Hak Cipta bukan milik penulis. Apapun yang terjadi disini tidak terjadi di dunia nyata.
Halo, dears. Kembali lagi di fandom sepi ini, padahal cerita Evangelion sangat berkualitas untuk dikembangkan ke arah tak terduga. Kedalaman karakter dan kompleksitas cerita. Andaikan ada lebih banyak orang yang menulis di fandom ini. Cerita ini kutulis karena rasa frustasiku saat tidak ada cerita menarik tersisa di fandom ini, padahal lagi pingin baca.
Terima kasih yang sudah mau mampir, itung2 juga review biar aku tahu masih ada kehidupan disini. Tanpa menunggu lagi, selamat membaca ! 😊
03
"Kita akan melakukan simulasi melawan Angel dan membuatmu terbiasa dengan Pallet Rifle atau yang juga disebut Pallet gun," kata Dr. Akagi. "Anggap saja ini juga untuk latihan menembak. Semakin sempurna jangkauan, semakin besar presentase kemenangan." Mata wanita itu bergerak mengawasi Shinji, membuatnya tahu ada yang tak beres pada dirinya. Shinji berdiri dan menjaga ekspresinya senormal mungkin. Setelah beberapa saat, wanita itu berkata, "Sepertinya kali ini kita juga tidak bisa menggunakan plung suit. Kau bertambah tinggi secara progresif, aku perlu mengembangkan suit baru yang bisa beradaptasi dengan pertumbuhanmu," ia menggumamkan kalimat terakhirnya sambil berpikir keras. Lalu wanita itu memberi tanda agar Shinji melepaskan pakaiannya. Shinji yang kebingungan hanya menatap.
"Ah, aku juga perlu menganalisa sinkronasi-mu. Karena kau tidak bisa memakai plung suit, maka kau perlu melakukannya tanpa pakaian. Tidak bisa membiarkan ada material yang mengganggu proses analisis."
"T-tapi, dr. Akagi!" seru Shinji frustasi. Wanita itu menatapnya seolah ia tidak punya pilihan lain. "Paling tidak biarkan aku tetap memakai celana!"
"Celana dalam saja."
"Dokter!"
"Hush. Kau tidak perlu malu. Hanya aku dan para teknisi yang bergelar dokter, semuanya sudah terbiasa melihat tubuh telanjang manusia. Sudah menjadi bagian dari studi biotecnology. Sudah jangan menghabiskan banyak waktu," katanya sambil melambaikan tangan. Paling tidak wanita itu memberinya jubah mandi untuk berjalan menuju Eva. Sambil menghela napas menyerah, Shinji yang wajahnya merah padam ditengah tatapan rasa bersalah dan geli kru disana, ia naik ke dalam Eva. "Uh, aku harap kau segera menyelesaikan plung suit-ku, dokter!" gerutunya.
Shinji bergidik oleh rasa dingin dari cairan LCL yang mulai memenuhi tabung. Perlahan cairan itu menyesuaikan diri dengan suhu tubuhnya dan bau darah melingkupi Shinji seperti ia berada di dalam rahim. Melayang di antara air ketuban. Suara Maya memandunya untuk mengosongkan pikiran. Berusaha menjadi satu dengan Eva-nya. Ia bisa mendengar senandung di kejauhan, seperti nina bobo."Rasio sinkronisasi melewati 75%!" Suara Maya terdengar di latar belakang, tampak samar dan jauh.
"Detak jantung normal, gelombang otak normal."
"Melewati 80%! 82%!"
"Shinji-kun!" dr. Akagi terdengar panik. Shinji tidak mengerti apa yang membuatnya panik. Ia merasa baik-baik saja. Lebih baik dari biasanya, malah. "Shinji-kun kau bisa mendengarku!?"
"Video transmisi mati. Kita tidak bisa melihat apa yang terjadi dalam plung—"
"Detak jantung tidak stabil. Gelombang otak setara dengan orang koma."
"Transmisi suara? Gunakan gelombang kejut. Bawa Shinji kembali!"
"Transmisi suara masih aktf. Gelombang kejut diaktifkan!"
"Sinkronisasi terus naik. Plung bergerak semakin dalam!"
"Putuskan koneksi! Tarik paksa Plung!" perintah dr. Akagi.
"SHINJI-KUN! SHINJI-KUN!"dr. Akagi? Kenapa kau berteriak-teriak?
"Evangelion menolak perintah!" suara kepanikan itu terdengar makin samar.
Shinji berdiri di ruangan yang terang benderang. Begitu terang sampai ia tidak bisa melihat detailnya. Di sudut ruangan seorang wanita tampak berdiri, seolah menunggu. Shinji bergerak mengikutinya, tapi wanita itu terus berlari menjauh. Ia tidak bisa mendengar suara langkah kakinya sekalipun ia berlari sangat kencang.
Lalu tiba-tiba suara maskulin, suara yang terdengar familier berseru, "Berhenti, Shinji-kun!" Bersamaan dengan tangan-tangan kuat menahan lengannya. "Jika kau terus maju. Kau tidak bisa kembali." Suara itu tepat berada ditelinganya, tapi Shinji tidak melihat siapapun.
"Kedalaman plung berkurang. Sinkronisasi turun menjadi 80%, 78%, stabil di 67%!
"Shinji-kun! BANGUN, SHINJI!"
"Video transmisi kembali!"
Shinji tersentak dan membuka mata. Pada layar monitor terpampang dr Akagi dengan wajah pucat dan panik. "dokter?"
"Kau bisa mendengarku?"
Shinji mengerjap. "Kapan kita mulai simulasinya, dokter?"
Peluh mengalir di pelipis dan turun menetes melalui dagunya sementara wanita pirang itu membuat catatan dengan gerakan sangat cepat. "Apa yang terakhir kali kau ingat, Shinji-kun?"
"Uh... Maya memanduku untuk mengosongkan pikiran—apa yang terjadi, huh?" tangannya menyentuh rambutnya yang melayang di udara. Rambut putih itu menutupi sebagian wajahnya dan jatuh hingga bahunya. "Kenapa jadi semakin panjang?"
"Kau sempat kehilangan kesadaran Shinji-kun. Bisa kau jelaskan apa yang kau rasakan?"
"Aku tidak merasakan ada yang aneh. Kehilangan kesadaran? Apa yang terjadi dokter?"
"Kau mengalami perubahan sinkroninasi secara signifikan, mungkin karena sekarang kau tidak memakai plung suit. Itu membuat otakmu terkejut. Kita sudahi sampai disini, Shinji-kun. Aku akan mengeluarkanmu. Akan ada kru yang membantumu keluar, jangan memaksakan diri." Shinji yang masih kebingungan, merasakan cairan LCL perlahan menyusut. Dan getaran keras menandakan plung keluar dari tubuh Eva, hingga sedetik kemudian, pintu plung terbuka dengan desisan. Pintunya terbuka untuk memperlihatkan seorang wanita yang meraih turun dan membawanya keluar. Kru di luar menatap dengan terbelalak, tampak luar biasa terkejut. Tapi lengan-lengan kuat dua pria dengan pakaian paramedis lebih dulu menangkapnya. Mereka membuatnya berbaring di lantai dan seorang wanita pirang memeriksa nadi dan mulai mengukur tekanan jantungnya.
"Dokter?" ia mendongak ke atas.
"Hm... dari dua kali kau melakukannya, kau sudah melewati The Embrace of Eternity."
"The apa?" tanyanya, tambah bingung sekarang.
