Warning → Standar Applied.

DisclaimerNaruto, selalu dan selamanya punya Masashi Kishimoto. Sleeping Beauty, hak paten selalu ada ditangan Disney corporation dan Sleeping Handsome, punya saya!

.

.

.

Sugar Princess71

SasuHina Days Love

Proudly Present

.

.

.

Sleeping Handsome

.

.

.

_Flasback On_

"Wahai cermin, katakanlah kepadaku, siapakah gerangan yang paling menawan di dunia ini?" Orochimaru menatap cermin berhiaskan patung ular berwarna abu-abu dengan senyum terbaik yang dia miliki. Sayangnya nasib Orochimaru lagi apes, si cermin bernama Manda sedang istirahat dan tidak mau diganggu gugat. Orochimaru terus membujuk Manda dengan mengelus-elus permukaan cermin, supaya Manda terbangun.

Akhirnya Manda terbangun juga setelah lima jam lamanya, si empunya membujuknya. "Hoahmm, ada apa tuan? Kau tahukan aku sedang tidur, jadi tolong jangan ganggu."

Manda gugup melihat majikannya memelototinya, cermin tersebut terbatuk-batuk untuk meredakan kegugupannya."Cepat katakan padaku, siapa yang paling menawan di dunia ini!"

"Tuan seperti yang anda tanyakan, yang paling menawan adalah Putri Aurora, wajahnya tampak berseri memancarkan aura bahagia…." Manda belum menyelesaikan kata-katanya, tetapi Orochimaru sudah keburu sewot.

"APA?! Kau tidak sedang bercanda kan, bukankah Aurora sudah aku kutuk, jadi tentu yang paling menawan adalah aku!" Beberapa perempatan muncul di muka cermin, Manda kesal dengan majikannya yang kasar plus kepedean. Paling menawan? Yuhhuuuu wajahnya aja angker bin gaje , menawan dari mananya coba? Banyak kali yang paling menawan dari mulai ras mongoloid sampai kaukasoid dan yang jelas orang bergender ganda ini, kaga termasuk! Pikir Manda dengan menggebu-gebu.

"Tuan jangan nyekek gini dong… ane ja… jadi susah ngo… mong." Orochimaru melepaskan genggaman super kuatnya dari Manda. "Ane gak bakal banyak bertele-tele gan yang jelas Aurora tuh udah dibangunin pangerannya, dengan kata lain sihir ente udah lenyap…."

Lagi dan lagi Orochimaru memotong pembicaraannya, "AHH, bagaimana ini, kalo sudah terputus artinya aku tidak punya kesempatan jadi menawan!" Orochimaru memegang kedua pipinya dengan gaya sepeti CB sambil mengerucutkan bibirnya. Sumpah mukanya kala itu kocak banget!

Manda mendengus, bosan dengan segala sifat majikannya. Rasanya ingin dia maki-maki kalau saja si majikan tidak punya kekuatan sihir. Sudah cukup dirinya disihir jadi cermin, gak mau yang lain-lain. Pikir Manda, yang dahulu adalah pawang ular kesayangan Orochimaru.

"Manda tadi kamu mau ngomong apa, ya?" Tapi meski begitu, majikannya ini masih cukup ramah dan rada bodoh. Asalkan jangan dibuat marah karena kalau udah marah, luar biasa seramnya.

"Jadi begini bosku, kau masih bisa terlihat menawan, jika beralih ke gender pria?" Orochimaru diam, menimang-nimang tawaran Manda. Dipandanginya keadaan istana kebanggaannya yang lebih mirip seperti "gua pembuangan sampah". Gelapnya gua hanya diterangi oleh api unggun di sudut ruangan. Beberapa perabotan dari rotan berantakan tak tertata, hanya Mandalah barang paling antik yang dimiliki Orochimaru.

"Hm, tidak buruk." Suara Orochimaru berubah menjadi lebih berat dari suara yang sebelumnya cempreng. Orochimaru kini berada dalam wujud lebih macho dari semula. "Lantas apakah sekarang aku menjadi paling menawan?"

