I own nothing, has!
Chapter 3
Suara rintik hujan terdengar sayup-sayup di telinga. Kakiku terasa mati rasa dan separuh tubuhku terasa amat berat seperti tertindih. Otak warasku mendadak kembali. Draco Malfoy. Sosok itu kini sedang tertidur pulas dengan wajah yang terkubur di leher dan kaki yang menimpa kakiku. Aku dapat merasakan setiap helaan napasnya di kulitku. Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku merasa sangat nyaman akan keadaan ini. Bila dimungkinkan aku ingin berada dalam keadaan ini seharian dan tak bergerak sedikitpun. Kulirik jam yang berada di nakas itu. Sudah pagi dan aku tak mungkin mewujudkan keinginanku tadi. Perlahan aku bergeser dan menyanggah Malfoy dengan bantal dan mencari bajuku yang entah berceceran dimana akibat kegiatan kami tadi malam.
Setelah menemukannya, aku bergegas ke kamar mandi guna membersihkan diri dan langsung menuju dapur. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun matahari masih enggan menampakkan dirinya. Inggris dan hujan, matahari akan menjadi bahan langka bagi negara ini. Kuputuskan untuk menyeduh teh terlebih dahulu. Tehku sudah berada di tempat lazimnya dan kini aku bersandar pada kitchen island dengan tatapan menatap rintik hujan yang diselingi angin di luar sana melalui jendela dapurku. Kurapatkan jubahku agar udara dinginnya tak terlalu menusuk sambil terus menyesap teh yang tadi kuseduh.
"Kau bisa mati kedinginan bila membiarkan jendela itu terbuka terus menerus," suara Malfoy mengejutkanku dari belakang.
Sebelum aku dapat menjawabnya, tongkatnya telah terayun dan jendela dapurku tertutup seketika. Aku memandangnya kesal, sementara ia hanya menaikkan sebelah alisnya dan tak berkata apapun.
"Jangan mengaturku. Urus hidupmu sendiri," ujarku.
Dia tersenyum. "Sekarang kau menjadi urusanku."
Aku tak dapat membalasnya.
Ia berdiri di seberang kitchen island dimana tempatku berdiri dengan bertelanjang dada dan rambut pirang berantakannya. Aku menghela napas melihat pemandangan ini. Dia juga pasti telah gila sama sepertiku.
"Berhenti disana," ucapku cepat saat Malfoy perlahan bergerak mendekatiku.
Dia berdiri dengan memandangku penuh tanya. "Kenapa?" hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.
Aku menggeleng. "Aku bilang, berhenti disana."
Kemudian seringaiannya kembali muncul dan seperti biasa dia tak pernah dan tak akan mau mendengarkan perkataanku. "Kenapa, Granger? Kau takut tak bisa menolakku? Aku pikir kau masih kelelahan karena semalam."
"Berhenti, Malfoy."
Kali ini ia mendengarkanku. Ia berhenti di tempatnya dan lagi-lagi tersenyum. "Baiklah."
Lalu ia mengambil posisi duduk tepat di seberangku. "Setidaknya berikan aku kopi atau teh yang kau minum."
Dengan cepat aku mengambil gelas dan membuatkannya secangkir kopi. Tanpa berkata apapun aku memberikannya secangkir kopi dari seberang kitchen island ini. "Terima kasih. Wine semalam ditambah dengan dirimu membuatku benar-benar mabuk," ia sedikit tersenyum lalu menyesap kopinya.
Kontan aku ikut tersenyum mendengar komentarnya. Aku membuatnya mabuk? Malfoy sakit jiwa. Aku menarik kursi dan kini kami duduk saling berhadapan. "Kau sudah sadar?" tanyaku.
"Tergantung apa yang ingin kau lakukan," jawabnya.
Aku menatapnya kesal. Dia bangkit dari kursinya. Aku tahu ia akan berjalan ke arahku dan aku tak suka dengan ide itu "Tetap di tempatmu, Malfoy."
Dia terdiam di tempatnya dengan tetap menatapku. "Kau harus tetap disana agar aku dapat berpikir jernih saat ini."
Ia tersenyum dan kembali duduk di tempatnya. "Semua yang terjadi di antara kita mulai dari di kantormu, lalu di kantorku, sampai semua yang kita lakukan tadi malam adalah kesalahan. Aku anggap kau juga berpikir seperti itu. Jadi, setelah menghabiskan kopimu pergilah dari rumahku secepatnya," ucapku lalu menghela napas setelahnya.
Dia masih menatapku lalu tersenyum. "Sayang sekali aku tak beranggapan seperti itu, Granger."
