Malam ini Itachi dan Konan ikut menginap di kamar asrama Sasuke. Hinata masih di luar bersama Sasuke, melihat pantulan cahaya matahari melalui bulan. Jemari Hinata menggenggam jemari Sasuke, Sasuke hanya bisa melirik sebentar gadis pemalu yang ada di sebelahnya. Senyum tipis mewarnai wajah Sasuke.

" Kau lihat bintang yang disana Sasuke-kun? " tanya Hinata dengan menunjuk bintang di langit.

" Hn " jawab Sasuke.

" Apa yang akan kau mohon pada bintang itu jika terjadi bintang jatuh? " tanya Hinata dengan menatap Sasuke.

" Aku ingin mengalahkan ayahmu " Sasuke memejamkan matanya dan membayangkan seperti apa rupa sang mertua nantinya.

" K-Kenapa? " Hinata cemberut dan melepaskan pegangannya pada tangan Sasuke.

" Karena aku ingin membuktikan padanya jika aku pantas mendapatkanmu, dan lagi aku ingin membuktikan pada leluhur kita jika kutukan itu takkan mempan pada kita berdua " jawab Sasuke dengan merangkul Hinata. Hinata hanya bersemu merah.

" Hai ! " teriak Ino dan Sai dari atap membuat Hinata memukul wajah Sasuke tanpa sengaja-refleks sedangkan Sasuke terpental karena tamparan Hinata.

" Wah, Hinata refleks yang bagus sekali " puji Sai dengan tersenyum.

" S-Sasuke... " Hinata berjongkok mendekati Sasuke yang terpental dengan mengelus pipinya yang memerah.

" Wah-wah...kami mengganggu ya? " tanya Ino kali ini.

" Sedang apa kalian di atas sana ! " bentak Sasuke dengan dibantu Hinata untuk duduk.

" Kami mau mengunjungi Hinata-chan kok " sahut Ino dengan di tambahi cap jempol oleh Sai.

" Hinata, kemarin kami dapat postcard dari Hanabi dan dia juga menitipkannya untukmu " kata Ino dengan menunjukkan postcardnya.

" Benarkah? " Hinata langsung berdiri ke arah Ino dan membiarkan Sasuke terjatuh ketika Sasuke akan bersenden kepada dirinya.

" Tch, kalian memang paling pintar mengalihkan perhatian Hinata " Sasuke hanya mendengus kesal ketika Ino mengejek Sasuke.


Naruto Masashi Kishimoto

But, this Story is mine.

MY LOVELY WITCH

CAST : Sasuke, Hinata, Sakura, Naruto, Neji, Ten-Ten,

Hanabi, Sasori, Kakashi, Itachi, Konan, Sai, Ino dan Karin.(tambahan pemain)

Dan jika ada karakter lain yg muncul itu mungkin hanya lewat saja ^^

PAIR : SASUHINA, NARUSAKU, NEJITEN. SAINO

OOC(mungkin)

oia, disini Ino dan Sai minta pindah kelas ke kelasnya Hinata, Sasuke dan yang lainnya jadi sekarang semuanya aku kumpulin jadi satu biar gak ribet hehe ^^v

Legenda Danau Kematian Dan Ups, Kami ketahuan.

By : Hachibi Yui


Hinata membuka postcard yang bergambarkan bunga Lily putih dari Hanabi. " Apa ini? "

" Undangan " sahut Sai.

" Apaan? " Sasuke bangkit dari jatuhnya dan menghampiri Hinata yang membuka kertas.

" Aku dan Sai mendapatkan undangan dari Hanabi, tapi jika Hinata kami tak tahu " jawab Ino dengan merangkul Sai.

" Ini..."

" Apaan sih ? sini biar aku yang baca " sahut Sasuke dengan merampas kertas yang ada di tangan Hinata.

"...dari Akasuna " lanjut Hinata.

.

.

.

Ino dan Sai duduk dengan manisnya di bangku taman sementara Sasuke duduk dengan menggigit jarinya setelah mendengar jika itu dari Akasuna. Ya, sekarang mereka telah ada di taman setelah insiden di depan kamar Sasuke yang berisik membuat Itachi dan Konan terusik dalam ritual minum darahnya. Lupakan. Sasuke langsung teriak histeris dan ingin merebut surat yang ada di tangan Hinata, Sasuke menyuruh untuk membuang, mengubur, membakar, atau bahkan mengembalikan surat itu pada pengirimnya asalkan Hinata tak berhubungan dengan Akasuna Saori si saus tiram itu –Sasori Sas,,bukan Saori,,=='a -. Kini mereka berempat telah pindah lokasi di taman yang terletak tepat di bawah asrama Sasuke.

Sai dengan erat menghalangi Sasuke untuk menyerang Hinata lagi sementara Ino berada di belakang Hinata untuk mengintip isi suratnya itu.

" Apa itu ? tidak bisa di baca sama sekali " kata Ino di belakang Hinata membuat Hinata bergidik ngeri.

" I-Ini simbol, I-Ino...hanya clan Hyuuga yang bisa membaca " jawab Hinata dengan sedikit menjauh dari Hinata.

" Jika hanya Hyuuga yang bisa membaca lalu kenapa disitu tertulis Akasuna? " sahut Sai dengan memegang erat Sasuke yang semakin mengganas.

" D-Disini tertulis, jika dua minggu lagi acara a-antara Hyuuga dan Akasuna segera dilaksanakan..a-a-acaranya, i-itu, p-pernikahanku " jawab Hinata memandang kosong Sasuke dan menjatuhkan kerta yang baru saja di bacanya.

" Kau, serius? " tanya Sai dengan melepaskan Sasuke yang langsung berlari ke arah Hinata.

" Tak akan aku biarkan " jawab Sasuke dengan memeluk Hinata.

" Eh ? Hujan ya? " Ino menengadahkan kepalanya dan merasakn sensasi hujan yang turun.

" Hujan ? s-sembunyikan aku a-aku harus masuk kedalam rumah secepatnya, b-bantu aku " rengek Hinata dengan menarik baju Sasuke yang sedikit basah.

Hinata emninggalkan Sasuke yang masih belum mengerti dengan maksud Hinata. Hinata berlari dari taman bawah menuju ke arah kamar Sasuke, walaupun sering terpeleset, Hinata tak memperdulikannya yang terpenting sekarang adalah bersembunyi dari suara petir yang bisa saja menandakan jika ayahnya sedang mengamuk di dunia sihir sana. Sasuke yang menyusulnya dari belakang langsung menggendong Hinata di punggung belakangnya. Sai dan Ino sih gampang, mereka langsung menggunakan kemampuan terbang mereka yang bisa di bilang sangat ahli..

.

.

.

