MIIDORI KEMBALI! Terima kasih yang sudah review! Mari kita balas! /joget.
Hikaru Kisekine:
APAH?! TYPO MASIH ADA! /zoom10. Hehehe, masih aja miidori gak teliti soal typo. Cuman miidori akan berusaha! /gak nyambung. Eh? Bikin ngakak? Akhirnya romance banget? Terima kasih! Look at me aka di update secepat yang saya bisa! Terima kasih sudah review! :D
Risa l0ve VoCaloid:
Keren? Terima kasih XD! Salam kenal juga! Terima kasih sudah mereview :D
Lady Auburn:
Suka bagian meluknya? Wuah terima kasih! Fic ini bagus? Terima kasih sebesar bantal miidori/dibuang. Suka gahol-gahol begetoh? Oh em jiihhh! /lebay. Terima kasih sudah mereview dan menambahkan(?)!
KoroCorona:
Hehehe. Kagamine tuh emang mantep tu de mex! Rin tsundere? Sama miidori juga gak bisa bayangin. Ini sudah di lanjut! Terima kasih sudah review!:D
MayuMoeChan:
Tau nih Len, gak selow amat sih, author aja gak menang jan ken pon biasa aja/dibuang. Mimisan? miidori juga kok mimisan 5 ember malah/dibuang. Ehehehe, endingnya dikasih gula sih/plakk! Ini sudah di update! Terima kasih sudah mereview! :D
Pull:
Guest terkece? /tiup terompet. I-iya ya, maafkan kesalahan miidori/bow. Jangan santet rin dong, huweee T_T . terima kasih sudah review! :D
Namikaze Kyoko:
Cieee nih si len sama rin! Tau nih pengantin baru~~ini sudah di update! Penasaran tingkat dewa? Wuah! Terima kasih sudah review! :D
Miidori Proudly Presents:
"When The Fake Becomes Real."
Disclaimer: All Vocaloid Character and the lyrics are not mine.
Warning: Everything that needs to warned.
Summary: Kagami Rin dan Kagamine Len, adalah pasangan artis palsu. Tapi bagaimana jika candaan Len di wawancara menjadi kenyataan? /Bahasa Gaul.
Dont Like?Dont Read.
HERE WE GO!
*note: "bla bla bla" suara orang yang ditelfon."lalala"=suara handphone.
Cahaya matahari memaksa masuk ke kamar Rin dan Len, hujan memang sudah mereda sejak kemarin malam, tepatnya, tidak lama setelah mereka tertidur. Rin membuka matanya tidak tahan dengan kilauan matahari yang begitu silau. Pikirannya menyuruh untuk duduk sebentar, tetapi ia melihat ke arah orang yang tidur memeluk dirinya, Len. Perlahan tai pasti, disingkirkannya tangan Len, lalu segera ia duduk sebentar dan menuju ke arah dapur, di lantai satu.
Rin mengambil beberapa peralatan masak, lalu mengambil kotak berwarna biru bertuliskan 'PanFast! Ready to eat!' ia mengambil beberapa pancake siap saji, lalu memasaknya. 15 menit kemudian pancake siap saji sudah di taruh di atas piring, malah sudah di lumuri madu, ditambah buah pisang di piring pertama, dan jeruk di piring kedua.
"SHOTABOY!" Rin memanggil dengan nama panggilan untuk Len, yang baru saja terbesit di otaknya.
"LENNY-MAGICAL-KITTY-SHOTA-SHOTA-NEKO-BOY!" kali ini Rin memanggil Len dengan lebih keras, dan lebih panjang. Rin merasa bete panggilannya tidak dijawab oleh Len. Dengan cepat, ia menaiki anak tangga yang akan mengantarkan dirinya ke kamar tempat Len berada. Sampailah ia pada pintu berwarna coklat, dengan seluruh kekuatannya, ia membuka pintu yang tidak berdosa dengan keras.
"EH SHOTA! LO GAK DENGER AP-" ucapannya terhenti saat melihat kasurnya tidak ada Len. Kali ini ada sesuatu yang membuatnya khawatir, tapi tidak tau apa.
"Len?" ia memanggil namanya, jujur sekarang dirinya bertamabah takut untuk kehilangan Len.
"BOO!"
"EH KUTU KUPRET IJO!"
Len muncul dari belakang Rin, dengan maksud untuk mengagetkan Rin. Hasilnya, sukses besar! Rin kaget, dan... latah.
"KAMPREEETTTT! GUE KIRA LO NGILANGGGG!" Rin berteriak melepaskan semua ke khawatiraannya.
"Muehehehe." Len cuman cengengesan aja sebagai jawaban dari teriakan Rin.
