oO-TamaSa-Oo

Disclaimer: Around Us Ent., and more. But story and plot are mine.

Rated: T

Genre: Romantic

Pairing: JunSeob, DongSeob, and others.

Warning: YAOI, Boyslove, OOC, typo. Don't like don't read!

oO-TamaSa-Oo

"Bukannya ini masih terlalu pagi untuk memasang wajah kusut seperti itu?"

Junhyung menoleh ke belakangnya, di mana ia lihat Eomma sedang berjalan ke arahnya. Mendekatinya. Tangannya membawa sebuah panci yang masih mengepul. Begitu sampai di samping Junhyung, ia letakkan panci itu di atas meja makan.

"Eomma membuat dakjuk?" tanya Junhyung ketika mencium aroma masakan eommanya.

"Kemarin Appa ingin makan dakjuk, tapi karena Eomma sudah terlanjur memasak menu lain, akhirnya dia tidak jadi meminta itu...," Junhyung mengangguk paham.

"Tapi kenapa Eomma memasak dakjuk sebanyak ini? Apa seharian ini kita akan makan dakjuk?" Junhyung tidak bisa membayangkan kalau hal itu memang benar. Dakjuk buatan Eomma memang yang paling enak, tapi jika harus makan bubur seharian, kau bisa bayangkan sendiri betapa lemasnya kau nanti. Bubur memang membuatmu cepat kenyang, tapi juga cepat lapar.

"Ini untuk Yoseob. Tolong kau antarkan ke rumahnya ya nanti..."

"Mwo? Yoseobie?"

"Kau lupa kalau Yoseob sangat menyukai dakjuk?"

"Dia suka semua makanan, Eomma," sahut Junhyung. Eomma tertawa geli.

"Ne, geuraeyo. Suruh ia menghabiskannya nanti." Junhyung mengangguk.

"Kalian berdua tidak ada janji hari ini?" Eomma kembali bertanya. Pertanyaan yang spontan membuat mood Junhyung jatuh. Ia tidak menjawab, hanya mengedikkan bahunya. Ia tidak berani mengajak Yoseob pergi. Hari ini adalah Christmas Eve. Junhyung pikir, mungkin saja Yoseob sudah berencana mengajak orang lain untuk kencan malam Natalnya. Apalagi belakangan ini Dongwoon terlihat gencar sekali mengejar Yoseob.

Junhyung tidak akan mengelak kalau ada yang menuduhnya sedang cemburu. Ia memang cemburu pada Dongwoon, ia akui itu. Dan sialnya, ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengatasi rasa cemburunya. Selain karena jelas-jelas ia kalah saing dengan hoobaenya itu, alasannya juga karena ia dan Yoseob hanya bersahabat, bukan sepasang kekasih.

Sebenarnya bisa saja sekarang ia menelepon Yoseob dan menanyakan padanya apakah ia ada janji dengan orang lain atau tidak. Masalahnya Junhyung tidak punya nyali untuk melakukan itu. Bagaimana kalau ternyata Yoseob sudah ada janji dengan orang lain? Siapkah hati Junhyung menerima jawaban itu?

"Junhyung-ah?"

Junhyung tersentak. Ia mengerjapkan matanya, untuk menyadari kalau Eomma masih berdiri di sampingnya dan melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Gwenchana?" tanya Eomma. Wajahnya terlihat khawatir. Junhyung mengangguk. Ia menyunggingkan senyum kaku.

"Kau ada masalah dengan seseorang?"

"Anniya, Eomma."

"Sungguh? Kau bisa bercerita pada Eomma kapanpun kau mau, kau tahu itu?"

"Ne, Eomma...," jawab Junhyung. Dalam hati ia mengeluh. Mana mungkin ia menceritakan pada Eomma kalau ia sedang jatuh cinta pada sahabatnya?

-oO-Tamasa-Oo-

Sebenarnya Junhyung sudah berniat untuk kembali pulang ke rumahnya saat ia melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir di depan rumah Yoseob. Sungguh. Ia tahu itu mobil siapa, karena memang beberapa hari yang lalu ia dan Yoseob menaiki mobil itu.

