Title : Broken Angel
Genre : Romance-Angst
Length : Chaptered
Cast : Kris, Tao, and others
Warning : Yaoi, OOC, plot pasaran, bahasa berantakan.
Don't like Don't read!
.
Huang Zi Tao, itulah namanya. Si manis dengan julukan panda polos asal China, sosok hangat dengan senyum yang menggetarkan jiwa, bocah periang yang bersanding dengan segala macam kepolosan, namja muda yang tenggelam dalam cinta sosok-sosok disampingnya.
.
.
.
Satu bulan berlalu sejak peristiwa itu. Ada satu perubahan yang terjadi kala waktu terus melaju. Tentang Kris yang tak seramah dikala pertama kali kedua orang itu saling bertemu. Kris menghindarinya, menjauhkan diri dari Lay yang turut bungkam pada apa yang sesungguhnya terjadi. Sampai satu peristiwa memaksa kedua orang itu mengakui tangan Tuhan turut andil dalam kisah ini.
"Apa yang terjadi pada kakak saya, Dokter?"
Tao bertanya dengan nada kekhawatiran yang tersirat jelas disana. Tak melepas sedetikpun genggaman tangannya pada jemari Lay yang tak kunjung membuka kelopak mata. Seminggu ini namja yang lebih tua darinya itu tampak tak baik-baik saja. Kulit wajahnya memucat, bibirnya biru, dengan paras manisnya yang kian melesu.
Entah sudah berapa kali Tao mengingatkan kakaknya itu untuk memeriksakan diri, meski gelengan kepala dengan senyum memaksa hanya membalas kata-katanya. Hingga tubuh Lay jatuh pingsan pagi ini, Tao tentu tak berdiam diri. Dengan bantuan kekasihnya ia memanggil sosok paruh baya yang tengah berdiri dihadapannya.
"Anda tahu Male Pregnant sudah menjadi hal yang biasa bukan? Selamat, pria ini adalah salah satunya. Dia hamil…"
.
.
.
— Broken Angel —
Chapter 3
.
.
.
Keheningan itu tak kunjung hilang, meski dokter paruh baya yang membawa kenyataan itu telah menghilang dari pandangan. Baik Tao maupun Kris tenggelam dalam dunia berbeda, meski keduanya tengah memikirkan sosok yang sama, diri Lay yang tak kunjung membuka mata. Tao tidak sekalipun melepas pandangan dari paras layu kakaknya yang ia sayangi itu, memikirkan apa yang telah terjadi padanya membuat Tao bertanya-tanya, siapa yang tega menanamkan benih dalam rahimnya.
Air mata Tao jatuh begitu saja, hingga satu usapan ia rasa hinggap di bahunya. Pemuda manis itu menoleh, menatap sang kekasih dengan wajah sayu, dan Kris yang berdiri dihadapannya tak mungkin diam saja, melihat seperti apa paras kekasihnya dengan hati yang turut terluka. Ia usap kedua pipinya yang basah oleh air mata. Bergumam dalam hati bagaimana ia begitu keji menyakiti kekasihnya ini. Kris bahkan tak sanggup berpikir lebih jauh lagi, apa yang akan terjadi saat Lay membuka bibirnya mengenai aib yang coba ia tutupi.
Dunia maya yang tercipta bagi keduanya hancur tatkala Tao merasakan adanya gerakan dalam jemari yang tengah ia genggam. Tao eratkan genggaman tangannya kala kelopak mata Lay mulai terbuka.
"Lay gege…"
Dan pemuda yang mendengar namanya dipanggil itu lamat-lamat balas memandangnya.
"Tao-er… apa yang terjadi…" tanya Lay tak mengerti, merasa kepalanya begitu berat hingga ia tak sanggup mendudukkan diri.
"Gege pingsan," jeda Tao hanya untuk mengais udara. "dokter bilang… jika gege sedang hamil." tambah Tao tanpa memutus pandangannya.
Satu detik berlalu setelah terucapnya kalimat itu, Tao bisa merasakan sedingin apa raga Lay yang terasa begitu kaku.
