eL-Ree Aquafanz PRESENT

Disclaimer :

BLEACH © TITE KUBO

Warning : OOC (of course), AT, AU, alur terlalu cepat, and NO FLAME please...

Genre : Romance, Friendship

Pair : Ichi-Ruki

Rated : T

Please enjoy the fic!

Don't Like, Don't Read

Misty Mystery

Chapter 3

By : eL-Ree Aquafanz

Deru napas Ichigo mulai memburu. Salahkan Byakuya-buchou yang menghukumnya berlari mengelilingi lapangan tenis seratus kali. Yah, sebenarnya salah dia sendiri karena datang terlambat untuk latihan tenis sore ini. Gara-gara mood-nya yang sudah buruk dan semakin diperburuk dengan sebuah e-mail yang diterimanya dari seseorang yang sangat TIDAK ingin ditemuinya.

Ichigo lalu menyandarkan tubuhnya di dinding lapangan tenis sebelum mulai memejamkan kedua matanya perlahan. Dihiraukannya panggilan dari Rukia untuk melakukan latih tanding dengan Hitsugaya-senpai. Dia benar-benar sudah kelelahan sekarang.

"Apa kau sedang ada masalah, Kurosaki?"

Tanpa perlu membuka matanya, Ichigo tahu siapa yang baru saja bertanya padanya. Hitsugaya Toushiro, Karakura Gakuen no Tensai (1).

"Betsuni (2)," jawab Ichigo ketus.

Hitsugaya menghela napas panjang. Kouhai (3)-nya yang satu ini memang sulit untuk dipahami. "Ne, Kurosaki, kalau aku boleh memberi saran padamu, lebih baik kau mengunjungi kuil di atas bukit Karakura. Siapa tahu dengan kau ke sana, kau akan merasa lebih baik."

Perlahan Ichigo membuka kedua matanya, berusaha untuk mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut Hitsugaya. "Sepertinya bisa aku pertimbangkan. Doumo, (4)" ucap Ichigo sambil berdiri sebelum membungkukkan badannya sekilas.

"Jadi, apa kau mau berlatih tanding denganku, Kurosaki?" tanya Hitsugaya, disertai dengan senyuman. Yang dijawab dengan sebuah anggukan mantap dari Ichigo. "Hai."

x x x

Seperti apa yang telah disarankan oleh senpai (5) jenius itu, sepulang latihan tenis Ichigo langsung mengunjungi kuil di atas bukit Karakura. Begitu sampai di pelataran kuil, Ichigo langsung terpesona dengan keindahan kuil itu yang dikelilingi oleh pohon sakura yang sedang bermekaran. Padahal musim bunga sakura telah lewat, beberapa waktu lalu.

Ichigo lalu berjalan memutari kuil, hingga sampailah ia di belakang kuil. Ternyata di belakang kuil itu terdapat sebuah lapangan tenis tanah. Melihat lapangan itu, membuat Ichigo sedikit rindu dengan nii-san-nya, yang sekarang berada entah di mana. Kaien memang paling jago bermain tenis di lapangan tanah, berbeda dengan Ichigo yang jago bermain di lapangan rumput.

Entah mendapat dorongan dari mana, Ichigo sudah berada di tengah-tengah lapangan dengan menggenggam raket tenis dan bola tenis. Baru saja Ichigo hendak melakukan serve, ketika tiba-tiba pintu belakang kuil terbuka.

Seketika raket tenis yang digenggam Ichigo langsung meluncur turun dari tangannya. Begitupun dengan sosok berambut hitam spiky yang baru saja keluar dari pintu belakang dengan membawa gelas, hingga akhirnya gelas kaca itu jatuh dan pecah berkeping-keping.

"Ichigo?"

" Nii-san?"

x x x

Kedua bersaudara itu terdiam. Ichigo tidak tahu harus memulai dari mana. Setelah tadi membantu Kaien membersihkan pecahan gelas, Ichigo hanya mampu terduduk di emperan kuil dengan Kaien yang duduk tidak jauh darinya. Sepuluh menit telah berlalu dan keduanya masih tetap bungkam. Meskipun di dalam kepalanya terselip banyak pertanyaan, tetapi Ichigo tidak sudi kalau dia yang harus pertama kali membuka suara. Benar-benar tipikal orang keras kepala.

