Suatu hal yang tidak sesuai keinginan mungkin akan membuat sebagian orang merasa kesal. Melakukan hal yang mungkin dapat membuat orang lain terluka? Bisa saja terjadi. Karena akibat dari sebuah kekecewaan tidak akan bisa mengenali sebuah kata perasaan lagi.
Penjelasan yang mungkin terlambat akan susah untuk diterima jika seseorang tidak mau membuka hatinya sendiri. Obsesi, ketergantungan, kecanduan menjadi penyebab terjadinya sebuah kekesalan bisa berakibat fatal berkali-kali lipat.
Chapter 3
Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto I Want You, SENSEI! © Chy GLASSend.NRating: Te-desu dulu yakGenre: Romance lahPairing: Uchiha Sasuke & Uzumaki Naruto.
Warning: AU, Typo, Mistypo, OOC, Boys Love, Shounen-ai , bahasa mungkin berbelit-belit, nggak sesuai EYD, author pemula, etc. If like, you must read it, if don't like, please read!
Author's note: "Tetep SemangART!"
Don't Like Don't Read
Mendapakan nilai tinggi disetiap mata pelajaran? Tentu bukan hal yang sulit untuk seorang Uchiha kan? Jadi kenapa harus repot-repot belajar hingga larut malam jika kalian punya otak yang sangat teramat encer?
Perhatian? Simpati? Apakah itu alasannya? Untuk Uchiha bungsu kita sepertinya jawabannya adalah 'Ya'. Lalu siapa? Tentu saja Sasuke ingin menarik perhatian dan Simpati dari orang yang dicintainya. Masih tanya siapa? Yang pasti pemuda berambut blonde dan memiliki mata sebiru Saphirre a.k.a Naruto Uzumaki yang sekarang menjadi Senseinya.
Sasuke berharap dengan Naruto melihat penampilan dirinya yang terlihat seperti orang kurang tidur, maka ia akan beranggapan bahwa Sasuke belajar hingga larut malam demi memenuhi keinginannya. Dengan begitu Naruto akan sedikit 'melembek' padanya karena ia pikir Sasuke sudah berusaha keras.
Kelewat pintar? Atau memang licik? Itulah sifat seorang Uchiha Sasuke yng memanfaatkan kebaikan hati atau lebih tepatnya kepolosan Naruto Uzumaki.
.
====================== o0o ======================
.
Seminggu sudah para siswa-siswi di SMA tersebut mengikuti ujian yang diselenggarakan serentak oleh pihak sekolah masing-masing. Kini mereka dapat bernapas lega dan tinggal menunggu hasil yang telah mereka perjuangkan dengan sungguh-sungguh –mungkin–
"Hey Shikamaru, kenapa nilaimu selalu bagus sih" tanya Kiba
"Itu karena aku jenius" jawab Shikamaru sekenanya
"Apa semua nilai kali ini sudah keluar?" sahut Neji
"Sepertinya tinggal nilai Naruto Sensei yang belum keluar" jawab Gaara
Pagi hari berjalan seperti biasa di ruang kelas tersebut. Beberapa murid mengeluh dengan hasil mereka, tidak sedikit pula yang acuh dan hanya memilih tidur di bangku masing-masing.
TAP.. TAP.. TAP..
Suara langkah kaki terdengar dari luar ruang kelas. Terlihat pemuda dengan surai pirangnya masuk perlahan dengan membawa beberapa lembar kertas ditangannya.
"Nah anak-anak, hari ini aku akan membagikan hasil test kalian kemarin. Yang namanya dipanggil silahkan maju kedepan" Naruto mulai membagikannya satu per satu. "Yang pertama Inuzuka Kiba"
Kiba berdiri dari posisi duduknya dan segera maju kedepan. "Nilaimu memang nggak terlalu buruk, tapi tolong lebih giat belajar ya"
"Aku mengerti Sensei"
"Shikamaru Nara" dengan –sangat amat– malas Shikamaru maju kedepan. "Ha~ah, aku tau kau jenius, tapi bisakah kau tidak tidur selama jam pelajaran" tanpa ada tanggapan Shikamaru langsung mundur menuju bangkunya yang nyaman.
"Sai" tidak ada tanda-tanda seseorang maju kedepan. "Eh? Dimana Sai?"