" Kalian bicara apa? "

" Wwhhoooaaa ! " Ten-Ten dan Hanabi terkejut ketika Sasori yang tiba-tiba bisa ada di depannya. Pemuda itu langsung mengeluarkan aura yang sangat tidak enak.

" Katakan dimana Hinata sekarang, jika kau katakan padaku maka aku tak akan mengadukan ini kepada Hiashi-jiisan dan jika kalian katakan padaku, aku akan membawa kembali Hinata kesini walaupun aku gagal, kurasa Neji-san tak akan keberatan membantuku, benarkan Ten-Ten-nee? " ujar Sasori dengan menyeringai tak jelas.

" Ten-Ten-nee? " Hanabi memandang Ten-Ten yang kini terpojok dengan menggeram ke arah Sasori.

" Bukankah kau sering membelikan Neji-san ramuan rambut padaku Nee-san ? jadi bagaimana jika aku memberinya secara gratis dan meminta bantuannya untuk menangkap Hinata ? jadi cepat katakan padaku sekarang " ujar Sasori seperti akan membunuh aura yang ada di kamar Hanabi.

" Manusia, Dunia manusia ! kejar saja Hinata-nee jika kau bisa. Asal kau tahu saja ya, dia sudah jadi pengantin orang lain tau ! " Hanabi tersenyum mengejek ke arah Sasori yang kini berbalik membelakangi kamarnya.

" Lalu apa susahnya jika aku merampasnya? " jawab Sasori dengan menyeringai menjauhi kamar Hanabi. Hanabi dengan sigap berlari mengikuti Sasori itu pergi. Sasori dengan santai berjalan ke arah para orang tua yang masih bergurau ria di ruang tamu. Sasori tak memperdulikan Hanabi yang bergelayutan menahannya agar ia berhenti.

" Kaasan, Tousan, sepertinya untuk dua minggu kedepan aku akan pergi untuk menyelesaikan kuliahku " ujar Sasori dengan tertawa kemenangan mengejek Hanabi yang melongo di sampingnya.

" Tapi, beberapa hari yang lalu ibu tak mendengar kabar dari sekolahku Sasori-kun " sang ibu hanya memandang bingung dengan kepergian anaknya keluar dari rumah Hyuuga itu. Hiashi hanya menunduk dan tersenyum ketika Sasori keluar dari rumahnya.

.

.

.

" Kau takut hujan? " tanya Sasuke saat menggendong Hinata.

" T-Tidak, s-sebenarnya aku sangta suka sekali bermain air, t-tapi H-Hanabi memberi tahu padaku jika hujan turun maka itu pertanda b-bagiku " jawab Hinata dengan memeluk erat Sasuke.

" Si kecil itukah? " tanya Sasuke dengan menoleh ke belakang. Hinata hanya mengangguk.

" Hinata, lihat itu " Sai menunjuk sebuah perputaran awan yang terlihat begitu aneh. Dengan takut Hinata mengintip awan yang menurut sahabatnya aneh.

Awan yang tadinya menurunkan hujan saat itu tiba-tiba saja berubah menjadi merah semerah darah dan membawa angin puting beliung yang seperti akan meluluh lantahkan asrama Sasuke. tapi, angin itu tiba-tiba saja berubah menjadi sesosok laki-laki berambut merah.

" Hinata? " ucap laki-laki itu.

" Siapa kau ! " bentak Sasuke dan menyembunyikan Hinata dari pandangan pemuda berambut merah yang seperti bata itu sangat aneh.

" Perkenalkan, aku Akasuna Sasori dan aku calon pengantin Hinata " jawab pemuda itu dengan membungkuk sopan.

" Oh, jadi kau yang namanya Akasuna Saori itu ? perkenalkan aku Uchiha Sasuke dan aku adalah pengantinnya saat ini. Dan mulai saat ini aku tegaskan kepadamu agar menjauh dari Hinata " jelas Sasuke dengan tertawa sinis.

" Maaf, namaku bukan Akasuna Saori. Namaku adalah Akasuna Sasori dan Hinata adalah milikku " balas Sasori dengan menaiki pembatas di lorong kamar asrama Sasuke.

" Hinata adalah milikku ! dan tak ada yang boleh menyentuhnya selain aku, kau mengerti? " Sasuke tetap tak mau mengalah dengan Sasori.

" P-Pertandanya b-benarkan? " bisik Hinata di balik kepala Sasuke.

" Sasori? " Ino dan Sai mulai keluar dari persembunyiannya dan memanggil Sasori. Sasori yang dipanggil hanya menoleh dan mengingat-ingat lagi.

" Kau benar Sasori? " tambah Ino.

" Kau, Ino dan Sai bukan? " tebak Sasori sekarang.

" Kyaaa, kau benar Sasori ! " Ino telah menghambur dan memeluk Sasori yang terbangong dan mulai menepuk-nepuk punggung Ino yang ada di pelukannya, Sasori juga melakukan tos(?) dengan Sai.

" K-Kalian m-mengenalnya? " Hinata ini mulai berani turun dari gendongan Sasuke dan mendekat, tapi Sasuke masih memegang tangan Hinata bahkan masih menarik-narik tangan Hinata untuk tetap di sampingnya.

" Dia Sasori yang waktu itu, yang sering membawa boneka. Kau lupa? " jelas Ino dengan semangat.

" Ehm, b-boneka ya? " Hinata masih berpikir.

" Ah, j-jadi calon suami i-itu A-Akasuna S-Sasori, k-kamu ya? " Hinata akhirnya ingat dengan masa lalunya.

" Eh ? sebenarnya aku sudah lupa denganmu Hinata, yang ku ingat saat itu hanyalah Ino dan Sai saja tapi-"

" Baguslah kalau lupa. Sekalian aja gak usah di inget. Karena Hinata udah jadi pengantinku tahu ! " potong Sasuke ketus dan di sertai Hinata tawa Hinata.

" Maaf? " Sasori mengernyitkan alisnya.

" Aku adalah vam-"

" Dia adalah pengantinku sekarang...hahaha, maaf ya Sasori, kurasa acara kita harus di batalkan hahaha" potong Hinata dengan tertawa hambar menutupi mulut Sasuke.

" T-Tapi ayahmu tak mengatakan apa-apa tentang dirinya " tunjuk Sasori ke arah Sasuke.

" Ha ! Ha ! karena aku istimewa ! " tunjuk Sasuke pada dirinya sendiri dengan tertawa menang.

" Tapi, aku masih tidak menyerah untuk mendapatkan Hinata " balas Sasori dengan menyeringai.

" Ada apa ini ribut-ribut? " Kakashi tiba-tiba datang dengan membawa buku yang menutupi setengah wajahya.

" Lord Kakashi?" Sasori terperangah dengan kehadiran Kakashi yang ada di depannya.

" Hm ? Kau dari negeri sihir juga? " Kakashi mendelik pada Sasori.

