Di mata seorang Jang Wooyoung, namja bernama Nichkhun Buck Horvejkul adalah teman yang rumit. Serimut nama lengkapnya jika diucapkan oleh lidah pengucapan Busan.
Kesan pertama yang ia dapatkan saat pertama kalinya bertemu dengan namja itu adalah tampan, tentu saja. Memiliki wajah baby face bak malaikat dengan senyuman lembutnya yang tentu saja membuat setiap orang terpesona, adalah daya tarik tersendiri bagi namja yang dangat pantas mendapatkan julukan Princes Thailand tersebut. Namun, sikap yang tampak acuh memiliki nilai kurang di dalamnya. Mungkin karena dia tak begitu fasih berbahasa korea sehingga dia lebih banyak diam jika berkumpul dengan yang lain. Akan tetapi Wooyoung yakin Nichkhun adalah orang yang baik dan hangat.
Terbukti dengan perilakunya yang terkadang perhatian dan hangat terhadap Wooyoung dibalik sikap diamnya Nichkhun. Apalagi ketika Nichkhun datang bak seorang pahlawan yang menolong Wooyoung saat namja kecil itu dibully oleh beberapa fans Nichkhun, tempo hari lalu. Sebuah pelukan hangat yang diberikan Nichkhun di antara dinginnya udara pada musim dingin tersebut, sungguh membantu menghangatkan tubuh Wooyoung, sampai ke dalam relung hatinya, begitu hangat dan sangat nyaman. Dalam hati, Wooyoung pun mengakuinya, dia sudah jatuh ke dalam pesona namja Thailand tersebut.
Akan tetapi, hari pernyataan cinta yang tak pernah diduga Wooyoung tersebut, mengubah segala pandangan Wooyoung terhadap Nichkhun. Awalnya dia sangat terkejut bukan main ketika dengan lantangnya Nichkhun menerikai namanya sambil membawa rangkaian bunga saat itu. Wooyoung sempat berbalik membelakanginya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya beserta jantungnya yang berdegub kencang. Dan sebuah pelukan penuh 'cinta' dari belakang yang diberikan Nichkhun, membuat Wooyoung membeku, beserta bisikan "Saranghae" di telinganya membuat Wooyoung sempat gila dalam sesaat..
Namun, ketika tangan Nichkhun beranjak untuk meraba dada rata Wooyoung, dan ekspresi mengejutkan yang tampak di wajah namja Thailand itu, membuat Wooyoung sadar akan satu hal. Apalagi ketika dia mengingat ada Taecyeon dan Junsu yang sebelumnya sudah berdiri di hadapannya, menyatakan cinta pada Wooyoung karena mengira ia sosok yeoja. Jangan bilang Nichkhun selama ini juga mengira Wooyoung adalah yeoja, karena itu dia begitu perhatian dan baik terhadap Wooyoung.
Rasanya Wooyoung seolah terjatuh dari atas langit, dan segala pikiran baiknya mengenai sikap Nichkhun hancur berkeping-keping dalam detik itu juga. Dia begitu kesal, sangat-sangat kesal karena selama ini dia sudah dibodohi karena Nichkhun sudah memandang Wooyoung sebagai sosok yeoja, bukan Jang Wooyoung yang asli namja. Ouh, rasanya jati dirinya benar-benar diabaikan.
Mulai saat itu Wooyoung bersumpah dalam hati. Dia tidak akan kembali jatuh dalam pesona namja bodoh seperti Nichkhun, menurutnya.
Benarkah ia bisa?
My Namja is Beautiful
By Jang Aya
Romance/Drama/Humor
Disclamer: Semua anggota 2pm milik Tuhan. Dan cerita ini asli milik Ayaaaaa! Yah, buatan Aya sendiri!
Inspirasi: 2pm Drama mini Parody He Is Beautiful!
Main Pairing: Khunwoo / Khunyoung, ChanHo / ChanNuneo, TaecSu / OkKim.
Warning: BoyxBoy. Shounen-ai. Miss Typos bertebaran di mana-mana, terlalu malas untuk mengeceknya lagi *plaak!* maaf (=.=)'
Don't like? So i hope you dont read this. Oke?
.
Chapter 3:
~' Cinta yang sesungguhnya '~
~2pm~
.