Aku menatapnya tak percaya. Demi Merlin! Aku ingin semua ini segera berakhir atau mungkin tidak sama sekali. Gila. Aku benar-benar gila. "Kita tak dapat melakukan ini," jawabku.
"Karena?" ia menantangku untuk menjelaskannya.
Kali ini aku kesal dengan permainannya. Tentu ia tahu alasannya. "Karena kau telah berisitri dan aku telah memiliki pasangan."
Ia meletakkan cangkir kopinya dan menatapku lurus. "Lalu?"
"Demi Merlin, Malfoy! Kau tahu itu semua salah. Aku tak mungkin terus melakukan hal ini, hal ini salah! Aku memiliki karir yang cemerlang, begitupula dengan kau. Bagaimana kalau orang-orang tahu? Bagaimana kalau istrimu tahu atau Viktor tahu. Aku bisa mati!"
"Sudah selesai?"
"Malfoy!" teriakku melihat responnya yang seperti menganggap hal ini adalah hal termudah di muka bumi.
Dia menggeleng dan tersenyum. "Aku lebih suka kau berteriak saat kita di ranjang seperti tadi malam, Granger."
Wajahku memerah saat mendengarnya. "Kau tak dapat melakukan ini padaku. Aku bukan wanita murahan yang dapat kau jadikan simpanan. Aku bukan salah satu sex partner yang kau miliki."
Kali ini senyum di wajahnya menghilang. Ia bangkit dari kursi tinggi dapurku dan berjalan mantap ke arahku. Aku langsung berdiri begitu ia berjalan ke arahku. Kami kini berhadap-hadapan dengan jarak yang hanya Tuhan yang tahu apa yang akan kami lakukan selanjutnya. "Jangan berbicara seperti itu tentang dirimu," ujarnya tegas.
"Aku tak pernah menganggapmu wanita murahan yang layak kujadikan simpanan. Dan kau tak akan pernah menjadi sepert itu. Untuk sekadar informasi bagimu, aku tak memiliki sex partner atau apapun kau menyebutnya. Aku mau dirimu. Itu saja," jelasnya padaku.
Aku menunduk tak berani memandangnya. "Aku wanita, Draco. Begitupula dengan istrimu Astoria," jawabku lemas dan masih menunduk.
"Aku menyukaimu," balasnya pelan.
"Tapi kau memiliki istri."
"Aku tahu."
Dan aku tak dapat berkata-kata lagi. Ia tahu semua yang kami lakukan salah. Ia tahu bahwa ini tak dapat dilanjutkan. Dan seperti diriku, bukannya memutuskan untuk menghindar kami justru semakin tak terkendali. "Kenapa sekarang?" tanyaku.
Ada jeda panjang di dalam percakapan kami. Malfoy tak pernah seperti ini, ia selalu memiliki 1001 kata untuk membantahku. "Entahlah," akhirnya ia membuka suara.
"Mungkin bila bukan sekarang, keadaanya akan berbeda. Mungkin kau langsung merapalkan mantra padaku ketika aku menciummu," dia tertawa sambil menjelaskannya.
Mau tak mau aku juga ikut tertawa saat mendengarnya. Mungkin bila ia menciumku saat kami berada di kasus yang sama beberapa tahun yang lalu aku akan langsung mencabik-cabik dirinya dan memisahkan semua daging dari tulangnya. Ia memegang daguku untuk membawanya agar dia dapat menatapku. "Kau merusak suasana pagi ini, Granger."
Aku tertawa dan memukul dadanya. Ia menunduk dan menciumku. Panas dan bergairah. Tanganya berada di pinggulku dan dengan gerakan singkat ia mengangkatku ke kitchen island. Langsung saja kakiku melingkari bokongnya dan tanganku menyelusup ke rambut pirangnya yang kini semakin berantakan. "Kita akan mencari cara untuk memecahkan semua masalah ini," ujarnya di sela-sela ciuman kami.
Bibirnya turun untuk mencium pundakku dan menurunkan jubah tidur satinku. "Dan selagi kita mencari cara, kau tak boleh tidur dengan Krum," ujarnya.
"Tidak adil," ujarku saat ia tetap mencium leherku dengan bibir panas sekaligus lembut itu.
Dia menggeleng. "Aku tak suka berbagi, Granger."
"Begitupula denganku, Malfoy."
Alih-alih berjanji untuk tidak tidur dengan Astoria dia tak menjawabnya. "Kita akan mencari cara menyelesaikan permasalahan ini."
Aku langsung mendorongnya. "Pergi dari rumahku sekarang, Pirang."
