Wokeh. Ketemu lagi dengan si Giat di sini! –nyengir ala Gai–
Makasih reviewnya buat: Deidei Rinnepero13, crystallized cherry, erikayukimura95, Kanako Ayugawa, Almasy, dan Ara Shinju.
Sekali lagi. Lam kenal dengan Giaaaat! ^^^^^
PENGALAMAN CINTA
Disclamer: Naruto punya abang Masashi Kishimoto. Kalau Kakashi punya gue! –nyolot/geplaked/
Warning: AU! OOC –semanata-mata untuk menghibur!
Summary: Oooh... Anko patah hati lagi! Siapa lagi yang ikut pusing kalo bukan Kakashi dan Rin, sahabat SMU Anko? Rutinitas menghibur Anko yang putus cinta selalu terjadi di kamar paviliun Kakashi. Untung ada Kakashi, sobat dalam SUSAH dan seneng, nangis dan ketawa... pokoknya komplet deh!
Episode Ketiga!
Lampu, kamera, action!
Anko melirik jam tangannya. Lumayan lama mereka bertiga duduk di teras pavilion sambil melamun mengenang manusia bernama Kidoumaru yang aneh bin ajaib.
Tiba-tiba Rin berdiri. "Sori ya, teman-teman tersayang, gue mesti cabut." Rin merapikan rambutnya dengan tangan lalu berkaca di cermin kecil yang selalu dia bawa ke mana-mana.
"Mau ke mana sih?"
Rin nyengir lebar. "Bukannya gue nggak prihatin atas musibah putusnya lo sama Kabuto, Anko, tapi gue…."
"Ada janji sama Obito. Standar," sambar Anko cemberut. Obito sama seperti mereka, kelas 3 sma.
Rin cengengesan nyebelin. "Sori yaaa, gue udah janjian dari kemaren. Abisnya lo nggak bilang-bilang sih bakalan putus hari ini. Kalau tahu kan gue nggak janjian."
"Sialan lo! Udah sana gih, ntar lo ikutan putus lagi, kelamaan di sini."
"Ihhh amit-amit, jangan dong." Rin meringis. "Dadaaah…"
Tangan Anko dan Kakashi melambai kompak.
"Uhhh, padahal gue sama Rin deket banget dari SD. Tapi soal cinta kayaknya gue sial banget. Nggak kayak dia. Perasaan Obito baru pacar kedua, kan? Dulu dia putus sama Ibiki cuma gara-gara cowok itu cabut ke luar negeri. Keren tau nggak endingnya, nggak kayak gue," sungut Anko.
Kakashi tersenyum sekilas. "Ada-ada aja lo, Anko."
"Lo memang iya kok. Kurang sial apa coba, abis Kidoumaru gue malah dapat Zoro. Dia memang bukan pengguna narkoba atau anak metal kayak Kidoumaru, tapi kan...,"
Kakashi malah tertawa. "Iya, iya, gue inget. Si anak gunung itu kan? Hahaha..." Dasar! Kakashi nggak pernah habis pikir soal mantan Anko yang satu itu. Zoro! Kalau diingat-ingat... Anko itu ngelindur atau apa sih sampai bisa-bisanya nekat jandian sama Zoro? Mengorbankan jiwa raga tuh namanya!
Kakashi masih cekikian. Zoro...
OooxooO
Flashback:
Nggak terasa hampir seminggu lewat Anko putus sama Kidoumaru. Biarpun sebel setengah mati sama monster bertato itu, tetap aja serasa ada yang menghilang.
"Udah dong, Anko. Jangan ngelamun melulu," ujar Rin cemas.
"Hhhh...," desah Anko.
"Gue ngeri lo sedih banget, kecewa sama si Kidoumaru. Tapi kan selama dunia berputar, takoyaki tetep bulet. Masih banyak cowok lajang," kata Rin asal.
Anko mendelik sewot. Apaan sih, kok takoyaki dibawa-bawa. "Cowok lajang mana yang mau sama gue?"
