Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya
Pairing: Always NaruSasu
Rated: M for Mature and Sexual Content
.
Scandalicious
.
By: CrowCakes
.
(WARNING: Full of Lemon—NaruSasu dan sedikit NaruGaa di awal)
.
_Love Hotel, Pukul 16.00 Sore_
.
Sasuke terlihat menyibukkan diri dengan perlengkapan kameranya, sedangkan Gaara sudah siap di atas ranjang dengan tubuh polos yang dibalut selimut tipis. Tsunade yang berada tidak jauh dari sana hanya tersenyum tipis ke arah artis baru itu.
"Jangan gugup, oke? Naruto akan membantumu untuk rileks." Jelas wanita glamour yang merangkap sebagai direktur.
Gaara hanya menjawabnya dengan anggukan pelan dan gugup. Mata jade nya beralih ke arah pasangan videonya yang sedang berbicara dengan Sasuke. Sepertinya, pemuda pirang itu terlihat beradu argumentasi dengan sahabatnya. Samar-samar ia bisa mendengar kalau pemuda berkulit tan tadi menolak untuk melanjutkan syuting, namun Sasuke hanya menatapnya dingin dan mulai mengeluarkan umpatan kesalnya.
Gaara kembali mendesah pelan. Ia mencengkram selimut dengan kuat. Apakah keputusannya ini salah? Haruskah ia berhenti dan membiarkan Sasuke bekerja untuk makan sehari-harinya?
.
"Oke semua standby! Camera rolling!" Teriakan Tsunade membuat semua kru langsung bergerak ke peralatannya masing-masing dan bersiaga, termasuk Sasuke.
Naruto yang menjadi pasangan Gaara hanya bisa mendesah pasrah. Ia bergerak naik ke atas ranjang dan duduk di sisi pemuda rambut merah itu. Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat bermain di atas ranjang yang terkesan mewah itu, namun sekarang, keceriaan itu lenyap tergantikan oleh helaan napas berat.
"Kalau kau tidak suka berpasangan denganku, aku bisa meminta direktur untuk menggantikanmu." Bisik Gaara pelan.
Naruto menggeleng, "Tidak perlu. Sasuke sendiri yang memintaku untuk menjadi pasanganmu. Aku tidak bisa menolaknya." Jelasnya lagi.
Pemuda rambut merah itu terdiam, "Apakah akan sakit?"
"Huh?" Sang Uzumaki menoleh heran.
Gaara bergerak tidak nyaman di kasur, "Ma—maksudku, saat kita melakukan 'itu'. Jujur saja, aku belum pernah sekalipun melakukannya dengan cowok."
Naruto terdiam sejenak sebelum terkekeh pelan, "Tenang saja, aku akan bersikap lembut." Ucapnya lagi.
"Naruto!—" Tsunade memanggil, "—Kau harus bisa mengarahkan setiap gerakan Gaara, oke?"
Pemuda pirang itu mengacungkan jempolnya, tanda mengerti, "Tenang saja, Nenek. Aku kan profesional, jadi tidak akan 'menusuk' Gaara secara tiba-tiba kok."
Tsunade mendelik ganas saat Naruto memanggilnya 'nenek', tetapi ia memilih mendiamkannya dan menyuruh Sasuke untuk mulai pengambilan gambar.
Sang Uchiha mengangguk, tangannya bergerak memutar lensa dan mulai merekam.
.
Syuting dimulai. Naruto bergerak perlahan ke arah Gaara, "Kalau kau tidak suka, cukup tutup mata dan biarkan aku melakukannya." Bisiknya pelan.
Pemuda rambut merah itu menurut, manik jade nya langsung menutup saat sang Uzumaki bergerak untuk membenturkan bibir mereka. Kecupan lembut itu memanja celah mulutnya, secara hati-hati meminta ijin untuk masuk. Namun Gaara tetap bersiteguh menutup bibirnya. Sepertinya pemuda rambut merah itu terlalu gugup untuk menggerakkan bibirnya. Kaku.
"Gaara, buka matamu dan lihat aku." Suara bariton berat dikeluarkan oleh Naruto, menggoda sensitifitas indera pendengaran pasangannya.
Kelopak mata itu terbuka, menampilkan pantulan warna jade yang cerah. Maniknya membelalak lebar saat melihat sikap sang Uzumaki yang berubah total. Beberapa detik lalu, Gaara ingat, kalau Naruto terkesan malas-malasan dan tidak serius, namun sekarang mata blue ocean itu memerangkapnya dalam tatapan tajam yang mendominasi.
Tangan pemuda pirang itu mulai melepaskan kaos putihnya sendiri dengan perlahan, memperlihatkan kulit tan eksotis yang menggoda dengan beberapa otot six pack yang membingkai perutnya. Rambut pirangnya diacak untuk menampilkan kesan agresif dan menuntut.
Gaara terdiam. Ia terhipnotis saat tangan besar itu menjamah dadanya dan mendorongnya untuk berbaring diatas kasur. Dorongan pelan dan lembut, membuat aktor baru itu hanya bisa pasrah.
Naruto kembali mengecup bibir pemuda dihadapannya, dan sekali lagi mencoba masuk ke rongga mulut itu. Tetapi kali ini, celah bibir itu membuka perlahan, mengijinkan benda lunak dan basah itu menyapu seluruh benda yang berada di mulutnya.
.
Lensa kamera menangkap momen percumbuan itu dengan sempurna. Di baliknya, wajah Sasuke mengeras dengan tatapan dingin. Mata onyx nya dapat melihat Gaara yang mulai kewalahan menandingi ciuman ganas sang Uzumaki. Pemuda rambut merah itu bahkan membiarkan tangan sang dominan bergeriliya masuk ke dalam celananya.
Jari Sasuke mencengkram keras kamera miliknya. Matanya berkilat tajam. Ada perasaan tidak suka saat Naruto menjamah sahabatnya itu. Jantungnya berdenyut sakit. Rasanya, ia ingin menutup mata agar tidak melihat percumbuan panas itu.
.
Naruto melepaskan lidahnya dari dalam mulut Gaara. Menyisakkan benang saliva yang saling menyambung dari bibir mereka.
"Bisakah aku memulainya?" Tanya pemuda pirang itu, berbisik pelan di telinga Gaara.
"Ya—hhh—please, be gentle with me, okay?—hhh—"
"I will—" Naruto mengecup punggung tangan pemuda itu dengan lembut. Bibirnya bergerak perlahan ke lengan, pundak dan leher artis baru tadi. Memberikan sensasi geli yang menyenangkan.
Desahan kecil meluncur dari bibir Gaara, membuat pemuda itu kaget dengan suaranya sendiri. Kedua tangannya segera menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan bunyi yang aneh tadi. Namun Naruto langsung menghentikan tindakan pasangannya itu.
"Aku ingin mendengar suaramu. Jangan di tutup." Ucap sang Uzumaki lagi.
Gaara menurut, ia menyentuh surai pirang itu dan mengelusnya pelan, "Kalau begitu—hhh—buat aku nikmat—nghh—" Mohonnya dengan napas terengah-engah.
.
Sasuke menggeram. Kamera bergoyang kecil karena cengkramannya yang terlalu kuat dan erat. Matanya berkilat tajam saat adegan itu mulai bertambah panas. Dari fokus lensanya, sosok Gaara terpantul dengan erotis. Desahannya, wajahnya yang memerah, tubuhnya yang dibasahi peluh. Terlihat sensual.
Sedangkan Naruto, Pemuda pirang itu dengan sangat lihai memanja bagian tersensitif Gaara. Sentuhannya, belaiannya, dan kecupannya, semua hal itu membuat siapa saja yang menjadi pasangannya akan bertekuk lutut dalam sekejap, tenggelam dalam pesona seorang Uzumaki. Termasuk Gaara.
Pemuda rambut merah tadi mulai nyaman dimanja oleh Naruto. Ia mendesah keras, meluapkan rasa nikmat saat miliknya disentuh oleh sang dominan. Tubuhnya bergetar dengan napas terengah-engah. Ia bahkan lupa kalau saat ini dirinya sedang syuting video dan ditonton oleh banyak kru.
Sang Uchiha memutar lensa dan terus merekam. Benda itu menangkap setiap gerakan Naruto yang mencium lembut bibir Gaara, sesekali ia menggoda bibir itu dengan lidahnya.
Gaara mendesah pelan, ia melingkarkan kedua lengannya di leher sang Uzumaki seraya terus menerima hisapan dan lumatan bibir yang menggoda itu. Suara erotis dikeluarkannya untuk menambah suasana panas diantara persetubuhan mereka.
Naruto mencoba menyeimbangi gerakan yang dilakukan pasangannya. Menghisap leher serta dada pemuda berambut merah itu dengan kuat, meninggalkan beberapa kissmark disana.
Gaara benar-benar terangsang, ia menengadahkan kepalanya dan membiarkan sang dominan menjamah dua tonjolan nipple-nya. Sesekali ia mendesis penuh gairah saat selangkangannya di goda oleh pemuda pirang itu. Menyentuh miliknya yang menegang dan menggeseknya lembut.