"Hari ini dia izin nggak masuk Sensei, katanya sedang sakit" jawab salah satu pemuda dengan rambut panjang coklat yang dikuncir dibawah –Neji–
"Begitu, baiklah selanjutnya.. Uchiha Sasuke" perlahan kaki itu mendekat ke arah Naruto. Mata sehitam oniks itu menatapnya lekat. "Eng.. Pe-Pertahankan nilaimu" gugup Naruto melihat tatapan sang Uchiha. Sasuke masih mempertahankan posisinya. "Kau boleh kembali ke bangkumu"
"Hn" seringai tipis keluar dari mulutnya, tapi indra penglihatan Naruto masih bisa menangkap hal itu.
"Ha~ah, anak aneh" bisik Naruto. Atau mungkin aku yang aneh ya. "Kemudian..." dan Naruto pun melanjutkan kegiatannya pagi itu.
.
.
.
– Apartemen Naruto –
Bukan hal tabu lagi bagi Naruto jika Sasuke berkunjung. Kini mereka tengah duduk di ruang tamu sambil membahas pelajaran yang Sasuke terima saat di sekolah. Sasuke memang meminta Naruto mengajarinya seusai sekolah. Tapi tentu saja alasan itu digunakan hanya agar dia bisa memiliki waktu lebih lama bersama Naruto. Jangan lupa kalau seorang Uchiha itu jenius sekaligus licik.
"Sensei"
"Ada apa?"
"Apa yang Sensei pikirkan tentangku?" mata Sasuke kini menatap Naruto penuh tanya. Memastikan apakah sang korban benar-benar menjawab pertanyaannya.
"Apa yang aku pikirkan tentang mu?"
"Hmm" angguk Sasuke membenarkan
"Hmm apa ya?" Naruto mencoba berpikir. "Awalnya aku pikir kau orang yang sangat amat menyebalkan". Dahi Sasuke mulai berkedut. "Tapi sekarang, kupikir kau orang yang baik juga lembut" lanjut Naruto menunjukkan senyum tulusnya.
BLUSS
Semburat merah terlihat jelas diwajah Sasuke yang notabennya seputih porselin
"Apa Naruto Sensei menyukaiku?"
"Tentu aku 'menyukaimu'..."
DEG.. DEG.. DEG..
"Benar-benar menyukaiku?"
"Tentu, kau adalah salah satu murid yang aku sukai"
JLEB
Bagai ditusuk 1000 tusuk sate *coret* pedang hati Sasuke saat ini
"Mu.. rid?"
"Tentu saja, kau adalah seorang murid yang baik"
"Haha Begitu rupanya..." tawa Sasuke garing
"Hmm, apa ada yang salah?"
"Tidak... Tidak ada, sepertinya akulah yang salah"
"Salah? Dalam hal apa?"
"Tidak, lupakan saja" kini Sasuke tertunduk lesu. Jadi bagi Sensei aku ini hanyalah murid? Jika itu yang Sensei pikirkan, akan aku ubah persepsi itu secepatnya. Akan aku buat Sensei mengerti bagaimana perasaanku dan akan kujadikan Sensei menjadi milikku. Pasti. Batin sang Uchiha bungsu
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
"Tidak sama sekali, aku hanya berpikir bahwa... aku benar-benar menyukai Sensei" ucap Sasuke sambil tersenyum
"Eh?!"
DEG.. DEG.. DEG..
Akh! Apa ini... lagi-lagi jantungku berdetak nggak karuan hanya karena melihat senyumannya. Oh dewa Janshin, apa yang salah denganku.
"Se-Sebaiknya kau segera pulang, karena hari sudah semakin semakin sore". Naruto sudah mengambil posisi berdiri, tetapi sesuatu menahannya
"Sebentar lagi, biarkan aku bersama Sensei sebentar lagi" kini tangan Sasuke telah mendekap tubuh Naruto yang lebh besar darinya dari belakang. Memang terlihat aneh, karena Sasuke sedikit lebih pendek dari Naruto *Ingat, Sasuke masih SMA*
"Eh?! Ap-Apa yang kau lakukan, lepaskan aku Sasuke"
"Na..ruto"
DUAAARRRR
Kira-kira begitulah suara jantung Naruto sekarang, karena saking kencangnya.
"Jangan kurang ajar! To-Tolong lepaskan aku sekarang juga" sebelum jantungku meledak.
Sasuke melepas pelukannya dari Naruto."Aku mengerti. Maaf telah berlaku tidak sopan padamu. Aku pergi dulu" dirapikannya buku dan alat tulis yang masih berserakan diatas meja dan diambilnya tas yang tergeletak di atas sofa. Diamasukkan satu per satu semua alat sekolahnya dengan rapi, hingga Sasuke benar-benar siap untuk pulang sekarang. Langkah Sasuke dengan sedikit enggan menuju ke pintu masuk, meninggalkan Narutonya sendiri di apartemen.