Son Dongwoon...

Junhyung bahkan sudah bisa menebak apa yang dilakukan pemuda itu di rumah Yoseob. Apa lagi kalau bukan ajakan kencan? Dasar bocah! Pagi-pagi sudah bertamu di rumah orang. Memangnya ia tidak ada kesibukan lain yang bisa dikerjakan, selain hanya mengganggu Yoseob? Oh iya, Junhyung lupa, dia anak orang kaya. Satu-satunya yang harus ia lakukan di hidupnya hanyalah bersantai, karena kegiatan yang lain pasti sudah dikerjakan pembantu atau suruhannya. Aish... lihat? Hanya karena cemburu Junhyung bisa jadi sesadis ini dalam berkomentar.

Ketika Junhyung hendak membalikkan badannya untuk kembali pulang ke rumah, suara seorang wanita menghentikannya. Junhyung menoleh, di mana eomma Yoseob sedang berlari kecil menghampirinya. Mengapa Junhyung tidak menyadari kalau ada wanita itu tadi? Oh, Junhyung sibuk memikirkan Dongwoon dan Yoseob.

"Anyeonghaseyo, Ahjumma," Junhyung membungkuk, menyapa wanita yang sudah ia anggap seperti eomma kedua baginya.

"Ne, anyeonghaseyo~. Dari mana kau, Junhyung-ah?"

"Dari rumah, Ahjumma."

"Kau mencari Yoseobie? Kenapa berbalik tadi?" Junhyung meringis. Ia mana mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya pada Yang ahjumma?

"Sepertinya ada tamu, Ahjumma. Aku tak ingin mengganggu," Junhyung mengarahkan dagunya pada mobil yang terparkir di depan rumah. Yang ahjumma terlihat terkejut, sepertinya baru menyadari hal itu.

"Siapa ya yang bertamu sepagi ini?" gumam wanita itu bingung. Junhyung mengedikkan bahunya seolah ia tidak tahu. Ia ingin melihat bagaimana respon pertama wanita itu saat melihat Dongwoon nanti.

"Kajja kita masuk!" Yang ahjumma mengulurkan tangannya yang kosong untuk menggandeng lengan Junhyung. Ahh... Junhyung baru menyadari kalau wanita ini membawa bungkusan plastik sedari tadi. Dengan tanggap ia mengambil bungkusan milik Yang ahjumma.

"Biar aku yang bawakan, ahjumma," gumamnya memberikan senyum simpul di wajahnya.

"Gomapta... kau memang anak yang baik," Junhyung sedikit tersipu ketika dipuji seperti itu. Itu tadi spontan, ia bukannya sedang mencari muka di hadapan calon mertuanya. Aih... berani sekali Junhyung menganggap Yang ahjumma sebagai calon mertuanya, sementara ia sendiri gugup setengah mati hanya karena tidak sengaja bersentuhan dengan anaknya.

"Aku baru pulang berbelanja di supermarket. Saat aku ingin membuatkan sarapan, ternyata persediaan kulkas habis," Yang ahjumma menjelaskan. Junhyung mengangguk paham.

"Berarti Ahjumma belum sarapan pagi?" Yang ahjumma menggeleng.

"Kebetulan sekali..."

"Waeyo?"

"Eomma menyuruhku mengantarkan ini untukmu...," Junhyung mengangkat bungkusan yang ada di tangan kirinya.

"Apa itu?"

"Dakjuk."

"Jinjjayo? Wah... Gomapta ne..."

"Sama-sama, Ahjumma," Junhyung tanpa sadar menahan nafas ketika Yang ahjumma membuka pintu depan, sudah siap untuk bertemu Yoseob dan Dongwoon yang mungkin sedang berada di ruang tamu. Dan begitu pintu terbuka sepenuhnya, Junhyung menelan kecewa. Tidak ada siapapun di ruang tamu. Tunggu... lalu di mana mereka berdua jika tidak ada di sini? Apakah di halaman belakang rumah? Atau jangan-jangan di atas -di kamar Yoseob? Junhyung langsung gelisah hanya dengan memikirkan itu saja.

