Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.

Warning konflik rumah tangga, ada materi psikoanalisis yang nyempil, cliché. Kesamaan ide harap dimaklumi.


The Hanged Man

by donat enak

[3]


Lolos dari remedial di ulangan Fisika setelah semalam nyaris disatroni makhlus halus, bagi Len, mungkin adalah sebuah keberuntungan.

Di sisi lain, terpaksa remedial sendirian, bagi Piko, jelas suatu musibah.

"Curang! Kenapa aku sendiri yang remedial?!" Piko mengerang, tidak terima. Dia memang sudah langganan remedial, tapi tidak pernah sendirian juga. Biasanya ada Yuu atau Rinto yang setia menemani. Kadang, Len juga terperangkap. Namun kini, mereka semua lolos dan hanya menyisakan Piko seorang. Curang!

Len menutup sebelah telinganya, menatap Piko dengan tidak acuh.

Mereka ada di depan ruang guru. Piko baru saja selesai berhadapan dengan Hiyama-sensei, guru Fisika sekaligus wali kelas mereka. Kemungkinan besar, dikabari mengenai jadwal remedial yang harus anak itu ikuti sekaligus memberi beberapa patah nasihat.

Sejatinya, Hiyama-sensei adalah guru yang menyenangkan. Dia tidak pernah marah terlalu keras pada murid-muridnya. Sebaliknya, pria itu adalah pria yang ramah dan lembut. Berkharisma serta berwibawa. Sosok yang selalu diinginkan setiap anak untuk menjadi ayah mereka. Dia selalu terlihat tersenyum kepada siapapun; entah itu para siswanya, guru lain, atau bahkan staff sekolah lainnya. Hiyama-sensei mungkin akan jadi guru favorit Len, kalau saja ia tidak memilih Fisika sebagai mata pelajaran yang ilmunya harus ia bagi.

Mungkin, Hiyama-sensei bukanlah tipe yang senang menghadiahi murid-muridnya ceramah. Akan tetapi, kasus ini beda. Nyaris di setiap ulangan, Piko selalu mendapat remedial. Wajarlah jika ia dinasihati habis-habisan.

"Aku tahu, aku salah," tukas Piko, "tapi harusnya aku tidak diberi ceramah di ruang guru. Malu! Apalagi ada Miss Ann di dalam. Astaga!"

Yang dimaksud dengan Miss Ann adalah guru bahasa Inggris mereka. Nama aslinya Sakamoto Annastacia, tapi semua orang memendekkan namanya menjadi Ann saja. Bukan orang Jepang asli, tentu saja. Darah Asia yang ia miliki adalah warisan sang Ayah. Ia lahir di London, besar di Brooklyn, kemudian kembali ke Jepang, kampung halaman sang ayah, setelah menyelesaikan tesisnya. Cantik, pintar, dan selalu jadi guru favorit siswa laki-laki.

"Aku yakin, dia juga selalu memberimu ceramah di rumah, tapi kau tetap tidak memerhatikan."

Piko hanya menggerutu mendengar balasan Len.

Tak banyak yang tahu mengenai relasi antara Piko dan Hiyama-sensei yang sebenarnya. Orang-orang lebih banyak mengenal mereka sebagai guru dan murid. Tidak lebih. Akan tetapi, sesungguhnya mereka lebih dari itu.

Len adalah satu dari sejumlah kecil yang mengetahui bahwa Piko merupakan putra Hiyama-sensei. Bukan putra kandung, melainkan anak angkat. Hiyama-sensei mengambil Piko dari sebuah panti asuhan nyaris bobrok di pinggir kota waktu usia anak itu masih sepuluh tahun, begitu yang Len dengar. Setelah itu, Piko hidup bersama Hiyama-sensei. Berdua saja. Sampai satu setengah tahun yang lalu, Hiyama-sensei memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita.