Lee Junho duduk di sofa depan tv dengan sangat gelisah. Beberapa kali ia menggigit kuku ibu jarinya sambil berpikir keras. Ia tahu betul ini akan percuma saja. Bersaing dengan Nichkhun? Oh ayolah, semua orang juga sudah bisa memprediksi bagaimana akhirnya cerita ini. Tidak ada yang bisa mengalahkan pesona namja Thailand tersebut, semua orang mengakuinya.
Tadi itu dia hanya berani menggertak saja tanpa berkipir terlebih dahulu. Sekarang bingung malah melanda pikirannya. Apa yang harus dia lakukan?
Meski tadi Wooyoung sudah berteriak lantang bahwa ia membenci Nichkhun, bukan berarti kemenangan sudah berada di tangan Junho. Sampai saat ini saja, meski Wooyoung adalah roommate-nya, namja itu masih selalu menghindari Junho dan memandangnya risih. Hubungan ini pastinya akan bertambah buruk jika Nichkhun sudah benar-benar bertindak serius. Ini sangat buruk bagi Lee Junho.
"Ottoke~" gumamnya panik.
"Menyerah saja," celetuk Chansung yang sejak tadi menemaninya nonton tv –meski Junho sama sekali tidak fokus dengan acara tv– yang duduk di sampingnya, sambil mengunyah sekantong popcorn di pelukannya.
Junho dengan tidak berkeperi-maknae-annya, menimpuk kepala Chansung dengan bantal sofa. "Yach! Aku curhat padamu agar kau menyemangatiku dan memberi saran. Bukannya malah mengatakan hal yang malah membuat aku down!"
Chansung meringis, dia nyaris saja tersedak popcorn dalam tenggorokannya gara-gara pukulan Junho yang tidak main-main itu. "Aissh! Justru itu adalah saranku!" bela Chansung dengan nada ketus karena kesal. Dalam hati dia menyesali dirinya sebagai maknae besar dalam grup ini yang selalu jadi sasaran pukulan hyungdeul-nya. Nasib tidak begitu baik berpihak padanya hanya karena dia lahir 17 hari setelah Junho? Oh ayolah, dari segi penampilan saja Chansung bahkan terlihat lebih tua dari Junsu. Mengapa kenyataan mengatakan bahwa dia adalah maknae dalam grup ini? Chansung merasa bahwa Tuhan seolah mempermainkannya, sungguh.
"Terima kasih banyak Hwang Chansung-sshi. Dan dengan senang hati aku tidak akan menerima saranmu," tegas Junho sarkastik.
"Terserah!" balas Chansung tidak kalah tegas dan ketus. Ia berbalik, memutar posisi duduknya untuk membelakangi Junho di sisi sofa, menaikkan kedua kakinya untuk dilipat bersila di atas sofa, sambil memasukkan segenggam popcorn ke dalam mulut besarnya.
Apa-apaan Junho melakukan hal seperti ini padanya? Padahal niatnya tadi untuk menonton dvd yang baru saja dipinjamkan Jinwoon padanya, terpaksa harus ditunda karena kehadiran Junho yang melemas dan memintanya untuk menjadi pendengar setia masalah yang menimpa Junho, seperti biasa. Tapi Chansung sungguh menyesali apa yang ia dengar setelahnya. Karena setiap kata yang diucapkan Junho kebanyakan mencangkup Wooyoung atau pun Nickhun, yang entah kenapa membuat perut Chansung melilit tak karuan, dan juga popcorn yang ada di mulutnya pun terasa lembek dan tidak garing.
Chansung mendengar helaan nafas Junho di belakangnya. Mungkin namja sipit itu sudah menyesali perbuatannya pada Chansung yang kasar tadi.
"Channie..." panggil Junho dengan suara pelan yang terdengar lembut di telinga Chansung, mau tak mau Chansung tersenyum lebar tanpa sepengetahuan Junho. "Aku tidak mungkin menyerah begitu saja, itu bukan gayaku. Lagian aku sudah sangat menyukai Wooyoung..."
Senyuman Chansung sirna seketika. Akhir-akhirnya nama Wooyoung lagi-lagi disebut, ditambah lagi setelah panggilan kesayangan Chansung (Channie) terucap diawal. Sekali lagi Chansung merasa isi perutnya dijungkir balikan dengan hentakan keras, yang nyaris membuatnya ingin memuntahkan popcorn yang mengganjal di kerongkongannya.