"Sayangnya belum tuan, ada yang lebih menawan dari anda."

.

.

.

Suasana istana Konoha berbeda dari hari-hari biasanya, hari ini di tanggal 23 Juli, istana begitu semarak. Orang-orang berlalu lalang dari segala penjuru menuju istana, sepanjang perjalanan ke istana disemarakan dengan parade-parade. Tidak hanya itu saja, berbagai hidangan pun digelar secara cuma-cuma. Pesta terbuka untuk segala kalangan, tidak ada kesenjangan antara bangsawan dan rakyat jelata, semuanya saling berbaur dalam rangka merayakan ulang tahun putra mahkota.

Pesta meriah yang terjadi di istana Konoha tidak membuat penjagaan lengah, justru penjagaan semakin ketat. Hal ini dikarenakan mimpi yang mulia ratu, dalam mimpinya ratu bertemu dengan seorang pemuda yang begitu tampan, akan tetapi tutur kata pemuda tersebut tidak sopan. Di mimpi tersebut ratu tengah mengandung dan hendak melahirkan, hanya saja tidak ada yang membantu ratu, semua orang bagai lenyap ditelan bumi kecuali pemuda itu. Pemuda itu menatap ratu yang kesakitan dengan tatapan keji dan pemuda tersebut berkata: "Keluarkan, keluarkanlah bayi itu! Jika kau tidak mengeluarkannnya maka aku akan mengeluarkannya!" Pemuda tersebut tertawa begitu mengerikan, dia berjalan mendekati ratu dan ratu pun mundur —mengerti dirinya dalam masalah. Ratu terus-menerus berjalan mundur hingga tidak menyadari kalau langkah berikutnya adalah lubang dan ratu pun terjatuh ke lubang tak berdasar.

Keesokan harinya ratu menceritakan mimpi yang dialaminya kepada raja, raja kemudian menceritakan kepada nenek Chiyo —peramal agung. Chiyo mencoba mentakwilkan mimpi tersebut dengan buku-buku kuno yang dia miliki. Betapa terkejutnya nenek Chiyo ketika mengetahui maksud dari mimpi tersebut. Dia menceritakan hasil pentakwilannya kepada raja dan ratu yang sengaja meninggalkan prosesi sarapan hanya untuk menemui dirinya di pondok sederhana yang letaknya di samping istana.

"Dengarkanlah dengan bijak apa yang kukatakan wahai pemimpin Konoha, ratu bertemu dengan pemuda tampan dan mengerikan, ialah ratu tengah diburu oleh penyihir yang haus akan kerupawanan wajah…" Fugaku dan Mikoto menyimak perkataan Chiyo dengan khidmat.

"…Ratu dalam keadaan hamil namun tidak ada seorang pun yang bersamanya artinya tidak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan ratu. Hanya saja ratu mengatakan penyihir menyuruh ratu mengeluarkan bayi yang ratu kandung artinya…."

"Dia mengincar Sasuke!" Raja Fugaku memotong perkataan nenek Chiyo. Chiyo mengangguk, membenarkan perkataan raja, sepasang suami istri tersebut terkejut. Mikoto luar biasa takut, air matanya mengalir, dirinya nyaris pingsan jika tidak dikuatkan oleh suaminya. "Tenanglah, biarkan nenek Chiyo melanjutkan perkataannya, mudah-mudahan masih ada kebaikan dalam arti mimpimu."

"Kau sangat bijak raja, semoga Tuhan selalu melimpahkan rahmat kepadamu. Ratu terjatuh dalam jurang tidak berdasar artinya ratu akan mengalami kesedihan paling menyakitkan." Raja memeluk ratu begitu erat, mencoba menguatkan hati permaisurinya. "Arti mimpi ini memang tidak bagus namun kita dapat mengambil banyak hikmah dari mimpi ini yaitu kita harus lebih memperketat penjagaan istana dan senantiasa memohon perlindungan kepada Tuhan. Jangan lupa, ini hanya hasil pentakwilan, terkadang akurat namun tidak menutup kemungkinan tidak akurat."