"Katakan pada Tao, Ge… siapa ayah dari janin yang gege kandung."
Udara berhenti mengalir tiba-tiba. Hanya sesak yang terasa menggelayuti dada. Dua orang itu sama-sama merasakan ketegangan mendalam yang menghantam bak genderam perang. Membatu bisu dengan jagal semu yang siap memenggal leher itu.
"Katakan ge… katakan pada Tao… biarkan Tao membantu gege…"
Lagi, kalimat sama yang terucap dengan begitu polosnya membuat dada keduanya semakin terhimpit saja. Bocah dengan mata mengalahkan kilau senja diatas samudera itu sama sekali tak menyadari, kemana arah mata sang kakak yang begitu ia sayangi. Lewat tatapan mata itu Lay berharap pada sosok yang membisu sedari tadi, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan ini. Meski pada akhirnya Lay hanya mendapatkan kebisuan yang tak berarti, karena lagi-lagi Kris tak berhenti menghindarinya hingga detik ini.
Seketika itu juga Lay menundukkan kepala, kembali merasakan sayatan nyeri yang begitu ngilu dihati. Hingga detik ini perilaku pemuda itu tak juga kembali seperti dulu, saat dimana keduanya belum terjebak dalam kenikmatan semu yang bercadar desah nafsu.
Tao yang tidak mendapatkan secerca jawaban tak kehilangan daya untuk kembali bertanya. Mendesak dengan kelembutan, meminta penjelasan tanpa mengurangi belaian kasih sayang. Hingga gelengan kepala sosok yang lebih tua darinya membuat Tao mengerti, bahwa Lay tak mau membagi rahasia ini.
Lay justru menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bibir bergetar menahan tangis yang terasa menggores dada, hingga Tao tak tega untuk kembali memaksa. Ia rengkuh tubuh sang kakak yang begitu disayanginya, bergumam dengan pasti bahwa dia tak akan pernah meninggalkan sisinya. Dan dibelakang dua orang itu Kris memilih menundukkan kepala, tak sanggup melihat sekeji apa akibat dari perbuatannya.
.
.
"Terimakasih…"
Lay mengangkat kepala, memandang sosok tampan yang tengah menunduk dihadapannya. Pria itu tak kunjung menghilang dari pandangan, meski sosok Tao tak lagi berada dalam satu ruangan.
"Untuk apa…" Lay tak lagi memandangnya. Mengalihkan tatap matanya pada kilau angkasa yang membias jendela berkaca.
"Karena kau tak memberi tahu Tao apa yang sesungguhnya terjadi."
Lay membisu, tak dapat melontarkan kata guna membalas perkataan namja tampan itu. Dia sendiri tak mengerti, apa yang membuat ia tak tega membuka aib keduanya pada Tao yang begitu Kris kasihi.
"Aku hanya berpikir apa yang harus kita lakukan setelah ini," Lay memberi jeda dalam kalimatnya, sekedar menghela napas putus asa, meski kini Lay tatap mata itu dengan sebersit rasa ragu dalam kalbu.
"Kau tak berniat untuk meninggalkanku sendirian dalam kekacauan ini, bukan?"
Kris tersentak, raganya membeku mendengar nada putus asa yang kentara jelas tersirat dalam kalimatnya. Melihat mata berkaca-kaca itu sungguh membuat ia tak tega. Diambang kebekuan ia mengangguk perlahan. Mengucap sederet kata, mengemis pada Lay satu hal yang menambah daftar keegoisannya, "Jangan sampai Tao tahu, kumohon padamu…"
Maka dengan satu kalimat itu keduanya menenggelamkan diri bersama, dalam cerita nista tentang cinta, pengorbanan, hanya untuk akhir semu apa arti bahagia itu.
.
.
Dunia kembali terengkuh kegelapan. Tak sama seperti malam-malam sebelumnya, canda tawa seolah menghilang begitu saja. Menyisakan kekelaman meski pijar terang buatan tangan mengikis kegelapan.
