Hai semua…

Akhirnya Hayato kembali update…^^

Terima kasih untuk para pembaca yang telah berbaik hati meriview chapter sebelumnya…

Baiklah, silahkan langsung baca chapter 3…

©Disclaimer : Togashi Yoshihiro

~Shensei, I Love You~

.

.

"Unghhh..." lenguhan panjang kini terdengar oleh seorang gadis bertubuh mungil, yang saat ini sedang menggeliat pelan di atas tempat tidur yang berukuran sedang.

Ia mulai terbangun, dan perlahan-lahan membuka matanya, menampakkan kristal sapphire yang sebiru lautan. Gadis itu mengusap lembut kedua matanya, agar kesadarannya pulih. Sedikit demi sedikit kesadarannya pun mulai pulih.

Wajah mulusnya langsung saja memerah. "Ta—tadi, Kuroro sensei…" lirih gadis itu, dengan wajah yang sangat memerah. "Menyelamatkanku…"

Gadis itu, lalu melirik ke luar jendela. Sinar matahari senja, menerpa rambut pirang keemasannya, sehingga rambutnya menjadi berkilauan. Senyuman sedikit terukir di wajah cantiknya. "Arigato…" lirihnya lembut. Pandangan gadis itu lalu beralih ke bawah.

Hening…

Gadis pirang itu nampak sangat terkejut, tanpa suara. Dengan gemetan ia mengendus-endus seluruh bagian tubuhnya, yang dapat ia jangkau. Wajahnya menjadi semakin pucat saja. 'Sabun?'

"KYAAAAA! SIAPA YANG MEMANDIKANKUUU?" jerit gadis itu langsung menyilangkan tangannya di dadanya dengan wajah yang memerah. Tentu saja, tadi dia memakai baju seragam sekolahnya, tapi, sekarang, dia hanya memakai kaos singlet berwarna putih, dan celana dalam saja. Siapa yang tidak kaget jika mengalami kejadian seperti dia?

Tok,tok,tok…

"Kurapika, kau sudah sadar yah?" suara itu sukses membuat gadis pirang, yang di panggil Kurapika itu sontak menoleh ke arah sumber suara.

Si pemilik suara langsung saja masuk, dan melihat Kurapika yang terduduk di ranjang. Terlihat rona tipis di wajahnya. Kurapika yang baru saja sadar, langsung saja menarik selimutnya. Dan menutupi tiga perempat tubuhnya. Yang di depannya hanya tertawa kecil. "Kau sudah baikan?"

"Ehm… Kuroro sensei…" lirih Kurapika semakin mempererat genggamannya pada selimutnya.

"Baguslah… tadi aku sangat khawatir lho…" ucap Kuroro lalu duduk di kursi dekat tempat tidur Kurapika.

"Maaf sudah membuatmu khawatir…"

"Tidak apa-apa, yang penting kau baik-baik saja,"

"Sensei…"

"Hm?"

"Errr… si—siapa yang mengganti bajuku? Dan… dimana seragamku?" tanya Kurapika gugup.

Kuroro langsung saja terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Kurapika. "Emmm, tadi aku meminta tolong pada salah seorang guru perempuan di sini…" dusta Kuroro berusaha nampak tenang.

"Oh… ohya, sensei tidak mengajar?" tanya Kurapika memiringkan kepalanya.

"Mengajar? Kau bercanda? Sekarang sudah jam lima sore! Semua siswa sudah pulang tau!" Kuroro tertawa kecil sambil menjawab pertanyaan Kurapika.

"Aaaahh? Pulang?"

"Ya…"

"Terima kasih…"

"Terima kasih untuk apa?"

"Semuanya… sensei sudah mengajariku musik…. Sensei juga yang sudah menolongku, setiap aku ada masalah… sensei pula yang menyelamatkanku tadi… dan sensei juga sudah menungguku… sensei sangat baik… sensei sudah seperti kakak kandungku sendiri…" ucap Kurapika tersenyum manis.

Namun perkataan terakhir Kurapika langsung saja mengubah ekspresi Kuroro. Wajah yang tadinya ramah dan lembut, kini menjadi datar namun penuh amarah.

"Kuroro sensei, kau kenapa?" tanya Kurapika bingung melihat perubahan Kuroro.

"Lain kali kau harus lebih berhati-hati… jangan gegabah…" ucap Kuroro super ketus, seraya berjalan meninggalkan Kurapika yang dalam keadaan bingung.