"Engkau memang paling bijak nenek Chiyo! Permaisuri, jangan bersedih. Ayo kita berdoa, semoga di usia ke tujuh belas ini, putra kita semakin mendapat kebaikan dan perjodohan yang akan dilaksanakan berjalan dengan lancar."

.

.

.

"Hiashi, apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa…." Mikoto hendak menerjang Hiashi dengan pelukan hangat namun ditahan oleh suaminya.

"Ehem, jaga sedikit wibawamu Mikoto." Mikoto hanya memutar matanya kemudian tertawa menggoda suaminya.

"Apa kau cemburu?" Mikoto jadi kesal sendiri menghadapi duo kaku ini, tidak ada sedikitpun respon atas candaannya.

"Di mana putrimu, Hiashi? Aku tidak melihatnya masuk bersamamu." Kemeriahan dan kebisingan pesta tidak mengganggu ketiga kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa karena kesibukan masing-masing di Negara yang mereka pimpin.

"Pasti putrimu secantik mendiang permaisuri, aku jadi tidak sabar menjodohkan mereka berdua." Mikoto begitu bahagia membayangkan putranya dan putri sahabatnya bersanding dalam mahligai pernikahan.

"Mikoto, bisakah kau tidak memotong perkataanku?"

"Hahaha, kalian masih seperti dulu saja, selalu bertengkar karena masalah sepele. Iya, kau benar Mikoto, Hinata tumbuh menjadi putri yang begitu anggun sama seperti ibunya. Tentu saja Hinata ikut, jika tidak, acara perjodohan ini tidak akan mungkin terlaksana, bukankah begitu?" Senyum tipis mengembang dari wajah Raja Iwagakure tersebut.

"Hm, lantas di mana dia sekarang? Ah Sasuke, kemari, nak." Mikoto memanggil Sasuke yang tengah berjalan menuju ruang pesta dari arah taman belakang. Mendengar panggilan ibunya, dengan terpaksa Sasuke mendatangi mereka.

"Hiashi, kenalkan ini putraku, dia tampan, kan?" Sasuke tersenyum tipis dan memperkenalkan dirinya secara formal terhadap tamu kehormatan orang tuanya.

"Dia memang sangat tampan, Fugaku, kau sangat beruntung menikahi Mikoto sehingga anakmu rupawan."

Fugaku tidak terima dengan perkataan Hiashi, "Kurasa kau juga beruntung menikahi Hitomi sehingga anakmu sangat cantik, dia kan putrimu?" Fugaku mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang menghubungkan dengan Taman belakang, tampak gadis cantik berambut indigo tergelung. Gaun putih berbordiran bunga tanpa lengan membalut tubuh rampingnya dan jangan lupakan selendang berwarna marun, yang berusaha dia lebarkan untuk menutupi tubuhnya serta heels berwarna marun yang melindungi kaki indahnya.

Hinata menyadari kini dirinya menjadi pusat perhatian Raja dan Ratu Konoha, ia langsung menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Hinata, kemari nak, ayah ingin mengenalkanmu dengan…."

Mata Hinata melotot sempurna, begitu arah pandangnya jatuh pada Pangeran Sasuke, "Kau! Si mesum!" Hinata melupakan etika yang ia junjung tinggi, reflek dirinya menjerit tatkala melihat sosok pria yang membuatnya kesal ketika dirinya berada di Taman belakang.

Mikoto dan Fugaku bingung dengan perkataan Hinata, lebih tepatnya, bingung dengan siapa yang dimaksudkan mesum oleh Hinata. Hiashi mengisyaratkan kepada Hinata untuk menjaga tingkah lakunya dengan tatapan mematikan andalannya namun Hinata tidak terlalu memperhatikannya.

