Disclaimer : This story is based on characters from Harry Potter created and owned by –coughmecough— JK Rowling...No money is being made and no copyright or trademark infringement is intended..

A/N : This is slash then I warn you. Sebisa mungkin mengurangi typo. Angst gagal. Mohon jangan timpuk saya.

Harry Potter © JK Rowling

A Deal © SachiMalff

.

.

DMHP

.

.

Draco Malfoy and Harry Potter

.

.

(Part 2 of 2)


Harry menapaki dua langkah ke depan, sebelum tubuh kurusnya menghilang seiring dengan deru angin yang menerpa.

Sensasi yang baru beberapa jam yang lalu ia rasakan itu kembali menerjangnya. Bedanya, tadi ia melakukannya dengan seseorang yang selama ini ia anggap benar-benar mencintainya. Sekarang? Sendirian.

Mungkin sendirian terdengar lebih baik daripada terus berada bersama orang yang terus saja memakai topeng untuk membuatmu merasa nyaman dan bahagia.

—apalagi ada imbalannya.

Harry merasa pusing lagi. Dia yakin, kini ia berada di sebuah ruang di Spinner End—rumah mantan guru Ramuan sekaligus sahabat ibunya.

Rumah ini memang sekarang milik Harry. Di surat terakhir yang ditinggalkan oleh Severus Snape, dikatakan bahwa ia akan menyerahkan rumahnya pada Harry Potter. Dia berwasiat supaya sang pemilik mata persis sama seperti Lily Potter itu merawat rumahnya.

Bau pengap nan berdebu terasa dari awal dia datang kesana. Air matanya yang terjatuh kembali ia hapus dengan telapak tangannya. Perlahan, ia meraba beberapa benda disekitarnya untuk berpegangan. Perlahan namun pasti, ia menapaki langkah untuk mencari perapian yang dia yakin ada disana. Beberapa kali ia harus tersandung benda-benda yang nampak terjatuh dari tempat semula.

Kakinya mencoba menjejal sesuatu di depannya yang ia kira perapian. Dan ia benar.

Segera, ia melakukan panggilan melalui jaringan floo. Hanya ada satu orang yang terlintas di benaknya saat ini. Dia berharap—bahwa orang itu mau menceritakan secara pasti apa yang terjadi saat ini. Dia berharap—

Dia sudah meneguhkan hatinya. Jika apa yang dia dengar tadi adalah suatu kebenaran, maka dia akan rela dan mencoba berbesar hati. Dia takkan mempermasalahkan apa itu yang dimaksud dengan perjanjian, dia akan mencoba tak peduli lagi...

Dia segera melakukan panggilan melalui jaringan floo. Berharap dan terus berharap bahwa Hermione Granger ada ditempatnya saat ini.

Beberapa detik ia mencoba dan menunggu, akhirnya Hermione berteriak dan berlari kearah perapian di flat sewaannya.

"Harry!" pekiknya girang. "Apa kabar? Tumben sekali kau menghubungiku lewat jaringan floo. Ada apa?"

Harry masih terdiam, sesekali terisak pelan.

"Harry? Kenapa kau—menangis? Ada apa? Apa Mal—"

"Tolong katakan padaku."

Hermione mengernyitkan alisnya bingung. "Apa? Katakan apa, Harry? Kau—ada dimana? Mana Malfoy?"

Harry mengulum senyum pahit. "Katakan padaku apa sejujurnya yang terjadi di antara aku dan Draco."

"Apa maksudmu, Harry? Kenapa kau tanyakan itu padaku? Aku benar-benar tak paham ..."

"Tolong ceritakan padaku kenapa Draco mau berbohong untuk mencintaiku!" Suara Harry naik satu oktaf. Napasnya terengah-engah karena emosi yang sudah sedari tadi dia tekan.

Hermione terperanjat. Dia tahu maksud Harry. Sangat tahu. Sang gadis berparas cantik itu menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk menahan tangis. "Harry ..."

Kristal bening itu luruh membasahi pipi dan kemeja yang Harry kenakan. "Tolong, Hermione. Aku sungguh tersiksa kali ini ..."

Hening menyapa. Hanya ada isak tangis di antara keduanya. Hermione menggeleng lemah. Dia begitu merasa bersalah.