Ini bukan tengah malam, jarum jam bahkan belum menunjuk angka sembilan, namun keheningan begitu pekat Tao rasakan. Meski ia hanya duduk diam diatas ayunan, namun apa yang kepalanya pikirkan jauh membumbung menembus awan.
"Baby…"
Tao mengalihkan perhatian dari ponsel yang tengah ia genggam. Menggeser tubuhnya guna memberi ruang bagi Kris yang turut menjatuhkan tubuh diatas ayunan. Tanpa banyak bicara sandaran punggung pemuda manis itu berganti dada bidang sang namja tampan.
"Aku bingung ge…" ujar Tao memecah kesunyian, "aku ingin memberitahu Hankyung ge tapi disisi lain aku tak ingin Han gege tahu," tambah Tao dengan tarikan napas dalam.
Kris memilih diam, hanya rengkuhan lengannya yang mengerat membelenggu raga kekasihnya itu.
"Gege tahu jika Ayah Tao adalah seorang Politikus ternama, bukan? Kesibukannya dari dulu membuat ia melupakan keluarganya. Bahkan meski Ayah menikah lagi belasan tahun lalu kebiasaannya tak berubah juga. Sekarang seolah terasa hanya tinggal kami bertiga. Han gege begitu menyanyangi kami, daripada memikirkan apa yang akan terjadi pada karir ayah nanti, aku justru tidak mau jika Han gege kecewa saat tahu Lay gege telah… ughh…" Tao tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Lidahnya terasa begitu kelu hanya dengan membayangkan paras kakak tertua dengan gurat kecewa yang tampak jelas pada kedua matanya.
"Gege tidak akan pernah meninggalkanmu, Tao. Kau masih memiliki gege. Apapun yang terjadi nanti ingatlah satu hal, hanya kau yang gege cintai, kau hidup gege, sekarang dan selamanya…"
Tao seketika itu mengangkat wajahnya, mendongak menatap sang kekasih yang tak mengubah posisi seperti sebelumnya. Sedikit tak mengerti apa hubungan kalimat itu dari cerita yang baru saja ia bagi. Sampai ia mengaitkannya satu-persatu, hingga ia menyadari apa makna yang tertangkap pemikirannya kala itu.
"Kita akan melewatinya bersama-sama, gege benar." Tao berkata dengan lengkungan indah pada garis bibirnya. Seolah beban yang terasa menguap begitu saja. Kris memang selalu dapat menenangkannya. Satu hal yang membuat Tao sadar benar, apa arti keberadaan pemuda ini.
Meski ada hal lainnya yang tidak Tao pahami, tentang apa yang tak terbaca, satu kalimat terakhir dari apa yang didengarnya.
.
.
-ZF-
.
.
Hari kembali berganti. Semua kembali seolah tak ada satupun yang terjadi. Baik Lay maupun Kris kembali pada kesehariannya sebagai seorang mahasiswa, meski Tao begitu protektif pada janin dalam kandungan kakaknya. Pemuda manis itu tak lagi mempertanyakan siapa yang seharusnya bertanggung jawab pada keadaan yang membelit kakaknya, karena Tao telah berjanji dengan sepenuh hati, apapun yang terjadi nanti dia tak akan meninggalkan sisi Lay yang begitu ia sayangi.
Kini saat akhir pekan datang. Tao justru melewatinya dalam kesendirian. Ia ditinggal sendiri menghuni rumah megah ini. Sejak petang merengkuh malam, Tao jugalah yang membuka pintu untuk mengantar kekasihnya itu. Kris sempat memeluknya, lama… seolah ia begitu tak tega meninggalkannya. Pemuda itu mungkin tak pernah sadar, jika disuatu tempat sosok Lay tengah menunggu keberadaannya.
Menghela napas dalam, Tao coba membuang sepi yang menyerangnya saat ini. Sejujurnya Tao benci saat ia harus sendiri. Ia mengira kedatangan sang kakak akan menepis kesunyian pabila Kris terpaksa meninggalkannya. Tapi nyatanya kedua orang itu sama sibuknya.