"Maaf putri, siapakah yang kau maksud demikian?" Mikoto menghampiri Hinata dan menanyakannya, sejujurnya Mikoto lebih tertarik dengan ekspresi Hinata yang menggemaskan akibat kesal. Wanita satu anak ini kembali bernostalgia dengan pikirannya di masa gadis yang mengidamkan anak perempuan.

"Emm maafkan a… atas ketidaksopananku, yang mulia Ratu, etto o… orang yang kumaksud a… adalah dia!" Hinata menunjuk Sasuke dengan keyakinan tinggi, Sasuke yang ditunjuk hanya memberikan tatapan acuh tak acuh.

Hiashi sibuk menyuruh Hinata untuk meminta maaf atas ketidaksopanannya, begitu juga Fugaku yang terus-menerus mendesak putranya untuk meminta maaf. Hanya Mikotolah yang tertarik untuk mengetahui kejadian sebenarnyaa, "Apa yang kau lakukan memangnya? Kau tidak melakukan hal-hal 'itu', kan?"

Sasuke benar-benar bingung dengan ibunya, Sasuke tahu maksud dari ibunya yang mengharapkannya melakukan hal demikian. Sasuke menghela napas, dia paling malas menjelaskan suatu permasalahan secara detail. Namun untuk kali ini, dirinya harus memberikan kejelasan, terutama untuk ibu tercintanya. "Aku tidak melakukan apa-apa, jika itu yang kalian tanyakan. Gadis ini saja yang berlebihan, aku kan tidak sengaja melihat dalamannya, akibat roknya yang tersingkap ketika tersandung batu. Lagi pula aneh sekali, tidak ada angin, tidak ada hujan bisa terjatuh semudah itu dan lebih konyolnya lagi dia mengenakan dalaman bermotif beruang berwarna pink, seperti anak kecil saja."

Pipi Hinata merona sempurna, kejadian di waktu lalu kembali teringat dalam pikirannya. Dirinya yang begitu menikmati suasana Taman, tiba-tiba tertarik dengan sekumpulan kupu-kupu yang mengerubungi hamparan bunga. Hinata ingin menangkap salah satu kupu-kupu namun ketika Hinata mendekati mereka, kupu-kupu itu malah pergi. Dirinya tidak patah semangat, dia mengejar kupu-kupu itu, hanya saja Hinata tidak berhati-hati dan terjatuh karena tersandung batu. Hinata shock akibat roknya tersingkap, menampakkan paha mulusnya beserta apa saja yang tersembunyi di balik gaunnya. Rasa shock yang Hinata tunjukkan lebih kepada seorang pemuda yang turun dari atas pohon dan mengejeknya —Sasuke.

Hinata langsung menghampiri Sasuke karena kesal, laki-laki itu kembali mengungkit-ungkit kejadian tempo lalu. Rona merah masih bersarang di wajahnya, Sasuke yang dikejarnya telah berlari menghindarinya, alhasil terjadilah adegan saling kejar-mengejar. Para tamu pun bingung dengan adegan kekanak-kanakan pangeran mereka. Apa lagi wanita yang mengejarnya terus-menerus meneriakinya "mesum".

"Hinata, bersikaplah sopan…." Mikoto menghalangi Hiashi yang hendak mengejar Hinata.

"Biarkan saja Hiashi, bukankah dengan begitu mereka bisa lebih cepat akrab?"

"Mikoto benar, lagi pula pada dasarnya mereka masih dalam masa remaja."

.

.

.

"Ah, lelah sekali…." Hinata mengerucutkan bibirnya, Sasuke gemas melihat Hinata dan mencubit hidungnya, "Auw, sakit… apa yang kau la… lakukan…." Hinata semakin sebal dengan tingkah laki-laki di sebelahnya yang asyik menertawakannya.