"Ah, elo. Biasanya juga nggak pernah kosong lama-lama. Ini kan baru seminggu setengah. Lima menit lagi juga masa kejombloan elo berakhir."
"Enak aja. Emangnya gue cewek apaan."
Rin cekikikan. "Buruan makannya, katanya kita mau liat latihan panjang tebing. Lo jadi mau ikutan kan?"
Anko mengangguk lemah. "Jadi laaahhh, gue perlu kegiatan buat nyibukin diri."
Berhubung Anko satu sekolah sama Kidoumaru, mau tak mau setiap hari dia masih harus melihat tampang kriminal Kidoumaru di sekolah. Kidoumaru jadi judes minta ampun. Jangankan tersenyum, kalaupun melirik, lirikannya setajam silet yang menyayat hati. Ugh!
"Kakashi-nya mana?"
"Dia nunggu di sana. Lagi ngobrol sama anak-anak HIGH, kan dia kenal." Klub panjat diding itu bukan eskul sekolah. Ada segerombolan pecinta alam yang punya klub sendiri. Kebetulan Kakashi kenal betul para anggotanya. Hobi kemping Kakashi membuat hobi nongkrong di sini. Apalagi dia juga suka manjat.
OooxooO
Dinding tinggi penuh lukisan warna-warni itu jadi tempat bergelantungan beberapa cowok yang kelihatan mengilat karena keringat.
"Kakashi!"
"Nah, itu mereka, Sini!" panggil Kakashi yang nongkrong di bawah dinding sambil asyik mengobrol. "Kenalin nih. Kotetsu, Izumo, Zabusa, yang ini Zoro. Dia ketuanya di sini," kata Kakashi memperkenalkan beberapa orang yang ada di situ.
"Halo," cowok bernama Zoro itu mengulurkan tangannya.
"Anko."
"Rin."
Zoro tinggi. Badannya langsing berisi. Berhubung dia bertelanjang dada, Anko dan Rin dibuat melongo melihat perut six pack-nya yang kencang. Belum lagi kalung bertali hitam dengan bandul berebntuk dayung yang membuat dia kelihatan seksi. "Jadi, kalian minat gabung?"
Anko dan Rin gelagapan. Gila. Suaranya juga seksi banget. "I-iya..."
"Kok bisa ada minat ikutan olahraga ini? Ini kan termasuk olahraga ekstrem?" tanyanya. Suaranya ramah. Tapi bibir Zoro Cuma naik sedikit dan tidak bisa dibilang senyum.
"Anko kan baru aja... AUW!"
Secepat kilat Anko menginjak kaki Rin. Gila apa, masa sih Rin mau terang-terangan bilang Anko berniat masuk HIGH gara-gara baru putus sama pacar premannya yang bertindik, betato, suka narkoba, jadi Anko perlu aktivitas untuk membunuh waktu supaya bisa lupa kesedihannya putus cinta? Bisa-bisa Zoro pingsan mendadak. Penghinaan tuh namanya!
Anko melirik Kakashi. Mata Kakashi menyipit penuh tanya. Dia menunggu jawaban Anko. Dia juga kaget, karena sahabatnya yang agak feminim dan memang sedikit tomboi ini bisa berminat kegiatan semacam ini. Olahraga paling ekstrem buat Anko selama ini adalah ice skating. Dan itu sebetulnya sama sekali tidak bisa dibilang ekstrem. Hanya saja dalam dua minggu latihan Anko nyungsep lima kali, ditabrak tiga kali, tabrakan enam kali, nabrak orang dua kali, dan nambrak dinding dua kali. Anko akhirnya mengundurkan diri karena badannya nyaris biru-biru semua.
"Gue tertarik banget. Gue emang suka banget olahraga ekstrem. Awalnya sih lihat di majalah-majalah abang gue. Udah lama gue pengin masuk klub, tapi belum ada waktu sama belum ketemu tempat yang cocok. Lagian kata orang, gue emang agak-agak tomboi gitu," rentet Anko asal.
