[bagian tiga]

.

.

Sasuke menolehkan kepalanya ke samping untuk melihat Sakura yang kini sudah tertidur lelap dengan dada yang naik-turun teratur dan lambat. Wajahnya saat tidur manis sekali dan begitu polos. Sasuke tidak mampu menahan diri untuk tidak tersenyum tipis. Sejenak dia pandangi wajah gadis itu sebelum pandangan matanya menangkap pigura foto yang diletakkan meja di samping kepala Sakura.

Dari posisinya, Sasuke bisa melihat dengan jelas foto apa itu. Pemuda itu mengerutkan kening melihatnya, merasa jengkel, geli, sekaligus malu secara bersamaan. Rasa jengkel karena bagaimana bisa-bisanya foto semacam itu dipasang di sana. Rasa geli karena secara langsung melihat terjadinya pernikahan anak-anak, yang juga menjadi tambahan bukti baginya. Rasa malu karena objek dalam foto itu tak lain adalah dia dan Sakura.

Foto itu berukuran 4R, dibingkai pigura kayu hitam sederhana, dan kacanya bersih mengilap. Objek fokus foto itu adalah dua orang anak, Sasuke dan Sakura. Dalam foto itu, Sakura mengenakan kimonopernikahan tradisional Jepang, shiromuku, dengan sulaman bunga berwarna biru di tepian tudungnya. Sasuke sendiri memakai hakama biru tua. Foto itu diambil dengan latar belakang sebuah kuil. Sasuke menebak, itu pasti kuil tempatnya menikah. Mereka berdua berdiri berhadapan. Sakura yang lebih pendek darinya berdiri di atas sebuah dudukan kecil yang membantu mengurangi selisih tinggi badan di antara mereka. Beberapa rangkaian bunga, kebanyakan baby's breath dan mawar merah, juga tertangkap kamera.

Ketika melihat foto itu, tak pelak Sasuke merasa malu. Wajahnya sekarang terasa menghangat dan sudah bisa dipastikan muncul rona-rona merah tipis di kedua pipinya. Itu memang foto biasa, kalau saja itu bukan foto dirinya yang tengah berciuman bibir dengan Sakura dengan begitu polosnya. Kedua mata mereka terbuka, setengah terkejut setengah bingung. Di foto itu wajah Sasuke terlihat merona sangat merah—hingga tidak wajar rasanya.

Pemuda itu menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung dan jengah. Untung saja Sakura sudah tertidur dan tidak sampai menjadi saksi atas wajahnya yang sudah tidak karuan ini. Ah, ingatkan dia untuk mencari ibunya tercinta. Wanita itu adalah satu-satunya pihak yang bisa menjadi tersangka pemasangan foto memalukan itu. Sasuke menggerutu dalam hati.

Dia kembalikan pandangannya ke arah Sakura. Tiba-tiba saja tubuhnya sudah bangun dari posisi duduk dan bergerak menuju sisi ranjang tempat Sakura berbaring. Ditutupnya separuh bagian jendela besar yang ada di belakang ranjang, kemudian berdiri sejenak di sebelah kaki gadis itu sebelum membungkuk ke arahnya. Tangan kanannya diselipkan di bawah pundak Sakura dengan hati-hati dan perlahan supaya tidak membangunkan gadis itu, sementara tangannya yang lain menyelinap ke bawah paha.

Dengan satu sentakan yang halus dan mantap, Sasuke menegakkan tubuh dan Sakura pun terangkat sepenuhnya dari ranjang. Lalu, sekarang bagaimana caranya menyibakkan selimut yang terhampar di atas ranjang? Dia hanya punya dua tangan dan sekarang keduanya sedang digunakan.