"Kau tahu, kau lucu sekali. Hn, sepertinya tidak buruk kalo kau menjadi istriku." Sasuke menatap Hinata dengan tatapan lembut membuat Hinata merona. Namun dengan cepat Hinata mengendalikannya.

"A… apa kau bilang?! Aku tidak sudi mempunyai suami sepertimu." Hinata memalingkan wajahnya tak acuh. Hinata bahkan tidak sadar ketika Sasuke meletakkan kepalanya di bahu Hinata. Dirinya baru sadar ketika bahunya terasa berat akibat ulah Sasuke yang menyenderkan kepalanya pada bahunya. "Hei, apa yang kau…." Hinata berbalik arah dan hal itu mengakibatkan ciuman singkat keduanya. Singkat, karena Hinata segera melepaskan diri.

"Baru aku bilang 'kalo menjadi istriku', kau sudah seagresif ini… bagaimana kalo kau menjadi istriku ya…." Sasuke menyeringai melihat Hinata yang lagi-lagi memerah.

"Mesum, aku tidak mau menjadi istrimu! Dasar perebut ciuman pertama, seharusnya tadi aku tidak mengikutimu beristirahat di Taman." Hinata menghentak-hentakan kakinya, kemudian berlari meninggalkan Sasuke.

"Mungkin untuk kali ini, aku setuju dengan pilihan ibu…."

.

.

.

"Terima kasih semuanya atas kehadiran kalian dalam rangka merayakan ulang tahun putra kami, Pangeran Sasuke, yang kini telah berusia tujuh belas tahun…." Riuh tepuk tangan terdengar di mana-mana, mengingat seluruh ruangan di Istana dipenuhi warga berbagai kalangan yang saling berbaur.

Fugaku memandang Mikoto sebelum meneruskan sambutannya, mendapati lampu hijau dari sang istri, dia pun melanjutkan perkataannya, "Ada beberapa hal yang akan kuberitahu kepada kalian, aku tahu usia pangeran belum mencapai delapan belas tahun, walau demikian aku percaya dia memiliki potensi untuk menjadi seorang raja. Maka dari itu, detik ini juga kuangkat ia menggantikanku…." Fugaku tidak kuasa mengembangkan senyumnya karena para warga tampak antusias dan mau mengakui Sasuke.

"Tidak hanya itu, detik ini juga Pangeran Sasuke akan bertunangan dengan Putri Hinata dari kerajaan Iwagakure." Sorak-sorai semakin meriah tatkala raja mengatakan hal ini namun tidak semuanya demikian. Hinata yang merupakan calon tunangan Sasuke begitu terkejut dan berusaha meminta penjelasan ayahnya.

"Ayah, i… ini bercanda kan? Emm, maksudku…." Hiashi merangkum wajah putrinya, senyumnya makin melebar.

"Apa ayah pernah bercanda untuk hal yang serius?" Hinata menggeleng namun dia tidak berani mengambil kesimpulan. "Itu benar, jika kau butuh penjelasan." Rasa-rasanya Hinata ingin menghilang detik ini juga atas segala hal yang serba mengejutkan.

"Jadi rakyatku, selama kita menunggu kehadiran pangeran, aku akan memperkenalkan calon pendampingnya." Mendengar itu, Hiashi langsung menggandeng putrinya menuju titik sentral pandangan semua orang. Hinata memilih pasrah dan mengikuti ayahnya meski dalam hati dia masih ingin protes.

Mikoto meninggalkan podium dan berjalan ke arah Naruto lalu membisikinya ketika semua mata mengarahkan pandangannya ke Hinata. "Naruto, cepat kau cari Sasuke…."

"Ah, betapa beruntungnya putri itu mendapatkan pangeran…," ujar salah seorang tamu undangan.

"Hemm, tapi putri itu memang cantik sih." Gadis yang lainnya pun melontarkan argumennya, begitupun seterusnya. Mereka setuju, walau berat untuk menyetujuinya, mengingat pangeran adalah idola semua gadis di Konoha. Bahkan beberapa di antaranya rela tidak menikah, kecuali dengan Pangeran Sasuke.