Aku langsung loncat dari kitchen island itu dan meninggalkannya. "Oh ayolah, Granger. Aku tak dapat dengan mudah melakukan hal itu. Dia masih istriku."
Aku berhenti sejenak di anak tangga untuk menatapnya dengan kesal. "Oleh karena itu, aku mengatakan bahwa hal ini salah. Pergilah sekarang juga!"
Dengan kesal aku kembali menaiki tangga untuk langsung ke kamarku. Kupunguti semua pakaian miliknya dan ketika ia berada di ambang pintu kamarku, aku melempakannya tepat ke wajahnya. "Granger!" ia berteriak padaku.
"Kau marah padaku?" tanyanya tak percaya.
Tatapan kesalnya tampak jelas saat ini. "Oh percayalah, Malfoy. Aku lebih dari sekadar marah kepadamu!"
Ia tak menjawabku dan langsung mengambil pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandiku. Aku duduk di pinggir ranjang dan berusaha menenangkan diri. Suara dari iPhone-kulah yang menghancurkan keheningan. Nama Ginny tampak terpampang di layarnya.
"Hallo, Gin," sapaku.
"Hey, kau sudah baikkan?" tanyanya cemas.
Aku bangkit dan berjalan ke arah jendela. "Sudah," jawabku cepat "tumben sekali kau menghubungi nomorku dan tak menggunakan perapian?"
"Aku tadi menggunakan perapian, tapi kau tak menjawabnya."
"Kapan?" tanyaku penasaran.
"Setengah jam yang lalu."
Setenga jam lalu aku berada di atas kitchen island dengan Draco Malfoy dan bibir lembutnya. "Aku di dapur tadi," setidaknya aku tak berbohong.
"Ooh. Kau tak lupa dengan acara makan siang di The Burrow hari ini kan?"
Makan siang di The Burrow. Aku benar-benar lupa. "Hermione?"
"Tentu saja aku ingat."
"Baiklah, sampai jumpa disana. Kau benar-benar sudah baikkan? Kau terdengar aneh."
Aku tertawa canggung mendengarnya. "Tentu aku sudah baikkan, hanya pusing biasa."
Suara derak dari pintu kamar mandiku terdengar jelas dari sini. "Ada siapa di rumahmu? Viktor datang?"
"Tidak, Gin. Sampai jumpa di The Burrow. Bye," terburu-buru aku menutup teleponnya dan langsung menatap lurus pada Draco Malfoy yang kini telah berpakaian utuh.
Dia berjalan mendekatiku dan berdiri beberapa centi di hadapanku. Ia menunduk dan aku tahu apa yang akan dilakukannya. Aku dapat merasakan helaan napasnya di wajahku. Saat bibirnya akan mendarat di bibirku, aku menunduk. "Pulanglah, Malfoy."
Aku tahu ia menghela napas namun tak ada perdebatan kali ini. Ia berjalan keluar dari rumahku.
000
The Burrow tampak tenang dari kejauhan. Aku memutuskan untuk ber-Apparate kesini daripada menggunakan Jaringan Floo. Aku berjalan di tanah yang lumayan becek karena hujan semalaman dan sepagian ini. Kurapalkan mantra pembersih sebelum masuk ke dalam rumah ini. "Auntyyy."
James berteriak lalu berlari ke arahku saat melihatku berdiri di ambang pintu rumah ini. "Hallo, Jamie," sapaku padanya setelah mengecup pipi putih kemerahannya.
"Dimana Mum dan Dad?" tanyaku padanya.
"Dad bersama Uncle Ron dan Teddy. Mum bersama Nana di dapur."
Aku tersenyum lalu membuka tanganku untuk menggendongnya. "Ayo temani aku."
The Burrow tak pernah lepas dari kehangatan di dalamnya. Aku melihat George dan Bill yang tampak asik bermain catur sihir ditemani Victoire yang tengah memabaca buku di pangkuannya. Masing-masing dari mereka menanyakan kabar padaku. Aku cinta keluarga ini. "Hey," sapaku saat memasuki dapur.
"Hey, kau sudah datang," Ginny balik menyapa. "Turunkan ia, 'Mione. Dia sudah terlalu besar untuk kau gendong kemana-mana," tambahnya saat melihat James berada di gendonganku.
Aku tersenyum lalu menurunkan James. "Bermainlah bersama Dad, katakan pada mereka makan siang akan segera siap," ujar Ginny pada anaknya yang disambut dengan anggukan dan James menghambur pergi.
"Apa kabar, Hermione?" Mrs. Weasley langsung menghampiri dan memelukku erat.
Aku menyambut pelukan hangatnya. "Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" aku berbalik tanya.
