Syalalala~ Mendekati klimaks~

Kepada yang sudah review selama ini, terima kasih banyak ya... Sungguh membuat saya terharu :3

Enjoy! ^^


Annasthacy Chashyme (c) 2010

Pandora Hearts (c) Mochizuki Jun

A Pandora Hearts FanFiction

Supernatural/Mystery, T

Warning: Gaje, OOCness, chara death

RENAISSANCE


Jumat, 13 Oktober pukul 17.31

"Alice! Ayo pulang, kita tidak boleh berlama-lama di sekolah. Ingat, penculik berantai itu masih berkeliaran. Kita harus sampai rumah sebelum matahari tenggelam," ajak Sharon. Alice mengangguk dan cepat-cepat membereskan peralatan menggambarnya. Namun sayang, tangannya menyenggol sekotak cat air, yang isinya langsung jatuh berantakan.

"Aduh! Gawat, bagaimana ini?" gumamnya bingung. Pasti butuh waktu lama untuk membereskannya. Jelas saja, karena beberapa tube cat menggelinding jauh di sekeliling ruangan.

"Ayo cepat bereskan, aku tidak mau dimarahi besok pagi," ujar Sharon yang juga menunduk untuk memungut beberapa tube yang berhenti di dekat kakinya. Setelah kira-kira sepuluh menit merangkak-rangkak di bawah meja, akhirnya semua tube cat sudah kembali ke tempatnya semula. Alice dan Sharon segera menutup jendela, mematikan lampu, kemudian mengunci pintu dari luar.

Lorong sekolah sudah sepi. Cahaya temaram hanya menyisip masuk melalui sela-sela jendela yang menampilkan bentuk matahari tinggal setengah di ufuk barat. Udara terasa dingin dan membekukan, ditambah dengan segala hawa seram yang melingkupi sekolah.

"Ternyata, sekolah di malam hari itu menakutkan ya...," bisik Alice pada Sharon. Yang dibisiki hanya mengangguk setuju. Mereka tidak berani bersuara keras, seakan segan untuk memecah kesunyian yang membekukan ini. Suara langkah mereka buat sepelan mungkin. Dengan langkah lebar dan cepat mereka buru-buru berjalan ke arah pintu masuk sekolah.

Kedua gadis itu menghela napas lega saat melihat pintu gerbang tinggal sepuluh meter lagi. Mereka semakin mempercepat langkah, bahkan hampir berlari. Sampai Sharon tiba-tiba memekik keras. Dan ia terjatuh. Alice baru akan membuka mulut untuk berteriak saat suara yang familier terdengar.

"Sharon! Alice! Ini aku!"

Mereka sesaat bengong, namun begitu mengenali rambut silver dan mata merah itu, mereka sekali lagi menghela napas lega.

"Break, kamu benar-benar mengagetkan kami!" kata Sharon sambil berusaha berdiri. Break meraih tangannya, membantunya.

"Aku hanya khawatir, tahu! Sejak tadi aku menunggu di sini, kalian belum keluar juga...," sungut Break yang mengisyaratkan agar mereka mengikutinya berjalan keluar area sekolah.

"Sejak tadi? Maksudmu, sejak pulang sekolah?"

Break tidak menjawab. Dia malah membuka bungkus permen lolipop berwarna merah dan terus berjalan. Sharon dan Alice saling bertukar pandang, bingung sekaligus senang karena ada cowok yang menjaga mereka.

"Syukurlah si penculik tadi tidak muncul," komentar Sharon lega, disambut anggukan setuju Alice. Meskipun begitu, Break tidak bereaksi, dia malah menatap dalam-dalam ke arah Alice. "Bukankah begitu, Break?" lanjut Sharon.

Break melirik Sharon sebentar, dan berkata, "Tidak semuanya adalah kebetulan." Dan ia pun pergi.


Jumat, 13 Oktober pukul 23.09

Jarinya menelusuri dinding yang berdebu itu. Terus, terus, tidak berhenti. Dan akhirnya ia menemukan apa yang dicari. Ia mencabut pasak mini itu – cukup susah payah, untung ia membawa peralatan yang layak – dan mengamatinya. Kegelapan bukan masalah, ia sudah terbiasa.

Pasak itu terbuat dari perak murni. Ringan namun kuat dan berbahaya. Dengan senyum hambar ia kembali mencari-cari di sekitar dinding itu. Ia segera menemukan pasak lain, lagi, dan lagi, sehingga pasak yang ia temukan berjumlah empat batang.

"Satu lagi..." gumamnya.

Akhirnya ia menemukan pasak terakhir, tapi pasak ini beda. Ia tidak bisa menariknya, meski dengan cara apa pun. Ia tidak kehabisan akal; ia sudah memperkirakannya. Ia menunduk sedikit, sampai pasak itu berada tepat di depan hidungnya. Dan ia berbisik. Menggumamkan sesuatu yang tidak bisa didengar.

Apa pun yang ia bisikkan, yang pasti hal itu manjur. Dengan satu tarikan mudah, pasak itu terlepas dari tempatnya semula, dan dinding yang awalnya berdiri kokoh itu perlahan menghilang. Seakan-akan sejak awal memang tidak ada. Seolah dinding itu hanya ilusi semata.

