Disclaimer: Assassination Classroom by Yuusei Matsui
Warning: AU, typo, OOC, Sho-ai. Crossdress. Possibly NTR. Multipairing. Don't Like, Don't Read! ;)
Summary: [KaruNagi] [AsaNagi] [IsoNagi] Sungguh, Yuuma Isogai, ikemen yang layak diperhitungkan sebagai tambatan hati. Tidak berbahaya seperti Karma. Tidak menakutkan seperti Asano. Tidak player seperti Maehara. Kyaa. | Karma Akabane dan Gakushuu Asano. Mereka terlihat sebagai anak yang baik dan tampan. Jadi mana yang lebih kamu sukai?
Detour © Kiriya Diciannove
Hidup adalah pilihan. Dalam kehidupan kita memiliki banyak pilihan, jalan mana dan seperti apa yang ingin kita ambil dan tuju. Begitu pula dengan Nagisa. Dia memiliki pilihan hidup. Beberapa diantaranya…
[a] Pura-pura mati?
[b] Pura-pura amnesia?
[c] Menyerahkan semuanya pada yang di atas?
[d] Apa ada opsi lainnya?
Pura-pura mati? Kalau hal itu dilakukan saat berhadapan dengan beruang, mungkin saja ampuh kali ya. Kalau sama setan berwujud anak cowok macam Karma, bagaimana?
Hal itu sepertinya terlalu tidak mungkin untuk dilakukan. Beda cerita kalau pura-pura pingsan. Opsi pingsan beresiko tinggi dengan kemungkinan diapa-apain oleh Karma. Apalagi kalau pura-pura amnesia. Intinya kedua ide itu terlalu absurd untuk dilakukan dalam kondisi seperti ini.
Opsi lain, tidak ada hal baik yang terpikir…
Masih berdering, ponsel tampak berkelap-kelip dari balik saku. Nagisa perlahan mengarahkan telunjuknya ke arah saku jaket dengan perlahan.
"Err—kalau boleh, izinkan saya mengangkat telepon…" Iris azure itu mengarah pada kedua orang tua Karma. Menghentikan suasana awkward yang masih tampak terasa. Mengeluarkan keberanian yang tersisa. Nagisa strong.
Sang ibu dari temannya itu berdehem lalu mengangguk, "…tentu."
"Etto… arah toiletnya ke kiri, kan?"
"Iya. Lurus, kemudian belok kiri. Apa mau aku temani, Nagisa?" Karma nyengir.
"N—nggak usah!" si bluenette segera berdiri. Tidak ingin menambah keambiguan hubungan mereka berdua di mata keluarga Akabane. Nagisa meraih ponsel di sakunya, berjalan menuju toilet. Meskipun hanya dengan menebak-nebak kemana arah toilet seingatnya dulu. Melihat nama pemanggil di layar ponsel beridentitas 'Ayah' dengan mata birunya yang melotot.
Buset.
Ini sebuah panggilan dari ayahnya Gakushuu, berarti ini telepon dari Kepala Sekolah. Pak Gakuhou Asano. Nagisa segera membuat ponsel dalam mode silent. Sekian detik kemudian, panggilan berhenti.
1 panggilan tidak terjawab.
Kemudian 2 panggilan tidak terjawab.
Fyuuh.
Dan ponsel itu kembali berdering. Kali ini dari nomor bernama Ren Sakakibara, yang Nagisa ingat adalah salah satu dari Five Virtousos, sekretaris OSIS.
Dengan berani, Nagisa kembali mengabaikan. Karena kalau yang mengangkat bukan Asano, pasti akan mencurigakan, kan?
Sebuah pesan masuk.
From: Ren Sakakibara
Subjek: [Ayahmu]
Asano, kepala sekolah mencarimu, kenapa mengabaikan teleponnya dan telepon dariku. Kau tidak lupa betapa mengerikannya ayahmu itu kalau sudah marah, bukan?
Astaga, Asano akan mendapat masalah gara-gara Nagisa. Dan bisa-bisa Nagisa juga akan mendapat masalah karena hal ini.
Pemilik surai baby blue mengalihkan pandangan dari ponsel, kembali memikirkan apa yang harus dilakukan hingga sebuah panggilan tanpa nama tampak di layar ponsel, yang kali ini berani diangkat oleh Nagisa. Meyakini kalau ini adalah panggilan dari Asano. Mengangkat panggilan, Nagisa tidak berucap apapun karena terlebih dahulu ingin memastikan siapa yang menelponnya.
"Shiota, kau membawa ponselku."
Nagisa menghela napas lega, entah kenapa menjadi senang begitu mendapati suara dari seberang line telepon adalah milik Gakushuu Asano, "Maaf Asano-kun. Ini tidak sengaja, sungguh."
"..."
"Akan segera aku kembalikan!"
"Aku sedang dalam perjalanan pulang. Hari ini aku ada les. Ayahku adalah orang yang disiplin."
"Err—yeah, mengenai hal itu, tadi ponselmu berbunyi. Panggilan dari kepala sekolah dan Sakakibara-kun. Tapi aku tidak mengangkatnya."
"…sudah kuduga." Hening beberapa saat, "Selesai les, aku akan mengambil ponselku. Aku harap kau tidak melakukan macam-macam kepada ponselku."