"Kaien-san, bisa tolong bersihkan kamar mandi? Lho?"

Ichigo terpana melihat wanita berambut hitam yang tiba-tiba muncul dari balik pintu belakang. "Anata wo dare? (6)" Dengan segera Ichigo membekap mulutnya sendiri, menyadari pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulutnya. Dan detik selanjutnya dia harus merasakan sakit di kepalanya.

"Nii-san!" protes Ichigo tidak terima, begitu Kaien memukul kepalanya. Sementara Kaien hanya memberinya deathglare. Melihat Kaien yang seperti itu langsung membuat Ichigo menciut. "Gomen."

"Ma, ma, Kaien-san kau tidak perlu sekeras itu pada Ichigo-kun," ujar wanita itu lembut. Dia lalu membungkukkan badannya sekilas. "Watashi wa Miyako, desu. Yoroshiku. Aaa, kalau begitu, aku masuk ke dalam dulu. Nanti akan aku buatkan teh dan kue cokelat kesukaan kalian berdua. Matte ne, Ichigo-kun," ucap wanita itu sebelum masuk kembali ke dalam kuil.

"Mulai hari ini kau harus memanggilnya 'nee-san', Ichigo," ucap Kaien setelah wanita berambut hitam itu masuk kembali ke dalam kuil.

"Na-nani? Nii-san, kau pasti bercanda kan?" tanya Ichigo, bahkan sampai harus membelalakkan matanya.

Kaien terkekeh melihat reaksi Ichigo yang sedikit berlebihan itu. Sebelum sebuah senyuman menghiasi wajahnya. "Miyako adalah wanita yang baik. Kurasa dia cocok untuk menjadi nee-san-mu, Ichigo," tutur Kaien, mengawali ceritanya.

Ichigo terdiam mendengar penuturan Kaien, yang entah mengapa saat ini terlihat sedang berbunga-bunga. Tetapi dia sama sekali tidak berniat untuk memotong perkataan Kaien. Kaien memang salah satu orang yang paling Ichigo hormati di hidupnya. Meskipun dia sedikit menyimpan amarah padanya, karena Kaien tiba-tiba menghilang, dua tahun lalu. Tidak dapat Ichigo pungkiri, kalau dia sangat merindukan nii-san-nya ini. Akhirnya Kaien mengakhiri ceritanya setelah tujuh menit berlalu. Hal itu langsung membuat Ichigo bernapas lega.

"Maaf menunggu lama."

Seketika duo Kurosaki itu menolehkan kepala bersamaan ke arah pintu. Terlihat Miyako membawa nampan berisi tiga gelas es jeruk dan satu piring kue cokelat, kemudian meletakkannya persis di antara Ichigo dan Kaien, yang sedang duduk di emperan kuil.

"Aaa, arigatou ne, Miyako," ucap Kaien, mengambil satu potong kue cokelat dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. "Hmmm, rasanya mirip dengan kue cokelat buatan Okaa-san."

"Ara, Kaien-san, itu terlalu berlebihan. Ichigo-kun, ayo dimakan kuenya. Kaien-san pernah bilang padaku kalau kau sangat menyukai cokelat, terlebih kue cokelat seperti ini. Silakan dicicipi," ujar Miyako, ramah.

Ichigo lalu menganggukkan kepalanya sekilas, sebelum mengambil sepotong kue. "Wuaa, oishi (7)!" seru Ichigo ketika potongan kue itu masuk ke dalam mulutnya.