"Lebih baik aku menyiapkan makan malam saja," gumam Tao dengan senyum lebar. Berharap apa yang dilakukannya sanggup menepis sepi yang melingkupi.
Pemuda tujuh belas tahun itu mulai sibuk di dalam dapur. Tao yang tak terbiasa cukup kesulitan dibuatnya. Kris tak pernah sekalipun menyuruh kekasihnya itu menggunakan dapur seorang diri. Ia takut Tao terluka, satu alasan yang membuat Tao hanya bertugas menyeduh kopi untuknya.
"Seharusnya aku sudah menguasai dapur sekarang. Bagaimana nanti jika aku sudah menikah dengan Kris gege. Apa aku harus menunggu suamiku yang menyiapkan makanan kami? Uuh, Kris gege keterlaluan."
Tao kembali bergumam dengan wajah masam. Sampai ia teringat dengan apa yang baru saja dipikirkannya. Bocah itu terdiam seketika. Tiga detik selanjutnya paras manis itu memerah begitu saja.
"Apa yang baru saja aku katakan…"
Tao menggeleng dengan wajah merona. Ia sama sekali melupakan sedang apa dirinya saat ini. Hingga suara benturan memecah sunyi. Menyusul pekikan yang menghempas rapatnya udara disekitarnya.
.
.
"Aku masuk dulu. Tunggulah dua puluh menit setelah itu. Aku tak mau Tao curiga jika dia melihat kita pulang bersama," kata Kris tanpa menatap sosok disampingnya. Ia berucap dengan begitu datar. Seolah tak mau peduli jika apa yang dilakukannya telah melukai hati pemuda berdimple ini.
Lay yang menerima perintah itu hanya menganggukkan kepala. Ia pandang punggung Kris yang berjalan menjauh dengan tatapan penuh luka. Pelan, Lay mengusap perutnya, bergumam samar dengan bibir bergetar, "Ayahmu masih belum bisa menerima kita, Baby."
Sesaat sebelum membuka pintu utama itu Kris terdiam. Ia usap wajahnya dengan gerakan kasar. Merasa begitu hina dengan apa yang coba ditutupinya. Menghembuskan napas panjang, gerakan jemari pada kenop pintu itu terhenti, tepat saat bunyi hantaman keras disertai pekikan yang menyusul setelahnya menyentak raga Kris seketika itu juga.
"Astaga Tao!" pekik Kris kala tiba dimana sumber gaduh itu bersuara. Pemuda itu terpaku dengan hati terluka. Tanpa menunggu lama membawa diri menghampiri si pemilik hati.
"Kris ge… kapan Kris ge pulang?"
"Kita bahas itu nanti. Kita obati dulu lukamu."
Dengan hati-hati Kris merengkuh tubuh Tao dalam gendongannya. Mendudukkan pemuda yang begitu dicintainya itu pada kursi kayu yang biasa mereka gunakan makan bersama. Tao memilih bungkam melihat gerak cepat Kris yang tengah mengobrak-abrik kotak obat tak jauh dari posisi dia saat ini.
Tak butuh waktu lama hingga Kris kembali padanya.
"Aku tidak apa-apa ge," Tao berkata saat dengan jelas ia melihat kilat kekhawatiran pada mata kekasihnya.
"Kau terluka, Tao. Bagaimana kau bisa melukai dirimu seperti ini?"
"Maaf…" gumam Tao lirih. Ia tundukkan kepalanya. Merasa begitu tak berguna meski ia setengah mati mencoba membuat Kris bahagia. "aku ingin menyiapkan makan malam. Tapi malah merusaknya begitu saja. Aku memang ceroboh dan tidak berguna. Maafkan aku, Ge…"
Kris yang mendengar rentetan kata itu berkaca-kaca. Demi apapun yang ia miliki, Tao tak pantas mengemis maaf pada pengecut macam dirinya. Kini Krislah yang bungkam, dengan jemari yang sibuk pada lilitan kassa yang tengah dilakukannya.
Melihat tak ada reaksi pada pemuda yang menunduk dihadapannya membuat Tao kembali memanggil namanya.
