.
.
.
.
.
Hopefully
Kyungsoo POV
"Mengapa kau selalu meminta bantuanku sih?" aku menggerutu, sangat kesal.
"Karena aku ingin." Jawab Chanyeol asal.
"Tapi bukankah disini ada banyak orang? Kulihat kau berteman dengan siapapun. Kau tidak punya musuh." Aku masih saja kesal.
"Ya, sebelum bertemu denganmu aku merasa hidupku tenang.. Damai.." Chanyeol menjawabku dengan sinis.
"Ohh sebentar, bukankah itu seperti ungkapan bahwa kau menjadi sial setelah bertemu denganku? Klise, tapi maaf bung, aku bisa memahaminya." Ucapku sinis.
"Hei kalian yang disana! Bisa pelankan suaranya tidak? Atau keluarlah, kalian sungguh mengganggu." Penjaga perpustakaan menginterupsi kami berdua. Lalu kami berpindah ke ruangan yang agak sepi supaya tidak menggangu yang lain.
'Inilah alasanku, mengapa selalu dirimu. Karena kau yang selalu mengertiku.' Chanyeol membatin, menjawab pertanyaan pertama Kyungsoo.
Aku sadar, di balik pintu ruangan ini ada beberapa gadis-gadis sedang menguping. Hah? Untuk apa menguping aku dan Chanyeol, sangat tidak berfaedah pikirku. Untuk informasi saja, Chanyeol adalah laki-laki yang-emm cukup tampan, tinggi semampai, ramah kepada siapapun, dan dengan dia yang seperti ini membuatnya disayangi banyak orang disekitarnya. Dan termasuk 'disayangi' dalam artian lebih dari teman atau sahabat. Contohnya, gadis-gadis dibalik pintu ruang perpustakaan ini. Selalu membuatku menarik nafas dalam-dalam. Aku, apakah aku selalu ditakdirkan untuk menjadi perempuam yang selalu dicemburui oleh banyak gadis?
Chanyeol menyeringai, aku tak tau apa yang ada dipikiranmya saat ini. Entahlah, aku mengendikkan bahu.
"Kyungs... coba dengarkan, aku baru saja membuat melodi. Bagaimana menurutmu?" Chanyeol menyerahkan sebelah earphonenya padaku ketika aku lewat didepannya. Random sekali Chanyeol ini? Aku bahkan tidak menyadari Chanyeol yang sedang duduk. Aku diseret paksa olehnya, mendudukannku di gagang kursi yang ia duduki, memasangkan sebelah earphone ke telinga kananku. "bagaimana?"
"Ish diamlah! Kau bahkan baru saja memasangkannya ditelingaku. Dan tadi kenapa kau menyeretku random. Apakah ini memang kebiasaanmu kepada setiap orang? Tidak sopan" Aku mencibir.
"YAK JERAPAH!! APA YANG KAU LAKUKAN! KAU INGIN MEMECAHKAN GENDANG TELINGAKU HAH?!" aku memukul punggung Chanyeol asal. Sangat kesal begitu dia dengan seenak jidatnya menambahkan volume ponselnya dengan earphone yang terhubung. Benar-benar menyebalkan.
"Jangan menggerutu terus menerus. Aku meminta pendapatmu, bukan ingin mendengarkanmu menggerutu. Diamlah, dengarkan baik-baik." Ucap Chanyeol dengan tenangnya setelah mengurangi kembali volume ponselnya, aku dengan sekejap seperti terhipnotis oleh ucapannya, diam dan mendengarkan melodi yang Chanyeol buat dengan konsentrasi penuh. Meskipun aku tetap menyadari, dia sedang menatapku lekat. Aku tau itu. "Bagaimana? Aku merekam ini dengan ponselku semalam."
"Melodi yang indah. Tapi terdengar sangat memilukan." Aku mengatakan yang sejujurnya setelah selesai mendengarkan melodi yang beehenti berputar sekitar 3 menit itu. "Aku tidak pernah mendengar ini sebelumnya."
"Tentu, itu karena kau orang pertama yang kuberi dengar melodi yang kubuat ini. Harusnya kau tersanjung mendengar ini, pinguin." Ucap Chanyeol seraya mendorongku yang sedari tadi duduk di gagang kursinya. Aku mencebik. Dasar Jerapah gila sanjungan! Tapi kuakui, aku menyukainya-maksudku-aku menyukai melodinya.
Author POV
"Chans, bisakah kau membantuku membawa buku-buku ini?"
"Hmmm.. tapi aku belum selesai, kau biasanya bisa sendiri." jawab Chanyeol pandangannya masih fokus pada layar ponselnya.
Aku mendengus. "Ya sudah kalau begitu" Aku yang sebenarnya tidak begitu suka merepotkan orang lain jadi kubawa sendiri buku-buku tadi tanpa bersuara lagi. Kupikir mempunyai wakil akan lebih membantu, tapi yahh.. tidak apalah, toh aku juga bisa sendiri.