"Sudah kuduga..." Ia menyeringai kecil melihat apa yang tadinya disembunyikan di balik dinding tersebut.


Jumat, 13 Oktober pukul 23.30

Sepasang kaki berlari melintasi lorong yang gelap ditelan malam. Napasnya sudah terengah, tapi ia tidak berhenti. Matanya yang kebiruan menyiratkan ketakutan yang teramat sangat. Bibirnya bergerak pelan, seperti berkomat-kamit menggumamkan sesuatu.

"Vincent... Vincent..." ia hampir terisak mengingat rupa terakhir pemuda yang sungguh dikasihinya itu. Menakutkan. Kejam. Tidak terlukiskan dalam kata-kata perasaan Echo saat itu. Meski tubuhnya tak lagi ada di depan Echo, otaknya terus-terusan memvisualisasikan kondisi Vincent.

Kering. Putih tanpa warna. Mata yang terbelalak tanpa melihat apa pun lagi. Tangan yang mencengkeram gunting kesayangan, namun tak sempat menghujam si pelaku. Dan luka berupa dua tusukan dalam di lehernya. Tempat orang itu menghisap habis seluruh darah, seluruh nyawa Vincent.

Otaknya juga masih memutar ulang gambar orang itu mengelap bibirnya yang merah. Dengan senyum mengerikan.

Tiba-tiba, sesosok bayangan bagaikan terbang melewati atas kepalanya. Dan bayangan itu mendarat tepat di depannya, memaksanya berhenti berlari. Dengan mata terbelalak ia menatap sosok itu.

"Echo~ Kenapa lari dariku?" suara merdu sosok itu, yang dulu sungguh membuatnya terpesona, kini hanya semakin menegakkan bulu kuduknya. Echo gemetaran di depan sosok yang berkilau ditimpa cahaya bulan purnama di hadapannya itu.

"Tidak... Echo tidak akan mengikutimu!"

"Tidak?" sosok itu tertawa pelan. "Tapi Vincent sudah berada di sana... Kamu tidak mau ikut dengannya?"

Echo menggeleng keras. "Echo lihat apa yang kamu lakukan padanya! Echo tidak akan menurut padamu! Kamu hanya akan membunuh Echo!"

Suara tawa merdu – namun mengerikan – menggema di sepanjang lorong gelap itu. "Kenapa tidak, Echo? Kamu akan damai selamanya, bersama Vincent... Hmm?" nada suaranya sungguh menggoda, namun Echo tidak akan tertipu kali ini. Dia tetap bergeming.

Tampaknya sosok itu sudah kehabisan kesabaran. Senyum manisnya berubah mengerikan. Ia mengulurkan tangan, kuku panjang dan tajam siap mencabik tubuh kecil Echo. "Apa boleh buat... Aku harus memaksamu... Dan karena kamu sungguh keras kepala, tampaknya aku akan bermain-main denganmu dulu..." Dengan satu gerakan cepat, ia menerjang ke arah Echo. Otak gadis itu menyuruhnya untuk lari, kabur, atau menghindar, tapi tubuh kecilnya tidak mau menurut. Ia sudah terlalu lelah; melawan pesona sosok tersebut amat menguras tenaga.

'Mungkinkah ini akhir dari Echo?' batinnya lemah. Ia sudah pasrah menerima ajalnya.

Tinggal sedikit lagi, kuku tajam itu akan mengoyak tenggorokannya, namun keajaiban datang. Echo bisa merasakan tubuhnya direnggut oleh seseorang, dan membawanya menghindar dari kuku mematikan tersebut.

Echo mengerjapkan mata, berusaha mengenali orang yang menyelamatkannya sebelum kesadarannya hilang. Rambut silver yang menutupi sebagian wajah... Iris merah... '...Break?' Dan ia pun langsung menutup mata.

"...Kau berani mengganggu kesenanganku."

Break meletakkan tubuh Echo dengan hati-hati di pinggir lorong, lalu membalikkan badan sehingga ia sepenuhnya menghadap ke sosok yang kini tengah merengut kesal. "Aku tidak bisa membiarkanmu berlaku seenaknya lagi..." ucapnya lirih.

Sebelum sosok di hadapannya bisa bereaksi, Break meraih pegangan di tongkatnya, melepaskan semacam kait, dan menarik keluar sebilah pedang dalam sedetik. Dan sesaat saja ia sudah merengkuhnya dari belakang, dengan bilah pedang menempel di leher, siap menebas.

Break menyebut sebuah nama, tepat di telinga sosok itu.


Yaay! Chapter three: ACCOMPLISHED!

Mulai dari chapter inilah OOC mencapai klimaksnya! *kicked*

Dan... chapter ini rasanya out of place banget ya? Cuma yang bagian terakhir yang memang penting. Baru saya sadari saat akan publish... Dan karena kemalasan yang merajalela, saya biarkan saja seperti itu~ *whistle*

Oh alright, reviews please?

Thanks! ^^