Hermione juga—secara tak langsung—ikut andil dalam rencana kali ini. Dia tahu rencana ini, dia tahu dan paham. Tapi Kingsley mengatakan padanya agar mengikuti ini semua dan tutup mulut karena—ini semua demi kebaikan Harry.

Kebohongan yang tersampuli alasan 'demi kebaikan Harry'. Namun kali ini, Hermione sungguh menyesal. Lewat panggilan floo saat itu, Hermione tahu bahwa Harry sedang menangis. Mata emerald yang mulai bersinar beberapa bulan itu kembali meredup. Dan itu membuat Hermione terluka.

Harry terlalu banyak tersiksa.

Dia sudah lama mengalami banyak cobaan. Mulai dari semua jalan hidupnya dengan bayang-bayang Voldemort, lalu kini ia harus kehilangan penglihatannya, ditambah lagi, kini mungkin ia merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia karena Malfoy—yang selama ini ia yakini sudah benar-benar mencintainya—memanfaatkan kebutaannya dengan dalih 'demi orang tuanya'.

"Tolong, Hermione. Jangan buat aku sakit lagi ... Kali ini saja, aku meminta padamu."

Hermione tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat, ia menyeka air mata yang berlinang. Perlahan, dia memantapkan hati untuk memberitahu Harry semuanya. Sudah cukup semua rahasia dan kebohongan ini. Harry sudah cukup terluka.

"Kingsley... Ini semua idenya."


"Aku hanya penasaran. Sampai kapan kalian akan seperti ini?"

seperti ini?

"Jangan ikut campur, Asto. Kumohon."

Astoria kembali tertawa. "Aku berhak ikut campur. Aku kekasihmu! Dan aku berhak atas dirimu! Tolong, Draco. Perhatikan aku juga. Aku ini kekasihmu yang sebenarnya!"

Mata Harry terbelalak lebar. Dia merasa matanya memanas sekarang. Tapi—tidak! Dia tak boleh menangis sekarang ini. Dia ingin mendengar lebih lanjut.

"Aku tak bisa..."

"Huh? Kenapa? Kau mulai mencintai si Potter yang gay itu huh?"

Harry menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang mungkin, jika tak ia paksakan, akan keluar langsung sekarang.

"Jaga mulutmu, Asto!"

"Lihat? Dan bahkan sekarang kau membelanya!"

"Tidak, Asto! Dengar! Aku tidak membelanya. Aku tidak mulai mencintainya atau apalah itu. Aku hanya ingin ibu dan ayahku bebas, itu permintaan Kingsley. Aku terikat janji dengannya dan aku harus memenuhi janjiku. Kupikir kau sudah tahu hal itu!"

"Aku tahu! Tapi aku sungguh muak, Draco! Aku mencintaimu, kau tahu?!"

"...aku juga, tapi, tolong, bersabarlah..."

"Sampai kapan?! Sampai dia mati?!"

"Asto! Merlin, jaga bicaramu!"

Harry tersentak. Suara Astoria bisa ia dengar dengan jelas. Dia memang buta, tapi dia tak tuli. Apalagi Astoria mengucapkannya dengan nada yang naik satu oktaf.

Tolong, siapapun, buat Harry tuli sekalian, pintanya. Matanya memanas. Reflek, dia mengepalkan tangannya erat. Draco—


Hermione menggeleng lemah di antara air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata. "Dia bilang Kementrian mendesaknya melakukan sesuatu supaya kau tak kemana-mana dan kau tak—bunuh diri. Lalu, dia datang pada Malfoy senior. Melakukan perundingan pada mereka berdua agar—agar anaknya mau mereka bujuk untuk—untuk ..."

Hermione terdiam, tak mampu meneruskan kalimat yang mengandung kenyataan menjijikkan seperti itu.

Harry sudah tahu tanpa kalimat itu menjadi utuh. "Aku tahu. Lanjutkan."

Hermione menggangguk patuh. "... kemudian setelah mereka setuju, Kingsley menemui M—malfoy dan ... dia setuju. Jadi—jadi ... Harry, maafkan aku. Aku—aku tak bisa berbuat apa-apa ..."

"..."

"Kingsley berbicara bahwa ini semua demi kebaikanmu ..."