Tidak ada pemberontakan maupun desahan yang keluar dari mulut Naruto, ia hanya mencoba bersikap profesional tanpa ada perasaan. Menikmati hidangan dihadapannya dengan sedikit akting yang terlihat natural. Sedangkan pemuda merah itu sudah terhanyut dalam jamahan sang dominan.
"Please—hhh—please, kiss me—ahhn—" Mohon Gaara.
Naruto menurut, ia mencondongkan tubuhnya dan meraup bibir itu dengan lembut. "Kau—mhhpp—menakjubkan—Mphhh—" Pujinya, meningkatkan libido pemuda berambut merah itu.
Gaara menggeliat nikmat saat pemuda pirang itu menyentuh lubang bawahnya. Mencoba memasukkan dua jari untuk memperlebar jalan kejantanannya untuk masuk nantinya.
Tangan putih itu mencengkram seprei, menggigit bibirnya untuk berhenti mengeluarkan suara rintihan. "Ahhk!—sakit—ughhh—"
"Sssh—tenanglah, bersabar sedikit lagi." Pinta Naruto seraya menggerakkan dua jarinya di lubang itu. Menyentuh dinding rektum dan prostatnya, memberikan sengatan listrik statis yang membuat tubuh Gaara tersentak kecil.
.
Kamera bergerak untuk meng-close up wajah Gaara yang memerah. Air liurnya menetes di sela-sela dagu, menambah ke-erotisan pemilik wajah sempurna itu.
Lensa beralih ke arah Naruto. Menangkap setiap momen gerakan yang dilakukan sang Uzumaki. Peluh yang membanjiri keningnya, geraman halus dan berat, rambut pirang berantakan serta mata biru yang tajam. Sangat menggoda.
Detik selanjutnya, manik emerald sky milik Naruto melirik ke arah lensa kamera, berusaha menembus solidnya benda itu agar bisa mengetahui raut wajah sesungguhnya dari Sasuke. Namun Sasuke tetap diam dan terus merekam adegan itu dengan wajah stoic, bahkan tidak mempedulikan delikan Naruto ke arahnya.
Tangan Gaara menggapai wajah Naruto dan memaksa pemuda itu untuk menatapnya, "Sentuh—Ahhn—aku—hhh—" Ia sudah tenggelam dalam pesona pemuda pirang itu. Tubuhnya menginginkan sentuhan dari sang dominan.
Gigi Sasuke bergemeletuk kecil, ia menggeram kesal saat Naruto menyanggupi permohonan Gaara. Hatinya terus berdenyut sakit. Mungkinkah—
—Ia cemburu?
.
"Maaf, aku butuh istirahat." Ucapan itu terlontar tiba-tiba dari mulut Sasuke, ia menghentikan pengambilan gambarnya dan meletakkan kamera di atas meja. Membuat pergulatan panas yang dilakukan Naruto dan Gaara terhenti seketika. Bahkan Tsunade yang sedang berkonsentrasi di tempat duduknya pun ikut bangkit dengan wajah bingung.
"Kenapa? Apa kau sakit?" Tanya sang direktur.
"Tidak. Aku hanya butuh udara segar." Jawab sang Uchiha tanpa memandang ke arah wanita itu. Ia melangkah tergesa-gesa menuju pintu kamar, sesekali mendorong tubuh beberapa kru lain untuk menyingkir dari jalannya.
Naruto panik. Ia bangkit dari ranjang, kemudian bergegas memakai celana panjangnya, "Sasuke! Tunggu!" Serunya seraya meninggalkan Gaara yang heran dengan situasinya sekarang ini.
Tsunade menatap Gaara, "Kita istirahat 5 menit, nyamankan dirimu, oke?" Ucap wanita itu yang disambut anggukan canggung pemuda tadi.
.
.
BRAKK!—Sasuke mendorong keras pintu toilet umum yang berada di sisi lorong koridor hotel. Kemudian melangkah menuju wastafel terdekat untuk membuka kran air. Ia menampung air tadi dengan telapak tangan dan mengusapkannya ke wajah.
"Ada apa denganmu itu?" Suara Naruto terdengar dari arah belakang, namun Sasuke tidak mempedulikannya dan tetap mencuci mukanya dengan air yang mengalir tadi.
"—Kau membuat semua orang khawatir." Lanjut Naruto seraya bersender di sisi tembok. Melipat kedua tangannya dengan kesal.
Sasuke mencengkram sisi wastafel, "Tinggalkan aku sendiri." Desisnya pelan.
Sang Uzumaki berdecak, "Meninggalkanmu sendiri? Jangan konyol, sikapmu itu aneh, Sasuke." Tegas pemuda pirang itu seraya menarik lengan Sasuke, "—Cepat kita kembali. Gaara sudah menung—"
"AKU BILANG, TINGGALKAN AKU SENDIRI!" Sasuke meraung seraya menepis pegangan Naruto di lengannya dengan kasar. Mata onyxnya berkilat marah.
Naruto terdiam terkejut. Ia tidak pernah melihat orang sekalem Sasuke tiba-tiba berteriak seperti itu. Apakah ia berbuat salah? Ataukah pemuda itu sedang ada masalah lain?
"A—Ada apa denganmu, Sasuke? Kau bertingkah tidak seperti biasanya." Ujar Naruto melempar keheranannya.
Sasuke tidak menjawab, ia hanya memijat keningnya yang berdenyut sakit, "A—Aku tidak apa-apa, maaf sudah meneriakimu." Ucapnya pelan. Ia kembali membasuh wajah dengan cepat, mencoba mengembalikan kewarasannya lagi.
"Apa kau menyukai Gaara? Kau cemburu?" Pertanyaan sakral itu meluncur dari mulut Naruto, membuat sang Uchiha langsung membeku di tempat.
"Tidak. Aku hanya—"
"Pandanganmu—" Naruto menyela dengan cepat, "—Pandanganmu selalu terarah pada Gaara."
"Itu karena dia sahabatku. Aku mengkhawa—"
"Itu tatapan cinta, Sasuke." Lagi-lagi pemuda pirang itu memotong tanpa memberikan Sasuke kesempatan bicara, "—Dan sejujurnya, aku cemburu."
"Dengar—" Sasuke berbalik malas untuk menatap sang Uzumaki. Ia ingin mengatakan kalau ucapan pemuda itu hanyalah omong kosong belaka, namun suaranya tercekat ditenggorokan saat melihat kilatan tajam di biru sapphire itu.
Pemuda pirang itu terlihat murka.
Naruto bersender di sisi tembok dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya memandang lurus ke arah sang Uchiha, "—Aku cemburu." Ia mengulangi perkataannya dengan desisan tajam.
Sasuke mundur perlahan. Sisi wastafel membentur pinggangnya, "Na—Naruto—"
Pemuda yang dipanggil tidak merubah ekspresi keras dari wajahnya, ia bergerak perlahan menuju sang onyx kemudian menyentuh pipi itu dengan sentuhan lembut namun dingin, "Apa kau—menyukainya?" Pertanyaan lagi. Kali ini Sasuke harus meneguk air liurnya pelan.
"Tidak... Sudah kukatakan kalau dia adalah sahab—"
"Kita pacaran, ingat?" Naruto memotong cepat. Penegasan pada kata 'pacaran' membuat Sasuke yakin kalau kalimat itu penuh ancaman. "—Jadi, tolong, katakan kalau kau tidak mencintainya."
Sasuke mencengkram sisi wastafel semakin erat, ia menunduk dalam diam, "A—Aku—tidak mencintainya." Ucapan lirih itu terdengar penuh dengan kebohongan, namun Naruto berusaha mempercayai setiap kata sang kekasih.
Sang Uzumaki melunturkan wajah dinginnya dengan senyuman tipis. Ia mencondongkan wajahnya untuk memberi kecupan singkat di bibir Sasuke, "Aku mencintaimu."
"Hn..." Jawabnya pelan. Kepala Sasuke masih tertunduk, otaknya terus memikirkan perkataan Naruto. Apakah benar ia sudah jatuh cinta pada Gaara? Benarkah yang dilakukannya semua ini karena cemburu?
Banyak pertanyaan yang melompat-lompat di pikirannya, namun tidak ada satu pun jawaban yang membuatnya puas. Sedikit menghela napas, sang Uchiha kembali memijat keningnya dengan pelan. Berharap denyut sakitnya mulai mereda. Dihadapannya, Naruto sudah tersenyum senang mendengar jawaban pemuda raven itu sebelumnya.
"Teme, katakan kalau kau mencintaiku." Naruto semakin mendekatkan tubuhnya untuk menghimpit badan ramping sang Uchiha. Sesekali mengendus perpotongan leher itu untuk menghirup aroma yang membuatnya mabuk kepayang.
Sasuke terlihat risih, ia mencoba mendorong dada Naruto untuk tidak menekan tubuhnya, "Naruto, bisakah kau menyingkir? Kita sedang di toilet umum." Bisiknya pelan, sembari melirik takut-takut pada pintu toilet, berharap tidak ada orang yang memergoki aktifitas mereka.
Sang Uzumaki menolak, lengannya tidak mau melepaskan Sasuke dan terus merengkuhnya dalam nafsu. Kecupan singkat terus dijatuhkan di sekilat leher dan pipi, membuat Sasuke semakin bergerak tidak nyaman.