"Berhati-hatilah dijalan"
"Hai'... Arigatou atas waktunya. Permisi Naruto Sensei"
"Oh Hmm.."
Naruto kini mengamati langkah Sasuke yang semakin menjauh dari apartemennya. "Ha-ah... anak itu benar-benar membuatku merasa kacau" ditutupnya kembali pintu apartemennya.
Sasuke menghentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang, ke tempat dimana ia keluar tadi –apartemen Naruto–
Langkah kembali terdengar, tapi tidak mengarah untuk pulang melainkan kembali ke kamar dimana Naruto tinggal. Kini ia tepat didepan apartemen Naruto, berdiri dengan wajah yang terkesan menahan sedih.
Naruto... Naruto... Naruto... Naruto... Naruto... Naruto... Naruto..." berulang kali nama itu disebut. Sasuke merasa frustasi sekarang, keinginannya –obsesi– terhadap Naruto semakin menjadi-jadi. Ia masih berdiri disana, tanpa ada niat masuk sama sekali.
.
.
.
– Konoha High School –
Mentari semakin terik, hawa panas mulai merasuk dan beradu dengan tubuh. Hari telah siang sekarang waktunya jam istirahat bagi para siswa-siswi serta Sensei yang ada di sekolah tersebut. Memaksa semua penghuni disana untuk keluar kelas ataupun ruangan, sekedar mencari makan untuk perut yang kelaparan ataupun hanya mengobrol menghabiskan waktu bersama teman.
"Hey Naruto, kau nggak mau makan siang?" tanya Iruka yang tengah merapikan berkas-berkas miliknya.
"Apa kau ingin makan diluar? Nggak biasanya kau merapikan berkasmu"
"Ah itu.. Aku.."
"Konichiwa, maaf mengganggu. Oh Konichiwa Naruto Sensei" terdengar suara baritone dari arah pintu yang otomatis membuat kedua pemuda itu menoleh kearahnya.
"Konichiwa Kakashi-san"
"Aku kesini untuk mengajak Iruka Sensei makan siang, apa kau mau ikut?"
Naruto yang mengerti maksud Kakashi pun hanya tersenyum. "Sepertinya aku nggak bisa ikut Kakashi-san, jadi kalian saja yang pergi makan siang"
"Kau yakin Naruto?" tanya Iruka memastikan
"Iya, aku baru ingat kalau masih ada tugas yang harus kukerjakan"
"Apa kau ingin aku membawakan sesuatu"
"Bawakan aku ramen ichiraku saja nanti"
"Baiklah, kami pergi dulu"
"Sampai jumpa Naruto sensei" pamit Kakashi
"Hehe semoga sukses Kakashi-san"
"Hai', Arigatou" Kakashi menyusul Iruka yang lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut.
Naruto tau kalau akhir-akhir ini Kakashi dan Iruka semakin dekat. Sejak pertemuan mereka di apartemen Naruto sekitar seminggu yang lalu saat Kakashi mencari Sasuke. Setelah itu mereka sering jalan berdua. "Apa sebaiknya aku juga harus mencari pasangan ya?"
.
.
.
Naruto berjalan menuju ke ruang guru. Diistirahatkan badannya pada sebuah kursi *yang sudah pasti di meja kerjanya*
"Ha~ah, sepertinya aku membutuhkan istirahat sebentar, akhir-akhir ini otakku bekerja terlalu keras"
KREEEKK
Suara alunan pintu terdengar ditelinganya. Terlihat sosok yang ia kenal tengah membuka pintu dan masuk ke ruang tersebut.
"Ah, Kau sudah kembali Iruka"
"Aku bawakan cemilan untukmu"
"Arigatou"
"Ada apa dengan wajahmu?"
"Ah tidak pa-pa, aku hanya merasa sedikit merasa lelah"
Sebenarnya hal yang menggangguku adalah si bocah Uchiha itu. Hal ini terjadi kemarin saat Sasuke tiba-tiba menemuiku di ruanganku.
.
– Yesterday Story –
Seorang pemuda dengan wajah stoic dan rambut hitam mencuat ke atas melawan gravitasi tengah berlari menyusuri koridor sekolah. Pemuda itu berhenti di depan ruangan yang bertulis Ruang BK.
BRAAAAAK
"Naruto Sensei"
"Oh.. Sasuke, ada apa?"
"Ini..." Sasuke menyerahkan beberapa lembar kertas yang ada di tangannya"
"Apa ini?" tanya Naruto dan kemudian mengambil kertas yang dibawa Sasuke. Dilihatnya kertas itu. Dan hal pertama yang dirasakan Naruto adalah...