"..."

"Harry, kumohon berhenti seperti ini, bicaralah ..."

Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah lagi dari emerald yang semakin keruh itu. Beberapa detik mereka lewati dengan keheningan yang begitu menyesakkan dua manusia itu. Harry sesunggukan beberapa kali, namun ia mencoba untuk tak mengeluarkan air mata lagi.

"Aku tak menyalahkan siapapun."

"Harry, kumohon ka—"

"Aku baik-baik saja ..."

"Harry kau tidak—"

"Terimakasih sudah mau menjelaskan semuanya. Kini giliranku menjelaskan semuanya pada Malfoy. Terimakasih, Hermione ... Terimakasih. Sampaikan salamku pada semuanya ..."

"Harry, apa yang kau mak—"

Panggilan itu terputus.

.

.

.

.


"...Hermione Granger berkata bahwa Harry Potter sejak dahulu adalah seorang penyuka sesama jenis dan dia menaruh perhatian lebih padamu, Draco. Maka dari itu—"

"Kau gila, Shacklebolt! Kau gila!"

Kingsley menghela napas pelan. "Draco... Aku melakukan penawaran terbaik unt—"

Manik Draco menajam menatap Kingsley. "Terbaik?! Terbaik, katamu? Potter itu gay, Shacklebolt! Gay! Merlin! Aku tak sudi berpura-pura menjadi gay. Menjijikkan!"

"Draco. Berhenti bersikap egois."

Draco mendengus melecehkan. "Egois? Kau pikir aku egois, begitu? Aku bukan gay dan sama sekali tak tertarik pada Potter atau lelaki manapun! Aku mencintai Asto dan kami akan bertunangan!"

Kingsley memijat pelipisnya lelah. Dia memejamkan matanya barang sejenak. "Ini hanya untuk sementara. Dan aku berjanji akan langsung membebakan orang tuamu dan menyerahkan semua kekayaan kalian yang tersita."

Draco melirik Kingsley yang terduduk lemas. "Sementara?"

Kingsley mengangguk. "Sampai Kementrian berhasil mengembangkan penemuan mereka untuk mencari alternatif lain bagi kesembuhan Harry Potter."

Draco terdiam. "Aku bukan gay, Shacklebolt..."

"Aku tahu, Draco. tapi tolong, berpura-puralah untuk menjadi gay sebentar saja."

Draco mengumpat dalam hati. "Kalian menjijikkan," ujarnya seraya pergi berlalu dari hadapan Kingsley.


.

.

.

Harry merasa begitu pusing, sampai ia merasa bahwa ia bisa saja pingsan saat itu juga. Dia berjalan dengan tertatih-tatih, meraba-raba sekitar. Setelah beberapa langkah ia tapaki, dia langsung mendudukkan dirinya di sebuah kursi usang yang ada disana.

Perlahan, dia mencoba mencerna semua informasi yang baru saja dia dapatkan. Dia masih terkejut, ternyata semua ini hanyalah kebohongan yang dirangkai apik supaya dia tetap berada di dunia ini...

Karena cinta tak pernah mau mengerti. Seharusnya dia sadar, seharusnya dia tahu dari awal. Kalau seorang seperti Malfoy tak mungkin mau membalas perasaan hina miliknya ini.

Malfoy itu adalah seorang yang normal. Dia mana mungkin mau bersama pria gay yang dulu bahkan menjadi musuhnya.

Sekarang semuanya jadi terlihat begitu jelas.

Dari awal, Malfoy memang tak pernah mau menciumnya.

"Seorang Malfoy tak pernah mencium pasangannya kecuali mereka sudah menikah, Harry."

Tentu saja dia tak pernah mau menciumnya. Bagaimana dia mau melakukannya jika dia adalah pria yang normal? Karena mereka memang takkan pernah menikah. Selamanya.

Dan kenapa Malfoy selalu tak mau menyentuhnya dan tak pernah pulang ketika malam juga sudah sangat jelas.

Mungkin saja dia sedang sibuk bercinta dengan Astoria Greengrass ketika Harry meringkuk kedinginan di flat mungil mereka—berdua.

Mungkin saja. Semua sekarang nampak semakin jelas, kan?