"Kuroro sensei mau kemana?" tanya Kurapika dari jauh.

"Tidak," ucap Kuroro seraya menutup pintunya dengan keras.

BLAMMMM…

"A—apa aku salah bicara?" tanya Kurapika bertanya pada dirinya sendiri. Namun dari dalam hatinya yang paling dalam, ia merasakan sakit.

'Apa yang terjadi padaku? Kenapa hatiku jadi sakit? Ahhh… pasti gara-gara bully tadi… tapi, bagaimana aku pulang? Masa' aku pulang dengan pakaian seperti ini?' pikir Kurapika. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap di sini.

~0000000000000000000000~

"Maaf, tadi aku tidak sopan…" lirih Kuroro dengan wajah penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, memangnya tadi sensei kenapa?" tanya Kurapika tersenyum manis.

"Tidak, tadi aku ada urusan tiba-tiba. Ohya, biar kuantar kau pulang…"

"Ta―tapi, pakaianku…"

Kuroro lalu membantu Kurapika berdiri. Kurapika langsung saja merona, karena tubuhnya yang hanya ditutupi dengan singlet dan celana dalam, dilihat oleh Kuroro. Namun Kuroro jauh lebih pintar menyembunyikan rona merahnya.

Kuroro pun membuka mantelnya, dan memasangkannya pada Kurapika. Yah, mantel itu memang menutupi bagian belakang Kurapika, namun tidak dengan bagian depannya. Ia lalu berjongkok di depan Kurapika. Kurapika hanya menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.

"Naiklah…"

Perkataan itu sukses menimbulkan rona merah di pipi Kurapika. "M―maksud sensei?" tanya Kurapika sok bingung, meskipun sebenarnya ia sudah tahu maksud dari Kuroro.

"Aku akan menggendongmu pulang!" jawab Kuroro tersenyum ramah pada Kurapika. "Ayo naik…"

Dengan mengumpulkan segala keberaniannya, akhirnya Kurapika naik di gendongan Kuroro. Wajahnya kini sudah sangat merah. Bayangkan saja, saat ini seluruh tubuh bagian depannya tersentuh oleh punggung Kuroro.

Terlihat pula rona merah tipis di pipi Kuroro ketika merasakan sesuatu yang 'kenyal' menyentuh punggungnya. Namun dia membuang jauh-jauh pikiran kotornya itu. Ia pun mulai berdiri, dari jongkoknya, mengangangkat Kurapika.

"M―maaf, aku berat…" lirih Kurapika.

"Tidak… kau sangat ringan," sekali lagi perkataan Kuroro membuat wajah Kurapika merona merah. Kuroro pun melangkahkan kakinya, keluar sekolah.

08.15 malam

Terlihat saat ini Kuroro berjalan menyusuri jalanan yang cukup sepi. Di belakangnya terdapat Kurapika yang digendong olehnya.

Hening…

Deg,deg,deg…

Kuroro dapat mendengar suara detak jantung Kurapika yang begitu cepat. Namun ia hanya tertawa kecil, tak menanggapinya.

"Sensei kenapa tertawa?" tanya Kurapika yang ternyata tadi melihat ekspresi Kuroro.

"Ah, tidak…"

Keheningan pun kembali menyelimuti mereka.

Tes… tes…

Kurapika dan Kuroro merasakan tetesan air menyentuh mereka. Semakin lama tetesan tersebut semakin banyak, hingga akhirnya menjadi hujan.

"Hyaaaa! Kuroro senseeeii… hujaaann…" ucap Kurapika panik.

"Baiklah, kau pegangan!" ucap Kuroro seraya langsung berlari secepat mungkin. Kurapika hanya sweat drop melihat tingkah Kuroro. Bukannya mencari tempat berteduh, ia malah berlari.

Namun saking cepatnya lari Kuroro, Kurapika hampir saja terjatuh."Kubilang pegangan!" ucap Kuroro sedikit meninggikan suaranya, karena harus melawan derasnya hujan. Kurapika pun menurut. Ia langsung memeluk leher Kuroro dari belakang dengan erat, sambil memejamkan matanya menahan malu. Kuroro hanya tersenyum tipis, lalu melanjutkan berlari.

.

.

Rumah Kurapika,

"Hosh…hosh…" desah Kuroro kelelahan setelah menurunkan Kurapika.

"Masuk sensei…"ucap Kurapika mempersilahkan Kuroro untuk masuk ke rumahnya. Kuroro hanya menurut. Ia pun masuk ke rumah Kurapika.