S.H.O.C.K
Cukup dengan lima huruf itu yang mengeskpresikan raut wajah Naruto sekarang. Kenapa? Alasannya ialah karena kertas yang dibawa Sasuke tadi ialah semua nilai hasil tes semester ini. Na'asnya lagi ialah semua nilai Sasuke ialah tidak kurang dari 100, yang berarti ia mendapat nilai 100 di semua mata pelajaran, dan itulah yang membuat Naruto shock *atau bisa dibilang 'terkesima'*
"Sensei tidak lupa dengan janji Sensei kan?"
"Hah.. Janji?"
"Jika aku mendapat nilai diatas 90 di semua mata pelajaran, Sensei akan pergi kencan denganku sabtu besok. Sensei tidak lupa kan!" jawab Sasuke meyakinkan
"Oh soal itu, Eng.. anu... sebenarnya sabtu besok aku.."
"SENSEI SUDAH BERJANJI PADAKU DAN AKU JUGA SUDAH MEMENUHI SYARATMU JADI KENAPA? APA KAU MAU INGKAR JANJI!" tegas Sasuke dengan sedikit amarah.
Mata Naruto terbelalak, tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Baru kali ini Naruto melihat ekspresi Sasuke yang tidak biasa baginya.
"Ha-ah, begini Sasuke... bukannya aku mau ingkar janji, tapi aku ingin kau mengerti..."
"MENGERTI TENTANG APA? UNTUK HAL APA?"
"Tolong pelankan suaramu. Yang aku maksudkan ialah jika sampai ada orang yang melihat kita pergi bersama, hal itu akan menyebabkan masalah bagi kita sendiri jadi.."
"Apa hal itu yang Sensei khawatirkan? Apa ini masih berhubungan soal aku seorang murid dan kau adalah Sensei?"
"Begitulah"
"Kalau begitu... aku akan keluar dari sekolah ini, jadi Sensei tidak perlu khawa..."
"BAKA! BUKAN ITU YANG AKU MAKSUDKAN"
"LALU APA? AKU HANYA INGIN SENSEI MENEMANIKU BESOK! APA ITU TERLALU BERAT BAGIMU UNTUK MEMENUHINYA"
"SASUKE DENGARKAN AKU!"
"APA YANG HARUS AKU DENGAR! AKU HANYA MEMBUTUHKAN NARUTO SENSEI SABTU BESOK! HANYA ITU!"
"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK BISA SASUKE!"
"SENSEI EGOIS.."
Tanpa menunggu reaksi dari Naruto, Sasuke berlari meninggalkan ruang tersebut.
"Tunggu dulu Sasuke!" Naruto hanya bisa memijit keningnya yang mulai merasa pusing. "Anak itu benar-benar... membuatku terlihat begitu buruk. Ha~ah". Hanya napas panjang yang dapat keluar dari mulutnya.
– Yesterday Story End –
.
Dan hal itulah yang membuat pikiranku kacau saat ini. Karena sampai sekarang dia selalu menghindar dariku.
"Hmm.. apa ada sesuatu yang menarik?" tanya Naruto dengan senyum menggoda
"Ap-Apa maksudmu"
"Mmm.. Misalnya kabar hubunganmu dengan Kakashi-san haha"
"Jangan menggodaku Naruto"
"Aku sama sekali tidak menggodamu Iruka. Aku benar-benar penasaran sampai dimana hubunganmu dengan Kakashi-san"
"Apa yang kau maksud sampai dimana?"
"Kau menyukainya kan? Apa kalian sudah resmi pacaran?"
BLUSSS
Seketika wajah Iruka menjadi merah padam. "Te-Tentu saja belum, aku kan baru bertemu dengannya"
Hmm dia mengatakan 'belum' bukannya 'tidak'. Sepertinya aku akan segera mendapat traktiran hahahha. "Benarkah? Lalu, apa Kakashi-san tidak ikut kemari?"
"Dia bilang ingin pergi ke toko hadiah, jadi dia langsung pergi setelah mengantarku"
"Toko hadiah? Memangnya siapa yang ulang tahun"
"Sasuke, dia bilang sabtu besok adalah ulang tahun Sasuke"
DEG
"U-Ulang tahun Sasuke? Sabtu besok?"
"Itulah yang Kakashi katakan"
BLAMM
Tanpa berkata apapun Naruto berlari keluar ruangan sambil membanting pintu, meninggalkan Iruka yang menatapnya bingung.
"Ada apa dengannya?"
.
.