"Kris gege…"
Meski Kris lagi-lagi tak membalas tutur kata yang ia dengungkan.
"Kris gege marah?" sekali lagi Tao mencoba membuat Kris kembali memandang wajahnya. Tao takut Kris kecewa. Tao tak mau Kris mendiamkannya begitu saja.
"Maafkan Tao, Ge…"
Entah apa sebabnya, Kris justru menggelengkan kepala. Dengan teramat hati-hati ia bawa telapak tangan Tao yang terluka mendekati bibirnya. Disana, tepat pada luka yang tertutupi kassa lembut itu Kris jatuhkan satu kecupan penuh cinta. Lama, seakan penguasa jiwa sengaja menghentikan waktu untuk keduanya.
"Kau tidak salah, Baby. Gegelah yang begitu bodoh meninggalkanmu sendirian seperti ini." Kris berkata masih tanpa memandangnya. Mengingat bagaimana ia kembali menambah satu daftar dusta, kala bibir itu dengan keji merangkai kebohongan hanya untuk menemani Lay mendapatkan makanan yang tengah diinginkannya. Pemuda tampan itu tak sanggup melihat wajah muram sang kekasih yang serasa mencambuki tubuhnya.
"Maafkan gege…"
Dengan satu tangannya yang bebas Tao membawa paras Kris guna balas menatap matanya. Melalui iris hitam itu Tao melihatnya, sedalam apa rasa takut si penoreh suka cita yang kerap menyapa dunianya.
"Gege tidak bersalah." Tao mencoba menenangkan.
"Tidak. Gege bersalah. Sangat bersalah..."
Kris menggumamkan hal itu tak hanya satu kali. Dia berkata tanpa memutus sentuhan bibirnya pada jemari yang tengah ia genggam saat ini. Kris tahu Tao yang sangat dicintainya itu tidak mengerti, mengenai apa yang sesungguhnya terjadi, dan apa yang tersembunyi begitu rapi.
Kris pernah bersumpah pada dirinya sendiri, apapun akan dilakukannya selama ia dapat membuat Tao bahagia. Dan kini, takdir menjebak Kris pada apa yang tak pernah terpikir olehnya. Banyak hal berkecamuk dalam kepala, bagaimana jika Tao tahu siapa ayah dari janin Lay, sedalam apa luka yang akan Kris torehkan pada bocah polos macam kekasihnya?
Membayangkan hal itu serasa menggoreskan belati pada urat nadi.
Dilain sisi, dibalik apa yang Lay lihat saat ini, udara yang berhembus disekitarnya seolah menamparnya begitu saja. Alam seakan turut berbisik padanya, bahwa saat Kris berkata jika Tao adalah hidupnya, itu bukanlah bualan semata.
Ini pertama kali bagi Lay melihat cinta seorang pria pada sosok yang dipujanya. Ini pertama kali bagi Lay bertemu sosok semacam itu. Dibanding Tao yang sangat Kris cintai, jauh dalam hati Lay ingin berhenti. Tak lagi mengganggu kebersamaan dua orang itu, tak lagi menjadi benalu pada hubungan sempurna dua orang dihadapannya.
Tapi… apa yang ada dalam perutnya tak dapat membuat Lay berhenti begitu saja. Biarlah dia jadi yang kedua. Biarlah dia meyimpan rapi kebusukan ini, asal Kris peduli pada kondisi darah dagingnya. Dan memberi ruang baginya, mendapatkan perhatian dari raga pemuda itu, meski itu hanya bayangan semu.
.
.
Jarum jam menukik tajam. Dentam kematian berdendang ditengah malam. Berulang kali memekik bak sebilah parang yang mengoyak gendang pendengaran. Hanya suara tetesan air yang menggema dalam gelapnya suasana. Menjadi satu-satunya sumber kebisingan yang menjelma bak bisikan makhluk gaib dari alam bawah sadar manusia.
Ditengah kegelisahan yang menjelma sebagai sosok pencabut nyawa, sayup-sayup terdengar tangis di ujung sana. Melodi itu menuntun langkah kaki untuk menghampiri.