Miyako lalu tersenyum hangat. "Yokatta ne. (8)"

Tanpa Miyako sadari, Kaien tersenyum lega melihat 'calon' istrinya bisa berinteraksi dengan baik dengan otouto-nya.

x x x

Tidak terasa jam di tangan Ichigo sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Itu artinya dia harus segera kembali ke rumah. Setelah berpamitan pada Miyako, Ichigo dan Kaien pulang bersama menuju apartemen Ichigo. Sebenarnya Ichigo tidak rela jika Kaien harus tidur dengannya, tapi akan tidak sopan kalau dia membiarkan Kaien tidur di kuil. Toh, Ichigo juga tinggal sendirian.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Ichigo, tidak hentinya Kaien bersenandung. Hal itu membuat telinga Ichigo menjadi panas. "Tidak bisakah kau diam, Kaien-nii?"

"Hmm, nani ka? (9) Tidak biasanya kau sensitif begitu, Ichigo."

Ichigo menggeram dalam hati. Heran, ternyata nii-san-nya ini sama sekali tidak berubah. Ichigo lalu mempercepat langkah kakinya, meninggalkan Kaien beberapa langkah di belakangnya. Tetapi kemudian langkah kakinya melambat, begitu dia melewati sebuah lapangan tenis umum. Terlihat dua sosok yang sangat dikenalnya sedang bertanding. "Byakuya-buchou dan Hitsugaya-senpai? Doushite? (10)"

Melihat Ichigo terus-menerus memandangi lapangan tenis, membuat Kaien penasaran. Dia lalu ikut mengalihkan pandangannya ke arah lapangan tenis. "Ara, Byakuya-kun, Hitsugaya-kun. Ohisashiburi (11)!" seru Kaien dari luar pagar pembatas lapangan tenis. Bahkan Kaien sampai melambaikan kedua tangannya. Tindakan Kaien ini langsung membuat Ichigo sweatdrop di tempat.

Seketika kedua sosok yang sedang bertanding itu langsung menghentikan pertandingan mereka dan berjalan ke arah Kaien.

"Konbanwa (12), Shiba-sensei. Ohisashiburi desu," seru sosok berambut hitam, Kuchiki Byakuya.

"Konbanwa. Senang sekali bisa kembali bertemu dengan Anda, Shiba-sensei." Kali ini sosok berambut salju, Hitsugaya Toushiro, yang memberi salam.

"Yare-yare, kalian rajin sekali, malam-malam masih latihan tenis. Berbeda sekali dengan otouto-ku ini," ucap Kaien sembari melirik Ichigo. Dengan segera Ichigo membuang mukanya.

"Otouto? Kurosaki?" ulang Hitsugaya setengah tidak percaya.

"Tapi, Kurosaki sama sekali tidak mirip dengan Anda, Shiba-sensei. Lagipula, nama keluarga kalian juga berbeda. Bagaimana mungkin kalian adalah saudara?" tanya Byakuya sambil berjalan keluar dari lapangan tenis, diikuti oleh Hitsugaya.

Kaien lalu melirik Ichigo yang masih membuang muka. "Tentu saja nama keluarga kami berbeda. Sudah dua tahun ini, aku pergi dari keluarga Kurosaki. Karena aku hanya menjadi beban untuk mereka," tutur Kaien sambil tersenyum simpul.

Mendengar penuturan Kaien, Ichigo langsung memutar kepalanya, menatap Kaien dalam-dalam. Dia meragukan kata-kata yang telah keluar dari mulut Kaien. Memang benar kalau Kaien merupakan anak angkat keluarga Kurosaki, tetapi tidak seharusnya kan dia mengatakan kalau dia hanya menjadi beban untuk keluarganya?

Dan tanpa Ichigo sadari, dia sudah melayangkan tangannya ke wajah Kaien. Sehingga wajah Kaien kini terdapat bekas tangan kiri Ichigo. Tindakan Ichigo yang tiba-tiba ini langsung mengagetkan Byakuya dan Hitsugaya. Mereka tidak menyangka kalau kouhai yang selalu terlihat serius ini ternyata bisa berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini.