"Bagaimana rasanya punya ibu baru?" Len pernah bertanya pada suatu hari, waktu Len akhirnya menjadi akrab dengan Piko dan diberitahu mengenai latar belakang temannya tersebut. Waktu itu senja, dan Len ingat mendengar teriakan sekumpulan gagak. Pastilah mereka sedang bersiap pulang ke sarang masing-masing.

Piko waktu itu hanya menaikkan bahu sambil terus menyedot jus yang ia beli di mesin minuman dekat sekolah. Gambar apel segar menempel di kotak jus itu. "Aku belum pernah punya ibu sebelumnya, Len. Jadi, tidak bisa dibilang 'ibu baru' juga."

"Oke, pertanyaannya aku ganti, deh. Bagaimana rasanya punya ibu?"

"Cih, cuma hilang kata terakhirnya saja!" Piko menggerakkan kaki kanannya, bermaksud menendang Len. Akan tetapi, Len lebih lincah. Ia segera menghindar. Mereka tertawa berdua.

"Rasanya…," Piko akhirnya menjawab pertanyaan Len, "aneh…."

"Aneh?"

"Maksudku, aku sudah terbiasa tinggal berdua dengan pria itu, tahu. Kami saling bergantian mengerjakan pekerjaan rumah. Lalu tiba-tiba, ada seorang wanita datang dan mengambil alih semuanya."

"Bukannya itu lebih baik?"

Piko memberi anggukan. "Ya, memang di sisi yang itu semuanya jadi terasa lebih baik. Maksudku, aku jadi tidak perlu mengerjakan semua hal lagi dan lebih fokus belajar…." Len memutar bola mata dan memasang ekspresi pura-pura muntah saat mendengar ini. Fokus belajar? Anak seperti Piko? Ya, ya. Terserah. "… Dan wanita itu baik sekali padaku, Len."

"Oh, ya?"

"Uh-hum," gumamnya. "Dia selalu mengusap kepalaku—y-ya, aku tahu itu memalukan! Tapi, y-yaaa—"

"Aku paham." Len segera mengibaskan sebelah tangannya ringan, secara tak langsung menyiratkan pada Piko bahwa ia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya.

Len paham, sungguh. Dia tahu benar rasanya bagaimana mendapat kasih sayang dari sosok ibu. Dia pernah merasakannya dan tak bisa disangkal bahwa hal itu teramat menyenangkan buatnya. Dulu, tapi. Dan kini, ia tidak bisa mengharapkan semua itu terjadi lagi. Mungkin bisa, seandainya saja hakim waktu itu tidak menyetujui gugatan cerai yang saling dilayangkan oleh kedua orangtuanya.

"Hei, Len," Piko memanggil saat mereka masuk lagi ke dalam kelas. Jam istirahat hanya tinggal tiga menit dan mereka bersiap untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. "Punya waktu sepulang sekolah?"

Len mengingat-ingat akan jadwalnya sore ini. Seharusnya, ia hadir untuk latihan baseball rutin. Namun, jadwal latihan hari itu telah dimajukan sehari sebelumnya. Dan Len tak punya kegiatan apa pun lagi sepanjang sisa hari.

"Kosong. Kenapa?" anak pirang itu duduk di kursinya—bangku kedua dari baris paling belakang, dekat jendela. Kursi di belakangnya ditempati oleh Piko, tempat favorit baginya. Selama sekolah, Piko mengaku tidak pernah duduk di tempat lain.

"Temani ke toko buku."


Len melihat sosok itu di jalan tadi pagi, membaur bersama geliat pejalan kaki di padatnya jam sibuk Tokyo. Siswi cantik dengan seragam yang Len kenali sebagai milik sebuah sekolah menengah swasta yang tak terlalu jauh dari kawasan pertokoan. Rambutnya pirang terang dan mencolok di antara orang-orang sehingga mudah diperhatikan.

