatri pada wajahnya.
"Aku cukup tahu posisiku di mana. Karena itu ...," Kakashi tersenyum di balik maskernya, "aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu."
Mengarahkan pandangannya kembali pada pria bermarga Hatake tersebut, ibu dari seorang putera itu pun mengulas senyumnya dan kemudian memeluk pria tersebut. "Terima kasih," ucapnya pelan. "Kau memang selalu memberikanku apa pun yang terbaik, Kakashi. Tapi bukan karena itu aku memilihmu." Naruto mengeratkan pelukannya ketika merasakan elusan pada punggungnya, "Aku memilihmu karena aku tahu; kau lah yang aku inginkan untuk memilikiku."
Mengecup puncak kepala kekasihnya, Kakashi melepaskan pelukan mereka kemudian. "Aku ingin sekali segera melamarmu. Tapi, sayangnya masih perlu banyak hal yang harus kulakukan untuk mendapatkan pengakuan dari keluargamu, terutama Menma-kun."
Terkekeh kembali untuk sejenak, wanita bermata sapphire itu pun tersenyum simpul. "Sama seperti dulu kau yang begitu sulit mendapatkanku," Naruto mengelus pipi Kakashi, "kau pun cepat atau lambat ... pasti akan memperoleh pengakuan dari mereka dengan kegigihanmu."
Sama-sama saling melempar senyum antara satu sama lain, mereka berdua tak menyadari keberadaan sesosok pria berambut raven yang menatap kosong kemesraan mereka dari balik kaca jendela mobil mewahnya.
.
.
"Sasuke-kun ...," panggilnya lirih, bahkan nyaris berbisik.
Menatap sendu ke arah pria yang tengah mengeratkan pegangan pada stir pengemudi, Karin menundukkan wajahnya. Wanita berkacamata tersebut merasa begitu prihatin dengan keadaan pria yang dulu pernah dicintainya belasan tahun silam—bahkan hingga kini.
Sama sekali tak menyangka, wanita itu benar-benar merutuki kebetulan yang tengah terjadi saat ini. Dia bahkan tak mau mempercayai pemandangan yang tertangkap oleh penglihatannya, tepatnya beberapa meter di hadapannya.
"Naruto tersenyum …."
"Sa—"
"Naruto tersenyum."
Mengurungkan niatnya untuk berbicara saat kembali mendengar ucapan pelan pria bermarga Uchiha yang tengah menatap kosong sosok istrinya dari kejauhan, Karin pun hanya bisa terdiam kemudian. Biarlah dirinya berpura-pura tak melihat betapa hancur dan terlukanya sosok pria yang selama ini terkenal dengan ekspresi stoic-nya tersebut.
Karena seorang Uchiha Sasuke ... tak mungkin terpuruk begitu saja.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thank's untuk semuanya.
Arnygs, gothiclolita89, Aristy, Riena Okazaki, Uzumaki Prince Dobe-Nii, yukiko senju, Kyuuuuu, Aiko Vallery, Sunshin no shisui, Uzumakinamikazehaki, Guest, Zadita uchiha, Ryuusuke583, Guest, Harpaairiry, Lhacala, shanzec, alta0sapphire, Sadistic, Guest, SNlop, alkuma4, DheKyu, Guest, Namie, kazekageashainuzukaasharoyani, aichan14, Namikaze Eiji, November With Love, Harcia Hikari, sasunaru, akane. Uzumaki. faris, Naru kawai,
Diedit tgl. 04 November 2015.