Sasuke mengangkat satu kakinya, kemudian menendang pinggiran selimut hingga kain tebal itu tersingkap. Dia membungkuk lagi, memosisikan Sakura di atas ranjang dengan hati-hati. Ditariknya selimut tadi hingga ke batas perut Sakura. Sakura kemudian diam memandang wajah tidur Sakura. Bahkan sebelum otaknya sempat mencerna, tangannya sudah terlebih dulu bergerak mengusap pipi gadis itu. Hanya sebentar, setelah itu dia segera berjalan keluar tanpa suara dan menutup pintu kamar.

xox

Sakura mengerjapkan mata berkali-kali. Rasa kantuk masih membayangi pelupuk matanya, membuatnya terlena untuk melanjutkan tidurnya. Namun, rasa heran saat mendapati dirinya terbangun dengan posisi terlentang sempurna di atas ranjang dan selimut menutupi tubuhnya sampai sebatas perut membuatnya mau tidak mau terbangun sempurna. Gadis itu mengerutkan kening sambil bangun dari posisi tidurnya.

Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Kamar itu remang-remang dan hanya ada dirinya di sana. Sasuke tidak ada di sana, tidak juga di kamar mandi karena pintunya terbuka lebar. Jendela di belakangnya sudah ditutup separuh. Lampu kekuningan yang ada di halaman menyala, menandakan hari sudah gelap. Gadis itu menguap dan meregangkan tubuhnya sebelum beranjak bangkit dari ranjang empuk yang nyaman. Dia lirik jam dinding dan samar-sama melihat jarum pendeknya di angka tujuh. Dia perlu mandi sebelum turun untuk makan malam.

Satu pertanyaan yang dia lewatkan: siapa yang memindahkannya?

xox

"Kenapa kau tidak ke atas dan membangunkan Sakura sekarang, Sasuke?"

Sasuke menghentikan gerakan tangannya yang hendak membawa gelas berisi jus ke bibirnya. "Hn."

"Cepat bangunkan dia."

Sasuke meletakkan kembali gelasnya di atas meja makan yang panjang. Dia mendesah, tidak mau mendebat ibunya lebih lanjut.

Itachi yang duduk di samping ibunya di seberang meja menyela sebelum Sasuke beranjak dari kursi. "Sakura punya kebiasaan tidur hanya dua jam. Dia akan bangun tepat dua jam setelah tertidur."

Sasuke menundukkan kepala ke arah cairan merah di dalam gelasnya, tetapi matanya melirik Itachi melalui bulu matanya yang panjang.

Uchiha Itachi tentu tidak melewatkan tatapan penuh ketidaksukaan itu dari adiknya. Alisnya terangkat beberapa senti dari posisi awalnya dan dia menyeringai tipis. "Apa, Adik?" ujar Itachi dengan suara bergurau.

Uchiha Sasuke mendengus, kemudian memalingkan muka. Dilihatnya jam bandul besar yang berdiri menempel di salah satu dinding bata coklat ruang makan. Masih pukul tujuh sore. Masih ada lima belas menit lagi sebelum makan malam dihidangkan. Ayahnya baru saja datang dan bergabung bersama mereka di meja makan lima menit lalu. Ibunya tidak lagi membahas Sakura dan kini tengah sibuk membicarakan sesuatu dengan Fugaku dengan suara rendah, terlalu pelan untuk didengar Sasuke.

Sepuluh menit kemudian, Sakura muncul dan ikut bergabung di meja makan. Itachi mengerling kepadanya dan menunjuk kursi kosong di sebelah Sasuke. Dari tempatnya berada, Itachi bisa melihat adiknya melirik ke arah Sakura saat melihat gadis itu datang dan duduk di sebelahnya. Itachi berganti menatap Sasuke yang balas menatapnya. Dia memberi Sasuke tatapan apa-kubilang-nya. Sasuke balas mengangkat sebelah alis, memberi Itachi sebuah lalu-apa-nya.

Uchiha Itachi itu bersiul nyaring, tetapi buru-buru menutup mulut ketika Fugaku berdehem berat. Ibunya melempar tatapan memperingatkan untuknya. Adiknya memutar bola mata dengan cara mengejek, dan adik iparnya memandangnya bingung.

Tidak diperkenankan ada siulan di meja makan. Itachi berdehem canggung dan gugup. Dia bisa menangkap tatapan mencemooh di mata adiknya yang pasti artinya tidak jauh-jauh dari sudah-lupa-tata krama-Kakak. Itachi balas mendengus.