"Sehat dan bugar," celotehnya "kau harus lebih sering main kesini, aku memasak domba panggang kesukaanmu," tambahnya lagi.
Aku kembali memeluknya. "Terima kasih, Mrs. Weasley. Ooh aku merindukanmu dan tentunya domba panggang buatanmu," kekehku.
"Makan sebanyak yang kau mau, dear," jawabnya lalu kembali ke depan kompornya.
Aku melangkah ke dapur dan mulai membantu Ginny saat Fleur datang dengan mangkuk besar yang dari harumnya adalah kentang tumbuk dengan ledakan keju di dalamnya. "Hallo, Hermione," sapanya padaku.
"Hey, Fleur."
Fleur akan tetap terlihat menawan dimanapun ia berada, bahkan di dapur sekalipun. Kaki jenjangnya, rahangnya yang tegas, dan rambut pirangnya. Rambut pirang. Aku menggeleng untuk mengenyahkan hal apapun yang dapat membuatku kembali memikirkannya. "Kau baik-baik saja?" tanya Ginny.
Alisku mengerut saat menatap Ginny. "Tentu aku baik-baik saja. Berhenti mengkhawatirkanku."
Ia mengangguk. "Baiklah-baiklah."
Makan siang kami berjalan dengan ramai dan hangat. Harry tampak sabar menghadapi celotehan putranya sementara Ginny memakan makanananya. Ron tak bisa lepas dari kekasih barunya, Annie. Mereka bergerak bagai magnet yang merupakan kabar bagus bagiku. Aku berharap dia secepatnya menemukan pasangan hidup. Aku, Ginny, dan Harry sudah cukup lelah melihatnya terus-menerus berganti teman kencan. "Apa kabar Viktor, Hermione?" tanya Ron di sela potongan dombaku.
Aku sedikit terkejut mendengar nama Viktor disebut. Tak hanya terkejut, perasaan bersalah kembali mengaliri darahku. "Dia baik-baik saja," jawabku.
"Aku meliput berita timnya beberapa hari yang lalu," kini Annie ikut membuka suara.
"Benarkah?" hanya itu reaksi dariku.
Keadaan berubah menjadi hening dan semua orang kembali fokus pada makan sianganya. Apakah aku terlihat aneh? Atau mungkin aku seharusnya lebih menunjukkan ketertarikan bila ada seseorang menceritakan kekasihku. "Aku membawa wine," ujarku memecah keheningan.
"Kenapa kau tak bilang daritadi," kekeh Ron.
Setelah makan siang, Ginny dibantu oleh Fleur dan Annie tampak membersihkan meja dan merapihkannya. Ron bergabung bersama George dan Bill sementara aku pergi ke halaman belakang bersama segelas wine di tangan. Aku suka wangi selepas hujan seperti ini. Embun dan bau tanah menjadi penenang tersendiri bagi pikiranku. "Bila ada masalah kau dapat menceritakannya padaku,'Mione," Harry datang mengejutkanku.
"Bloody hell, Harry. Kau mengejutkanku."
"Maaf," kekehnya.
Aku melihat ia juga memegang segelas wine di tangannya. "Kau baik-baik saja dengan Viktor?"
"Tentu kami baik-baik saja," jawabku cepat lalu menenggak wine di tanganku.
Harry menyesapnya perlahan. "Baguslah."
"Apakah kau memiliki masalah dengan Malfoy?"
Aku tersedak mendengar nama itu disebut. "Wow, pelan-pelan 'Mione."
Kuhela napas sebentar dan menatap Harry. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Dia mengedikkan bahunya. "Entahlah, tapi saat pesta Kementerian semalam kau tampak sangat terkejut saat melihatnya lalu kau mendadak pusing dan pergi dari pesta."
"Aku benar-benar pusing. Aku tak enak badan sejak sore, oleh karena itu aku ragu untuk datang ke pesta tadi malam," jelasku berusaha mengurangi kecurigaan Harry.
Dia mengangguk-angguk. "Kau tetap bisa menceritakan semua masalahmu padaku."
Aku tertawa lalu meninju lengannya. "Touchy Harry."
Ia ikut tertawa. Aku tak tahu apakah aku dapat menyembunyikan rahasia darinya. Aku dan Harry bagaikan saudara. Menyimpan rahasia bukanlah hal yang lazim bagi kami. Tetapi, aku tak mungkin menceritakan bahwa aku tidur dengan Malfoy begitu saja. Kutenggak wine ini sampai ke dasarnya lalu kembali ke tengah-tengah The Weasleys di dalam sana.