"Udah deh, kita makan aja dulu." ucap Rin lebih kalem, dan dijawab oleh anggukan cepat Len. Lalu mereka berdua turun ke lantai bawah, tepatnya ruang makan.
"Ini bisa dimakan?" ucap Len, sembari menunjuk makanan yang berada di depannya. Dari penampilan sih oke, cuman rasa, Len gak jamin deh, dia pernah ngerasain rasa monster makanan Rin.
"Lo. Makan. Atau. Gue. Bunuh." Rin mengancam Len. Sukses, membuat Len keringat dingin. Len memotong pancake Rin dengan bergetar, lalu memasukkan nya ke dalam mulutnya. Semua badannya bergetar, ia membulatkan matanya.
"EWNWAK!(ENAK!)" katanya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Gue git-"
Zenzen tsukamenai kimi no koto.
Rin melihat sebentar layar hapenya. Lalu segera menekan tombol berwarna hijau.
"Halo Haku-san. Ada apa?" tanya Rin kepada orang di sebrang sana.
"Ara, Rin, hari ini kau ada pemotretan, ajak Len bersamamu." orang di sebrang menjawab dengan kalem.
"Pemotretan? Untuk majalah apa? Aku akan berfoto bersama Len?"
"Iya pemotretan. Untuk majalah 'TeenTrend'. Tidak, kau akan berfoto sendiri."
"Yokatta~"
"Sampai bertemu Rin!"
"Okidoki!" Rin menekkan tombol berwarna merah. Lalu, Rin melihat ke arah Len, pandangan mereka bertemu, dari pandangan Len, Rin tau apa yang akan dikatakan olehnya.
"Cepet abisin makanannya. Kita ada pemotretan." jawab Rin untuk pandangan Len.
"Sendiri-sendiri?" tanya Len.
"Iya. Cepet abisin makanya!"
"OK!
"1, 2, 3!"
Terlihat cahaya yang memabukan dari sebuah kamera di ruang pemotretan. Tetapi tidak memabukkan bagi seorang artis yang sudah biasa berambut honey blonde sepanjang bahunya, Kagami- tidak, Kagamine Rin. Kini Rin, sedang melakukan pemotretan, ia memakai baju berwarna putih bertuliskan 'Young' yang dimasukkan kedalam celana jeans pendek. Tapi tidak menjadikan ia kuper.
"Good job as always! Tema vintage kali ini pun masih bisa lo jalanin Rin!" puji sang fotografer berambut pirang, Leon.
"Makasih Leon! Kalo gak ada lo juga gak bakal bagus gambarnya!" Rin berbalik memuji Leon.
"Si Len gimana tuh? Lo gak mau liat?" tanya Leon.
"Ogah amat gue liat kecebong kuning." ucap Rin setengah bercanda. Yah, mereka memang berbeda ruangan, jadi susah untuk melihat satu sama lain. Ngomong-ngomong soal Len, reader penasaran? Kita ke tempat Len.
"1, 2, 3!"
Cahaya terang sesaat yang harus dilalui oleh mata dari Kagamine Len. Sama seperti Rin, ia baru saja menyelesaikan sesi pemotretannya.
"Perfect Len! Tema kali ini cukup susah loh! Tapi lo bisa gitu ngelewatin tema ini! Hebat bener dah!" sang fotografer memuji Len, yang terbalut kemeja yang dibuka bagian kerahnya, lalu ditutupi lagi oleh jas yang terbuka, untuk bawahannya ia memakai celana panjang berwarna hitam, beda dengan Rin, ia tidak memasukan kemejanya, melainkan sebaliknya.
"Ih si abang bikin eyke malu aja deh~" Len tersipu sambil menegdipkan matanya, sang fotografer berambut dark brow, Big Al bergidik ngeri melihatnya.
"Dih. Tapi beneran loh, tema modern formal tuh susah buat dipotret."
"Hehehe, makasih ye! Gue mau lita Rin dulu deh. Bye-bye my husband."
"HUEEEEEK!" Big Al memuntahkan semua cairan kejijikannya.
Kini Len dengan santai sedang berjalan ke ruangan Rin. Ia memasukkan tangannya ke saku celannya, membuat semua wanita yang di lewatinya pingsan seketika.
"Goyang dombret mang~ Serr~~" Len bersenandung kecil menuju ke tempat Rin. Kakinya berhenti di depan pintu bertuliska 'Kagamine Rin' tertulis di atas simbol bintang, sama seperti pintunya 'Kagamine Len' yang juga tertulis di atas simbol bintang, yang menandakan ia adalah artis papan atas. Ia tersenyum kecil saat melihat marga 'Kagamine' menjadi nama depannya. Tanpa aba-aba ia masuk ke ruangan Rin.