"Aku tidak melakukan apapun!"
Jeda sejenak. "Akan aku kabari nanti."
"Baiklah."
Nagisa bersandar di dinding toilet, menghembuskan napas. Sejurus kemudian berpegang pada wastafel, menatap cermin setelah mencuci muka. Merapikan rambutnya yang sedikit lepek. Oke, cantik—err—rapi. Bersiap menghadapi masalah lainnya.
XoXo-XoXo-XoXo
Duduk dalam posisi formal. Tangan di atas paha yang ditutupi oleh dress berwarna toska, Nagisa berada dalam situasi canggung. Belum siap ketemu calon mertua dalam situasi awkward macam ini—tsaahh. Nggak— mereka bukan calon mertua kok! Ja—jangan salah paham! Baka!
Sementara itu Karma tampak santai, memainkan ponsel miliknya. Main game snake.
"Karma-kun sudah menjelaskan apa yang terjadi tadi." Sang ibu berucap kalem. Duduk dengan elegan sambil memegang gelas minumannya. Meminum perlahan, lalu meletakkan kembali ke atas meja.
Memangnya apa yang dijelaskan oleh Karma?! Nagisa tampak was-was.
"Membantumu membuka jaket karena kepanasan, kan?"
"Karma-kun hanya membantu melepas resleting yang tersangkut kok tante! Serius, aku tidak ada modus apapun!" Nagisa menjelaskan.
Karma jelas sekali tidak akan sebaik itu menjelaskan dengan benar. Yang ada malah memutar balikkan fakta.
"Karma-kun, lagi-lagi kamu bohongin ibu, ya?!"
Karma memasang pose peace, "Bercanda aja kok."
"Maaf, karena tante telah berpikiran yang macam-macam." Ibu muda itu mengibaskan tangan kirinya. "Hampir saja tante berpikir yang macam-macam, loh. Pergaulan anak-anak zaman sekarang ternyata sudah berbeda jauh dengan zaman kami dulu."
"Soalnya Karma hobinya memang macam-macam, kan." Celutuk sang ayah sambil mengelap pot keramik yang tadi hampir saja pecah berkeping-keping.
Nagisa melirik Karma. Iya om. Itu benar. Dia suka menganiaya teman sekelasnya, om. Nagisa membatin. Om pikir saya mau pacaran dengan orang yang hobi menganiaya? Apalagi saya sering jadi korban utamanya. Om sama tante ngasih makan Karma apaan sih. Jangan bilang cabe jolokia…?
Nagisa hanya tersenyum canggung, kemudian meraih kue yang ditawarkan sang tante. Mug berisi cokelat hangat yang tersedia di meja dengan beberapa potong cake dan beberapa pan pizza terabaikan gara-gara situasi yang belum kondusif.
"Jadi namamu Nagisa? Cocok untukmu. Manis seperti orangnya." Ibu Karma berujar. "Sudah berapa lama jadi pacarnya Karma-kun?"
Nagisa hampir keselek garpu mendengar ucapan sang ibunda Karma. "Kami bukan—"
"Baru kok bu," Karma menginterupsi.
Kapan jadinya oi.
Kapan Nagisa berkata; Iya, aku mau pacaran sama kamu. Wheeen? Whereee?
Nagisa sweatdrop sementara Karma mengacungkan ibu jari padanya.
"Jadi gimana, Karma dapat restu dong?" merangkul bahu Nagisa dengan friendly. Dagu mendarat pada bahu Nagisa.
Restu apaan? Nagisa melototkan matanya pada Karma.
Sang ibu dari sosok remaja belia bersurai merah itu tampak diam beberapa saat, "Tapi kamu jangan ngapa-ngapain anak orang, Karma. Kalian masih kecil. Fokus untuk ujian lebih penting, apalagi kalian sudah kelas 3 SMP. Pacaran boleh, tapi ingat belajar itu yang utama." Nasehat sang ibu.
"Oh, tenang saja bu, aku dan Nagisa sering belajar bersama kok di sekolah."
"Belajar?" Sang ibu memastikan.
"Iya, benar-benar belajar kok tante, sama pak guru juga!" Nagisa segera menyahut, wajah serius, bermaksud meminta kepercayaan.
"Ternyata Karma-kun bisa juga memilih gadis yang manis seperti ini ya?" ucap sang ayah.
"Tapi saya cowok om…" Sahut Nagisa.
Krik.
"Ah, Nagisa ternyata suka bercanda ya, ahahaha…" Ibu dan ayah Karma tertawa.
Nggak om, tante, Nagisa gak bercanda. Akta, kartu pelajar, semuanya menunjukkan kalau jenis kelaminnya itu laki-laki. Serius deh.
Tapi, siapa yang percaya kamu lelaki kalau dandanan kamu semanis itu, Nagisa-cchi!
Karma menepuk-nepuk bahu Nagisa. Antara ingin bersimpati atau tertawa terbahak. Bersama Nagisa adalah hal yang menyenangkan bagi pemilik iris mercury.