Sasuke mengerutkan kening ketika melihat kakaknya mengerling ke arah Sakura. Sasuke ganti mendengus. Ibu mereka hanya diam mengawasi dan sesekali melemparkan tatapan memperingatkan kepada Itachi atau Sasuke. Tentu saja, begitu tatapan ibunya tertuju pada salah satu dari mereka, pasti dia akan melemparkan tatapan menyalahkan ke saudaranya yang lain.

Tidak butuh kemampuan khusus untuk memaknai arti tatapan jangan-bicarakan-hal-yang-tidak-pantas-di-meja-makan yang diberikan Mikoto kepada dua putranya. Sasuke akan memutar mata dan melempar tatapan ke arah Itachi untuk menyampaikan pesan coba-nasehati-putra-Ibu-yang-satu-itu. Kemudian ibu mereka akan beralih menatap putra sulungnya dan Itachi akan balik memandang Mikoto dengan jenis tatapan apa-salahku-nya dan membuang napas.

Sakura sedari tadi diam mengamati. Dia turut memutar mata bukan karena paham, tetapi karena bosan dengan percakapan tanpa suara itu. Konsep percakapan sunyi itu sudah dia cetuskan dari kecil. Suasananya kurang lebih sama. Percakapan sejenis ini selalu muncul di meja makan.

Sakura mulai bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana cara mereka melakukannya? Saling lempar tatapan seolah-olah tengah berdebat. Apakah hubungan darah benar-benar sekental itu hingga memungkinkan hal-hal semacam telepati bisa terjadi? Namun, percakapan dalam diam ini hanya pernah dia saksikan di keluarga Uchiha. Sakura memang seorang Uchiha, tetapi dia tidak dilahirkan dan dibesarkan oleh Uchiha. Sulit untuk mengetahui jalan pikiran seorang anggota keluarga Uchiha.

"Ada apa, Sakura?" Itachi menegur saat melihat Sakura tiba-tiba meletakkan garpunya.

"Hanya sedikit berpikir," jawabnya buru-buru.

Ibunya memandang antusias. "Apa yang sedang kau pikirkan? Kau hanya diam saja dari tadi."

Sakura berusaha menahan diri untuk tidak memutar mata menanggapinya. Dia kemudian memilih tersenyum masam. "Kalian lah yang diam. Uhm, kalian bercakap-cakap sih." Sakura mengangkat bahu dan memutuskan untuk meneruskan makannya. "Lewat tatapan mata yang tidak kumengerti."—Itachi melemparkan tatapan ke ibu dan adiknya, kemudian dibalas lagi dengan tatapan lain. "Nah, kalian melakukannya lagi. Hanya Ayah yang tidak."

"Ada yang salah dengan tatapan kami?" Kali ini Sasuke yang buka suara.

"Tidak juga. Aku hanya heran bagaimana kalian bisa melakukannya. Itu kan…" Sakura berdehem, "…aneh."

Itachi menyeringai geli, tetapi memutuskan untuk tidak berkomentar dan membuat acara makan malam mereka berlangsung dengan hening, seperti makan malam keluarga Uchiha pada umumnya. Sakura yang baru kali ini makan bersama dengan anggota lengkap Uchiha juga tidak kesulitan menyesuaikan diri dalam kebiasaan keluarga itu. Tinggal berjauhan dengan keluarga Uchiha lain tidak lantas membuatnya heran. Di Inggris pun, sebenarnya dia memiliki wanita pengasuh yang tak lain adalah kepala pelayan keluarga Uchiha. Darinya, Sakura diajarkan semua tata krama yang perlu diketahuinya sebagai seorang Uchiha.

Orang pertama yang menyudahi makan malamnya adalah Fugaku. Dia mengelap mulut, kemudian mulai membuka percakapan. "Bagaimana kamar baru kalian?"

Sasuke dan Sakura refleks saling pandang. Sasuke yang pertama kali tersadar dari kebingungannya, menimpali, "aku tidak ada masalah, tapi Sakura—"

"Aku juga baik-baik saja dengan kamarnya." Buru-buru gadis itu menyambung kalimat Sasuke.

