Bakugou Katsuki

Robot itu memiliki tinggi yang mencapai nyaris lima meter. Warna hijau kusamnya mengingatkan Katsuki dengan robot yang ditampilkan sewaktu seleksi ujian Masuk Yuei. Mata ruby mirip laba-laba dan suara kercerdesan buatan memuakan telinga. Kedua tanganya sudah gatal ingin meledakan rongsokan besi itu. Mungkin yang membedakannya dengan robot waktu itu adalah bentuknya yang kini jauh lebih artistic. Cerberus kepala tiga dengan warna api berbeda dari tiap mulutnya. Ceh siapa sangka pecinta jeans itu memiliki ruang pelatihan semenarik ini!

Sudah seminggu sejak monster 1A itu memilih Genius Co sebagai tempat dia menjalani PKL. Dan selama seminggu itu tak hentinya giginya bergemetuk menahan kesal. Tentu saja! Siapa sudi lima jam harus duduk manis dan mendengarkan celotahan tak bermutu selagi rambutmu ditata seperti perempuan di salon. Tak sampai disitu, jam sore Katsuki juga harus terbuang percuma dihabiskan dengan ajaran 'cara menjadi Hero yang Stylish and Cool'. Dan selama itu pula tak ada sesi menghabisi atau setidaknya adrenalin yang bisa memacu setan kecil Bakugou Katsuki. Alahasil ponsel pemberian ayah tercinta remuk ketika si berisik Kirishima memposting foto di instagram ketika sedang menyelamatkan anak kecil dari amukan mutan gila.

*BLARR*

Ledakan itu menggetarkan seisi arena tanding buatan. Sekalipun terpasang segala keamanan dan kecanggihan sistem, amukan Bakugou jelas-jelas satu hal yang tak terpikir oleh sang peracang. Terlebih jika Kosei Bakuha mencapai titik tertinggi menyisakan rongsokan besi gosong yang tadinya adalah perwujudan Cerberus yang gagah.

Perlu diketahui, ruang pelatihan itu dibangun di bawah tanah dengan luas yang mungkin seluas GBK. Tempat itu juga dilengkapi peralatan modern untuk mendungkung kinerja dan fungsi ruangan tersebut dibuat.

"Sialan! Ini masih belum memuaskan apapun!"

Seperti biasa Katsuki selalu mengeluarkan semuanya dengan suara keras dan kasar.

Katsuki terus menginjak dengan kesal sisa-sisa lempengan besi, berharap Cerberus itu memiliki kemampuan regenerasi yang dapat membuat dirinya bisa terus memlampiaskan semua emosi kekesalannya. Setidaknya PKL-nya membuahkan hasil, sekalipun harus menyelinap tiap malam seperti maling dan menjadikan pusat pelatihan milik pencinta Jeans itu tempat memuntahkan semua gejolak emosinya.

"Jadi benar rupanya? Kalau ada yang menyusup dan mengacuhkan tempat ini beberapa hari terakhir," suara tak asing itu membuat Bakugou mendecak sebal. Kenapa dari semua orang, harus dia yang menyebabkan emosinya meledak itu muncul. Melihat wajahnya saja semakin membuat timbunan frustasinya meningkat.

"Apa!? Kau tidak suka cara ku untuk menjadi Hero!?"

Best Jeanist diam menatap Katsuki sebelum beralih ke rongsokan besi yang tadinya adalah Cerberus. Dia sedikit kecewa, padahal robot itu sudah dia persiapkan sebagai kejutan untuk masa akhir PKL tahun ini.

"Sekalipun aku bilang tidak suka," Best melangkah tanpa takut Katsuki melakukan tindakan macam-macam. Dia masih menyempatkan diri menata rambut kebanggannya. "pada akhirnya kau tak akan berubah dalam waktu beberapa hari. Tugasku hanyalah mengarahkan bibit-bibit baru Hero masa depan."

Katsuki tertawa mengejek. "Oh jadi ini saatnya untuk waktu menasehati? Luar biasa sekali. Kenapa kau tidak menjadi psikolog dan bermain dengan orang-orang tidak waras !? cukup aku sudah muak dengan semua ini!"

Katsuki berjalan melewati Best begitu saja, seakan tak memiliki kesalahan apapun. Setidaknya emosi dalam hatinya sudah sedikit tersalurkan dengan cara yang di suka. Masa bodoh dengan aturan Aizwa sensei tentang 'menjaga sikap'. Bakugou Katsuki bukanlah orang yang akan mau tunduk perintah orang lain begitu saja.

Ketika akan menekan tombol keluar, tiba-tiba saja tralis hitam meluncur turun dan nyaris mengenai tangan kanannya. Katsuki bisa saja terluka jika dia tak memiliki ketangkasan yang bagus. Katsuki mundur dan melongok. Menatap pria di belakangnya dengan tatapan menusuk.

"Apa ini? aku tak punya waktu untuk meladenimu sialan!" kata Katsuki.

Best Jeanist memasukan remote kecil ke dalam saku dan berjalan ke arah meja kecil yang tiba-tiba muncul dari dinding putih. "Kebetulan sore tadi aku belum menikmati secangkir teh hangat. Bagaimana kalau kau menemaniku? Kita bisa mengobrol santai."

"Huh!? Kau ingin melucu?" Katsuki mengakat sebelah alis. Dia benar-benar tidak bisa memahami pria ini.

Best tidak memperdulikan dan dengan sekali tepukan sebuah kursi muncul dari lantai. Sebelumnya kerusakan yang diseabkan oleh Katsuki telah terlebih dahulu disingkirkan.