"Aku—tegang—" Bisik pemuda pirang itu lagi. Bibirnya mengecup lembut daun telinga sang Uchiha, sesekali menjilat benda lunak itu dengan sapuan lembut.
Sasuke mencoba mempertahankan akal sehatnya, ia terus mendorong Naruto untuk menjauh, "Hentikan, Dobe—kita harus kembali bekerja—hhhh—"
"Tapi Sasuke—aku sudah tidak tahan—" Balas Naruto dengan suara serak. Bagian bawahnya menggesek perlahan ke arah selangkangan Sasuke, mencoba memancing gairah sang onyx.
"Cukup, Idiot!—Henti—hhmmph—" Protesan Sasuke terhalang oleh ciuman ganas sang Uzumaki. Pemuda pirang itu menangkap pipi sang Uchiha dan meraupnya penuh rasa kelaparan. Menjilat celah bibir mungil tadi, kemudian mencoba merayap masuk untuk menjilat organ mulut yang lain.
Sasuke masih bersikeras untuk menutup rapat bibirnya, tangannya terus mendorong dada bidang sang sapphire. Namun tubuh atletis itu tidak bergerak satu inchi pun, Naruto masih tetap menghimpitnya di antara wastafel.
"Buka—hhh—mulutmu—" Pinta sang Uzumaki lembut.
Sang Uchiha menggeleng keras sebagai penolakannya. Sedikit kesal, Naruto mulai melancarkan aksinya untuk menyusupkan tangan ke dalam celana Sasuke dan meremas benda yang masih lemas disana, membuat pemuda raven itu tersentak kaget dan membuka mulutnya untuk mengeluarkan rintihan sakit. Kesempatan itu digunakan Naruto untuk memasukkan lidahnya ke rongga mulut sang Uchiha. Menyapa lidah dan deretan gigi rapi yang berada di balik sana.
"Naru—hmmpph—lepas—nghhmph!" Sasuke mendesah kecil saat benda lunak itu menjilat langit-langit dan gusinya. Lidah bertarung, sang Uchiha bertahan namun Naruto terus melakukan penyerangan untuk menjilatnya, dan gigi saling bertabrakan menambah panasnya suasana percumbuan itu.
Akhirnya, bibir itu saling berpisah saat paru-paru berteriak meminta oksigen, menyisakan beberapa benang saliva yang saling terhubung di masing-masing lidah.
Sasuke terengah-engah, tubuhnya bersandar penuh di sisi wastafel, sedangkan dihadapannya Naruto memompa udara untuk memenuhi organ paru-parunya.
"Cukup—hhh—hentikan—" Permintaan itu keluar dari mulut sang Uchiha. Ia menatap pemuda pirang dihadapannya dengan delikan tajam.
Bukannya takut, Naruto malah mencengkram lengan Sasuke dan membawa tubuh langsing itu ke salah satu kabin toilet. Memaksanya untuk tidak berontak sama sekali.
"A—apa yang kau lakukan, Dobe?" Tanya sang Uchiha panik. Ia mencoba menggapai pintu kabin untuk keluar, namun Naruto sudah menguncinya dengan cepat, kemudian menghalangi pintu dengan tubuhnya sendiri. Sedangkan Sasuke dipaksa duduk di atas closet.
"Kita akan bersenang-senang sebentar." Jawab pemuda pirang itu seraya mencondongkan tubuhnya untuk mengecup wajah sang onyx lagi.
Sasuke meronta keras, namun tenaganya langsung menguap saat jari-jari tan itu kembali bergeriliya masuk ke dalam celananya, mengelus lembut ujung kejantanannya.
"Nghhh—mmphh—" Sasuke mendesah di sela-sela ciuman mereka. Merasakan bibir dominan itu terus menekan mulutnya dengan kasar. Jilatan, hisapan dan lumatan menjadi aktifitas panas itu. Tidak memberikan satu detik pun untuk Sasuke melontarkan kalimat penolakannya.
Dengan perlahan, Naruto melepaskan pagutan mereka, kemudian bibirnya bergerak untuk menjamah leher mulus sang Uchiha. Menggigitnya kecil dan meningalkan tanda merah di wilayah itu.
"Nghh—" Sasuke menggeliat pelan saat mulut nakal Naruto mulai bergerak menuju bagian dadanya. Kaosnya terbuka, memperlihatkan dua puting yang menonjol keras. Naruto tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan tergesa-gesa bibirnya kembali meraup nipples yang kelihatan lezat dihadapannya.
"Ahhnn—hhh—" Desahan meluncur keras, Sasuke hanya bisa pasrah saat tubuhnya terus dijamah oleh kelihaian seorang pornstar seperti Naruto. Ia tidak banyak berontak, sengatan kenikmatan itu melemahkan seluruh sendi ototnya. Membuat aliran darah berpacu cepat menuju bagian selatan tubuhnya.
Naruto menyeringai kecil disela-sela kegiatannya menggigit nipple sang Uchiha. Tangan tan nya mulai merayap untuk melepaskan celana panjang yang dipakai Sasuke, menurunkannya dengan hati-hati. Memperlihatkan benda yang sudah mengeras didalam sana.
"Kau—hhh—tegang—" Bisik sang Uzumaki dengan suara bariton yang menggoda. Seringai tipis itu tidak juga hilang dari wajahnya, membuat sosoknya terlihat licik dengan pikiran bejat yang menghuni otaknya.
Sasuke tidak menjawab, onyx nya hanya bisa menatap tangan Naruto yang menggenggam organ vitalnya dan mulai mengocoknya secara lembut. Napasnya tersengal-sengal berat, dadanya naik-turun memompa udara, sedangkan tangannya berusaha keras menjauhkan jari-jari tan itu dari bagian selangkangannya.
"Please—hhh—hentikan—" Sasuke memohon. Tubuhnya sudah terduduk tidak berdaya diatas closet dengan paha yang terbuka lebar. Wajahnya memerah sempurna dengan benang saliva yang terus menetes di sela dagunya.
Erotis. Menganggumkan. Banyak kata pujian yang hampir terlempar dari mulut Naruto, namun pita suaranya tidak bekerja dengan baik, dan hanya bisa meneguk air liur berkali-kali melihat kesempurnaan seorang Uchiha.
Naruto mendekat. Bibirnya terbuka untuk memakan habis alat kemaluan milik Sasuke, membuat pemuda raven itu tersentak kecil dengan erangan keras.
"Ahhn—Ahhhk—" Desahan itu terus keluar tanpa terkendali, tangan putih pucatnya berusaha mendorong kepala pirang yang kini sedang memanja kejantanannya itu, mencoba menolak serangan kenikmatan yang membuat pahanya bergetar hebat.
Onyx nya bisa melihat kalau lidah lihai sang Uzumaki menjilat dua bola dibawah kejantanannya, menggigitnya pelan kemudian mengecupnya lagi. Benda lunak yang basah itu kembali menyentuh batang penisnya, menjilat dari ujung hingga ke pangkal selangkangannya, mengirimkan rasa geli yang membuat kepala Sasuke terdongak dengan mulut terbuka lebar mengeluarkan saliva.
Naruto tidak berhenti sampai disitu saja, ia mengulum benda milik sang Uchiha kemudian menyeruput lubang kecil diujungnya itu, menambah sengatan kenikmatan di pahanya.
Cengkraman jari Sasuke di surai pirang Naruto mengencang, dadanya semakin naik-turun tidak terkendali, "Na—Ahhn—ruto—Ahhk!—Penisku—hhh—nikmat—" Desahnya pelan.
Sang Uzumaki menyeringai kecil diantara kulumannya ketika mendengar kalimat vulgar yang keluar dari mulut sang onyx. Jari tan nya bergerak menuju dada Sasuke untuk menjamah dua tonjolan pink itu. Puting kecil tadi ditarik lembut dan dipilin oleh Naruto, membuat pemuda raven itu lagi-lagi tersentak kecil dengan tubuh yang gemetaran.
"Naru—hghh!—ahhk!—" Sasuke mendesah, kejantanannya berdenyut keras saat cairan putih itu ingin mendobrak keluar.
Tetapi Naruto tidak mengijinkan hal itu terjadi, dengan cepat, sang sapphire melepaskan kulumannya untuk menghentikan orgasme sang Uchiha, membuat pemuda raven itu sedikit mengerang kecewa.
Naruto berdiri dihadapan Sasuke, tangannya bergerak untuk membuka retsletingnya sendiri, membebaskan benda keras yang sudah menegang dibalik celananya itu.
Ujung kejantanannya didekatkan ke bibir sang kekasih.
"Jilat—hhh—" Perintah Naruto dengan napas yang memburu.
Sasuke menggeleng keras, mencoba untuk menolak permintaan pemuda pirang itu. "Aku—hhh—tidak mau—"
Sang Uzumaki berdecak pelan seraya menarik dagu pemuda raven itu, "Jilat milikku—hhh—setelah itu, aku akan membuatmu nikmat." Bisiknya dengan suara bariton berat yang menggoda iman.
Sang Uchiha terdiam sejenak. Tergoda dengan iming-iming kenikmatan yang dikatakan Naruto, membuat Sasuke akhirnya mengangguk pelan, setuju.