Kuroro langsung terkagum dengan suasana rumah Kurapika. Yang di lihatnya adalah ruang tamu yang begitu rapi, tanpa kotoran atau debu sedikitpun. Dinding berwarna biru laut, dengan foto-foto, serta lukisan-lukisan sejarah yang terpajang di sana. Lantainya berwarna biru namun sedikit agak bening, serta sofa merah tua dan meja persegi, yang dilapisi dengan sprey merah yang sewarna. Di tambah dengan benda-benda unik nan antik yang menghiasi ruangan tersebut. Benar-benar serasa berada di dalam laut.

Namun Kuroro tak ingin berkomentar banyak. Saat ini dia sudah hampir membatu karena kedinginan. Ia pun duduk di sofa Kurapika. Yah, saat ini mereka berdua basah kuyub akibat kehujanan.

"Tunggu sebentar, aku ambilkan handuk…" Kurapika langsung bergegas meninggalkan Kuroro yang terduduk di sofa, menikmati suasana rumah Kurapika yang terbilang 'berkelas' itu.

Tak lama setelah itu, Kurapika datang dan membawa handuk. "Silahkan…" ucap Kurapika seraya menyerahkan handuknya pada Kuroro. Kuroro pun menerimanya, dan mengeringkan tubuhnya.

Mata Kuroro membelalak ketika menyadari, saat ini, Kurapika yang sedang mengeringkan rambut pirangnya, terlihat sangat 'menggoda' di mata Kuroro.

Bagaimana tidak, saat ini, Kurapika yang dalam kondisi basah, dengan mantel Kuroro yang terbuka bagian depan, sehingga menampakkan bentuk tubuh Kurapika yang terlihat begitu jelas, dengan singlet putihnya. Ditambah lagi saat ini Kurapika hanya memakai celana dalam saja. Namun celana dalam yang basah, dan menempel pada kewanitaan Kurapika, sukses memperlihatkan garis kewanitaannya. Saat ini, Kurapika sudah seperti telanjang saja.

Kuroro mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menahan dirinya.

Kuroro hanya bisa meneguk ludah, memperhatikan Kurpika. Ia merasakan celananya kini sudah menyempit akibat 'sesuatu' yang tesembunyi di sana sudah menegan dan membesar.

"Sensei mau minum coklat pan―akkkhhh…!" perkataan Kurapika terhenti ketika Kuroro, langsung 'menerkamnya' ke sofa, menindihnya, dan menciumi lehernya dengan ganasnya. Yah saat ini Kuroro sudah tidak tahan lagi. Kuroro terus mencumbuhi leher Kurapika, hingga meninggalkan banyak kissmark di sana.

"Kuro—nghhh…" Kurapika berusa menggeliat, namun tubuh Kuroro yang menindihnya menahannya. Kurapika benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Namun ia tahu apa yang akan Kuroro lakukan padanya. Yang tidak ia mengerti, 'Kenapa Kuroro sensei langsung beginiiii?' jerit Kurapika dalam hati.

Tangan Kuroro tidak tinggal diam. Ia langsung meremas dada Kurapika kuat-kuat.

"Khyaaaaaaahhh!" jerit Kurapika ketika dadanya diremas oleh Kuroro. Ia berusaha menolak perlakuan Kuroro, tapi kenyataannya Kuroro jauh lebih kuat.

"Kuroro senseeeeiii… jangaaannhh…" pinta Kurapika dengan nada memelas. Namun Kuroro tak peduli. Ia langsung melumat bibir mungil Kurapika dengan ganas. "Ummmmpph…"

Kini hanya kaki Kurapika yang bebas. Namun ia tidak bisa mempergunakannya dengan baik, karena ia tak bisa berkosentrasi. Kurapika hanya menendang-nendang tak tentu arah, hingga tanpa ia sengajai, tendangannya mengenai atau lebih tepatnya menggesek kejantanan Kuroro.

Sayangnya tendangan Kurapika terlalu lemah untuk saat ini. Bukannya membuat Kuroro kesakitan, itu malah membuatnya semakin bergairah saja.

Kuroro langsung saja membuka mantel yang melekat pada tubuh Kurapika. Ia pun menengkurapi Kurapika, menatap Kurapika lekat-lekat. Ia saat ini melihat Kurapika yang menutup matanya, karena malu. Kuroro pun tanpa ampun-ampun lagi langsung kembali meremas dada Kurapika.