Gelap yang menyelimuti terkikis cahaya dari satu ruangan dihadapannya. Seolah sinar yang tertangkap melalui celah pintu berbisik mesra, meminta padanya memutar kenop pintu, mengayunkan langkah diambang rasa ragu yang menyergap kalbu.
Dalam ruangan itu ia melihatnya, sosok dengan punggung bergetar penuh luka, membelakangi dimana ia berdiri saat ini. Rasa tak tega kembali mengawali langkah kaki, hingga tolehan kepala memperlihatkan seperti apa rupa si pemilik punggung penuh luka.
'H-Han… gege…'
Bola mata itu nyaris keluar dari sangkar. Dia… Huang Zi Tao, sang adik yang ia sayangi sepenuh hati. Meringkuk dengan luka disekujur tubuhnya. Memanggil namanya, menatapnya dengan pandangan memohon, seolah meminta dekap perlindungan pada sesuatu yang tak Hangeng paham.
"Tao-er…"
Hangeng balas memanggil namanya. Tergesa mengulurkan lengan, disaat secara bersamaan tubuh Tao kian jauh dari jangkauan. Dalam ruangan yang semula sempit ini ia terus berlari, mengejar sosok sang adik yang tak jua menghentikan isak tangisnya. Semakin Hangeng mengejarnya, semakin jauh pula jarak diantara keduanya. Tak hanya sekali pria itu memanggil namanya, melantunkan nada sumbang diambang rasa putus asa.
Pada akhirnya Tao tak terkejar. Ia menghilang begitu saja dalam kegelapan.
"Tuan… Tuan…"
Terkesiap. Kelopak mata itu terbuka kala seseorang mengguncang bahunya.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
Lamat-lamat Hangeng memandang pria paruh baya yang selalu menemani kesehariannya. Mengangguk samar, Hangeng megusap peluh yang membanjiri wajahnya. Lagi-lagi ia memimpikan ini, sosok sang adik yang begitu ia sayangi.
"Perlukah saya panggilkan tuan Heechul?" kembali sang pelayan bertanya. Ia tampak khawatir melihat paras pucat pria muda dihadapannya.
"Tidak perlu, paman Lee. Heenim juga butuh istirahat. Aku hanya terlalu lelah. Akhir bulan ini tolong kosongkan jadwalku, aku perlu menemui adikku."
Hangeng berkata sembari meninggalkan mobil yang ditumpanginya. Ia berpikir hanya butuh lebih banyak istirahat setelah tenggelam dalam rutinitas sebagai Presdir utama.
.
.
-ZF-
.
.
Rintik hujan membatasi jarak pandang. Sejak senja merambati dunia, hujan turut mengiringi langkahnya. Kini Juli nyaris terkikis, meski tebah hujan seakan tak pernah habis.
Orang lebih memilih mengurung diri dalam rumahnya, menggelung raga itu dengan selimut tebal penepis udara yang tak sedang bersahabat dengan tubuh manusia. Hal itu pula yang membuat Tao menjemput mimpi sejak petang tadi. Kini saat ia kembali membuka mata, terjaga dari tidurnya, ruangan yang menjadi kamar pribadinya terasa begitu berbeda. Mungkin Kris yang telah mematikan lampu, satu kebiasaan yang kerap dilakukan pemuda rupawan itu.
Dari sudut mata itu Tao baru menyadari, bahwa jarum jam nyaris menunjukkan diri hari. Hingga saat ini hujan yang sedari tadi menggiringnya menjemput mimpi masih juga terjadi.
Bunyi pintu terbuka membuat ia mengalihkan perhatiannya. Bukan pada pintu kayu kamarnya itu. Debam samar yang tertangkap indera pendengarannya membuat Tao yakin bahwa itu berasal dari pintu utama. Ini tengah malam, Seoul juga tengah diguyur hujan, siapa yang mau menembus udara sedingin ini? Pikirnya dalam hati.