Pemuda pirang itu tersenyum kecil, menarik sudut bibirnya menjadi seringai tipis, "Bagus, kalau begitu—" Ia menyentuhkan ujung penisnya ke celah bibir Sasuke, "—buka mulutmu dan nikmati hidanganmu." Perintahnya lagi.
Pemuda raven itu menurut, rongga mulutnya terbuka dengan lidah basah yang terjulur, benang-benang saliva terlihat menggantung di antara gigi serta lidahnya, membuat wajah itu terkesan erotis dan menggairahkan.
Jantung Naruto berdegup kencang, gairah dan hasratnya yang menggebu-gebu membuat otot di penisnya berdenyut-denyut senang. Dengan perlahan dan hati-hati, benda keras miliknya mulai memasuki gua basah itu dengan lembut. Merasakan napas sang Uchiha yang membelai kejantanannya dengan kehangatan mulut tadi.
"Aghh!—hghh!" Naruto melenguh keras, pinggulnya bergetar saat penisnya terus memaksa masuk ke kerongkongan terdalam Sasuke, membuat pemuda raven itu hampir tersedak organ vital sang Uzumaki.
Naruto mencengkram sisi rambut raven itu, memaksa Sasuke untuk menelan kejantanannya lebih dalam lagi. Merasakan hangatnya lidah dan air liur yang tercampur di organ mulut sang Uchiha. Pinggulnya mundur perlahan, sedetik kemudian menghantam kerongkongan Sasuke dengan keras dan dalam. Mundur lagi dan sodok lagi. Begitu berulang-ulang dengan tempo cepat yang membuat rongga hangat itu berubah menjadi lubang becek yang meneteskan air liur serta precum.
"Hmphh!—Ghok—Nghmphh!—Ohok—Mpphh!" Sasuke tersedak, rasa mual menyelimuti lambungnya. Terlebih lagi saat ujung penis sang dominan menghajar tonsil tenggorokannya. Namun Naruto tidak juga memperlambat genjotannya di rongga itu, sang Uzumaki terus menggeram nikmat seraya menyentuh apapun di dalam sana dengan penisnya. Gigi, gusi, langit-langit, bahkan lidah pun tergesek oleh otot besar penis yang berdenyut itu.
Mata biru Naruto melirik ke bawah, menatap setiap detik bibir mungil itu berubah menjadi lubang sensual yang sedang memanja alat kelaminnya. Batang kejantanannya yang basah bergerak masuk dan keluar dengan hentakkan konstan. Tangannya mencengkram sisi kepala Sasuke dan memaksanya untuk terus menelan habis benda keras miliknya.
"Ghok!—Hmphh!—ohok!" Sasuke tersedak, tangan putihnya bergetar panik seraya mendorong pinggul sang dominan menjauh. Namun bukannya menurut, Naruto malah terus menenggelamkan organ vitalnya ke kerongkongan sang Uchiha, membuat Sasuke tidak bisa bernapas dengan benda berotot itu yang menyumbat jalur napasnya. Mata onyx nya terbalik sedangkan air liurnya menetes dari sela dagu dan bercampur cairan precum yang memiliki aroma khas.
Entah pikiran bejat apa yang ada dikepala Naruto, pemuda itu ingin sekali memenuhi lambung Sasuke dengan air seninya. Jarinya bergerak untuk menyisir lembut surai hitam itu, "Sasuke—hhhh—kau ingin merasakan—hhh—air kencingku?"
Kontan kalimat yang dikeluarkan oleh Naruto membuat sang Uchiha terbelalak panik, ia meronta dan mencoba melepaskan mulutnya dari kejantanan sang dominan. Sayangnya, kepalanya sudah dicengkram kuat oleh sang Uzumaki. Seringai tipis terpasang diwajah pemuda berkulit tan itu.
"Hmphh!—Nghhmpph!" Sasuke mencoba menggeleng keras seraya mengeluarkan protesannya, namun kepalanya tertahan oleh pegangan Naruto, membuatnya tidak bisa melarikan diri lagi.
Naruto menenggelamkan penisnya lebih dalam lagi. Miliknya berdenyut keras sebelum akirnya liquid cair itu keluar membasahi tenggorokan Sasuke dengan air seni miliknya, memenuhi lambung sang Uchiha dengan tanda dominannya.
Mata Sasuke terbalik penuh dengan warna putih yang mendominasi, tangannya bergetar saat tenggorokannya terus menelan cairan dengan aroma pekat itu ke dalam tubuhnya. Tegukan demi tegukan membuat wajah tampannya berubah menjadi toilet pribadi milik sang Uzumaki. Ia tidak bisa menghindar selain pasrah menerima cairan itu dimulutnya, bercampur dengan air liur serta precum.
Naruto menyeringai senang, ia melepaskan organ vitalnya yang masih menegang dari rongga mulut itu. Membiarkan Sasuke tersandar di sisi closet dengan mulut terbuka penuh dengan air seni, liur dan precum, sesekali cairan itu menetes dan membasahi leher serta tubuhnya. Mata onyx nya yang tadinya terang kini penuh kabut kepasrahan dan cairan bening bernama airmata.
God!—Tidakkah Sasuke sadar kalau dirinya sekarang ini sangat menggoda di mata blue ocean Naruto? Siap untuk digagahi dengan penuh gairah serta nafsu.
Tangan tan Naruto terjulur untuk menarik dagu Sasuke, mendongakkan wajah yang sangat erotis itu, "Kau tahu, Sasuke. Kau terlihat sangat menakjubkan sekarang ini." Bisiknya lembut. Jarinya menelusup pelan masuk ke mulut sang Uchiha, bermain-main dengan cairan di dalam rongga itu, bahkan sesekali menggoda lidah pemuda raven itu untuk bergerak menjilat jarinya. Mengocoknya pelan dengan suara becek yang memenuhi indera pendengarannya.
"Nghh—hhh—hhnn—" Sasuke mengerang lemah saat Naruto tanpa sengaja menyentuh pangkal lidahnya. Membuat sang Uzumaki langsung menarik jarinya dengan spontan. Takut melukai lidah pemuda raven itu.
Tangan Naruto kembali bergerak meyentuh kejantanan Sasuke dengan lembut, menggoda benda keras itu dengan perlahan, lalu beralih menuju lubang kecil bagian bawah tubuhnya. Anus sang Uchiha berkedut liar, membuat pemuda pirang itu menjilat bibir bawahnya.
"Sasuke—aku ingin—hhh—segera menyentuhmu." Ucapnya dengan deru napas yang cepat. Jarinya bergerak untuk menyentuh lingkaran anal tadi kemudian mencoba menusuknya dengan lembut.
"Annhh—nghhh—" Sang Uchiha mengerang tertahan saat jari itu menggoda lubang bagian bawahnya. Menggesek dinding rektumnya.
Gairah Naruto semakin meninggi saat mendengar rintihan pelan itu. Ia mendekatkan bibirnya untuk mengecup liang anus tadi. Sesekali lidahnya menyapu pelan gua hangat yang pernah memanja kejantanannya itu.
Paha Sasuke bergetar, tangan putihnya memegangi kepala pirang sang Uzumaki, mencoba menjauhkan pemuda itu dari anusnya.
"Nghh—Ahhk!—Jangan jilat—" Erang Sasuke lagi. Namun Naruto berpura-pura tidak mendengar dan terus menghisap lubang itu layaknya serigala yang kelaparan. Sedangkan dua jarinya sudah terjepit di dalam anal sang Uchiha. Bergerak pelan untuk membuka liang tadi agar membesar, sesekali memutar-mutar telunjuk dan jari tengahnya di dalam sana.
"Kau—hmphh—manis—mphh—" Desah sang Uzumaki seraya menyeruput nikmat belahan pantat itu.
Sasuke mencoba bertahan dengan memegangi sisi closet, napasnya terengah-engah saat jari-jari tan itu terus menggesek dinding rektumnya, mencari titik terlemahnya.
"Ahhhnn!—Nghhh!—" Sang onyx mengerang keras saat Naruto tidak sengaja menyentuh prostatnya, membuat kepalanya menengadah dengan mulut terbuka mengeluarkan saliva.
Melihat reaksi yang ditunjukan Sasuke, Naruto hanya bisa menyeringai kecil. Puas.
Ia melepaskan jarinya dari lubang sempit itu dan mulai meludahi tangannya sendiri, kemudian mengusapnya ke bagian ujung penisnya. Memberikan cairan pelicin untuk mudahkan miliknya memasuki anal pemuda raven itu. Sang Uzumaki juga tidak lupa meludahi anus Sasuke dan mengusapnya pelan.
"Akan kumasukkan—hhh—rileks kan tubuhmu, oke?" Pinta Naruto.
Sasuke tidak menjawab, ia hanya bisa pasrah saat pahanya dilebarkan oleh sang dominan, memperlihatkan liang bawahnya yang terus berkedut tanpa henti.
"Na—hhh—ru—" Sang Uchiha memanggil dengan suara lirih. Berharap tubuhnya tidak dihancurkan oleh penis dengan otot yang berdenyut itu, "—Please—hhh—hentikan—"
Naruto tidak mempedulikan permohonan itu, mata birunya menatap tajam ke arah sang onyx, "Aku tidak akan berhenti—hhh—sampai kau menyingkirkan Gaara dari otakmu. Jadi, tatap dan lihatlah aku seorang." Ujarnya penuh nada yang posesif.