Tanpa menyadari keadaan, kondisi, maupun mental yang dialami Chansung, Junho meraih bahu Chansung dan memutarnya agar matanya tak lagi bertumpu pada punggung Chansung yang sejak tadi duduk membelakanginya. Junho meraut beberapa popcorn dari dalam kantung di pelukan Chansung dan ikut memakannya.
Mata coklat Chansung otomatis mengikuti gerakan tangan Junho yang 'mencuri' snack ringannya. Dengan wajah cemberut ia menatap sadis pada mulut Junho yang mengunyah beberapa biji jagung panggang tersebut. Separuh merutuki kelakuan lancang Junho, separuh lagi merutuki nasib 'baik' popcorn tersebut yang bisa masuk ke dalam mulut Junho dan leluasa berkelana di dalam sana.
"Aissh, Chansung! Jangan menatapku sambil nglier begitu. Lihat di depanmu, aku tidak mengambil seluruh popcornmu kok," protes Junho begitu menyadari Chansung menatapnya dengan lapar.
Chansung langsung menlap sekilas dagu dan ujung bibirnya. Oh Junho, tak tahukah engkau kalau yang membuat namja tampan ala Italia ngiler itu, adalah bibir seksimu yang begitu menggiurkan, bukan popcorn bodoh itu.
"Ngomong-ngomong Junho," Chansung kembali mengambil beberapa butir popcorn, tapi kali ini hanya dengan tiga jarinya dan memakannya dengan ogah-ogahan. Sementara matanya melirik Junho dengan minat. "Ada satu hal yang menganggu pikiranku dari dulu."
"Hm? Apa?"
"Jika saja kau dan Wooyoung benar-benar... emm... maksudku..." Chansung memiringkan sedikit kepalanya sambil menerawang ke atas. Meminang, apakah sebaiknya dia katakan saja atau tidak?
"Yach! Katakan saja. Jangan membuatku penasaran," desak Junho.
Chansung menoleh dan menampilkan wajah bingungnya. "Jika kau dan Wooyoung benar-benar berhasil menjalin 'hubungan' serius. Siapa yang lebih dominan?"
Junho mengerjap. "Maksudmu, sebagai seme begitu?"
Chansung mengangguk.
Junho tersenyum lebar. "Tentu saja diriku," jawabnya sambil menepuk dadanya bangga.
Chansung menyerngit, menatap Junho dengan pandangan aneh. Sedetik kemudian ia tak bisa lagi menahan tawanya. Dan Junho merasa sangat tersinggung dengan hal itu.
"Yach! Yach! Yach! Apanya yang lucu?" protes Junho tak terima.
Chansung tak sanggup menjawab. Gelak tawanya makin membahana sampai-sampai sebutir air mata muncul di ujung kelopaknya.
Junho memukul punggung sang maknae dengan bantal, namun itu tak juga menghentikannya. Sebuah bunyi kedebum pun timbul ketika Junho menerjang Chansung saking kesalnya. Dan mereka pun terjatuh di atas karpet. Dengan Chansung yang berbaring di lantai, sementara Junho duduk di atas perut maknae sambil memukulnya dengan bantal
"Yach! Kubilang berhenti!"
"Hahahahaha!"
"Hwang Chansung!"
Tawa Chansung pun mulai memelan. Ia menatap Junho yang duduk di atasnya dengan pandangan menggemaskan seolah Junho adalah badut yang patut ditertawai.
"Tidak ada yang lucu dengan itu, dasar pabbo!" ketus Junho, merasa dirinya benar-benar dipermalukan.
Sebuah tarikan tiba-tiba yang dilakukan Chansung pada lengannya, membuat Junho mendadak terjatuh tengkurap menimpa Chansung. Untungnya dahi keduanya tak membentur dengan keras karena sebelah tangan Chansung yang satunya menahan bahu Junho untuk tidak jatuh terlalu dekat. Namun cukup membuat hidung mereka nyaris bersentuhan dengan jarak wajah yang begitu dekat.
Senyuman geli Chansung berubah jadi seringai. "Kau tahu apa yang paling lucu saat ini?"