Rin dan Kakashi langsung saling menatap bingung.
"Iya, emang. Nih anak tomboi banget. Mandiri banget. Ehmm, apa ya namanya? Cewe tough!" timpal Kakashi cuek.
OooxooO
"Makasih banget ya, bikin semuanya jadi kelihatan over. Mandiri? Cewek tough? Lo bantuin gue apa ngeledek?" sungut Anko judes.
Kakashi melirik Anko yang mayun di jok sebelah. Diinjak rem begitu lampu lalu lintas berubah merah. "Lho, kan elo sendiri yang bilang kalo lo tomboi. Gue kan cuma bikin supaya jadi meyakinkan. Biasanya, cewek tomboi itu mandiri. Tough."
Rin cekikikan.
"Diem lo, Rin," dumel Anko lagi. "Tapi gue kan cuma bohongan."
"Justru itu, gue ngomong gitu supaya lebih meyakinkan. Jadi lo nggak ketahuan bohong."
Anko mendengus kesal. "Lo memperkeruh keadaan, tau nggak?" Dilipatnya kedua tangan di depan dada. Sekarang sih dia nggak bisa akting tomboi ala kadarnya. Dia harus tomboi-tomboi habis-habisan. Akting Hollywood bak memperebutkan piala Oscar! Daripada dia malu sama seluru anggota HIGH.
OooxooO
"Aduuuhhh, Zoro, Rin istirahat, ya? Nggak kuattt...," Rin menggelantung lemas di atas tali. Padahal dia belum memanjat dinding itu lebih dari satu meter.
Zoro tersenyum tipis. Buat anggota baru, Zoro langsung turun tangan melatih. Anak-anak HIGH segar bugar bagaikan kena siraman air es karena kedatangan anggota baru: CEWEK. Sebelum ada Rin dan Anko, mereka cuma punya empat anggota cewek, dua di antaranya atlet nasional dan kemampuannya jelas di atas rata-rata. Yang dua lagi kelewat tomboi dan lebih mirip laki-laki.
"Lo juga mau istirahat dulu?" tanya Zoro pada Anko.
"Nggak. Gue masih kuat. Lagian gue penasaran kalo belum berhasil nyampe ke tanda itu." Imej cewek tough ini betul-betul merepotkan. Tapi Anko juga ogah dianggap cewek manja. Bisa-bisa dia cuma jadi bahan ledekan. Terutama sama Kakashi. Dia setengah mati ragu Anko bisa bertahan di klub 'keras; macam ini. Tapi, ngapain sih Zoro bikin tanda setinggi itu untuk panjatan pertamanya?
Mata Zoro berubah cerah. Dia tampak terkagum-kagum melihat cewek cantik berkulit mulus dan kelihatan anggun, ternyata kuat dan penuh semangat. "Oke, pokoknya gue pegang talinya. Lo manjat aja," perintahnya.
Anko mencengkram batu palsu yang menempel di dinding tembok. Dia sudah sampai atas. Fiuuuhhh...
"Bagus, Anko! Elo bisa turun sekarang!" teriak Zoro.
Zoro menepuk pundak Anko kagum. "Gue salut sama lo."
Anko tersenyum malu-malu. "Makasih."
"Gue suka banget cewek tangguh dan kuat kayak lo. Sekarang ini cewek kayak lo udah jarang. Hampir seluruh dunia cuma penuh cewek centil dan hobi dandan. Palsu. Kecantikan alami itu datang dari dalam," katanya sambil menatap Anko dan menyerahkan sebotol minuman.
"Makasih." Entah apa maksud kalimat Zoro tadi, tapi jelas pipi Anko langsung bersemu merah karena senang. Juga sedikit kaget. Untung Zoro tidak pernah kenal dia sebelumnya. Anko yang ikutan modis seperti Rin, dan hobi gelayutan di lengan Kakashi dan bahu Mama. Bisa-bisa Zoro kecewa setengah mati. Bikin kecewa cowok sekeren ini? Bego aja.