Sasuke tidak menjawab, ia hanya bisa terengah-engah dengan napas berat, peluh sudah membanjiri kening dan tubuhnya, "Naru—hhh—"
Pemuda pirang mengelus pipi sang Uchiha, lembut, "Akan aku masukkan sekarang, oke?" Ucapnya lagi.
Ia menggesekan kejantanannya di belahan pantat sang onyx sebelum akhirnya mulai mendorong pinggulnya untuk masuk ke lubang hangat tadi. Naruto menggeram pelan, "Hghh!—Fuck! Agghh!" Dinding rektum Sasuke mencengkram batang penisnya dengan kuat, membuat Naruto lagi-lagi mendesah nikmat.
"Hen—Ghhghk!" Sasuke tersedak saat benda besar berotot itu menusuk anusnya. Rasa panas dan perih kembali menyerang bagian bawah tubuhnya, "Ahhk!—Sakit—Nghh!" Ia mencengkram lengan pemuda pirang itu untuk menahan agar tubuhnya berhenti gemetaran.
"Tahan—hhh—sedikit lagi—Ahhk!" Sahut Naruto sembari menggerakkan pinggulnya untuk maju, menenggelamkan alat kelaminnya ke dalam sana.
"Ahhk!—hhh—" Paha sang Uchiha bergetar keras saat benda itu sudah menginvasi seluruh liangnya. Ia bisa merasakan kalau bagian bawah tubuhnya penuh dengan kejantanan Naruto yang berdenyut.
Pemuda pirang itu menarik dagu Sasuke lembut kemudian bergerak untuk mengecup bibir mungil dihadapannya. Namun sang Uchiha langsung memalingkan wajah seraya menutup mulutnya, "Jangan—hhh—mulutku kotor—hhh—" Ucapnya pelan.
Naruto terdiam sebentar sebelum akhirnya mendengus geli, "It's okay... Kau tetap menawan." Pujinya lagi, kali ini ditambah kecupan singkat di bibir pemuda raven itu, "—Aku akan mulai bergerak. Tahanlah sedikit." Lanjutnya lagi.
Sasuke tidak menjawab maupun mengangguk, ia hanya mempererat cengkaramannya di lengan pemuda itu saat Naruto mulai menggenjot lubangnya dengan tempo konstan, "Ahhhk!—Nghh!—hhhh—Naru—Nghhh—" Desahan meluncur, tubuhnya tersentak, dan lubangnya terasa makin panas. Ia ragu apakah anusnya akan baik-baik saja setelah ini?
Naruto melenguh nikmat, pinggulnya dihentak berkali-kali ke bagian bawah tubuh Sasuke, merasakan betapa nikmatnya gua hangat itu mencengkram kejantanannya. Memanja gairah di dalam otaknya.
"Aghh!—fuck!—nikmat—" Umpatan terus keluar dari mulut Naruto, peluh membanjiri tubuhnya, membuat kulit tan itu berkilat menggoda.
Sasuke terhentak saat benda itu terus menghajar lubangnya, tangannya mencengkram lengan Naruto sedangkan tangan lain berusaha berpegangan pada sisi closet agar tidak terjatuh. Kedua kakinya disampirkan ke bahu Naruto, pasrah bagian analnya menjadi mainan sex pemuda itu.
"Ahhnn—Nghhh—hhh—" Sasuke mengerang keras, genjotan itu semakin lama semakin membuatnya hilang kewarasan. Rasa nikmat, hentakan kasar, sodokan brutal, semua gairah saling beradu dalam pagutan dua tubuh itu. Keringat dan saliva tercampur, membuat suara decakan dan becek yang meningkatkan libido.
Genjotan Naruto semakin cepat, sesekali ia menggeram berat layaknya binatang di musim kawin. Menggagahi sang kekasih membuat hawa nafsunya terus menggelegak liar tidak terkendali. Otaknya mengabur dengan gairah, bisikan setan itu terus menggelantungi telinganya.
"Sasu—Ahhk!—Sasuke—Nghh!" Ia mendesah, pinggulnya maju-mundur dengan gerakan kasar. Sesekali menyodoknya dengan tidak sabaran, terus menghantam prostat sang Uchiha.
"Ahhk!—Naru—hhh—" Erangan keluar dari bibir Sasuke. Wajahnya yang tadinya penuh dengan kilatan tajam dan penolakan, kini hanya bisa pasrah saat disetubuhi oleh Naruto. Tenaganya menghilang, tubuhnya tidak berdaya dibawah dominasi sang Uzumaki. Ia kalah.
Tubuh dan jiwanya kalah.
Setan itu terlalu kuat membisikkan mantra nafsu. Membuat akal sehatnya tersapu dan tergantikan rangsangan yang menakjubkan. Sodokan dilubangnya, gesekan kejantanan Naruto di prostatnya, semua itu membuat Sasuke gila dan menginginkan lebih dari sekedar kenikmatan semata.
"Ahhh—Hahhhh—Unghh—" Sasuke merasakan batang kemaluan Naruto didalam tubuhnya, begitu besar dan dominan. Menyentuh prostat dan dinding rektumnya, memberikan rangsangan yang memabukkan.
"Sasuke—hhh—aku mencintaimu—nghh—" Bisik sang Uzumaki seraya merengkuh tubuh langsing itu kepelukannya. Penisnya masih terus menyodok anus sang kekasih dengan kasar dan cepat. Membuat cairan precum nya menetes dari lubang sempit itu.
Sasuke hanya bisa tersengal-sengal tidak terkendali, tubuhnya pasrah dihentak keras oleh pinggul Naruto, membuatnya hampir hilang kesadaran karena rasa nikmat yang diberikan oleh sang dominan.
"Nharu—hhh—shakit—hhh—" Erangnya dengan suara yang tidak jelas. Matanya mengabur, dan keringat terus menetes keluar.
"Tahan—hggh!—jangan pingsan—aghh!—" Desis sang Uzumaki seraya membalikkan tubuh pemuda raven itu. Ia memaksa Sasuke untuk berpegangan pada dinding kabin, kemudian menunggingkan pantatnya sedikit, membuat bagian belakang tubuhnya terekspos tanpa pertahanan sedikit pun.
Naruto mengusap dan mengecup punggung sang Uchiha sebentar, detik selanjutnya pinggulnya kembali bergerak untuk memanja ke lubang anus itu. Memenuhi gua basah itu dengan penisnya yang berdenyut keras.
Sasuke tersentak kedepan dan kebelakang dengan cepat seiring genjotan pemuda pirang itu. Pahanya bergetar, tangannya mengepal di sisi tembok kabin, dan tubuhnya hanya bisa pasrah tanpa perlawanan saat dirinya menjadi pemuas nafsu birahi seorang Uzumaki Naruto.
Pemuda pirang itu menggeram nikmat. Hangat, basah dan sempitnya liang anal itu membuat penisnya kembali bergetar tanpa terkendali. "Shit!—hhghh!—Kau hebat, Sasuke—Aghh!—anusmu nikmat—Nghh—" Desisnya dengan dengus napas layaknya binatang.
Sasuke tidak bisa menjawab, ia hanya berkonsentrasi untuk menyuplai oksigen agar dirinya tidak pingsan saat ini juga. Rasa perih dan sakit dari bagian bawah tubuhnya membuat pemuda raven itu mulai hilang kesadaran.
"Hhhh—Nharu—shakit—hhh—" Erangnya dengan ekspresi wajah yang sulit dideskripsikan. Gabungan antara rasa sakit dan kenikmatan surgawi.
Persenggamaan itu terus berlanjut. Sodokan, hentakan, dan desahan, semuanya tercampur menjadi satu, melebur dengan gairah dan libido yang terus menerus meningkat tidak terkendali.
.
Cklek!—Pintu toilet terbuka pelan. Dua orang lelaki masuk sembari berbincang dengan candaan yang keras. Membuat kegiatan Naruto dan Sasuke di salah satu kabin langsung terhenti sejenak.
"Dimana cewekmu?" Tanya salah seorang pria sambil mencuci tangan di wastafel.
"Di kamar. Aku mengundangmu untuk bermain threesome bersamanya." Jawab pria satunya lagi seraya mengeluarkan dua kotak jus dari kantong belanjaannya.
Pria yang sedang mencuci tangan terkekeh pelan, "Kau jahat. Dia masih virgin tahu."
"Aku tahu—" Potong pria satu nya lagi seraya menunjuk kantong belanjaan di tangannya, "—Didalam sini, sudah aku sediakan beberapa condom." Lanjutnya dengan tawa keras.
Pria disebelahnya mendengus geli, "Dasar penjahat kelamin. Ngomong-ngomong, berikan aku satu kotak jusmu, aku haus." Ucapnya.
Pria yang memegang kantong belanjaan tadi menyodorkan satu minumannya ke arah sahabatnya itu, namun sedotan di tangannya tergelincir dan menggelinding masuk ke kabin toilet Naruto dan Sasuke.