Seperti biasa, Junhyung mengikuti Yang ahjumma menuju dapur. Ia meletakkan semua bungkusan yang ia bawa di meja makan, kemudian duduk di salah satu kursi.

"Kau tidak ke atas?" tanya Yang ahjumma heran. Junhyung menaikkan alisnya, belum paham maksud perkataan wanita itu.

"Mungkin Yoseob ada di kamarnya, coba cari di sana...," lanjut wanita itu. Junhyung menggeleng. Kalaupun iya Dongwoon dan Yoseob ada di atas, Junhyung tidak akan menyusul mereka. Junhyung tidak akan sanggup melihat mereka berduaan di dalam kamar. Membayangkannya saja sudah membuat dadanya nyeri.

"Aku akan menemani Ahjumma di sini," jawab Junhyung.

"Sungguh? Kupikir kau datang kemari untuk memberikan dakjuk juga pada Yoseob?"

"Tidak sepenuhnya salah...," jawab Junhyung terkesan ambigu. Junhyung menyadari kalau Yang ahjumma menatapnya lama, seolah menuntut penjelasan. Tapi Junhyung berpura-pura tak melihat ekspresi wanita itu. Dengan cuek ia mengeluarkan bungkusan yang ia bawa dari rumah, bangkit berdiri untuk mengambil wadah yang cukup besar dari dalam rak kabinet di dapur dan menuangkan dakjuk dalam wadah tersebut.

"Bagaimana kalau aku panaskan, Ahjumma?" tanya Junhyung meminta ijin. Yang ahjumma mengangguk, ia mengambil wadah yang dibawa Junhyung kemudian memanaskannya dalam microwave.

"Kenapa aku berpikir kalau kau sepertinya sedang menghindar dari Yoseob, Junhyung-ah?" Yang ahjumma berkacak pinggang, benar-benar ingin tahu apa yang ada di pikiran Junhyung kali ini.

"Anniya..."

"Meskipun kau bilang tidak, sayangnya aku tidak bisa mempercayai itu," Yang ahjumma berjalan mendekati Junhyung, berusaha membuat pemuda itu tersudut. Tapi melihat ekspresi Junhyung yang pasif, sepertinya pemuda itu tidak terpengaruh sama sekali. Junhyung memang pemuda yang tertutup, bahkan pada orangtuanya sendiri. Semua orang yang mengenal Junhyung sudah hafal bagaimana sulitnya membujuk pemuda itu untuk mengungkapkan perasaannya.

"Baiklah kalau kau tetap ingin bungkam," Yang ahjumma mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah, "tapi kau tahu kan, kau bisa bercerita padaku, apapun dan kapanpun. Jangan sungkan padaku," lanjutnya. Junhyung mengangguk. Wanita di hadapannya ini memang baik hati. Itulah alasan Junhyung sangat menghormatinya, sama seperti ia menghormati eommanya sendiri. Mungkin malah lebih.

"Aku akan memanggil Yoseob sebentar...," Yang ahjumma mencuci kedua tangannya di wastafel.

"Ne, biar aku yang merapikan meja makan," jawab Junhyung sambil bangkit berdiri. Ia mengeluarkan semua belanjaan Yang ahjumma ke meja makan. Ia berhenti sebentar saat wanita paruh baya itu menepuk pundaknya sambil bergumam terimakasih, dan kemudian melanjutkan kegiatannya kembali saat wanita itu berjalan menaiki tangga.

Oh, dia akan melewatkan ekspresi Yang ahjumma saat melihat Dongwoon untuk pertama kalinya. Ah... biar saja. Nanti juga pasti akan ada kesempatan lain. Ia tahu, bisa menebak lebih tepatnya, orang-orang yang bertemu dengan Dongwoon pasti akan langsung menyukainya. Ya... tampan, ramah, dan kaya. Meskipun ia tidak mengatakan siapa ayahnya, tapi cukup melihat mobil yang ia tumpangi, pasti orang akan langsung segan padanya. Semakin Junhyung mencari kelebihan dari pemuda Son itu, maka akan semakin besar pula rasa rendah diri Junhyung. Junhyung benar-benar tidak sebanding dengan hoobaenya itu, sangat jauh.

