Happiness? : 3

Story telling by : Crypt14

Story idea by : Cuming


Tangisan keras terdengar menguar memenuhi ruang kamar itu. Mingyu melenguh, kedua alisnya bertaut seraya meraih bantal yang berada tak jauh darinya. Membekap indera pendengarannya guna meredam suara tangis bayi yang meraung tersebut. "Wonwoo, bayi mu menangis." Ujarnya seraya menepuk seseorang yang berada disisinya. Namun Wonwoo masih tak bergeming, terlalu jatuh pada alam mimpinya.

Mingyu mengenyahkan bantal yang berada di atas kepalanya. Menoleh sejenak kearah Wonwoo. "Hey, bayi mu menangis." Ujarnya kembali, memukul pelan lengan Wonwoo. Namun pemuda itu masih belum bergeming, tetap pada posisinya. Pemuda itu sepertinya terlelap begitu pulas.

Mingyu menghela nafasnya kasar, merangkak menuju ranjang bayi yang berada tak begitu jauh dari tempatnya dan Wonwoo tidur. Sejenak menatap pada bayi yang masih menangis keras disana dengan pandangan lelah. Pemuda itu mendesah pelan, mengulurkan tangannya untuk meraih bayi dalam ranjang tersebut membawanya pada pelukkan hangatnya. Menepuk lembut punggung sempit bayi dalam pelukkannya, mencoba untuk meredamkan tangis bayi itu.

Mingyu begitu bersyukur mengenai keajaiban yang di terimanya. Pemuda yang selalu disebut all-can-do-anything itu tersenyum tipis menyadari bayi yang berada dalam pelukkannya kini mulai menghentikan tangisnya perlahan, kembali terlelap dengan kepala mungilnya yang bersandar pada bahu lebar Mingyu. Ia menguap kecil, berniat kembali meletakkan tubuh mungil itu pada tempatnya. Namun belum sempat tubuh mungil itu menyentuh ranjangnya sendiri, tangisnya mulai kembali pecah.

Mingyu bersumpah bahwa ia begitu lelah saat ini. Kegiatan kampus yang memakan begitu banyak energinya siang tadi benar-benar membuat tubuhnya terasa begitu berat saat ini. Ia kembali membuang nafasnya kasar, membawa tubuh mungil itu kembali pada pelukkannya. Pemuda itu menguap lebar, sesekali mengusap kedua matanya yang terasa berat.

Ia mendesah mendapati Wonwoo yang masih mampu untuk terlelap dengan pulasnya. Menyeret paksa tubuhnya untuk kembali pada tempat tidurnya. Dengan pelan Mingyu berusaha meletakkan tubuh mungil bayi laki-laki itu di sisi Wonwoo yang masih tertidur setelahnya pemuda bersurai caramel itu mengambil tempat di sisi sang bayi. Mingyu hanya menginginkan istirahat, hanya itu.

Menarik selimut yang sebelumnya tampak begitu berantakkan, menutupi tubuh ketiganya kembali setelahnya rasa kantuk yang begitu besar dengan mudahnya membawa pemuda itu tenggelam pada alam mimpinya.

.

"Wah, kau bau pesing sekali." Mingyu membuka kedua matanya dengan berat saat telinganya mendapati suara samar seseorang yang berbicara tak jauh darinya. Pemuda itu begitu sensitive terhadap suara sekecil apapun. Ia merubah posisinya menjadi terduduk, menatap pada Wonwoo yang tampak sibuk dengan bayi kecil yang terlihat memandanginya dengan tatapan polosnya.

Menguap lebar setelahnya menarik dirinya untuk mendekat kearah Wonwoo. Merebut popok yang sebelumnya berada di tangan pemuda yang lebih tua darinya itu setelahnya mendorong pelan tubuh Wonwoo, meminta pemuda itu untuk bergeser sedikit. Wonwoo tak bergeming, hanya mengikuti perintah Mingyu dengan pandangan bingung yang di jatuhkannya untuk pemuda itu.

Mingyu dengan cekatan mengganti popok kotor dengan yang baru untuk bayi mereka. Sesekali mengucek matanya yang masih terasa begitu mengantuk. Setelahnya kembali menuju kasur lantai tempatnya tertidur saat kegiatan mengganti popok yang dilakukannya telah selesai. Ia bersyukur hari ini dapat beristirahat lebih karena tidak adanya jam kuliah.