"Shit—sedotannya terjatuh." Umpatnya kesal.
Sasuke yang berada di dalam kabin mulai panik, kalau pria itu menengok ke bawah, ia bisa melihat kaki mereka yang saling berhimpitan.
Sang Uchiha mencoba menoleh ke arah pemuda pirang itu, "Naru—hhh—kita akan ketahuan—" Bisiknya takut.
Bukannya ikut panik, Naruto malah menyeringai senang. Ia membalikkan tubuh Sasuke untuk saling berhadapan dengannya, kemudian detik selanjutnya mengangkat tubuh langsing itu kepelukannya dengan kejantanan yang masih terbenam di lubang anal tadi. Sedangkan punggung Sasuke dipaksa untuk tersandar di dinding kabin.
"Jangan—hhh—bersuara—" Perintah Naruto yang memulai genjotannya lagi.
"Ghhgkk!—" Sasuke tersedak dengan serangan mendadak itu.
Lengan pemuda pirang itu mencengkram pantat Sasuke dan menghempaskan tubuh ramping itu ke atas dan ke bawah dengan cepat, sedangkan kaki sang Uchiha membelit pinggang sang dominan. Tangan putihnya merangkul leher Naruto agar tidak terjatuh, "—Naru—Nghh!—kau brengsek—" Desisnya tajam disela desahannya.
Naruto menyeringai tipis, "Aku tahu—aghhh—aku juga mencintaimu—"
.
Pria yang berada diluar langsung membungkuk sebentar untuk mengintip celah di bawah kabin tadi. Sedotannya teronggok tidak berdaya di sisi sepatu Naruto. Untungnya sosok Sasuke sudah digendong oleh pemuda pirang itu, jadi kegiatan bejat mereka tidak akan ketahuan.
Pria itu mengumpat, "Shit!—ternyata ada orang." Kesalnya lagi. Ia ingin menggapai sedotannya dari celah kabin, namun takut mengganggu Naruto yang berada di dalam sana.
Pria lain yang bersender di sisi wastafel hanya berdecak sebal, "Sudahlah, tidak usah diambil. Kalau soal sedotan, nanti aku bisa minta pada pengurus hotel." Ucapnya lagi.
Pria yang sedang membungkuk itu bangkit kembali, "Oke, terserah kau saja. Ayo kita kembali ke kamar." Ajaknya yang langsung dituruti oleh sahabatnya itu.
.
Blam!—pintu toilet menutup pelan. Membuat Sasuke yang berada di dalam salah satu kabin lega untuk sesaat. Namun helaan itu kembali tercekat ditenggorokan saat Naruto kembali menghajar lubangnya tanpa ampun.
Sang dominan menyeringai, "Kita belum selesai, Teme." Bisiknya dengan suara bariton berat.
Sasuke mendesis tajam, "Brengsek—Nghh—kau binatang—Ahhk!—" Ia merangkul pundak Naruto lebih erat saat pantatnya terhempas cepat ke atas organ vital pemuda pirang itu.
Naruto tidak mempedulikan umpatan yang keluar dari bibir pemuda raven itu. Penisnya sibuk memanja pantat kenyal yang sedang terhempas di atas miliknya. Kenikmatan itu datang dua kali lipat saat melakukannya sambil berdiri dan menggendong tubuh langsing Sasuke di pelukannya.
God!—Naruto bisa gila dengan serangan nafsu yang menguasai pikirannya saat ini. Ia terus menyodok lubang surgawi itu dengan brutal dan bar-bar, memperdengarkan suara becek nyaring yang keluar dari dalam sana. Bahkan tetes precumnya mengalir di sela paha Sasuke dan jatuh menetes di lantai toilet.
Cengkraman Sasuke mulai mengendur dan matanya memburam hampir menghitam. Gairah membuatnya hampir pingsan ditelan kenikmatan. Mulutnya terbuka dengan lidah terjulur penuh air ludah.
"Nha—rhu—hhh—akhu—mathi—" Erangnya dengan tenaga yang hampir habis.
"Kau tidak akan mati—hhhgh!—jangan pingsan dulu—Aghh!" Desak Naruto seraya terus memegangi pantat Sasuke dan menggenjotnya cepat. Tidak mempedulikan tubuh pemuda raven itu yang mulai limbung.
Naruto menghentikkan hentakkannya sejenak, saat melihat sedotan yang teronggok di sisi kakinya. Seringai licik terbentuk, ia mulai melepaskan kejantanannya dari gua hangat tadi dan mendudukkan Sasuke di atas closet.
Saat sang Uchiha merasa penderitaannya sudah berakhir, Naruto malah mendekat dengan sedotan kecil ditangannya. Menyentuh organ vital Sasuke dan mengelus lubang di ujungnya.
"Kita akan bermain sedikit lagi, oke?" Ucap Naruto dengan suara serak penuh hasrat.
Belum sempat Sasuke bertanya apa maksud pemuda pirang itu. Sebuah sengatan perih menghantam bagian lubang kencingnya. Sedotan kecil tadi dipaksa masuk ke ujung penisnya yang berdenyut liar.
Sasuke tersedak hampir sekarat, "Ghhghk!—Shtop!—" Tangannya tergeletak di sisi closet tanpa bisa digerakkan. Tenaganya melemah. Tubuhnya hanya bisa bergetar hebat saat rasa perih itu terus menusuk penisnya.
Naruto menyeringai puas melihat keerotisan pemuda raven di hadapannya itu. Ia kembali melebarkan paha Sasuke dan mulai menusukkan alat kelaminnya ke lubang anus yang berwarna merah menggoda itu.
Sang Uchiha lagi-lagi tersedak salivanya sendiri, dua lubangnya ditusuk secara brutal tanpa belas kasihan. Anusnya yang digenjot kasar, dan lubang urinnya yang ditusuk oleh sedotan. Jeritan sunyi meluncur dari bibir Sasuke, "Hhh—shakit—hhh—shtop—"
Bukannya menuruti permintaan pemuda itu, Naruto malah menggenjot liang anal itu semakin keras dan dalam, tangannya terus memegangi sedotan untuk tetap keluar-masuk dengan cepat di lubang kencing Sasuke, membuat sang Uchiha menampilkan wajah sekarat dengan lidah terjulur dan mata terbalik penuh.
"Kau—Hghh!—cantik—" Puji Naruto seraya menarik lidah basah sang Uchiha. Membuat sosok itu semakin terlihat sensual di mata biru sang dominan.
Sasuke pasrah. Tangannya tergeletak tidak berdaya disisi tubuhnya, sedangkan pahanya dipaksa melebar untuk memudahkan akses bagi pemuda pirang itu menghantam prostatnya. Kejantanannya berdenyut keras ingin segera menumpahkan spermanya keluar.
"Nha—hhh—rhu—keluar—" Rintihnya pelan.
Sang dominan mengerti arti getaran tubuh pasangannya. Ia kembali mempercepat sodokannya di gua hangat itu. Menambah becek lubang yang memanja alat genitalnya. "Aku—hhh—juga—sedikit lagi—Aghh!" Lenguhnya dengan dengus napas berat.
Tubuh Sasuke tersentak keras, lubangnya terus dihantam dengan kasar, ia bisa merasakan kejantanan sang dominan yang berdenyut-denyut didalam anusnya. Sebentar lagi, benda besar itu akan memuntahkan cairan putih kedalam organ dalamnya.
Otot perut Naruto mengejang, geraman berat terdengar, detik selanjutnya pinggulnya menghentak dalam seraya membenamkan seluruh batang kelaminnya di dalam gua hangat itu, "—Aghh!—HGHHH!" Benih kentalnya menyemprot hebat di lubang anal Sasuke, merembes dari celah tersebut dan mengalir di paha sang Uchiha.
Sasuke juga tidak sanggup lagi menahan spermanya lebih lama. Ia mencoba mengocok penisnya sendiri dengan cepat. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya terdongak dengan lidah terjulur, "Ahhk!—Naru—AHHKK!" Ia berteriak keras, selanjutnya pahanya bergetar, dan cairan kenikmatan itu berhasil menyembur keluar bersamaan dengan sedotan yang menyumbat lubang urinalnya. Sedikit terciprat di sisi perut Naruto.
Sang Uchiha terengah-engah lelah, tubuhnya merosot di lantai dengan paha yang terbuka lebar. Sedangkan dihadapannya, Naruto sudah bangkit dan memakai celana panjangnya. Sang sapphire melirik ke arah sang kekasih dengan seringai kecil.
"Kau hebat, Sasuke." Pujinya seraya bergerak ke depan pemuda raven itu. Mata birunya melirik ke arah kejantanan sang Uchiha yang berkedut. "—Huh? Kau belum keluar sepenuhnya ya?" Tanya nya lagi.
Sasuke mencoba menggeleng, "Aku ingin—hhh—buang air kecil—" Ucapnya disela-sela napasnya yang tidak beraturan.
Naruto menyeringai jahil, "Kalau begitu, cepat keluarkan saja—" Tukasnya lagi seraya menginjak penis kekasihnya, membuat pemuda raven itu tersedak kaget dengan tubuh gemetaran, merasakan sakit yang luar biasa.