XoXo-XoXo-XoXo
Sebenarnya, Karma itu tidak sebaik kelihatannya. Hatinya pun sepertinya tidak baik-baik amat. Statusnya sebagai anak yang berbakti juga patut dipertanyakan. Tapi dia dengan ikhlas mengikuti titah sang ibunda untuk mengantar Nagisa pulang. Walaupun pada akhirnya, Karma hanya mengantar sampai separuh jalan, karena kebetulan Karma melihat para anak geng yang sepertinya menarik untuk diajak bermain. Karma sudah berbaik hati mengajak si remaja bluenette untuk ikut bermain, tapi Nagisa menolak dengan sopan dengan alasan harus pulang cepat. Lagipula bermain terlalu lama dengan Karma bukan hal yang positif dan tidak akan membuat Nagisa positif (?). Nagisa berbelok arah setelah mereka berpisah, dia menuju tempat perjanjian dengan pak ketua OSIS.
XoXo-XoXo-XoXo
Pesan yang masuk di ponsel Asano mengatakan; jam tujuh tepat, di taman barat kota.
Sementara sekarang, jam besar berbentuk bundar di taman masih menunjukkan jam 06.55 menit.
Asano mendapati kalau remaja bermarga Shiota sudah berada disana, terlihat manis, kalem dan unyu, tangannya memegang sebuah paper bag ukuran besar hanya saja tidak sendirian. Tampak beberapa anak sekolah menengah atas, bergender laki-laki, satu diantaranya memegang rokok, dan yang lainnya mengajak Nagisa mengobrol. Nagisa ternyata badass juga ya. Mampu menarik perhatian orang dengan penampilan semacam itu. Teknik menggoda macam apa yang digunakan Nagisa membuat Asano cukup penasaran. Tapi setelah dilihat-lagi, sepertinya Asano terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang situasi Nagisa saat ini. Laki-laki sepolos Nagisa tidak mungkin menggoda anak SMA. Yang ada malah Nagisa yang digoda.
Terbatuk karena asap rokok yang memasuki indera penciuman, Nagisa tampak menolak dengan sopan ajakan dari para senpai itu. Mereka pasti tidak menyadari kalau pemilik netra azure itu adalah laki-laki dan tertipu dengan penampilan luarnya. Nagisa masih dengan dress berwarna toska dan rambut terurai sih. Kalau dilihat, jauh lebih manis dibanding saat memakai jaket jelek itu, menurut Gakushuu.
Biarin bentar deh.
Gakushuu hanya berdiri santai di samping pagar memperhatikan. Tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Tidak ada niatan untuk menolong. Siapa tahu ada hal menarik yang akan terjadi. Misalnya Nagisa Shiota mengemis—meminta pertolongan darinya. Lagipula, masih ada waktu sekitar 5 menit sebelum jam perjanjian.
XoXo-XoXo-XoXo
"Bagaimana kalau bemain dengan nii-san sebentar?"
"Maaf, tapi aku sedang menunggu temanku…"
"Sebentar saja. Onii-chan akan mentraktirmu kok."
"Tidak usah, terima kasih, lagipula temanku sudah datang." Nagisa menunjuk ke arah pagar tempat Asano berada. "Permisi!"
"Jangan buru-buru begitu." Tangan Nagisa ditahan. Ck. Semakin lama ini semakin menyebalkan bagi Nagisa.
"Tolong lepaskan." Terdengar serius dengan tatapan mata sedikit tajam. Nagisa mulai diliputi perasaan jengkel. Pegangan tangan anak SMA yang memegangnya terlepas. Untuk beberapa saat, wajah manis Nagisa menjelma jadi penampakan yang menakutkan dari sudut pandangnya.
"Err—yeah. Baiklah."
Dan Nagisa segera berjalan menuju kearah pemuda bersurai pirang strawberry sambil menghela napas lega.
"Kenapa kau melepaskannya?" –anak SMA 1.
"Eh? Kenapa apanya? Temannya sudah datang kan?" –anak SMA 2.
"Apa kau bodoh?" –anak SMA 3.
Asano yang melihat hal yang terjadi itu hanya menautkan alisnya. Heh? Apa yang baru anak kelas 3-E itu lakukan? Kenapa tidak ada adegan semacam; Asano-kun, tolong aku. Aku mohon. Aku akan melakukan apapun sebagai permintaan terima kasihku. Disertai dengan wajah memelas.
Tidak seru.
"Asano-kun. Maaf, apa kau sudah lama menunggu?"
"Tidak juga." Mata tajam pemuda beiris violet itu melirik ke arah para anak SMA yang tampaknya melewati mereka.
"Hee, jadi ini temanmu," Salah satu dari mereka mendaratkan tangannya di bahu Asano. Mata mengarah pada Nagisa. "Kau bilang menunggu temanmu. Apa sebenarnya dia pacarmu?"
"Kami memang hanya teman." Sahut Nagisa. Apa iya mereka teman, nyatanya anak kelas 3-A dan 3-E tidak pernah akur. Jadi Nagisa tidak begitu yakin dengan perkataannya sendiri. Meskipun sebenarnya Nagisa tentu akan senang jika hubungan mereka bisa jadi lebih baik. Jadi lebih baik lho, bukan jadi lebih jauh.
"Jauhkan tanganmu dariku." Suara berat Asano terdengar. Menoleh pada orang yang berani mendaratkan tangan dibahunya.
