Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Warning : Gaje. OOC, TYPO, de el el.

*SasuHina*

==== Don't like don't read====

*Left Heart*

Ino masih sibuk merapihkan rambutnya, terbiasa tampil sempurna tanpa ada celah sedikitpun bagi mereka yang ingin berkomentar.

Setelah mengenakan seragam sekolahnya Ino bergegas ke bawah, supirnya sudah menunggu sejak tadi, tidak ada kebiasaan sarapan yang terjadi pada kelurga umumnya.

Suasana sekolah cukup ramai, seperti biasa para siswa selalu berbisik tentang kecantikkan Ino.

Lain halnya dengan Hinata yang terlihat muram, lingkaran hitam di bawah matanya sungguh menambah kesan kusut, ia baru saja menginjakan kaki di gerbang dan seseorang sudah mengagetkannya dengan bunyi klakson hingga ia hampir terjungkal.

Menggeram kesal dan siap memaki orang yang telah membuat paginya semakin terasa menyedihkan.

"Uchiha!" Seru Hinata saat melihat seseorang yang tengah tersenyum membuka helmnya,jika saja Hinata tidak memiliki pengendalian diri yang baik ia bisa langsung mimisan melihat Sasuke yang cukup mempesona pagi ini.

"Kau terlihat lucu dengan ekspresi seperti itu." Suara gelak tawa Sasuke terdengar, memancing perhatian seluruh siswa.

"Huh." Hinata mengembungkan pipinya, kemudian berlalu meninggalkan Sasuke dengan tawanya, ia tahu jika tetap berdiri di situ mungkin sesuatu akan terjadi. Sementara Ino hanya bisa termenung memandang Sasuke yang tertawa hanya karena hal sepele dari Hinata.

Semalaman Hinata tak bisa tidur, alhasil ketika pagi datang wajahnya tak berbeda jauh dengan Sadako. Jika saja ia tak membantu ayahnya memasukkan data-data mengenai persediaan obat di apoteknya mungkin Hinata bisa tertidur nyenyak.

Dibanding mengikuti pelajaran sejarah di jam pertama, Hinata lebih memilih istirhat di UKS. Percuma dipaksakan pun kemungkinan besar ia akan tertidur di kelas, Hinata bahkan tak masuk kelas, ia langsung keruang guru dan meminta izin pada Azuma-sensei bahwa ia tidak bisa megikuti pelajaran hari ini.

Dan di sini lah Hinata berbaring, di ruang UKS. Di tempat dimana ia bisa melepaskan sedikit penatnya, namun baru saja ia berbaring matanya kembali membulat mendapati seseorang yang ia kenal tengah mengisi ranjang di sampingnya.

Sabaku No Gaara.

Tengah tertidur lelap dengan nafas teratur, Hinata tak ambil pusing ia lalu menarik gorden yang menjadi pembatas dirinya dengan Gaara.

.

.

.
.

Gaara datang sejak pukul 6, Insomnia kembali menyerangnya semalam, ia memutuskan untuk bolos di jam pertama dan kedua, tepatnya lebih memilih untuk istirahat di UKS.

Dan saat bel istirahat berbunyi Gaara ingin kembali ke kelas, sebelum mandapati Hinata yang kini terlelap dengan wajah cantiknya, Gaara tak pernah bermimpi bisa melihat pemandangan yang kini menyejukan hatinya, tanpa sadar kakinya melangkah mendekati Hinata, tangannya terulur mengusap pelan pipi Hinata dan merapihkan anak rambut yang menutupi wajah Hinata.

Seperti mendapati Oasis di tengah padang pasir, rasa lelah karena kurang tidur hilang seketika. Gaara masih terdiam menikmati pemandangan di depannya, tidak peduli jika akan ada orang yang mendapatinya tengah memperhatikan Hinata.

Sementara Hinata yang tengah tertidur terus bergumam mendapati intesintas sentuhan di pipinya semakin bertambah. Dan amethys-nya mengerjap bebraapa kali, Gaara sedang tersenyum padanya, di dalam UKS.

"Apa yang sedang kau lakukan?" ucap Hinata seraya bangun dari tidurnya, mengucek pelan kelopak matanya. Hinata tidak terlalu terkejut mendapati Gaara di UKS.

"Menunggui putri tidur mungkin" Gaara dengan santaikanya mengangkat kedua bahunnya " tapi sayangnya putri tidur sudah bangun sebelum aku menciumnya"

Blush...

Gaara tertawa melihat wajah Hinata yang merona dan Gaara menyukai itu, Hinata memukuli Gaara dengan bantal UKS, agar Gaara berhenti tertawa.

"Hei hentikan..!" ucap Gaara memegangi tangan Hinata, Amethyst menghipnotis sang Jade dengan pesonanya, bantal yang berada di tangan Hinata kini jatuh terabaikan di lantai.

Jika saja ada teori yang tak dapat Gaara mengerti dengan otak pintarnya adalah teori yang menjelaskan keadaannya sekarang, apa ia perlu menghitung kecepatan jantungnya dengan Hukum Newton? Walaupu itu sama sekali tak ada dalam rumus newton.