"Hen—Ghk!—tikan—" Erangnya lagi mencoba menyingkirkan kaki Naruto yang menginjak organ vitalnya. Namun tenaganya lemah dan hanya bisa merasakan cairan itu mulai bergerak keluar dari kejantanannya yang perih, "—Sthop—Hghh!—Nharu—"
Tubuh Sasuke bergetar hebat, kepalanya terdongak dengan lidah terjulur penuh saliva menetes. Sedangkan matanya terbalik penuh dengan ekspresi kenikmatan tiada tara. "Ahhk!—Nharu—AHHKK!" Detik selanjutnya, air seninya melesak keluar, menyembur ganas dan membasahi tubuhnya serta sepatu milik sang dominan. Mengalir keluar bersamaan dengan sisa spermanya.
Naruto tersenyum kecil, ia menggoyangkan ujung sepatunya untuk menyingkirkan sisa tetes cairan tadi, "Kau—menakjubkan." Bisiknya lembut pada sosok Sasuke yang tersandar di sisi toilet dengan ekspresi sekarat. Berbalut air seni dan cairan putih kental.
.
.
Tsunade duduk dengan gelisah di kursinya. Sesekali matanya melirik jam dinding yang berada di kamar hotel itu. Sudah satu jam berlalu, namun Naruto dan Sasuke masih tidak terlihat batang hidungnya. Padahal Gaara sudah bersiap di ranjang menunggu pasangan videonya. Sang direktur kembali berdecak untuk kesekian kalinya.
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sampai selama ini? Apa mereka masih bertengkar? Tanya wanita itu dalam hati.
Enggan untuk menunggu lebih lama lagi, ia menjentikkan jarinya memanggil sang asisten.
Shikamaru mendekat, "Ya? Tsunade-san?" Tanyanya malas.
Tsunade melirik pemuda itu sekilas, "Cari Naruto dan Sasuke, bawa mereka kemari. Syuting harus tetap berlanjut." Perintahnya.
Pemuda berambut nanas itu mengangguk paham. Ia berbalik dan segera melesat keluar, namun sebuah suara membuat gerakannya terhenti.
Di belakangnya, Gaara menatap Shikamaru dalam ekspresi stoic nya.
"Bolehkah aku ikut mencari Naruto juga?" Tanya nya meminta ijin.
Shikamaru menaikkan kedua alisnya heran, ia terkejut sebab pemuda merah itu lebih memilih mencari Naruto dibandingkan sahabatnya, Sasuke. Apa pemuda itu juga menyukai Naruto? Batin Shikamaru was-was.
Gaara yang sedikit tidak sabaran menunggu jawaban dari Shikamaru mulai bergerak menuju Tsunade, "Bisakah aku ikut mencari Naruto?" Ia mengulangi pertanyaan.
Wanita itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya melempar pandangan ke arah Shikamaru, meminta pendapat dari sang asisten. Namun pemuda rambut nanas itu hanya mengedikkan bahu, tidak peduli.
"Baiklah, kau boleh ikut dengan Shikamaru." Jawab Tsunade lagi.
Gaara membungkuk sopan, kemudian bergegas memakai pakaiannya, setelah itu bergerak mengikuti Shikamaru yang melesat keluar kamar. Mereka bergerak cepat menyusuri lorong koridor, sesekali memanggil nama Naruto dan Sasuke. Berharap kedua orang itu berhenti bermain petak umpet dengan mereka.
"Tidak kutemukan dimanapun." Lapor Gaara seraya mensejajarkan langkahnya dengan Shikamaru.
"Kau sudah mencoba mencari mereka di toilet publik?" Tanya Shikamaru lagi.
Gaara menjawab dengan gelengan cepat, "Apa mereka ada disana?"
"Kita cari saja dulu." Sergah pemuda rambut nanas itu lagi.
Tepat ketika mereka berdua bergerak menulusuri lorong hotel lagi, dari arah depan terlihat sosok Naruto yang meneggendong Sasuke dalam balutan selimut. Menutupi seluruh tubuhnya.
Gaara dan Shikamaru bergegas mendekat.
"Naruto, ada apa dengan Sasuke?" Pertanyaan bernada khawatir itu terlempar dari mulut sang pemuda bertatto 'Ai' di kening.
Naruto hanya menanggapinya dengan senyuman lebar, "Tidak apa-apa, jangan khawatir. Ia akan kubawa pulang."
"Huh? Pulang? Syuting kita belum selesai." Sela Shikamaru lagi. Mata hitam kelabunya melirik ke arah Sasuke yang tersembunyi di balik selimut, digendong oleh sang Uzumaki dengan bridal style, "—Kau dapat selimut ini darimana?"
"Aku ambil dari kamar lain, nanti akan segera kukembalikan kok." Jawab Naruto lagi seraya bergerak menjauh. Gaara dan Shikamaru mengikuti pemuda itu disampingnya.
"Kau yakin Sasuke baik-baik saja?" Tanya Gaara lagi, cemas. Ia mencoba menyentuh selimut tadi, namun Naruto berkelit dengan cepat. Membuat pemuda itu hanya menyentuh ruang kosong.
"Ja—Jangan sentuh. Sasuke sedang tidak enak badan." Alasan Naruto lagi, gugup. Ia takut kalau tubuh Sasuke yang berantakan dengan cairan sperma dan air seni sampai ketahuan oleh dua orang dihadapannya. Itu akan menjadi masalah yang gawat. "—Aku akan mengantarkan Sasuke dulu, setelah itu kita akan mulai syuting lagi."
"Bagaimana dengan kameramennya?" Tanya Shikamaru lagi.
"Suruh saja orang lain yang menggantikannya." Desak Naruto tidak sabaran.
Tepat Ketika pemuda pirang itu menjauh, Gaara kembali berseru memanggilnya, "Kau yakin akan meneruskan videonya, Naruto?!" Tanyanya lagi.
Naruto menoleh seraya melemparkan senyuman lebar, "Tentu saja, persiapkan dirimu, Gaara." Sahutnya keras, membuat pemuda merah itu tersentak kaget dengan pipi bersemu merah. Perkataan yang dilontarkan Naruto seakan-akan menyiratkan pesan vulgar namun menggoda.
Shikamaru melirik sekilas ke arah Gaara yang masih menatap punggung Naruto. Jade nya terpaku pada sosok pemuda pirang itu hingga sang Uzumaki menghilang dibalik tikungan koridor.
Shikamaru berdecak dalam hati, sial!—rivalku bertambah satu orang lagi.
.
.
.
_Apartement Naruto, Pukul 20.00 Malam_
.
Sasuke menggeliat pelan diatas ranjang, matanya mengerjap perlahan sebelum akhirnya membuka sempurna. Langit-langit kamar yang berwarna putih adalah hal yang pertama kali dilihatnya. Onyx nya kembali berkeliling menatap ruangan itu.
Sebuah kamar sederhana dengan warna-warni cerah mendominasi. Lemari kecil di pojok ruangan, sup dingin diatas meja, kemudian beberapa perabotan yang berantakan di lantai, salah satunya majalah porno dan beberapa cup ramen. Dan ranjang kecil rapi yang kini menjadi tempatnya berbaring.
Dengan rasa pusing yang melanda kepalanya, Sasuke mencoba bangkit dari tempat tidur dan duduk di sisi ranjang. Maniknya membulat kaget saat pakaiannya berubah menjadi kemeja putih yang terlihat longgar tanpa celana sama sekali.
"Dimana aku?" Bisiknya lirih.
Saat rasa panik mulai melanda, pandangannya tiba-tiba beralih tertuju pada secarik kertas di meja kecil. Ia mencoba bangkit perlahan, menahan rasa perih dari bagian bawah tubuhnya, jarinya menggapai lembaran itu dan membacanya pelan.
.
Hey, kalau kau sudah bangun, makanlah sup yang sudah kubuat di atas meja.
Ngomong-ngomong, maaf soal tindakanku yang terlalu agresif saat ditoilet tadi. Kau tahu kan? Kau terlalu menggoda, jadi aku tidak bisa menahan diriku lagi.
Dan soal bajumu, tenang saja, sudah kucuci. Kau bisa memakai bajuku dengan bebas. Cari saja di dalam lemari.
Malam ini, tidurlah di apartemenku dulu. Kau masih terlalu sakit untuk berjalan pulang.
Aku akan kembali pukul 20.30 malam.
Istirahatlah.
I love you...
-Dari Naruto yang mencintaimu-
.
.
Sasuke mendesah pelan sebelum akhirnya melirik malas ke arah sup dingin diatas meja itu. "Jadi ini apartemennya, huh?" Ucapnya pada diri sendiri.
Sang Uchiha meletakkan kertas tadi di sisi tubuhnya, kemudian bergerak untuk duduk didepan meja, menikmati sup yang sudah disediakan Naruto. Cairan berbumbu gurih itu melesat masuk ke kerongkongannya. Walaupun secara kualitas sup itu terkesan encer dan tidak enak, tetapi itu cukup membantunya untuk bertahan dari rasa lapar.
Ia menyuap makanannya secara perlahan, sesekali memandang keseluruhan kamar itu. Sempit dan berantakan, khas kamar seorang cowok seperti Naruto. Bahkan majalah dan video porno pun bertebaran sembarang di lantai.