Sebelum malam aku memutuskan untuk pulang, walaupun Mr dan Mrs. Weasley memaksaku untuk tinggal dan makan malam bahkan menginap di The Burrow, tapi aku ingin segera sampai di rumah. Makan malam, sedikit wine lalu meminum ramuan tidur tanpa mimpi dan beristirahat dengan tenang semalaman. Setelah sampai di rumah aku menelepon layanan pesan antar Chinese Food sebagai makan malam lalu menyantapnya dengan alunan musik dari musisi favoritku. Keuntungan dari tinggal di daerah Muggle adalah aku bisa berlaku selayaknya Muggle sesuka hatiku, dari memesan makanan, mendengar musik dari iPod-ku dan kegiatan-kegiatan lainnya. Tepat pukul 10 malam aku sudah berada di ranjang saat mendengar ketukan di pintuku. Jantungku seakan berhenti berdegup. Tak mungkin Malfoy. Tak mungkin ia kembali datang dan berniat untuk bermalam di rumahku. Apa yang istrinya pikirkan bila ia tak pulang bermalam-malam?
Kusibak selimutku dan keluar dari sana. Kubuka pintuku. "Hey, love."
"Viktor."
"Aku merindukanmu," ia melangkah masuk lalu memelukku.
Aku tak tahu apakah harus bahagia atau... Entahlah.
000
Viktor datang tanpa pemberitahuan dengan alasan ia merindukanku tadi malam. Jantungku seperti mau copot membayangkannya. Membayangkan bila ia memutuskan untuk datang semalam sebelumnya. Datang disaat aku dan Malfoy berada di rumah ini. Disaat bahkan aku lupa akan diriku sendiri.
"Kau menjadi pendiam dari biasanya," ujarnya saat mengenakan baju yang ia bawa di dalam overnight bag-nya.
Aku menghampirinya lalu berjinjit mengecup pipinya. "Sejak kapan kau menjadi sesensitif ini," ujarku lalu berjalan menuju lemari dan memilih baju mana yang akan kugunakan hari ini.
Ia menghampiriku lalu memelukku dari belakang. "Sejak kau semakin cantik tiap harinya dan aku tak ada di sampingmu sehingga pria lain dapat berpikir bahwa mereka dapat memilikimu."
Tanganku yang sedari tadi sibuk dengan baju-baju yan tergantung rapih di lemari mendadak berhenti. "Kau berlebihan," ujarku berusaha senormal mungkin.
Ia tertawa. "Aku tahu itu. Jangan lupa minggu depan kau harus datang di pesta timku," ucapnya melepaskan pelukannya dari diriku.
"Pasti," jawabku kembali memilih baju. "Kopi dan sarapanmu sudah siap di meja," ujarku kembali.
Ia mengecup pipiku sebelum keluar. "I love you," jawabnya sambil menatapku.
"I know."
Hanya itu jawabanku.
Siang ini kami memutuskan untuk makan siang bersama di Diagon Alley lalu dilanjutkan dengan ia menemaniku ke toko buku langgananku, Flourish and Blotts. Tetapi, sebelumnya kami mampir di Florean Fortescue Ice Cream Parlour terlebih dahulu guna memenuhi keinginanku. Sepanjang Diagon Alley ada banyak sekali paparazi yang mengikuti kami. Tak lain dan tak bukan karena Viktor Krum si pemain Quidditch ternama tengah berjalan dengan kekasihnya di keramaian seperti ini. Sesampainya di toko buku, aku langsung mencari beberapa buku yang aku inginkan sementara Viktor menghilang di lorong majalah olahraga. "What a surprise, Granger."
"Bloody hell, Malfoy! Kau bisa membuatku serangan jantung."
Dia hanya tertawa melihatku terkejut seperti tadi. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku mengerutkan dahi padanya.
Malfoy berjalan dan mengambil buku dari rak yang sama denganku. "Apalagi yang dilakukan orang disini, Granger?"
Aku menggeleng. "Kau tak akan pernah turun langsung untuk membeli buku seperti ini, Malfoy. Kau pasti akan menyuruh pegawai pribadimu untuk membelinya."
Ia menyeringai. "Aku tak tahu bahwa kau sangat perhatian terhadapku."
Aku menatap malas kepadanya. "Berhenti mengikutiku."
"Berhenti begitu yakin bahwa aku mengikutimu," kekehnya.
Aku ikut tersenyum mendengarnya. "Kau tersenyum, Granger."
"Shut up!"
"Kau sudah selesai?"
Shit! Aku lupa bahwa aku tak sendirian datang kesini. Viktor datang dari belakang Malfoy. Begitu Malfoy berbalik arah, raut wajahnya sama terkejutnya denganku. "Krum."
"Malfoy. Sudah lama tak bertemu denganmu."