.

.

.

Kebahagiaan yang tercipta tampaknya tidak bertahan lama, dalam sekejap langit yang sebelumnya cerah menjadi gelap gulita. Petir pun saling beradu memancarkan kehebatannya. Rakyat Konoha yang berada di halaman berondong-bondong memasuki Istana, apa lagi hujan begitu lebat dan disertai angin kencang.

Suasana di dalam istana tidak kalah ricuh dengan di luar istana akibat perubahan cuaca yang tidak biasa. Mereka percaya jika cuaca berubah secara drastis dalam satu hari, pertanda akan ada kejadian yang mengerikan. Nenek Chiyo selaku peramal agung, mengambil posisi untuk meredakan kepanikan, "Tenang, tenanglah kalian, percayalah Tuhan akan menyelamatkan kita. Tenang dan berdoalah, yang demikian lebih baik daripada keributan."

"Kekeke, kau pikir akan selamat dengan hanya berdoa, pasrah sekali." Kumpalan asap dari perapian berubah menjadi sosok pria, pengawal istana langsung mengepungnya, menyadari hawa mengerikan dari pria tersebut. "Apa ini, kekeke, lucu sekali." Ditiupnya kelima pengawal yang mengepungnya, mereka pun roboh dengan mudahnya.

"Siapa kau?" Raja Fugaku menghampiri penyihir tersebut, tidak ada rasa takut sedikitpun, Iruka dan Izumo dengan sigap melindungi raja mereka. "Jangan khawatirkan aku, selamatkan saja yang lain." Fugaku terus menatap Orochimaru —tamu tak diundang— dengan pandangan yang mematikan.

"Hn, sok kuat, bisa apa kau?"Orochimaru meremehkan Fugaku, membuat celah di dirinya. Fugaku pun memanfaatkan celah tersebut dan menghunuskan pedang ke arahnya. Orochimaru terkejut, mendapati pipinya meneteskan darah. "Kau! Beraninya kau, merusak kerupawananku."

Orochimaru yang murka menebaskan kipasnya dan membuat ruangan bergoyang tak terkendali. "A… ayah!" Orochimaru tertarik dengan suara lembut yang berasal dari Hinata, di arahkan pandangannya ke gadis yang tengah berusaha menolong ayahnya dari himpitan meja.

Pria menyeramkan itu, bersikap tak acuh pada Raja Fugaku yang kesulitan berdiri akibat goncangan yang dahsyat. Dengan sekejap mata, kini Orochimaru telah berada di hadapan Hinata dan merangkum wajahnya. Hinata menggigil ketakutan, naas baginya, semua warga disibukan dengan kesulitan masing-masing —tidak ada yang menolongnya. Hinata hanya pasrah, semua jeritannya serasa tertahan, tubuhnya juga tidak punya daya untuk melakukan perlawanan. "Kau cantik sekali nona, kurasa kau akan semakin cantik jika menjadi istriku." Hinata memejamkan matanya, dirinya pasrah terhadap peristiwa yang terjadi selanjutnya.

TRASSHHH! Darah tercecer begitu saja. Rupa-rupanya itu adalah akibat dari Pangeran Sasuke yang menghunuskan pedangnya ke bahu Orochimaru. "Rupawan? Keh, jangan bercanda dan satu lagi, gadis ini sekarang dan selamanya hanya menjadi milikku!" Hinata membuka matanya perlahan karena sentuhan lembut di bibirnya akibat kecupan Sasuke dan fakta bahwa dirinya tidak menapak tanah —di dalam gendongan Sasuke. Perbuatan Sasuke yang mengejutkan, membawa harapan bagi warga, mereka berusaha bangkit meski goncangan seperti gempa tidak berhenti dan justru semakin kuat.