Junho membeku. Ia tak tahu mengapa badannya terasa begitu kaku, bahkan mengangguk saja ia tak mampu. Pertama kalinya berada pada jarak sedekat ini dan melihat wajah tampan Chansung dengan sangat jelas, membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Itu karena..." Chansung memilih untuk menjawab pertanyaannya sendiri. "Ketika ada seorang bayi yang mengaku bisa menyusui ibunya. Itu adalah sesuatu yang mustahil."
Junho mengerjap. Apa hubungannya? "A-apa maksudmu, Channie?" akhirnya Junho bisa mengeluarkan suaranya, meski itu terdengar pelan dan sedikit gemetar. Oh, mengapa tenggorokannya mendadak terasa begitu kering.
Belain tangan Chansung pada pipi Junho seolah mampu menyengat Junho sesaat dan mematikan seluruh sistem sarafnya. Ia nyaris gila mendadak di tempat.
"Kau tidak pantas menjadi seorang seme, Junho-yah. Kau tahu kenapa? Karena kau terlalu imut untuk mencapai posisi itu. Terlalu cute, dan cantik."
Rona merah yang entah datang dari mana melanda seluruh wajah Junho. Ia bahkan merasa bahwa nafasnya tersendat karena wabah merona yang menghantui wajahnya begitu pekat.
"Oh My God!" seruan atau bisa dibilang pekikan dari Junsu menginsterupsi kegiatan mereka.
Junho dengan cepat segera menarik dirinya dari kenyataan yang ada. Ia berdiri begitu cepat. Sementara seringai Chansung yang berbaring di bawahnya malah semakin lebar.
"Aisssh!" Junho kembali memungut bantal sofa dan menghentakkannya dengan keras ke wajah tampan Chansung yang tampak begitu menyebalkan kali ini. "Leluconmu sama sekali tidak lucu! Dasar Beruang Pabbo!" maki Junho dan segera melenggang pergi menuju kamarnya. Masih dengan rona merah di wajahnya yang tampak sulit dihilangkan. Dia bahkan tak peduli dengan Junsu yang berdiri di sana dengan wajah shock.
Samar-samar Junho bisa mendengar percakapan Junsu dan Chansung di belakangnya.
"Chansung! Apa yang baru saja kau lakukan pada Junho?"
"Kami hanya sedang bercanda, hyung. Hanya bercanda..." jawab Chansung santai.
Junho mendesis, sebelum ia membanting pintu kamarnya tertutup.
.
~ChanHo~
~ChanNuneo~
.
Wooyoung yang sejak tadi berada dalam kamar mereka. Tersentak kaget dengan kehadiran Junho, apalagi sambil membanting pintu kamar mereka dengan begitu keras.
Wooyoung segera siap mengambil ancang-ancang jika saja Junho mendadak berbuat sesuatu terhadapnya. Tapi apa yang ia lihat selanjutnya, malah menurunkan segala kewaspadaannya.
Di sana, di pintu kamar mereka. Junho besandar sambil menerewang ke langit-langit. Rona merah di wajahnya begitu kontras dengan kulit putihnya. Sebelah tangannya memegang dadanya begitu kencang, sementara deru nafasnya terlihat tak beraturan.
Sedetik kemudian ia berlari dan melompat ke atas ranjang single-nya sendiri. Nyaris membuat Wooyoung jantungan karena gerakannya begitu cepat seperti atlit pelari.
Junho menenggelamkan dirinya di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Samar-samar Wooyoung bisa mendengar erangan kesal Junho yang terpendam oleh bantal. Dan juga gerakan Junho dalam selimut tersebut, seolah sedang menghentakkan kakinya kesal ke atas beberapa kali.
Untuk pertama kalinya Wooyoung melihat tingkah Junho seperti itu. Namja Ilshan yang biasanya suka menantang dan sok berani itu, kini malah bertingkah kekanakan di dalam selimut. Untuk namja seumuran 21 tahun seperti Junho, entah mengapa malah tampak terlalu cute dan menggemaskan. Tanpa sadar, Wooyoung tersenyum.
Ternyata namja bernama Lee Junho, bisa bertingkah menggemaskan juga.
.
~KhunWoo~
~KhunYoung~
.
Kalimat yang mengatakan bahwa kesabaran pasti ada batasnya, bukanlah sebuah omong kosong belaka. Sesabar-sabar dan setenangnya namja Thailand bernama Nichkhun Buck Horvejkul pasti juga memiliki batas kesabaran. Dan jika itu sudah terlewati, julukan Princes dalam dirinya akan sirna begitu saja.