Jantung Gaara semakin berdetak kencang seiring wajahnya yang perlahan mendekat pada wajah Hinata. Bolehkah ia lakukan ini, mengecup pelan bibir mungil sang amethyst.

Wajah Hinata menegang, ia bukan gadis polos yang tak mengerti maksud tatapan Gaara, wajah Gaara yang semakin mendekat membuat tubuhnya kaku seketika, bahkan saat tangan Gaara kembali membelai lembut pipinya ia tak bisa berbuat apa-apa.

Sebelum akhirnya pintu UKS terbuka dan Sasuke terkejut dengan apa yang tengah ia lihat, Gaara terlihat kikuk dan Hinata langsung menjauh menyingkirkan tangan Gaara.

Sasuke menelan ludah, tatapan curiga ia layangkan pada kedua temannya. Niat awalnya ia ingin menemui Gaara, tapi apa yang ia saksikan malah hal di luar dugaan.

"Aku ingin ke toilet" Hinata bergegas meninggalkan UKS yang penuh dengan aura ketegangan.

Namun sebelum Hinata berhasil melewati pintu keluar, tangannya lebih dulu dicekal oleh Sasuke. Tanpa melihat Gaara, Sasuke menarik Hinata keluar UKS, hatinya bergemuruh hebat. Ia sungguh kesal dengan apa yang ia lihat, Sasuke yakin penyebab kekesalanya karena kebersamaan Hinata dengan Gaara akan menyakiti Ino.

Sasuke menghempaskan tangan Hinata di belakang taman sekolah yang cukup sepi. Amarah yang ada dalam hatinya siap untuk dikeluarkan."Jadi pria yang kau sukai adalah Gaara? Karena dari itu kau menyuruh ku untuk terus mendekati Ino agar kau bisa leluasa mendekati Gaara?"

Tangan Hinata terkepal, hatinya seperti diremas oleh tangan yang terbalut duri.

"Walau pun aku menyukai Ino, namun bukan berarti aku ingin memisahkan Gaara dari Ino, aku tak menyangka kau sepicik itu."

Tangan kanan Hinata terangkat namun Sasuke berhasil menghentikan tangan Hinata yang ingin berlabuh di wajahnya, Sasuke mendecih sebelum akhirnya tangan kiri Hinata yang bebas berhasil menampar keras wajah Sasuke.

Ketika Hinata melewati Sasuke, tangannya masih bergetar menahan amarah, perasaan dingin menyebar ke seluruh hatinya. Pada hal awalnya Hinata perlahan ingin membuat Sasuke melupakan Ino dan menjadikan Hinata sebagai sandarannya. Tapi sepertinya jarak antara ia dan Sasuke semakin jauh tak menyempit sedikitpun.

.
.

.

.

Rasa bersalah menyelimuti hati Sasuke, bukankah kah ia seharusnya tak marah pada Hinata. Gadis itu sungguh tak bersalah apapun, ia hanya menyukai Gaara. Bukan kah kita bebas menyukai siapapun, lalu kenapa ia harus marah pada Hinata? Apa karena Ino? Itu hanya sebuah peralihan yang menyedihkan, bahkan sejak istirahat Sasuke tak melihat Hinata kembali ke kelas.

Sekarang ia hanya menghabiskan waktu bersama Ino di Cafè langganannya berdua tanpa Gaara, bukankah seharusnya Sasuke senang. Tapi yang ada sejak tadi ia malah menekuk wajahnya seperti sekarang.

"Kau adalah pemuda yang baik, tapi kenapa aku jatuh cinta pada orang lain, bukan padamu yang selalu ada untukku" ucap Ino menyadarkan Sasuke dari lamunanya.

"Aku mencintainya, kau tau aku sangat mencintai Sabaku No Gaara" ucap Ino lirih, Sasuke tak bergeming, lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan sepatah kata.

.

.

.

.

Sudah beberapa hari ini Hinata menghindari Sasuke, ia lebih memilih ikut denga Sakura dibanding menghabiskan waktunya dengan Sasuke dan yang lainnya.

Tapi sepertinya keahlian Hinata menghindar tidak terlalu baik, karena sekarang ia terjebak di ujung koridor dimana Sasuke sudah menunggunya. Hinata mengepalkan tangannya, dalam hati ia meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melewati Sasuke yang tengah berdiri dengan tatapan memohon.

"Hinata." Sasuke menghalangi jalan yang akan Hinata lalui, tak peduli jila ia akan menjadi pusat perhatian, yang terpenting sekarang ia harus meminta maaf pada Hinata.

Namun Hinata malah mencari celah lain agar bisa melewati Sasuke, Hinata berjalan bergegas kemanapun yang penting ia tak bertemu dengan Sasuke, air matanya menetes menunduk lebih dalam agar tak ada orang lain yang melihat kesedihannya.

Namun sebelum tangis nya pecah tubuh Hinata sudah terjebak dalam dekapan hangat seseorang, aroma musk menyeruak di indra penciuman Hinata.