Wonwoo masih menjatuhkan pandangan bingung pada Mingyu, setelahnya beralih pada bayi mungil yang kini melemparkan tawa riangnya pada Wonwoo, membawa senyuman pada garis bibirnya. "Ah, kau sudah bersih sekarang." Ujarnya seraya mengangkat bayi tersebut ke udara dan mendaratkannya pada pelukkan hangatnya. "Kau lapar?" Ujarnya kembali yang hanya di tanggapi dengan kekehan kecil dari bibir mungil bayi tersebut. "Aku artikan iya. Ayo kita buat makanan untuk mu, pengganggu kecil."

.

"Apa yang kau berikan padanya, Wonwoo?" Ucap Mingyu, pemuda itu kembali terbangun saat hidungnya mencium bau makanan yang membuat perutnya terasa kosong secara tiba-tiba. "Oh, ini? Mie goreng milik mu, Mingyu." Mingyu nyaris membuat Wonwoo terjengkang dari duduknya akibat dorongan yang dilakukan olehnya.

Menatap tak percaya pada apa yang dilakukan Wonwoo pada bayi mereka. Pemuda itu menyingkirkan piring yang masih berisi helaian mie di dalamnya, setelahnya memasukkan jari telunjuk kanannya ke dalam mulut bayi yang berada dihadapannya hanya untuk mengeluarkan helaian mie yang masih berada disana. Membawa bayi tersebut pada gendongannya. Menatap Wonwoo dengan alis bertaut. "Kenapa kau menatap ku seperti itu?" Ujar Wonwoo dengan nada kebingungan yang terdengar begitu jelas dalam suaranya.

Mingyu mendesah kasar. "Kau itu mau membunuhnya?" Wonwoo melongo mendapati pernyataan seperti itu menguar dari bibir Mingyu. Dia bukan pria brengsek yang akan melakukan hal semacam itu pada seorang bayi yang tidak bisa melakukan apapun. Wonwoo terkekeh dengan nada tak percaya. "Kau fikir aku gila?" Ucapnya.

"Lalu apa maksud mu memberikannya mie seperti tadi?" Wonwoo terdiam sejenak. Setelahnya kembali mencoba membela dirinya. "Kenapa? Aku hanya ingin memberinya makan. Apa hal itu salah?" Ucapnya penuh penekanan. Mingyu masih menatap Wonwoo dengan pandangan tajamnya, setelahnya membuang nafasnya pelan. "Tentu salah jika kau mencoba memberikannya makanan yang belum bisa di cerna olehnya, Wonwoo. Kau lupa dia seorang bayi?" Ujar Mingyu melembut, pemuda itu memahami bahwa Wonwoo bermaksud baik hanya saja pemuda itu tidak mengerti betul mengenai seorang bayi.

Wonwoo menatap Mingyu dengan tatapan bingungnya. Jujur saja, Wonwoo sungguh-sungguh tidak bisa mencerna maksud pembicaraan Mingyu kini. Otaknya terlalu lamban untuk mencerna semua itu. "Param belum memiliki gigi, kau ingin dia tersedak?" Setelahnya Wonwoo menepuk keras dahinya. Ia melupakan hal yang begitu penting mengenai seorang bayi. Ia terkekeh canggung, menyadari kesalahannya. "Maaf, aku tidak mengerti." Ujarnya pelan yang di balas dengan senyuman tipis pada garis bibir Mingyu. "Sudahlah, semoga lain kali kau bisa lebih berhati-hati."

Tawa riang dari bibir bayi dalam pelukkan Mingyu terasa begitu mencairkan suasana di antara keduanya. Baik Mingyu maupun Wonwoo tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya, melemparkan senyum tipis yang begitu tulus. "Jaga dia dulu, aku ingin mandi setelah itu kita pergi ke supermarket untuk membeli susunya, aku rasa sudah mulai habis." Ujar Mingyu seraya menyerahkan bayi itu pada Wonwoo. Setelahnya meraih handuk yang tersampir pada badan bangku, hendak keluar dari kamarnya setelah sebelumnya berujar sejenak yang membuat Wonwoo bersumpah akan menginjak batang leher pemuda itu nanti. "Tapi jika kau ingin menyusuinya, itu akan lebih baik aku rasa."