"Teoritikal limit," dr. Akagi menjelaskan, "Yang pertama adalah Gehenna's Gate pada 20%, itu batas bawah dari aktifasi Eva. Berada di bawah prosentase itu, maka tidak akan bisa mengaktifkan unit. Selanjutnya adalah 50%, disebut The Edge of Limbo. Sekali kau melewatinya, kau akan mampu membuka kunci dari potensi tersembunyi dari Evangelion. Apa yang kau lakukan sekarang dan kemarin, disebut The Embrace of Eternity. Belum pernah ada yang berhasil melakukannya kecuali dirimu. Dan berdasarkan dua kali kau melakukannya, aku bisa mengambil teori bahwa akan terjadi koneksi yang cukup kuat dimana pilot tidak lagi hanya mengontrol Eva, tapi menjadi satu dengannya. A-10 milikmu akan berkurang, seperti syaraf dan indra perasa Eva akan terkirim langsung padamu. Eva akan bergerak seperti perpanjangan tangan dan kakimu."
"Kalau melewati 100%?" ingatannya membawanya kembali ke masa lalu. Seperti flashback ia merasakan saat jiwanya terhubung dengan Eva. Bersentuhan dengan bagian terdalam jiwa yang lebih tua dari pada dunia. Bersentuhan dengan eksistensi diluar batas akal manusia. Bersentuhan dengan akar dari penciptaaan, seperti mencicipi buah terlarang.
Tangan Shinji bergetar hebat sementara rasa dingin mengguyur tulang belakangnya. Napasnya menjadi pendek-pendek sementara keringat dingin mengalir pada kulit pucatnya yang seperti kertas. Lengan-lengan kuat paramedis menahan kepalanya, sementara dengan cekatan mereka menyuntikkan sesuatu di lengannya. Saat kesadaran berangsur-asung memudar. Ia mendengar dr Akagi menjawab, "The Road Home. Dimana tidak ada lagi perbedaan antara Eva dengan pilot. Menyatu menjadi satu eksistensi yang sama."
Shinji terbangun di langit-langit yang familier. Sudah berapa kali ia terbangun di tempat yang sama? Ruangan putih dengan bau tajam disinfektan. Ia memakai pakaian tipis pasien berwarna biru dengan tali mengikat di kanan kirinya. Untung saja mereka tidak lupa meletakkan pakaiannya, terlipat diatas meja. Ia memandang bingung pada ikat rambut hitam sederhana yang diletakkan diatas nya.
Tahu benar tidak akan ada yang menghentikannya karena ia tidak benar-benar sedang sakit atau terluka. Shinji memakai celananya tanpa ragu, ingin sesegera mungkin melepas baju pasien. Ia mengerutkan kening saat mendapati kemejanya lebih sempit dari biasanya. Lalu tiba-tiba ia tersentak dan kakinya tersandung saat tanpa sengaja melihat pantulan dirinya di cermin. Sosok yang balik menatapnya adalah Shinji Ikari, ia bisa mengenali karakteristik dirinya pada pantulan itu, tapi juga sama sekali berbeda. Hilang sudah rambut hitamnya, kini seutuhnya menjadi putih dan panjangnya menyentuh bahu. Belum hilang keterkejutannya soal warna matanya yang berubah, kini ia beberapa cm jauh lebih tinggi, dihiasi otot perut seolah ia rutin berolah raga. Ia bisa disangka anak SMA dengan tinggi tubuhnya sekarang, atau malah pria muda, bila tanpa seragam sekolah.
"Apa yang dilakukan Eva padaku..." ataukah ini perbuatan Adam?
Shinji meraih ikat rambut itu, tahu sekarang apa gunanya.
Melongok pada koridor yang kosong, tidak ada satu pun petugas disana. Harusnya ia memanggil seseorang bila tidak ingin tersesat, tapi karena ia cukup familier dengan tempat ini, melakukan itu terlalu merepotkan. Ia bisa menemukan jalannya sendiri.
Tapi di ujung koridor, dekat pintu lift, langkahnya terhuyung kaget, saat matanya bersirobok dengan sosok familier di salah satu kamar; duduk menatap kosong dari balik kaca transparan yang memisahkankan dengan koridor. Rei ayanami duduk disana dengan perban disekujur tubuhnya.
Shinji mengambil satu langkah, sebelum bergerak masuk ke ruangan itu. "A-ayanami," bisiknya dengan senyum lebar. Tapi senyum itu sedikit memudar saat Rei menatapnya tanpa familiaritas. Ah, bisiknya. Tentu saja. "Ayanami-san. Syukurlah kau sudah sadar."
Gadis itu mengerjap, "Shinji Ikari. Pilot Eva Unit 01."
Shinji tersenyum, "Panggil saja Shinji. Aku tidak terlalu suka dengan formalitas," katanya beralasan. Tahu benar ia hanya menyuruhnya begitu karena merasa aneh bila Rei tidak memanggilnya seperti biasa. "Aku senang kau sudah sadar," ujarnya sambil berjalan mendekat. Ia berdiri di sisi tempat tidur, karena berbeda dari kamar lain, tidak ada kursi pengunjung di ruangan ini. Ingin rasanya ia memberikan satu dua kali pukulan pada ayahnya yang melarang tiap personel NERV untuk berhubungan terlalu intim dengan first child.
"Aku yakin tidak butuh waktu lama untuk ku kembali beroprasi, Pilot Ikari."
Sungguh khas Rei, "Ah. Panggil Shinji saja. Aku tidak mengatakannya karena aku ingin kau segera menaiki Eva, paling tidak sampai luka mu sembuh, Ayanami-san. Selama kau beristirahat kau bisa menyerahkan Angel padaku."
"Kenapa?"
"Kenapa? Hm... mungkin karena kita berdua Pilot Eva? Sebagai sesama pilot, kita tidak menanggung beban ini seorang diri. Itu juga alasanku mengapa aku menaiki Eva. Aku tidak mungkin membiarkanmu yang sedang terluka melakukannya."
Gadis itu tampak terkejut. Ia memandang seolah Shinji barang aneh.
"Ah," Shinji melirik jam dinding. "Aku tidak akan mengganggu istirahat mu. Lain kali aku akan membawa sesuatu saat berkunjung—aku tahu kau tidak menginginkan apapun, tapi tidak sopan tidak membawa oleh-oleh saat berkunjung," dengan senyum lembut ia berpamitan, "Sampai nanti Ayanami-san." Tahu benar tidak seharusnya ia mengharapkan reaksi apapun dari saudara perempuannya saat ini. Rei yang sama sekali tidak memiliki kemampuan sosial.
Senyumnya memudar begitu ia melangkah meninggalkan ruangan. Aku tidak akan gagal, batinnya. Aku akan menyelamatkan semuanya. Lihat saja Gendo! Tidak lama lagi aku akan merebut Rei dari tanganmu.
Pintu lift berdenting terbuka, "Ah, Shinji-kun. Kau sudah bangun rupanya," kata Dr. Akagi yang semula berniat melangkah keluar. "Aku tadinya ingin menemuimu."
"Apa yang terjadi padaku, dokter?"
"Aku sedang menyelidikinya. Tapi dugaanku, itu disebabkan oleh cairan LCL. Kau tahu? Aku tidak mengatakan ini untuk membuatmu takut. Tapi aku sadar kau anak yang cerdas, Shinji-kun. Jadi aku akan memberitahumu," nada bicara wanita itu begitu serius, hingga membuat Shinji menelan ludah. "Eva adalah senjata semi biologi, alasan mengapa LCL berbau seperti darah, adalah karena ia memang terbuat dari senyawa yang mirip."
"Kau memasukkanku ke dalam plung berisi cairan makhluk hidup?!"