"Tidak ada yang ingin menambahkan beberapa barang elektronik?"

"Kurasa tidak," jawab Sasuke singkat.

Fugaku mengangguk puas dan sejurus kemudian tatapannya beralih kepada Sakura. "Kau sudah menyusun buku-bukumu?"

Gadis itu menggeleng. "Mungkin besok. Di ruang kerja Sasuke."

"Kau perlu seseorang untuk memindahkan kardus-kardus itu? Sekarang ada di kamar kalian, bukan?" Kali ini Mikoto buka suara.

"Ya, Ibu."

"Kurasa Ibu perlu beberapa orang. Kardusnya ada banyak sekali." Sasuke menimpali.

Suaranya memang terdengar tenang, tetapi Sakura sama sekali tidak melewatkan sindiran halus dari suara berat itu. Gadis itu mendengus, mengundang seringai tipis suaminya.

"Baiklah, akan Ibu panggilkan beberapa," koreksi Mikoto dengan seulas senyum geli.

"Itu bisa menunggu sampai besok. Mereka pasti sedang makan malam juga. Tidak perlu buru-buru," cegah Sakura saat melihat ibunya hendak melambai memanggil seorang pelayan yang berjaga di tepi ruangan.

"Baiklah."

Mikoto tersenyum, kemudian melanjutkan makan malamnya yang masih separuh. Wanita paruh baya itu tersenyum dalam hati. Betapa dia bangga pada putrinya. Orang kepercayaannya yang juga merupakan teman berbagi ceritanya telah membesarkan dan mendidik Sakura dengan baik, walaupun beberapa hal seperti selera berbusana putrinya sama sekali belum bisa diterima.

Mikoto miris sekali melihat bagian lemari putrinya yang hampir-hampir kosong. Hanya ada beberapa potong celana jins warna-warni dan baju-baju sederhana dengan ukuran yang jelas-jelas terlalu besar. Tidak ada peralatan dandan, bahkan untuk yang paling standar sekalipun. Tidak ada aksesoris manis dan hanya ada beberapa karet, jepit, dan tusuk rambut. Tidak ada pula sepatu-sepatu cantik, hanya ada sepatu kets dan sepatu berhak datar yang walaupun jumlahnya terbilang cukup, tidak ada satu pun yang manis dan anggun.

Belum lagi koleksi bukunya yang lebih terlihat seperti baru menjarah habis perpustakaan, benar kata putranya tadi pagi. Mikoto sedikit menyesal juga membiarkan Sakura begitu tenggelam dalam belajarnya. Bukan berarti dia tidak bahagia memiliki seorang putri yang di usia delapan belas tahun sudah lulus pendidikan sarjana muda, tetapi rasanya tidak bijak juga membiarkan Sakura berkali-kali lompat kelas hingga membuat gadis itu bisa kuliah di usianya yang belum genap lima belas tahun. Sakura menjelma menjadi sosok putri yang tidak bisa Mikoto dandani.

Mikoto selalu kehilangan selera makan setiap mengingatnya. Cukup sudah. Mikoto akan membuat putrinya berhenti belajar. Namun, karena hal itu akan sama mustahilnya dengan menyuruh Sasuke berhenti kuliah sambil bekerja di perusahaan Uchiha, Mikoto harus cukup puas dengan mengurangi jam belajar putrinya. Mungkin dengan memperbanyak pertemuan keluarga atau mengunci ruang kerja Sasuke.

Wanita itu menghela napas diam-diam. Diliriknya kedua putranya yang tengah seru mengobrol dengan Fugaku. Kedua putranya memang tidak memiliki masalah dengan belajar. Keduanya cukup banyak berprestasi dengan tetap bersekolah dengan normal layaknya remaja pada umumnya. Namun sayang sekali, Itachi sudah mulai terlihat seperti suaminya yang sangat mencintai pekerjaan. Dan adiknya, Sasuke, juga tentu tidak sama baiknya.

