Story belong Lhyn Hatake
Cast Belong them self
Chanbaek/BaekYeol – GS
.
CHILDREN NOT ALOWED!
.
Chap 2
.
Baekhyun membuka matanya dengan damai, ini pagi yang nyaman. Dia tidur dengan kasur yang nyaman dan selimut yang nyaman. Dia bahkan tidur terlalu nyaman tanpa pakaian dalam.
Deg.
Ah! Sial.
Dia berbalik dan mendapati Chanyeol duduk dibelakangnya dengan bersandar kepala ranjang. Seperti biasa, dengan sebuah buku ditangannya. Semalam setelah makan, Chanyeol tak mengijinkan Baekhyun kembali kekamarnya. Namja itu mengunci Baekhyun dikamarnya sendiri dan tak membiarkan Baekhyun keluar bahkan hanya untuk mandi dan ganti baju.
Terpaksa Baekhyun mandi dan memakai baju Chanyeol disini. Sebuah kemeja lengan pendek yang kelewat besar dan sebuah celana boxer dibawah lutut. Kemejanya cukup tebal untuk menyembunyikan fakta bahwa dia tak memakai bra.
"Wajahmu memerah, apa yang kau pikirkan?" Chanyeol meletakkan bukunya dinakas dan menatap Baekhyun.
"Apa? Aku tidak berpikir mesum seperti kau!"
"Aku tidak bilang kau sedang berpikir mesum, meskipun sepertinya begitu."
Baekhyun bangkit dan… Ctak! Dia menjitak kepala namja itu. "Aku hanya merasa tak nyaman, Bodoh!"
"Tak nyaman karena menggodaku semalaman?"
"Yak!—"
Protes Baekhyun terhenti saat Chanyeol mengangkat tubuhnya dan mendudukkan Baekhyun di pangkuannya. "Mulai sekarang sediakan beberapa pakaianmu di lemariku." saran Chanyeol sebelum dia menarik kepala Baekhyun dan melumat bibirnya dengan lembut. Tak lama, ciuman itu berubah sedikit kasar, Chanyeol melumat bibir Baekhyun dengan keras dan menggigitinya dengan tak sabar.
Baekhyun mengeram saat Chanyeol menjelajahkan lidahnya dan mendesak kepalanya semakin erat. Dan ada sesuatu dibawah sana yang membuatnya tak nyaman. Napas Baekhyun memburu, dia sadar sepenuhnya apa yang dia duduki sekarang, sesuatu yang terasa membesar.
"Chahenyol…" Baekhyun kesulitan bicara. Chanyeol melepaskan bibirnya namun tak berhenti dan mulai menyesapi leher Baekhyun.
Tangan Chanyeol bergerak membuka satu kancing kemeja Baekhyun dan memiringkan kerahnya, membuat bagian atas payudara kirinya sedikit terekspos. Baekhyun menegang saat sentuhan bibir Chanyeol tiba disana.
Chanyeol membuka satu kancing lagi dan satu payudara yeoja itu terekpos sempurna.
"Yeolhh… apa yang kau lakukan?" napas Baekhyun memburu, wajahnya merah sempurna dan dia bergerak tak nyaman karena sesuatu dibawah sana.
"Jangan bergerak!" Chanyeol menatapnya intens. "Aku benar-benar tak ingin hilang kendali."
Baekhyun berhenti bergerak, dan Chanyeol kembali mengecupi lehernya dengan lembut. Tubuh Baekhyun semakin menegang, tangan Chanyeol baru saja membelai payudaranya perlahan. Dan ciuman namja itu perlahan kebawah.
"Ehmm… yeoll…" napas Baekhyun putus-putus. Jantungnya melompat-lompat saat bibir basah Chanyeol tiba dipuncaknya. "Akhh!" satu gigitan terakhir Chanyeol membuat Baekhyun mendesah kencang.
"Ini hadiah untukku karena berhasil tak menyerangmu semalaman," Chanyeol tersenyum, ditatapnya gadis yang tengah bernapas memburu dengan wajah merah dan bibir sedikit terbuka. Dikecupnya lagi bibir itu dengan lembut dan tangannya kembali mengancingkan kemeja Baekhyun yang berantakan.
"PARK CHANYEOL!"
DEG!
Sebuah teriakan seorang wanita membuat Baekhyun yakin dia baru saja terkena serangan jantung. Baekhyun berbalik, dan matanya membulat melihat Yixing berdiri diambang pintu dengan wajah merah padam.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Baekhyun menunduk dan segera turun dari pangkuan Chanyeol.
