LESSON II : I JUST WANT YOU TO KNOW

Disclaimer: Gintama isn't mine, Its Sorachi-Sensei's masterpiece.

Warning: Spoiler Alert! Cerita ini belum lengkap kalo ente belum nonton Gintama Movie 2; Yorozuya Ei En Nare. Jadi nonton dulu baru baca lol.

.

.

.

Kemeriahan suasana dalam suatu tempat didalam kota penuh dosa, Kabukicho mendadak mencekam... Mulanya semua orang yang berada dibawah atap sebuah kedai bernama Snack Otose tersebut sudah lupa menginjak daratan, semua pengunjung hampir tenggelam dalam lautan alkoholik yang didominasi sake dan dom-peri. Hingga datanglah seorang lelaki dengan hakama berwarna gelap yang memulai keributan disana.

"Hmm, tak kusangka rupanya kau disini sekarang... China..." Sapa sang lelaki begitu memasuki kedai tersebut dengan tatapan yang sinis.

Nampak acuh tak acuh, wanita yang disebut hanya membawakan baki ketempat duduk para ossan yang berada diujung kedai. Tak ada niat untuk menatap sumber suara yang sudah dia kenali sejak lama tersebut, dia tahu lelaki itu hanya akan memancing emosinya belaka jika dia membalas sapaan tidak sopan tersebut.

Okita Sougo, lelaki yang merupakan kapten Divisi satu Shinsengumi ini selalu saja datang dalam kondisi yang tidak tepat. Ya kalian akan tahu pada saatnya mengapa... Dia hanya duduk tanpa suara di bar-stand kedai dan memesan satu gelas minuman keras untuk menghangatkan tubuhnya sesaat setelah hujan deras melanda Kabukicho beberapa saat yang lalu. Awalnya, dia tidak ingin berkunjung kekedai ini hanya saja hujan memaksanya untuk berteduh dan mencari sesuatu agar tubuhnya tidak terkena hypotermia.

Musim hujan memang selalu membawa beberapa kemungkinan yang selalu tidak terduga. Sudah sebulan terakhir ini Sougo tidak menemukan keberadaan partnernya yang biasa berkeliaran dan berakhir merusak taman Kabukicho. Sebenarnya dia heran, apakah gadis itu masih depresi setelah kehilangan Walinya beberapa bulan yang lalu ataukah sudah pergi bersama ayahnya berkelana keluar angkasa. Hanya saja pride do-S yang dia miliki tidak mau mengikuti rasa keingintahuannya tersebut, itu hanya akan membuat harga dirinya jatuh seperti komandan stalker akut Shinsengumi.

Entah mengapa pandangannya tak mampu lepas dari gadis yang hari itu tidak memakai cepolan dikedua sisi kepala, rambutnya terurai menutupi pundak. Entah mengapa iris merah itu terpaku dengan perubahan minor pada rivalnya. Tingginya sedikit bertambah, senyum konyolnya sudah tiada, berganti dengan senyuman palsu yang hanya dikhususkan untuk para pelanggan paruh baya yang ada disana, suara cemprengnya pun semakin berkurang, dan juga apa itu... Dia memakai make-up? Mengapa... dia terlihat begitu dewasa... Tapi... Mengapa dia tidak memperhatikanku... Mengapa? Rasa sakit apa ini...

Dia meminum segelas Dom-peri yang sudah dia putar terus menerus ditangannya sekitar 10 menit yang lalu, tatapan sadis khas miliknya terus menempel pada tubuh gadis yang baru tumbuh tersebut, semua detail pada tubuh gadis china itu terus dia perhatikan dalam diam. Otose yang berada di bar merasa risih dengan tatapan Sougo terhadap karyawan barunya tersebut dan mulai angkat suara.

"Anta... Jangan memulai sesuatu yang bisa menimbulkan keributan disini, anak itu... Moodnya sedang tidak baik..."