"Apa maksudmu, Nii-san? Bukankah Oyajii sudah mengatakannya berkali-kali padamu, kalau kau tidak perlu merasa rendah diri seperti ini. Kami sama sekali tidak menganggap Nii-san sebagai beban. Kami justru senang karena ada Nii-san di dalam keluarga. Dan kalau boleh jujur, aku ingin sekali kalau Nii-san bisa kembali ke keluarga Kurosaki lagi. Karin dan Yuzu juga sangat merindukanmu."

Kaien terhenyak melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata Ichigo. Sementara Ichigo yang menyadari kalau pandangannya mulai mengabur, langsung berlari meninggalkan Kaien.

Byakuya dan Hitsugaya hanya tercengang melihat kepergian Ichigo. Di dalam pikiran mereka, terselip banyak pertanyaan, tetapi mereka urung menanyakannya karena Kaien terlanjur mengejar Ichigo.

"Entah apa yang terjadi di antara mereka, tapi aku harap, mereka bisa segera menyelesaikannya," ucap Byakuya, kembali memasuki lapangan tenis.

"Kuharap begitu," timpal Hitsugaya, mengikuti Byakuya memasuki lapangan tenis.

x x x

"Ichigo, chotto matte (13)!"

Entah ini sudah yang keberapa kalinya Kaien memanggil nama Ichigo, tetapi yang dipanggil sama sekali tidak menolehkan kepalanya. Bahkan berhenti barang sedetik pun tidak. Ichigo terus saja berlari menyusuri jalan setapak di pinggir sungai Karakura. Hingga dia tiba-tiba menabrak seseorang, menyebabkannya harus jatuh terpental beberapa langkah ke belakang.

"Ichigo, apa kau baik-baik saja?" tanya Kaien, sembari membantu Ichigo untuk berdiri. Tetapi dengan segera Ichigo menepis tangan Kaien. Tanpa memperhatikan situasi di sekelilingnya, Ichigo kembali melarikan diri dari Kaien.

"Ah, sumimasen (14). Otouto-ku memang seperti itu. Tolong maafkan dia," ucap Kaien pada orang yang ditabrak Ichigo, seorang gadis berambut hitam sebahu. Kaien tertegun melihat gadis mungil berambut hitam yang sedang memandangi Ichigo itu. Sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat.

Seketika dirinya tersadarkan oleh sesuatu. "Rukia-chan?" panggilnya lirih.

Begitu merasa namanya dipanggil oleh Kaien, gadis itu kemudian menolehkan kepalanya. Benar dugaannya. Gadis ini memang benar Rukia, imouto dari Byakuya. Detik selanjutnya Kaien terkejut melihat iris violet Rukia yang terlihat sendu.

"Ah, konbanwa Kaien-san. Ohisashiburi desu," ucap Rukia dengan ceria.

Kaien terdiam melihat Rukia yang begitu pintarnya menutupi kesedihannya. Melihat Rukia yang menatapnya penasaran, Kaien kemudian tersenyum tipis. "Ohisashiburi, Rukia-chan. Aku tidak pernah menyangka bisa bertemu denganmu lagi di sini."

Rukia tersenyum mendengar balasan Kaien. Dia lalu mengajak Kaien duduk di bangku yang berada di dekat mereka. "Ano, Kaien-san, kalau boleh tahu, ada hubungan apa antara Kaien-san dengan Ichigo?"

Kaien terkejut mendengar pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulut Rukia. Ditepuknya pelan puncak kepala Rukia. "Ceritanya cukup panjang. Dan kurasa kalau kau mendengarkannya, kau akan tertidur sebelum aku menyelesaikan ceritaku," gurau Kaien, setengah berharap agar Rukia tidak lagi bertanya tentang dia dan Ichigo.

"Sou ka. Ah iya, besok bisakah Kaien-san datang ke latihan tenis? Kurasa Nii-sama akansenang dengan kedatangan Kaien -san."

Kaien tidak tahu harus menjawab apa. Pikirannya masih terfokus pada bagaimana caranya agar Ichigo bisa memaafkannya. "Sepertinya aku besok tidak bisa datang, Rukia-chan. Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku yang tertunda. Tidak apa-apa kan?"