Flashback End
OooxooO
Lamunan Kakashi terputus. Adegannya berhenti dulu kayak DVD di-pause. Mulutnya gatel pengin nanya, semacam pertanyaan terpendam, gitu. Soalnya dari dulu Kakashi takut buat nanya. Takut Anko tersinggung. Jadi sekarang Kakashi mempertaruhkan jidatnya buat nanya. Siapa tahu Anko betulan tersinggung dan langsung main jitak? Jidatnya taruhannya!
"Heran gue. Jelas-jelas si Zoro itu datar, cuek, jarang senyum, dingin, boro-boro romantis. Pernah denger kata romantis aja kayaknya dia nggak pernah, kok bisa-bisanya sih lo suka sama dia?"
"Tapi dia keren banget. Macho. Kayaknya bisa ngelindungi, gitu," tukas Anko tak mau kalah.
"Cuma fisik aja nih?" cibir Kakashi. "Kalo butuh bodyguard kan nggak perlu Zoro. Banyak lho bodyguard andal yang sekaligus ramah dan bisa senyum."
Anko menonjok bahu Kakashi kesal. "Basi lo. Dari zaman jeprut sarannya itu-itu aja. Waktu itu juga lo bilang gitu," sungutnya. "Masalahnya, Kakashi, gue juga nggak ngerti kenapa waktu itu gue bisa suka sama Zoro. Maksudnya, selain gara-gara tampangnya yang luar biasa keren itu lho ya? Pokoknya ada sesuatu deh dalam diri dia yang bikin gue jadi mau pacaran sama dia."
Kakashi mencibir lagi. Kali ini sambil melet. "Rayuan-rayuan sama pujian-pujiannya yang nggak pake senyum itu?" katanya sambil senyum supermanis. Anko mungkin satu-satunya manusia yang tak sadar betapa kerennya Kakashi karena terlalu dekat.
"Kakaaashii...," rengek Anko.
Tiba-tiba Anko teringat. Ada satu ketololannya sebelum dia jadian sama Zoro waktu itu. Ketololan yang satu ini Anko nggak mungkin lupa deh!
OooxooO
Flasback (again):
Anko menyipitkan mata ke arah etalase. Dasar Kakashi! Mentang-mentang distro favorit Anko ada di sebelah toko outdoor equipment, kepikiran aja nyuruh Anko mampir ke toko yang isinya barang-barang nggak jelas semua ini. Eh, tapi lumayan nih. Anko bisa sekalian belajar tentang alat-alat kegiatan outdoor. Bisa buat nambah poin di depan Zoro. Cowok itu pasti terkagum-kagum kalau tahu Anko juga ngerti soal alat-al–
"Rupanya suka ke toko ini juga?"
"Zoro... hai," sapa Anko salting.
Zoro berdiri di sampingnya. Ada wangi parfum sekilas. Rupanya dia pakai parfum juga. "Lagi nyari apa?" Zoro mengulurkan tangan mengambil sepatu panjat berwarna hijau dari atas rak.
Anko memutar otaknya. Waduh! Tadinya dia ke sini cuma gara-gara Kakashi titip minta tolong cek harga sarung untuk pisaunya yang baru. Tapi masa bilang ke Zoro mau beli sarung pisau? Anko belum sempat belajar apa-apa!
"I-ini nih. Keren." Entah dapat ide dari mana, Anko mengangkat dayung berwarna biru-kuning yang terletak di perahu karet untuk rafting.
"Oh ya? Kamu suka rafting juga?"
Rafting? Waduh! Apa pula itu? Kok belum diajarin Kakashi ya? Pasti ada hubungannya sama dayung dan perahu raksasa di depannya. "Ng..., oh... arum jeram?"
"Iya. Rafting. Suka juga?" Zoro meraih dayung dari tangan Anko dan mematut-matutnya. "Dayung ini memang keren banget. Tapi mahal," lanjut Zoro, masih tetap pelit senyum. Tapi tampang cool-nya itu malah bikin keren.