Kini raut wajahnya perlahan kembali normal. What an act! "Yaa sangat lama. Kau tak mengatakan bahwa kau datang bersama dengan kekasihmu, Granger."
Aku mengedikkan bahu. "Aku rasa itu bukan hal yang perlu kuberitahukan padamu."
Dia mengganguk. "Baiklah, aku duluan. Selamat siang," dengan satu buku di tangannya ia pergi meninggalkan kami.
"Kau sudah selesai?"
Mataku masih mengikuti kemana Malfoy pergi tadi. "Hermione?"
"Yaa, yaa. Sudah."
What a shitty Sunday noon.
000
Seperti pagi-pagi sebelumnya di setiap Viktor bermalam di rumahku ketika kunjungannya di London, bangun pagi, sarapan bersama, lalu ia kembali ke timnya menggunakan Portkey. Setelah ia pergi setengah jam yang lalu akupun siap untuk berangkat ke kantor. Hujan tak datang mengguyur pagi ini, namun hawa dingin yang disebabkan hembusan angin tetap menusuk sampai ke tulang. Kueratkan mantelku kemudian menggunakan Jaringan Floo untuk sampai ke Kementerian.
"Hermione," sapa Percy yang ikut berjalan berdampingan denganku di tengah kerumunan orang di Kementerian.
Aku menatapnya kemudian tersenyum. "Pagi, Sir."
Dia tertawa. "Oh ayolah, kau tak perlu memanggilku seperti itu."
Percy Weasley adalah kepala dari departemen dimana aku bernaung dan sudah sepantasnya aku memanggilnya 'Sir' dan sudah kebiasaannya untuk melarangku memanggilnya seperti itu. "Kau sudah mendapatkan memo bahwa setelah makan siang, departemen kita akan melakukan rapat."
Aku mengerutkan dahi. "Oh tentu kau belum mendapatkannya. Aku sangart bodoh, kau baru saja sampai disini bersamaan denganku," ucapnya.
"Aku yakin memo itu sudah ada di kantormu saat ini. Sampai bertemu di ruang rapat, Hermione," lalu ia berbelok ke lorong yang berlawanan denganku.
Aku kembali tersenyum dan masuk ke dalam lift yang selalu penuh sesak.
Benar saja, memo sudah menunggu di atas mejaku begitu aku masuk ke kantor. Dahiku mengerut, rapat apa yang akan dilakukan nanti? Tertulis dengan jelas bahwa perwakilan beberapa divisi di departemen ini akan berkumpul. Aku mengedikkan bahu dan memeriksa pekerjaanku hari ini.
Tepat setelah makan siang, aku beranjak dari kantor menuju ruang rapat departemen ini. "Hey," Harry dan Ron berjalan di belakangku.
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku pada mereka.
Ron mengedikkan. "Entahlah, Percy menuliskan memo itu sendiri berarti seseuatu yang penting."
Harry dan aku hanya tertawa. Kami berjalan beriringan menuju ruang rapat saat pandangan tertuju pada Malfoy yang sudah duduk nyaman di kursinya. Ia hanya mengangguk pada kami bertiga. Perlahan semua perwakilan datang untuk memenuhi kursi yang tersedia disusul dengan Percy. "Baiklah, aku rasa semuanya sudah berkumpul. Jadi, aku tak perlu berbasa-basi, dalam satu bulan ke depan aku akan dipromosikan menjadi wakil dari Menteri Sihir."
Sontak semua orang bertepuk tangan termasuk aku dan beberapa dari mereka mengucapkan selamat padanya. "Namun bukan hal itu yang membuatku mengumpulkan kalian semua disini, tapi untuk membicarakan siapa penggantiku disini kelak."
Terdengar bisik-bisik dari orang-orang yang berada disini. Saat aku memandang semua orang, aku melihat Malfoy tak pernah lepas memandangku sedari tadi dan kontan aku membuang pandanganku. "Aku tak ingin orang luar yang jelas-jelas tak mengenal tempat ini untuk menggantikanku, jadi aku akan memilih salah satu dari kalian. Ada tiga calon kandidat terkuat yang kupikirkan akan pantas menggantikanku."
Aku tahu semua orang menarik napas menunggu siapa yang akan disebutkannya. "Pertama, Harry Potter yang sekarang menjadi Kepala Auror, lalu Draco Malfoy yang kini menjabat sebagai Penyelidik Senior dan Hermione Granger yang juga menjabat sebagai Penyelidik Senior."
Semua orang langsung menatap kami bertiga, namun Malfoy tak pernah memalingkan pandangannya dariku sedikitpun. "Sir, aku tahu ini tak sopan, tapi aku belum sanggup menerima pencalonanmu, jadi aku mundur," ujar Harry.