Gaara, pemuda itu kini tengah mendekap erat tubuh Hinata yang tengah terisak pelan, meyembunyikan wajah sedihnya dari semua orang, Gaara bukannya tak menyadari perubahan sikap Hinata sejak kejadian di UKS.

Apakah Hinata bisa mendengarkan hatinya? Bisakah Hinata melihat kerinduan di mata Gaara?

Rasanya Gaara bisa gila jika ia memikirkan hatinya yang sudah jatuh pada gadis Hyuuga, lalu kenapa Hinata terus lari darinya? Tak bisakah Hinata tetap di sisinya, tak perlu lagi menjadi orang asing baginya. Dan untuk kali ini biarlah Gaara memeluk Hinata, mencoba meredam rasa sakit yang tengah dirasakan Hinata.

Untuk kedua kalinya mata Sasuke harus teriritasi oleh pemandangan di depannya. Gaara dengan erat mendekap tubuh mungil yang tengah bergetar. Perasaan tak rela menyergap hati Sasuke, semakin lama ia menatap Gaara dan Hinata itu malah semakin membuatnya kesulitan untuk bernafas.

Jadi inikah yang membuat Hinata tak ingin bicara, karena ia benar-benar menyukai Sabaku No Gaara. Entah kenapa kenyataan itu sulit diterima oleh Sasuke, bisakah ia berharap bahwa pemandangan yang tersaji di depannya hanya ilusi bukan kenyataan yang membuat hatinya sesak.

TBC

How ? how? Update kilat nihh, entah kenapa lagi pengen bikin Hinata yang tersakiti dengan hurt tak jelas ini.

Terimakasih buat yang udah review di chap sebelumnya, terimakasih juga buat yang udah Fav and Foll.

Dan ini balasan review kemarin.

keita uchiha : Sasuke emang ga peka di sini, sengaja biar Hinata sedikit tersakiti. Wihh kalo Gaara jadian sama Hinata keren juga, tapi nnti Gaara sakit hati dong disangka pelampiasan semata. Heheheheh

sasuhinagaalover : Aku juga seneng kalo rival Sasuke itu Gaara soalnya suka seneng gmana gitu kalo Hinata direbutin cowo ganteng yang minim ekspresi, Ini udah lumayan banyak momen GaaHina nya, tapi main pair tetep SasuHina. Heheheheh.

keiKo-buu89 : Iya aku ga mau Hinata terlalu menunjukan kalo dia suka Sasuke.
heheheh Salah, Gaara tetep pilih Hinata kok. Walau Hinata pilih Sasu yang tak peka #Dichidori Sasuke.

NaruDEmi : Makasih tepuk tangannya, :*... Ini udah lanjut, kilat lagi :)

ryuga gremory : Ini udah up kilat silahkan baca. :)

nxnxmx : Ini udah up :) :)

HimeAyhu : Wuaaahh maaf jika update kmaren lama Ayhu-san, tapi ini cepetkan? :)) aku memang suka malas mengetik walau ide berjubal. Tapi kalah dengan rasa malas, nanti Sasu sadar perasaan Hinata kok tapi perlahan :))..

Nurul851 : Iya ini SasuHinaGaaIno, tapi yang pasti endingnya SasuHina kalo GaaIno nnti tak pikirin lagi *Smirk*.
Typo? Pasti selalu ada, maaf atas ketidaknyamanan membacanya. :))

geminisayanksayank : Ini udah update Gemini-san :))

hyuga ashikawa : kalau udah baca chap ini pasti udah tau kan Hina suka siapa? :))). Heheh

airestiyulianti : Ini udah up, Hinata ga terlalu lemah kok disini, hanya saja ada dimana ia tetap akan menangis.

sukenata : ini up, aku akan bertanggung jawab tenang saja. Semoga chap ini masih berkenan di hati #abaikanmulai tak jelas.

Baby niz 137 : Dan kata-kata panjangin adalah kata yang sedikit berat untukku, semoga saja ini panjang walau sedikit ragu *garukpala*.

nn : Ini update.. Silahkan membaca. :))

kiranakim : benarkah bikin baper? Wuiihh jangan kiranakim udah pernah ngalamin apa yang Hinata alamin #soktahu. :))

NoveHime : Makasih udah suka, iya ini cinta segi empat, wahh Nove-sa tau perasaan Hinata? Sakit dong? Sini tak peluk #pukpuk.

shihushimayu2 : Iya segi empat. Ini memang sengaja dibikin hurt tapi hurt sederhana karena cinta. Heheheh, Gaara suka Hina? Klo udah baca chap ini pasti tau Gaara suka siapa. :)

Rini Andriani Uchiga : Iya segiempat, tadinya mau segilima sama aku gitu ikutan #ditimpuk sama Rini-san. Menurutku yang lebih kasian itu Hinata, tapi silahkan di baca sendiri. Heheheh

Thankyou,,,

Seeeeeeeee uuuuuu next chap.

Okokokokokokok.