Mikoto mengeluh, tak sadar jika dia menghela napas terlalu keras hingga terdengar anggota keluarga yang lain. Keempat anggota keluarga yang lain sontak mengalihkan tatapan ke arah Mikoto.

"Ada apa, Ibu?"

Mikoto memandang satu per satu anggota keluarganya, mulai dari Fugaku, Sasuke, Sakura, dan terakhir Itachi. "Hanya sedikit berpikir mengenai anak-anakku yang manis."

Sakura tersenyum lebar. Sudut-sudut matanya mengerut dan matanya menyipit. "Apa?"

Tatapan Mikoto menajam diarahkan pada Sakura. "Putriku satu-satunya lebih mementingkan belajar daripada pakaian,"—Sakura memberengut, Itachi terkekeh, dan Sasuke mendengus, "dan dua putraku lebih memilih bekerja di akhir pekan daripada bersantai,"—tatapan tajamnya berpindah ke Sasuke dan Itachi. "Dan ini semua karena ulah suamiku." Tatapannya bosan dan terarah pada Fugaku yang sedang menyesap air minum dengan santai.

Alis pria tertua dalam keluarga itu terangkat kaget dan untungnya tidak ada air yang menyembur. Akan sangat tidak Uchiha sekali. Fugaku meletakkan gelasnya, kemudian berdehem, "dan kau, istriku, lebih suka menjadi menguras uang bulanan daripada membantu menumpuknya," balasnya dengan wajah sedikit kesal.

Sakura menyemburkan tawa, Itachi menyeringai lebar, sementara Sasuke hanya mendengus.

"Nah kalau begitu, Ibu, jangan mengeluh," ujar Sakura dengan tawa renyahnya.

xox

Semuanya terasa normal-normal saja. Paling tidak selama makan malam dan acara berkumpul keluarga. Suasananya tidak pernah secanggung ini, bahkan tidak saat mereka berbicara sebentar sore tadi. Dan sekarang? Kamar luas yang terang benderang itu senyap. Dua orang penghuninya duduk di atas ranjang, di dua sisi berseberangan, saling beradu punggung, dan saling membisu.

Sekarang sudah lewat jam sebelas malam dan tidak ada satu pun dari mereka berdua yang berniat untuk tidur. Ini pertama kalinya mereka bertemu, atau paling tidak itu lah yang Sasuke ingat, dan mereka harus tidur satu ranjang di malam harinya? Ini lucu sekali. Sangat lucu.

Sasuke menghela napas panjang. Kedua sikunya bertumpu pada lutut dan kedua punggung tangannya menopang dagu. Wajahnya tertekuk dengan suntuk. Dia sudah memakai piyama, begitu juga dengan Sakura. Itu artinya mereka siap tidur, 'kan?

Sasuke hanya kebetulan lupa dengan keberadaan Sakura di kamarnya. Usai mengobrol dengan seluruh anggota keluarga, pemuda itu segera naik ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan piyama seperti yang dia lakukan selama ini. Kebiasaan lama memang sulit diubah. Kemudian dia turun untuk meminta segelas jus tomat sebelum tidur. Betapa kagetnya dia begitu kembali ke kamar dan mendapati Sakura tengah duduk di pinggir ranjang, juga dengan piyama cokelatnya. Rambutnya yang panjang digerai, terlihat baru selesai disisir.

Oh… Ayolah, Sasuke. Kau cuma tidur satu ranjang dengannya! Apa yang kau takutkan? Sasuke menggerutu dalam hati. Justru satu ranjang itulah segalanya menjadi tidak mudah. Sasuke hanya pemuda normal dan tidur seranjang dengan seorang gadis, siapa pun dia, tidak akan mudah baginya. Paling tidak, jika Sasuke berencana untuk menahan diri.

Dan lagi, apa yang dipikirkan gadis itu?

"Tidurlah dulu."