" Ya tuan, perkenalkan nama saya Akasuna Sasori, saya datang kemari bertujuan awal untuk menjemput Hinata yang berstatus sebagai calon istri saya dua inggu kedepan karena dua minggu lagi acara tersebut akan di laksanakan secara resmi oleh kedua keluarga kami " jelas Sasori panjang lebar dengan menarik Hinata dalam pelukannya.

" Tapi Hinata telah menjadi milikku ! dia pengantinku sekarang " balas Sasuke penuh tekanan dengan menarik Hinata lagi dalam pelukannya.

" Sudah-sudah ! jangan bikin keributan disini, dan kau Akasuna Sasori. Aku mengenal baik bagaimana ayahmu dan ramuan-ramuan ayahmu yang ajaib itu tapi lebih baik kau mengerti aturan sihir disini. Kau dilarang menggunakan sihir kecuali kau terdesak dan bertemu musuh, lalu kau akan tidur dimana? " tanya Kakashi menengahi pertengkaran kecil Sasuke dan Sasori.

" Dengan Hinata mungkin " jawab Sasori dengan menunjuk Hinata.

" TIDAK ! " semua yang ada disitu berteriak secara bersama-sama dengan memberi tanda tidak boleh dengan tangan mereka minus Kakashi.

" K-Kenapa k-kalian k-kompak sekali? " Sasori masih terkejut dengan teriakan Sasuke, Hinata, Sai dan Ino.

" Ada apa ini ribut-ribut? " Itachi dan Konan yang ada di dalam kamar Sasuke langsung keluar setelah acara minum darah mereka dan darah yang mengalir di mulut mereka tentu saja sudah mereka usap. Lupakan.

" Kau siapa? " tanya Itachi pada Sasori.

" Lucunya ! " Konan telah menghambur keluar dan mencubit pipi Sasori.

" Aku Akasuna Sasori, aku calon pengantin Hinata " balas Sasori dengan melepaskan tangan Konan yang mencubit pipinya.

" Pengantin ? tapi Hinata sudah menjadi pengantin Sasuke " tunjuk Itachi pada Sasuke.

" Ha ! " Sasuke hanya menepuk dadanya dengan rasa bangga.

" Oe, kau sudah kembali Itachi? " tanya Kakashi pada Itachi yang memandang Kakashi dengan wajah kalem.

" Oh, Kakashi ! lama tak jumpa ! " jawab Itachi dan memeluk Kakashi.

" Jangan bodoh " sebelum Itachi memeluk Kakashi, Kakashi memukul wajah Itachi dengan buku yang ia baca tadi.

" I-Ittai " Itachi melenguh mengelus wajahnya.

" Begini caranya kau menyambutku? " tambah Itachi.

" Kau akan tidur dimana? " tanya Kakashi entah pada Itachi, Konan atau Sasori.

" Kamar Sasuke " jawab Itachi dan Konan.

" Dengan Hinata " jawab Sasori bebarengan dengan Itachi dan Konan yang menjawab pertanyaan Kakashi.

" TIDAK BOLEH ! " kini Itachi dan Konan ikut-ikutan dengan pasangan muda untuk melarang Sasori, Sasori hanya memejamkan matanya ketika mendapatkan jawaban telak dua kali dengan nada oktaf yang sangat tinggi. Kakashi hanya memijit pelipisnya.

" Begini saja, Hinata kau jangan tidur di kamar Sasuke, biarkan Sasori yang menggantikanmu dan kau Itachi, kau tidur di rumahku saja. Kebetulan ada kamar kosong " usul Kakashi.

" APA ? KAMI ! HANYA BERDUA ! KAU GILA " balas Sasuke dan Sasori bersamaan.

" L-Lalu a-aku harus tidur bersama s-siapa? " jawab Hinata.

" Kau denganku saja Hinata ! " Ino menjawab dengan semangat.

" Lalu aku bagaimana? " gantian dengan Sai yang begong menatap memelas ke arah Ino.

" Sai ! kau tidur dengan kami ! aku tidak mau jika harus hanya berdua " Sasuke masih geram dengan Sasori hingga dia menarik Sai dengan cepat membuat Sai dengan gaya slow motion menabrak dinding.

" Kuharap kalian tak melupakanku " Konan berbicara dengan hati-hati melihat ke arah semuanya.

" Tak ada wanita yang boleh masuk ke rumahku selain penyihir " Kakashi mendahului ketika Itachi akan mengusulkan.

" APA ? lalu bagaimana dengan aku jika aku haus ! kau mau bertanggung jawab ? " Itachi mengamuk dengan menarik baju Kakashi.

" Coba saja lewati penghalangku nanti " jawab enteng Kakashi.

" K-Konan-san tidur dengan kami saja, t-tak apa kan I-I-no? " tanya Hinata.

" It's ok " jawab Ino dengan memamerkan senyumannya.

" Baik. sudah jelas bukan ? jadi jangan ribut-ribut disini. Selamat malam " kata Kakashi dengan menyeret Itachi yang lunglai di lantai.

Hinata dengan riang tertawa dengan Ino dan juga Konan, mereka berjalan menuju ke asrama Ino yang bersebelahan dengan rumah Sakura. Sasuke hanya memasang wajah datarnya ketika Sasori meliriknya. Sasori hanya mendengus ketika Sai tersenyum ramah ke arahnya tapi jika dilihat lama-lama senyuman Sai bertambah aneh. Triple S kini masuk kedalam kamar Sasuke. Sasori masuk dengan hati-hati.

" Apa ini aman untuk aku tidur? " Sasori melihat-lihat kamar Sasuke.

" Jangan berisik ! " jawab Sasuke dengan memberi deathglare.

" Kau ingin aku tidur di kasur yang sepit ini untuk bertiga? " tanya Sasori lagi dengan wajah innocent.

" Bawel " comment Sasuke.

" Menurutmu ini kecil, tapi bukankah bagus jika kita berbagi? " tambah Sai dengan senyum.

" Kurasa ini perlu sedikit sihir " Sasori membalas dengan mengeluarkan tongkat sihirnya.

Satu sentuhan tongkat Sasori saja sudah bisa membuat kasur Sasuke menjadi sangat lebar. Sasori tersenyum, Sasuke melongo, Sai tetap tersenyum. Sasori hanya menggidikkan bahunya dan mengambil tempat disisi kanan ranjang. Sasuke mengambil posisi tidur disisi kiri ranjang. Mereka berdua saling membelakangi satu sama lain sementara Sai hanya tersenyum dan menggidikkan bahunya, setidaknya posisi tengah tidak masalah.

Sementara di kamar Sasuke mengeluarkan aura rival, di rumah Kakashi mengeluarkan aura yang sangat tenang bahkan seperti tak berpenghuni. Itachi dan Kakashi duduk di sofa dan menyeduh teh hangat dan masih betah dalam selimut diam. Itachi sesekali melirik Kakashi yang sangat tenang meminum tehnya.