"Jika tidak melakukannya, kau bisa mati. Sebagai cairan biologis tiruan, LCL berguna sebagai mediator antara pilot dengan Eva, tanpanya kau akan mati terpanggang di dalam plung, karena Eva akan mendeteksi-mu sebagai benda asing. Seperti tubuh yang mendeteksi sel kanker, LCL berguna untuk mencegah Eva berpikir seperti itu."
"Jadi karena LCL adalah zat biologi, ada kemungkinan aku mencuri karakteristik biologis dari Eva?"
Dr. Akagi tersenyum dan mengangguk. "Benar sekali. Kau punya respon yang unik pada Eva, Shinji-kun. Alih-alih hanya menyatu dengan Eva, kau mencuri karakteristik-nya. Tapi lebih jauh lagi, aku perlu menganalisis DNA-mu." Wanita itu menghela napas. "89% karakteristik dan potensi Eva masih misteri untuk kita semua. Jadi apa yang terjadi padamu adalah sesuatu yang sangat unik."
Shinji tahu benar Ritsuko Akagi tidak menceritakan semuanya. Seperti penjelasannya soal LCL, Shinji tahu LCL tidak hanya memiliki karakteristik seperti darah, tapi memang benar-benar darah, darah Lilith. Warna LCL yang bening dan tidak seperti darah, bisa berubah, tergantung dari konsentrasi yang diberikan. Semakin tinggi tingkat konsentrasi, semakin pekat warnanya, semakin mudah tingkat sinkronisasi. Tapi itu juga menjadi hal yang berbahaya, karena semakin merah warnanya, bukan malah membantu pilot mengendalikan Eva, bisa jadi LCL malah membuat pilot menyatu dengannya.
Bagaimana ia bisa tahu? Informasi itu datang dengan sendirinya. Di jejalkan begitu saja oleh siapapun yang telah mengirimnya kembali ke masa lalu. Perubahan dirinya bukanlah kebetulan. Shinji curiga ada rencana besar yang melibatkan dirinya, tapi ia tidak tahu apa itu. Ia hanya bisa berharap rencana mereka tak bertentangan dengannya untuk menghentikan kiamat dunia.
Ryu menaikkan kedua alis saat melihatnya, reaksinya seperti kebanyakan orang yang ditemuinya hari itu. "Aku tidak ingat rambutmu seperti itu saat aku mengantarmu," mata pria itu turun mengamati, "Dan pakaian baru mu sudah kekecilan."
Shinji menghela napas, "Ini semua gara-gara Eva. Bahkan baju pilot-ku jadi kekecilan."
Ryu menjemputnya sendirian. Tapi Shinji tahu, entah dimana, anggota Section-2 menyebar untuk melindunginya. Section-2 yang tugasnya berada dibawah komando NERV sebenarnya tidak hanya dibuat untuk melindungi para pilot Eva. Mereka seperti Man in Black-nya NERV, mengurus berbagai hal tanpa suara, tanpa wujud, seperti hantu.
Pria itu menelengkan kepala, "Saat aku di UN, aku pernah bertemu dengan Second Child. Tapi dia tidak berubah seperti-mu, atau First Child."
Shinji menatap bangunan NERV yang bergerak menjauh dari kaca hitam mobilnya. Ia tahu kaca itu hanya satu sisinya saja yang anti peluru, sehingga bodyguard-nya bisa mengeliminasi ancaman kapan pun. "Mungkin ada yang salah dengan DNA kami berdua," bisik Shinji. DNA Yui Ikari...
Shinji tahu Section-2 biasanya membatasi interaksi, jika kau perhatikan apa yang terjadi pada Rei, kau tahu mereka biasanya tidak akan turun tangan seandainya tidak benar-benar terpaksa atau dalam situasi darurat. Sehingga, interaksinya dengan Sersan Mayor Ryu Miller sekarang sebenarnya sangat tidak biasa. Shinji curiga sebenarnya ada sesuatu yang tidak dijelaskan NERV padanya.
Seperti membaca pikirannya; telinganya mendengar sesuatu yang berdesing, sedetik kemudian, kaca anti peluru di sisinya retak dengan tembakan akurat yang diarahkan ke kepalanya. Ryu membanting setir bersamaan dengan dua mobil hitam lain yang mengambil posisi untuk melindungi mobil mereka. Terdengar baku tembak, tapi sebelum Shinji bisa mengamati lebih jauh, ia sudah ditarik keluar oleh Ryu dan di dorong masuk ke mobil lain.
Dari ekspresi pria itu dan sikap waspadanya yang terlatih, Shinji tahu ini bukan pertama kalinya terjadi. Hal itu membuatnya pucat pasi. Ada yang melakukan percobaan pembunuhan pada dirinya. "Sejak kapan? Kenapa?" bisik Shinji, tapi suaranya terdengar lantang dalam keheningan diantara mereka.
Pria itu menjawab sambil mengawasi spion-nya, barangkali ada yang mengikuti mereka. "Kami tidak tahu kenapa. Tapi ini bukan yang pertama kalinya," melihat ekspresi Shinji, pria itu menambahkan, "Tenang, aku curiga mereka tidak berniat membunuhmu, hanya memberi peringatan NERV. Jika mereka berniat membunuhmu, mereka tidak akan memilih menembak saat kau sudah berada di dalam mobil dengan kaca anti peluru. Kendaraan ini di desain khusus oleh pengembang militer NERV, tidak ada yang bisa menembusnya sebelum kami bisa menembus balik kepala mereka."
"Jadi ini alasan mengapa kalian menjalin kontak denganku, tapi tidak dengan Ayanami-san?"
Ryu menatapnya dari sudut mata. "Satu dari banyak alasan lain," jari pria itu mengetuk dalam ritme senada di kemudinya. Sepertinya pertanyaan Shinji menyentuh informasi sensitif yang tidak bisa dibagi oleh Ryu. Mungkin dalam benak ayahnya, pengamanannya yang lebih ketat dari Rei ini karena ia tidak bisa diganti setiap waktu seperti gadis itu. Pria itu tidak peduli seandainya ada sesuatu yang buruk terjadi pada Rei asalkan ia masih bisa menjahit, mengoprasi atau mengembalikan bagian tubuhnya. Saat Rei tidak lagi berguna, pria itu bisa menggantikannya kapanpun.
"Tapi kami mendapat bocoran informasi adanya usaha sabotase saat penyerangan Angel Ketiga. Hal ini membuat semua Section-2 waspada. Serangan-serangan yang dilancarkan padamu menjadi bukti tak terbantahkan."
Serangan-serangan? Jadi benar, ini bukan pertamakalinya terjadi. Ia tidak ingat bahwa nyawanya pernah teracam kecuali saat ia melawan Angel. Apa yang memicu perubahan ini? Orang suruhan siapa? Tidak mungkin Gendo karena pria itu membutuhkan dirinya, well, paling tidak, sampai ia selesai memanfaatkan Shinji untuk mengeluarkan Yui dari dalam Eva. "Siapa menurutmu yang menginginkan ku mati?"
Ryu meliriknya sekilas, "Musuh NERV, tentu saja. Mereka ada banyak. Tapi kita tidak bisa memberikan pin point pada salah satu dari mereka. Tapi sudah rahasia umum banyak usaha dari negara lain untuk merebut Eva."
Shinji menggeleng, "Mereka tidak akan bisa menggunakannya."
Ryu menaikkan alis terkejut.
"Hanya aku yang bisa menaiki Unit 01. Eva itu di desain hanya untuk ku."
"Dr Akagi yang memberitahu mu?"