Sontak aku memandangnya tak percaya. Dibanding aku dan Malfoy, Harry adalah orang dengan jabatan tertinggi dan ia menolaknya begitu saja. Aku tahu ia bukan penggila kerja atau jabatan atau semacamnya, tapi ia tak mungkin menolak kesempatan mentah-mentah seperti ini. "Aku menghargai keputusanmu, Harry. Lalu bagaimana dengan kalian berdua?" Percy melihatku dengan Malfoy secara bergantian.
"Jika kau mempercayaiku, tentu menjadi suatu kehormatan," jawab Malfoy.
Aku tahu Percy kini memandangku. "Miss Granger?"
"Kau takut bersaing denganku, Granger?" suara Malfoy membuatku memandangnya.
Aku masih tak bersuara. "Kau takut kalah lagi dariku seperti saat kita bersekolah dulu?" kali ini aku mendengar ketawa kecil dari teman kerja kami.
Aku memandangnya dengan perasaan bercampur aduk. Tak dapat kugambarkan dengan satu kata. Kesal tentunya. Yaa sangat kesal. "Tentu juga suatu kehormatan bagiku, Sir," jawabku mantap sebelum ia kembali mengolokku.
Percy tersenyum. "Dalam satu bulan ke depan aku akan mengulas ulang kinerja kalian dan memutuskan siapa yang layak untuk menggantikanku. Selamat siang," ujarnya lalu pergi meninggalkan kami.
Harry dan Ron beranjak dari tempatnya terlebih dahulu setelah berpamitan padaku. Setelah aku yakin Malfoy juga sudah meninggalkan tempat ini barulah aku keluar. Ketika berjalan di lorong sebuah tangan menarikku ke ruang tangga dan aku tak terkejut siapa yang melakukannya. "Apa yang kau pikirkan?" tanyaku melepaskan tangannya.
Tak ada seringaian namun matanya menatap tajam padaku seolah aku adalah buruannya. "Aku pernah berkata padamu bahwa aku tak suka berbagi dan kemarin kau keluar bersama Krum dan yang kuyakini bahwa ia menginap di rumahmu," ujarnya.
"Kau lupa? Atau kau gila? Dia kekasihku," ujarku mencemooh.
Dia tertawa sinis padaku lalu menggeleng. "Aku tak peduli ia kekasihmu atau bukan. Aku tak suka berbagi dirimu dengan siapapun."
Kini aku yang tertawa sinis mendengarnya. "Katakan itu pada dirimu sendiri. Apa yang kau lakukan saat pulang dari rumahku? Kembali ke pelukan istrimu?"
Dia menyeringai. "Setidaknya aku tak membawanya ke depan umum dan menggandengnya kemanapun melangkah seperti yang kau lakukan kemarin."
"Oh shut up, Malfoy!" aku mendorongnya untuk menyingkir dari hadapanku.
Bukannya menghindar ia malah mendorongku ke dinding dan menciumku. Oh shit! Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku tak pernah dapat menolak dirinya. Bahwa aku tak pernah dapat berpikir secara jernih bila ia berada di sekitakur. Tetapi, apapun yang terjadi tubuhku selalu dapat mengkhianati otakku. Alih-alih mendorongnya aku melingkarkan tanganku di lehernya dan menerima semua ciumannya. Saat aku rasa sudah cukup bermain-main siang ini aku mendorongnya dengan napas yang masih tersengal. Tanganku dengan ringan menamparnya. Dia membelalak menatapku. "Ini untuk perkataanmu di ruangan tadi."
Aku tahu ia tersenyum lalu aku meninggalkannya.
000
Aku tak dapat berkonsentrasi seharian ini. Pikiranku terbagi kemana-mana. Aku dikandidatkan menjadi kepala departemen yang juga disandingkan dengan Draco Malfoy sebagai rivalku. Lalu aku tak dapat mengenyahkan pikiran akan Malfoy. Atau mungkin harus kuralat pernyataanku sebelumnya, pikiranku tak kemana-mana hanya ke Malfoy.
Kuhempaskan tubuhku di kursi dan menghela napas. Dalam beberapa minggu Malfoy berhasil mengobrak-abrik hidupku. Kulihat jam yang berada di sudut ruangan dan tanpa berpikir dua kali aku bangkit mengambil mantelku. Beberapa staffku melihatku dengan aneh. Ini masih pukul lima sore dan aku sudah keluar dari kantor. "Kau sudah mau pulang, Miss Granger?" tanya Nicholas.