" Bagaimana dengan vampire yang waktu itu menyerangmu saat kau menitipkan Sasuke kepadaku waktu itu " Kakashi memulai pembicaraan dengan santai.

" Mereka kubunuh bersama dengan Konan, saat itu aku hampir mati tapi Konan datang dan membuatku menjadi vampire utuh walaupun efek dhampir yang ada di darahku masih ada tapi setidaknya aku lolos " jelas Itachi dengan meletakkan tehnya.

" Beberapa hari yang lalu, Hinata datang dari negeri sihir dan saat itu juga Sasuke menjadi vampire utuh dengan meminum darah Hinata. Saat itu ada vampire yang memburu mereka, tapi semua sudah teratasi " jelas Kakashi dengan menatap Itachi.

" Kau yakin Hinata tak akan menjadi vampire jika Sasuke menggigitnya ? atau tentang legenda danau kematian itu? " tanya Itachi dengan gusar.

" Tidak, saat aku meyakinkannya di sekolah dia dengan mantap menjawabnya tapi jika dengan legenda danau kematian itu, sebenarnya kenyataan leluhur penyihir tertanam di danau kematian. Kau sempat melihat bagaimana danau kematian bukan? " tanya Kakashi dengan menyeruput tehnya lagi.

" Hn, Hitam, gelap dan mengerikan. Kudengar disana banyak rumor yang beredar jika pasangan penyihir dan vampire itu yang membuat danau menjadi hitam ya? " tanya Itachi.

" Dulu, saat aku kecil danau itu tak sehitam sekarang. Danau itu sangat jernih sekali bahkan dongeng ayahku berkata jika dulu turun dewi dari langit hanya untuk mencelupkan diri mereka ke danau itu. banyak penyihir yang mengabil air danau yang sangat jernih itu untuk melengkapi ramuan mereka. tapi semenjak ada insiden itu, danau kami menjadi kelam dan tercemar. Saat itu aku melihat ketika banyak sekali para leluhur penyihir melemparkan sesuatu ke dalam danau itu dan perlahan danau itu menjadi hitam bersama dengan sumpah itu. kurasa yang mereka lemparkan itu adalah kebenaran seperti yang tersimpan di leluhurmu tentang insiden itu " jelas Kakashi panjang lebar.

" Jika kenyataan para leluhur penyihir tertanam di danau kematian, lalu bagaimana cara kita agar bisa mengetahui kebenarannya? " tanya Itachi lagi.

" Aku juga tak tahu " jawab Kakashi.

.

.

.

" Konan-san, sudah berapa lama Konan-san dengan Itachi-kun? " goda Ino saat mereka sudah ada di kamar Ino.

" Sudah lama sih, tapi kami selalu tersesat ketika akan ke dunia manusia untuk mencari Sasuke " balas Konan dengan mengedipkan matanya ke arah Ino.

" W-Wah.. " Ino hanya terperangah dengan ucapan blak-blakan Konan.

" K-Konan-san, t-tolong jelaskan lebih lanjut mengenai d-danau k-kematian itu " ucap Hinata yang membuat Ino berhenti berlari ke kamar mandi dan Konan menghentikan aktivitasnya mengeluarkan bajunya.

" Aku memakai kamar mandinya dulu ya Hinata " ujar Ino dengan ceria memasuki kamar mandinya meninggalkan Hinata yang masih basah karena hujan-hujanan tadi duduk di lantai dengan mengangguk tersenyum.

Blam. Ino telah masuk ke dalam kamar mandi, Ino hanya masuk saja ke dalam kamar mandi dan berdiri diam di balik pintu untuk mendengarkan baik-baik percakapan antara Hinata dan Konan. Konan hanya membenarkan posisinya dan menghentikan menata bajunya dan menghadap Hinata kali ini, Hinata hanya mendengarkan dengan serius apa yang akan Konan sampaikan dengannya.

" Saat aku kecil bersama dengan teman-temanku sesama vampire, kami sangat sering mendengar tentang bagaimana sang vampire begitu tulus untuk mencintai, menjaga bahkan merelakan hidupnya hanya untuk sang penyihir bahkan saat kecil dulu aku sangat mengharapkan memiliki kekasih seperti itu hahaha " canda Konan sedangkan Hinata hanya tersenyum tipis.

" Sang penyihir itu sering kali menerobos masuk kedalam dunia kami saat itu, dia sangat sering bertemu dengan sahabatnya sang vampire dan setiap ia jenuh, iakabur hanya untuk bertemu dengan sang vampire. Mereka sangat dekat, bahkan lebih dekat daripada semua orang bayangkan hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Leluhur vampire sangat senang ketika sang penyihir bermain di dunia kami dan dia sangat ramah, ceria dan juga baik hati sayang pilihannya untuk bersama dengan sang vampire agar ia terbebas dari pertunangan yang telah di atur membuat leluhur kita bermusuhan " jelas Konan lagi.

" T-Tapi, mereka kan saling mencintai d-dan bukankah i-itu w-wajar? " bantah Hinata.

" Memang benar tapi sebenarnya sang vampire mati terbunuh karena sihir dari ayah sang penyihir dan sang penyihir itu tak terima dengan kelakuan ayahnya hingga akhirnya ia berniat untuk membawanya ke danau dimana banyak orang yang membicarakannya bahkan ibuku membicarakan tentang ajaibnya danau itu " Konan menerawang langit-langit kamar Ino.

" D-Danau? " Hinata semakin serius memperhatikan Konan.

" Ya, danau yang begitu ajaib bahkan indah. Konon, danau itu bisa membuat ramuan menjadi lebih ampuh atau bahkan bisa menyucikan sesuatu. Jadi sang penyihir datang ke danau itu dengan membawa sang vampire berharap jika danau itu juga membawa keajaiban kepadanya sayang sang penyihir juga terkena mantra sehingga mereka berdua meninggal di dekat danau tersebut " Konan menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ceritanya lagi.

" Seorang vampire memantrai sang penyihir karena cemburu dan saat itu ayah dari sang penyihir mengetahui semuanya dan menyumpahi kami sejak saat itu dan vampire yang memantrai sang penyihir hingga meninggal tersebut juga meninggal di tempat karena mantra tersebut " Konan nampak berpikir keras dengan memejamkan matanya.