Sebenarnya tidak. Tapi Shinji hanya mengangguk. Alasan sebenarnya mengapa Eva akhirnya bisa dikendalikan manusia hanya karena Eva menyimpan jiwa manusia. Ibunya dan ibu Asuka yang lenyap di dalam Eva. Orang selain dirinya dan Asuka akan dianggap orang asing, dan mereka tak kan menerima orang itu mempiloti Eva. Sedangkan Unit 00 aktif karena kematian Rei Ayanami pertama. Sebagai orang yang memiliki DNA Lilith, Ayanami mampu mengendalikan Eva seperti bagian dari dirinya sendiri. Hanya saja kondisi mentalnya membuat sinkronisasi cukup sulit untuknya. Itulah yang menyebabkan mengapa Unit 00 berserk dan melukai dirinya sendiri saat serangan Angel Ketiga. Ketidak stabilan mental itulah yang menyebabkan kematian ke 12 Rei Ayanami.
Mengingatnya membuat Shinji menggertakkan gigi. Jika bukan karena rekayasa yang dilakukan ayahnya dan Dr. Akagi, Rei tidak harus mati 13 kali. Setiap kematian, walau ingatan dikembalikan, tetap memberinya Rei yang berbeda. Setiap kematian selalu membuat Rei kehilangan sedikit kemanusiaannya.
"Berarti siapapun yang menyerangmu, mereka tidak tahu itu, atau ada alasan yang lain." komentar Ryu mengalihkan perhatiannya kembali ke masalah mereka.
Begitu sampai di Kondo, personel Section-2 muncul dan berdiri di tiap sudut rawan, seperti pintu, lift dan jendela. Itu memberinya semacam caustrophobia, tapi ia tahu itu harus dilakukan. Dan Shinji yakin tidak hanya sekali mereka menyelamatkan nyawanya tanpa diketahuinya.
Setelah memeriksa slot semua pintu dan jendela, Ryu berdiri sambil bersedekap di belakang Shinji, bersandar di meja makan, sementara Shinji mempersiapkan makan malam mereka. "Kau tidak perlu memasak. Kita bisa memesan makanan."
Shinji menggeleng. "Memasak untukku salah satu cara meredakan stress," bisiknya sambil meraih nampan yang tersimpan di konter atas. Kepalanya yang mendongak tiba-tiba, membuat pandangannya menggelap sedetik. Begitu ia sadar, ia sudah berada di lengan Sersan Mayor.
"Aku tahu ini akan terjadi," gerutu pria itu sambil mengangkat tubuh Shinji.
"Kau bisa menurunkanku!" serunya panik saat pria itu berjalan menuju kamarnya.
"Hem... aku mendapat perintah memperlakukanmu dengan lemah lembut oleh Dr Akagi. Wanita itu bilang tubuhmu baru menerima stress berat," ,mendengar seruan protes Shinji, pria itu menambahkan, "dan aku yakin usaha penembakan yang baru kau alami termasuk salah satu yang menyebabkan stress." Pria itu melemparkannya ke tempat tidur dan membuka ponselnya. "Lagian aku lagi ingin makan Pizza."
Shinji bersedekap sambil melemparkan pandangan tajam yang hanya dibalas oleh cengiran tanpa rasa bersalah.
"Bila perlu aku bisa menyuapimu—" Shinji melemparkan bantal tepat ke wajahnya.
Setan apa yang membuat Shinji mengijinkan pria itu tinggal di rumah ini.
"Apa kau mau aku memotongnya?" pria itu bertanya sambil mengangguk ke arah rambutnya dan mengangkat alis saat Shinji menggigit bibir ragu.
"Jika kau bisa melakukannya dan merahasiakan ini... Tapi kau perlu melihat ini," Shinji mencabut belati yang tersimpan di sabuk Sersan Mayor dan sebelum Ryu bisa mencegahnya, memotong rambutnya keras-keras, yang mengakibatkan belati itu terlempar patah. Pecahan besinya jatuh di dekat kaki Ryu yang terbelalak. Beberapa detik dipenuhi ketegangan yang menyesakkan sebelum tiba-tiba pria itu memegangi perutnya dengan punggung bergetar. Sedetik kemudian ia tertawa dengan keras hingga mengeluarkan air mata. Shinji mengerutkan kening, tidak paham letak dimana yang lucu.
Ryu memberikan gestur tunggu dengan tangannya sebelum pergi. Tak lama pria itu kembali membawa sebuah belati berukir yang tampak sangat indah. Warna putih perak dan kilaunya memberitahu Shinji itu bukan dari besi biasa.
Pria itu meraih helaian rambut Shinji, "Aku tidak akan bertanya mengapa itu terjadi, terutama jika itu melibatkan NERV. Aku hanya anggota prajurit biasa. Tapi jika kau mengijinkanku memotongnya dengan benda ini, aku tahu ini tidak akan serapi menggunakan gunting atau alat cukur, tapi benda ini bisa memotong besi paling kuat."
Tanpa bicara Shinji melepas ikatan rambutnya dan duduk memunggungi Sersan Mayor. Ia merasakan pria itu mengamati tekstur rambut putihnya yang misterius. Tak lama ia melihat helaian-helaian putih mulai berjatuhan. "Aku hanya akan memotongnya model militer karena peralatan yang terbatas." Shinji memberikan gumaman afirmatif.
"Kau bilang aku harus merahasiakannya, apa NERV tidak tahu? Aku kira semua ini terjadi karena NERV."
"Rambutku berubah sebelum aku dipanggil ke NERV. Aku tidak ingin mereka menjadikanku kelinci percobaan."
"Hm... tapi sungguh ini tidak ada hubungannya dengan NERV? Mungkin saja ayahmu pernah melakukan sesuatu..."
"Seperti melakukan GMO? Aku rasa tidak. Terjadinya perubahan ini yang paling mungkin disebabkan Kiamat."
"Kiamat Kedua?"
"Hm..." kiamat ketiga lebih tepatnya. Tapi Ryu tidak perlu mengetahui itu.
"Sudah selesai, kau mau melihat hasilnya?" pria itu meraih cermin di atas meja dan menyodorkannya pada Shinji. "Well, jika suatu saat aku tidak bisa lagi aktif di NERV, tampaknya tukang cukur termasuk karir menjanjikan."
Shinji mengamati rambut barunya. Warna putih pirang itu membuatnya seperti blesteran. Bahkan ia lebih mirip Ryu dibandingkan ayahnya sendiri, padahal sebelumnya tinggal memakai kacamata hitam, semua orang akan tahu ia anak Gendo Ikari. Ia hanya bersyukur tidak tampak seperti bocah labil yang mengecat rambut atau anak punk. Mungkin juga karena gaya rambutnya yang hampir Undercut, memberi kesan semi militer. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana berangkat sekolah besok dengan rambut panjang terikat.
"Trims, Ryu-san."
"Nope."
Shinji menatap belati itu penasaran. Benda itu tampak terbuat dari perak dan tak ada sesuatu yang istimewa selain pada gagang berukirnya yang mirip sayap. Mata belatinya berwarna lebih gelap, dengan kilau perak dibagian tajamnya. "Ingin melihatnya?"