Naruto berlari sekuat tenaga, matanya menelisik ke segala arah. Berharap menemukan sosok yang sedang ia cari.
Padahal dia hanya meminta waktuku untuk satu hari saja.
Kenapa...
Kenapa...
Kenapa aku begitu egois. Tanpa meminta penjelasannya, tanpa mengetahui alasannya. Aku dengan bodoh menolak permintaannya. Bahkan aku... mengingkari janji yang aku buat sendiri. Bukankah itu artinya aku ini adalah...
... manusia paling buruk yang pernah ada ...
"Dimana aku bisa menemukannya"
Ding... Ding... Ding...
"Bel tanda pelajaran berikutnya sudah berbunyi, itu berarti..."
Terlihat kegiatan mengajar tengah berlangsung di suatu kelas. Seorang Sensei tengah menerangkan dan para muridnya mendengarkan ocehan sang Sensei. Sangat tenang sampai...
BRAAAKK
"Na-Naruto Sensei? Ada perlu apa?"
Ya, orang yang membuat kegaduhan di kelas tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah si pemuda pirang kita a.k.a Naruto Uzumaki
"Sumimasen Asuma Sensei karena telah mengganggu kelasmu, tapi aku ingin meminjam Sasuke sebentar"
"Uchiha? Memangnya ada apa?"
"Ada hal penting yang ingin aku katakan padanya"
"Oh baiklah, nah Uchiha ikutlah dengan Naruto Sensei"
"Kenapa aku harus ikut dengannya"
"Eh?" heran Asuma
"SASUKE!" bentak Naruto
"Aku bilang aku tidak ingin pergi dengan Anda, jadi silahkan dilanjutkan Asuma Sensei"
"KAU!"
Tanpa BA BI BU lagi Naruto menarik tangan Sasuke dengan paksa.
"Ikut denganku sekarang juga"
"Tung..Tunggu Naruto Sensei"
"Permisi Asuma Sensei"
"Ha-Hai'.."
Kedua pemuda itu kini telah meninggalkan kelas, tenpa peduli puluhan mata yang memandang mereka, serta sepasang mata hitam kelam.
"Ada apa dengan mereka berdua ya?"
"Asuma Sensei"
"Ada apa Sai?"
"Saya ingin pergi ke kamar mandi sebentar"
"Oh pergilah"
"Permisi" Sai membungkuk
.
.
.
Dua pemuda berbeda umur tengar menyusuri koridor atau lebih tepatnya salah satu pemuda yang berambut pirang menarik tangan pemuda berambut hitam –dengan paksa–
"Kau ingin membawaku kemana Sensei"
"Berhenti bertanya dan ikuti aku"
"Kenapa aku harus?"
"Berhenti bertanya dan membuatku terlihat buruk"
Sampailah mereka diatas atap sekolah.
"Kenapa kau membawaku kemari?"
"Apa kau marah padaku? Atau membenciku?"
"Huh? Apa yang Sensei tanyakan"
"Jawab saja"
"Ak-Aku... BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA MARAH PADA SENSEI"
"Begitukah?"
"Kenapa Sensei harus bertanya lagi"
"Syukurlah, jadi aku tidak perlu khawatir"
"Khawatir? Tentang apa?"
"Aku akan pergi denganmu sabtu besok"
"Nani?"
"Kubilang aku akan pergi denganmu sabtu besok"
DEG
"Kenapa? Bukankah Naruto Sensei menolak sebelumnya"
"Bagaimana ya? Anggap saja aku sedang berbaik hati padamu saat ini"
GRAP
"Sa..suke? APA YANG KAU LAKUKAN BAKA! LEPASKAN AKU"
Kini Naruto telah ada di pelukan sang Uchiha –lagi–
"Arigatou... Naruto Sensei" Senyum cerah jelas terukir di bibir Sasuke
"Kau bisa mengucapkannya tanpa memelukku"
"...suki" ucap Sasuke lirih
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Hmm tidak.."
"Mungkin hanya perasaanku... Hey kubilang lepaskan aku"
Dan acara peluk-pelukan kedua pemuda kita masih berlanjut sampai beberapa detik kedepan, sampai akhirnya Naruto menendang Sasuke menjauh darinya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengamati mereka dengan intens.
.
.
.
Seorang pemuda berambut silver dengan masker menutupi sebagian wajahnya yang terkesan amat mesum *coret yang terakhir* sedang berjalan santai melewati beberapa ruang yang ada di gedung tersebut. jika tadi author menulis kata 'santai' maka abaikan kata tersebut. terlihat wajah yang sediit ragu? Pada pemuda itu a.k.a Hatake Kakashi. Kini ia sedang menuju ke sebuah ruangan. Sesampainya di depan pintu sang pecinta buku icha-icha paradise kita satu ini bersiap mengetuk pintu yang ada di hadapannya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuklah" terdengar suara dari dalam pintu yang memberi izin Kakashi masuk ke dlam ruangan.