" Ayah dari sang penyihir menangisi putrinya yang meninggal bersama dengan si vampire di tepi danau itu. keluarga dari si penyihir mengelilinginya bahkan leluhur penyihirpun juga datang, bahkan kekasih yang meninggal di tepi danau itu di tenggelamkan di danau itu. dan tak lama setelah itu ayah sang penyihir pun meninggal dan tak ada yang tahu kecuali leluhur penyihir, yang kami tahu hanyalah jika ayah sang penyihir itu menyalahkan dirinya atas kematian putri satu-satunya, dan sejak saat itu danau yang tadinya ajaib bahkan indah kini berubah menjadi menakutkan dan menjadi tempat banyak orang mengakhiri hidupnya hingga saat ini " akhir Konan dengan membuka matanya.

" J-Jadi, d-danau kematian itu terus menjadi begitu hingga sekarang " gumam Hinata entah pada siapa yang mendengarkannya.

Ino masih tetap bersembunyi di balik pintu kamar mandinya. Tangannya meremas bajunya hingga terlihat sangat kusut. Ino hanya bisa diam dan tak bersuara mendengarkan cerita Konan, perlahan tangannya melepaskan ikat rambutnya dan mulai membasahinya. Ino mulai menimbulkan suara gemericik air yang menandakan jika ia sedang mandi. Hinata menatap sekilas pintu kamar mandi dimana suara air itu bergemericik. Tak lama setelah Ino keluar dari kamar mandinya, Hinata masuk kedalam kamar mandi Ino dan berendam.

" Jadi, kebenarannya b-begitu ya ? a-aku akan m-mengembalikan k-kehormatan para vampire bahkan leluhur mereka agar k-k-kami bisa berdamai s-s-seperti dulu " gumam Hinata dengan menenggelamkan kepalanya kedalam bak yang ia gunakan untuk berendam. Sementara di kamar, Ino duduk menghadap Konan yang tersenyum dengan menata pakaiannya.

" Apa tak ada cara lain menghentikan kutukan itu? " Konan hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Ino.

" Sial " tambah Ino.

" Lalu, darimana Konan-san tahu begitu banyak tentang hal itu bahkan dunia sihir? " tanya Ino lagi.

" Karena teman-temanku bahkan ibuku sangat sering menceritakan hal ini padaku sejak kecil jadi aku tak pernah bisa melupakan cerita mereka lagipula itu juga telah menjadi legenda yang sangat besar di antara kita bukan? " jelas Konan dengan tersenyum.

.

.

.

Pagi harinya, kehidupan dimulai seperti biasa. Sekolah juga telah dimulai. Sakura dan Naruto memanfaatkan waktu dengan ngobrol hanya berdua ketika Kakashi-sensei -selalu-terlambat. Sasuke juga masih berusaha mendapatkan waktu untuk bisa berbicara tanpa ada gangguan dari Karin yang selalu saja memotong ketika Hinata akan menjawab pertanyaan Sasuke. Sai masih setia dengan aktivitas melukisnya dan kali ini ia melukis Ino yang tidur di pintu terbuka menampilkan Kakashi yang terbatuk. Karin kembali pada tempat duduknya, Sasuke menghadap kedepan begitu pula Hinata yang juga menghadap kedepan. Sai membangunkan Ino. Sakura dan Naruto juga mulai diam.

" Uhuk, maaf saya terlambat. Saya hanya akan memperkenalkan guru baru disini jadi mohon kalian semua diam sebentar " jelas Kakashi dengan terbatuk-batuk.

" Selamat pagi " ujar seorang saat memasuki kelas saat itu.

" Kyaaa kerennya ! " teriak para siswi saat itu, bahkan Sakurapun berbinar-binar ketika guru berkacamata itu masuk. Sementara Sai dan Ino membelalak kan matanya.

" Tidak mungkin " Sasuke dan Hinata bahkan mengucapkan kata itu bersamaan.

" Perkenalkan saya Akasuna Sasori dan mulai sekarang saya akan mengajarkan kimia kepada kalian jadi mohon bantuannya " ujar Sasori dengan menaikkan kacamatanya dan tertawa kemenangan ke arah Sasuke.

" Kyaa sensei ! saya akan selalu membantu sensei ! " para siswi berteriak dengan wajah yang sangat merah. Sasuke hanya mendengus dengan menoleh ke arah Hinata yang memainkan pensilnya dengan menunduk.

Kini pengganggu bukan hanya Karin saja tapi Sasori kini juga akan ikut mengganggunya. Sama-sama berambut merah dan lagi kini Sasori juga memakai kacamata, duo kacamata berambut merah pasti selalu mengganggu momen-momen romantis Sasuke dengan Hinata.

' Apa ini akan baik-baik saja? ' batin Kakashi masih batuk.

Saat pelajaran, Sasuke sangat tidak nyaman ketika Sasori terus-terusan mendekati Hinata. Hinata hanya bisa memandang Sasuke dengan pandangan memelas, Sasuke terus-terusan melempari kertas ke arah Sasori ketika Sasori mendekati Hinata. Sasori dengan ide cemerlangnya menghukum Sasuke dengan alasan melempari kertas pada gurunya. Guru selalu berkuasa hahaha. Karin menawarkan diri untuk bersama Sasuke di hukum dan hal itu membuat Hinata mengerutkan dahinya tanda tak setuju. Tapi Sasori menyetujuinya, Sasori ingin melihat Sasuke yang terus-terusan mendeathglarenya.

Saat istirahat, Sasuke menyeret Hinata dengan cepat. Agar ia tak ketahuan berduaan saja bersama dengan Hinata dari Karin dan Sasori. Hinata hanya menatap punggung Sasuke ketika ia di geret Sasuke menuju atap sekolah. Sakura dan Naruto melihat Sasuke dan Hinata tapi mereka hanya tersenyum.

" Rasanya sudah lama ya kita tak seperti ini? " ujar Sasuke dengan bersandar pada Hinata.

" Semalam aku bermimpi aneh S-Sasuke-k-kun... " gumam Hinata dengan menatap langit.

" Ceritakan padaku " balas Sasuke dengan duduk menghadap Hinata.

" A-Aku semalam b-bermimpi jika a-aku tenggelam " jawab Hinata dengan menunduk.

" Tenggelam? " tanya Sasuke.

" Y-Ya..dan t-tiba-tiba S-Sasuke-k-kun m-memelukku d-dengan erat.. " lanjut Hinata dengan rona yang merah diwajahnya.

" Seperti ini? " Sasuke mempraktekkan dengan memeluk Hinata.

" S-Sa-Sasuke-k-kun, a-aku tak b-b-bisa bernafas " jawab Hinata dengan menurunkan tangan Sasuke.

" Ahahaha, baiklah... " jawab Sasuke dengan tertawa dan melepaskan pelukannya.

" Oh ya, kau melupakan sapu terbangmu di kamarku " tambah Sasuke dengan mengelus rambut dan kepala Hinata.

" A-Akan ku ambil S-Sasuke nanti s-saja " jawab Hinata dengan menunduk.

" Hei, kau masih memberikan namaku padanya ? aku tidak suka itu ! cepat ganti namanya ! " Sasuke marah dengan melepaskan tangannya dari Hinata.