Sasuke menyambar salah satu majalah tadi dan menatap cover nya. Bergambar wanita telanjang dengan beberapa sex toy. Sang Uchiha mendengus geli, "Aneh. Aku pikir dia tidak tertarik terhadap cewek." Bisiknya pelan kemudian mengembalikan majalah tadi ke tempatnya semula.
Sasuke meletakkan sendoknya di sisi mangkuk, ia sudah cukup mengisi perutnya. Sekarang ia bingung harus melakukan apa. Apakah kembali beristirahat atau berkeliling apartemen pemuda pirang itu? Mungkin ia perlu melihat-lihat kondisi tempat tinggal Naruto sebentar sebelum memutuskan untuk kembali tidur.
Setuju dengan pemikirannya itu, Sasuke segera bangkit dari meja dan mulai berjalan tertatih-tatih keluar dari kamar. Pinggul dan bagian bawah tubuhnya masih terasa nyeri, sang Uchiha bersumpah akan membunuh Naruto setelah ia kembali nantinya.
Pemuda raven itu bergerak, matanya kembali berkeliling menatap ruangan. Apartemen itu tidak terlalu besar, namun cukup minimalis bagi seseorang yang tinggal sendirian seperti Naruto. Ada sebuah dapur dan meja makan, kamar mandi di sisi ruang makan, serta ruang tamu dan satu kamar tidur yang sebelumnya ditempati Sasuke tadi.
Hmm—menarik dan cukup bersih, kecuali bagian kamar, batin Sasuke lagi seraya mendelik ke dalam kamar tidur yang masih terlihat berantakan.
Pemuda raven itu mencoba bergerak menuju dapur, namun tubuhnya kembali ngilu dan nyeri, membuatnya terpaksa kembali ke dalam kamar dan duduk di sisi kasur. Ia mendesah pelan, "Sial! Tubuhku hancur." Rutuknya pelan.
Ia memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menikmati lembutnya selimut dan seprei yang memanja tubuhnya.
.
"Sasuke, aku pulang." Seruan Naruto membuat Sasuke sedikit terhenyak kaget. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar dan menemukan sosok pemuda itu tersenyum ke arahnya sambil membawa bungkusan plastik. Sasuke menebak, isinya pasti roti dan beberapa minuman.
"Kau habis darimana?" Tanya pemuda raven itu seraya bangkit untuk duduk di kasur.
Naruto terlihat mengeluarkan makanan dari kantong belanjaannya, "Bekerja. Syuting video yang sempat tertunda." Jawabnya cepat. "—Aku membawakanmu cemilan, kau mau?" Tawarnya seraya menyodorkan satu potong roti manis. Sasuke langsung mengambilnya hati-hati.
Alih-alih berterima kasih, Sasuke malah melemparkan pertanyaan lain, "Apakah Gaara masih melanjutkan pekerjaannya? Maksudku, menjadi pasanganmu." Terangnya lagi.
Naruto melirik sekilas, "Yeah, kami melakukannya. Dia bekerja cukup baik." Ucap pemuda itu jujur.
Sasuke menunduk, jarinya meremas roti di pegangannya, "Dia masih—belum tersentuh." Sahutnya, mengganti kata 'virgin' dengan kalimat 'belum tersentuh'.
Sang Uzumaki beranjak untuk duduk di sisi ranjang, "Aku tahu. Aku sudah bersikap lembut padanya seperti janjiku. Kau tidak perlu khawatir."
"Aku cemburu—" Sahut Sasuke lagi.
Naruto menatap sang Uchiha, kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir pemuda itu, "Aku tahu. Aku juga cemburu." Kecupan pertama dijatuhkan dengan lembut, Sasuke tidak menolak. Ia lelah untuk menolak, "—Apakah kau menyukai Gaara?" Tanya Naruto lagi.
Sasuke tidak menjawab dan hanya mengangguk singkat, "Sejak awal kuliah. Aku menyukai sifat pendiam dan kejeniusannya."
Alis pemuda pirang itu berkerut tidak suka, "Bisakah kau juga mencintaiku seperti kau mencintai Gaara?"
Sasuke mendongakkan wajahnya ke arah Naruto, kemudian mengedikkan bahunya pelan, "Entahlah, akan kucoba." Sahutnya lagi.
Naruto tersenyum, "Aku pikir kau masih normal dan menyukai cewek—" Balasnya dengan nada lembut.
Onyx nya mendelik galak, "Yeah, sebelum aku 'diperkosa' olehmu."
Naruto tersenyum getir, "Maaf..." Ia membalas dengan nada penuh penyesalan, "...Tapi bagaimana dengan Gaara? Kau menyukainya, berarti kau sudah menjadi gay sebelum bertemu denganku." Ujar pemuda itu beralasan.
Sasuke bersender di kepala ranjang, "Saat itu, aku menolak perasaanku kalau aku menyukai pria. Kau tahu kan—sisi penolakan."
"Ya—lalu?"
"Lalu kau datang, menyatakan cinta, kemudian memperkosaku. Cerita selesai." Jawab Sasuke cepat, yang lagi-lagi membuat tenggorokan Naruto tercekat gugup.
"Ma—Maaf." Balas pemuda pirang itu dengan senyuman bersalah.
Sasuke mengedikkan bahunya, tidak masalah. "Jadi, kau sudah 'menyentuh' Gaara, huh?"
"Bisakah kita berbicara hal lain? Topik itu terlalu sensitif." Jelas Naruto lagi.
.
Ting!—Tong!—Bel depan berbunyi, menginterupsi pembicaraan Naruto dan Sasuke. Mereka berdua tersentak kaget sebelum akhirnya saling bertatapan heran.
"Kau punya tamu malam-malam begini?" Tanya Sasuke.
Naruto menggeleng, "Aku yakin tidak ada yang berkunjung ke apartemenku." Jawabnya lagi.
"Lalu itu siapa?"
"Entahlah, mungkin Shikamaru." Tebak Naruto, "—Tunggulah disini, aku akan membuka pintunya."
"Tu—Tunggu dulu, aku ikut." Paksa Sasuke seraya bangkit dari kasur. Naruto hanya mendesah pelan menanggapi sifat keras kepala pemuda itu.
Mereka berdua memutuskan untuk bergerak keluar kamar dan segera membukakan pintu untuk tamu mereka. Naruto berharap, itu bukanlah Shikamaru yang membawakan jadwal padat untuk syuting video berikutnya. Sejujurnya saja, ia perlu mengistirahatkan tubuhnya dan bagian selangkangannya. Video mesum itu sangat menguras tenaga dan sperma.
Cklek!—Sasuke menyentuh kenop dan memutarnya dengan hati-hati. Bunyi berderit terdengar, disambung pintu yang membuka perlahan.
Onyx nya menatap sosok yang berdiri diambang pintu itu. Sesosok pemuda berjas rapi warna hitam dengan rambut panjang dan mata lavender.
"Namikaze-san, saya mencari anda." Ucapnya tegas, yang membuat Sasuke mengernyitkan kening, heran.
Sang Uchiha ingin mengatakan kalau orang itu salah masuk apartemen, namun begitu ia menoleh ke arah Naruto, ucapannya langsung terhenti.
Raut wajah Naruto berubah mengeras. Manik ocean blue yang tadinya berbinar cerah, kini berkilat tajam. Belum sempat Sasuke bertanya tentang apa yang terjadi, pemuda pirang itu sudah mengeluarkan suaranya.
"Untuk apa kau kemari, Neji." Desisnya tajam.
Pemuda berpakaian jas rapi itu hanya menatap diam, tidak berekspresi, "Senju-sama menunggu anda, Namikaze Naruto-san."
"Katakan pada kakek, aku tidak akan kembali." Jelas Naruto lagi seraya menggeram pelan.
Sasuke hanya bisa tercengang kaget saat nama 'Senju' disebut oleh pemuda bernama Neji itu. Ia berbalik cepat pada sang kekasih.
"Naruto, jangan katakan kalau kau cucu dari Hasirama Senju, pebisnis nomor satu di Konoha." Ucapnya dengan suara yang bergetar.
Naruto tetap diam tidak menjawab, ekspresinya masih mengeras. Hanya Neji yang berinisiatif menjawab pertanyaan dari sang Uchiha itu.
"Benar, Naruto merupakan cucu Hasirama Senju. Pewaris tunggal Hasirama's Corporation." Tegasnya lantang.
Suara Sasuke tercekat di tenggorokan. Ia mundur perlahan dan bersandar di daun pintu. Tangannya bergerak untuk memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
—Jadi Naruto adalah cucu dari Hashirama Senju?! Bintang porno ini adalah pewaris tunggal perusahaan terkenal?!
—Dan lagi, ia sudah melakukan 'hal itu' dengan orang berpengaruh nomor satu di Konoha?!—Batin Sasuke ketar-ketir, panik. Wajahnya pucat pasi.
.
What The Fuck?!
.
.
.
TBC
.
.
Oke, chap 3 masih banyak misteri dan skandal... Hehehehe :)
Dan Neji datang untuk meramaikan ceritanya, hohoho...
Thanks bwt yg udah nyempetin baca n review fic aq... love you all.. muah muah
.
RnR!