Semua ini hanya rekayasa.

Atas nama 'kebaikan Harry Potter.'

Dia mengeluarkan tongkat sihirnya dari balik jaket yang ia kenakan. Mengucapkan sebuah mantera pemanggil, kemudian, beberapa detik kemudian, sebuah tabung kecil, sebuah perkamen usang, dan pena bulu melayang menuju kearahnya.

Tangan lemahnya mencoba meraih tabung kecil yang melayang di depannya.

Sama seperti apa yang dilakukan Severus ketika saat-saat terakhir kematiannya, dia memasukkan air matanya kedalam tabung kecil itu.

Kenangan yang mungkin hanya suara-suara dan bisikan dalam hatinya. Karena dia buta.

Kali ini, dia bersyukur dia tak dapat melihat.

Karena dengan seperti ini, ia tahu bagaimana rasanya sakit hati karena pengkhianatan, kebohongan, yang dilakukan dengan kedok 'cinta'.

Setelah dirasanya cukup, dia menghapus linangan air mata yang mencoba mengalir keluar itu lagi, kemudian menaruh tabung kecil tersebut pada sebuah meja yang berada di samping kirinya.

Tangannya kembali terulur untuk meraih perkamen usang dan pena bulu secara bersamaan. Dia ragu bisa menulis, namun tekadnya telah bulat. Ia harus menulis satu atau dua kalimat untuk Malfoy.

Dan jemari lentik itu menggenggam erat pena bulu, mencoba bergerak perlahan. Kata demi kata tergores di atas perkamen lusuh itu. Beberapa kalimat telah ia selesaikan. Walau ragu bisa dibaca atau tidak, dia kembali meletakkan perkamen tersebut tepat di samping tabung berisi kenangannya tadi.

.

.

.


"Draco? Kau kah itu?"

Suara pintu yang terbuka memaksa Harry Potter untuk menoleh kebelakang.

Sayang, dia tak bisa melihat. Jika dia bisa melihat, pasti dia menemukan sosok Draco yang pulang dengan seorang perempuan yang menunggu dalam diam di luar flat mungil mereka.

"Ya," jawab Draco. Pemuda itu kini sedang duduk di samping Harry di depan televisi.

"Kau sudah makan?" tanya Harry.

Draco memandang Harry dengan tatapan bersalah, kemudian kembali melirik kebelakang, tepat dimana Astoria berdiri. Gadis berparas cantik itu menggeleng penuh dengan nada berisi tekanan. Draco Malfoy mendesah lelah. "Sudah."

"Oh." Harry nampak kecewa. Namun dia mencoba untuk tersenyum. Dia berusaha mengerti. Pekerjaan Draco pasti berat. Menangani beberapa pasien sekaligus. Dan dia berusaha paham bahwa mungkin saja Draco sangat butuh energi. "Kalau begitu lebih baik kau mandi, lalu istirahat."

Draco menunduk seraya memejamkan matanya. Di belakang, Astoria sedang menyilangkan tangan menunggu reaksi dari Malfoy muda itu.

"Harry—maaf. Aku harus kembali bekerja. Aku pulang untuk—memastikan keadaanmu."

Astoria mendengus geli dibelakang sana.

Tatapan Harry kembali meredup. Dia mencoba menggigit bibir bawahnya dan menunduk. Draco ingin sekali meminta maaf. Namun ia tak sampai ...

Harry menengadahkan kepalanya, kemudian mencoba tersenyum. Tersenyum perih. "Tak apa."

"Benarkah?"

"Ya!" jawab Harry berbohong. "Kau hati-hati, ya, Draco! Jangan sampai pulang subuh lagi, oke?"

Draco mengangguk dan tersenyum kecil. "Iya."

Harry masih mencoba mempertahankan senyumannya. "Aku mencintaimu."

Hati Draco terasa sakit.

"Kau hati-hati. Jangan terlalu letih bekerja."

Sakit sekali rasanya.

"Aku akan menunggumu, oke?"

"Jangan menungguku," sergah Draco.

Manik Harry kembali mengeruh. "Kenapa?"

Astoria berdecak pelan dibelakang sana. Draco meliriknya, kemudian memberikan tatapan mata seakan mencoba untuk memintanya menunggu sebentar lagi.