"Iya. Keren. Warnanya juga bagus," timpal Anko asal. Habis apa lagi? Fungsinya pasti untuk mendayung. Tapi memangnya teknik dayungnya sama dengan dayung perahu bebek?
"Jadi, lo suka rafting?" ulang Zoro.
Konyol banget nih jadinya. Anko mengangguk cepat. "Suka banget. Makanya gue dari tadi liat-liat dayung ini. Sebenarnya gue udah lama banget naksir dayung ini." Anko memelototi dayung mainan untuk kano-kanoan anak kecil. Dilihat dari segala sudut tetap saja mirip mainan. Masa sih bisa dipakai arum jeram? Dipelototin bagaimana pun juga dayung itu belum berubah. Jadi biola, misalnya? Atau gitar? Atau... ng... tongkat mayoret? Paling nggak Anko tahu persis fungsi benda-benda tadi. Nggak kayak benda satu ini, yang mirip dayung perahu bebek-bebekan ini. Asli, benda ini bakal bikin Anko kelihatan bego terus bengong kayak gini!
"Wah, kebetulan dong. Gue juga hobi banget. Oh ya. Lo mau ikut kami arung jeram? Bosen juga kami kalo yang ikut itu-itu aja. Gimana? Masih minggu depan kok."
Terlanjur basah! "Oke," jawab Anko.
OooxooO
Zoro memang keren. Dan saking terpana pada kekerenannya, sekarang Anko kalang kabut. Dan seperti biasa, orang lain ikut diajak repot.
"Gue mesti gimana dong?" Anko menelungkupkan kepala di mejanya.
Kakashi Cuma menggigit-gigit ujung pensil dan Rin pura-pura sibuk menyalin PR dari buku Anko.
"Kakashiii, Riiin...," rengeknya.
"Ya udah. Sekarang lo siap-siap aja arung jeram. Abis mau gimana lagi?" saran Kakashi putus asa. Sahabatnya ini memang rada aneh. Dari tadi Kakashi menyarankan untuk membantalakan rencananya ikut arum jeram berbusa-busa.
"Nggak nolong," dumel Anko. "Kan udah gue bilang, gue nggak mungkin ngebatalin."
"Selamat berjuang deh," celetuk Rin dari balik buku PR-nya.
"Ahhh!"
OooxooO
"Nih dayung elo, Anko!"
Susah payah Anko menangkap dayung yang dilempar Zoro. Helmnya yang bau apek belum dikancing, begitu juga rompi pelampungnya yang tak kalah bau dan terasa dingin karena basah. Duh! Kakashi sama Rin kebangetan deh! Mereka berdua malah nggak mau ikutan. Padahal kan sama-sama anggota HIGH.
"Turun yo! Turun!" komando Zoro.
Turun? Ke sana? Ke sungai yang arusnya deras dan suaranya keras itu? Anko menelan ludah. Memangnya perahu-perahu karet itu bakalan selamat sampai tujuan melawan arus yang berbuih-buih dan bergejolak heboh itu? Dan apa iya, pelampung bau yang dinginnya minta ampun dan menempel di badannya ini dijamin bisa mengapung seandainya perahu ini tenggelam atau bocor? Ya ampun. Ini sih bunuh diri.
"Ayo, Anko. Lo seperahu sama gue aja." Zoro yang sudah nangkring di perahu menepuk-nepuk bantalan perahu, menyuruh Anko duduk di situ, di perahu karet yang bentuknya betul-betul kurang meyakinnkan itu.
"O-oke..." Anko mengancungkan jempolnya. Ini harus lompat ya? Anko menarikkan satu kakinya ke badan perahu. Sebelah lagi masih tertinggal di pinggir sungai.
Tebak apa tindakan Zoro? Menolong dengan gaya gentleman? SALAH! Dia cuma diem! Zoro sama sekali tidak berniat membantu. Dia Cuma menatap Anko –si cewek tomboi, mandiri, tough, dan juga jago arung jeram– penuh kekaguman. Siapa yang butuh dibantu naik perahu kalau sudah menyandang atribut sebanyak itu?