" T-Tapi, a-a-aku ingin S-Sasuke y-yang ini.. " balas Hinata dengan memeluk Sasuke, Hinata terlalu malu saat memeluk Sasuke sehingga ia memejamkan matanya dengan erat begitu pula dengan pelukannya yang erat. Lain dengan Sasuke, ia sangat terkejut.

" H-Hinata, a-aku haus " mata vampire Sasuke mulai keluar.

" Selama ada Karin dan Sasori kita jadi jarang seperti ini bukan? " tambah Sasuke dengan melepas pelukan Hinata. Kini mata vampire nya sepenuhnya keluar tapi tatapan matanya masih kosong belum sadar. Pandangan orang kelaparan lah.

" S-Sasu-Sasuke " tangan Hinata perlahan mencoba menghentikan tangan Sasuke yang membuka kerah bajunya.

" Kujamin kali ini tak akan sakit Hinata " taring Sasuke sudah menyentuh kulit di tengkuk Hinata.

" N-Ngggg... " Hinata memejamkan matanya dan memeluk Sasuke erat. Sasuke membalas pelukan Hinata dengan posisi yang masih menghisap darah Hinata.

' M-Memang tidak sakit tapi a-aku m-malu' Hinata masih memeluk Sasuke.

" Tidak sakit kan? " Sasuke melepaskan Hinata dan tersenyum.

" ... " Hinata tak menjawabnya malah langsung menutupi gigitan Sasuke.

" Ayo kembali " Sasuke berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Hinata, Hinata mendongak dan menerima uluran tangan Sasuke.

Sasuke dan Hinata turun dari atap sekolah karena jam istirahat hampir habis. Sebelum masuk ke kelas, mereka menuju ke kantin untuk membeli roti karena Hinata merasa lapar. Di kantin, Naruto dan Sakura sedikit berjauhan karena mereka takut. Sasori saat itu baru memasuki ke kantin dan duduk di antara Hinata dan Sasuke yang duduk berdua dengan bercanda. Sasori hanya duduk dengan meneguk minuman yang ada ditangannya.

" Apa ada masalah denganmu? " Sasori menjulurkan pertanyaan kepada siapa kita tak tahu tapi Sasuke mengerti untuk siapa pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Sasori.

" Sangat banyak, Hinata ayo kembali ke kelas " Sasuke hanya menatap sekilas Sasori sebelum Hinata memegang tangannya dengan tersenyum manis yang dapat meredakan Sasuke.

" Jangan di hiraukan " Hinata tersenyum simpul ke arah Sasuke.

Semenjak hari itu, pertempuran antara Sasuke dengan Sasori semakin berlanjut. Hari demi hari selalu saja memperebutkan Hinata, Sasori yang mengerti jika Karin yang sesama penyihir dengannya sangat menginginkan Sasukepun merencanakan taktik agar bisa memisahkan Sasuke dan Hinata. Tapi Sai dan Ino membantu Sasuke dan Hinata agar selalu lolos dari taktik Sasori dengan Karin walaupun diam-diam. Hampir satu minggu Sasori berada di sekolah itu dan sudah mendapat julukan pangeran juga. Sasuke dan Sasori kini menjadi Double Prince eS yang sangat di sukai di kalangan kebanyakan siswi. Kata 'eS' yang memiliki arti bahwa mereka sama-sama seperti dinginnya es dan huruf S dari 'eS' adalah tentu saja Sasuke dan Sasori.

Hari minggu ini Sasuke merencanakan untuk pergi bersama Hinata untuk berjalan-jalan, hanya berdua. Sasuke menikmati kebersamaannya kali ini bersama Hinata. Bahkan Sasuke hampir lupa kapan terakhir kali ia merasakan ketentraman bersama Hinata seperti saat ini. Hinata nampak begitu cantik hari ini, tatanan rambutnya Hinata mengatakan jika itu adalah tatanan Ino. Pantas Hinata nampak berbeda. Saat akan menyusul Hinata di apartemen Ino, Sai ikut dengan Sasuke, alasannya hanya ' karena aku rindu Ino-chan '. Dan saat Sasuke dan Hinata pergi, Sai langsung masuk kedalam kamar apartemen Ino, tak menghiraukan jika ada Konan disana.

Setelah merasa lelah, Hinata meminta untuk pulang tapi bukan ke apartemen Ino melainkan ke apartemen Sasuke karena ia melupakan Sasuke yang satunya. Saat Hinata berada di depan kamar Sasuke, Hinata menunggu Sasuke masuk kedalam kamarnya dan mengambil sapu terbang kesayangannya. Hinata dapat mendengar bunyi gaduh dari dalam kamar Sasuke. saat Sasuke keluar, rambut Sasuke nampak berantakan dan Sasuke si sapu terbang Hinata memukul Sasuke.

" S-Sasuke ! h-hentikan itu ! " Hinata mengambil sapu terbangnya dari tangan Sasuke dan menjauhkannya dari Sasuke.

" K-Kenapa kau lakukan itu, itu tidak sopan...cepat bilang minta m-maaf " Hinata menuturkan kata-kata halusnya kepada sapunya yang berdiri dengan tegap itu. sapu Hinata itu menunduk sekilas ke arah Sasuke dan Sasuke hanya tersenyum simpul.

" Jangan begitu, mungkin dia memang punya dendam padaku. Tapi aku serius jika aku tak suka saat kau memanggilnya Sasuke juga ! " Sasuke menuding-nuding sapu terbang Hinata dengan sarkastis. Pertengkaran antara dua Sasuke di mulai lagi, Sasuke menginjak Sasuke si sapu terbang agar tak bisa bergerak lagi.

" H-Hinata, aku haus " Sasuke memelas dengan wajah yang sedikit pucat.

" B-Baiklah, t-tapi kali ini sedikit saja ya ? aku harus pulang, nanti Ino dan Konan-san khawatir " Hinata mulai membuka kerah bajunya dan menunjukkan leher jenjangnya kepada Sasuke.

" Tak masalah " Sasuke menyeringai dengan mendekati Hinata tapi kakinya masih menginjak Sasuke si sapu terbang Hinata.

Sasuke mulai menggigit leher jenjang Hinata dan menghisap darah yang keluar dari leher jenjang Hinata. Hinata hanya berpegangan erat pada pundak Sasuke sedangkan Sasuke memeluk Hinata semakin erat. Kejadian itu tak lama berlangsung ketika ada dentuman pintu yang keras dan seseorang menarik keras Sasuke dari Hinata, yang menyebabkan Hinata harus menahan sedikit perih ketika taring itu di lepas secara paksa dari tengkuknya. Dia Sasori.