"Maaf, Kris. Ini tengah malam dan lagi-lagi aku merepotkanmu, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan apa yang hatiku inginkan. Kurasa ini karena janin yang ada dalam perutku."
Ditengah temaram lampu Tao mendengar sayup suara itu. Kalimat sang kakak menumbuhkan benih kekhawatiran yang memaksa Tao turun dari ranjang. Menyusuri ubin tanpa nyala lampu yang dapat membantu penglihatan itu. Jadi Kris yang baru saja keluar atas permintaan kakaknya? Meminta apalagi namja manis berdimple ini? aah… orang hamil memang diluar kendali. Tao terkekeh geli. Lagi-lagi membayangkan bagaimana repotnya saat Kris nanti menyandang gelar sebagai seorang suami.
"Ini bukan apa-apa…"
Tao mendengar Kris menyahut pada kakaknya. Diam-diam membuat Tao melengkungkan garis bibirnya. Kris memang dapat diandalkan.
"Bukankah aku harus mengambil tanggung jawab pada kondisimu saat ini?"
Sampai tambahan kalimat pemuda rupawan itu menghentikan ia memutar kenop pintu. Tao memiringkan kepalanya, memikirkan kalimat ambigu yang meluncur dari bibir kekasihnya itu.
"Yahh… bagaimanapun juga kau adalah ayahnya."
Hingga apa yang Lay katakan setelahnya membuat jantung Tao berhenti berdetak begitu saja.
.
.
TBC!
.
.
Ini Angst! Sekali lagi Angst! Genrenya jelas bangetkan diatas. Memang M-Preg, tapi Zhii sengaja nggak nulis M-preg karena nantinya… well, itu rahasia/digebukin/. Tapi se-Angst apapun FF Zhii ga akan ada yang namanya crack pairing.
Maunya agak dipanjangin tapi ini udah 3000 kata lebih. Belum balasan review juga. Terpaksa Klimaksnya nunggu chapter depan T.T
Zhii dari dulu berpikir seperti apapun isi cerita terserah si pembuat cerita itu sendiri. Bagaimanapun juga plot sudah disusun dari awal, dan ending FF ini sebagian bahkan sudah jadi bahkan sebelum pengetikan chapter 1, karena itulah yang nggak bisa baca FF Angst tolong jangan diterusin.
.
.
Aldiz ksh : hu'um… ini cuma fiktif yang lahir dari pikiran ngawur Zhii, jadi jangan benci Lay ge. Nanti fans Lay ge nyalahin cerita Zhii. Kkk… thanks buat reviewnya^^
Junghyema : ini Angst. Namanya saja Angst masa happy ending. Ditunggu saja ya nanti endingnya kayak gimana, terimakasih^^
O'Rei'nji Fishcake : thank you, ini hanya karya si amatir. Hehehe… pasangan Lay ge ya, hmm… gak terpikirkan. Soalnya kepengen cepet tamat sih/plak/. Baca lagi ya… thanks^^
Time To Argha : iya iya diupdate! Tapi maret ini gue kayak dibanting-banting dah, Gha. Huhuhu…
Christal Alice : menurutku justru Krisnya yang kasihan, tekanan batin mulu. Kkk… thanks buat reviewnya^^
Datekazukio : thanks udah ninggalin jejak.
