Hoggy Warty Hogwarts
written by sebeuntiin

warning! boys love. OOC.


iii. the loveless me wanted you to smile at me (junhao)


Junhui menggeleng tidak percaya. Seungcheol mendesah untuk kesekian kalinya. "Sudah kubilang berkali-kali! Hanya seorang anak, satu orang saja yang akan tinggal di kamarmu dari sekian anak yang mengungsi. Dan itu pun hanya selama satu minggu. Susahkah meminjamkannya? Bahkan kalian pasti jarang bertemu, toh seharian juga kalian belajar di sekolah." omel Seungcheol.

"Bukan salah kita asrama Hufflepuff meledak sehingga mesti diperbaiki. Kenapa malah Slytherin yang kena batunya?" Junhui balik mengomel. "Asrama lain kan bisa!"

Seungcheol melotot. "Asrama yang lain penuh. Jangan berani-berani mengatakan kalau asrama kita penuh juga sementara kau menghuni satu kamar besar dengan empat ranjang tingkat sendirian." Nadanya memerintahkan Junhui untuk tidak berkutik.

"Tadi kau bilang siapa namanya?" tanya Junhui, dalam pikirannya memantra semoga aku salah, semoga aku salah, semoga aku salah.

"Minghao." jawab Seungcheol. "Tahun kelima dari asrama Hufflepuff. Kau tahu dia anak yang baik-baik, bukan tipe orang yang suka rusuh. Jangan khawatir, dia tak akan berbuat macam-macam."

Junhui menghela nafas tanpa semangat. Baru pertama kalinya dia merasa sedih atas dugaannya yang benar. Seungcheol berjalan keluar dari kamarnya, meneriakkan beberapa kalimat sebagai perintah final.

"Dia akan datang besok. Jangan lupa bereskan kamarmu!"

Junhui mengerang frustasi.


Xu Minghao baru datang ke asrama Slytherin esok harinya pada malam-malam hari, membawa tas duffel dan ransel, barangkali buku dan tongkatnya terletak di dalam sana. Sambil membukakan pintu asrama, Junhui bahkan tidak mau repot untuk tersenyum sedikit pun. Minghao tampaknya tidak terlalu peduli, sambil dia mengikuti Junhui di belakang.

"Ini kamarnya," tunjuk Junhui, membuka pintu kamarnya. "Ambil ranjang yang mana saja. Meja ada di ujung kamar sana. Kamar mandi di sebelah meja itu. Aku tidur di sini jadi ranjang ini adalah pengecualian,"

Minghao mengangguk-angguk bisu. Junhui menghempaskan badan ke ranjang dan menutup mata mendengarkan suara gemerisik Minghao membereskan barang-barangnya. Malam semakin gelap. Suara gemerisik memelan, lalu diikuti dengan suara langkah kaki berjingkat. Minghao berjalan keluar, suara pintu membuka dan menutup pelan membuat Junhui membuka matanya.

Dia menghela nafas. Sampai pagi buta pun Minghao tidak kembali.


Junhui duduk di sebelah Seungcheol saat kelas ramuan. Seungcheol meliriknya sekilas, masih mendengarkan perjelasan Slughorn di depan. "Kau tahu," mulai Seungcheol pelan, supaya suaranya tidak terdengar. Hal terakhir yang mereka mau adalah tertangkap mengobrol di kelas Slughorn. "Kemarin ada satu anak Hufflepuff yang tidur di ruang rekreasi."

"Lalu?" tanya Junhui, pikirannya meramalkan omelan-omelan Seungcheol karena Junhui sendiri pun, sudah tahu siapa anak Hufflepuff yang dimaksud Seungcheol.

Jari Seungcheol mencubit pahanya. "Apanya yang 'lalu', hah? Kau mengusir anak itu dari kamarmu, hah?"

"Dia yang keluar sendiri!" desis Junhui kesakitan, menepis tangan Seungcheol. "Mana aku tahu dia tidur di ruang rekreasi, kupikir dia ada urusan sepanjang malam, jadi dia tidak kembali ke kamar. Dan hello, aku nggak sejahat itu untuk mengusirnya!"

Seungcheol melotot. "Aku tahu, kau pasti tidak nyaman, tapi tolong bersikap sopan. Karena—"

"Tuan Choi, Tuan Wen, berniat untuk mengulang perkataan saya barusan?" suara Slughorn menggelegar. "Saya tidak masalah dengan kalian berbicara, hanya saja tidak di dalam kelas saya. Kalian bisa melanjutkan pembicaraan kalian yang intim lain kali!"