" Apa yang kau lakukan ! " Sasori mencengram kerah Sasuke sedangkan Sasuke sendiri hanya menunduk dan sedikit oleng. Sasuke si sapu terbang bisa terbebas karena Sasuke memindahkan kakinya saat tarikan paksa Sasori barusan. Sasuke mendongak menatap Sasori sekilas dan darah masih membekas di bibir sang vampire itu.

" S-Sa-Sasuke, k-kau...kau Uchiha, hah ? " Sasori semakin menggeram dengan menekankan kata terakhirnya ketika melihat taring dan darah masih ada di wajah Sasuke, perhatian Sasori kini ia alihkan ke arah Hinata yang menempel di dinding dan memegang tengkuknya, atau menutupi lebih jelasnya. Sasori melepaskan cengkramannya dari Sasuke dan mendekati Hinata, Hinata hanya merinding ketika Sasori mendekat dengan tatapan marah.

" Jelaskan padaku sekarang juga ! " kata Sasori dengan penuh penekanan dan kilatan marah di matanya.

" S-Sa-Sasori-kun... " Hinata mendongak menatap Sasori yang marah, tak banyak yang bisa di lakukan oleh Hinata. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatapnya takut. Sapu terbang Hinata hendak memukul Sasori, begitu pula dengan Sasuke yang ingin membalas perbuatannya. Namun Sasori mengurung Sasuke bersama dengan sapu terbang Hinata.

" Apa kau tahu jika kita sangat di larang keras untuk berhubungan dengan ras Vampire hah ! " Sasori membentak Hinata dan itu sukses membuat Hinata hanya menunduk saja, Sasuke mencoba memberontak bersama sapu Hinata tapi tetap saja mereka tak bisa bebas.

" Apa kau tahu apa akibatnya jika kita melanggarnya ? apa kau tak takut jika kau nantinya juga akan berubah menjadi vampire ! apa kau tak memikirkan semua itu ! " Sasori terus-terusan menyudutkan Hinata agar Hinata tak bisa menjawabnya. Hinata hanya mendongak dengan ekspresi terkejut saat menatap wajah Sasori yang mulai mengeluarkan air matanya.

" S-Sasori-kun, m-maafkan aku... " Hinata hanya bisa berkata seperti itu dengan sedikit mata yang berair.

" Sudahlah, aku akan membawamu pulang besok dan akan kupastikan ingatan semua orang yang mengenalmu akan hilang terhadapmu dan diriku " Sasori melepaskan Hinata agar ia bisa menutupi air matanya. Saat Sasuke bisa keluar dari mantra pengurung Sasori, Sasuke langsung menghambur ke Sasori hendak menyerangnya. Tapi Sasori langsung mendorong Sasuke sehingga Sasuke jatuh tapi sebelum Sasuke jatuh, Sasuke menarik baju Sasori sehingga Sasori ikut terjatuh ke bawah bersama Sasuke.

Hinata merangkak ke sapu terbangnya memeluknya sekilas, Sasuke si sapu terbang hanya bisa merespon sang majikannya dengan membalas pelukan sang majikannya. Hinata mendengar ada bunyi sihir yang saling lempar. Hinata mendekat pada pembatas itu dan melihat Sasuke dan Sasori bertarung dengan sihir mereka. saat Sasori akan melemparkan sihir pada Sasuke mendadak Hinata menghalanginya dengan memeluk tubuh Sasuke. sihir tak dapat ditarik bung ketika telah terlempar. Jadi, Hinatalah yang terkena sihir Sasori. Sasuke dan Sasori hanya membulatkan matanya ketika Hinata terjatuh setelah terkena lemparan sihir Sasori.

" H-Hinata " Sasuke dan Sasori sama-sama menghentikan pertarungan mereka dan mendekat pada Hinata yang sudah meringsut jatuh ke tanah.

" Ini salahmu ! " Sasuke memarahi Sasori yang ada di depannya.

" Ini salahmu ! jika kau tak menyerangku mana mungkin ini semua terjadi ! " Sasori balik menyalahkan Sasuke.

" Biarkan aku yang membawanya " Sasuke menggendong Hinata di punggungnya.

" Aku awasi kau ! " Sasori mengikuti Sasuke di belakangnya bersama dengan sapu terbang Hinata.

Sasori dan Sasuke masih bertengkar dalam perjalanan saat menggendong Hinata. Sasuke terus menggendong Hinata dengan mengoceh pada Sasori, begitu pula Sasori, ia selalu memukul Sasuke dengan sapu terbang Hinata. Sasuke si sapu terbang dengan semangat memukul Sasuke tapi ia tak mengenai Hinata majikannya. Sasuke hanya mendengus kesal saat Sasori terus-terusan memukulnya. Hujan turun menghiashi pertengkaran mereka, Sasuke hanya menatap sejenak langit yang menurunkan hujan. Ia ingat perkataan Hinata jika ini adalah suatu pertanda tapi kali ini pertanda apa ?. Sasori ikut mendongakkan kepalanya tapi sekilas sapu terbang Hinata memukul kepala Sasuke. hujan itu semakin deras, kilat dengan keras menyambar dan bergemuruh setelahnya. Sasori memayungi tubuh basah Hinata. Sasuke dan Sasori terus berjalan hingga akhirnya sampai di apartemen Ino dan membuat Ino, Sai dan Konan terkejut dengan keadaan Hinata yang basah kuyup.

" Apa yang terjadi? " Ino membuka pintunya semakin lebar.

" Biarkan Hinata hangat dulu...kasihan dia dari tadi kehujanan " Sasori mengusulkan dengan bergantian membawa Hinata.

" Upayakan agar ruangan ini tetap hangat " Sasuke juga mengusulkan hal yang sama dengan menyeret Sai dan Sasori keluar setelah Sasori menidurkan Hinata.

" Baiklah " Ino mengangguk ketika ketiga pemuda itu meninggalkan apartemen Ino. Konan hanya menggunakan sihirnya untuk mengeringkan Hinata dan menghangatkannya.

.

.

.

" Apa ? kau bilang Hinata kabur ! " Hiashi mengamuk ketika Hanabi tertangkap basah oleh Neji ketika cerminnya di temukan oleh Neji.

" Neji cepat cari Hinata sekarang juga ! " Hiashi menitahkan Neji dengan geram menatap Hanabi yang kini di elus lembut Ten-Ten.

" Aku sudah menemukannya, barusaja aku melihatnya bersama dengan Sasori " Neji menutup cerminnya dengan menatap datar Neji.

" Sasori ? apa dia sudah tahu tentang ini ? bisa gawat jika dia marah..Neji, besok ikut aku menjemput Hinata " Hiashi membalikkan badannya meninggalkan Hanabi dan Ten-Ten yang terperangah.

" Di dunia manusia? " Neji menambahkannya dengan mengernyitkan alisnya. Hiashi memejamkan matanya sejenak dan membukanya lagi.