Author POV
Chanyeol sudah menyimpan ponsel di saku jaket bagian dalam yang sedang ia kenakan sekarang dan sudah siap untuk membantu Kyungsoo membawa buku-buku tadi. Dia mendongak, dan sadar sudah tidak ada Kyungsoo lagi, dan lebih parahnya buku-buku itu tidak ada juga. Ia menoleh kekanan-kekiri mencari. Nihil. Ooh apakah gadis kecil itu yang membawa semuanya sendiri? Dasar sombong! Chanyeol membantin seraya menggertakan giginya, lalu berlari keluar ruangan yang masih ramai dengan beberapa mahasiswa yang bergerombol.
Chanyeol menyusul Kyungsoo ke ruang dosen berniat untuk membantunya meski terlambat. Dan memang Chanyeol terlambat, meski kakinya panjang, meski ia sedikit berlari, tetap saja : terlambat. Dia merutuki Kyungsoo dalam hatinya Padahal kakinya pendek, kenapa jalannya cepat sekali? Sial.
Setelah menunggu didepan ruang dosen beberapa menit Kyungsoo keluar dengan nafas yang masih terengah, mungkin masih merasakan lelah dengan membawa buku yang bisa dibilang cukup banyak itu sendirian. "Ya! Kenapa kau tidak menungguku saja?" Itu yang di ucapkan Chanyeol begitu Kyungsoo keluar dari ruang dosen.
"Ya! Kau mengagetkanku. Jerapah!" Kyungsoo mengusap kasar dadanya, matanya yang seperti burung hantu itu semakin membulat ketika sedang kaget seperti ini. "Kau bilang kau masih belum selesai, jadi kubawa sendiri saja. Tidak apa-apa, aku bisa kok." Kyungsoo tersenyum dengan tulus.
"Ya, kau bisa. Tapi ada aku." Ucap Chanyeol, tangan kanannya menunjuk pada dirinya sendiri. "Bagaimana kalau orang lain melihat aku dengan pandangan mereka aku sebagai laki-laki yang tega membiarkanmu membawa buku sebanyak itu sendirian? Aku seperti tidak bertanggungjawab Kyungs, kau yang tega." Ucapan Chanyeol terdengar memilukan di telinga Kyungsoo.
"Sudahlah Chan, tidak apa-apa, sungguh." Kyungsoo jadi merasa bersalah dengan melihat Chanyeol merasa bersalah seperti itu. "Mianhae Chans, aku akan lebih sabar menunggumu lain kali, janji." Kyungsoo memalingkan wajahnya kearah lain, berusaha menghindari tatapan Chanyeol.
"Chans, apa kau masih marah padaku?" Kyungsoo masih memegangi ujung jaket Chanyeol yang dibiarkannya tidak diresleting. Sebenarnya Chanyeol sudah tidak tahan dengan Kyungsoo yang masih menanyakan hal yang sama sejak dari ruang dosen tadi. Dan Chanyeol masih mengacuhkan Kyungsoo. Kini mereka sedang berjalan menuju pintu keluar kampus.
"Aku tidak marah, Kyungs.."
"Tapi untuk apa kau terus berjalan mendahuluiku? Biasanya kau akan berjalan disampingku."
"Itu karena kau lambat, kakimu pendek. Jika kau tidak memegangi jaketku sejak tadi, mungkin kau sudah jauh tertinggal." Chanyeol menoleh sebentar kearah Kyungsoo. Mengunci Kyungsoo tepat di matanya. Membuat Kyungsoo menghentikan langkahnya, kini mereka berhadapan dengan saling memandang.
Tersadar, Chanyeol langsung memalingkan wajahnya seraya menampik tangan Kyungsoo yang ada di ujung jaketnya. "Kau membuat ujung jaketku kusut." Chanyeol menggerutu.
Kyungsoo mendengus, lalu kembali memegang ujung jaket Chanyeol. "Yayaya.. Aku tahu, kau namja berkaki panjang. Dan aku yeoja berkaki pendek. Dengan ituuu-"
"Dengan itu apa!?" Chanyeol bertanya memotong kalimat Kyungsoo cepat.
"Kau memang tidak punya sopan santun." Kyungsoo kembali mendengus, lalu melanjutkan, "Ku doakan kau akan menikahi perempuan berkaki pendek, dan sebaliknya aku akan menikahi pria tampan berkaki jenjang." Kyungsoo kali ini berjalan mendahului Chanyeol. Ooh jangan lupakan tangannya bahkan masih memegangi jaket Chanyeol, atau lebih tepatnya menyeret Chanyeol.
Sesampainya di pintu gerbang universitas mereka, Kyungsoo terlihat sedikit meremas perutnya dan itu tidak luput dari perhatian Chanyeol. "Kenapa? Perutmu sakit? Kau pasti tidak punya uang. Ya aku tau itu."