Terdengar suara tawa rendah dari anak lain. Baik Seungcheol maupun Junhui menunduk dan menutup mulut rapat, kembali fokus ke pelajaran Slughorn.


"Mengerti?! Kalau sampai malam ini Minghao tidur di ruang rekreasi, silahkan mencemaskan posisimu di Quidditch dan di asrama Slytherin. Aku akan memastikan kau akan dikeluarkan dengan cara yang paling mengenaskan dari yang paling mengenaskan." omel Seungcheol. Sebagai prefek, Seungcheol diberi tanggung jawab yang besar, rasanya wajar kalau lelaki itu terus-terusan mengomel. Rasa solidaritas Seungcheol yang besar tidak membantu omelannya mereda, pula.

Junhui memutar bola matanya, lalu mengangguk-angguk malas. "Iya, iya. Tanpa kau katakan berulang-ulangpun aku bisa mengerti dengan sempurna. Tak perlu membuat telingaku hangus nanti."

Buku Seungcheol untuk kelas berikutnya nyaris diayunkan untuk memukul Junhui. Sebelum hal itu terjadi, ada suara ribut-ribut samar di koridor yang arahnya berlawanan dari koridor tempat mereka berjalan. Junhui mengenalnya sebagai koridor yang terpencil, sebab koridor itu buntu dan kurang ada penerangan cahaya.

"Kau dengar?" tanya Junhui, menoleh kepada Seungcheol yang tampaknya juga mendengarnya.

Seungcheol bergegas menuju ujung koridor tersebut, Junhui mengikutinya dari belakang sama penasarannya dengan Seungcheol. Segerombolan anak Hufflepuff, pikir Junhui, melihat jubah mereka senada warna matahari. Suara ledakan dan cahaya yang memercik memutus pikiran Junhui.

"Hei, hei—hei!" Seungcheol sudah berteriak menegur duluan. Tongkat yang diacungkan gerombolan tersebut terhenti seketika oleh interupsi Seungcheol, mereka langsung mengenalinya sebagai prefek. Tak semenit kemudian, gerombolan itu hilang kabur.

Junhui mendengus mengejek. Pandangannya beralih kepada seseorang yang masih berdiri di sana. Meski mukanya tak berubah, matanya membesar karena kaget. Minghao balas menatapnya tak kalah tajam. Tak memberikan keduanya untuk berbicara, anak itu berjalan cepat melewati Seungcheol dan Junhui dengan mudah.

Mata Seungcheol mengikuti sosok Minghao pergi. "Apa-apaan anak itu? Itu Minghao, bukan? Apa dia jadi korban penindasan?"

Diam saja. Junhui mengangkat bahu, pikirannya rumit. "Ayo ke kelas. Kita telat." ujarnya singkat. Seungcheol meliriknya curiga, tetapi diam saja dan mengangguk seraya mereka berjalan kembali, menuju kelas berikutnya.


Jam tujuh, Minghao kembali ke asrama. Dia tak berbicara banyak, sebenarnya tak berbicara sama sekali, ketika Junhui memperhatikannya menjentikkan tongkat untuk mengambil baju dan handuk untuk bergegas mandi. Ketika Minghao selesai mandi, jam menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh lima.

"Kau terluka?" tanya Junhui pelan.

Minghao menggeleng. "Tidak."

"Tolong lakukan sesuatu yang bisa membuat aku percaya dengan perkataanmu barusan." pinta Junhui. Dari tongkat mereka keluar percikan api dan ledakan, rasanya mustahil Minghao tidak terluka.

Minghao tidak merespons. Saat itu Junhui bangkit, meraih tongkatnya dan menarik Minghao untuk duduk. Anak itu sempat protes dan mau melempar Junhui menjauh dengan tongkatnya. Junhui melotot. "Duduk. Atau kau mau kuseret ke Hospital Wing dan harus diinterograsi atas lukamu."

Dengan gumaman tidak jelas, Minghao duduk diam memunggungi Junhui dan menyerah. Junhui melucuti kemejanya hingga ke pinggang dan meringis melihat lebam, memar, goresan di punggung yang terlihat sangat perih. Junhui heran mengapa anak itu bisa mandi tanpa menjerit-jerit.