Dan akhirnya, Sasuke menyerah bahkan sebelum mencoba. Pemuda itu bangkit dari ranjang dan berjalan keluar. Sebaiknya dia kembali lagi nanti. Mungkin setelah Sakura tidur, atau setelah dia bisa menenangkan diri.

xox

Uchiha Sakura tertegun menatap pintu kamar yang baru saja ditutup dengan suara debaman halus. Dihelanya napas penuh sesal. Tidak dia sangka hanya untuk tidur saja bisa jadi begini sulit. Jujur, gadis itu sedikit lega saat Sasuke memutuskan untuk pergi. Suasana kamar selama nyaris sejam ini sangat tidak nyaman, sebagian besar disebabkan oleh kegugupannya sendiri. Apa yang harus dilakukannya di malam pertama mereka?

Ah, bukan malam pertama yang seperti itu. Mereka 'kan baru tadi pagi bertemu dan malamnya mereka tidur bersama. Secara harfiah, bisa disebut malam pertama, bukan? Ini benar-benar malam pertemuan pertama mereka.

Sakura beranjak untuk memadamkan lampu utama. Ruangan itu seketika gelap begitu Sakura mengarahkan saklar lampu ke bawah. Hanya ada seberkas cahaya keperakan yang masuk dari tirai jendela yang tersingkap. Sakura kembali duduk di ranjang dan menyalakan lampu tidur di sisi ranjangnya. Sinar kekuningan menerangi sebagian ruangan dengan cahayanya yang redup.

Diraihnya pigura kayu yang diletakkan di dekat lampu tidur dan ditaruhnya di pangkuan. Jemarinya bergerak mengelus kaca bening yang menutupi kertas foto itu. Tangannya bergerak menyusuri wajah kekanakan Sasuke. Wajah yang sedikit bulat itu merah dan matanya yang seharian ini terlihat hitam tajam bersorot bingung dan kaget dalam foto itu.

Sakura terdiam memandangi foto pernikahan mereka. Entah berapa lama dia terlarut dalam pikirannya sendiri yang berkelana hingga tidak menyadari suara pintu terbuka dan langkah kaki memasuki kamar. Wajah gadis itu berubah sendu saat fokusnya kembali pada foto. Lampu tidur yang menyala kuning membuat matanya yang hijau jernih berkilat-kilat emas. Cantik sekali.

"Apa kau benar-benar tidak ingat aku?" Gadis itu berbisik tanpa sadar dengan jemari mengelus permukaan kaca pigura.

"Maaf."

Sakura tersentak dan mendongakkan kepala ke sumber suara. Dari tempatnya duduk, Sakura tidak bisa melihat dengan jelas sosok Sasuke, tetapi dia yakin Sasuke bisa melihatnya dengan jelas karena lampu yang ada di sampingnya. Mata hijaunya membulat kaget, kemudian tangannya bergerak cepat mematikan lampu dan meletakkan kembali pigura di tempat asalnya.

Dia bisa mendengar suara langkah kaki Sasuke yang semakin mendekat, kemudian ranjang besar itu bergoyang ketika Sasuke duduk di sisi seberang.

"Kau mendengarnya?"

"Ya. Maaf."

"Maaf untuk kata-kataku tadi atau untuk menguping?" Mereka berbicara dalam gelap. Tidak ada yang melihat ekspresi wajahnya, tetapi Sakura merasa wajahnya menghangat.

Sasuke mendengus. "Itu tidak bisa dikatakan menguping, jadi untuk yang pertama saja." Sasuke mengambil jeda untuk menarik napas. "Kau pasti menganggapku pria brengsek karena melupakan istrinya sendiri."

Sakura menggeleng kuat-kuat. Bodoh, gelengan itu tidak akan terlihat. Gadis itu pun buru-buru berujar, "tidak apa-apa. Bukan salahmu. Wajar-wajar saja jika seseorang melupakan suatu hal."

Sasuke menarik napas. "Itu hal yang sangat penting, dan itu tidak wajar. Bagaimana bisa aku melupakannya?"

"Itu bisa saja terjadi. Hal yang terjadi tahun lalu saja akan sulit diingat, apalagi tiga belas tahun."

"Tapi kau mengingatnya." Suara berat itu terdengar mengeras.

"Sebenarnya…tidak. Aku hanya tumbuh besar dengan mengetahui fakta itu. Kurasa, itu berbeda denganmu yang tidak besar dengan diberitahu mengenai hal itu nyaris setiap harinya."