Baekhyun menunduk semakin dalam, rasa takut menjalari dadanya.
"Apa kata yang tepat? Bercumbu mungkin?" jawab Chanyeol, terdengar acuh.
"Chanyeol!" sergah Yixing dan Baekhyun bersamaan.
"Unnie ini salahku," cicit Baekhyun. Diberanikan dirinya menatap sang putri pertama keluarga Park.
"Noona percaya dia yang memulainya?"
"Kalian pacaran? Baekhyun, kau pacaran dengan Chanyeol?" pertanyaan Yixing terdengar tajam, Baekhyun hendak menjawab saat Yixing kembali bicara "Baekhyun, apa kau lupa posisimu? Sedekat apapun kau dengan Chanyeol, dia tetap tuan muda dirumah ini!"
"Noona hentikan! Noona tak bisa berkata kasar seperti itu padanya!" Chanyeol berseru terdengar mulai marah.
"Baekhyun keluarlah, aku ingin bicara dengan adikku."
Baekhyun mengangguk, dengan gugup dia turun dari tempat tidur. "Ini semua salahku, Noona kumohon kalian jangan bertengkar."
"Keluarlah."
Sekali lagi Baekhyun mengangguk dan berjalan keluar dari kamar besar tuan mudanya. Yixing benar, Chanyeol adalah tuan mudanya yang harus dia layani dan hormati.
"Chanyeol apa yang kau pikirkan?"
Baekhyun mendengar Yixing bicara, dia memang belum menutup pintu sepenuhnya. Sial. Haruskah dia mendengarkan pertengkaran kedua kakak beradik ini? Bagaimana kalau pertengkaran mereka semakin menjadi?
Baekhyun akan menjadi sebab dua pewaris Park saling bermusuhan?
"Kau kejam padanya Noona, kau tak seharusnya bicara seperti itu!" suara bass Chanyeol menggema tajam.
"Aku? Kau yang kejam padanya! Kau tahu kau tak bisa memberinya harapan tapi kau tetap menciumnya? Mencumbunya diatas kasurmu?"
"Lebih dari harapan, aku akan memberikan apapun—"
"Kau akan memberikan dirimu pada keluargamu, kau akan bertunangan!"
Deg.
Deg deg.
Baekhyun merasakan jantungnya terlepas dari dada dan merosot jatuh ke dasar perutnya, membuatnya merasa mual. Kakinya tiba-tiba saja terasa lemas, membuatnya terhuyung mundur.
Perasaan kacau yang tak dia kenali menjatuhi dirinya tiba-tiba. Dia memejamkan matanya, merasakan dirinya berada dalam kegelapan yang menakutkan.
"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa paman Huang dan keluarganya akan datang besok malam. Temui gadis itu." Yixing selesai bicara, dia berbalik meninggalkan adiknya yang masih berdiam diatas tempat tidurnya.
Yixing membuka pintu dan terkejut "Baekhyun? Kau masih disini?"
Yeoja itu tampak pucat dan tanpa menjawab, Baekhyun berlari pergi.
Yixing berbalik kembali menatap adiknya "Chanyeol, kau sudah memberitahu Baekhyunkan?"
Tapi tanpa mendengar jawabanpun, raut wajah Chanyeol sudah menjawab pertanyaan Yixing.
.
.
Baekhyun membiarkan dirinya tersiram air dingin untuk beberapa lama. Dia tak mengerti dengan perasaan sesak didadanya. Seperti sebuah jelly besar yang tiba-tiba datang dari langit menjatuhi dan memerangkap dirinya.
Cukup lama Baekhyun memikirkan perasaannya, bahkan setelah mandi dan berpakaian dia kembali termenung di kamarnya. Saat akhirnya tersadar, jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Hari sabtu adalah jadwal Chanyeol menjalani business class seharian penuh diruang kerja almarhum Appanya. Itu berarti hari libur untuk Baekhyun dan dia bisa melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan Chanyeol.
Baekhyun masuk kedapur dan langsung menuju kearah Kyungsoo yang sedang mengupas kentang. Kyungsoo adalah salah satu dari empat chef dirumah ini, tugas mereka adalah memastikan isi perut seluruh mansion tak pernah kosong. Kyungsoo juga teman sekamar Baekhyun.
"Kau tidak kembali ke kamar semalam," ujar Kyungsoo saat Baekhyun duduk didepannya dan meraih pisau.