"Sebentar," ujar Junhui pelan. Mulutnya menggumamkan beberapa mantra pengobatan, puas melihat luka-luka itu perlahan menutup. Dia beranjak bangun, beralih ke depan Minghao. Ditariknya lengan Minghao, menggumamkan mantra sampai luka anak itu menutup. Di tengah kegiatannya, entah kenapa, Junhui menemukan matanya mengamati wajah Minghao. Matanya menutup, seolah menghayati penyembuhan badannya.

"Sudah?" tanya Minghao, kini matanya terbuka membalas tatapan Junhui.

"Hah? Oh. Iya." Junhui salah tingkah. Sial, Minghao malah menjadi atraktif di saat yang tidak tepat. "Sudah."

Minghao bangkit sambil mengancing kemejanya. Kamar itu hening untuk beberapa jam, keduanya sibuk oleh pekerjaan sekolah masing-masing. Junhui selesai duluan, dia duluan merebahkan diri di ranjang sambil mengamati punggung Minghao yang menghadapnya.

Junhui pura-pura menutup mata ketika Minghao menutup bukunya. Dengan langkah berjingkat, seperti biasanya, Minghao berjalan keluar. Junhui menutup mata, mencoba tidak peduli. Suara Seungcheol berbayang-bayang di kepalanya.

'Quidditch...ditch...ditch... ditendang dari asrama... ma...ma...'

Dengan erangan kesal, Junhui bangkit dan keluar dari kamarnya menuju ruang rekreasi.


"Hai." ujar Junhui, mencoba untuk tidak terlihat canggung. Cahaya di tongkat Minghao meredup begitu menyadari adanya kehadiran orang lain.

"Kenapa kau ada di sini?" tanya Minghao.

"Uh, aku tak bisa tidur." jawab Junhui, berusaha bersikap cuek.

Minghao mengangkat alisnya. Raut muka curiga anak itu terpancar dengan jelas dibawah cahaya remang hijau Slytherin. "Terakhir aku lihat kau masih tidur di kamar."

Ucapannya membuat Junhui tak bisa berkutik. Akhirnya Junhui menghela nafas. "Seungcheol memaksa kalau aku tidak membawamu masuk ke kamar malam ini juga maka posisiku di Quidditch dan di asrama ini patut diragukan."

"Kau terpaksa untuk menemaniku di sini," ujar Minghao, wajahnya berkedut.

Junhui mengangkat bahu. "Terdengarnya bagaimana?"

Minghao memelototi Junhui, tapi tidak berkata apa-apa. Tampaknya anak itu agak sakit hati dilihat dari raut mukanya yang masam. Keduanya diam saja sepanjang malam, terjaga dan letih, tetapi tidak ada yang jatuh tertidur, seolah sedang bersaing siapa yang tidur duluan kalah.


"Karena kau tidak bisa membawanya masuk jadi kau ikutan keluar." kata Seungcheol tiba-tiba. Kali ini mereka tidak sedang di kelas, jadi aman berbicara dengan keras. Junhui yang mendengarnya berdecak sebal.

"Tolong ingatkan aku siapa yang mengancamku kemarin." sindir Junhui balik.

Seungcheol menepuk kepalanya gemas. "Kalau aku tidak mengancammu, maka anak Hufflepuff itu akan sendirian lagi kan pagi ini? Tak akan sudi kau temani? Hah? Hah? Hah?" Pukulan di kepalanya meningkat seiring dengan kata 'hah' yang Seungcheol katakan.

"Hei, hentikan!" Junhui mengerang, lari—kabur—dari Seungcheol mendahuluinya berjalan.

"Hei! Tunggui aku!"


Dari tongkat Minghao, lagi-lagi keluar cahaya redup dan percik api kecil ketika Junhui turun ke ruang rekreasi. Ruang rekreasi Slytherin yang semula remang, malam itu terasa menjadi lebih gelap daripada biasanya. Junhui berjalan canggung, duduk di sofa seberang Minghao.

Minghao menatapnya datar, beralih kepada tongkatnya tak lama kemudian. Cahaya yang keluar dari tongkat itu kian meredup. "Tak perlu memaksakan diri menemaniku."

"Dengar," ujar Junhui. "Aku memang mendapat ancaman bila membiarkan seorang bocah tidur kedinginan di ruang rekreasi. Kalau kau renungkan sedikit, kau pasti menangkap ada hati nurani terlibat. Aku tak sejahat itu untuk membiarkanmu di luar sendirian."