Len menemukannya lagi sore ini, dalam perjalanannya dengan Piko ke toko buku. Masih di jam sibuk, hanya saja kali ini langitnya kotor oleh lelehan senja alih-alih biru tenang yang bersih seperti pagi tadi. Dan siswi itu bukannya menyatu bersama para penyebrang jalan.

Kini, siswi itu jatuh.

Dari atas jembatan penyebrangan.

Dia jatuh. Lurus ke bawah.

Dan Len bisa mendengar suara teriakan kala tubuh berbalut seragam itu menghantam tanah. Kencang karena menyerah pada gravitasi.

Pekik menggema. Wanita dan anak-anak dan beberapa orang pria. Ada suara Piko di antara nyaring perpaduan bunyi sol sepatu, lengking panik, dan decit ban akibat pengendara yang menginjak rem dengan tiba-tiba. Suara-suara itu bercampur menjadi satu, menimbulkan kekacauan.

"Apa-apaan cewek gila itu?!" Piko setengah menjerit sambil tangannya menyeret Len ke arah kerumunan—yang langsung terbentuk seketika itu juga.

Len diam saja. Kondisi trance yang memerangkap membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mendengarkan. Mencoba mengerti apa yang sedang terjadi, tapi semua orang bersuara terlalu keras.

Orang-orang di dalam kerumunan bicara berbarengan, bersahut-sahutan. Yang satu berteriak, yang satu cemas, yang lainnya terbata-bata akibat panik. Len berusaha memahami, akan tetapi terlalu sulit akibat suara yang timbul dari sana-sini. Lama, barulah Len bisa mendengar tiga hal yang berulang diucapkan oleh orang-orang di situ; seorang gadis, jembatan penyebrangan, dan bunuh diri.

Sore itu terik karena sudah mulai masuk musim panas, dan Len mendapati dirinya terhuyung mundur bersamaan dengan bunyi sirine ambulans yang sayup-sayup mendekat serta gemuruh yang menyerang bagian perut—membuat anak itu merasa mual dan bisa muntah kapan saja. Melihat orang bersimbah darah akibat jatuh dari jembatan penyebrangan setinggi belasan meter bukan favoritnya, sungguh. Menyingkir sepertinya merupakan pilihan bijak.

Dua langkah dari kerumunan, dia bisa melihat satu-persatu mobil patroli yang kemudian disusul ambulans. Sirine mereka berputar-putar. Len terpaku. Bukan karena melihat betapa cekatan paramedis melompat keluar, tapi karena hal lain.

Di sana, di sisi lain jalanan dari tempatnya berdiri, matahari memantulkan bayangan ke atas aspal. Sesosok tubuh menggantung dari jembatan penyebrangan, tempat siswi tadi melompat. Bayangan itu bergerak. Ke kanan, lalu ke kiri.

Efek pantulan cahayakah? Ia bertanya-tanya, menoleh ke atas untuk mencari penjelasan, ke arah jembatan. Dan jantungnya serasa melompat ke tenggorokan.

Tak ada apa pun di sana.

Tapi bayangan itu masih terpantul di aspal—dan orang-orang melewatinya begitu saja, seolah-olah tak melihat apa pun.

Len berdiri, mematung.

Dingin yang mulai menjalari belakang lehernya membuat rasa mualnya semakin parah.

.

.

.

tbc


maafkan keleletan saya dalam update cerita. saya bener-bener baru dapet waktu luang karena baru selesai UAS. diusahain cerita selesai sebelum Agustus karena saya bakal full hiatus buat KKN selama sebulan itu. cerita-cerita yang lain juga sedang berusaha saya kerjain update-nya. terima kasih banyak untuk semua yang mau menyempatkan diri baca dan review. maaf saya belum bisa kasih yang terbaik untuk bales semua kebaikan kalian /update aja lelet banget huhuhu ;;;/.

kritik dan saran yang membangun, amat dinanti.

salam,

donat enak