"Ya, Chanyeol mengunciku."
"Aku tahu, aku mengantarkan sarapan kalian kekamarnya dan melihat kau tidur dikasurnya dengan kemejanya. Aku jadi penasaran apa yang kalian lakukan semalaman."
"Tidur. Hanya tidur," Baekhyun sedang tak berminat dengan topik Chanyeol saat ini.
Kyungsoo gadis yang lembut, kadang dia sangat cerewet tapi seringkali dia diam. Lebih banyak diam.
"Apa ada masalah?" dan Kyungsoo sangat memperhatikannya, sangat peka pada ekspresi Baekhyun. Seperti seorang kakak baik hati dari negeri dongeng.
"Tidak ada. Berhenti bertanya kalau kau ingin aku tetap disini membantumu," kesal Baekhyun.
Kyungsoo menghela napas sabar dan membiarkan Baekhyun membantunya dalam diam.
.
.
Ini hari yang melelahkan. Tak banyak pekerjaan yang dia lakukan, selain membantu Kyungsoo di dapur dan membantu paman Kim dengan tanaman, Baekhyun tak melakukan apapun lagi. Tapi rasanya sangat melelahkan.
Setelah mandi, dia berharap bisa bergelung dalam selimut yang hangat dan nyaman.
Cklek.
"Baekhyun, kau disini?" Kyungsoo masuk kekamar mereka, dia masih mengenakan pakaian kerjanya yang berwarna putih.
"Hemm.." jawab Baekhyun malas-malasan.
"Tuan muda tak turun makan malam, dia juga menolak maid membawa makanan kekamarnya."
"Dan itu jadi urusanku?" jawab Baekhyun dari dalam selimut.
"Kalian bertengkar, aku tahu… makanya aku sulit meminta ini padamu."
"Soo, aku lelah… kau boleh mandi dan bergabung denganku disini, atau kau mau kita juga bertengkar?"
"Tapi tuan muda tak menyentuh sarapan paginya, dia juga melewatkan makan siang dan sekarang tak turun untuk makan malam."
Baekhyun menghela napas gusar. Entah sejak kapan peraturan tak tertulis itu dibuat. Baekhyun memang putri kepala pelayan, tapi dia tidak bekerja disini. Dia hanya numpang tidur, numpang disekolahkan dan numpang hidup disini. Sebagai gantinya dia menyerahkan hidupnya untuk mengurus seorang tuan muda yang aneh dan menyebalkan.
Baekhyun menyibak selimut dan turun dari tempat tidurnya yang nyaman. Dengan langkah kesal dia menuju ke meja makan, mengambil sebuah nampan yang telah Kyungsoo siapkan dan membawanya kelantai atas, kekamar Chanyeol.
Tok tok tok tok… cklek… cklek…cklek…
Pintu terkunci.
"Ini aku!" seru Baekhyun tak sabar.
Cklik. Kunci terbuka dan Baekhyun masuk. Dia melihat Chanyeol yang duduk dimeja belajarnya, menghadapi notebooknya dengan serius.
"Makanlah." Kata Baekhyun setelah meletakkan nampan disamping notebook yang menyala.
Baekhyun berbalik, berjalan cepat kearah pintu dan meraih kenopnya.
Clek.. cklek… cklek.
Terkunci.
"Buka pintunya!" serunya kesal.
"Itu bukan keinginanku."
"Kau yang mengunci pintunya, berikan remotenya kalau kau tak mau membukakannya." Kata yeoja itu tanpa berbalik dari pintu.
"Pertunangan itu."
Baekhyun memejamkan matanya, merasakan dadanya berdenyut sakit.
"Syarat terakhir dari Appa sebelum dia meninggal."
"Seperti biasanyakan? Sejak kecil kau selalu mematuhi Appamu. Aku tak heran."
"Aku tak punya alasan—"
"Aku tahu, aku tak bisa jadi alasankan? Aku hanya anak kepala pelayan."
Sebuah tangan menarik bahu Baekhyun, membuatnya berbalik dan menatap Chanyeol.
"Jangan katakan itu."
"Maafkan aku, aku hanya… kau seharusnya memberi tahuku lebih awal."
Chanyeol mengernyit. "Dan itu akan membuatmu lebih mengerti?"
"Aku… tiba-tiba saja sadar bahwa kita sudah dewasa. Kau jadi sangat tinggi dan akan bertunangan, aku juga akan begitu, menikah dengan seorang pria dan—"
"Sial Baekhyun! Bukan itu maksudku," Chanyeol mengusap rambutnya dengan frustasi.