Minghao mengerutkan alis pada panggilan 'bocah' tetapi ekspresi mukanya mengendur dan lembut. "Jadi apa poin pentingnya?"

"Aku turun ke sini karena aku ingin," jawab Junhui, terlalu cepat. "Uhm—maksudku, yah, begitulah."

Junhui berani bertaruh melihat bibir Minghao tertarik ke atas membentuk sebuah senyum kecil. Karena Junhui bukan seorang pembohong, dia berani mengaku bahwa senyuman itu membuat hatinya berdebar sedikit. Sedikit, oke? Lelaki itu memperhatikan Minghao menarik tongkatnya dan membuat cahaya yang berpendar-pendar.

"Aku masih ingin tahu," kata Junhui hati-hati, "Apa yang sebenarnya mereka lakukan padamu di lorong itu?"

"Dan apa yang akan membuatmu percaya terhadap perkataanku?" jawab Minghao, tak sedikitpun ekspresi mukanya berubah di bawah pendaran cahaya tongkatnya.

Junhui menyusun kalimatnya dengan baik untuk dia katakan, tetapi tidak ada satupun dari kalimat yang dia rancang bisa keluar dari tenggorokannya. Sebaliknya, Junhui memperbaiki posisi duduknya dan mengganti topik dengan topik yang baru. "Baiklah, mari kita lepaskan topik itu. Topik yang baru. Kapan kau mau tidur di kamar?"

Bibir Minghao tertarik untuk sebuah senyum tipis. "Dan apa yang akan kau lakukan supaya aku mau tidur di kamar?"

Senyum itu membuat Junhui menarik nafasnya seketika. Kadang, Minghao terlalu atraktif untuk seseorang yang dicap sebagai berandalannya Hufflepuff. Minghao bisa mengeluarkan senyum dan tawa yang terlalu cantik untuk seorang anak yang diberi titel pencari masalah. Pikiran itu terpecah di tatapan Minghao yang menuntutnya untuk menjawab.

"Lusa ada bintang jatuh," bibir Junhui bergerak tanpa diketahuinya. "Kalau kau mau, aku bisa membuka jendela dan kita bisa duduk di atap."

Minghao tidak mengatakan iya, mengangguk pun tidak. Baginya, ucapan sederhana sudah cukup untuk mewakili persetujuannya. "Besok aku tidur di dalam."


"Tolong berhenti memelototi punggungku," ujar Minghao suatu kemudian. Anak itu duduk manis memunggungi Junhui di kursi meja belajarnya, mengerjakan tugas-tugas.

"Maksudku... apa artinya kalau kau mau masuk ke kamar tapi hanya untuk duduk di kursi dan mengerjakan tugas semalaman? Demi Merlin, tugasku ini untuk membuatmu tidur dengan nyaman di asrama kita, bukannya menyiksamu dengan seminggu penuh tanpa tidur." kata Junhui, sebal. Anak itu bangun dari istirahat sesaatnya dan kembali duduk di kursi untuk mengerjakan tugas-tugasnya yang belum selesai juga.

"Kau juga belum tidur," jawab Minghao.

Junhui berdecak. "Itu karena aku tahun ketujuh. Silahkan tanya kepada siapapun di asramamu yang kelas ketujuh. Tugas kami itu kira-kira tiga atau empat kali lipat tugas kalian. Atau jangan-jangan..." Junhui diam sementara. "Kau tidak—kurang mengerti dengan tugasmu?"

Tubuh Minghao menegang dan raut muka anak itu semakin masam. Junhui ingin tertawa jika seandainya dia tidak ingat kalau tertawa itu bisa saja memperburuk situasi. "Hei," panggilnya.

Minghao memutar kursinya menghadap Junhui sebagai tanggapan, muka terlipat dan masam. Muka Junhui tak tahan untuk tersenyum—lebih mirip dengan ringisan karena Junhui menahannya mati-matian. "Pelajaran apa?"

"...Herbologi," jawab Minghao, mukanya cemberut.

Tangan Junhui menggestur supaya Minghao mendekat. "Sini," ujarnya. "Aku ajari." Setelah beberapa detik penuh keraguan, Junhui memutuskan menambah kata baru. "Gratis. Tanpa bayaran."