"Aku ada banyak pasien. Aku tak mau kau menungguku sampai larut. Kau tidur saja duluan, oke?"

Harry kecewa, namun pada akhirnya mengangguk juga. "Baiklah."

"Nah, aku pergi dulu. Kau jaga dirimu baik-baik, ya, Harry. Sampai jumpa."

Draco beranjak dari duduknya, kemudian berjalan meninggalkan Harry yang masih terduduk di sofa. Tak ada pelukan, sama sekali tak ada pelukan.

"Draco?"

Draco menoleh untuk kembali menatap Harry. "Ya?"

"Aku mencintaimu."

Harry tersenyum tulus ketika mengatakannya.

Draco mematung. Sangat pedih. Dia merasa dia adalah bedebah paling berengsek di dunia.

"..."

"...ya, Harry."

Draco kembali berjalan untuk menghampiri Astoria di depan sana yang sedang memutar bola matanya bosan.

Sedetik setelah pintu itu tertutup. Harry kembali merebahkan dirinya diatas sofa milik mereka. Dia bergumam tak jelas—

"Aku mencintaimu."

Sementara di luar flat mungil itu—Draco mengatakan hal yang sama, untuk orang lain...

"Aku hanya mencintaimu, Asto. Kau tak perlu berlebihan seperti itu ..."

Astoria mendecih kesal. "Lalu—kita akan kemana?" tanyanya seraya mengeratkan tubuhnya pada tubuh kekar Malfoy.

Draco tersenyum bahagia. Senyum yang bahkan belum pernah dia lemparkan pada Harry Potter.

"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di dunia Muggle? Disana kita bisa memilih restoran yang kelihatannya enak..."

"Mm—ide bagus."


.

.

.

Harry sempat tak yakin ingin melakukan ini. Tapi dia sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tubuh kurusnya ia paksakan untuk kembali melangkah menuju ke sebuah ruangan yang sudah ia hapal betul letaknya. Laboratorium pribadi Severus.

Langkah kakinya bahkan hanya memantulkan suara kecil ketika bertabrakan dengan lantai batu yang dingin itu. Saking lelahnya ia. Saking lemahnya ia.

Dia berusaha mati-matian untuk tak menangis. Karena dia adalah Harry Potter. Yang selama dua puluh tiga tahun hidupnya selalu sengsara. Karena ia pasti sudah cukup kebal.

—Namun mungkin tidak untuk kali ini.

Pintu kayu itu ia buka. Berderit pelan, sepelan ingatan yang kembali merasukinya. Tentang Draco.

Tangannya mencoba menggapai-gapai barang di sekitarnya. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah—beberapa langkah ia telusuri.

Sampai tangan yang penuh dengan air mata itu berhasil menggapai dan menyentuh salah satu boks kaca yang terasa hangat saat ia menyentuhnya.

Harry tersenyum tipis. Tipis sekali. Sesaat sebelumnya ia memang ragu. Namun—saat menyentuh kotak hangat tersebut, keyakinan kembali menghampiri dirinya.

Perlahan ia membuka boks tersebut. Dia tak bisa melihat. Tapi ia yakin jika botol berisi cairan berwarna hijau pekat itu masih ada disana. Sama seperti tahun-tahun yang lalu.

Setitik air mata jatuh dari bola mata indah yang sudah kehilangan pancaran kasihnya itu. Dia menggenggam erat botol mungil tersebut, kemudian mendekatkan botol tersebut pada bibir tipis miliknya.

Dia meneguk pelan cairan pahit tersebut dengan mata terpejam dan alis yang mengernyit tak suka.

'Severus, terimakasih.'

.

.

.

Draco berlari secepat kilat ke ruangan Kingsley di Kementrian. Dia bahkan masih mengenakan mantel dan dengan dandanan yang berantakan. Peluh membanjiri wajah tampan miliknya. Napasnya masih tersengal-sengal.

"Kingsley! Harry hilang!" ujarnya ketika ia sudah berada di dalam ruangan pribadi milik Kingsley Shacklebolt.

Kingsley beranjak dari tempat duduknya, berdiri ketika Malfoy muda tersebut telah berada di depan meja kerjanya. "Apa maksudmu?"