.

.

Wonwoo masih menekuk wajahnya setelah ucapan brengsek Mingyu tadi. Pemuda itu hanya mengikuti langkah kaki Mingyu yang kini tengah mendorong troli belanjaan. Sesekali pemuda itu terkekeh saat melirik ekspresi tak bersahabat yang Wonwoo lemparkan untuknya. "Kau masih marah?" Ujarnya sambil menaruh beberapa pack popok ke dalam troli belanjaan mereka.

Wonwoo terdiam, malas untuk menanggapi Mingyu. Ia masih begitu kesal terhadap ucapan Mingyu yang terkesan melecehkannya sebagai seorang pria sejati. "Ah, baiklah aku salah. Tolong maafkan aku, sayang." Ujarnya yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Wonwoo.

"Wow, pasangan gay! Sumpah aku baru kali ini melihat pasangan gay secara langsung. Mereka sangat cute." Baik Wonwoo maupun Mingyu melongo sesaat. Keduanya sejenak saling memandang satu sama lain saat tatapan kedua murid pelajar wanita jatuh pada mereka. "Mereka membicara 'kan kita?" Ujar Wonwoo pelan namun masih dapat di tangkap dengan jelas oleh kedua pelajar itu. "Memang kau kira kami membicara 'kan siapa lagi? Ah, itu bayi kalian? Manis sekali!" Setelahnya rahang pemuda berkulit putih itu terjatuh. Ia menatap tak percaya pada kedua pelajar yang kini berada di sekitarnya, mencoba menggoda bayi yang berada dalam gendogannya itu. "Maaf nona-nona, aku rasa kalian sal.."

"Kami tampak sangat manis, bukan?" Wonwoo bersumpah atas nama ayahnya bahwa ia ingin sekali memenggal kepala Mingyu saat ini. Pemuda yang berjarak 1 tahun lebih muda darinya itu terlihat membekap mulutnya, menghentikannya untuk meluruskan kesalah pahaman yang terjadi.

Kedua remaja putri itu nyaris berteriak konyol saat mendapati senyuman kharismatik milik Mingyu tampak jelas pada garis bibirnya. "Kalian sangat manis! Ya Tuhan, kau sangat beruntung memiliki kekasih seperti dia." Wonwoo melirik cepat pada Mingyu yang masih membekap mulutnya. Menatap dengan pandangan horror atas pernyataan salah satu remaja putri itu.

"Tidak, tidak! Kalian salah besar. Bukan dia yang beruntung mendapat 'kan ku akan tetapi aku yang begitu beruntung bisa mendapat 'kannya. Kalian tau, Wonwoo ibu yang hebat." Wonwoo sungguh-sungguh bersumpah akan merencanakan pembunuhan saat keduanya tiba di kamar kos mereka nanti. Ia merasa begitu jengkel dengan segala omong kosong yang di buat oleh pemuda hitam di sampingnya itu.

Gay, demi Tuhan Wonwoo masih menyukai dada seorang wanita. Dia masih waras meski terkadang Mingyu menghilangkan sisi kewarasannya dengan segala sikap pengertiannya namun tetap saja Wonwoo akan menampik perasaan bodoh itu dan membuangnya begitu jauh. Ia masih menyukai seorang wanita.

"Boleh 'kah kami mengambil foto kalian?" Wonwoo kembali mengalihkan pandangannya menuju kedua remaja putri dihadapannya itu. Sesaat melemparkan pandangan jengah pada keduanya. "Tentu saja. Tersenyum 'lah semanis mungkin, sayang." Ujar Mingyu seraya menurunkan salah satu tangan miliknya yang sedari tadi terlihat membekap Wonwoo.

Wonwoo berdecih, mengalihkan pandangannya menuju bidikan kamera ponsel milik kedua remaja gadis itu. Memasang wajah begitu datar. "Baiklah, terima kasih sudah mengizin 'kan kami mengambil foto kalian. Ah, kalian sungguh manis!" Ujar remaja itu setelahnya berlalu pergi.

"Ah, kalian sungguh manis! Persetan dengan kalian." Cibir Wonwoo. Pemuda itu mengalihkan pandangannya menuju Mingyu. Mendarat 'kan tinjuan cukup keras pada ulu hati Mingyu yang sukses membuat ringisan lolos dari belah bibir pemuda itu.