"Hah?" Sougo tertegun dengan perkataan Otose lalu kembali meng-observasi Kagura yang tengah merapikan sisa-sisa pelanggan yang meninggalkan meja. Moodnya sedang tidak baik? Karena apa? Dirinya belum memulai hal apapun untuk menjahili si gadis pelayan itu, segala kemungkinan dia pikir untuk menerka apa yang terjadi pada gadis berusia hampir 15 tahun tersebut... Hingga Kagura membawa beberapa gelas menuju westafel berjarak sekitar 2-3 meter dari Sougo.

"China, masaka... Kau sedang PM-S"... Craaaaaanggg... Suara gelas yang digenggam oleh Kagura terdengar. Dia mencoba menahan malu bercampur emosi terhadap perkataan Sougo hingga genggamannya mengeras dengan sendirinya, tenaga Yato itu membuat gelas kaca bak plastik yang mudah pecah. Menyembunyikan wajah merahnya dia berkata sangat pelan...

"Ma-maaf nek, tanganku licin... Akan segera kubersihkan gelasnya..." Kagura segera mengambil sapu dan sekop, Otose hanya diam sembari menghisap rokoknya. Suasana hening dan semua pandangan yang tertuju pada Kagura berangsur-angsur kembali menjelma menjadi keramaian para pelanggan yang sedang berpesta pora. Kagura membersihkan semua tanpa menatap sedikitpun pada arah Sougo lalu bergegas menuju Catherine yang sudah menyiapkan beberapa makanan untuk diantar pada pelanggan.

Sougo yang melihat tingkahnya itu tetap tidak berekspresi sedikitpun, walau pancingannya sudah strike entah mengapa hatinya tidak puas. Dia masih tidak memandangku pikirnya. Saat Kagura mengantar pesanan pada pelanggan paruh baya dan beberapa amanto yang terhitung baru tiba di Snack Otose tersebut, sebuah konversasi membuat telinga Sougo makin panas.

"Ne, ne... Kagura-cwan... Apa habis kerja kau sibuk??? Kau bilang akan menemani om kenchan jika om pesan diatas ¥100.000 beberapa hari yang lalu..."

Yang membuat telinga Sougo panas bukanlah pertanyaan itu, tetapi jawaban yang terlontar dari mulut gadis berambut Vermilion tersebut.

"Ah~ Occhan bisa ajaah... itukan jika kau menghabiskan ¥100.000 dalam satu malam, tidak dihitung jika kau menghabiskan pada hari kedua, hehehe..."

Nani the fuck??? Apa-apaan jawabannya itu... Apa yang telah dia lakukan, dia tersenyum seakan itu bukan apa-apa? Apa yang terjadi? Shit, aku tidak mengerti ini semua, mengapa dadaku terasa sesak! Pikir Sougo. Dalam gundah, matanya terlepas dari Kagura, mengapa rasanya dia tak sanggup untuk menatap gadis itu. Dia masih dibawah umur kan? Lanjut benaknya... Otose menyadari perubahan prilaku Sougo dan terus menatap lelaki yang tertunduk memandangi gelas kosongnya itu, hingga...

"~kyaaa... hahahaha..."

"Baiklah Kagura-cwaaan... Bagaimana jika kau menemani kami dimalam yang sangat panjang ini, kali ini kita akan menghabiskan ¥100.000 dalam satu malam, tidak ¥1.000.000 pun tidak masalah... Huahahahaha!" Seraya menarik Kagura untuk duduk disebelahnya. Lelaki itu dikenal baik sebagai pemilik tanah yang sangat banyak di Edo, tak heran jika dia mampu berfoya-foya dan dianggap mampu membeli segalanya disamping dia bergenre ugly old-man.

Kagura yang jatuh terduduk disamping pria paruh baya itu hanya tertawa, sembari meminum koronamin-C yang sudah dituangkan Madao. Kebetulan Hasegawa ditraktir oleh bos besar ini malam itu, dia ikut tertawa dan tenggelam dalam minuman keras. Sesi tertawa bersama bos besar Edo itu terhenti ketika sebuah pedang telah keluar dari sebuah sarung dan mengarah pada Ugly-Ossan tersebut.