"HELLO EVERIBADEH! LEN DISINIH!" teriak Len nekat, yang mengundang banyak mata ke arahnya. Termasuk sepasang mata yang sama dengannya, mata azure milik Kagamine Rin.
"Lo ngapain kesini sih?" tanya Rin. Len berlari ke arah Rin yang masih berdiri, tetapi naas, kakinya tersandung kabel listrik dan-
BRUK!
-ia terjatuh. Semua mata membulat, len terlihat bingung pada semua orang, 'gue kan cuman jatoh aja, kenapa semua orang negliatin gue kayak gitu, ngefans kali ye, muehehehe.' pikirnya, tetapi saat ia melihat kebawah, ia menemukan sepasang mata azure, bibir kecil berwarna seperti bunga sakura, rambut honey blonde yang sedikit berantakan, ia menatap sosok dibawahnya, sosok Kagamine Rin, yang melakukan hal yang sama.
JEPRET!
Kedua pasang bola mata azure itu melihat lensa kamera yang dipegang seseorang berambut pirang yang sedang cengengesan, Leon.
"Hehehe, tema cover diganti, 'Vintage Love Modern Formal'." ucapnya, tanpa sadar ia membangkitkan naga yang tidur dalam diri Rin. Rin menendang tubuh Len, yang membuatnya menjauh- lebih tepatnya, mental sejauh 5 meter.
"LEOOOOON! BALIKKKK LOOOOOOOOO! APUUUUUSSSSSSS ITU FOTOOOOOOO!" Rin mengejar Leon yang berlari ke arah komputer terdekat lalu memasukan foto itu kedalam file yang tidak bisa dihapus oleh sembarang orang.
"Gak bisa wleee~" Leon menjulurkan lidahnya kepada Rin, uh, sang naga kini sudah membuat perempatan di sisi kiri kepalanya. Dengan cepat, Rin menarik lidah Leon yang terjulur keluar lalu memukulnya habis-habisan.
"Len! Nonton film horor yang baru gue beli yok!" pinta Rin pada Len yang membaca buku komik, sembari menempatkan dirinya di sofa yang empuk. Kejadian siang tadi memang sudah dilupakan oleh kedua pasangan ini. Sekarang keadaan kembali ke semula.
"Males amat." jawab Len tidak mengalihkan pandangan dari buku komiknya.
"Lo takut kalo nonton film horor malem-malem?" tantang Rin. Memang, sejak kejadian tadi waktu menjadi begitu cepat, menunjukan bulan sebagai penerangan malah hari.
"Kagak ilah." elak Len.
"Ngaku aja. Kalo lo gak takut kenapa lo gak mau?" tantang Rin.
"Yah nggak gitu..." kini Len menutup buku komiknya. Memindahkan pandangan pada sosok disampingnya, yang repot menyelimuti badannya dengan selimut. "Lo kenapa bawa selimut deh?" tanya Len, yang melihat Rin sudah selesai menyelimuti dirinya.
"Malem ini kan dingin. Lo sih enak, lo pake baju lengan panjang," Rin menjawab. Tangannya mengambil remote berwarna hitam yang sudah ada disampingnya, "Makanya, lo temenin gue ya, malem ini kan dingin." ia menekan tombol berwarna merah.
"Iya deh." Len menyetujui. Dimulailah film horor yang Rin beli. Di awal semuanya baik-baik saja, tetapi menuju ke tengah, hantu-hantu mulai muncul mengaggetkan Rin, yang membuat Rin-
"ANJRIIIT! Untung aja gue bawa selimut, kan gue bisa tuh ngumpet didalemnya."
-ngumpet dalem selimut. Len yang melihat itu hanya terkekeh pelan, lalu fokus pada film yang diputar. Setengah film sudah terputar, Rin yang tadinya mengumpat di bawah selimut kini sudah keluar, duduk menyender di senderan sofa.
"Hoam..." Rin menguap, tidak tahan dengan rayuan manis sang pemimpi ia mengistirahatkan kepalanya di bahu Len. Len yang melihat itu langsung menguncang pelan badan Rin, nihil, tidak ada yang didapat oleh Len, bahkan Rin membuka matanya pun tidak. Sama halnya dengan Rin, rayuan manis sang pemimpi hampir menggoyahkan Len, tetapi sebelum ia mengikuti sang pemimpi, ia mematikan dulu film yang ditontonnya, lalu... mencium pipi Rin yang tertidur. Dan ikut tertidur disamping Rin, membiarkan kepala Rin beristirahat di bahunya.
-TO BE CONTINUED-
Author Time:
Akhirnya selesai juga...
Akhir kata review!