"Hei! Tidak perlu semarah itu. Bagaimana kalau bersenang-senang dengan kami—"
Wajah Asano tampak menampilkan senyum yang tidak biasa. Membuat para lelaki itu kelabakan dan menjauh dengan segera. Seberapa hebat sih aura tegas dan kharisma Asano itu sebenarnya, sampai-sampai anak SMA pun kalah saing meskipun Asano tidak mengatakan sepatah kata apapun setelah tiga kata tadi. Mungkin Nagisa perlu mempelajari teknik seperti ini.
Dia hanya belum sadar kalau dia juga punya, aura semacam itu. Aura kasih sayang. Bukan. Maksudnya aura membunuh, hanya saja beda tipe kuchiyose no jutsu.
Menyisakan hanya mereka—dua orang anak remaja di taman, suasana tidak berubah romantis meskipun hanya berduaan. Asano mengerutkan alisnya dengan pandangan tepat menuju pada sosok dihadapannya, "Kapan kita menjadi teman?"
"Eh? Etto… kapan ya…" Nagisa tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya. Jelas Asano tidak menganggapnya teman sedari awal. "Err—dibanding hal itu…" Dengan segera Nagisa menyerahkan ponsel milik Asano. "Milikmu."
Mengarahkan pandangan pada ponselnya, Asano mengambilnya dalam diam, memperhatikan dan melihat keadaannya dengan teliti. Tidak ada perubahan berarti maupun kerusakan. Wallpaper masih berupa gambar rumus Pythagoras.
"Oh, ya. Dan ini." Tangan Nagisa terulur ke arah Asano dengan sebuah paper bag.
Asano tidak langsung menerima, justru memandang Nagisa dengan tatapan seriusnya. "Apa?"
"Err— pembayaran hutang balas budi?" Nagisa menjawab dengan sedikit grogi, macam anak perempuan yang menyerahkan surat cinta pada gebetan, tapi takut ditolak. Jika mata Asano bisa mengeluarkan sinar laser macam Superman, dia pasti sudah terpotong-potong seperti potongan takoyaki. Berada dekat Asano tidak baik untuk kesehatan jantung dan masa muda. Nagisa tidak terbiasa.
"Apa kau pikir aku akan menerima hal seperti ini?"
"Kenapa tidak? Kau tidak menyukai makanan manis? Tapi tidak semuanya adalah makanan manis kok. ada croissant dan Taiyaki. Juga kacang goreng."
Alis Asano berkerut. Kenapa ada kacang goreng?
"Kenapa aku harus menerima benda dari anak kelas 3-E?"
Nagisa menghela napas, "Kami tidak seburuk itu bukan, Asano-kun. Bukankah sudah terbukti saat ulangan. Lagipula apa hubungannya? Kalau kau tidak menerimanya, tidak apa-apa sih. Aku hanya mencoba… yeah, balas budi."
"Dengan ini?" Mata violet Gakushuu menatap ke arah paper bag di tangan Nagisa.
"Aku sudah menghabiskan uang saku mingguanku untuk membeli kue (mahal) ini." Ujar Nagisa serius. "Aku bahkan antri hampir setengah jam!"
"Lalu?"
Rasanya Nagisa ingin ber-facepalm. Atau paling tidak menginjak sepatu Asano dengan heels yang masih setia dipakainya. Dia mengerti sih kalau Asano itu kalangan atas, jadi dia tidak bisa memberikan benda yang sembarangan. Tingkatan kasta mereka memang berbeda jauh. "Aku harap kau mau menerima bentuk balas budi dariku ini, Asano-kun."
Sekian detik berlalu tanpa sahutan dari Asano. Hingga akhirnya Asano mengangguk, "Baik, aku akan menerimanya. Tapi ada syaratnya."
Ternyata terlalu cepat bagi Nagisa untuk merasa lega.
"Apa?"
Asano berdehem pelan, "Aku ingin tahu dimana tempatmu tinggal."
Modus.
Nagisa tercenung. Tunggu dulu? Apa maksud Asano? Sepertinya Nagisa gagal paham. Untuk apa Asano meminta hal semacam ini?
"Err—alamat rumahku di jalan… etto, bukannya ketua OSIS bisa melihatnya di informasi murid…"
"Tidak. Bukan seperti itu. Maksudku, aku ingin kau menunjukkan jalan ke rumahmu. Sekarang." terdengar seperti sebuah titah yang absolut.
Oh, maksudnya berjalan pulang menuju rumah Nagisa bersama toh. Oh…
Chotto matte kudasai. Buat apa?!
Mata azure Nagisa membulat. Black mail macam apa yang ingin Asano lakukan padanya.
Kenapa Asano begitu membencinya.
Kenapa?
Apa karena dia anak kelas 3-E?
Ah, Nagisa terlalu berlebihan. Kapan Asano berkata dia membencimu.
"Tapi, tapi, tapi, bukankah mobil itu sudah menunggumu, Asano-kun. Kenapa repot-repot untuk tahu… rumahku?" suara Nagisa semakin pelan pada akhirnya.
"Tidak ada hal khusus."
"Err, kau yakin tidak masalah? Bagaimana kalau pak kepala sekolah mencarimu, atau tugasmu nanti jadi terbengkalai—"
"Tidak perlu khawatir pada hal seperti itu." Gakushuu memotong ucapan Nagisa.