"Permisi"
"Ada perlu apa Kakashi-san?"
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda"
"Duduklah.."
"Arigatou"
"Hal penting apa yang ingin kau sampaikan?"
"Ini mengenai... Sasuke"
.
===================== o0o =====================
.
Waktu yang tenang untuk merenung, waktu yang tenang untuk beristirahat, menjernihkan otak agar bisa berpikir dengan benar. Sunyi, senyap, suasana yang benar-benar mendukung.
1 detik
2 detik
3 detik
"AKH.. APA YANG HARUS KULAKUKAN. AKU SAMA SEKALI TIDAK SIAP UNTUK BESOK!" Teriak Naruto hingga memecahkan gendang telinga Author (-_-)"
"Siap untuk apa?"
"HYAAA.. Anko Sensei.."
"Kenapa kau berteriak Naruto"
"Kau mengagetkanku"
"Jadi, kau tidak siap untuk apa Naruto?"
"Benarkah?"
"Emm itu.. anu.. Biasanya ap-apa yang kau lakukan ketika pergi dengan seseorang?"
"Pergi dengan seseorang? Maksudmu kencan?"
"APA? Te-Tentu saja bu-bukan itu maksudku.."
"Bagaimana ya?"
"Hm?"
"Biasanya kami akan pergi nonton, makan dan melakukan hal yang menyenangkan bersama atau mungkin pergi ke suatu tempat yang indah bersama"
"Begitukah?"
"Hmm" angguk Anko. "Jadi siapa gadis yang ingin kau ajak kencan Naruto?"
"Eh?! Sudah kubilang ini bukan kencan" bantak Naruto. Lagipula aku tidak pergi dengan seorang gadis, batin Naruto.
"Terserah kau saja. Aku harus pergi karena ada kelas setelah ini. Semoga sukses dengan kencanmu" senyum Anko sebelum meninggalkan ruang guru.
"Sudah kubilang ini bukan kencan!"
Naruto menyandarkan punggungnya pada kursi mencoba merilekskan badannya."Ha~ah, lama-lama aku bisa gila" katanya frustasi. Kini otaknya bersiap untuk merestart, mencoba memberi ruang baru untuknya berpikir.
"Hey Naruto"
"Iruka?"
"Apa kau nanti ingin pulang bersama, setelah ini aku tidak ada kelas"
"Baikla..." sebelum menyelesaikan katanya, Naruto teringat suatu hal. "Eng.. sebaiknya kau pulang duluan saja Iruka. Aku ingin mampir ke toko untuk membeli sesuatu nanti"
"Oh, baiklah kalau begitu"
.
*** Sabtu Pagi ***
Waktu menunjukkan pukul 09.30 pagi, bisa kita lihat seorang Uchiha Sasuke tengah berdiri disamping pohon yang tidak terlalu besar untuk menyembunyikan wajah tampannya. Terlihat hampir setiap orang yang melintasi tempat itu menoleh kearahnya, baik pria-wanita, ataupun muda-tua, semua orang seakan terpesona dengan tampangnya. Tentu saja, karena dia seorang 'Uchiha'. Tekankan hal itu!
Nampak sang Uchiha tengah menunggu seseorang. "Sepertinya aku datang 30 menit lebih awal". Tapi aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menantikan hari ini. Akhirnya aku bisa pergi berdua dengan Sensei. Hanya berdua. Seulas senyum terukir di bibir Sasuke, ia tidak menyadari perbuatannya itu membuat para gadis yang sedang ada di sekitarnya pingsan seketika.
.
Disisi Lain
Disebuah kasur yang terlihat begitu empuk, hangat dan nyaman, terlihat segumpalan selimut yang asyik bergoyang atau lebih tepatnya menggeliat. "Eng..." mata shappire-nya membuka perlahan, iris biru itu kini mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke pupil matanya.
"Eng.. sudah pagi rupanya"
Ia bangun dari tempat tidur dan merapikannya kembali. Kakinya menuju pada meja, matanya menangkap sesuatu yang tidak asing baginya. Sebuah kotak kecil yang telah dihias dengan cantik.
"Kotak ini...". Tunggu dulu, hari apa ini?
Matanya mencari sesuatu yang Author yakini adalah lembaran kertas yang penuh dengan angka –Kalender–
"AKU TERLAMBAT..."