"Harry hilang! Dia tak ada ketika aku meninggalkannya sendirian saat kami berdua pergi ke toko cokelat!"

Kingsley mengerutkan keningnya. "Apa—kalian ada masalah?"

Draco membatu.

"Draco? Ada apa?" Kingsley mendesak Draco untuk berbicara.

Draco awalnya nampak ragu. Tapi—dia merasa bahwa dia harus mengatakannya. Hati kecilnya bilang bahwa Harry sedang dalam bahaya. "Aku—kurasa, Harry mendengar sesuatu."

"Sesuatu apa?" tanya Kingsley lagi.

Manik Draco bergerak gelisah. Dia kemudian menarik napas panjang. "Aku bertemu Astoria dan dia bertanya padaku kapan aku akan mengakhiri—semua ini."

Hening.

Kingsley nampak menggeram marah. Namun Draco tak peduli. Pikirannya masih sibuk mencari dimana Harry berada kini.

"Aku sudah pulang ke flat kami, tapi dia tak ada. Dia tak mungkin pergi ke dunia Muggle karena dia tak punya uang Muggle dan aku sudah mengecek ke Gringotts. Dia sudah tak menukar uang sejak tiga bulan yang lalu. Aku—Kingsley! Kau harus menemukannya!"

"Sejak kapan kau peduli padanya, Draco?"

Draco tercengang, "a-apa?"

Kingsley mendengus kecil, ia menggeleng pelan. "Aku tanya, sejak kapan kau mulai peduli pada manusia gay semacam Harry Potter? Bukankah menurutmu dia memuakkan?"

"A-aku ..."

"Kupikir selama ini kau bisa memberikan sedikit saja rasa simpatikmu padanya, dan berhenti dari pemikiran sempit homophobia-mu itu. Kupikir perjanjian yang kita ukir bisa membuatmu merasa berhutang banyak pada Harry. Kupikir kau tidak sejahat itu, Draco."

Draco menggeram marah. "Cukup, Shacklebolt! Ini bukan waktunya memojokkanku! Sekarang yang terpenting adalah dimana Harry berada!"

Kingsley memijat pelipisnya ketika Draco menggebrak meja kerjanya.

Seketika, Kingsley mendongak menatap Malfoy. "Kau—sudah memeriksa ke Spinner End?"

Draco tercengang. Dia berlari keruangan Kingsley yang masih meneriakkan namanya. Dia berlari sambil merutuk dalam hati, kenapa ia tak berpikiran untuk pergi kesana?!


"Draco? Kau benar-benar mencintaiku?"

"Tentu saja ..."

"Lalu—kenapa kau tak pernah menciumku?"

"..."

"Draco?"

"Seorang Malfoy tak pernah mencium pasangannya kecuali mereka sudah menikah, Harry."

Draco tak berbohong akan hal itu. Ya, dia tak pernah berbohong atas perkataannya sendiri.


Draco langsung ber-apparate ke tempat dimana mantan guru Ramuannya tinggal. Dia langsung berlari mendobrak pintu masuk disana. Sedari tadi perasaannya sungguh tak enak. Ini adalah tempat dimana dia berharap bahwa Harry ada disini.

Draco berusaha menyesuaikan matanya karena—sungguh. Di dalam rumah Severus sangatlah gelap. Dia mencoba menyalakan tongkatnya untuk menerangi arah pandangnya selama berjalan.

"Harry?" panggilnya lirih, berdoa semoga Harry disini dan menjawab panggilannya. Berdoa semoga Harry dengan senyum riangnya menyambutnya sama seperti ia menyambut Draco setelah pulang kerja.

Langkahnya terhenti ketika dia merasakan aura dalam pemakaian sihir yang masih hangat, pertanda bahwa ada orang yang kesana dalam waktu dekat ini.

Dia mengikuti indera penciumannya, berusaha mengendus aroma sihir yang menguar. Sampai langkah kakinya terhenti pada—

Sebuah perkamen, pena bulu, serta sebuah botol kecil.

Dia mengambil sebuah pena lusuh itu dengan tangan yang bergetar hebat. Dadanya terasa sesak dan sakit, entah mengapa. Aura sihir itu begitu kuat—dan tak mengenakkannya.