Seperti siang ini. Dalam sebuah kesempatan ketika ia tak sengaja bertemu Wooyoung di koridor gedung JYP, ia segera mengejarnya. Meski Wooyoung sempat berbalik dan hendak melarikan diri, namun kecepatan Nichkhun mendahului. Dengan sekali tarikan pada lengan Wooyoung, ia menyeretnya ke ruangan latihan dance terdekat untuk privasi berdua.
"Lepaskan!" tentu saja, Wooyoung memberontak. Tapi yang seperti kita tahu, genggaman Nichkhun lebih kuat dan sangat sulit untuk bebas darinya.
Nichkhun baru menurutinya ketika mereka sampai pada ruangan latihan dance yang tampak kosong, kecuali kehadiran mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kita perlu bicara!" balas Nichkhun tak kalah keras.
"Aku tidak mau dengar!" Wooyoung berbalik, hendak meninggalkan ruangan itu.
Braak!
"Aksh!" Wooyoung meringis, menatap wajah Nichkhun di hadapannya yang baru saja mendorongnya ke dinding dan mengunci lengannya di kedua sisi.
"Aku tidak akan membiarkan kau pergi sebelum masalah kita benar-benar selesai," tegas Nichkhun.
"Apanya yang perlu diselesaikan lagi? Semuanya sudah jelas!"
"Belum!"
"Menurutku sudah jelas! Kau telah membohongiku!"
"Karena itu aku minta maaf!" tapi cara Nichkhun meminta maaf sepertinya sangat tidak sopan. Apa boleh buat, ia sudah habis kesabaran. "Mengapa memiliki waktu untuk bicara denganmu saja terasa begitu sulit? Jangan terus menghindariku dan membuat semua ini makin rumit, Wooyoung-ah. Kau pikir aku bisa tenang dengan perselisihan kita ini?"
Wooyoung tak menjawab, malah memalingkan wajahnya ke samping. Menghindari tatapan intimidasi Nichkhun yang lagi-lagi membuat ia tak bisa berpikir jernih. Entah sengaja atau tidak, tapi posisi Nichkhun yang berdiri di hadapannya ini terlalu dekat, membuat Wooyoung nyaris menahan nafas.
"Bagaimana pun juga kita dalam satu grup yang sama, Wooyoung-ah. Hidup dalam satu atap. Bertemu nyaris setiap saat. Kau pikir akan berapa lama lagi kau mencoba menghindariku dan bersembunyi dibalik badan member lain? Apa kau tidak merasa aneh dan makin canggung selama tiga hari ini? Memangnya kau pikir para hottest tidak menyadari tingkah anehmu saat fansigning berlangsung?"
Perkataan Nichkhun ada benarnya, tapi Wooyoung tidak mau disalahkan sepenuhnya. "Itu semua juga salahmu. Untuk apa kau malah mendekatiku saat fansigning berlangsung?"
"Kita teman semember! Tidak ada salahnya kalau aku ingin melakukan skinship denganmu, sama dengan member yang lain."
"Tapi aku tidak mau!" Wooyoung bersikeras.
"Berhenti bertingkah kekanakan Wooyoung-ah! Ini pekerjaan kita!"
Nichkhun tersentak sendiri, ketika Wooyoung menoleh, dan memberanikan diri menatapnya. Mata obisidiannya tampak berkaca-kaca, bibirnya bergetar dan wajahnya mengerucut lucu, entah sengaja ia mengeluarkan jurus ang-ang-nya di saat seperti ini?
Nichkhun mendesah, ia kalah jika dihadapi hal ini. Tentu saja, Nichkhun terlalu menyayangi anak bayi, dan jika Wooyoung memasang wajah aegi –nya seperti ini, mana tega ia memarahinya?
Nichkhun melepaskan kuncian pada lengan Wooyoung dan melangkah mundur sekali. "Oke, kurasa aku terlalu kasar padamu. Maaf."
Ia sempat mengira Wooyoung akan segera melarikan diri seperti biasa setelah ia bebaskan, tapi ternyata tidak. Namja chabby itu masih berdiri di hadapannya, dan memandangnya dengan pandangan aneh.