Aku khawatir pada nasib diriku! Teriak Nagisa dalam hati.
Sayangnya Asano tidak bisa membaca bahasa kalbu. Kalau bahasa Inggris, Perancis, Jerman, gampang. Bahasa Arab, mungkin bisa sedikit. Alif-ba-tsa. Ahlan wa sahlan! Syukron! Gratin Dauphinois—Coq au Vin!
"Tunggu disini."
Mengambil alih paper bag yang tadi ditawarkan Nagisa, Asano berjalan ke arah mobil yang tadi mengantarnya. Menyerahkan paper bag tersebut pada sang supir mobil sambil berbicara entah apa. Beberapa saat kemudian, kembali berjalan ke arah Nagisa. Penyesalan berbekas di hati Nagisa, dia memukul kepalanya pelan, harusnya tadi dia melepas heelsnya dengan segera, kemudian kabur dari jeratan Asano.
"Tunjukkan arah ke rumahmu."
"Y—ya, lurus saja…" Nagisa berucap lemah.
Berpikiran positif saja Nagisa, anggap saja kamu sedang diantarkan pulang oleh gebetan. Cough.
Nagisa masih lebih memilih Yuuma Isogai.
Atau Karasuma-sensei.
XoXo-XoXo-XoXo
Berjalan berdua di bawah langit malam dimana bintang-bintang bersanding dengan rembulan. Dingin masih terasa efek hujan yang membasahi jalanan beraspal beberapa waktu yang lalu. Dua insan melangkah bersama dengan keheningan di sekitarnya. Nagisa merasa seperti playgirl. Atau playboy? Berangkat dan jalan sama siapa, pulang sama siapa.
Syukurnya bukan datang tak dijemput pulang tak diantar.
Tapi… perjalanan pulang macam apa ini. Asano malah berjalan di belakangnya, bukan disamping. Tidak ada pembicaraan, dan hal itu membuat perjalanan pulang menjadi terasa lama. Reiatsu macam apa yang Asano pancarkan padanya. Rasanya begitu horror.
"Shiota."
Kaget, Nagisa langsung menoleh, "Ya!"
"Belikan aku makanan."
Makanan? Asano lapar? Ternyata dia bisa lapar juga?!
Kenapa tidak makan saja kue pemberianku tadi? Nagisa berucap dalam hati. Atau kenapa tidak panggil supirmu saja? Mana mungkin Nagisa berucap seperti itu dihadapan Asano. Tidak. Hal itu tentu saja tidak akan terjadi. Belum apa-apa, Nagisa merasa jadi servant Asano.
"Etto… kalau kau ingat, aku tadi membelikanmu kue."
"Ya, itu benar. Apa kau bermaksud menyuruhku memakan kudapan sebelum makan malam?"
"Err—yaah, bukannya begitu… uangku hanya tersisa beberapa yen sekarang, kalau kau ingin tahu. Kau tidak memintaku untuk mencuri kan?" Nagisa berucap hati-hati.
Asano menatapnya sambil melipat tangan. Gaya ore-sama.
Aku hanya rakyat jelata yang uang saku perminggu-nya terbatas.
"Aku hanya anak SMP biasa dengan uang saku standar."
Tidak sepenuhnya berbohong sih. Anak smp biasa sih mungkin bukan kali ya. Mana ada anak smp main tembak-tembakan bareng gurita berkecepatan 200 Mach.
"Kalau begitu, tunjukkan saja tempat makan yang bagus di sekitar sini."
Nagisa ingin segera sampai rumah. Tapi sepertinya Asano tidak.
Nagisa tampak berpikir keras. Nagisa mengerti sekarang, Asano pasti berniat menyiksanya secara mental dan fisik. Makanya dia meminta hal-hal semacam ini.
Tempat makan yang bisa di rekomendasikan...
Kedai ramen Ichiraku? Tidak. Terlalu jauh. Di konoha.
Maji Burger? Lumayan jauh, di fandom sebelah.
Café tempat Yuuma Isogai bekerja? Bukan tempat yang bagus untuk didatangi jika masih crossdress macam ini. Meskipun melihat wajah ikemen ketua kelas bikin hati adem. Lagipula mempertemukan Isogai dengan Asano juga bukan hal bagus.
Warung bakso abang Jajang… sepertinya bukan level Asano.
Akhirnya mereka sampai di sebuah restoran cepat saji bermaskot badut belang kuning-merah.
"Disini tidak apa kan, Asano-kun?"
Menatap tempat mereka berada sekarang. Asano sepertinya tampak tidak keberatan. Tempat itu terlihat cukup nyaman. Meskipun senyuman dari Maskot restoran lebih terlihat creepy dibandingkan ramah.
"Baik, kalau begitu antri di depanku dan pilih makanan yang direkomendasikan."
"Tapi, bukankah sudah aku katakan kalau uangku—"
"Aku yang membayar."
Oke. Fine. Nagisa mingkem.
Antrian malam itu tidak terlalu ramai, beberapa tempat duduk tampak kosong. Berada diantrian paling belakang, Nagisa melirik ke arah remaja yang lebih tinggi darinya itu.
"Jadi, kau pernah ke tempat seperti ini, Asano-kun?"