"Ya," jeda. "Ibu juga tidak pernah menyinggung mengenai kau, lebih-lebih pernikahan kita. Ibu juga tidak mengomentari kelakuanku yang sering bersama gadis-gadis lain."

Sakura menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Matanya memanas dan dia sudah nyaris kehilangan suara jika saja dia tidak buru-buru menarik napas. "Kurasa Ibu punya alasan untuk itu. Aku percaya Ibu tidak akan membiarkan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi."

"Aku juga meyakininya." Sasuke terdiam sejenak. "Aku tidak pernah mempertanyakan perintah Ibu, termasuk menandatangi surat nikah itu."

"Kau menyesal?" Suara gadis itu melirih hingga nyaris terdengar seperti cicitan. Buru-buru dia berdehem.

"Entahlah."

"Apa—" Gadis itu berusaha menarik napas lagi karena sekarang dadanya terasa sakit. "—kau merasa hidupmu kacau sekarang karena kedatanganku? Kau pasti marah karena tiba-tiba saja aku datang dan hidupmu berubah konyol."

Sebenarnya Sakura menggambarkan segalanya dengan tepat. Namun, tidak. Apa yang dirasakannya hari ini belum bisa dikategorikan sebagai kemarahan. Hidupnya memang jadi kacau, tetapi bukan berarti dia tidak bisa mengendalikannya. Buktinya sekarang dia masih bisa bicara baik-baik dengan Sakura. Jika dia memang marah, Sasuke tentunya tidak akan bisa duduk dalam satu ruangan dengan gadis asing itu, lebih-lebih bersiap tidur.

Pemuda menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Tidak. Aku memang tidak mengenalmu dan aku tidak mengingatmu, tapi aku tidak bisa menyangkal fakta bahwa Ibu sangat bahagia dengan kehadiranmu di sini. Aku hanya ingin menjaganya."

Karena seorang ibu, anak akan mampu, rela, dan berjuang untuk membahagiakannya. Sasuke pun tak ubahnya seorang anak yang menyayangi ibunya. Hal yang lumrah tentunya, kalau pemuda itu akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan satu-satunya ibu yang dia punya, walaupun itu berarti merelakan masa depannya untuk hidup bersama istri yang hampir-hampir tidak dikenalnya.

Kesadaran itu telak menghantamnya. Sasuke akan selalu mengutamakan keluarganya, di atas dirinya sendiri, di atas siapa pun. Bukankah itu hal yang baik? Hal yang patut diapresiasi? Tidak selayaknya Sakura merasa begitu terpuruk, sakit hati, dan ombak besar bernama perasaan kecewa meluluhlantakkannya. Napasnya menjadi berat dan semakin sulit. Emosi-emosi negatif mulai mencekiknya.

Tidak! Dia tidak boleh begini! Dia sama seperti Sasuke yang mencintai keluarganya, satu-satunya yang dimilikinya. Dia juga bersedia melakukan apa pun untuk menjaganya. Jika keluarganya bahagia dengan pernikahan mereka, dia pun akan bahagia karenanya. Bukankah hal itu setimpal? Sakura bisa membahagiakan orang-orang yang disayanginya dan nantinya dia akan bahagia karena melihat mereka bahagia.

Belum.

Dirinya yang saat ini belum tahu betapa berat melakukannya. Pengorbanannya mungkin saja tidak setimpal dengan kebahagiaan yang nantinya akan diperoleh.

"Mengapa dulu kau ke Inggris?" tanya Sasuke tiba-tiba setelah sekian menit berlalu dalam keheningan.

"Ibu yang mengirimku."

"Apa alasannya?"

"Sepertinya ada hubungannya dengan wasiat kedua orang tuaku."

Sasuke mengerutkan kening, kali ini sedikit memutar badan ke arah Sakura. "Dan mereka…?"