Lalu, pantaskah ia jika tetap mengejar perasaannya pada Yoseob? Pantaskah Junhyung untuk mendapatkan Yoseob? Pemuda manis itu sempurna di hadapan Junhyung, sampai-sampai Junhyung menganggapnya seperti malaikat. Bagaimana mungkin pemuda bak malaikat seperti Yoseob bersanding dengan pemuda biasa-biasa saja macam Junhyung?

Junhyung menghentikan kegiatannya, mengulurkan tangannya untuk memijat pelipisnya. Ia benar-benar pusing memikirkan keadaannya yang stuck, tidak ada perubahan. Ia ragu untuk melangkah maju, tapi ia juga tidak sanggup untuk berhenti apalagi mundur. Rasa cinta yang ia miliki sudah terlalu dalam, membuatnya sangat membutuhkan sosok Yoseob di hidupnya. Meskipun hanya sebagai sahabat.

Junhyung terkesiap ketika mendengar suara orang berbincang dari arah tangga. Dengan cepat Junhyung menyelesaikan semua kegiatannya. Ia melirik ke arah tangga, di mana terlihat Yoseob dan eommanya sedang bercakap-cakap, sementara Dongwoon berjalan mengikuti di belakang mereka.

"Junhyungie!" sorak Yoseob begitu melihat sahabatnya sudah ada di dapur. Dengan antusias ia menghampiri Junhyung, menyunggingkan senyum indahnya, membuat pipi Junhyung bersemu.

"Kata Eomma, kau membawakan kami dakjuk, benarkah?" tanya pemuda manis itu. Junhyung mengangguk kikuk.

"Masih dipanaskan. Tunggu sebentar," jawab Junhyung. Yoseob mengangguk.

"Dongwoon-ah, kemarilah!" ajak Yoseob. Dongwoon mengangguk. Ia mengikuti tingkah Yoseob yang duduk di kursi. Junhyung memperhatikan mereka berdua dengan wajah masam. Kenapa dia harus melayani Dongwoon juga? Junhyung baru berhenti memandangi mereka berdua saat ia mendengar tawa kecil dari Yang ahjumma. Ia tak mengerti kenapa Yang ahjumma tertawa sambil menutup mulutnya, seolah-olah ia berusaha menahan tawanya.

"Ahjumma? Waeyo?" tanya Junhyung penasaran. Yang ahjumma menggeleng, masih dengan tawa tertahan. Ia mengikuti Yang ahjumma yang kini mematikan microwave dan mengambil dakjuk yang ia panaskan sedari tadi. Dengan cekatan wanita itu menyiapkan dakjuk tersebut beserta peralatan makan di meja.

"Apakah ada kotoran di wajahku?"

"Anni!" jawab Yang ahjumma cepat sambil tertawa makin keras, menarik perhatian Yoseob dan Dongwoon yang telah menghentikan percakapan mereka dan lebih memilih mendengarkan obrolan antara Junhyung dan eomma Yoseob.

"Lalu apa yang membuat Ahjumma tertawa seperti tadi?" tanya Junhyung, masih berusaha mencari tahu. Yang ahjumma menghentikan kegiatannya, berjalan dan berhenti tepat di depan Junhyung. Wanita itu mengulurkan tangannya dan mencubit kedua pipi Junhyung.

"Kau ini benar-benar menggemaskan!" ujarnya membuat wajah Junhyung memerah malu.

-oO-Tamasa-Oo-

"Bagaimana hubunganmu dengan Hara?"

Junhyung nyaris menjatuhkan cangkir minumannya saat mendengar pertanyaan barusan. Ia meneliti pakaiannya, khawatir kalau ada minuman yang tumpah mengenai pakaiannya. Untungnya tidak ada. Ia melirik pada eommanya yang kini duduk di sampingnya.