"Beberapa kali."
Tadinya Nagisa berpikir kalau orang seperti Asano adalah tipe orang yang high class. Semacam makan disiapkan oleh koki dari Perancis atau Italia. Atau harus reservasi tempat dulu di restoran bintang lima ke atas. Makan bersama rekan kerja atau bisnis sang ayah. Menjaga sikap dan tata karma hingga kaki kesemutan. Memakai setelan jas mahal. Bersulang dengan red wine yang mahal.
"Aku lebih sering makan diluar dengan ayahku di tempat yang dia pesan atau dengan kolega nya."
Ternyata pemikiran Nagisa tidak salah. Nagisa hanya terlalu cepat mengambil kesimpulan.
"O—oh…"
Pegawai restoran cantik berbaju merah ber-name tag Rias. G dengan topi hitam di atas surai merahnya tampak tersenyum ramah, menanyakan pesanan yang diinginkan, tentu saja Nagisa memilih atas persetujuan Asano. Namun, belum selesai menentukan, Asano menyuruhnya mencari tempat duduk yang nyaman dan strategis.
"Aku saja yang memilih pesanan, kau cari tempat yang strategis. Jangan ditempat yang ramai. Hindari tempat yang berisik, pilih dekat kaca, jangan terlalu dekat dengan AC, dipojok lebih bagus. Cari yang kursinya hanya ada dua."
Nagisa benar-benar merasa jadi budak deh.
"Perlu aku ulangi?" Tanya Asano yang melihat wajah kalem Nagisa.
"Ah, tidak. Aku ingat kok." Nagisa segera mencari tempat dengan teknik observasi yang biasa dia lakukan saat mengawasi Koro-sensei.
Masih memperhatikan pemuda berstatus president council di sekolahnya itu menunggu makanan yang dipesan, Nagisa duduk dengan netra yang fokus padanya. Nagisa baru tahu, ternyata Asano makannya banyak ya. Nampan yang dibawanya berisi beberapa menu makanan berupa main dishes dan dessert.
Meletakkan apa yang dibawanya, Asano duduk bersebrangan dengan Nagisa, mata violetnya segera mengarah pada Nagisa yang duduk dengan tangan terlipat di meja.
"Aku tidak bisa menghabiskan semuanya." Ujarnya.
"Hah?" Terus kenapa memesan sebanyak itu?! Nagisa berteriak, lagi-lagi dalam hati. Jaga image.
"Bantu aku menghabiskannya." Senyum ramah yang sebelas dua belas dengan Karma terlihat dari Gakushuu. Entah itu senyum yang bermakna apa.
"Tapi aku masih keny—err baiklah." Nagisa tidak jadi membantah. Senyuman tadi hampir menghilang dari wajah Asano membuat Nagisa merasa dalam bahaya, terasa seperti aura ibunya saat akan marah. Dengan segera memilih dessert berupa puding untuk berada dihadapannya sebelum Asano menjejalinya dengan main dishes berukuran medium. Sebenarnya dia masih cukup kenyang karena disungguhi cemilan dan makanan lainnya di rumah Karma. Ibu Karma berkata kalau berat badannya belum ideal untuk ukuran remaja perempuan seumurannya. Karma sih hanya numpang ketawa nista aja saat mendengarnya. Nagisa cukup tertohok.
Seperti yang diduga, Asano makan dengan khidmat dan tenang, mencerminkan karakter cowok berkharismatik dan tegas dari kalangan atas. Nyaris sempurna hingga menarik banyak perhatian perempuan, namun sulit digapai bahkan dalam mimpi sekalipun.
Jadi, entah Nagisa beruntung atau tidak, bisa makan bersama dengan salah satu orang yang paling populer di sekolahnya. Dibanding senang, Nagisa lebih kepada merasa tertekan dan khawatir. Khawatir bertemu dengan orang yang dia kenal, terlebih lagi jika itu adalah teman sekelasnya. Apa kata mereka kalau melihat Nagisa seperti ini. Crossdress. Cute. Bersama Asano Gakushuu. Masih mending kalau bersama Karma. Meskipun keduanya bukan opsi yang bagus. Beda cerita kalau Nagisa perempuan, moment seperti ini pasti akan berkesan dan indah… macam dongeng atau drama ber-plot setipe Cinderella dan BBF yang biasa ditonton oleh sang ibu di rumah. Dimana ada moment ibunya mengomeli layar tivi karena sang heroine selalu pasrah teraniaya dan dipermainkan dengan begitu mudahnya.
Mana mungkin layar tivi bisa ngenotis. Sama seperti gimana senpai bisa notis, kalau kamu cuman ngestalker dari jauh doang?
Sibuk dengan pemikirannya, Nagisa menyuap puding dengan pelan. Begitu berulang sekian kali.
"Bagaimana kabar ketua kelas 3-E?"
Suara Asano mendepak Nagisa dari lamunannya, "Isogai-kun? Dia baik dan sibuk seperti biasanya. Apalagi mengingat festival yang akan datang sebentar lagi." Nagisa menghela napas pelan. Sungguh, Yuuma Isogai, ikemen yang layak diperhitungkan sebagai tambatan hati. Tidak berbahaya seperti Karma. Tidak menakutkan seperti Asano. Tidak player seperti Maehara. Kyaa.