Teriaknya untuk kesekian kali hingga membuat anjing tetanggga marah. Si Blonde kita kita tengah menuju kamar mandi untu membersihkan tubuhnya dari kotoran.
"Sial, padahal ini kencan pertamaku". Tunggu dulu. "Apa aku menyebut ini kencan? Dasar Baka! Ini bukan kencan! Ini bukan kencan!" ucapnya sinting, sampai membuat 'gedek' para tetangga.
Setelah selesai berpakaian lengkap Naruto segera pergi. "Ah.. Aku hampir lupa barangnya" diambilnya sesuatu yang ada di atas meja tadi. "Baiklah ayo berangkat". Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dengan Sasuke hari ini. Jantungku berdegup begitu cepat. Aku pasti benar-benar sudah gila sekarang.
.
Kini jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, dan pangeran kita masih dengan setia menunggu Dobe tercinta yang belum datang. "Sudah jam 10.00, apa Sensei akan terlambat?"
"Bagaimana jika dia tidak datang"
Sebuah suara menginterupsi indera pendengaran Sasuke.
"Sai?"
"Ah.. kupikir kau tidak mengenalku"
"Apa yang kau inginkan, kenapa kau disini?"
"Apa maksudmu? Aku hanya kebetulan lewat sini"
"Kudengar kau akan pergi dengan Naruto Sensei"
"Dari mana kau mendengar hal itu"
"Kau tidak perlu tau dari mana aku mendengarnya. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu"
"..." Sasuke tidak memberi respon.
"Jangan terlalu berharap. Apa kau tau, Naruto Sensei menemanimu selama ini hanya karena rasa kasihan. Dia merasa kasihan melihatmu yang tumbuh tanpa kasih sayang. Karena itu pula ia menerima ajakanmu untuk pergi dengannya".
"Apa maksudmu?"
"Sekarang hidumu sudah jauh lebih baik, kau bukanlah seorang berandal lagi. Dengan kata lain tidak ada alasan untuk Naruto Sensei tetap ada di sampingmu. Karena itu dia tidak akan datang hari ini"
"Kenapa kau begitu yakin"
"Karena aku satu-satunya orang yang mengerti Naruto Sensei"
"Omong Kosong. Kalau begitu kita buktikan saja nanti, siap yang paling mengerti Naruto Sensei".
"Kau tunggu saja sampai kakimu mengering. Karena Sensei tidak akan pernah datang. Sampai Jumpa lagi Uchiha" perlahan Sai menghilang dari pandangan Sasuke.
"Che!" Yang dikatakannya itu tidak benar kan? "Naruto.."
.
Naruto menerobos kerumunan orang yang ada dijalan. "Sial, kenapa hari ini begitu ramai"
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki Naruto semakin dipercepat, ia tidak ingin Sasuke menunggu terlalu lama.
"Naruto Sensei!"
"Sai?" Naruto menghentikan langkahnya
"Ternyata benar Sensei, aku sedikit ragu tadi. Kenapa sensei ada disini?"
"Oh Aku ada sedikit keperluan. Kau sendiri?"
"Aku hanya sedang jalan-jalan Sensei"
"Begitu. Apa kau sudah baikan? Kudengar kemarin kau sakit"
"Aku sudak tidak apa-apa, Sensei tidak perlu khawatir"
"Syukurlah. Maaf Sai, aku sedang terburu-buru jadi aku harus pergi sekarang"
"Ah.. baiklah sampai jum..."
BRAAAKK
Sai tumbang di depan Naruto.
"Sai... Sai... Kau kenapa? Jawab aku!"
"Entahlah, badanku sepertinya tidak terlalu sehat"
"Apa kau sakit? Bagian mana yang sakit? Aku akan membawamu ke Rumah Sakit"
"Tidak perlu, Sensei tidak perlu melakukan hal itu. Aku baik-baik saja jadi lebih baik aku pulang saja"
"Dimana rumahmu? Biar aku antar"
"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri"
"Bagaimana kau bisa pulang sendiri dengan keadaan seperti ini. Katakan dimana rumahmu biar aku antar"
"Tapi aku tinggal jauh dari sini Sensei"
"Tidak masalah, aku akan mengantarmu"
"Hmm... Arigatou"
.
Dimana kau Naruto. Tut... Tut... Tut... "Kenapa tidak mengangkat telponku". Sekarang sudah jam 12.00, Tolong, jangan membuatku mempercayai kata-kata Sai. "Apa terjadi sesuatu? Atau aku harus mencarinya? Apa yang harus aku lakukan"
.