"AAAKKKHHHHH…!" jeritan Kurapika lebih besar lagi. Tentu saja, karena remasan Kuroro semakin kuat. Selain itu, yang menjadi tumpuan Kuroro saat ini adalah, tangan dan kakinya. Jadi Kurapika harus menahan berat setengan badan Kuroro, dengan dadanya.

Kuroro langsung tersenyum licik, melihat Kurapika yang menutup wajahnya dengan tangannya, membuatnya terlihat lucu. Kuroro langsung saja menekankan lututnya, pada daerah kewanitaan Kurapika yang tertutupi celana dalam.

"Angggghh!..."

Kuroro pun menekan lututnya dan menggoyang-goyangkannya, membuat Kurapika semakin menggeliat. "Kyyyyyah…" rintih Kurapika.

"Apa?" ucap Kuroro masih dengan kegiatannya tadi.

"Ngghhh… akuuh… ahhhhh…" Kurapika tak mampu menyelesaikan perkataannya. Sejujurnya, ia mulai teransang dengan perlakuan Kuroro.

"Kau kenapa?"

"Hnnnnhhh!" Kurapika menggenggam tangan Kuroro yang meremas dadanya dengan erat. Kuroro pun tahu maksud dari Kurapika. Ia lalu mengehentikan kegiatannya, lalu berdiri di samping sofa. 'Padahal lagi asyik-asyiknya…' pikir Kuroro sebal.

Kurapika langsung bangun dan membetulkan bajunya, serta mengatur nafasnya. Wajahnya kini sudah semerah tomat. "Haahhh… hahh…"

"Ada apa sih?" tanya Kuroro duduk di samping Kurapika.

DWAGGGGHHH !

"DASAR COWOK MESUM! KATANYA GURU POPULER DAN BERWIBAWA! TAPI KAU MAU MEMPERKOSA MURIDMU SENDIRI! DASAR GURU KEPARAT!" maki Kurapika setelah mendaratkan pukulan di pipi Kuroro.

"Aawwww…" jerit Kuroro memegangi pipinya yang merah nan bengkak. Darah sedikit keluar di sudut bibirnya.

Kuroro langsung melemparkan 'devil smile'nya pada Kurapika.

Hening…

Gyyuuuutt…

Kurapika langsung saja memeluk Kuroro dengan erat. Siapa cewek yang tidak tahan, ketika melihat senyuman Kuroro yang tadi. Cewek tomboy nan jutek macam Kurapika pun pasti akan langsung tergoda. Untungnya, hanya kepada Kurapika lah, Kuroro memperlihatkan senyuman itu, seperti saat ini.

"Maaf… tapi… aku mencintaimu…" lirih Kuroro membalas pelukan Kurapika.

Wajah Kurapika semakin memerah saja mendengar pernyataan Kuroro. Ia pun berpikir sejenak. "Apa tidak apa-apa?" tanya Kurapika memalingkan wajahnya.

"'Apa-apa' apanya?"

"Aku ini gak manis, gak feminim, gak cantik, gak pandai bermain musik, dan aku sudah menjadi korban bulling. Apa aku pantas untuk sensei?" tanya Kurapika malu-malu.

Cuppp…

Kuroro langsung saja mengecup lembut nan singkat bibir Kurapika. Ia lalu memandang Kurapika. Kurapika berusaha berpaling, namun jemari Kuroro yang memengang dagunya, membuat wajahnya tak bisa bergerak.

"Dengar… aku mencintaimu, apa adanya…" bisik Kuroro lalu mencium lembut bibir Kurapika. Sangat lembut. Berbeda denga ciuman pertama tadi, yang terkesan 'ganas'.

Meskipun awalnya malu-malu, namun pada akhirnya Kurapika membalas ciuman Kuroro. Kuroro hanya tersenyum, ia lalu semakin menekan kepala Kurapika, agar ciuman mereka semakin dalam. Kurapika semakin panas saja dibuatnya.

Ciuman lembut itu semakin lama, semakin menggairahkan bagi mereka berdua. Sehingga ciuman tersebut menjadi ciuman penuh nafsu. Lidah Kuroro mulai memasuki rongga mulut Kurapika. Sehingga lidah mereka saling beradu di dalamnya.

Kuroro lalu berpindah pada leher jejang Kurapika. Ia langsung melumatnya tanpa ampun. "Nghhhh… sensei…" desah Kurapika meremas bahu Kuroro kuat-kuat. Namun desahan itu malah membuat Kuroro semakin bergairah.