Jantung Nagisa hampir copot ketika lengannya ditahan oleh Asano. Tangannya yang memegang sendok berisi puding tertahan.
"Aku ingin coba ini." ucapan itu terlontar dari bibir Asano. Tangan orang yang menemaninya makan malam itu ditarik mendekat padanya. Potongan puding pada sendok Nagisa telah berpindah dari mulut menuju tenggorokan Asano. Mengecap rasa yang menurutnya, "Lumayan."
Tangan hangat Asano sudah tidak lagi menggenggam lengannya, tetapi Nagisa masih merasa kaku sambil menatap sendoknya. Rasanya seperti baru saja dililit kelabang beracun. Tapi dengan ajaibnya berhasil selamat. Nagisa lanjut menghabiskan pudingnya kembali, menyuap dengan perlahan. Seperti kata Asano, puding ini rasanya memang lumayan.
Oh, apa ini bisa disebut indirect kiss?
XoXo-XoXo-XoXo
"Jadi, ini tempat tinggalku. Hanya apartement normal biasa pada umumnya." Nagisa berhenti di depan halaman. Melontarkan ucapan pada teman seperjalanan. Bersyukur sudah sampai tanpa kurang suatu apapun. Puji syukur ke hadirat Tuhan yang maha kuasa.
Setelah mengedarkan pandangan, pemuda dengan surai pendek pirang strawberry itu mengiyakan ucapan Nagisa.
"Ya, benar-benar biasa."
Nagisa sweatdrop. Asano menanggapinya dengan jujur sekali. "Mau mampir dulu?" Menawarkan untuk sekedar berbasa basi. Sepertinya ibunya belum pulang. Ya, karena mobil sang ibu baru saja terlihat di ujung jalan, mengarah ke tempat parkir.
"Lho, baru pulang, Nagisa?" ucap sang ibu yang menghampiri mereka.
"Iya, bu. Dengan temanku, namanya Asano Gakushuu."
Menoleh pada sosok rupawan yang bersama dengan Nagisa, Hiromi tersenyum lembut. "Oh, aku Hiromi Shiota, ibu Nagisa. Terima kasih sudah mengantar Nagisa, Asano-kun."
Sedikit heran kenapa ibu Nagisa tidak mempermasalahkan penampilan anaknya yang sekarang sedang crossdress. Asano memberikan respon sedikit terlambat. Namun termaafkan dengan sikap sopan diringi senyum tampan yang membuat banyak gadis terpesona. Mama Nagisa juga terpesona.
"Bukan masalah, tante."
"Mau mampir dulu?" Tawaran yang sama kembali terlontar, meskipun dari sosok yang berbeda.
"Mungkin lain kali, tante. Setelah ini saya masih ada les."
"Oh, begitu. Hati-hati kalau begitu."
"Hati-hati, Asano-kun." Nagisa tersenyum, merasa senang tidak diancam dengan black mail apapun. Meski masih mempertanyakan apa alasan Asano yang repot-repot ingin tahu tempatnya tinggal selain menyiksanya secara psikis seperti tadi.
Setelah menunduk kepada nyonya Shiota dan berlalu cukup jauh. Asano menelpon sang supir. "Jemput aku."
Dia melewatkan satu les hari ini. Bukan hal yang harus disesali.
Sementara itu sang ibu dari karakter utama menoleh pada sang anak sementara tangan memasukkan kunci pada pintu apartement mereka. "Kenapa bukan Karma-kun yang mengantarmu?"
Nagisa mengelus rambutnya, mencari alasan yang logis. "Orang tua Karma-kun baru saja pulang dari liburan. Jadi dia sedikit sibuk…?"
"Ah, anak yang baik." Komentar Hiromi.
Baik? Haha…
XoXo-XoXo-XoXo
Makan malam bersama ibu biasanya selalu tenang menjurus mencekam, meskipun terkadang diselingi oleh curhatan Hiromi tentang pekerjaannya atau rekan kerjanya di kantor, kadang dia menanyakan bagaimana Nagisa di sekolah juga pelajarannya. Soal pasangan sih belum pernah.
"Karma Akabane dan Gakushuu Asano." Wajah Hiromi tampak serius, dagunya bertumpu pada kedua jemari tangannya yang tertaut. Sementara itu wajah Nagisa tampak pucat. Makan malamnya terasa sulit untuk di telan. Mungkin efek makan pizza di rumah Karma, atau efek makan bareng Asano. Nagisa akan bersyukur kalau tingginya yang bertambah sebagai efek, bukan berat badan. Menjadi semok bukan target Nagisa.
"Mereka terlihat sebagai anak yang baik dan tampan."
Baik? Fitnah! Tampan sih memang fakta. Nagisa menggeleng-geleng, kemudian mengangguk. "Begitukah?"
"Mana yang menurutmu lebih menarik, Nagisa?"
Remaja androgini itu mengerutkan alis begitu mendengar pertanyaan sang ibu. "Aku tidak begitu tahu tentang hal itu, bu. Karma-kun dan Asano-kun adalah orang-orang yang jenius. Mereka orang yang paling pintar di sekolah dan disukai banyak gadis. Tapi Asano-kun adalah ketua OSIS di sekolah."