" Aku tidak ingin calon menantuku harus bersaing dengan Uchiha, apalagi jika anakku harus ada di dekat Uchiha " Hiashi kembali melangkah.

" Uchiha ? " Hanabi, Neji dan Ten-Ten yang ada disitu hanya bisa membulatkan matanya dan histeris tak percaya.

" Kau tak bilang padaku jika dia Uchiha, Hanabi ! " Ten-Ten dan Neji menghakimi Hanabi yang juga terlihat cemas.

" Hinata-nee tidak bilang apa-apa padaku tentang Uchiha ! " Hanabi menjambak rambutnya sendiri.

" Kau dan kau harus ikut besok ! " Neji menunjuk Hanabi dan Ten-Ten dengan tatapan dinginnya.

.

.

.

" Sebenarnya apa yang sedang terjadi? " Sai memecah keheningan yang terjadi begitu lama di antara Sasori dan Sasuke yang diam dan masih basah karena hujan-hujanan.

" Ini semua gara-gara dia ! " Sasuke dan Sasori saling menunjuk dan melemparkan kesalahan yang telah terjadi.

" Jika kau tidak berhenti mana bisa aku tau Hinata tiba-tiba datang ? " Sasuke membentak Sasori.

" Kau yang mulai duluan ! andai saja kau tak menyerangku dan menarikku hingga jatuh mungkin sekarang Hinata tidur dengan tersenyum tenang disana ! " Sasori membalas Sasuke dengan menunjuk-nunjuk luar yang ia maksudkan apartemen Ino.

" Tapi kau yang membuatnya jadi begini ! " Sasuke mendekati Sasori dan mencengkram kerah baju Sasori dengan geram.

" Dan kau yang telah membuat Hinata melompat dan mengahalangiku ! " Sasori tak mau kalah dan membalik mencengkram baju Sasuke.

" Hentikan Sas ! " Sai berteriak dan membuat Sasuke dan Sasori saling terpental bagaikan magnet yang saling tolak menolak hingga mereka sama-sama menabrak dinding. Entah Sai itu menyuruh 'Sas' yang 'Uke' atau 'Ori' ? #Sasuke atau Sasori, kalau gak ngerti maksud saya =='a.

" Cih, kau sahabat yang tak bisa di andalkan " Sasuke berdiri dari jatuhnya dan tidur membelakangi Sai dan Sasori, Sasuke mendirikan tirai yang bermaksud sebagai pembatas dan melebarkan kasurnya.

" Kau teman kecil yang tak membantuku sama sekali " Sasori juga mencemooh Sai dan melakukan hal yang sama seperti Sasuke.

Sai hanya bingung menatap kedua pembatas yang kini membatasi ruang tidurnya di kanan dan kiri " Kalian membuatku gila ! " Sai menarik rambutnya frustasi.

Keesokkan paginya, Sasuke dan Sasori saling diam tak ada yang bicara satu sama lain. Hinata hari ini juga tak masuk sekolah dengan alasan sakit. Di apartemen Ino, Konan merawat Hinata terus menerus hingga wajah pucat Hinata hampir menjadi merah seperti semula walaupun ini bukan pertama kalinya Konan menyembuhkan luka dengan sihir tapi ini pertama kalinya bagi Konan menyembuhkan seorang penyihir jadi wajar saja jika Konan harus melakukan perang dengan batinnya terlebih dahulu.

Kelas begitu sepi kali ini, Karin yang seharusnya bisa memanfaatkan waktunya untuk mendekati Sasuke malah tak di respon sama sekali oleh Sasuke yang sangat diam dan Karin akui, kali ini dia merasa sangat sepi ketika tak ada Hinata yang menemaninya berantem (lha kok O.o) karena ini pertama kalinya Karin merasa mendapatkan teman yang sesungguhnya dari sekian lamanya ia kesepian.

Pagi ini Konan harus ke pergi ke suatu tempat karena kemarin sebelum Hinta datang, ia sudah berjanji untuk datang ke tempat itu mengantarkan sesuatu. Konan meninggalkan Hinata yang masih terbaring di kasurnya yang hangat. Konan mengunci kamar apartemen Ino agar ia bisa lega saat Hinata tertidur di kamar sendirian.

Hinata yang terbaring di kasur empuk Ino hanya menggeliat lemah saat tubuh mungilnya tertutupi seliut tebal dan membuatnya sangat sesak ketika bernafas. Hal pertama kali Hinata lakukan ketika telah berhasil duduk di kepala kasur itu adalah mencari cerminnya yang bergetar. Di bukanya perlahan cermin itu dan banyak sekali pesan dari Hanabi setelah kemarin terakhir kali ia menghubungi adik kecilnya itu. Hinata membaca satu persatu pesan dari Hanabi dan setiap ia semakin membacanya turun, matanya tka berhenti melebar.

' Hinata-nee ! besok kami akan menjemputmu ! maafkan aku jika ayah mengetahui ini =( '

" B-Besok, b-berarti h-hari ini... " Hinata berlari menuju ke arah pintu kamar Ino yang terkunci. Bahkan ketika sapu terbangnya mendobrak, pintu tetap tak bisa di buka.

" B-Bagaimana ini? " Hinata mulai meringsut dan bersandar di pintu kamar itu dengan menggenggam erat sapu terbangnya. Tubuh Hinata masih lemah jadi wajar saja jika gadis itu kini malah terlihat seperti demam.

.

.

.

" Bagaimana ? tidak ada bukan? " Hanabi dengan takut-takut bertanya kepada Hiashi yang matanya masih seperti men-scan daerah-daerah di dunia manusia. Mata penyihirnya tak pernah salah jika mengatakan memang Hinata sedang berada disana tapi masih tak terlihat.

" Kita lanjutkan besok saja " Hiashi langsung hilang bak di telan angin. Neji juga mengikuti Hiashi.

Kini hanya tersisa Hanabi dengan Ten-Ten yang menggigit jari mereka.

T.B.C


Bagaimana ini, kenapa aku ngerasa jika character Sasuke jadi berubah-berubah mulu' ya ! #menarik rambut sendiri dengan teriak toa.

Hiks, hiks minna bagaimana ini ? TTwTT

Mau reviews atau pass ? silahkan saja deh, saya memberi pilihan daripada anda sekalian stress dalam fic anehku ini.

Oia buat para readers yang udah reviews selama ini, Hachi ucapin makasih yak ? =D

Maaf Hachi gak pernah bales satu-satu, pegel minna ==a #plakplakdukduagh.

Biasanya Hachi ngebales reviewsnya itu lewat private message =D

Hehe, kalo fic yang ini ancur, di saat SHDL ntar, jangan bosen mampir ke fic yang udah Hachi siapin yak ? =D

Arigatou =D