Bibirnya bergetar hebat tatkala ia membaca satu persatu huruf yang tertulis tak rapi disana. Satu huruf dengan huruf lain seperti bertindihan, hampir tak bisa dibaca.

Tulisan Harry.

Matanya sudah berair. Kristal bening tersebut menjalar untuk yang pertama kalinya, membasahi pipi pucat sang Malfoy. Dia mencengkeram erat perkamen tersebut dengan mata yang terpejam erat, mencoba meredam emosi yang bergejolak tak nyaman. Dia langsung memasukkan perkamen yang sekarang sudah semakin lusuh tersebut dan botol kecil berisi cairan kristal bening yang ia yakini sebagai air mata berisi kenangan.

Langkahnya semakin cepat menyusuri satu persatu ruangan yang ada disana. Air mata terus mengalir pelan, sepelan umpatan untuk dirinya sendiri di dalam hati.

Tepat ketika dia mulai frustasi dan kelelahan, matanya terpaku pada sebuah ruangan yang sangat ia ketahui apa itu. Laboratorium Severus.

Dia berjalan dengan hati yang berkecamuk. Ketika dia mencapai pegangan pintu, ia kembali memejamkan mata.

Apa saja.

Akan Draco lakukan. Kali ini.

Agar Harry Potter.

Memaafkannya.

Pintu itu terbuka. Pelan. Pelan sekali.

Air mata masih menyelimuti wajah tampan Draco Malfoy.

Matanya terbelalak lebar ketika Harry ada di sana. Menggenggam sebuah botol kecil yang kosong tanpa isi.


"Draco, semangat!"

"Draco, kau kedinginan!"

"Draco, kau lapar? Mau makan bersamaku?"

"Draco, apa kau akan pulang larut lagi?"

"Draco, diluar hujan, pakai mantelmu!"

"Huh, dasar Ferret! Aku mencintaimu."

"Draco, katakan padaku. Apa sofa kita masih berwarna merah? Aku tak mau kau menggantinya dengan warna hijau! Uh!"

"Dicintai membuat kita tak putus asa dengan diri sendiri, Drake. Dan itu yang terjadi padaku."

"Draco, hati-hati! Aku mencintaimu!"

"Draco... Draco... Draco..."

Harry mencintaimu.


Untuk Mr Potter, dari Severus Snape.

Potter, tak banyak yang ingin aku tulis, karena sebenarnya, aku bukan orang yang bisa berbasa-basi. Aku hanya ingin kau memiliki Spinner End esok ketika aku tak ada, entah kapan itu. Cepat atau lambat.

Di dalam rumahku, ada laboratorium pribadi milikku. Disana, ada sebuah boks kaca yang berisi sebuah cairan eksperimen yang dulu aku buat untuk melaksanakan perintah Pangeran Kegelapan. Tapi ramuan itu gagal. Aku sudah mengujinya pada tikus. Mungkin itu adalah ramuan gagal yang paling berbahaya yang pernah ada. Aku tahu kau berbakat pada PTIH. Jadi, aku menitipkannya padamu. Tolong kaujaga baik-baik agar tak ada yang mengambilnya. Atau sesuatu yang buruk akan terjadi pada orang yang meminumnya.

Tertanda, Severus Snape.


.

.

.

"Hei, Ferret! Terimakasih atas kesempatan indah selama ini! Tertanda, HP."

Draco mematung di ambang pintu. Tak bisa berjalan untuk masuk kedalam ruangan dan menghampiri tubuh kaku milik pemuda yang sudah berbulan-bulan ini mengucap kata cinta untuknya.

Draco merasa sesak, tak bisa bernapas. Matanya masih terselimuti air mata yang bahkan tak mau berhenti mengalir.

Andai saja waktu bisa lebih berpihak padanya. Andai saja dia punya Time Turner untuk membalikkan keadaan ke zaman yang telah berlalu. Andai saja—hatinya tak buta.

Lututnya melemas, dia jatuh pada lantai dingin yang menusuk kulitnya. Sampai ke ulu hatinya yang terdalam. Isakannya menggema memenuhi ruang kosong itu.

Rasanya sakit. Sampai dia sulit bergerak barang sedikitpun.