Shinji meraih bilah yang ditawarkan, saat jarinya bersentuhan, ia mendengar sekelebat petikan nada yang dihasilkan oleh sesuatu seperti harpa. Ia menoleh kesana kemari, mencari sumber suara. Pria itu menyimpan kembali belatinya, bersamaan dengan suara bel pintu berdering. Ia mengacak rambut Shinji yang baru dirapikannya, membuat bocah itu mengirimkan pandangan kesal, sebelum berdiri untuk mengambil pesanan Pizza.
xxx
Saat Shinji akan berangkat keesokan harinya, Ryu-san mengetuk pintu kamarnya dan membawa lipatan pakaian. "Aku ingin kau memakai ini dibalik seragam-mu," ia berkata sambil memasukkan kaosnya ke kepala Shinji. "Ini adalah kaos anti peluru," lalu di telinganya ia berbisik, "Jangan bilang siapapun karena benda ini diselundupkan dari NERV Jerman. Ini hasil riset dari profesor Stefan," nama itu tidak asing untuk Shinji, tapi ia tidak bisa mengingatnya. Pria itu mengedipkan satu mata. "Aku juga memakainya."
"Oh... trims, Ryu-san..."
"Sepertinya kau perlu seragam baru juga."
Shinji mengerang, "Jangan ingatkan aku. kita perlu belanja lagi karena semua pakaianku sekarang kekecilan."
"Well, mengingat sekarang tinggimu hampir menyamaiku..."
"Aku butuh meminjam sepatu lagi," gerutunya sambil menuju kamar Ryu untuk menggeledah barang-barang pria itu. Ryu mengikutinya sambil menggerutu, "Pulang sekolah aku akan mengantarmu belanja lagi. Berharap saja kau tidak bertambah tinggi dalam waktu dekat." Shinji membeku. Ryu benar, jika cairan LCL memicu perubahannya secara signifikan, pasti ada yang berubah dalam dirinya setiap ia memasuki Eva. Sepertinya pria itu bisa membaca ekspresi Shinji sehingga ia menghela napas dan berkata, "Jika kau terus-terusan tumbuh aku akan meminjamkan bajuku. Sementara ini beli pakaian dasar saja, celana dalam dan yang semacamnya tidak usah karena bisa memakai yang lama." Shinji mengangguk sedih, padahal masih banyak baju baru yang belum ia coba.
"Kau bisa menyumbangkan sisanya ke Panti Asuhan," komentar itu membuat ekspresi Shinji kembali berseri-seri.
Seperti yang sudah ditebak bagaimana reaksi teman-temannya. Bahkan ketika ia baru menjejakkan kakinya keluar dari mobil, banyak kepala yang melongok dari jendela kelas. Berita soal anak baru yang punya hubungan dengan NERV sudah menyebar seperti virus, tapi tidak ada satu pun yang mengonfirmasi kebenaran bahwa ia seorang pilot Eva. Rumor itu beredar tak lain karena komentar Kensuke, tapi ia yakin anggota Section-2 sudah memberi peringatan padanya dan juga Toji.
Tapi ia tidak punya alasan masuk akal untuk warna rambutnya. Seperti yang sudah Shinji duga, Hikari memandangnya dengan marah. Gadis itu percaya ia tidak seperti anak laki-laki kebanyakan, tapi melihat warna rambutnya sekarang, membuatnya merasa seperti dihianati. Sebelum gadis itu bisa bicara, Shinji berkata, "Aku tidak mengecatnya, Hikari-san."
"Bagaimana mungkin! Jelas-jelas kemarin tidak seperti itu!" teman-teman sekelasnya menatap mereka seolah ingin terlibat pembicaraan, tapi melihat kemarahan yang menguar dari ketua, banyak yang mengambil langkah mundur.
"Aku mengalami kecelakaan di NERV."
"Kecelakaan—NERV?!"
"Benar kan! Dia itu pilot Eva!" seru Kensuke yang senyumnya langsung lenyap begitu melihat tatapan Shinji yang diarahkan padanya. Di sebelah Kensuke, Toji memasang muka masam.
"Apa itu benar, Shinji-kun?"
Shinji menghela napas. Tak ada gunanya lagi menyangkal. Ia mengangguk. Seketika siswa di kelasnya histeris. Shinji masih mengingat seperti apa reaksi mereka dulu. Dan Shinji tidak ingin mengulanginya lagi. Ia tidak ingin dianggap sebagai anak populer seperti mereka memperlakukan Asuka. Shinji menatap tajam siswa yang masih ribut dan menyerukan pertanyaan itu. Dengan nada tenang, penuh pengendalian diri, walau sebenarnya jantungnya bergegup kencang karena gugup, ia berkata, "Maaf, aku tidak bisa memberikan jawaban apapun yang menyangkut NERV."
"Ikari-kun. Apa kau pindah hanya untuk mengendalikan Eva? Sebelum itu kau tinggal dimana?"
"Aku tinggal di kota kecil jauh dari Tokyo."
Hikari mengusir sebagian dari mereka yang berdiri terlalu dekat dengannya. Menggelengkan kepala melihat tingkat teman-temannya. Gadis itu mengamati Shinji dengan ekspresi cemas. "Tapi kau tidak apa-apa?"
Shinji tersenyum dan menggeleng, "Kau tidak perlu khawatir Hikari-san. Mereka hanya menyebabkan sedikit perubahan pada diriku."
"Sedikit perubahan kau bilang," bisiknya sambil mengamati rambut dan mata Shinji. "Apa yang sebenarnya dilakukan orang-orang itu disana," ia menghela napas. "Aku punya kakak bernama Kodama yang bekerja di bagian medis. Tapi ia tidak bercerita banyak soal NERV. Aku tidak tahu jika disana juga melakukan percobaan manusia."
Shinji tersenyum, "Tidak ada percobaan manusia, Hikari-san," paling tidak, bukan yang tertulis diatas kertas. Pada gadis-gadis lain yang melemparkan pertanyaan, Shinji menggeleng sambil berkata, "Classified," sambil menembus kerumunan untuk menuju bangkunya, sayangnya kerumunan gadis itu tidak berhenti mengikutinya. Shinji berusaha meladeni mereka dengan penuh kesabaran, walau serangan panik mulai menjalari punggung dan tengkuknya. Tangannya sudah mulai gemetar, saat Hikari akhirnya mengusir mereka dengan kipas kertas raksasa. Ia tidak tahu dari mana gadis itu mendapatkan benda itu. Ia hanya berharap seandainya saja sebelumnya ia memilih bangku di belakang Hikari. Gadis itu bis melindunginya dari Hyena lapar. Berikan saja ia Angel, jangan gadis remaja histeris.
Begitu jam makan siang berakhir, rumor soal dirinya sebagai Pilot Eva menyebar. Walau masih ada sebagian besar yang tidak percaya, bahkan melaporkan warna rambutnya ke wali kelas. Shinji melampaui hari itu dengan selamat. Semua staff sekolah sudah tahu bahwa rambutnya berubah bukan karena di cat, dan anak-anak iri hati itu hanya bisa menggigit bibir saat Shinji keluar dari kantor tanpa hukuman. Bahkan mereka berjingkat dan kabur ketakutan saat personel Section-2 tiba-tiba muncul di belakangnya sambil berkata, "Ada masalah, Pilot Ikari?" seolah hanya sedang menyapanya dan membicarakan cuaca.
xxx
Shinji menguji kepalan tangannya, menyesuaikan seragam barunya. Seragam itu tidak berwarna biru seperti sebelumnya, atau berwarna ungu seperti warna Eva miliknya. Warnanya hitam gelap dengan bagian-bagian menonjol berwarna putih seperti pelindung dalam baju zirah. Angka -01 tertera di bawah lehernya.
"Bagaimana?" tanya Dr. Akagi yang mengamatinya dengan papan catatan di tangan.
"Lebih lentur dari sebelumnya, seperti tidak memakai apapun."
Wanita itu mengangguk puas. "Plung Suit ini memang dirancang untuk menyesuaikan dengan pertumbuhanmu. Jika benar cairan LCL yang memicu-nya, kita tidak bisa menghindari perubahan itu."