Minghao akhirnya mendekat. Sambil dia mendekat, Junhui menatapnya sambil tersenyum menyeringai sebal. Baru setelah disebutkan jasanya gratis baru mau mendekat. Anak ini memang tentunya tahu cara menghindari buaya, pikir Junhui, tidak menyadari bahwa dia baru saja mengalamatkan dirinya sendiri sebagai buaya.

.

"...mengerti?" tanya Junhui, menoleh kepada Minghao. Waktu berjalan cepat tanpa mereka ketahui, dan tanpa prediksi dari Junhui, sudah mendekati tengah malam. Junhui mematikan lilin, menutup buku Minghao dan memberikannya kepada si pemilik. "Sudah malam," ujar Junhui mutlak, secara tidak langsung memerintahkan Minghao untuk tidur.

Minghao menggerutu tetapi menurut dan membenam dirinya di bawah selimut, ranjang tepat di sebelah Junhui. Junhui bahkan tidak tahu kenapa dia tidak bisa tidur waktu itu, memandangi punggung Minghao sepanjang malam.


Besoknya Seungcheol menghampiri Junhui ketika mereka sedang sarapan di aula besar. "Ternyata kau berhasil membawanya masuk ke kamarmu."

Junhui tersedak makanannya sendiri. "Demi Merlin—kau membuatnya terdengar sangat jorok." Jihoon yang ada di sampingnya langsung tertawa seperti orang gila mendengar perkataan Seungcheol. "Junhui—membawa—ke dalam kamar—" Anak itu kesulitan berbicara diantara tawanya dan Junhui berharap semoga Jihoon tersedak dan mati saja.

"Terima kasih doanya, Junhui. Yang penting kau tidak tahu derita mengurus beberapa anak Hufflepuff yang mengajakku mengobrol selama beberapa jam." ujar Jihoon, tawanya mereda sedikit. "Minghao itu anak yang baik. Well," Jihoon mengangkat bahu. "Dia tak akan membuat kamarmu seperti kapal pecah."

Junhui hanya memutar bola matanya malas. Menanggapi keduanya sudah seperti menanggapi burung beo, apa yang dikatakan akan berputar balik kepadanya. Dari dulu, Seungcheol dan Jihoon ini merupakan partner in crime yang sempurna.


Junhui membuka jendela kamarnya lebar-lebar, melompat dengan ringan ke atas atap. Minghao menatapnya ragu. Junhui menggesturkan Minghao untuk turun, yang diikuti dengan langkah ringan dari anak yang lebih muda. Mereka duduk di atap menara, tak jauh dari jendela kamar.

"Aku baru tahu kalau ini diperbolehkan," gumam Minghao pelan.

"Nah, sebenarnya tak boleh." Junhui mengabaikan tatapan horror Minghao. Dia menahan kaki Minghao yang bangkit dan hendak kembali ke kamar. "Jangan ke mana-mana, sebentar lagi akan ada bintang jatuh yang banyak,"

"Kau bilang ini dilarang!" bisik Minghao setengah menjerit, kakinya digoyang-goyangkan untuk mengusir tangan Junhui.

Junhui mendesah malas. "Selama lima tahun, belum pernah sekalipun aku tertangkap." katanya berusaha meyakinkan. Malah terdengar bodoh karena ketahuan bahwa Junhui sering bolos jam tidur, selama lima tahun katanya? Pfft.

"Itu tidak menjamin sama sekali!" bantah Minghao, makin bersemangat untuk kabur. "Lepas!"

"Sudah, duduk saja, bisa nggak?" pinta Junhui setengah memaksa.

Minghao merengek sebal. Matanya menjelajah langit dan menyadari bahwa bintang jatuh sudah dimulai dari tadi. Seketika, Minghao berhenti. Matanya terpaku melihat langit. Junhui yang menyadarinya juga mengikuti arah pandang Minghao. Beberapa menit mereka terdiam, Junhui menarik Minghao untuk duduk di sebelahnya.

"Diam, cahayanya sedang indah-indahnya." potong Junhui sebelum Minghao protes.

Bintang jatuh itu memiliki pertunjukkan tak lama, kira-kira hanya tiga menit lamanya, lalu digantikan dengan cahaya terang dari bulan. Malam itu sedang cerah. Mereka berdua diam saja mendalami langit malam. Minghao tampak begitu semangat. Senyum tampak merekah kecil di bibirnya.