Pemuda Lucifer itu langsung membuka pakaian Kurapika dengan 'ganas'. Kurpika langsung saja menendang Kuroro, hingga Kuroro terlempar ke belakang sejauh beberapa meter. "Ehmm… maaf sensei… a―aku kaget sekali…" lirih Kurapika dengan wajah yang semerah tomat.

Kuroro hanya tertawa kecil melihat tingkah Kurapika. Ia lalu berjalan mendekati Kurapika dan memegang lembut dagu muridnya itu. "Kau itu benar-benar berbeda dari wanita lainnya!"

"Gyaaaaa!" teriak Kurapika histeris ketika Kuroro langsung saja menggendongnya ala bridal style. "Ku―Kuroro senseeeii…"

"Apa?" tanya Kuroro dengan wajah innocent-nya. Kurapika hanya bisa diam, dengan wajah yang super merah saat ini.

Kuroro langsung membawa Kurapika ke kamarnya. Ia rebahkan tubuh mungil itu, di tempat tidur ukuran medium. Kuroro lalu mengunci pintu kamar Kurapika, membuat si pemilik kamar tersontak kaget. Namun ia lebih memilih untuk diam.

Kuroro pun duduk di sisi ranjang, dan mengelus lembut pipi Kurapika yang saat ini terbaring lemas. "Kau siap?" tanya Kuroro tersenyum lembut. Kurapika hanya mengangguk lemah.

Kuroro lalu menengkurapi tubuh mungil Kurapika. Ia pun melumat lembut bibir ranumnya. Tak hanya itu. Satu tangannya pun mulai meremas dada Kurapika, sedangkan tangan yang satunya menjadi tumpuan tubuh kekarnya.

"Ummpphh…" Kurapika rasanya ingin mendesah, namun bibirnya terkunci oleh Kuroro.

Tangan Kuroro yang tadi bermain dengan dada Kurapika, kini mulai turun, dan menembus celana dalam Kurapika, hingga ia sampai pada daerah kewanitaan Kurapika. Senyuman langsung terukir di bibir Kuroro ketika ia meraba daerah kewanitaan Kurapika. Benar-benar lembut dan licin. Mata Kurapika membulat sempurna ketika merasakan 'sesuatu' memasuki lubang vagina-nya.

Ternyata 'sesuatu' itu adalah jari Kuroro. Kuroro memasukkan jari tengahnya dengan lambat nan lembut. Kurapika langsung saja tersentak. Bulunya pun langsung naik semua.

"Mppphhkk…" rasanya Kurapika ingin berteriak sekencang mungkin, namun hasilnya nihil. Tubuhnya menggeliat bak cicak yang terjepit ketika merasakan jari Kuroro keluar-masuk di lubangnya dengan ritme yang beraturan.

Kuroro lalu memasukkan dua jari yang lainnya, hingga jarinya kini sudah ada tiga yang bersarang di lubang vagina-nya. Mata Kurapika langsung saja membulat dibuatnya.

Kuroro pun melepas ciumannya untuk mengambil pasokan udara. Kurapika langsung saja bernafas lega. Begitu pula dengan Kuroro. Namun kelega-an Kurapika langsung sirna ketika Kuroro menggocok tangannya dengan ritme cepat di vagina Kurapia.

"Ngghh… akhhh! Senseiihh… engghh…!" desah Kurapika menggeliat pelan.

Kuroro yang mendengar desah Kurapika semakin bergairah saja. Ia semakin mempercepat kocokannya pada lubang vagina Kurapika. "Aaaaanngghhkk!"

Crettt… crett…

"Aaahhhhhhh…"

Kuroro langsung merasakan tangannya basah oleh cairan lengket. Kuroro pun menarik tangannya, dan memperhatikannya.

"Ini klimaks-mu?" tanya Kuroro memperhatikan tangannya yang basah dengan cairan putih lengket.

"Ngghh…" Kurapika hanya menggeleng pelan.

Senyuman licik pun terlihat di bibir Kuroro. Melihat tubuh Kurapika yang lemas tak berdaya. Ia pun menjilat tangannya yang penuh dengan cairan putih milik Kurapika. Kuroro langsung saja membuka kaos singlet milik Kurapika dengan ganasnya, sehingga menyisakan bra kuning yang sewarna dengan rambut pirangnya.