"Naruto, cepat kau selamatkan calon pengantinku, biar aku yang menghabisi pria menyeramkan ini." Naruto langsung menghampiri Sasuke dan menggendong Hinata kemudian membawanya ke tempat aman, setelah sebelumnya dia terlalu larut dengan kebingungan atas peristiwa yang terjadi.

Orochimaru berusaha menghindar dari serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Sasuke. Penyihir dari Otogakure ini memang lemah dalam adu fisik, dia selalu mengandalkan sihir untuk melindungi dirinya. Sayangnya, kali ini dia harus kelimungan dengan pertarungan jarak dekat karena lawannya —Sasuke— tidak terkecoh dengan sihirnya. Orochimaru pun tersudutkan oleh Pangeran Sasuke. Mengingat tujuan awalnya, dia menyeringai. "Kau tahu pangeran, akulah yang paling rupawan dan gadis itu akan jadi milikku!"

Mendengar perkataan Orochimaru, Sasuke semakin murka, ditebaskan pedangnya ke bahu lawannya lagi, mengakibatkan semakin lebar luka lawannya. Bukan Orochimaru namanya, jika tidak punya tipu muslihat, dia langsung menaburkan serbuk andalannya saat Sasuke berada di dekatnya.

Kejadian memilukan terekam di ingatan semua orang yang berada di dalam Istana. Pangeran Sasuke jatuh bersama pedangnya, mengerang kesakitan kemudian tidak sadarkan diri dengan seluruh tubuh membiru. Orochimaru tertawa puas berlainan dengan jerit histeris semua orang. Hinata langsung menghampiri Sasuke, dipeluknya tubuh yang sudah tak bernyawa. "Pangeran, bangun pangeran, ki… kita akan ber… bersama kan Sasuke? Jangan bercanda, bangun Sa… Sasuke…, ini tidak lucu…." Mikoto langsung memeluk Hinata dan menangis bersama.

"Sudahlah sayang jangan menangis, aku lebih pantas untuk mendapatkanmu…." Naruto dengan sigap langsung menghalangi Orochimaru, pedangnya di arahkan ke Orochimaru dan menyebabkan luka di pergelangan tangan Orochimaru.

"Cepat hadang dia, dia tidak ada apa-apanya! Ayo kita balas kematian Pangeran Sasuke." Naruto mengintruksi semua pengawal di tengah ketidakberkutikan semua orang, dia berusaha membunuh Orochimaru.

Orochimaru terdesak, lukanya parah, dia tidak punya cukup tenaga untuk menggunakan sihirnya. Pria licik itu akhirnya kabur dengan sihir menghilangnya dan sebelumnya mengejek kematian Sasuke. "Kekeke dasar pangeran bodoh, sudahlah putri berbahagia saja denganku, lupakan pecundang yang akan membusuk di dalam tanah."

"TIDAK! Sasuke tidak mati, dia masih hidup!" Riasan di wajah Hinata tehapus oleh air matanya, semua menatap iba ke arahnya, hari yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan berubah menyedihkan.

"Jangan bersedih Putri, Pangeranmu akan baik-baik saja…." Semua mata mencari arah asal suara yang membangkitkan harapan mereka. Keterkejutan melanda ketika semua orang mengarahkan pandangannya ke arah manusia bersayap dengan ukuran kecil.

"Kau, mana mungkin… peri bunga?"

"Banar peramal agung, aku adalah peri bunga, namaku Sakura." Hanya Hinata yang tidak memedulikan keberadaan Sakura dengan terus fokus terhadap kekasihnya.

"Namun bagaimana bisa kau berada di sini, setahuku…." Nenek Chiyo terasa enggan mengatakan apa-apa, mengingat kegentingan yang terjadi, dirinya mengarahkan pandangan terluka ke Pangeran Sasuke.

"Aku ke sini atas panggilan Putri Hinata, kepiluan hatinya yang membuatku bangkit setelah lama tertidur di halaman belakang. Sudahlah, kalian jangan bersedih masih ada harapan pangeran akan terbangun karena aku telah menetralisir sihir tersebut…."