Hiromi melipat tangannya di meja. "Jadi mana yang lebih kamu sukai?"
Uhuk!
Nagisa menyeka mulutnya dengan serbet. "Apa maksudmu bu? Aku kan cowok—"
Tidak, ini penggunaan kata yang salah dan berbahaya untuk dipakai. Nagisa melirik mata ibunya yang tampak berkilat. Segera memutar otak untuk menemukan kata pengganti yang tepat.
"–aku kan masih terlalu kecil untuk hal semacam ini. Dan siang tadi, Karma-kun hanya bercanda tentang menjadi pacarku."
"Ibu sih tidak masalah kamu mau sama yang mana. Karma ataupu Asano tidak masalah."
"Err—aku sudah punya orang yang disukai!"
"Oh ya? Siapa? Bukan mereka berdua?" Sang ibu semakin kepo.
Waduh. Siapa yang harus Nagisa sebutkan? Kayano? Kanzaki? Nakamura? Hazama? Bitch-sensei?
"I—iya, aku suka dengan ketua kelasku!"
"Bagaimana orangnya?"
"Err—pekerja keras, baik dan ramah…?"
"Siapa namanya?"
Maaf Isogai-kun, gak sengaja. Lidah tak bertulang. Khilaf. Gumam Nagisa sepelan hembusan angin malam.
Yuuma Isogai yang sedang mengelap meja, bersin di tempat kerja sambilannya.
XoXo-XoXo-XoXo
[TBC]
XoXo-XoXo-XoXo
A/N: tiba-tiba aku berpikir kalau Itona itu cute gara-gara kepentok ff Terasaka x Itona…
Chapter depan adalah chapter terakhir. Meskipun aku masih bingung gimana menamatkan ff ini.
Btw, ada yang suka Isogai x Nagisa? :'D
XoXo-XoXo-XoXo
[1] Kuchiyose no jutsu: teknik memanggil hewan kontrak
[2] Reiatsu: Tekanan spiritual (Anime Bleach)
[3] Gratin Dauphinois, Coq au Vin: nama masakan Perancis
[4] Kedai ramen ichiraku: kedai favorit Naruto
[5] Maji Burger: restoran fast food di Kuroko no basket
[6] Rias. G: Rias Gremory dari anime HS DxD
XoXo-XoXo-XoXo
Balasan Review
Ale Genoveva: cuman hint yha ;)
atin350: Nah, iya sih mirip xD entah kenapa orang berambut merah iris gold gitu terlihat begitu keren. Asano udah muncul. Puas dong ;)
CrazywithKaruNagi: Karunagi absolutely cute! What about Asanagi? Or Isonagi? Haha :'3 don't kill me. :'3
Ai Minkyoo Chan: eh, apa iya manis? Duh, jadi cengar-cengir nih saya xD
Ai: demen deh saya baca review panjang xD /gelindingan/ chap ini buat Gakushuu, Isogai chap depan, mungkin ;)
kiwi689: semoga lanjutannya ini gak makin jayus yha dek :'D
BlueSky Shin: tanggung jawabnya mesti gimana nih :') udah dibanyakin nih Asanagi, nyampe dinner berdua. Puas dong? :'D
Majiko Harada: ah, aku juga senyum-senyum baca reviewnya :'D Nagisa memilih opsi; menghadapi semuanya dengan gagah berani karena dia strong. ;) Salam 2 jari!
Cimplo: selamat datang~ chap ini setengah buat Karma dan Asano, chap depan mungkin Isogai bakal nemplok/? Dan sesuatu bakal terjadi/? Nagisa pergi untuk kembali ;) karena Nagisa itu strong! :D
Terima kasih sudah review :D salam sayang~
Myouki Kuroki: soalnya dia manis gimana gitu, bawaannya jadi pengen ngebully deh. /gak/ koro-sensei gak muncul karena gak mau jadi orang ketiga, orang ketiga kan setan. Sedangkan dia gurita. /oi/ kembali kasih.
Sugarplum: err… pertanyaan itu… sepertinya ff ini rada belok-belok ambigu. Kalo mau lurusin otak saya boleh kok :'D saya juga baru di sini. Salam kenal! ;)
Ryuuhi Akira: sudah jelas Karma bermaksud ambigu xP
AkaiLoveAoi: Pura-pura mati ntar malah diapa-apain Karma dong. Nagisa belum siap /gak gitu/
Ai CassiEast: anjay, opsinya nganu banget xD pindah rating dong kalo gitu ceritanya. Pengen sih /oi/ tapi gak bakat bikin cerita panas membara. :'3 Kayaknya cuman sampe 4 chap aja ;)
Riska Kuruta404: yuhuu~ udah nih ;)
N-Yera48: gak papa, soalnya Nagisa penyabar, baik hati dan suka menabung ;) mendengar kata Asano terlihat tamvan, rasanya jadi pengen bikin dia ngenes /plak/ tapi asano emang tamvan asdfghj
Denia: oke, udah diapdet nih. Domo arigatou gozaimasu :)
Kembali Kiriya ucapkan terima kasih banyak buat yang udah baca, review, fav dan follow. Senang ada yang menyukai fic absurd ini :'))
Water City—Kalimantan Tengah, 10/04/2016
-Kiriya-
Mind to review? :)