Best duduk di salah satu kursi, menyiapkan racikan teh dan dalam waktu singkat aroma segar daun teh tercium. "Duduklah. Tidak sopan mengacuhkan pemilik rumah yang sudah menjamu tamunya susah payah."

Katsuki masih diam dan melihat Hero nomor empat itu. Dia benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan orang yang sudah seenaknya mengatakan 'aku tidak suka dirimu' sebagai salam pembuka pertemuan mereka.

"Keluarkan aku dari sini." Katsuki masih tetap teguh dengan pendiriannya.

"Tidak sebelum kita mengobrol."

"Aku tidak punya waktu meladenimu sialan!" emosi Katsuki mulai pecah.

Best masih menjaga ketenanganya. "Hanya meminta waktumu tak lebih lima belas menit. semua nilai minus-mu dalam PKL akan ku hapuskan, dengan begitu kita impas bukan?"

"Kau menyogokku?"

"Aku hanya memberikan beberapa pilihan disini."

Katsuki berdecak sebal dan menyumpah serapah terang-terangan tak peduli Best itu mendengarkannya atau tidak. Dia mendekat dan duduk dengan kasar masih menatap Best dengan tatapan memusuhi. "Katakan apa maumu!"

Best menyesap teh nya perlahan. "Aku heran bagaimana teman sekelasmu betah memiliki anggota kelas sepertimu."

"Itu kerana mereka bodoh!"

"Pintar dan cakap, namun tertutupi oleh harga diri yang salah jalur dan arogansi. Aku bisa menjabarkan banyak hal tentangmu."

"Sudahlah pecinta jeens! Katakan apa mau mu. Kalua Cuma sekedar mengejek, aku bisa menyerankan hal yang lebih bagus." Katsuki memamerkan letupan ledakan di kedua telapak tangannya.

Best menghela nafas pelan, menatap Katsuki sejenak sebelum menuangkan isi teh keduanya. Dia mencobah menyusun kata yang tepat agar pemuda di depannya ini tidak meledak-ledak.

"Aku mengenal banyak jenis Hero. Mulai dari mereka yang benar-benar mengabdi demi masyarakat, mencari harta, ketenaran ataupun yang paling konyol seperti menjadi hero karena hobi…"

Best terdiam sejenak dan menyesap teh nya. Katsuki masih diam walau dari ruatnya kentara dia sedang menahan emosi untuk tidak segera mengakari pembicaraan membosankan ini. Katsuki sama sekali tak menyentuh apapun di atas meja.

"Dan aku bisa melihat jelas dalam dirimu… ada ambisi yang bisa disamakan dengan milik Endeavor. Oh mungkin jauh lebih dalam, katakanlah balas dendam?"

Mendadak atmosfir dalam ruangan ini panas seakan ada yang menyalakan tungku besar. Padahal pendingain ruangan masuh berfungsi normal. Best masih terus menatap anak didiknya. Dia tahu Katsuki sedang menahan emosi untuk tidak langsung memukulnya.

"Tahu apa kau tentangku," kata Katsuki penuh penekanan.

"Tidak banyak. Sekalipun Yuei mengirimkan data dirimu. Itu hanya sebatas nilai serta perkembanganmu sebagai calon Hero. Aku hanya melihat dari apa yang sudah kualami dan, hero sepertimu tak akan pernah bisa menemukan kebahagian."

Meja itu langsung hancur berkeping-keping. Cangkir mahal yang Best dapatkan dari cina kini hanya tinggal pecahan beling tak berharga. Pahlawan nomor empat itu masih tetap tak bergeming. Dia memang sudah yakin Katsuki akan bersikap seperti ini.

Katsuki menghancurkan meja dan tertawa dengan suara yang jauh dari predikat baik seorang Hero.

"Menemukan kebahagian katamu! Memangnya kau tahu seperti apa kebahagiaan yang kucari huh! Hero sialan!"

"Bakugou dengar. Aku tidak tahu kebahagian seperti apa yang kauinginkan. Yang ingin kukatakan adalah kau harus menurunkan sisi negatifmu. Hero bukanlah ada untuk dirinya sendiri. Mereka ada untuk masyarakat. Mengabdi demi kepentingan umum.

"Aku juga tidak mengerti ambisi milikmu. Tapi sorot mata yang kau miliki adalah milik orang-orang yang pada akhirnya akan terjermus ke dalam lembah kejahatan."

Katsuki berjalan mendekat hingga pahlawan pro dan calon pahlawan itu hanya berjarak beberapa centi. Sejak lima tahun Best mendapat ijin sebagai pengawas PKL, tak pernah sekalipun ada seorang murid seperti Bakugou katsuki.

Pemenang olimpiade olahraga itu hanya diam. Tapi, ekspresi wajah Katsuki sekarang sudah menunjukan semua apa yang dirasakan hatinya. Emosi bercampur yang tak akan bisa reda hanya dengan pukulan atau perkataan.

Katsuki pergi begitu saja. Dia berjalan ke arah pintu keluar setelah dengan begitu mudah menghancurkan tralis besi. Best tidak mencegah dan membiarkan Katsuki bertingkah seenaknya seperti suara ledakan yang kini dia dengar dari arah lorong.

"Sepertinya aku belum bisa menjadi guru yang baik," Best berjalan memungut pecahan cangkir dan memasukannya ke dalam plastik sebelum dibuang ke saluran pembuangan. "Kalau kau masih hidup… apa yang akan kau lakukan untuk menghadapi murid seperti ini. Ne, Midoriya-senpai."

Dan hingga akhir masa PKL, seorang Best Jeanist belum bisa merubah Bakugou Katsuki.[]