"Dengar," Junhui memulai percakapan duluan. "Perlakuanku agak kurang ajar di awal-awal, oke. Dan aku tak ingin kau salah paham bahwa aku menemanimu untuk keuntunganku sendiri. Maksudku, aku memang ada tanding Quidditch beberapa hari lagi, tapi—"

"Mmm," gumam Minghao setuju. "Aku mengerti."

Junhui dapat mengendurkan bahunya yang tegang dan dapat tersenyum. Minghao tidak menatap ke arahnya, tetapi Junhui tahu dengan sangat baik bahwa Minghao tahu dapat menerima senyuman itu dengan tulus.

Paginya, Minghao menahan Junhui ketika yang lebih tua itu pamit untuk berangkat duluan ke sekolah. Minghao terlihat tegang dan panik, seperti dia telah memanggil Junhui diluar keinginannya. "Kau bilang kau ada pertandingan Quiddtich," kata Minghao.

"Ya, sekitar dua hari lagi. Kenapa?"

"Um," Minghao menggaruk kepalanya canggung, "Karena kebetulan lawanmu bukan Hufflepuff, jadi aku—um—mau bilang—semoga kau dapat yang terbaik—maksudku, menang. Oke? Aku duluan." Minghao melesat dengan tasnya, meninggalkan Junhui diam, yang kemudian tertawa sendiri di kamarnya seperti orang gila. Jihoon sempat bersikeras menyeret Junhui ke Hospital Wing.


Dua hari itu berlalu dengan cepat. Keduanya tidak bertemu secara sering selama dua hari itu, sebab Junhui sudah sibuk dengan latihan Quidditch-nya. Ketika Junhui sudah pulang dari latihan malam, Minghao sudah tidur di kamar. Meskipun tak ada interaksi yang spesial, setidaknya Minghao sudah sudi tidur di kamar.

Pertandingan Quidditch itu digelar pagi-pagi. Junhui tersenyum tipis dan menepuk punggung anggota timnya, saling menyemangati. Ketika Junhui terbang, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari wajah Minghao di tribun. Minghao juga melihatnya, tatapan mereka terpaku dan diputuskan oleh Seungcheol yang memukul belakang kepalanya sebal.

"Main dulu, jangan kebelet berduaan," Seungcheol mengomel setengah menggoda. Junhui melemparnya pandangan menilai karena Seungcheol juga punya pacar, dan Junhui berani bertaruh separuh dari jatah makanannya kalau Seungcheol juga pernah diam-diam mencuri pandang ke pacarnya itu. Seungcheol mengangkat bahu, nyengir sebelum melesat ke posisinya sebagai Beater.


"Selamat," kata Minghao kemudian. "Karena menang pertandingan Quidditch."

Junhui menyeringai. "Itu saja? Aku tidak bersusah payah memenangkan pertandingan cuma untuk diberi selamat dalam bentuk kalimat."

"...Aku nggak bawa hadiah, uangku ditinggal di asrama Hufflepuff," jawab Minghao. "Nanti aku belikan kalau ada waktu di liburan."

"Bukan, bukan itu," bantah Junhui gemas. Tangannya diangkat untuk menunjuk bibirnya. "Ini, ini."

Minghao menatapnya datar. Akhirnya Junhui berbalik, mendesah kecewa dan menggerutu. Sebuah tangan menariknya dari belakang. Sekejap, ibu jari Minghao menempel di bibirnya. Kemudian, ibu jari itu Minghao tempelkan ke bibirnya sendiri sambil tersenyum jahil. Junhui gemas setengah mati, ditariknya tangan Minghao untuk menciumnya penuh.

"U..huk."

Seungcheol berdeham dengan muka memerah padam. Di belakang prefek itu sudah ada seorang anak Hufflepuff—temannya Minghao. Junhui dan Minghao melepaskan diri, tidak satupun dari keduanya yang kelihatan malu kepergok. Malah yang ada pandangan tajam dari keduanya, dianggap menginterupsi mereka.

"Minghao, Mingyu datang untuk menjemputmu," ujar Seungcheol. "Semoga pengalamanmu mengungsi di sini menyenangkan. Dan... senang karena sudah berdamai dengan pacarmu yang di sana. Uh... maaf karena sudah mengganggu. Kalian bisa lanjutkan lain kali."

Minghao mengangguk, sekejap lambaian tongkat barang-barangnya masuk ke tas secara teratur. Sebelum keluar, Minghao menyempatkan diri melirik ke arah Junhui, mengangguk tanda pamit. Junhui tersenyum sebagai balasan.