"Ya, loncat, Anko!" Zoro malah mengomandoinya untuk lompat.
Fiuuuhhh, satu..., dua..., TIGA! BLUGH! "AUW!" wajah Anko mendarat di bantalan biru yang tak kalah bau dengan pelampungnya. Hebatnya lagi Anko mendarat tengkurap! "Ughhh! Sori, sori, gue kesandung. Gue nggak pa-pa. Gue nggak pa-pa."
Seisi perahu guma memandang Anko sambil mati-matian menahan tawa.
–skip adegan arum jeramnya–
OooxooO
"Gue salut sama lo. Rupanya biarpun di sungai baru, lo bisa bertahan juga ya, nggak mental dari perahu," puji Zoro.
"Hehehe," Anko cengengesan.
Jalan berdampingan dengan dengan Zoro yang bertelanjang dada dan rambut basah ternyata bikin jantung Anko deg-degan. Sesekali Zoro mengacak rambutnya supaya cepat kering. Sementara Anko masih menggigil kedidingan.
"Ehm... Anko?"
"Ya?"
Habis ini, lo mau nggak...," Zoro menggigit bibirnya gelisah, "jalan sama gue? Kayaknya gue ngerasa asyik deket sama lo. Beda sama cewek kebanyakan yang manja. Gue suka."
Entah apa warna muka Anko. Santai betul Zoro nembak dia dengan kata-kata sederhana tapi artinya sangat tidak sederhana buat Anko. Apalagi bagian 'beda sama cewek kebanyakan yang manja'. Rupanya Zoro jatuh cinta sama Anko the tough girl.
"Anko?" panggil Zoro. "Tapi nyantai aja, lagi, Anko. Kalo lo nggak mau, atau..."
"Eh, nggak. Bukan gitu, Zoro. Gue mau kok."
UPS! Kok kedengarannya ngebet banget.
OooxooO
"Kakashi..." Anko menyeruak masuk.
"Wah, ada apa lagi nih? Arung jeramnya sukses?" Kakashi bertanya tanpa menoleh dari PS2-nya.
Dengan wajah berbinar-binar –kalau di anime-nya, ada bunga-bunga bertebrangan di sekitar Anko– Anko melompat ke sofa panjang Kakashi. Tempat favoritnya di paviliun Kakashi yang nyaman dan keren ini. "Lebih daripada sukses."
Kakashi menoleh antusias. "Oh ya? Jadi, lo dapet penghargaan? Sebagai peserta arung jeram pertama yang turun arung jeram gara-gara nggak sengaja megang dayung di toko?"
Dengan gemas Anko menoyor jidat Kakashi.
"Abis apaan dong?" Kakashi menaruh stik PS-nya lalu menenggak cola-nya yang tinggal setengah kaleng.
"Lebih daripada penghargaan apa pun." Anko tersenyum lebar. "Gue jadian sama Zoro. Dia bilang suka sama gue, terus udah ngajakin gue nge-date."
"PFFFTTT," Kakashi menyemburkan minumannya. "APA?"
Flashback End
OooxooO
"Gue nggak bisa lupa kenapa lo putus sama Zoro," ujar Kakashi cengengesan.
"Makasih yaaa. Lo emang baiiik, ingetnya yang ancur-ancuuurrr."
Kakashi nyengir, memamerkan giginya yang berderet rapi. "Siapa suruh sok jago ikutan survival di hutan segala, hehehe. Emang enak mesti buang hajat di hut–"
"Dieeemmm!" Anko memencet hidung Kakashi. "Jangan ngeledek terus dong! Zoro nggak ada masalah kok. Dia baik, bukan perselingkuh, gue masih suka kok sama dia..."
"Tapi?"
"Tapi gue nggak tahan ngikutin gaya hidup rimbanyaaa!"