Mau tidak mau, Wooyoung sebenarnya kemakan dengan ucapan Nichkhun tadi. Benar, masalah di antara mereka harus diselesaikan secara baik-baik. Tidak mungkin kalau ia berusaha terus melarikan diri sementara Nichkhun akan terus hidup bersamanya sebagai member 2pm. Itu mustahil.
"Kenapa kau harus berbohong padaku waktu itu?" Wooyoung akhirnya meluarkan pertanyaannya.
"Aku tidak sepenuhnya berbohong padamu saat itu. Aku hanya... hanya... menceritakan sebagian saja. Karena itu aku minta maaf. Aku tahu aku salah, tapi, tapi aku melakukannya karena tak ingin kau salah paham padaku, dan–"
"Kenapa kau melakukannya?" potong Wooyoung cepat. "Kenapa malam itu kau ingin–" Wooyoung mengalihkan pandangannya ke lantai sambil menggigit bibir bawahnya sekilas. "...menciumku?" kata akhir diucapkan begitu pelan dan lirih, tapi cukup terdengar oleh Nichkhun.
Sebenarnya justru itu pertanyaan utama yang ingin sekali Nichkhun hindari. Tapi apa boleh buat, sekali lagi dia dihadapkan dengan suasana changgung seperti ini dengan Wooyoung. Mengapa terasa begitu rumit ketika ia sendiri berusaha untuk mencari jawabannya?
Mengatakan bahwa karena ia menyukai Wooyoung? Mencintainya, begitu? Nichkhun sendiri masih terlalu bingung dengan perasaannya. Dia ragu, sangat ragu. Menerima kenyataan bahwa sosok yang hampir membuatnya gila selama ini, yang sekarang berdiri di hadapannya, adalah seorang namja, bukan yeoja. Dan hal itu selalu saja membuat kepalanya pusing untuk memikirkannya. Mengapa harus orang ini?
"Aku tidak tahu," dan pada akhirnya Nichkhun memilih menjawab dengan kalimat ambigu. "Itu... terjadi begitu saja..."
Hati Wooyoung mencelos mendengarnya. Ia mendesah, "Jadi benar, kau ingin menciumku tanpa ada niatan dan perasaan apapun," lirihnya.
Nichkhun mengerjap. Menatap reaksi Wooyoung dengan penuh minat. "Wae?" tanyanya heran. "Mengapa kau tampak begitu... kecewa?"
Wooyoung tersentak. "A-a-a-aniya!" ia tak mampu mencegah rona merah yang mendadak datang di wajahnya.
Wooyoung hendak kembali melarikan diri, namun gerakannya kalah cepat dengan kedua tangan Nichkhun yang kembali mendadak menguncinya di kedua sisi tubuhnya. Kanan kiri dengan penghalan tangan Nichkhun, belakang dinding, sementara depan tubuh tinggi Nichkhun menghalanginya. Oh, shit. Apalagi sekarang?
Wajahnya semakin memerah ketika wajah Nichkhun merunduk, semakin dekat padanya.
"Jujur saja padaku Wooyoung-ah. Apa yang membuatmu marah besar padaku? Ketika aku sedang mencoba untuk menutupi kejadian itu, atau ketika kau tahu fakta bahwa aku ingin menciummu tanpa ada perasaan apapun?" Nichkhun sangat ingin tahu jawabannya. Entah kenapa, hal ini membuat ia begitu penasaran.
Wooyoung merasa nyawanya berada di ujung kepalanya. Ia merasa dirinya begitu sesak karena jarak wajah mereka yang tampak begitu dekat, hanya beberapa inci hidung mereka nyaris bersentuhan. Ini gila. Bahkan ketika ia mencoba untuk menelan ludahnya, itu terasa begitu sulit.
"Wae?" Nichkhun kembali menuntut. "Kenapa kau tidak menjawab? Apa kau sedang gugup, Wooyoung-ah?" Kalau boleh jujur, Nichkhun sendiri berusaha keras untuk menahan nafasnya yang terasa menggebu. Entah kenapa ia nyaris kehilangan kontrol. Ia bahkan tak menyadari ketika tubuhnya bergerak begitu cepat mengunci Wooyoung, tanpa ia pikirkan terlebih dahulu. Sekali lagi, ia bergerak di bawah nalarnya.