Sesudah anak Hufflepuff itu keluar, Seungcheol merebahkan diri di kasur di kamarnya. "Akhirnya kalian damai juga. Anak-anak Slytherin yang lain protes karena kalian kelihatan seperti pasangan menikah yang pisah ranjang."

Junhui mendengus geli. "Syukurlah," ujarnya pendek. "Sebenarnya tidak cocok dibilang bertengkar, aku hanya khawatir dengannya. Aku sempat dengar dia bertengkar. Ada juga rumor dia ditindas. Dia menganggapku tidak percaya dengannya."

Seungcheol terdiam sejenak. "Kita sempat memergokinya dikerubungi oleh gerombolan Hufflepuff itu."

Junhui mengangkat bahu. "Aku akan tanya padanya kapan-kapan. Atau mungkin tidak pernah. Kalau ada yang tak bisa dikatakannya, maka aku tak akan memaksa. Aku percaya kepadanya."

Kemudian hening besar tercipta. Junhui merasa janggal dengan bisunya Seungcheol. Dia berbalik. "Seungcheol?" Prefek itu tidur pulas. Junhui melempar bantal ke mukanya dengan penyesalan nol.

"Aduh!"


omake

"Omong-omong, Minghao,"

"Ya?"

"Aku belum tahu kenapa menara Hufflepuff bisa meledak."

"Kami latihan duel sihir diam-diam di asrama. Mingyu salah perkiraan dan malah mengenai tembok. Akhirnya tembok meledak."

"Minghao?"

"Ya?"

"Apakah penyebab luka yang ada di badanmu karena latihan duel itu?"

"Ya."

"Lalu apa yang dilakukan anak-anak Hufflepuff mengerubungimu di lorong tempo lalu?"

"Mereka meminta diajari membuat cahaya dan kembang api dari tongkat sihir. Karena waktu itu mereka tidak boleh menggunakan sihir sembarangan, kami melakukannya di lorong tersembunyi."

"Minghao?"

"Ya?"

"Apakah itu artinya selama ini aku seperti orang bodoh mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya aku tidak khawatirkan?"

"Ya."


Note:

- kemarin ada yang minta dijelaskan soal anggota sebong dan asramanya. Maka jadilah:

Seungcheol - Slytherin
Jeonghan - Gryffindor
Jisoo - Ravenclaw
Junhui - Slytherin
Soonyoung - Gryffindor
Wonwoo - Ravenclaw
Jihoon - Slytherin
Seokmin - Gryffindor
Mingyu - Hufflepuff
Minghao - Hufflepuff
Seungkwan - Gryffindor
Hansol - Ravenclaw
Lee chan - Hufflepuff

Sejauh ini belum ada pasangan yang satu asrama, dan kayaknya nggak bakal ada yang satu asrama. Saya juga kaget begitu sadar. Buat yang mau pasangan satu asrama, maaf, karena kayaknya belum bisa kesampaian T T

Author's Note

Nahhh ini dia pasangan nokturnalnya sebong. Saya nggak tau kenapa tapi saya sukaaaa...aa banget ngebayangin mereka berdua sendirian di dalem dunia mereka, yang lain cuma ngekos doang. Habisnya mereka berdua kan chinaline, jadi manis ngebayanginnya mereka ngobrol pake bahasa mandarin cuma mereka doang yang ngerti ;;;;

Plotnya disini agak menipu ya. Siapa yang nyangkanya mereka belum pacaran? XD Saya punya kink buat pasangan yang punya vibe 'kita-lagi-berantem-tapi-kamu-kedinginan-sini-aku-selimutin' dan junhao ini karakter yang pas masuk ke kategori itu. Dua-duanya kelihatannya kayak ngga suka PDA tapi shameless kalo udah berduaan. Maafkan saya, keduanya saya bikin OOC ;;;

Dan disini sempat ada adegan mereka stargazing di atap kan, dan itu maksa kalo ikutin fakta novelnya karena asrama Slytherin itu setau saya ada di bawah tanah;;; maafkan saya. Di sini settingnya asrama Slytherin sudah direnovasi dan punya menara sendiri. Tolong pengertiannya ;;

Akhir kata, terima kasih sudah mau menunggu. Agak lama ya, tapi syukurlah nggak terlalu lama, tugas laporan saya sudah selesai lebih cepat dari dugaannya. Setiap review dari kalian jadi semangat saya untuk terus menulis! Terima kasih!