Suara kereta terdengar mengalun merdu di setiap penumpangnya. Termasuk kedua pemuda ini. "Aku benar-benar minta maaf karena telah merepotkanmu Sensei"
"Kau sama sekali tidak merepotkan, ini sudah tugasku sebagai Senseimu"
"Hai' sekali lagi terima kasih"
Mereka pun sampai dirumah Sai. "Jadi disini rumahmu?" Ternyata dia bersungguh-sungguh saat mengatakan 'jauh'.
"Begitulah, silahkan masuk"
"Ah.. permisi"
"Maaf, jika tempatnya kecil uhuk..."
"Itu tidak masalah sama sekali. Apa orang tuamu masih bekerja?"
"Aku tinggal sendiri disini"
"Apa? Lalu kemana orang tuamu?"
"Hmm.. mereka sudah bercerai"
"Ak-Aku minta maaf"
"Tidak pa-pa, wajar jika Sensei bertanya"
"Kenapa kau tidak pernah menceritakan hal ini padaku?"
"Aku hanya tidak ingin mengingat hal itu, uhuk..."
"Lalu siapa yang membiayaimu?"
"Sensei tidak perlu khawatir, walaupun kedua orang tuaku sudah bercerai tapi mereka masih menafkahiku"
"Begitu, kenapa kau tidak ikut salah satu dari mereka. Bukankah hidup senri itu sulit"
"Aku hanya tidak ingin membebani mereka dengan kehadiranku. Oh ya.. Sensei sudah bisa pergi sekarang, aku sudah tidak apa-apa, uhuk..."
"Apa kau yakin?"
"Sudah kubilang jangan khawatir"
"Baiklah, aku akan pergi. Jaga dirimu"
"Hai' Arigatou Sensei"
Sebelum sempat membuka pintu. Sai kembali terbatuk-batuk. "uhuk... uhuk... uhuk... uhuk..."
"Hey batukmu semakin parah, apa kau yakin tidak pa-pa?"
"Uhuk... Sensei lebih baik pergi seka.. uhuk... rang"
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendiri dengan kondisi seperti ini. Kalau begitu aku yang akan merawatmu"
"Eh?! Tidak perlu uhuk... bukankah Sensei bilang ada urusan penting"
"Tenang saja, aku yakin dia akan mengerti". Benar juga, karena buru-buru aku lupa mengabarinya. Naruto mengambil ponselnya untuk mengabari Sasuke
"Eh, dimana ponselku?" Naruto kembali berpikir. Gawat, sepertinya ponselku tertinggal di apartemen saat aku pergi tadi.
"Ada apa Naruto Sensei?"
"Sai, apa kau punya ponsel?"
"Ada"
"Aku pinjam sebentar ya"
"Silahkan"
"Aku hanya tinggal mengabarinya saja dan..."
Lo...
Load...
Loading...
"AKU TIDAK HAFAL NOMORNYA... BAGAIMANA INI!"
"Nomor siapa Sensei?"
"Oh, apa kau punya nomor Sasuke?"
"Sasuke? Aku tidak punya"
"Begitu ya" Bagaimana ini.
"Apa orang yang ingin Sensei temui tadi adalah Uchiha?"
"Eh?! Ah ti-tidak, kau salah paham, o-orang itu kenal dengan Sasuke jadi mungkin saja Sasuke tau nomornya hehehe" Aku terpaksa berbohong. Lagipula sekarang sudah jam 16.00 sore, jadi dia pasti juga sudah pulang.
.
.
.
Hari sudah semakin gelap. Jam menunjukkan pukul 18.00 sudah semakin sedikit orang yang berlalu lalang. Hanya masih terlihat seorang pemuda yang berdiri di samping pohon dengan wajah muram.
"Pembohong... Sensei pembohong"
"Naruto Sensei.."
"Naruto"
.
To Be Continue
.
Yoo Minna... Akhirnya Chapter 3 update juga. Nggak jenuh-jenuhnya Author meminta maaf atas keterlambatan yang amat sangat. Dikarenakan keterbatasan waktu serta keterbatasan otak tentunya hehe. Tapi setidaknya ane bisa nyelesaiin ini fic sebelum berangkat KKL (selama 5 hari) hari Senin besok. Walaupun sebenernya target ane nyelesaiin 2 fic, tapi apa daya cuma 1 fic yang bisa selesai.
Yosh! Ane ingetin terus jangan bosen-bosen buat mampir dimari yak
And ane tunggu selalu kritik, saran sama reviews-nya ^^
Jaa Minaa (^0^)/