Rukia termenung mendengar jawaban Kaien. Padahal biasanya Kaien akan dengan senang hati menyanggupi permintaannya. Apa ini ada hubungannya dengan Ichigo? Diliriknya Kaien yang sedang melihat ke arah lain. Rukia yakin, kalau Kaien yang berada di depannya ini bukanlah Kaien yang selama ini dikenalnya. Kaien yang biasanya adalah Kaien yang murah senyum dan humoris. Tidak seperti sosok di sebelahnya ini, yang terlihat sangat frustasi.

"Ano, Rukia-chan, boleh aku meminta tolong padamu?"

Pertanyaan Kaien sontak membuat iris violet Rukia melebar. "Eh?"

x x x

Lelah berlari, Ichigo lalu mendudukkan tubuhnya di bawah sebuah pohon. Entah apa nama pohon ini, Ichigo tidak peduli. Saat ini dia hanya membutuhkan sebuah ketenangan. Jika mengingat kembali apa yang telah dilakukannya beberapa saat lalu, Ichigo merasa sangat bersalah. Tanpa diinginkannya, air mata itu telah meluncur turun dari kedua matanya.

"Ichigo, mulai hari ini, Kaien akan menjadi bagian dari keluarga kita. Karena itu kau harus memanggilnya 'nii-san'. Kau mengerti, Ichigo?"

"Yo, salam kenal, Chibisuke."

Sekelebat memori tentang pertemuannya dengan Kaien menyusup ke dalam pikiran Ichigo, yang entah sejak kapan sudah terlelap. Perlahan Ichigo membuka kedua matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang iris violet yang sedang menatapnya lekat-lekat.

"Ku-chi-ki?" gumam Ichigo menyadari gadis berambut hitam yang berdiri di depannya. Sesaat Ichigo menyadari ada yang aneh dengan lehernya. Sejak kapan aku memakai syal? Begitulah kira-kira yang dipikirkannya melihat sebuah syal berwarna senada dengan rambutnya melingkari lehernya dengan manis.

"Ah itu. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan. Karena itu, pakai saja," ujar Rukia disertai dengan senyum manisnya.

Pipi Ichigo menghangat melihat senyuman Rukia. Sesaat dia berharap kalau senyuman itu hanya ditujukan padanya seorang.

"Sankyuu, Kuchiki," ucap Ichigo sambil menegakkan tubuhnya kembali. "Apa kau mau pulang sekarang, Kuchiki?" tanya Ichigo, malu-malu.

"Memangnya kenapa?" Rukia malah balik bertanya.

"Etto, kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengantarmu pulang. Tidak baik malam-malam berjalan sendirian," ucap Ichigo, kikuk.

Rukia lalu menganggukkan kepalanya. "Arigatou, Ichigo."

Melihat Rukia kembali tersenyum, membuat semburat merah kembali muncul di wajah Ichigo. "Do-do ite."

To be continued...

Note :

Si Jenius dari Karakura Gakuen

Bukan apa-apa

Adik kelas

Terima kasih

Kakak kelas

Kamu siapa?

Enak, lezat

Syukurlah

Ada apa?

Mengapa?

Lama tidak berjumpa

Selamat malam

Tunggu sebentar

Maaf

A/N : Yo, ohisashiburi, minna-san~ Senang sekali Ree bisa mem-publish chap 3 ini. ^^

Well, Ree sebenarnya bingung akan kelanjutan fic ini. #digampar

Karena sepertinya fic ini akan menjadi fic yang panjang. Oleh karena itu, Ree berharap kepada minna-san agar mau bersabar menantikan kelanjutan dari fic ini. Tapi, Ree akan mengusahakan agar fic ini tidak terbengkalai. Arigatou buat yang telah me-review fic ini dari chap 1 sampai chap 2, kemarin. #bungkuk90°

Dan, jangan lupa untuk kembali me-review chap kali ini ya ^^

Last, sampai bertemu kembali di chap selanjutnya~ ^^

~ eL-Ree Aquafanz ~