"Kenapa kau terlalu bertele-tele, tidak bisakah Pangeran Sasuke langsung kau selamatkan?" Naruto merasa hal ini terlalu konyol, menetralisir? Kenapa tidak menyembuhkan saja sekalian!

"Maafkan aku, aku tidak punya kekuatan untuk mengubah takdir dan hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku mengubah kematian pangeran menjadi tidur yang panjang. Namun pangeran memiliki batas waktu tertidur selama tiga ratus enam puluh lima lebih seperempat hari. Artinya, pangeran harus diselamatkan setidak-tidaknya sebelum masa itu berakhir. Jika masa itu sudah berakhir dan pangeran masih tertidur maka pangeran tidak akan terselamatkan…."

"Apa?" Hinata shock, dia begitu terkejut ketika sebelumnya tidak sadarkan diri, sama halnya dengan Mikoto.

"Lalu bagaimana caranya?" Kini Izumo yang unjuk bicara karena keyakinannya atas harapan yang diberikan.

"Dengan cara menemukan mahkota bunga titisan nirvana, yang hanya ada ketika bulan purnama. Tempat bunga itu berada adalah di air terjun hutan larangan." Sakura sedikit ragu untuk mengatakannya, namun inilah kenyataan yang harus dia beritahu.

"APA?! Bukankah itu berarti kita harus menunggu selama satu tahun dengan harapan yang tidak jelas?"

_Flashback Off_

"Hiashi, hentikan perjalananmu!"

Hiashi menoleh ke belakang, didapatinya Danzou tengah menatapnya garang. "Kau, tidak, aku tidak akan menghentikan perjalanan ini. Hinata ayo lekas kita pergi." Hinata begitu terkejut dengan situasi saat ini, dia hanya mengikuti ayahnya yang menariknya untuk berlari menjauh dari orang yang ayannya panggil "Danzou".

"Raja Hiashi, apa kau akan terus seperti pengecut!" Hiashi menghentikan larinya, dia menjatuhkan dirinya ke padang rumput dengan posisi duduk

"Hentikan, jangan panggil aku dengan sebutan itu…." Hiashi memegangi kepalanya, Hinata panik dengan keadaan ayahnya yang tidak seperti biasanya. Saat pria itu mendekati mereka, Hinata sigap menghalangi.

"Jangan ganggu ayahku!"

"Aku tidak bermaksud begitu, tuan Putri, maaf kalo aku menakutimu." Danzou memberikan penghormatan terhadap Hinata, "Raja, aku minta maaf karena telah bersikap lancang terhadapmu, hanya saja Iwagakure membutuhkanmu bahkan Konoha membutuhkanmu. Raja Fugaku kehilangan harapan, waktu Pangeran Sasuke untuk bertahan hidup tinggal sedikit."

Hinata merasakan hal aneh melanda dirinya tatkala Danzou menyebutkan perihal Pangeran Sasuke. "Sasuke, Pangeran Sasuke, ahhh…." Hinata memegangi kepalanya, rasa sakit menderanya. Hiashi pun dengan sigap merangkul Hinata.

"Apakah ingatan Putri Hinata telah kembali?" Hiashi merasakan ketegangan kembali melandanya mendengar pertanyaan Danzou.

"Aku tidak akan kabur lagi dengan sisa tenagaku akan kulindungi putriku dari cengkraman orang itu!"

TBC

Rasa terima kasih yang begitu besar aku berikan untuk: Shizukayuki Rosecchi, finestabc, MomoAoi, Anne Garbo, Lily Purple Lily, Ciaxx, Kau-Tahu-Siapa yang telah memberiku semangat untuk melanjutkan cerita ini, sebelumnya maaf atas keterlambatan fanfic ini. Semoga kalian terhibur, oh iya MomoAoi-san, Marriage Conflict chapter 6nya sudah ku update.

Tidak bosan aku mengatakan, REVIEW kalian adalah SEMANGATKU! ^^