Serentak semua mata tertuju pada lelaki bersurai pasir itu tak terkecuali Kagura. Gelak keriuhan Snack Otose langsung teredam dalam keheningan. Otose pun tidak sadar dengan keberadaan Sougo karena saking cepatnya dia bergerak.

"A-apaa yang ka-kau lakukan, temee..." Ucap juragan tanah sangat panik dan berkeringat dingin.

"Hei kau, hentikan..." Otose menapali tindakan Sougo sembari memukul meja.

"Aku tak pernah ingat kalau kau itu adalah wanita murahan, china..."

"Hentikan itu, sadis..." jawab Kagura menundukkan pandangannya.

"Aku tak menyangka kehidupanmu sudah sejatuh ini... Kau... "

"A-apa yang kau katakan, samurai... Si-siapa kau!" Tambah sang juragan tanah dalam kepanikannya.

"Kau tidak punya hak menyentuhnya..." sahut Sougo dengan amarah dalam nadanya.

"Hentikan..." Kagura kembali bergumam

"Dia ini adalah barang milikku..." semua terkejut dengan pernyataan Sougo. Termasuk Otose, Catherine dan juga Madao yang mengeriput ketakutan dipojokan sofa karena dia tahu siapa yg menghunuskan pedang tersebut.

"Cukup..."

"Hah? Kau tidak dengar kata-kataku, china? Hanya aku yang boleh mempermainkanmu... Kau adalah properti pribadi seorang Okita Sougo..." Mata merahnya terbakar dan membara... Pandangannya gelap, dan menjadi haus darah. Berkat kata-kata peng-klaim-an yang dia ucapkan dihadapan semua orang, gelisah dan beban dalam hatinya sedikit berkurang. Ternyata dia sudah menemukan apakah rasa sakit yang dia pendam saat melihat gadis Yato tersebut.

Dia merasa sakit saat Kagura tidak memperhatikannya, dia merasa sakit saat senyum manis gadis itu menghilang entah kemana, rasa sakit saat dia mencoba mengalihkan pandangan sang gadis padanya namun tak berhasil sedikitpun. Dia hanya... dia hanya ingin Kagura memperhatikannya... Seluruh jiwa yang dia alihkan dalam gengaman katana-nya terbakar karena satu hal, api kecemburuan yang tak lain dia sendiripun tidak ingin mengatakannya. Ah, betapa buruknya aku dalam mengutarakan keinginanku pikirnya.

Pikiran kosong itu teralih saat pedang yang dia arahkan tiba-tiba bergetar, alangkah terkejutnya Sougo saat melihat katana itu dalam genggaman Kagura. Craaaaannnk... Mata pedang tersebut lalu pecah berkeping-keping, belum bangkit dari keterkejutannya, sebuah pukulan melayang kearah wajah ikkemen berambut warna pasir tersebut. Yup, pukulan dari seseorang yang sebenarnya dia khawatirkan. Kagura memukul Sougo sekuat tenaga hingga dia terlempar menerobos keluar dari pintu Snack Otose dan membuatnya terguyur deras hujan langit malam Kabukicho.

Semua orang terdiam, terkejut dan shock. Tak ada satupun yang berani mengeluarkan kata-kata. Puncak emosi Kagura sudah mencapai titik dimana dia tak bisa menahannya lagi, dengan tangan yang berbalut darah akibat menghancurkan katana tadi, Kagura berjalan kedepan pintu, kali ini tatapanya berubah, sebuah tatapan dingin kearah lelaki pengganggu hidupnya. Suaranyapun meninggi karena emosi yang dia tahan sudah meledak dan mencapai tahap bahaya.

"Temee... Sejak kapan aku ini barang milikmu, hah!"