Kuroro pun membuka bra itu, memperlihatkan dua buah dada Kurapika yang terbilang standar itu. Dada Kurapika terlihat begitu mulus dan lembut, membuat Kuroro menjadi bergairah dibuatnya. Ditambah dengan puntingnya yang sudah menegang dan memerah.

Dengan ganasnya, Kuroro langsung saja melumat dada kiri Kurapika, dan meremas dada kanan Kurapika. Kurapika hanya tersentak kaget. Gadis pirang itu pun hanya meremas rambut hitam Kuroro. "Ngghhh…!" desah Kurapika dengan wajah yang super merah. Sesekali Kuroro meremas dan menyentil keras punting dada kanan Kurapika, dan sesekali pula ia menggigit punting bagian kiri. Hal itu membuat Kurapika semakin menggeliat menahan sakit bercampur nikmat itu.

Cukup puas dengan bagian dada Kurapika, setelah melakukan hal itu selama 5 menit, Kuroro lalu melirik bagian bawah tubuh Kurapika. Kuroro pun mengelus lembut tubuh Kurapika, dari pertengahan dadanya yang sudah memerah, terus dielus sampai tangan Kuroro terhenti oleh celana dalam Kurapika.

Senyuman licik pun terukir di wajah tampan guru musik itu.

"Ku—Kuroro senseihh… hahhh… hahh…" lirih Kurapika dengan nada penuh lelah. Tentu saja, ini terlalu awal bagi bocah 17 tahun sepertinya. Apalagi 'lawan main'nya adalah pria dewasa yang berumur 26 tahun.

Kuroro dengan perlahan-lahan melepas celana dalam Kurapika, agar Kurapika tidak tersentak kaget. Hingga kini tubuh Kurapika sudah benar-benar polos. Dua buah dadanya sudah memerah akibat telah diremas dan dilumat oleh Kuroro. Puntingnya pun sudah mengeras. Vagina Kurapika terlihat merah dan basah. Sedangkan sekitar lehernya terlihat ada banyak kissmark.

Ketika Kuroro hendak menengkurapi Kurapika lagi, Kurapika langsung menahan dadanya. Kuroro hanya menaikkan sebelah alisnya heran.

"Ehmm… Kuroro sensei, kapan ini selesai?" tanya Kurapika malu-malu. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya yang memerah.

Tawa Kuroro langsung saja meledak. Kali ini Kurapika yang heran. "Hahahahahaha! Jadi kau ingin ini cepat selesai yah?" tanya Kuroro. Kurapika hanya memalingkan wajahnya yang cemberut.

Kuroro pun mulai melepas kancing kemejanya. Kurapika yang melihat kejadian itu, semakin memerah saja. "Aaaaaaa!" jerit Kurapika langsung menutup matanya ketika Kuroro mulai melepas resleting celananya.

Kuroro tak mengubris teriakan Kurapika yang barusan. Dia tetap melanjutkan 'kegiatan'nya.

Pria pemilik mata onix itu langsung melemparkan celana dan celana dalamnya ke sembarang tempat. Kini Kuroro pun sudah bertelanjang polos. Kurapika dapat melihat 'benda' milik Kuroro sudah menegang dan mengeras bak tiang. Kurapika semakin memerah saja melihatnya. Terlihat pula rona merah tipis di pipi Kuroro. Ini pertama kalinya ia berpenampilan seperti ini di depan seorang gadis, kecuali ibunya tentunya.

Kuroro pun kembali menengkurapi Kurapika.

'K―kami… akan melakukan iniii!' jerit Kurapika dalam hati. Ia hanya bisa memejamkan matanya erat-erat, menunggu perlakuan Kuroro selanjutnya.

Cup…

Kurapika langsung membuka matanya, ketika menyadari sesuatu yang dingin menyentuh bibir ranumnya. Di lihatnya Kuroro menciumnya lembut. Sangat lembut.

Kuroro pun melepaskan ciumannya. Ditatapnya Kurapika lembut. "Jangat takut… aku ada di sini…" lirih Kuroro memandang lembut Kurapika dan mengelus lembut pipinya.

Kurapika dengan ragu melingkarkan tangannya di leher Kuroro. Kuroro hanya tersenyum puas, dan mengikuti tarikan Kurapika. Tanpa sengaja, penisnya tergesek di dinding vagina Kurapika, membuat Kurapika tersentak kaget.