"Apa aku akan terus bertambah tinggi?"
"Jika kau cemas tubuhmu akan setinggi raksasa, itu tidak mungkin terjadi pada manusia. Hipotesis-ku, pertumbuhanmu akan berhenti pada pencapaian maksimal yang bisa dilakukan oleh tubuhmu. Jadi kau tidak perlu khawatir," jawabnya sambil beralih pada peralatan elektronik yang memantau Eva. "Sekarang kita mulai kembali latihanmu. Kita akan menguji daya serang dan adaptasi-mu dalam pertarungan. Anggap saja sedang memegang pistol mainan," wanita itu tersenyum saat melihat ekspresi Shinji yang seolah berkata 'mana mungkin'.
Di dalam plung yang diisi penuh cairan LCL, ia bisa mendengar suara Dr Akagi dari transmisi, "Bagaimana Shinji?"
"Kupikir aku sudah terbiasa, ini tidak terlalu buruk," bahkan ia merasa sinkronisasi jauh lebih mudah.
"Bagus. Sekarang kau berada dalam titik sinkronisasi paling seimbang 67%. Coba terus pertahankan. Apa kau sudah mengingat semua titik posisi dari kemunculan Eva, persimpangan tenaga darurat, bangunan persenjataan dan zona pemulihan?"
"Ya."
"Kalau begitu akan kuperiksa sekali lagi. Biasanya Eva kehabisan tenaga listrik yang disuplai dari kabel utama. Disaat keadaan darurat ia akan berganti ke tenaga baterai dengan waktu satu menit saat daya penuh, dan tidak lebih dari lima menit dengan sedikit aktivitas. Ini lah batas dari teknologi kami. Kau mengerti?"
"Aku mengerti." Shinji tidak hanya mengerti. Ia sudah hapal diluar kepala.
"Sekarang kita akan melanjutkan apa yang kita lakukan kemarin. Kita akan mulai mode induksi."
Jam digital mulai berubah merah dan angkatnya berjalan mundur. Shinji mengangkat senjatanya pada hologram Angel dan mulai menyerang monster itu. Gerakannya tidak pernah sia-sia, langkahnya memperhatikan medan dan titik tembaknya tepat ke bagian vital Angel. Shinji mengulangi simulasi itu berkali-kali sampai ia muak. Siapapun yang bisa melihat ekspresinya yang pasif pada gerakannya yang haus darah pasti akan berkeringat dingin. Untungnya yang bisa melihat itu hanyalah dr. Akagi dan para teknisi. Dan mereka memiliki pendapat sama, bahwa Shinji juga memiliki sisi dingin dan tidak manusiawi seperti ayahnya.
Jauh dari pendapat itu, alasan mengapa Shinji bisa memiliki akurasi tidak masuk akal seperti ini karena mereka tidak sedang berhadapan dengan anak 14 tahun biasa. Mereka sesungguhnya berhadapan dengan veteran perang, ahli hand to hand combat dan pemain pistol handal. Setelah terjun di dunia militer dan berteman dengan orang seperti Kensuke, mau tidak mau Shinji menyerap kemampuan mereka yang berada di sekitarnya.
Latihan berlanjut. Diantara kemampuan dan pengalamannya dalam menembakkan senjata dan Magi's Aim Assist, Shinji menyelesaikannya dengan akurasi sempurna. Lagian, ia sudah pernah punya sertifikat senjata genggam. Misato dan semua orang di ruang kendali mengamatinya dengan penuh kekaguman saat ia saling menukar antara dua senjata. Ini lebih kepada pengulangan memori tubuh, tapi ia cukup mengapresiasi pelajaran pertarungan tadi pagi dengan Ryu.
Saat Shinji melompat keluar dari plung, ia tidak merasa ada yang berubah dari dirinya. Tapi melihat ekspresi teknisi di sekitarnya, ia tahu sudah salah. Menyisir rambutnya, ia merasakannya bertambah panjang beberapa senti dan langkahnya berkali-kali tersandung seperti baru belajar menyesuaikan diri dengan tinggi badannya. "Jangan bilang—" erangnya sambil menutup muka.
Ryu bersiul saat melihatnya. Tapi tidak berkomentar lebih dari itu. Pria itu mengantarnya ke pusat perbelanjaan. Seperti sebelumnya, ia bisa menemukan titik-titik keberadaan anggota Section-2. Bukan karena mereka mudah ditemukan, tapi lebih karena kini panca indra-nya jauh lebih sensitif. Ia bahkan bisa dengan sengaja mengurangi kerasnya suara yang mencapai telinganya, jika tidak maka pendengarannya sekarang bisa mencapai satu kilometer. Tidak, Shinji tidak berlebihan. Awalnya ia mendapatkan sakit kepala parah dan berseru marah pada Dr Akagi yang suaranya seperti berteriak-teriak tepat di telinganya, bahkan ia bisa mendengar dari balik tembok yang tertutup.
Selama setengah hari setelah itu, dr Akagi mengurungnya di ruangan kedap suara yang menyuruhnya menyesuaikan diri. Wanita itu memberinya banyak simulasi dimana akhirnya ia bisa membuat suara teriakan itu hanya berada di latar belakang. Setelah menyuruhnya minum aspirin, wanita itu mengusirnya untuk beristirahat.
Tapi disinilah ia berada, di kafetaria dari pusat perbelanjaan yang ramai, langsung mempraktekkan kemampuan barunya. Ia bisa merasakan pelipisnya berdenyut karena konsentrasi. Wajahnya yang pucat membuat Ryu hampir membatalkan rencana mereka, seandainya Shinji tidak memaksa. Lalu, tiba-tiba Ryu meraih tangannya dan suara itu lenyap. Ekspresi terkejutnya membuat pria itu bertanya, "Apa?"
"Suara itu berhenti," bisik Shinji.
"Hah?"
"Suara itu berhenti!" Shinji tertawa senang dan memeluk Ryu sambil melompat-lompat.
"Hei, hei, hei!—Awas," pria itu memperingatkan bersamaan dengan pinggulnya yang menyenggol nampan wanita yang sedang berjalan di sebelahnya. Shinji menutup mata, bersiap dengan rasa dingin saat minuman wanita itu jatuh menimpanya. Tapi ia tidak merasakan apapun, bahkan setelah beberapa detik. Ia membuka mata dan terkejut.
Minuman itu memang benar jatuh, airnya menciprat kemanapun di sekitar Shinji. Tapi tidak ada satu tetes pun yang mengenainya, seolah ada perisai transparan disekitarnya. Wajahnya pucat pasi, ia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Ryu. Takut pria itu menganggapnya makhluk aneh. Apa ini perubahan lain yang diterimanya? Punya kekuatan Esper?
Dalam gerakan cepat, tiba-tiba Shinji sudah berada dalam lengan Ryu dan ditarik pergi menuju mobil mereka yang siap dengan mesin menyala. "Wajahmu pucat pasi. Aku tahu seharusnya kau istirahat. Kau selalu mengalami ini setiap selesai uji coba Eva. Pria itu mendorongnya masuk ke kursi kemudi dan memasangkan sabuk pengaman. Kedua tangannya menyangga kepala Shinji. "Apa kepala mu pusing?" Shinji menggeleng. "Apa er... suara-suara terdengar?" mata Shinji terbelalak, tapi ekspresi tenang pria itu membuatnya menggeleng.
"Aku tidak mendengarnya saat kau menyentuhku..."