Anko sebetulnya nggak punya alasan yang kuat buat mutusin Zoro waktu itu. Pokoknya Anko betul-betul nggak sanggup kalau harus lebih lama lagi pacaran sama Zoro. Di mata Zoro, kayaknya Anko bukan cewek. Anko ikut kemping dan terpaksa buang (sori) hajat di hutan, Anko oke oke aja. Diajak cross country jalan kaki masuk hutan sambil menggendong ransel segede anak beruang, Anko masih oke. Puncaknya... Zoro nggak mau nemenin Anko pipis waktu tengah malam Anko kebelet pipis. Gila apa? Dia bilang kan WC daruratnya cuma lima meter dari tenda. Zoro enak ngomong begitu. Sementara si WC darurat (yang cuma ditutupin kain panjang plus harus gali lubang sendiri itu) adanya di semak-semak. Biarpun dekat tenda, memangnya ular peduli? Memangnya beruang ngerti itu WC terus ogah deket-deket? Hiii...
Daripada mati konyol dipatok ular atau dimakan beruang, Anko memilih nahan pipis sampai besok paginya. Bukan cuma pipis, Anko malah sakit hati sama Zoro karena cowok itu sama sekali nggak peduli sama dia yang kebelt pipis dan ketakutan. Buat cewek itu sensitif lho... Ya kan?
"Tapi gue masih sedih nih, Kakashi." Air muka Anko yang tadi sempat ceria berubah keruh lagi.
Kakashi menghela napas. "Kenapa? Masih mikirin Kabuto?"
Anko mengangguk pelan.
Kakashi meletakkan telapak tangannya di kepala Anko. "Ya wajar sih, Anko, namanya juga baru putus cinta," ujar Kakashi lembut.
Anko meniup poninya. "Masalahnya, Kakashi, lo kan tahu gue sebenarnya suka banget sama Kabuto." Suara Anko pelan dan lemas tak berenergi. Memelas.
Kakashi melirik Anko. Wajah cewek itu kusut, matanya bengkak kebanyakan nangis, ujung hidungnya merah karena kebanyakan buang ingus. Pokoknya berantakan. Kakashi kasihan pada sahabat tersayangnya ini. Kakashi juga tahu kok Anko sayang banget sama Kabuto.
"Ya udah lah, Anko. Bagus kan semuanya ketahuan sekarang?" Kakashi mengucek-ucek rambut Anko pelan. "Kalo telat, gue nggak tega ngebayangin gimana elo jadinya."
"Iya sih, Tuhan masih sayang sama gue. Tapi lo nggak bosen, Kakashi, tiap kali gue kayak gini?" Anko melirik Kakashi.
Kakashi meringis. "Jujur?"
Anko mendelik sewot. "Ya iya lah..."
"Bosen!" Kakashi menyambar stik PS-nya dan langsung sibuk memencet-mencet tombol lagi.
Anko merengut. "Nyebelin banget sih! Katanya menghibur, eh, malah bikin drop."
"Lho..., katanya disuruh jujur? Gue bosan tau liat lo mewek melulu. Mendingan cepet deh lo berubah... ya? Ya?" seloroh Kakashi cuek sambil terus menghajar musuhnya di layar TV.
Dasar Kakashi nyebelin! Anko menyambar stik PS lain yang nganggur. "Lawan gue!" katanya sambil memencet tombol JOIN.
"Siapa takuuut! Daripada lo cemberut melulu, mendingan lo berusaha ngalahin gue! Bermanfaat, kan?" kata Kakashi cengengesan.
Anko mencibir. Thanks, Kakashi. Setiap gue sedih, lo selalu bisa bikin gue ketawa lagi...
Bersambung dulu yaaah...
Ooohhh... Kakashi co cwiiit... (demam Kakashi-nya kambuh)
Oke guys, chap ini terakhir yang ngebahas flashback-nya Anko. Next, mari kita bersama menatap masa depan! (berdiri tegak di balkon kamar sambil menatap Fajar dgn backgroud tebing dan ombak pantai)
Minta Review dooong... –memelas