"Sudah lama sekali Hara tak berkunjung kemari. Eomma merindukan gadis itu...," Eomma membuka toples biskuit yang ada di meja, mengambil satu dan menggigitnya kecil. Junhyung berdehem gugup. Kedua matanya masih menatap layar televisi di depan, tapi otaknya bekerja dengan cepat untuk mencari alasan yang paling tepat.

"Belakangan ini kami berdua sibuk. Dia memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler di sekolah," jawab Junhyung. Ia menyeruput coklat panasnya sedikit, membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering.

"Sesibuk itukah? Kalian jarang bertemu di sekolah?" tanya Eomma lagi. Junhyung mengangguk. Ia tidak bohong. Selama beberapa bulan belakangan ini, sebelum hubungan mereka berakhir, mereka sudah kesulitan mencari waktu untuk bisa pergi berdua. Atau mungkin hanya Hara yang kesulitan. Karena faktanya, Junhyung lebih berusaha mendekati Yoseob saat itu, ketimbang kekasihnya sendiri.

"Malam Natal begini, kau tidak ada rencana dengannya?" Junhyung sedikit heran dengan sikap eommanya kali ini. Tumben Eomma jadi banyak bertanya?

"Tidak ada, Eomma."

"Karena kau memang tak mengajaknya?" Junhyung tak menjawab. Ia hanya berpura fokus menatap layar TV sambil meminum coklatnya. Dalam hati ia berharap semoga Eomma tidak melihat tangannya yang gemetar.

"Kalian berdua ada masalah?"

"Tidak ada-" lagi, lanjut Junhyung, masih dalam hati.

"Atau jangan-jangan... kalian sudah mengakhiri hubungan?" Junhyung tak bersuara sedikitpun. Sebenarnya ia sedikit merasa bersalah karena tak mengacuhkan Eomma. Tapi bagaimana lagi, ia tak tahu harus memberi jawaban apa pada eommanya. Semua orang tahu bagaimana Junhyung dan Hara menjalani hubungan selama 2 tahun ini. Mereka tidak pernah bertengkar, saling pengertian, dan cukup romantis meskipun bukan tipe pasangan yang suka mengumbar kemesraan. Lalu hal besar apa yang bisa membuat hubungan mereka berakhir?

"Junhyung? Apakah benar tebakan Eomma?" Eomma menyentuh bahu Junhyung, mengembalikan fokus Junhyung pada wanita tersebut.

"Eomma tidak akan marah padamu jika itu memang benar," Junhyung menolah ke arah Eomma, masih belum mengerti mengapa eommanya berkata begitu.

"Yaah, Eomma memang sedikit kecewa. Karena menurut Eomma, Hara adalah gadis yang baik. Kalian berdua sangat cocok. Tapi kalau Eomma boleh jujur... sebenarnya Eomma sudah menduga kalau suatu saat hubungan kalian akan berakhir...," Junhyung tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut. Apakah Eomma menyadari kalau sebenarnya selama ini ia menyukai orang lain, bukan Hara? Atau jangan-jangan ia juga tahu kalau orang itu adalah Yoseob?

"Wae geuleohge?"

"Kau bertanya? Kau masih menanyakan hal itu pada Eomma?"

"Aku benar-benar tidak mengerti maksud Eomma."

"Bukankah ada orang lain yang kau sukai?" Junhyung tersedak. Ia mengerjap, terlihat gelisah. Ia tak sadar kalau wajahnya mulai memerah karena malu, dan Eomma menyadari itu.

"A-anniya!"

"Eomma sangat mengenalmu, jadi kau tidak akan bisa berbohong pada Eomma. Tidak perlu kau perjelas pun tak masalah...," Eomma mengelus kepala Junhyung dengan lembut. Jujur saja, Junhyung sangat canggung jika harus membahas hal ini bersama eommanya.