Baekhyun menatap Chanyeol tak mengerti.
"Aku mengatakannya setiap malam. Saat kau tidur—"
"Bagus sekali karena aku selalu mendengarnya—"
"Aku mencintaimu."
Deg.
Deg.
Deg.
Tubuh Baekhyun melemas, kakinya berubah jadi jelly dan menabrak pintu dibelakangnya.
"Aku tahu aku akan menyakitimu, tapi aku tak bisa kehilanganmu dan aku juga tak bisa menolak pertunanganku."
Baekhyun berbalik, meraih kenop pintu dan menggerakkannya dengan gila. "Buka pintunya! Kumohon buka pintunya!"
"Baekhyun!" Chanyeol kembali menarik pundak Baekhyun menghadapnya. Mengurung yeoja itu diantara kedua lengannya.
"Kau pikir berapa kali aku mengatakannya? Kau tak pernah mendengarku! Kau diam disana dan membuatku berpikir persahabatan kita cukup untukmu! Lalu sekarang kau mengatakannya, setelah ribuan kali aku mengatakan aku mencintaimu dan sekarang kau mengatakan kau mencintaiku? Setelah aku tahu kau akan bertunangan dengan seorang gadis?"
"Baekhyun—"
"Tidak! Aku tidak mendengarmu. Biarkan aku menjadi sahabat yang jatuh cinta pada sahabatnya seorang diri. Aku membencimu Park Chanyeol!"
"Maafkan aku."
"Apa maumu sekarang?"
"Tetaplah disisiku?"
"Menjadi selingkuhanmu? Menjadi kekasih gelapmu?"
Chanyeol tersentak, agak lama… dan tiba-tiba saja dia tergelak. "Korban drama! Kau terlalu banyak nonton drama."
"Apa ini saatnya bercanda?" sinis Baekhyun.
"Baiklah, maaf. Aku hanya ingin kau menungguku menyelesaikan urusan ini," raut Chanyeol kembali serius, mata coklatnya menatap Baekhyun intens. "Kumohon bersabarlah, jangan jauhi aku, jangan menhindar dariku seperti hari ini."
"Kau ingin aku bersabar melihatmu bertunangan dan mencium gadis lain? Kau melarangku mencium Jongin!" Baekhyun masih kesal.
"Aku tidak akan mencium gadis lain, lagi pula pertunangannya masih lama. Itu urusanku dengan Yixing!"
"Yixing itu Noonamu Park! Aku tak mau kalian bertengkar karena hal ini."
"Kami tak akan saling bunuh."
"Baiklah, jadi kau ingin aku menunggumu melakukan sesuatu entah apa pada Yixing?" nada Baekhyun mulai santai dan Chanyeol mengangguk tersenyum. "Dengan dua syarat!"
"Hem?"
"Pertama! Tidak ada kontak fisik berlebih, kau melarangku berkontak fisik dengan Jongin. Kalau kau menciumnya, aku akan mencium Jongin."
"Jangan coba-coba." Mata Chanyeol memincing.
"Kedua! Aku ingin mendengarnya lagi…"
"Apa?"
Baekhyun melingkarkan lengannya dileher Chanyeol, "Aku mencintaimu." Dan sebuah ciuman menyambut ucapan itu. Ciuman yang hangat dan dalam, saling memagut dengan lembut. "Aku mencintaimu," bisik Chanyeol disela-sela ciuman mereka.
Satu pagutan lagi dan Baekhyun mendorong Chanyeol menjauh. "Sekarang aku boleh keluar?"
"Tidak, kau harus temani aku makan. Aku lapar."
"Bagaimana bisa kau akan bertunangan dengan gadis lain, padahal makan saja harus kutemani?"
.TBC.
Terimakasih banyak untuk Fav dan Follow, juga review yang masuk dari :
Neli Amelia, Park Beichan, M2QS, Parkbaexh614, CBHS, Yeollo, Realvina, Chika Love Baby Baekhyun, Lupika, Yeolbeeeeee94, Chenma, Seluaddict, Ohbyunpark, , Park Youngie, Rly dan seorang Guest.
Di Chap depan ada QnA di Author Note, dua atau tiga pertanyaan akan aku jawab selama ga mengandung spoiler ya J. Jadi yang punya pertanyaan silahkan disampaikan, terima kasih.