"Meninggal." Suara yang biasanya terdengar lembut dan ringan itu kini terdengar parau dan keras. "Sudah lama sekali. Ibuku meninggal setelah melahirkan aku," jeda sejenak. "Dan ayahku meninggal dalam kecelakaan saat aku berusia tiga tahun," lanjutnya. "Atau mungkin kurang dari itu."

Hening lama. "Dan sejak saat itu?"

"Aku dimasukkan ke sebuah panti asuhan. Tahun berikutnya, Ibu membawaku ke keluarga ini."

"Kau diadopsi?"

"Tidak. Ibuku sahabat lama Ibu."

Mereka berdua terdiam lagi. Sasuke mendesah dalam hati karena tidak menyangka gadis itu memiliki masa lalu yang kurang membahagiakan. Walaupun dia memiliki keluarga sekarang, kenyataan bahwa orang tua kandungnya sudah tidak ada di dunia pasti berat, lebih-lebih Sakura harus dikirim ke Inggris karena wasiat orang tuanya. Dan sekarang, Sasuke menambah beban itu dengan aksi lupa ingatannya.

"Apa pernikahan kita ada hubungannya dengan persahabatan ibumu?"

Sakura terdiam sejenak dan menarik napas sebelum menjawab. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya itu bukan hal yang mustahil."

"Apa semuanya berat bagimu? Hidupmu, keluargamu, mungkin juga pernikahan ini." Sasuke menaikkan kedua kakinya dan kini sudah duduk sepenuhnya di atas ranjang dengan menghadap punggung Sakura. Cahaya dari tirai yang sedikit tersingkap hanya bisa menerangi sedikit bagian belakang kepala gadis itu. Rambut sewarna gulalinya kini terlihat lebih pucat dari biasanya.

Menyadari gerakan Sasuke, gadis itu memutar tubuhnya dan menoleh. Seulas senyum yang sedikit dipaksakan tersungging di bibirnya. "Entahlah." Gadis itu menggedikkan bahu. "Aku hanya mencoba menerimanya saja," desahnya, "karena semuanya sudah terjadi. Pilihan yang ada hanyalah menerima."

Mata sewarna zamrud itu berubah sayu. Cahaya bulan yang keperakan jatuh menimpa kedua permata hidup itu, membuatnya terlihat lebih pucat dan dalam. Sasuke memandang kedua permata itu dengan takjub. Mata itu besar, hidup, dan berkilat perak seolah memantulkan kembali jiwa yang tersembunyi di dalamnya melalui kejernihan mata itu.

"Pilihan seperti apa yang ingin kau punyai? Jika memungkinkan."

Mata hijau Sakura bergerak-gerak mencari bayangan Sasuke dalam kegelapan. Wajahnya berubah sendu.

"Aku hanya ingin bahagia."

"Kalau begitu, mengapa tidak kita buat bahagia saja?"

Sakura tersenyum dalam upayanya menahan tawa, tetapi matanya masih bersinar sendu. "Sasuke-kun, aku sudah mengusahakannya, tapi gagal bahkan sebelum aku memulainya."

"Apa maksudmu?"

Gadis itu tersenyum lagi, lalu menggeleng pelan. "Tidak, jangan terlalu dipikirkan."

Sasuke sudah hendak buka mulut untuk bertanya, tetapi tiba-tiba jam bandul besar yang ada di ruang keluarga di lantai bawah berdentang dua belas kali—menggema dalam ruang-ruang lain di rumah itu.

"Sudah tengah malam. Sebaiknya kita tidur." Gadis itu tersenyum lagi, kemudian mengambil dan menepuk-nepuk bantal di pangkuannya. "Kalau kau tidak nyaman, aku bisa pindah."

Sasuke mendengus. "Kalau pun memang begitu, harusnya aku yang pindah." Pemuda itu ikut mengambil bantal dan memosisikannya dirinya di atas ranjang dengan nyaman. Selimut tebalnya dia tarik sampai sebatas pinggang.

Sakura tepekur sejenak sebelum ikut berbaring di samping Sasuke dengan sedikit berjauhan. Matanya memandang langit-langit kamar yang gelap. Mereka kembali terdiam dalam kegelapan. Menit berikutnya, Sakura terlelap lebih dulu.

xox