"Eomma... ini tidak seperti yang kau pikirkan," Junhyung masih berusaha mengelak. Tidak, ia tidak akan mengakui perasaannya di hadapan Eomma begitu saja. Dia masih belum tahu, siapa orang yang dimaksud oleh Eomma.

"Eomma tidak masalah jika kau menyukainya. Dia memang pemuda yang baik dan manis," Eomma tersenyum, tapi tidak dengan Junhyung. Jantungnya serasa berhenti berdetak begitu mendengar Eomma menyebut kata 'pemuda'. Wajahnya memucat, akalnya berusaha mengarang alasan yang paling logis untuk menyanggah eommanya. Eomma tidak mungkin tahu yang sebenarnya terjadi selama ini. Karena ia sangat yakin ia sudah menutupi perasaannya rapat-rapat. Junhyung menoleh pada eommanya dengan takut-takut. Dan jujur saja, ia sama sekali tak bisa menerka apa maksud senyum Eomma yang ia lihat sekarang.

"Lagipula kau sudah mengenalnya dengan baik. Keluarganya juga," Junhyung memilih untuk tetap membisu, tak ingin terpancing dengan perkataan Eomma. Bisa jadi wanita di sebelahnya ini hanya sedang mencari tahu bagaimana perasaan Junhyung yang sebenarnya.

"Mengapa kau hanya diam? Kau tidak percaya kalau Eomma tidak mempermasalahkan hal ini?"

"Hal apa?" tanya Junhyung balik. Eomma berdecak.

"Mengenai perasaanmu pada Yoseob!" Jantung Junhyung rasanya seperti akan lompat dari tempatnya. Eomma tahu!

"Yoseob? Aku tidak- maksudku aku dan dia hanya bersahabat, Eomma!"

"Sungguh?" Junhyung membuang muka.

"Padahal Eomma sama sekali tak keberatan jika kau berhubungan dengannya. Maksud Eomma... berpacaran..."

"Hubungan di antara kami berdua tidak akan berubah, Eomma," pandangan Junhyung menerawang kosong. Ia kembali mengingat kejadian pagi tadi saat ia pergi ke rumah Yoseob dan mendapati Dongwoon yang juga telah berada di sana. Setelah mereka makan bersama tadi, Dongwoon mengajak Yoseob pergi entah kemana. Berdua. Sebenarnya Yoseob sempat mengajak Junhyung, tapi pemuda Yong itu sadar diri, tidak ingin mengganggu acara mereka berdua. Lagipula mana bisa ia menahan cemburu saat melihat Yoseob akrab dengan pemuda lain?

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Sampai kapanpun kami hanya akan menjadi sahabat," bisik Junhyung, tak sadar kalau Eomma masih bisa mendengarnya. Mereka berdua bungkam selama beberapa menit. Junhyung sedikit tersentak dan menoleh ketika merasakan belaian lembut di atas kepalanya. Senyum yang diberikan Eomma cukup untuk menenangkan hatinya yang resah semenjak ia pulang dari rumah Yoseob. Ya, Junhyung sadar apa yang membuatnya uring-uringan dari tadi. Yoseob dan Dongwoom. Ada di mana mereka sekarang? Apa yang mereka berdua lakukan? Kepala Junhyung seakan mau pecah hanya karena memikirkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di otaknya.

"Gwenchana Junhyungie... Eomma akan selalu mendukungmu..."

Dan Junhyung bersumpah kalau air yang menggenang di pelupuk matanya saat ini bukanlah air mata, tapi karena debu yang tidak sengaja mengenainya.

To be continued...

-oO-Tamasa-Oo-

Lama? Hhaa... Mianhanda!

Saya saranin baca part sebelumnya ya karena lanjutan ini bener-bener udah terlalu lama.

Terimakasih sudah mau bersabar menunggu selama ini. Fokus saya terbagi banyak banget, dan jujur saja, menulis jadi opsi yang paling akhir dari kesibukan saya.

Terimakasih juga untuk yang udah fav atau follow akun saya maupun ini story.

Nah, seperti biasanya mind to review?

Ciao!