Huang Gi Tao : ehhh… padahal menurut Zhii yang paling sakit disini Kris ge lho… thank you^^
Aulchan : chap dua kemaren emang fokus ke KrisLay sih, maap yak… thank you^^
Sycrap : apaapaapaapaapaapa! Alurnya kebaca/Zhii nyemil kibod/. Ditunggu terus ya… makasih^^
TTy T T : Terimakasih, ditunggu terus ya, thanks udah ninggalin jejak^^
Coffe latte : bahasa Zhii pasti ada jarumnya makanya nusuk-nusuk, kkkk. Thanks udah ninggalin jejak, baca lagi ya^^
Couphie : takut baca tapi dibaca juga? Nanti kalo tahu endingnya jangan jadi antinya Zhii ya, kkk. Thank you^^
Uchiha Tachi'4'Sora : aduh gimana ya, ini Angst sih. Jadi ga happy ending. Jangan diterusin ya kalau kepikiran, makasih buat reviewnya^^
Dia huang91 : emang setipe ama Saranghae gege tapi endingnya ga akan sama. Padahal menurut Zhii nih ya, yang paling sakit disini tuh Kris gege. Dia cinta amati ama Tao tapi kepaksa nerima takdir ini. Cuma ya itu, si Tao bakalan blar blar blar kalo udah tahu. Oke… ditunggu terus ya, thank you^^
Ressijewell : emang jadinya rumit, tapi cerita ini ga akan sepanjang sinetron kok. Semoga ga bosen ya, makasih^^
Prince Wu-Fan : fufufufufuuu… tenang saja Lay bakal kena batunya nanti, aah… angel Suho? Disekuel mungkin? /memangnya ada?/ Makasih udah ninggalin jejak^^
Peachpetals : Hoho… ditunggu endingnya ya biar tahu nanti kayak gimana. Tapi jangan gebukin Zhii sajalah pokoknya. Makasih^^
Mynamedhiendha : ini chapter tiganya, thanks udah ninggalin jejak^^
NaughtyTAO : masalahnyaSuho ga ada disini, kkk… ditunggu terus ya. Makasih^^
Dame dame no ko dame ku chan : thanks udah di like. Thanks juga udah ninggalin jejak^^
PutchanC : Ini lanjutannya. Makasih buat reviewnya^^
Titan18 : sayangnya Tao bakal sakit hati, tapi menurut Zhii yang paling sakit disini tuh Kris gege. Thanks udah ninggalin jejak^^
TaoKYU : wkwkwkwkwk… Zhii suka banget sih ama sesuatu yang detail, gak fashion gak fanfic kalo ga detail kayaknya bukan Zhii banget. Thanks udah ninggalin jejak^^
Versaillesmaiden : ini Tao udah dibikin tahu, sayangnya kepotong biar ga kepanjangan. Makasih udah ninggalin jejak^^
Fitriws21 : ini lanjutannya, thanks udah ninggalin jejak^^
Piccolaxy9 : ini chapter selanjutnya, mian lama. Thanks udah ninggalin jejak^^
L-Uira : loncat dari atas jembatan? Wahh… idenya bagus juga/wkwkwkwk/. Bercanda sih, Zhii mah pengen akhir yang agak beda di FF ini. Ditunggu ya, thanks^^
Fallforhaehyuk : iya, pasti terpukul banget. Makasih udah ninggalin jejak^^
Riszaaa : hai Riszaaa, lama banget yak apdetnya. Kkkk… ini chapter tiganya, makasih udah ninggalin jejak^^
Xyln : jangan diambil hati ya. Ini lanjutannya, thanks udah ninggalin jejak^^
DOUBLE-YU : Tao pasti bakal tahu, Zhii ga mau buang-buang waktu sih. Biar ga kaya sinetron, hehehe… thanks udah ninggalin jejak^^
Meyy-chaan : duhh… jangan kesel ama Lay ge. Dia itu bukan jahat, tapi tersesat. Ntar kalo semua udah kebongkar chingu bakal tahu kenapa Lay ge sampe kaya gitu. Ditunggu terus yak, thank you^^
Vherakim : nanti dia bakal nyesel kok. Thanks udah ninggalin jejak^^
Milky Andromeda : ini chapter selanjutnya, thank you^^
Khasabat04 : ini chapter selanjutnya, thank you^^
Kirei Thelittlethieves : ini chapter tiganya, makasih udah ninggalin jejak^^
Raetaoris : yang ini beneran gak bisa. Zhii justru sebenernya niat apdet pertengahan bulan, soalnya ada ujian minggu ini. Tapi ga tega FF udah jadi dari beberapa waktu lalu. Apalagi PM yang masuk pada nagih, hehehe. Thanks buat reviewnya^^
.
Makasih juga buat yang udah ngefave FF abal ini, silent readers yang nambah daftar view FF Zhii/deepbow/
See ya^^