"H-hyung….." suaranya Wooyoung terdengar serak, karena ia berjuang begitu keras di antara pergerakan tubuhnya yang terasa kaku. "Lepas, jebal…eng~" mencoba sekali lagi peruntungannya dengan menggunakan ang-ang andalannya agar Nichkhun segera melepaskannya.
Namun sepertinya kali ini Wooyoung salah besar. Tidak sadarkah kau kalau barusan mengeluarkan ang-ang sambil mendesah?
"Oh, shit," Nichkhun mengumpat pelan. Dan untuk sekali lagi, ia mengalah dengan instuisi alamiahnya, yang bergerak perlahan semakin dekat, tanpa mempedulikan apapun lagi, ia mempertemukan bibir mereka.
Tubuh Wooyoung tak bisa kaku melebihi ini lagi. Matanya melebar terkejut dengan pergerakan Nichkhun yang tiba-tiba. Bisa ia rasakan nafasnya tersumbat dan bibirnya ditekan lebih dalam. Matanya langsung tetutup erat dengan alis yang berkerut tak nyaman.
Ini salah! Batinnya berteriak keras. Tapi tubuhnya seolah mengkhianatinya. Tak ada satupun organ tubuh yang bisa ia gerakan secara normal. Terlalu kaku dan membeku dalam waktu yang bersamaan. Ini gila. Mengapa segala sesuatu yang berhubungan dengan Nichkhun membuat ia gila di tempat.
Butuh perjuangan keras bagi Wooyoung untuk mengalikan seluruh darahnya dan menyalurkan tenaga pada saraf-sarafnya untuk bergerak cepat. Mendorong keras bahu Nichkhun menjauh darinya.
Nichkhun tersentak, ia sempat oleng ke belakang sebelum akhirnya kembali berdiri tegak. Bisa ia lihat Wooyoung yang menunduk di hadapannya dengan nafas yang terengah.
"A-apa lagi sekarang?" suara Wooyoung yang serak basah semakin serak terdengar di telinga Nichkhun. "Apa itu tadi? ?... ciuman tanpa niatan yang kau maksud?" lirihnya lagi.
Nichkhun tak tahu ingin menjawab apa. Ketika Wooyoung menengadah dan mencoba mempertemukan pandangan mereka, Nichkhun malah menoleh ke samping, menolak adu pandang sementara otaknya berpikir keras.
Lagi-lagi hati Wooyoung mencelos, terasa begitu sakit. Mengapa bisa serumit ini?
"Sialan," desis Wooyoung pelan penuh emosi, matanya mulai berkaca-kaca tanpa bisa ia cegah sendiri. "Berhenti MemperMAINkan KU!" gertak Wooyoung dengan suara seraknya. Ia pun berlari meninggalkan Nichkhun yang terkejut bukan main.
.
~2PM~
.
Saat itu Junho sedang berjalan di koridor gedung JYP sambil mempermainkan sekaleng cola di tangannya. Sambil bersiul santai dengan melemparkan kaleng tersebut bergantian dari tangan satunya ke tangan lainnya sambil sedikit tambahan dance kakinya.
Suara derap langkah kaki yang terburu-buru dari arah belakangnya, menarik perhatian Junho. Ketika ia baru saja berbalik untuk melihat siapakah gerangan. Ia kembali dikejutkan dengan tabrakan kasar dari seseorang.
Klontang!
Kaleng cola yang ia mainkan terjatuh. Tapi tidak dengan dirinya sendiri. Karena orang yang menabraknya tadi tidak lebih besar dari tubuhnya dan kekuatannya tidak begitu kuat.
"Wo-Wooyoung?" Junho menyerngit kaget begitu melihat sang pelaku. "Yach, gwencana?"
Namja Busan itu tetap berdiri di sana dengan wajah menunduk dan bahu yang gemetar, tanpa menjawab apapun.
"Hei, astaga Wooyoung-ah! Kenapa kau menangis?" Junho panik setelah mendengar isakan pelan beserta dengan pipi Wooyoung yang basah. Ia khawatir melihat kondisi teman roommate-nya tersebut.