Wonwoo tersenyum puas, masih menatap Mingyu yang tampak mengaduh. "Jangan bersikap lemah begitu, kau 'kan seorang ayah. Cepat bawa troli itu agar kita bisa membayarnya. Aku sungguh-sungguh ingin kembali ke rumah dengan cepat dan membunuh mu, sayang." Ujar Wonwoo dengan penekanan yang keras pada setiap katanya. Setelahnya pemuda itu berlalu bersama bayi mereka menyisakan Mingyu yang bergidik ngeri, pasalnya Wonwoo tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu selama keduanya saling mengenal.

.

.

"Apa maksud mu pasangan gay? Mau ku bunuh kau ya?" Mingyu terdiam dengan tatapan yang jatuh pada ujung kakinya yang terbungkus kaus kaki. Pemuda itu tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun pembelaan. Seakan seluruh kata tertelan begitu saja, Mingyu hanya bisa merunduk takut setiap kali nada suara Wonwoo meninggi. Ia salah, dan ia tidak akan berusaha melawan. "Kau mau menjatuh 'kan reputasi ku ya? Bagaimana kalau saat itu ada salah satu dari anak kampus yang mengenal kita mendengarnya, mampus 'lah kita!" Wonwoo masih tampak memaki pada Mingyu.

Pemuda itu begitu kesal dengan joke yang di buat Mingyu saat berada di supermarket tadi. Ia hanya khawatir jika seseorang salah mengerti dengan keadaan tadi, menganggap bahwa mereka sungguh-sungguh pasangan gay. Wonwoo bersumpah sekalipun ia harus menjadi gay itu bukan dengan Mingyu. Dia tidak akan pernah mau menjadi partner dari si brengsek yang tidak memiliki jaringan sel otak itu baginya.

"Lagi pula, aku akan menolak mu sangat keras jika saja aku sungguh-sungguh seorang gay. Lebih baik menjadi jomblo seumur hidup dari pada harus menjadi partner gay mu." Mingyu nyaris tertawa keras mendapati penuturan konyol Wonwoo. Terkadang pemuda itu agak sulit di mengerti jalan pikirannya bagi Mingyu.

Pemuda berkulit tan itu mengangkat kepalanya yang sedari tertunduk, menatap pada Wonwoo dengan tatapan menggoda. "Memangnya kau ingin memiliki partner gay dengan siapa lagi?" Wonwoo menatap malas pada Mingyu sejenak, setelahnya kembali menenggak air mineral dalam genggamannya.

"Mungkin Wen Junhui, anak fakultas kedokteran itu. Kau tahu 'kan dia cukup berduit berbeda jauh dengan mu. Di samping itu, wajahnya jauh lebih bisa di kata 'kan sempurna dibandingkan kau." Setelahnya Mingyu beranjak, mendekat menuju Wonwoo. Menyudutkan pemuda itu pada dinding di belakang tubuhnya. Menjatuhkan tatapan tajam padanya. Wonwoo bersumpah, nafasnya seakan terhenti di pangkal kerongkongannya.

Pemuda itu menatap Mingyu dengan deguban jantung yang berada diluar batas normal. Ia dapat dengan jelas merasakan deru nafas Mingyu yang begitu teratur pada permukaan wajahnya. Perlahan, pemuda berkulit tan itu mengeliminasi jarak wajah mereka, membawa Wonwoo pada kondisi dimana ia nyaris kehilangan oksigen miliknya.

Semakin dekat, hingga ia dapat merasakan hembusan nafas Mingyu menggelitik kulit telinganya saat pemuda itu membisikkan sesuatu disana. "Tapi, milikku jauh lebih besar darinya, Wonwoo."

"BANGSAT KAU KIM MINGYU!"


Haiiiiiiiii, hayo siapa yg masih nunggu kelanjutan ff ini angkat celana biasnya xD maaf baru bisa update soalnya males bgt buat ngeditnya lg wkwkwk

anyway thanks buat kalian yg masih mau review yaaa, duh aku terharu loh xD. okeh lg males banyak ngomong keep review and stay tune on my channel yaaa.

Salam,

Crypt14