Namun ia membuang jauh-jauh perasaannya itu. Ia semakin menarik Kuroro, hingga bibir mereka saling bertemu. Kuroro dengan pelan namun pasti menjatuhkan badannya, hingga tubuh mereka berdua pun saling menempel. Kini dada Kurapika terapit oleh dada bidang Kuroro.

Ciuman mereka pun berlangsung dengan penuh gairah. Kaki Kurapika sibuk menggeliat saking menikmati tiap lumatan Kuroro di bibir ranumnya. "Ngppphhh…"

Bibirnya yang terlumat, dadanya yang terhimpit, dan penis Kuroro yang tergesek di dinding vaginanya, bagaimana itu tidak membut Kurapika benar-benar teransang? Percikan-percikan cairannya terus menerus keluar dari lubang vaginanya. Bukannya menolak perlakuan Kuroro, Kurapika malah lebih menarik Kuroro hingga tubuh mereka makin menempel saja.

Kurang lebih 20 menit mereka melakukan hal itu, Kuroro pun kembali menengkurapi Kurapika. Ia rasakan penisnya sudah semakin menegang saja.

Nafas Kurapika kini sudah ngo-ngosan. Peluh mulai meluncur di dahinya. Dia benar-benar lelah dengan perlakuan Kuroro tadi. Namun Kuroro malah sebaliknya. Dia malah menginginkan lebih. Sejujurnya, dari tadi dia berusaha menahan diri, agar melakukan ini secara pelan-pelan.

Kuroro tersenyum puas, ketika mengetahui bahwa sekarang Kurapika sudah siap. Dia lalu mengecup singkat bibir Kurapika.

Pandangan Kuroro lalu mengarah ke bawah. Dilihatnya penisnya sudah semakin membesar. Kuroro pun mengarahkan penisnya itu ke lubang vagina Kurapika. Dan…

"AAAAAAAAKKKKHHHHHHH!" teriak Kurapika membulatkan matanya.

Yah, baru saja Kuroro memasukkan penisnya ke vagina Kurapika. Namun, belum seluruhnya masuk. Bahkan belum seperempatnya.

"K—Kuroro senseihhh…" lirih Kurapika masih merasa agak sakit. Ia meliat ke bawah, melihat penis Kuroro yang baru seperlima masuk ke vaginanya.

Kuroro berusaha menekan pinggangnya, agar penisnya masuk lebih dalam lagi. "Kyaaaaakkhh…" teriak Kurapika berusaha melepaskan tubuhnya dari Kuroro saking sakitnya.

Namun hasilnya sia-sia. Tak masuk 1 cm-pun.

'Benar-benar gadis yang kuat…' pikir Kuroro seraya mengeluarkan penisnya.

Kurapika langsung saja bernafas lega.

Namun itu tak berlangsung lama,

PLAAAAKKKK!

Mata Kurapika membulat sempurna. Suaranya tak dapat dikeluarkan. Air mata menetes di pelupuk matanya, ketika Kuroro langsung saja mengehempaskan pinggullnya dengan begitu kuatnya.

Akhirnya penis yang besar itu sudah berhasil menembus selaput yang ada di dalam vagina Kurapika.

Darah mulai keluar dari sana.

Kurapika meneteskan air matanya, sakit… begitu sakit! Saking sakitnya ia tak bisa berpikir lagi. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya , menggenggam tangannya erat-erat menahan sakit ini.

Nampak jelas penyesalan di wajah tampan Kuroro. Ia dengan pelan lalu mengeluarkan penisnya.

"Hickk…" isak Kurapika.

"Kurapika…" lirih Kuroro lalu duduk di sisi ranjang. Di ambilnya selembar tissue, dan mengelap darah-daran yang terciprat di sekitar selangkaan Kurapika.

Kuroro lalu berbaring di samping Kurapika. Ia memeluk gadis polos itu begitu erat dari samping, ia sangat menyesal, telah membuat gadisnya menangis.

Dengan tangan bergetar, Kurapika lalu memegang pelan tangan Kuroro. Ia tahu, kalau Kuroro sebenarnya sedari tadi sudah menahan diri untuk tidak berburu-buru.

"Sensei…" lirih Kurapika menoleh pada Kuroro yang terbaring di sampingnya.

"Maaf… aku sudah merusakmu…" lirih Kuroro menanamkan wajahnya di samping telinga Kurapika.

Kurapika tersenyum tipis. Ia lalu membalas pelukan Kuroro. Mereka berpelukan dalam keadaan berbaring. Kurapika pun mengelus sekitar telinga Kuroro.