Draco Malfoy, si homofobia, terjatuh dan menangis untuk yang kedua kali dalam hidupnya. Merutuki keegoisan yang terus meraja dan mengambil alih hatinya.

Draco Malfoy, sang homofobia yang egois, duduk di lantai dingin di laboratorium Spinner End, matanya tak berani melirik kedepan, dimana sosok Harry Potter terbujur kaku.

Jika saja Draco Malfoy punya sedikit saja waktu pada kesempatan kedua, dia ingin sekali menjadi pribadi yang baru.

Menjadi seorang Malfoy yang tak lagi egois dan mementingkan diri sendiri.

Menjadi Draco Malfoy yang berteman baik dengan Harry Potter.

Atau mungkin jika ia bisa meminjam Time Turner, ia akan kembali ke beberapa tahun silam. Dimana ia akan melindungi Harry Potter agar ia tak buta.

Agar Harry Potter tak harus bersamanya dalam kebohongan.

Agar Harry Potter tak dijadikan alat oleh Kementrian.

Agar otang tuanya tak bebas sekalian.

Agar Harry Potter—tetap hidup sampai saat ini ...

.

.

.

END

.

.


Bilik penulis : ada yang nggak paham? Atau malah udah pada bisa nebak?

Yang belum paham sini merapat. Jadi gini, ya. Sebenarnya Draco itu homophobia. Dia nggak gay, dia straight. Dia pacaran—dan akan tunangan, rencananya—sama Asto. Tapi ketika Harry tiba-tiba diserang Pelahap Maut dan jadi buta, Kingsley dipaksa pihak Kementrian buat cari solusi supaya Harry tetap hidup dan berada di dunia sihir. Mereka juga masih butuh Harry. Sementara itu, Kingsley buat rencana tentang kebohongan antara Malfoy dan Harry. Itu cuma sementara, sampai para ilmuwan dunia sihir bisa komplit mengembangkan obat penyembuh buat sihir hitam di mata Harry.

Draco disuruh jaga dan pura-pura mencintai Harry. Imbalannya berupa kebebasan orang tua Draco Malfoy yang masih ditahan di Azkaban gara-gara Perang Dunia Sihir dulu. Draco kan akhirnya mau, dan orang tuanya juga dibebasin.

Nah, akhirnya kan Harry ke Spinner End. Dia ninggalin kenangan-kenangan buat Malfoy sama tulisan makasih itu.

Endingnya gimana itu thor?

Endingnya? Harry mati dong -.- death chara XD Itu dia minum ramuan yang belum selesai milik Severus. Kenapa Severus mewariskan ramuan itu udah ada di surat Severus di atas, ya XD

Gimana? Masih pada bingung? Ah, hehe XD

Ah, saya awalnya nggak yakin sih mau ngepost ini chap dua. Tapi karena nggak mau dibilang author ngga bertanggung jawab, di post aja deh XD hehe. Mau suka apa enggak, it's up to you. Saya udah berusaha semaksimal mungkin -.- heuheu XD

Balasan Review ya bagi anon :

Rae : hai Rae, ketemu lagi XD maaf, Rae. Kali ini sad end, death chara lagi XD

Yuuchan : hiatus hanya di ggpd, dear^^ wah, kamu stalker akun aku ya? Ada kok yang kaisoo. Dan ini juga lagi buat KaiSoo yang baru lagi XD kamu nanti baca, ya ;;) oh, yang Guest itu ya? Eheh. Gapapa makasih yaa udah review XD Galau jadinya kaan kamu ngingetin aku lagi ke FRL /pundung

Guest : hehe. Lagi pengen nyiksa Harry...

NiningTrent : semoga lanjutannya nggak mengecewakan ya, dear. Salam.

Name Frosyita : hehe, semoga sekarang udah paham ^^

Loony : udah di update ya, dear. Udah end juga hehe. Semoga ga mengecewakan.

Smilehyuk : udah di update yaa. Makasih! :D

Hakyung137 : udah paham belum nih? Hehe. Semoga nggak mengecewakan ya. Saya udah berusaha semaksimal mungkin melawan WB dan plot bunny nih, hehe XD

Yang pakai akun cek pm ya hehe :D

Akhir kata, terimakasih dan salam hangat dari SachiMalff!

Sampai jumpa di fic lain!