Ryu mengangkat kedua alis. Lalu seringai perlahan muncul di wajahnya. "Apa itu sebuah pengakuan bahwa kau ingin terus aku peluk?" Wajah Shinji merah padam seperti terbakar sementara ia menyemburkan bantahan dengan kalimat terbata, yang hanya membuat Ryu tertawa makin keras. "Bagus. Kau sudah tidak begitu pucat."
Shinji mengerjap, lalu tersenyum kecil. Jadi semua itu hanya agar ia tidak panik. Ia menghela napas. Mungkin Ryu sudah curiga bahwa latihan Eva membuatnya makin tidak normal. Mungkin mudahnya pria itu menerima perubahan ini karena ia sudah lama bekerja di NERV, tempat semua ke-abnormal-an berasal.
"Tidurlah sebentar. Aku akan membangunkanmu saat kita sampai," kata pria itu sambil menarik kepala Shinji untuk bersandar di bahunya.
Suara dering alaram membuat Shinji terbangun dalam sentakan. Ia tidak ingat sejak kapan berada di dalam kamar tidurnya. Shinji mengintip dibalik selimut dan merona hebat saat menyadari Ryu sudah mengganti pakaiannya.
Sinar yang masuk dari jendela memberitahunya bahwa ini sudah pagi dan ia harus segera berangkat ke sekolah. Shinji menemukan pria itu sudah duduk di meja makan dengan secangkir kopi. "Kau tahu, setiap tegukan kopi, rasa pahit yang dominan, seiring rasa manis dengan asam diujungnya. Sungguh menggambarkan kehidupan kita..." komentar pria itu sambil menyesap kopinya, masih sambil memunggungi Shinji. Shinji mendekati pria yang nampak mengawang-awang pagi ini, tapi tetap saja ada pistol tergeletak di sebelahnya, siap digunakan.
Menghela napas, ia bertanya, "Apa yang membuatmu melankolis di pagi hari?" gerutu Shinji sambil menyiapkan teflon untuk membuat pancake. Siapapun tidak mengharapkan Ryu tidak membakar apapun selain mesin pembuat kopi.
"Aku tidak tidur semalaman untuk membuat laporan," ia meneguk kopinya banyak-banyak. Jika diibaratkan, hubungan Ryu dengan kopi seperti hubungan Misato dengan beer.
"Hm... ada berita apa hari ini?" Shinji meletakkan piring di depan Ryu, membuatnya melupakan kopinya untuk beberapa detik saat pria itu menghabiskan makanannya.
"First Child kembali ke sekolah hari ini—" suara denting sendok terjatuh membuat Ryu mendongak dan melihat Shinji menatapnya terkejut.
"Dia sudah sembuh?" ia bergerak mengambil dua kotak bento.
"Kau akan membawakannya bekal? Memangnya dia tidak membawanya sendiri?"
Shinji mendengus, "Aku sangsi ia mengenal kata kompor."
"Kau tampak mengenalnya dengan baik."
Gerakan tangan Shinji berhenti dan ia mengerling pada pria yang tampak acuh tak acuh, menyesap kopi sambil membaca koran. Ia tahu dari pengamatan, Ryu adalah orang yang sangat prespektif. Ia perlu hati-hati menanggapi ucapannya sebelum tanpa sadar mengatakan sesuatu yang menimbulkan banyak pertanyaan.
"Kami pernah bicara beberapa kali saat aku menjenguknya."
"Hm..." pria itu mendongak sambil tersenyum jahil. "Coba bilang Shinji, kau berteman baik dengan Hikari Hiroki, kan? Dia gadis yang menarik dengan kepribadian tajam dan juga Rei Ayanami yang punya kepribadian unik. Keduanya punya daya tarik yang bertolak belakang. Jadi sebenarnya yang mana tipe-mu?"
Wajah Shinji merah padam saat ia berteriak, "Tidak keduanya!"
"Heeh... padahal aku akan mendukungmu siapapun pilihanmu. Jadi yang mana? Ayo bilang. Yang lainnya juga penasaran," ia berkata sambil mengetuk bluetooth di telinganya.
"Tidak keduanya kubilang! Hikari-san itu hanya teman ku dan Rei—Rei lebih mirip saudara perempuan!"
Kedua alis Ryu terangkat menanggapi kepanikan Shinji. Dari ucapannya, Ryu tidak mendeteksi kebohongan—ia spesialis dalam hal ini. "Hm..." pria itu mendekatinya, lalu perlahan mensejajarkan kepala mereka. "Jadi kau bilang kau tidak tertarik dengan perempuan—"
"Aku tidak bilang begitu!" Shinji mendorong Ryu menjauh, menjerit untuk terakhir kalinya. "Aku tidak tertarik dengan siapapun!" ia berderap pergi melupakan kedua bentonya.
"Ara-ara..." suara transmisi di telinganya mengirimkan gelak tawa dari Section-2 yang mendengarkan dan teguran Hanyu-san untuk berhenti menggoda Shinji. Ryu berkata, "Hm... tapi dia juga tidak menyangkal bahwa ia suka laki-laki..."
xxx
Shinji masuk ke dalam ruang kelas sambil melayangkan pandangan ke penjuru ruangan. Rei Ayanami duduk dengan pandangan mengarah ke jendela, penuh dengan perban. Ia melangkah dengan percaya diri, diikuti pandangan siswa dikelasnya. Mereka penasaran mengapa ia mendekati sang ratu es, siapapun tahu gadis itu tidak pernah menanggapi apapun. Ia tidak punya teman dan selalu sendirian. Dan karena hal itu juga, tidak ada yang tahu ia seorang Pilot Eva, "Ayanami-san," sapanya.
"Pilot Ikari," balasnya dengan formal, sekalipun Shinji sudah berkali-kali memintanya memanggilnya dengan namanya saja.
"Syukurlah kau sudah sembuh."
Gadis itu mengangguk, "Aku minta maaf karena belum sepenuhnya bisa membantumu di lapangan."
Shinji menggeleng, "Tidak. Kau tidak perlu memikirkannya. Lebih baik untuk tetap istirahat dan membuat proses kesembuhan semakin cepat dibandingkan memaksakan diri."
Rei mengangguk, "Aku juga berpikir seperti itu. Jika aku tidak segera sembuh, aku tidak akan bisa membantumu mengalahkan Angel." Shinji tersenyum putus asa, tahu benar konsep berpikir Rei yang seperti ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Ia mendengar kasak kusuk di latar belakang dari para siswa yang menguping pembicaraan mereka. Well, paling tidak, mereka tetap tidak berani mendekati Rei.
Sebelum jam istirahat berakhir, Shinji menutup teleponnya dan menghampiri Hikari. "Hikari-san, bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu, Shinji-kun."
"Aku ingin minta tolong padamu. Tolong kau awasi Kensuke dan Toji," bersamaan dengan itu terdengar suara sirine darurat. "Jangan sampai mereka kabur keluar dari tempat perlindungan."
"Shinji-kun?" gadis itu menatap cemas. Tapi Shinji hanya mengangguk dan meremas pelan bahu Hikari untuk menenangkannya sebelum berlari, disusul Rei menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Section-2.
Suara peringatan menggema di penjuru kota diikuti berbagai intruksi pengamanan. "Peringatan untuk wilayah Kanto dan Chubu yang berada di distrik Tokai. Semua penduduk harus segera mengevakuasikan diri ke tempat penampungan. Diulangi—"
Sebelum Shinji melompat keluar dari mobil, Ryu meraih tangannya dan berkata serius, "Hati-hati."
"Selalu."