Sougo yang diguyur hujan berusaha bangkit menggunakan sarung pedangnya. Mengusap darah yang keluar dari bibir akibat hantaman luar biasa dari sang gadis lalu meludahkan darah yang ada dimulutnya. Masih terdiam, Kagura melanjutkan kata-katanya.

"Kau hanya lelaki sampah yang selalu mengganggu hidupku..."

(Tidak...)

"Kau bahkan tidak menghiburku saat Gin-chan menghilang dan malah menjelekkannya..."

(Tidak, aku hanya ingin mendapatkan perhatianmu...)

"Kemana dirimu, kau hanya bisa bersantai-santai dan tidak berusaha mencari Gin-chan bahkan setelah kami melaporkannya pada Shinsengumi."

(Ugh...)

"Dan kau bilang aku milikmu! Tch, jangan bercanda! Aku bahkan tak sudi untuk bertemu denganmu lagi, lelaki bajingan!"

Sakit, semua perkataan yang terlempar dari mulut Kagura itu benar-benar menusuk langsung dalam benak seorang do-S sejati. Apa-apaan ini, aku bahkan tidak pernah merasa sesakit ini selain kehilangan Ane-ue... Ternyata aku tidak ingin dia temui lagi, ah... Ini semua memang salahku, inilah hukumanku akibat sifat sadis yang kugunakan hanya untuk harga diri dan menutupi kelemahan diriku ini. Ya, mau bagaimana lagi... Aku sudah ditolak dan diusir dari kehidupannya.

Otose lalu berjalan dan merangkul pundak Kagura, mengeluarkan kata-kata pembelaannya terhadap Kagura.

"Hentikan semua ini, kau Okita Sougo, aku sudah bilang untuk tidak menampakkan wajahmu lagi dikedaiku jika hanya ingin membuat masalah. Kau tidak berhak ikut campur dalam kehidupan Kagura. Dia hanya berusaha menjadi profesional dalam pelayanan, aku sendiripun takkan rela jika dia harus menjual tubuhnya. Setidaknya kami masih tahu batasan! Tidak sepertimu... Orang luar yang sok ingin menjadi pahlawan kesiangan, dasar pecundang."

Sougo hanya terdiam antara menahan malu, sakit dan juga rasa cemburunya. Tapi dia sadar kalau semua itu adalah salahnya, bahkan Otose bisa membaca pikirannya kalau dia tidak rela melihat Kagura bertingkah seperti gadis prostitusi. Dibawah derasnya hujan, saat dia berhasil berdiri tegak dengan kedua kaki, walaupun poni rambut masih menutupi kedua matanya. Dia menyarungkan kembali pedang rusaknya lalu berkata dengan suara yang cukup didengar sampai pada Kagura.

"Jika kau sudah merasa seperti itu, aku tidak keberatan menghilang dari hidupmu, kau... Hanyalah seorang mangsa yang tidak berharga lagi bagiku."

Sougo mengatakan dengan nada datar seraya berbalik dan pergi meninggalkan Kagura yang samar-samar terlihat meneteskan air mata, walau sebenarnya itu sangat sakit baginya, dia merasa perasaannya tertolak. Rasa sakit yang hampir setara seperti saat kehilangan Mitsuba. Diapun tahu bahwa air mata itu juga bukan untuk menangisi kepergiannya dibalik dingin dan kelamnya malam, hanya sebuah air mata yang berisi rasa sakit hati sang Gadis akibat sifat tak berperasaannya. Langkahnya makin menjauh, dia tidak peduli dengan apa yang terjadi setelahnya di Kedai Snack Otose, dia hanya berjalan gontai bermandikan dinginnya air hujan, menengadah kelangit sambil mengelus pipi kanannya yang membengkak...

"Ittai naa... Aku... benci diriku sendiri..." ujarnya pada langit, menyalahkan dirinya lalu menghilang dalam gelapnya malam. Tak ada satupun yang mengira bahwa itu adalah pertemuan terakhir mereka saat itu, hingga waktu yang sangat lama untuk bertemu lagi.