Wooyoung tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia merasa getaran dalam tubuhnya malah semakin hebat. Jika dia tidak mendapatkan pegangan saat ini juga, ia yakin tubuhnya bisa limbung sendiri karena tekanan yang begitu menyakitkan dalam hatinya. Karena itu, ia lebih memilih meraih pinggang Junho di hadapannya. Memeluknya tanpa permisi sambil membenamkan wajahnya yang menunduk di atas sisi bahu Junho. Sekali ini saja, ia sungguh membutuhkan sandaran. Dan detik itu juga, ia terisak keras di atas bahu Junho.
Junho terkejut. Kejadian ini terlalu mendadak baginya. Tapi ia mencoba untuk memahaminya, meski tak tahu alasan pastinya, tapi setidaknya ia juga ingin menangkan Wooyoung yang sedang menangis. Perlahan ia membalas pelukan Wooyoung dan mengelus punggungnya. "Gwencana, gwencana. Ada aku di sini."
Tak di sengaja, ketika mata Junho memandang lurus ke depan. Ia menangkap sosok Nichkhun yang berdiri delapan meter dari posisi mereka.
Namja Thailand tersebut menatap mereka dengan pandangan putus asa yang terlihat begitu menyedihkan. Junho tak tahu kenapa malah tatapan menyesal, dan bukannya malah tatapan tajam yang biasa ia terima. Tapi satu hal yang bisa ia cerna saat ini. Mungkin, dengan posisinya yang bisa memeluk Wooyoung seperti ini, Junho bisa memenangkan persaingannya dengan Nichkhun.
Sebuah seringai kemenangan muncul di wajah Junho. Namun seringai kebahagian itu tak bisa bertahan lama, karena begitu tatapannya bertemu pandang dengan kemunculan Chansung di belakang Nichkhun yang entah datang dari mana, membuat Junho membeku.
Tak jauh di belakang Nichkhun. Chansung juga berdiri di sana sambil menatap mereka. Lebih tepatnya mata coklat itu memandang tepat di mata Junho yang sedang berpelukan dengan Wooyoung.
Ia tak tahu mengapa tatapan Chansung tampak begitu terluka, membuat hati Junho berdesir aneh. Sinar mata coklat Chansung yang tampak begitu menyakitkan entah kenapa bisa tersampaikan secara baik dan juga membuat Junho ikut terluka melihatnya. Mengapa tatapan menyedihkan dari jarak jauh itu terlihat begitu menyakitkan hatinya dibanding dengan isakan pilu Wooyoung yang berada tepat di telinganya. Kenapa?
Hati Junho mulai bimbang dan bertanya-tanya? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?
Mengapa perasaan itu sendiri terasa begitu sulit untuk dikenal? Yang mana perasaan suka terhadap seseorang? Yang mana perasaan tertarik kepada seseorang? Yang mana perasaan mengagumi seseorang? Dan mana juga perasaan yang disebut cinta yang sesungguhnya hanya kepada satu orang?
Sejujurnya, ini tak begitu rumit untuk dipikirkan. Mereka hanya tidak tahu, bahwa perasaan itu sendiri hadir bukan untuk dipikirkan. Tapi untuk dirasakan, dan biarkan isi hati yang menjawab dengan sendirinya. Perasaan apa yang sesungguhnya ada dalam hati mereka...
.
.
.
~EnD~
.
.
.
Kepada Khunyoung shipper dan Channuneo shipper, silahkah bergalau ria dengan akhir cerita ini... *Plaak#digebukin reader*
O-oke gue ganti deh,
.
.
.
~To Be Continued~
.
.
.
Aissh... gara-gara hanya untuk membahas mereka berempat, Author malah bingung ingin menempatkan di mana letak TaecSu-nya. Jadinya malah mereka tak muncul sama sekali. Cuma Junsu yang diberi kesempatan untuk nongol sekali di chap ini... :p
Seandainya, Aya pengen menamatkan fict ini di chapter depan. Semoga saja bisa...
Oh ya, btw, kunjungin fic oneshoot ku terbaru yah, ttg ChanHo couple, XD
Thanks buat yang review, maaf tidak bisa membalas semuanya. Tapi aku sungguh berterima kasih banyak atas kesediannya review-nya.
Masih baikkah anda untuk meninggalkan jejak Review sebagai penyemangat dan sedikit menghargai 'kerja-keras' saya memutar otak dan memaksa jari untuk membuat fic ini? ? (ngedip-ngedip melas*plaaak)
~AyA~