Aku menggangguk tanpa megucapkan sepatah katapun dan langsung pergi ber-Apparate ke sebuah bar Muggle di London. Seorang pelayan membantuku melepas mantelku dan aku duduk di meja bar. "Vodka tonic," ujarku pada bartender.
Tak ada yang kupikirkan. Aku hanya kesini untuk membakar pikiranku akan si pirang dengan bergelas-gelas vodka. Semakin aku menghindar darinya semakin aku tahu bahwa aku tak dapat melakukannya. Semua yang ada pada tubuhnya, ada pada dirinya bagai magnet bagiku. Andai ia tak memiliki istri. Andai aku tak memiliki hubungannya yang indah dengan Viktor pasti semua ini akan menjadi sangat mudah. "Damn it!" ujarku setelah menenggak isi dari gelasku.
"Stop swearing, Granger."
Aku menoleh ke samping dan mendapati Malfoy telah duduk di sampingku. Aku menatapnya malas dan menaikan gelasku sebagai tanda pada bartender untuk mengisinya kembali. "Berhenti menguntitku."
"Baumu tercium dalam radius 500 meter dimana aku berada, bagaimana mungkin aku tak menguntitmu," kekehnya. "Dry martini," ujarnya pada bartender yang baru saja menaruh gelas minuman tepat di hadapanku.
Aku hanya mendengus melihat tingkahnya dan meminum minumanku. "Apa yang kau pikirkan hingga ingin mabuk saat ini? Ini masih pukul 6 sore, Granger."
Aku tertawa. "Apa yang aku pikirkan? Really, Malfoy?"
Dia hanya menaikan sebelah alisnya setelah menyesap minumannya. "Kau," ujarku setelah kembali menenggak minumanku.
"Kau, Malfoy. Aku memikirkan kau."
Aku tak mabuk. Aku sadar saat mengatakan hal ini. Aku hanya ingin tahu apa reaksinya melihatku saat ini. Duduk di meja bar di sore hari karena mencoba mengenyahkan dirinya dari diriku. Saat dia belum menjawabnya kembali aku melambai pada bartender untuk kembali membawakanku segelas vodka tonic. "Berhenti, Granger."
Aku menggeleng pelan. "Kau tahu efek dirimu bagiku? Tepat seperti minuman ini. Aku tahu pada akhirnya aku akan pusing bahkan muntah bila aku tak beruntung, tapi aku tetap memesannya karena sensasinya. Sensasi dingin di mulutku lalu perlahan membakar tenggorakanku dan membuat pikiranku sedikit buram namun aku bahagia. Persis sepertimu, Malfoy."
Dia hanya diam. "Kau kehilangan kata-kata?" tanyaku sinis.
Dengan cepat ia berdiri dan memelukku. Aku dapat mendengar degupan jantungnya yang terdengar lebih cepat dari kebanyakan orang normal lainnya. Apakah itu karena aku? Entahlah. Ia masih tak berbicara dan aku masih merasa sangat nyaman berada di pelukannya. Demi Merlin, aku tak peduli bila terlihat orang banyak, kami berada di bar Muggle. Perlahan ia melepaskanku dan menatapku lekat-lekat lalu menunduk untuk menciumku. Hanya sebentar lalu ia melepaskannya. "Ayo pulang," ujarnya pelan padaku sambil mengelus pipiku.
Lagi-lagi aku menggeleng. "Aku tak bisa membawamu ke rumahku lagi. And for now, I'm too tired to have sex with you," ujarku kembali mencari gelas di meja itu.
Ia memegang tanganku. "Berhenti minum lagi, Hermione. Kau sudah mabuk. Aku punya rumah di selatan London, kau tahu aku kaya bukan," aku terkekeh mendengarnya.
"Siapa yang ingin berhubungan sex denganmu, aku hanya ingin bersama denganmu itu saja."
Aku kembali tersenyum memandangnya. "Apa?" tanyanya.
"Kau memanggilku Hermione."
Dia mengerutkan dahinya. "Kau mabuk, Granger."
Kemudian ia langsung mengeluarkan beberapa lembar poundsterling dan menaruhnya di atas meja lalu menggengam tanganku keluar dari bar ini.
000
to be continued
A/N : Hey, how's this chap? I hope you like it. I'm sorry for the typos, I'm trying to minimize it but I don't know, I'm reckless haha. For you guys who ask me how's this fict will end, it's gonna happy or sad? Eehm, we'll see. That depends on my mood haha. I'm kidding.
Ah yaa, btw I watched Mockingjay last night and it was awesome. Haha sorry wrong fandom, but I really impressed (is it okay? oh I don't care)
Okay don't forget to leave your review. Thank you:)