Kyungsoo mendecih, Chanyeol sebenarnya sangat perhatian, hanya saja cara penyampaiannya yang kurang pas. Bukan tipe lelaki romantis. "Ya! Uangku masih cukup sampai bulan depan meskipun Junmyeon oppa tidak memberiku uang bulanan bulan depan! Ahh tapi terserah kau sajalah aku sedang tidak ingin berdebat." Kyungsoo melepaskan jemarinya dari ujung jaket Chanyeol.
"Oh tunggu sebentar.. Apa kau sedang marah padaku? Apa salahku? Bukankah seharusnya akulah yang marah soal buku tadi?"
"Bukankah aku sudah meminta maaf?? Ahh baiklah aku akan mengulanginya. So, dengan setulus hati, saya Do Kyumgsoo meminta maaf pada anda, Park Chanyeol." Kyungsoo memaksakan senyumnya, terlihat kaku karena benar-benar sedang menahan sakit diperutnya.
"Kyungs.. apa kau tidak apa-apa? Biarkan aku mengantarmu pulang hari ini." Chanyeol mulai cemas, Chanyeol tahu Kyungsoo aneh, dan dia memanggil nama lengkapnya jika sedang serius.
"Anii.. tidak usah Chanyeol-ah. Aku baik-baik saja, aku naik bus saja. Kalau boleh aku ingin memintamu untuk memapahku sampai ke halte bus." Ucap Kyungsoo yang masih saja memeras perutnya. Chanyeol menurut.
Baru setengah perjalanan menuju halte bus yang jaraknya hanya 200 m itu tiba-tiba Kyungsoo ambruk, Chanyeol dengan sigap menangkapnya lalu menggendongnya. "Sudah kubilang Kyungs. Sudah kubilang!" Chanyeol marah, tapi Kyungsoo yang setengah sadar masih bisa mendengar ada nada khawatir dalam kepanikan Chanyeol. Kyungsoo melingkarkan lengannya ke leher Chanyeol, kepalanya ia sandarkan pada salah satu lengannya dan berharap rambut silver Chanyeol yang harum itu bisa menyembunyikan senyuman manisnya. Kau tahu? Kau yang terbaik, Chanyeol. Kyungsoo membatin, dan setelahnya sudah hilang kesadarannya.
Kyungsoo POV
"Sudah bangun, gadis keras kepala?" Suara bariton itu tentu milik Chanyeol, aku kenal betul. Oh dan dimana ini? Chanyeol mendecih, "Tidak usah sok panik, santai saja. Kau berada di apartemenku, dan kupastikan kau masih perawan. Yah tentu jika kau memang masih perawan."
"Mulutmu!" Aku meraih bantal yang tadinya jadi sandaran kepalaku, kupukul Chanyeol dengan bantal itu. "Kau itu, jika aku pingsan kau bisa membaringkanku di tempat tidur, kenapa hanya di sofa? Sungguh terlalu." Aku pura-pura memasang ekspresi kecewa.
Chanyeol mendecih, "Hah? Sungguh? Bagaimana ya ekspresimu jika aku membaringkanmu di tempat tidurku, aku bahkan tidak ingin membayangkan betapa konyolnya ekspresi wajahmu itu! Baru dibaringkan di sofa saja kau sudah sangat panik." Chanyeol berlalu menuju dapur.
Benar juga. Aku membatin, dan pipiku kurasa sudah bersemu merah, membayangkan betapa paniknya aku jika itu terjadi. Haha. Tapi aku tahu persis, Chanyeol, meskipun mulutnya sangat sadis, meski ucapannya sangat tajam dia adalah pria baik-baik. Apalagi dia sangat religius, tentu dia tahu betul mana yang baik dan mana yang buruk.
Aku juga demikian, aku tahu maksud Chanyeol bukan karena ekspresi apa yang akan ku tampilkan jika tadi dia membaringkanku di kamarnya. Dia hanya tidak ingin ada fitnah diantara kami. Lagi-lagi aku sependapat dengannya yang sangat klise itu.
Aku tersenyum melihat punggungnya yang masih sibuk didapur. Dan entah tanpa sadar aku bergumam "Future husband" Ups dan aku membekap mulutku sendiri.
Chanyeol menoleh dengan kilat kearahku, "Ne? Apa kau berbicara denganku?" Raut wajahnya lucu karena penasaran, membuatku terkekeh.
"Ahh anii.. aku sedang mengingat judul lagu." Sergahku asal, dia hanya mengangguk tiga kali dan kembali fokus pada apa yang sedang dikerjakannya.
Future Husband. Kali ini aku membatin, dan kembali tersenyum melihat punggung lebarnya.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Hehe mian, kemarin double update tapi isinya sama :DIni aku up lagi ya, chingu.. boleh minta reviewnya??With love,Arfa