.

.

.

[Sebulan setelahnya, Empat bulan setelah hilangnya Gintoki]

Sebuah pandemik menyerang Edo, wabah ini menyebar secara perlahan menjangkiti setiap penduduk Edo. Virus ini menyerang daya tahan tubuh seseorang dan mempercepat penuaan sel-sel tubuh. Akibatnya orang-orang akan mengalami penuaan sel lebih cepat dan mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit. Karena gejala paling nampak adalah dengan berubahnya rambut seseorang menjadi berwarna putih, maka penyakit ini disebut sebagai wabah putih.

Diantara carut marut dan kepanikan massal yang menyerang Edo akibat wabah ini, terjadilah insiden Colonel Sanders, hal ini mengakibatkan Kondo Isao, Katsura Kotaro dan Hiraga Gengai ditangkap. Shinsengumi dibubarkan karena dianggap sudah berkhianat terhadap Bakufu. Hijikata, Sougo, Shimaru dan banyak anggota Shinsengumi menghilang seakan ditelan bumi. Elizabeth selaku partner abadi Katsura sempat mengadakan perlawanan, namun menurut isu yang beredar, Joi Katsura sudah dikalahkan dan dibersihkan (dibunuh) oleh assasin yang disewa oleh Bakufu.

Bubarnya Shinsengumi berarti menutup kasus karena pencarian atas hilangnya Gintoki tak akan kunjung selesai. Akhirnya Gintoki dinyatakan meninggal karena terjangkit wabah putih dan Otose mengadakan formalitas pemakaman untuknya. Walau hanya pemakaman kosong, namun banyak yang menghadiri pemakaman Gintoki. Otae, Kyubei, Sacchan yang menangis meronta tidak terima kalau Gintoki telah wafat dan tentunya Tsukuyo serta Hinowa yang datang jauh-jauh dari Yoshiwara hanya untuk menghadiri pemakaman sang penyelamat Yoshiwara.

Diantara kerumunan yang sedang berduka cita, nampaklah dua anggota Yorozuya yang hanya tertegun dengan pandangan kosong pada nisan pembimbing mereka di Yorozuya, Shinpachi dan Kagura. Walau itu adalah ceremonial terakhir untuk bos mereka, perbedaan ideologi dan jalan berpikir membuat mereka nampak berjauhan. Shinpachi disisi Otae, kakaknya, sedangkan Kagura lebih sudi untuk merangkul dan menangis dilengan Tsukuyo dibanding untuk dekat dengan Shinpachi.

Kesedihan, Lara, Kepedihan, berakhir pada satu kalimat perpisahan didepan sebuah nisan.

"Selamat Jalan Samurai Terakhir, Sakata Gintoki."

-LESSON II END-

To be Continue...

.

.

.

Author Note:

Hi, minna-san...

I'm back with a brand new chapter! Banzaaai!

Mungkin mohon maaf jika anda benar-benar shock saat ngebaca Kagura jadi OOC, namun itu semua karena dia sedang berlatih profesional dalam bekerja. Ya ya saya tau kalau itu benar2 merusak citra seorang Kagura yang polos.

I dunno what to say, ini chapter benar2 kacau, mungkin... Saya mohon maaf, ini adalah keterbatasan imajinasi saya. So sorry karena kurangnya scene lawak dan komedi pada story saya satu ini, karena saya membuat dengan genre lebih ke drama dibanding komedi.

Di scene terakhir, itu adalah scene Movie II dimana Kondo menyamar sebagai Kolonel Sanders, trus didandani oleh Katsura dan Gengai dan berakhir dalam ledakan sebuah distrik perbelanjaan.

Yup, jadi tetap pantengin nih story ya, save ke library kalian, vote ceritanya dan share cerita ini ke teman2 kalian. Jangan sungkan untuk memberi kritik dan saran pada saya. Untuk hasil yang dapat memuaskan anda.

Arigatou Gozaimasu

~Justaway Madao