Di dalam Eva yang masih gelap, dengan sinar samar pada satu-satunya layar aktifasi, Shinji memejamkan mata untuk menenangkan degup jantungnya. Ini bukan Angel termudah ataupun tersulit, tapi waktu hidup pertamanya, ia hampir membuat Eva-nya mengalami kerusakan parah. Ia harus menjaga konsentrasinya dan berusaha sebaik mungkin. Di sudut telinganya, terdengar samar suara Maya, "Prosedur masuk di mulai. Mulai Oksidasi LCL. Melepas Airlock," perlahan cahaya menerangi plung.
"Shinji apa kau siap?"
"Ya."
"Luncurkan!"
"Armament(1) berada di Juliet Six Five," Misato melontarkan titik jalan padanya, "Angel datang dari arah Selatan barat daya dari posisimu. Kontak akan terjadi dalam 10 detik. Shinji, bergerak!"
Unit 01 mengambil Riffle dan berlari mendekati target. Ia memasukkan magazine(2), dan mendorongnya kasar, "Tarik tuas kembali," slide bergerak saat sarung tangan besar Unit -01 meraihnya.
"Angel pada arah jam 12, kontak rendah, Shinji, sekarang!"
Shinji mengaktifkan A.T Field-nya dan melebarkan jangkauannya. Angel tenggelam dalam benteng tak kasat mata miliknya, berteriak keras layaknya orang yang sedang dihimpit keras-keras. Berbeda dengan gaya bertarungnya sebelumnya, ia tidak melontarkan peluru membabi-buta sehingga debu dan asap ledakannya menutupi jarak pandangnya. Alih-alih ia menyerang monster itu dengan A.T Field sehingga benturan keduanya menciptakan percikan api di udara. Shinji tiba-tiba menghilangkan A.T Field-nya, menciptakan jarak tanpa batasan sehingga ia bisa menembaknya. Tapi sebelum ia sempat menarik pelatuk, bagian dari Angel yang mirip tentakel ubur-ubur bersinar itu mengikat kakinya dan meleparkannya ke udara. Kabel energi utama terputus saat tubuh Uni -01 melesat jatuh ke atas gunung, dekat kuil Shinto berdiri, karena ia bisa melihat Torri merah yang berdiri tinggi, bersaing dengan pepohonan. Seketika kokpit Eva menggelap sementara alaram peringatan berbunyi bersamaan dengan dimulainya hitungan mundur baterai cadangan.
Shinji tahu ada beberapa takdir yang benar-benar tidak bisa diubah. Itu seperti yang dilihatnya di film-film, dimana sang tokoh utama bersusah payah dengan sia-sia untuk mengubah takdir yang digariskan. Tapi walau ia bisa menerima hal itu, ia tetap berharap tidak kali ini, saat ia memaksakan dirinya menoleh ke arah celah diantara jarinya, dimana kedua teman sekelasnya jatuh gemetar. Shinji menutup mata dengan putus asa, sebelum serangan Eva membuatnya kembali fokus.
"Misato," bisiknya.
"Aku tahu. Dalam hitungan tiga. Satu, dua, tiga," Shinji menghantam Angel dan membuatnya melayang jauh beberapa meter, bersamaan dengan plung yang ditarik keluar. Tak lama kedua teman sekelasnya menceburkan diri ke dalam cairan LCL. Shinji tidak memperdulikan itu dan melanjutkan konsentrasinya pada pertarungan.
Toji hampir kehabisan napas saat cairan berbau darah itu melingkupinya. Tapi rasa panik membuatnya menghirup air itu kuat-kuat. Ia kira bakal mati, tapi rupanya ia bisa bernapas dengan leluasa walau air itu memenuhi paru-parunya. Kensuke berteriak histeris saat kameranya rusak terkena air. Lalu pada benda aneh yang tiba-tiba keluar itu kembali di terangi cahaya, betapa terkejutnya Toji saat melihat anak baru duduk di atas kokpit. Layar besar yang ada disana menunjukkan Angel dengan jelas, berada tepat diatas mereka.
Ia mendengar suara-suara teriakan dari hubungan alat komunikasi. "Kondisi tidak wajar terjadi di sistem syaraf!"
"Tentu saja itu karena ada dua orang tambahan di dalamnya. Mereka menyebabkan gangguan dalam implus saraf!"
Jantung Toji berdetak kencang saat mendengar teriakan kesakitan seolah Shinji bisa merasakan tangan terbakar robotnya. Ia mendengar bisikan Kensuke, "Aku mengira dengan berada dibalik kokpit, Ikari-kun tidak akan merasakan benturan apapun. Tapi rupanya aku salah besar! Jika syaraf mereka terhubung, maka ia akan merasakan sakit sekecil apa pun luka yang di derita Eva-nya."
Shinji mendorong Angel itu pergi, Misato memerintahkannya untuk mundur. Tapi Shinji tidak bisa membiarkan itu. Berteriak frustasi, ia mencabut pisaunya, tiba-tiba pisau itu berpendar dengan sangat terang dan bentuknya berubah menjadi dua kali lipat seperti pedang. Gagangnya berukiran seperti sebuah sayap. Pisau itu bukan di dorong olehnya, tapi ia mendorong Shinji, mengarahkannya tepat kepada jantung Angel. Tidak punya waktu untuk bertanya-tanya, ia menuruti dorongan dan menghujamkan benda itu sekuat tenaga. Teriakannya memenuhi ruang kokpit, dan bersamaan dengan hitungan yang meraih angka 0, inti dari Angel meledak, mengguyur segalanya dalam hujan merah.
Kokpit yang kini hening hanya terdengar suara napasnya yang terengah. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya, dan sesuatu yang tidak beres itu tidak hanya merubahnya, tapi juga Eva yang dinaikinya. Sampai sejauh mana semua ini akan berakhir. Ia harap bukan berakhir dengan kehancuran umat manusia.
xxx
Beberapa jam setelah pertarungan berakhir. Tak jauh dari tempat pertarungan itu, diantara reruntuhan dan bangunan yang hancur lebur, Ryu Muller melompat dari jip militernya. Langkahnya besar dan tak ragu walau ia berjalan diantara reruntuhan itu sendirian. Bluetooth yang biasa terpasang ditelinganya sengaja dimatikan, sementara ia mencari diantara reruntuhan.
Tak lama kemudian, ia menemukan seorang gadis kecil, sekitar umur 8 tahun, berambut hitam panjang, tergeletak dengan potongan besi menembus paru-parunya. Mata biru Ryu berkedip dan sedetik kemudian warna birunya berubah warna menjadi merah darah. Ryu mencabut besi yang menancap paru-parunya; membuat gadis itu tersentak sambil terbelalak karena shock saat darah menyembur dari sana. Tapi alih-alih menolongnya, Ryu mencabut belatinya, ia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan menghujamkannya dengan hantaman keras tepat pada jantungnya.
Angin menderu disekitar mereka seperti mendapatkan dampak hantaman dan cahaya emas melesat naik membelah cakrawala. Sesaat kemudian cahaya terang melingkupi tubuh gadis itu. Ryu mencabut kembali belatinya, membuat darah kembali terserap masuk dan kelopak hitam itu berubah warna menjadi merah. Rambut hitamnya perlahan kehilangan warna. Gadis itu menggerakkan kepalanya untuk menatap Ryu, perlahan warna matanya ikut berubah menjadi biru. Ryu tersenyum dan berkata, "Selamat pagi, Shamsiel. Mimpi indah?"
Bersambung.
(1) Senjata militer (kekuatan militer angkatan laut).
(2) Wadah amunisi/wadah peluru.
Gambar belati yang dipakai oleh Ryu bisa dilihat di facebook yang alamatnya tertera dalam profil.