"Tidak apa-apa… aku malah senang. Kuroro sensei tidak merusakku. Namun Kuroro sensei telah menjadikanku milik Kuroro sensei seorang… aku senang, menjadi milik sensei…" lirih Kurapika dengan wajah yang merona merah.

Kuroro tertegun mendengar perkataan Kurapika. Ia lalu mengecup singkat bibir gadis itu.

Kuroro pun bangun, dan menerlentangkan tubuh mungil Kurapika. Kurapika hanya menuruti perlakuan Kuroro. Kuroro pun kembali menengkurapi Kurapika.

"Angggkkkkkhhhhhh!" jerit Kurapika ketika penis Kuroro memasuki vaginanya sebagian.

Kuroro dengan perlahan memasukkannya lebih dalam lagi. Memang lebih mudah, karena selaput keperawanan Kurapika sudah sobek. "Ukkhhhhh… ahhhh…" desah Kurapika menggeliat pelan menahan sakit.

Kuroro semakin berusaha memasukkan semuanya. benar-benar sulit, karena otot dinding vagina Kurapika menjepit penis-nya sangat kuat. Namun itu malah membuat Kuroro semakin teransang.

Pakkkk…

"Aaaaahhhhhhh…" desah keduanya lega, ketika penis Kuroro sudah masuk semuanya.

Kuroro mulai memaju mundurkan pinggulnya. "Akkkhhhhh!" desah Kurapika tak tertahankan.

Sakit, namun begitu nikmat. Kurapika tak tahu lagi apa yang ia pikirkan saat ini. Rasanya begitu sakit, namun begitu nikmat. Semakin sakit yang ia rasakan, semakin nikmat pula.

Kuroro semakin mempercepat irama pinggulnya, membuat Kurapika menjadi tersentak.

Tangan kanan Kuroro tak diam. Dia malah meremas kuat dada kiri Kurapika, sedangkan tangan kirinya menjadi tumpuan.

"Ahhh…! Akkkhhh! Ungghh! Ku―Ahhhhh! Ku—Nggh, Kuroro ahkk…" desah Kurapika yang nampak menikmatinya.

Tangannya meremas kuat sepray tempat tidur saking sakit yang ia rasakan.

Kurang lebih aksi 'in-up' mereka berlangsung selama 3 menit, Kuroro semakin teransang saja. Ia semakin mempercepat ritmenya. "aaahhh! Ahhh! Ahh!" desah Kurapika.

Peluh mulai bercucuran di dahi keduanya.

Hal ini memang melelahkan. Terutama bagi Kurapika yang masih berusia 17 tahun.

Kuroro semakin teransang saja. Ia mulai hilang kendali. Ia semakin mempercepat ritmenya. Semakin cepat, dan cepat. Desahan Kurapika pun semakin menjadi-jadi, namun terdengar seksi di telinga Kuroro.

Kuroro makin tak terkendali, dan,

CRATTTTT!

Ribuan sel sperma milik Kuroro pun langsung menyembur di rahim Kurapika.

Brukkk…

Kuroro pun langsung saja ambruk, menindih Kurapika. Kuroro hanya bisa bernafas tersengal-sengal, sedangkan Kurapika nampak shock.

Kuroro lalu kembali menengkurapi Kurapika. Tangannya agak bergetar saking lelahnya. Ia menatap khawatir Kurapika yang terlihat shock. "Maaf…" lirihnya dengan nada penuh penyesalan.

Kurapika lalu memejamkan matanya erat-erat, seolah berusaha kembali ke alam sadarnya. Akhirnya Kurapika berhasil sadar dari shock-nya.

Dia pun mengelus lembut pipi Kuroro. "Aku 'kan sudah bilang, aku senang menjadi milik Kuroro sensei seorang…" lirih Kurapika. Detik selanjutnya tangannya langsung jatuh, matanya pun langsung terpejam. Saking lelahnya Kurapika langsung tertidur.

Kuroro lalu tersenyum tipis. Ia menyingkirkan rambut Kurapika yang menutupi sedikit wajahnya. "Aishiteru…"

Bruukkk…

Untuk kedua kalianya Kuroro ambruk di atas Kurapika lagi.

Terdengar dengkuran halus oleh keduanya.

Malam itu, adalah malam terbaik antara keduanya…

TBC

Huhhh! Akhirnya chapter ini selesai juga…

Maaf, aku lambat apdet. Soalnya kerjaan kuliahan banyak banget!

Baiklah, akhir kata, review please…